Takdir dalam Perspektif Islam dan Katolik


TAKDIR DALAM PREFEKTIF

ISLAM DAN KATOLIK

Oleh:   Maria Krisanti Resubun

BAB I

PENGERTIAN TAKDIR SECARA UMUM

I. 1.  TAKDIR SECARA ETIMOLOGI

Takdir secara Etimologi berasal dari bahasa Latin yakni “Predestinasi” yang diambil dari dua kata yaitu : (Destinare yang berarti penentuan)  dan Poae yang berarti sebelumnya atau takdir.

I. 2.  TAKDIR MENURUT KAMUS

Menurut kamus bahasa Indonesia adalah ketetapan atau ketentuan dari Tuhan.

I. 3.  TAKDIR SECARA UMUM

Takdir secara umum adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini, yang meliputi semua sisi kejadianya baik itu mengenai kadar dan ukurannya terdapat maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya  termasuk manusia.

I. 4.  PERBEDAAN ANTARA NASIB DAN TAKDIR

Dalam sejarah agama, penentuan basib abadi manusia oleh pencipta yang Maha Kuasa di bedakan buta sebagai nasib saja, sebab predentinasi atau takdir tentang keselamatan dan hukum abadi dilakukan oleh kehendak Ilahi (lepas dari baik atau tindakannya dan   perbuatan manusia) dan tidak dianggap sebagai nasib buta. Sehingga dikatakan bahwa takdir dan nasib memiliki perbedaan namun pada umumnya takdir dan basib itu sama. Karena semuanya langsung dari Allah kepada kita untuk berusaha dan tidak boleh putus asa.

Arti yang sama yakni segala sesuatu yang telah ditentukan Allah sebelumnya karena kepercayaan dan keyakinan agama lain terhadap takdir maka dalam pembahasan ini takdir dapat dibahas dalam dua pandangan yaitu :

  • Takdir dalam Prefektif Islam
  • Takdir dalam Prefektif Katolik

BAB II

TAKDIR DALAM PREFEKTIF ISLAM

Takdir (ejaan asli takdir berarti memberikan kodrat (kekuatan) atau kadar (ukuran) pada segala sesuatu). Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kuasa Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam hukum iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari informasi Tuhan yaitu : informasi Allah melalui Al- Quaran hadits.

Dalam Al-Quran takdir lebih dimaksudkan sebagai undang-undang Tuhan yang bersifat Universial dan berlaku diseluruh alam semesta, termasuk manusia. Takdir merupakan hukum pertumbuhan dan perkembangan sebagai ulama menyebutkan sebagai akibat dari Al-Quran juga menyembuhkan sebagai Di/nullah yang kepadaNya seluruh alam semesta tunduk.

Dalam  Al-hadits takdir  merupakan perintah Tuhan terhadap malaikat untuk menugaskan setiap anak dalam perut ibunya untuk dicatat rizkinya, ajal, serta nasib baik dan buruknya. Untuk memahami konsep takdir umat islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi.

Dimensi Ketuhanan

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah Maha Kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan takdir.

Dia  yang awal dan yang akhir yang zhahir dan bathin dalam surat Al-Hadiid1 Q. 57:3 artinya Allah tidak terikat ruang dan waktu, baginya tidak memerlukan apa itu masa lalu, kini atau akan dating.

Dimensi Kemanusiaan

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah memperintahkan manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang pilihanya misalnya Allah yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa yang diantara kamu yang lebih baik amalnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (dalam surat Al-Mulk Q 67:2)2. sesugguhnya  orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, nasarani (orang-ornag yang mengikuti syariat nabi yang medahului, atau orang-orang yang mennyembah Dewa-Dewi) maka mereka akan menerima ganjaran dari Tuhan tidak ada rasa takut akan mereka dan tidak juga akan bersedih. Dalam surat Al-Baqarah. Q 52:262.

Walaupun masih banyak dapat diajukan pertanyaan, apa yang disebut takdir? Sepintas lalu seperti tampak jelas untuk setiap orang  apa yang disebut takdir itu. Ini tercermin dalam penggunaan kata-kata takdir itu apa seperti dalam ungkapan “sudahlah perkara itu sudah menjadi takdir Tuhan, tidak perlu dibicarakan lagi”.

Pengertian tentang takdir, yang paling mendasar ialah dalam kaitannya dengan suatu ketentuan Ilahi yang tidak dapat kita lawan. Kita semua dikuasai oleh takdir tanpa mampu mengubahnya dan tanpa ada pilihan lainnya, karna takdir itu adalah ketentuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.kita harus menerima saja yang baik maupun yang buruk.

Sesungguhnya takdir dalam pengertian populer maupun yang buruk terlalu salah  apalagi kenyataannya memang dalam hidup kita adalah yang sama sekali diluar kemampuan kita untuk menolak atau melawan, maka sifat percaya kepada takdir itu  diterapkan secara salah atau tidak pada tempatnya, maka ia akan melahirkan sikap mental yang sangat  negatif yaitu apa yang dinamakan Fatalisme. Disebut demikian karena sikap itu mengandung semangat menyerah kalah terhadap Fete (nasib). Tanpa usaha dan tanpa kegiatan kreatif maka itu banyak orang menilai bahwa kaum Muslim menganut aliran paham tertentu dalam kaum fatalis. Pada hal sebenarnya tindakan demikian,  Islam adalah agama yang dengan amat tindas  mengajarkan pentingnya amal perbuatan. Juga dengan tergas mengajarkan manusia tidak mendapatkan sesuatu kecuali yang dia usahakan dan bahwa hasilnya itu akan diperlihatkan kemudian akan dibahas dengan balasan yang setimpal itu dalam (“Q 53:39”).

Berdasarkan prisip amal itu maka sebenarnya telah jelas bahwa   kepercayaan kepada takdir tidak sama dengan  fatalisme itu sebagai sikap menyerah kepada basib adalah tidak ada usaha oleh karena itu percaya kepada takdir yang dikehendaki oleh Islam yang mengajarkan amal usaha tentu mustahil mempunyai makna yang menentang aktifitas dan amal perbuatan.

Sejak zaman dahulu Ulama telah terlibat dalam pertikaian dan penyelisian pendapat mengenai masalah ini masing-masing dengan logika dan penalaran.

2. 1.    TAKDIR ALLAH

Hukum ketetapan Allah untuk alam dalam Al-Quran diistilahkan sebagai takdir (takdir Allah : Arab : taqdirulah) yang berarti kepastian dari Allah sesuai dengan makna harafiahnya sendiri,  takdir Allah digamarkan dalam Al-Quran sebagai kepastian misalnya tentang perjalanan matahari menurut garis  edarnya  yang sertai penegasan bahwa tidak mungkin matahari bertemu atau bertubrukan dengan rembulan sebagaimana juga malam tidak akan mendahulukan siang. Semua itu disebut takdir yang maha kuasa dan maha mulia. (Q 36:28-30 dan Q 21:33). Juga ada menegaskan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu kemudian dipastikan (hokum-hukumnya) seperti pastinya Q 25:2.

Berdasarkan dari sudut keimanan atau ajaran agama itu ketahuilah bahwa hukum-hukum lingkungan hidup manusia baik yang bersifat sosial atau histories (sunnatullah) ataupun yang bersifat alam kebendaan atau material (takdir Allah), tindakan ini tidak berdiri sendiri melaikan dibuat dan ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta. Jadi semuanya itu adalah hukum Allah dan manusia diperintahkan untuk mempelajari dan menggunakannya dalam kehidupannya.

2. 2.     TAKDIR DALAM AL-QURAN

Istilah takdir dalam Al-Quran ialah suatu tindakan yang telah ditentukan oleh Allah dan harus menerimanya sehinga umumnya arti istilah takdir dalam penggunaan kata sehari-hari ialah hukum ketentuan yang  telah ditetapkan Tuhan untuk mengatur  pola pelajaran dan tingkah laku alam penciptanya. Khususnya alam materi secara  spesifik Kitab Suci menyebutkan tentang adanya takdir pada perjalanan atau peredaran matahari dan matahari berlari pada tempat yang telah ditetapkan itulah takdir.

2. 3.     TAKDIR DALAM IKSTIAR MAXIME

Maxime atau karel maks adalah seorang fisulfteologi diman ia juga melahirkan hunanisme dalam pandangan maxime berdasarkan ajaran Kristen mengatakan bahwa materealisme diartikan penolakan idilialis tetang hukum-hukum Allah dan penampilan fatalisme yaitu menyembah kepada hukum-hukum alam serta tidak ada kepercayaan kepada akal manusia dan kemampuan manusia untuk memahami hukum-hukum itu dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang maxime menolak kepercayaan kepada Tuhan maka ia juga menolak adanya makna hidup yang transcendental dengan membatasi makna hidupnya kepada “terrestrial” (terbatas kepada kehidupan di dunia saja).

2.  4.    IMPLIKASI IMAN KEPADA TAKDIR

Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadara akan kelemahan dirinya. Terkait dengan felomena takdir maka wujud kelemahan manusia itu adalah  ketidak tahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tau apa sebenarnya akan terjadi, kemampuan berpikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan proyeksi dan perecanaan yang canggih namun tidak usahakan rehalisasinya tidak sesuai dengan keinginannya. Manusia hanya tahuh takdirnya tidak terjadi.3

Usaha perubahan yang dilakuka oleh manusia itu kalau berhasil seperti yang diinginkannya mak Allah akan melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekirahnya usahanya itu dinilainya gagal dan menganggap dirinya sudah gagal maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarangnya juga. Al-Hadiid Q 57:23.

BAB III

TAKDIR MENURUT PANDANGAN AGAMA KATOLIK

Takdir dalam pandangan katolik merupakan basib yang sudah terlebih dahulu ditentukan oleh kehendak Allah. Hal itu tidak sama dengan karya Yesus yang rela wafat di kayu salib.  Perbuata Yesus itu tidak disebut takdir karena Yesus memilih dengan bebas. Yesus hanya melaksanakan apa yang dikehendaki BapakNya. Hal itu nampak pada kata-kata Yesus ketika berdoa di taman Getzemani berikut ini : “Ya Bapak Biarlah Cawan Ini Berlalu Dari Padaku, Tetapi Bukan Karena Kehendaku Melainkan Menurut Kehendakmu”.4

Preditinasi bersandar pada kontradisi yang difikerkan terdapat diantara kehendak manusia untuk berbuat baik dengan bebas dan kedaulata Allah yang menentukan segalanya. St. Agustinus mengatakan bahwa kehendak manusia dikuasi dosa sehingga ia memerlukan rahmat supaya sanggup menjalankan kehendak Allah. Diteologi Katolik preditinasi bahasa yang maha baik menentukan orang untuk hukuman abadi, lepas dari dosa-dosa yang dilakukan dengan bebas, tidak pernah diterima sebab hal itu bertentangan dengan kehendak Ilahi untuk menyelamatkan semua orang (1Tim 2:2-4) dengan Injil sebagai Kabar Gembira yang dibawah oleh Yesus Kristus yang mengorbankan dirinya untuk keselamatan semua orang. Namun demikian masalah antara peranan, kehendak bebas dan daya guna rahmat Ilahi dalam proses keselamatan menimbulkan perdebatan hebat antara para teologi Katolik para Yesuit (molinisme) menekankan kehendak penyelamatan umum dipihak Allah dan peranan kehendak manusia, sedangka para dominikan (Tomime) menekankan peranan utama rahmat. Maka perbuatan baik, kita lakukan sebenarnya hasil  rahmat Ilahi yang tidak kita cegah.

Orang yang diselamatkan karena rahmat Allah yang menyelamatkan mereka dan juga ada orang yang dibuang karena keselamatan mereka (konsili Quirsy), pada 853, bdk Rom 6:33, Ef 1-4 dst. Allah memberikan rahmatnya kepada semua orang yang diketahui tidak akan menolaknya. Maka keselamatan adalah anugrah semata-mata. Neraka adalah akibat penolakan rahmat oleh manusia sendiri. Mengapa ada manusia yang menolak kebaikan Ilahi? Rahasia kebebasan manusia.

Ada juga sebuah paham yang beranggapan bahwa ditangan Allah manusia ibarat wayang di tangan dalang. Segala sesuatunya  mutlak tergantung kehendak dalam menurut faham yang disebut fatalisme (dari kata fakum atau nasib), ini dikehendaki Allah mengenai maklukNya tidak dapat dikehendaki, tak dapat dirubah. Manusia sama sekali tidak punya kebebasan karena itu juga tidak mempunyai tanggung jawab.

Gereja Katolik menolak fatalisme demikian ini memang Allah Maha Kuasa tetapi juga Maha Baik. Allah menghendaki keselamatan manusia dan juga memberikan rahmat serta sarana cukup agar manusia bisa mencapai keselamatan. Manusia harus bekerja sama dengan rahmatnya dan mental kuat segala sarana dengan bebas dan  tanggung jawab. Dengan demikian keselamatan adalah anugerah Allah yang sekaligus pada hal bagi manusia yang berusaha.

PENUTUP

Kesimpulan

Dalam seluruh rangkaian penulisan paper ini, kita telah melihat pengertian takdir dan nasib, dalam prefektif Islam dan agama Katolik.

Dalam realita yang ada, terutama dalam kehidupan kita sehari-hari sering kita mengatakan bahwa takdir dan nasib adalah sama, namun setelah dilihat dan dipelajari takdir dan nasib mempunyai pandangan yang berbeda.

Saran

Dengan pembahasan yang telah dipaparkan, maka saran yang kami berikan yakni kita mampu mengetahui, memahami takdir atau nasib dengan baik, sehingga kita tidak dapat menyerahkan kehidupan kita semua pada takdir atau nasib itu dan kepada pembaca sekalian janganlah paper ini sebagai suatu perbandingan agama, tetapi bacalah paper ini sebagai suatu karya ilmiah yang berguna dan membantu meningkatkan pengetahuan kita akan takdir dan  nasib yang mungkin selama ini tidak kita ketahui.

DAFTAR PUSTAKA

A. Heuken, SJ, Ensiklopedi gereja, 2005 Yayasan Cipta Loka Cempaka Jakarta.

Rachman. M. Budhy; Inseklopedi. Nuschalish Majid, 2008 PT Sarana Mangun Karsa.

Lembaga Penerjemaan Al-Quran 1971. Al-Quran dan Terjemahannya, Yayasan Penerjemaan Jakarta.

Rachman Budhy Munawar, Ensiklopedi Nurcholis Maeljid, Pemikiran Islam dan di kamvas Peradaban 2008. Yayasan Pesantren Indonesia Al-Zaytan Jawa Barat.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: