MEMAHAMI KETERLIBATAN PEREMPUAN DALAM GEREJA KATOLIK


MEMAHAMI KETERLIBATAN PEREMPUAN DALAM

GEREJA KATOLIK

(Suatu Tinjaun Kritis dalam Perspektif Teologi Feminis)

(Oleh: Willem Batlayeri)

Pendahuluan

Kebangkitan perempuan pada tataran agama, secara khusus dalam Gereja Katolik selain disebabkan oleh kondisi budaya, keterpurukan ini terjadi pula karena teologi yang dibangun kebanyakan dititik beratkan dari sudut pandang laki-laki saja. Laki-laki dijadikan sebagai acuan dan dasar dari setiap kebijakan sehingga fakta diskriminatif atas keterlibatan perempuan dalam Gereja katolik menjadi masalah yang tak terelakkan. Untuk itu, kaum perempuan bangkit dengan membuat suatu refleksi kritis atas realitas diskriminatif yang menimpah mereka dan refleksi ini coba ditempatkan dalam tataran teologi yang disebut dengan Teologi Feminis. Dalam refleksi teologi ini, disadari bahwa kajian teologis menjadi sangat penting sebab refleksi teologi yang dibangun tidak hanya menjadi salah satu alat bagi perempuan untuk mengkaji agama dan realitas keterpurukan perempuan, tetapi dapat dipakai juga untuk menyikapi persoalan keterlibatan perempuan dalam Gereja katolik. Untuk itu, pertanyaan dasar yang dapat dikemukakan pada kesempatan ini adalah apakah kaum perempuan dapat terlibat dalam karya pelayanan Gereja? Apa tanggapan teologi feminis sehubungan dengan persoalan keterlibatan kaum perempuan dalam Gereja katolik?

A. Teologi Feminis dan Realitas Perempuan

A.1. Apa dan mengapa Teologi Feminis?

Sebelum menelusi lebih jauh tentang persoalan keterlibatan perempuan dalam Gereja katolik, maka baiklah jika secara singkat mendalami aliran teologi feminis itu sendiri yang dapat dipakai sebagai instrumen untuk menyikapi persoalan kaum perempuan pada tataran keagamaan. Pada dasarnya, teologi feminis merupakan suatu aliran baru yang dikembangkan oleh kaum perempuan di Amerika Serikat pada tahun 1950-an[1] untuk memperjuangkan keadilan atas diri dan hidup kaum perempuan dalam lembaga keagamaan dan secara khusus dalam Gereja katolik dengan mengubah paradigma lama yang mendiskreditkan perempuan sebagai kelas dua dan membangun paradigma baru yang berbasis pada keadilan dan keutuhan ciptaan Allah. Titik tolaknya adalah menghayati iman dari sudut pandang perempuan dan bukan dari sudut pandang laki-laki saja sehingga kaum perempuan dapat diajak untuk menyadari keperempuanannya dan mengajak laki-laki agar menyadari bahwa selama ini segala keputusan, baik yang menyangkut hubungan dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia seluruhnya hanya diambil dari sudut pandang laki-laki saja[2].

Selain pengaruh kondisi sosial masyarakat dan budaya setempat yang membangkitkan kesadaran kaum perempuan Amerika Serikat atas kenyataan hidup yang dialaminya, perkembangan teologi feminis ini dikondisikan pula oleh teologi pembebasan. Teologi pembebasan sebagai sebuah metode baru dalam berteologi dengan cara menentang interpretasi tradisional tentang ajaran kristiani serta berusaha menemukan arti baru terhadap ajaran iman yang berbasis pada injil dalam menegakkan kebenaran, senantiasa berusaha menjawab situasi dan kondisi sosial yang di hadapi oleh kaum miskin telah menginspirasikan kaum perempuan dalam refleksinya[3]. Inspirasi teologi pembebasan ini memberikan arti positif bagi kaum perempuan dalam perjuangannya sehingga konsep teologi pembebasan ini akhirnya diterapkan pada persoalan perempuan dengan harapan agar kaum perempuan dapat dibebaskan dari sistem budaya yang seringkali menafsirkan perempuan berdasarkan ideologi patriarki serta paling sedikit berusaha menemukan jati diri tanpa bermaksud menyamakan diri dengan laki-laki.

Tidak hanya itu, upaya demi upaya dilakukan untuk mendukung perjuangan mereka. Kaum perempuan sadar bahwa selain dibebaskan dari sistem budaya yang menindas, kaum perempuan perlu juga dibebaskan dari gerakan pembodohan yang telah berjalan lama. Oleh karena itu, diperkirakan pada gelombang kedua, teologi feminis yang diprakarsai oleh kaum perempuan Amerika mulai melakukan sesuatu yang terbilang baru dengan menempuh jalur pendidikan formal, yakni mulai belajar teologi dan mengejar gelar teologi dengan mengikuti studi teologi[4]. Pendidikan teologi di Seminari-seminari yang pada awalnya hanya diikuti oleh laki-laki kini telah mendapat warna baru lewat kehadiran perempuan. Jadi, bertolak dari kondisi dan situasi demikian maka perkembangan teologi feminis mendapatkan tempatnya. Memang pada awalnya aliran teologi feminis ini mendapatkan perlawanan dari berbagai pihak, namun dalam perjalanannya akhirnya teologi feminis ini pun diterima oleh berbagai kalangan.

A.2. Perempuan di Mata Gereja Katolik

Berbicara tentang realitas perempuan di dalam Gereja tidak mengajak kita untuk saling menyalahkan. Teologi feminis ketika membicarakan keterlibatan dan kontribusi perempuan dalam Gereja katolik sama sekali tidak bermaksud untuk menyaingi laki-laki atau pun membangun tembok pemisah antara mereka dan Gereja. Sambil tetap mengakui dan menghormati otoritas Gereja, teologi feminis membuat sebuah refleksi kritis atas citra perempuan dalam Gereja katolik sambil mengharapkan akan adanya perubahan. Untuk itu, tidak mengherankan jika dalam berteologi Kitab Suci yang dikritisi oleh aliran ini tetap ditempatkan sebagai dasar dalam berteologi.

Dalam mengadakan refleksi, teolog feminis menemukan rupa-rupa hal yang menyebabkan terpuruknya perempuan bahkan mendiskreditkan perempuan dalam hidup menggereja. Berkaitan dengan budaya, maka para teolog feminis menyadari bahwa budaya patriarki yang sangat kental mendorong kaum perempuan untuk dapat melihat realitas diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Budaya patriarki ini dalam prakteknya sangat mempengaruhi tata kehidupan masyarakat bahkan telah merembes ke dalam lingkungan Gereja sehubungan dengan karya-karya pelayanan Gereja, khususnya dalam kaitannya dengan kontribusi  perempuan dalam Gereja katolik.

Dalam Kitab Suci terjadi penolakkan terhadap beberapa teks Kitab Suci seperti yang dilakukan oleh Mary Baker dan Elizabeth Stanton karena dianggap bercorak diskriminatif dan terkesan dipaksakan ke atas perempuan[5].  Menurut mereka, Kitab Suci tidak hanya menjadi landasan biblis untuk melindungi dominasi kekuasaan laki-laki atas perempuan tetapi mengandung pula ancaman dan teror terhadap kaum perempuan[6].  Teks-teks ini, menjadi sangat problematis bagi kaum perempuan karena dengan jelas menyatakan kelemahan perempuan dan batasan-batasan tertentu bagi perempuan dan laki-laki. Namun dalam konteks ini, kita tidak melakukan penafsiran kitab suci melainkan dimaksudkan untuk menunjukkan sisi kitab suci yang dirasakan sangat bercorak diskriminatif.

Keterpurukan kaum perempuan semakin memuncak dalam Gereja katolik ketika mendalami konsep teologi para bapa Gereja, seperti Tertulianus, Agustinus dan Aquinas terhadap perempuan yang terkesan sangat merendahkan martabat perempuan. Citra perempuan digambarkan secara negatif, yakni sebagai penyebab dari datangnya kejahatan di dunia dan kehidupan manusia (pandangan Tertulianus)[7]. Agustinus dengan etika seks menempatkan perbedaan jasmani antara laki-laki dan perempuan pada simbol fisik yang menunjukkan fungsi lebih tinggi dan lebih rendah dari kedua individu ini sehingga perempuan dipandang tak berdaya tanpa kehadiran laki-laki[8]. Akhirnya,  perempuan pun dipandang sebagai makhluk yang tidak sempurna karena sifat dasar yang dimilikinya sebagai mana yang diungkapkan oleh Aquinas. Menurutnya, ketidaksempurnaan itu terletak dalam jiwa yang kemudian disejajarkan dengan ketidaksempurnaan akal budi[9]. Oleh kerena itu, untuk mencapai kesempurnaan maka perempuan membutuhkan laki-laki.

Bertolak dari semua penjelasan di atas, nampak dengan jelas bagaimana citra buruk perempuan. Citra buruk semacam ini tentu saja mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap perempuan sekaligus mempengaruhi praksis hidup perempuan terutama yang berhubungan dengan keterlibatan mereka dalam maryarakat secara khusus dalam hidup mengereja. Jika demikian, maka muncul pertanyaan sekarang apakah kaum perempuan masih dapat terlibat dalam hidup dan karya pelayanan gereja? Dengan predikat semacam ini, apakah kaum perempuan masih diperbolehkan untuk terlibat dalam Gereja? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menuntun kita dalam ulasan berikutnya.

B.  Tanggapan Teologi Feminis dan Inpirasinya bagi Gereja Katolik

B.1. Pentingnya Kontribusi Perempuan dalam Gereja Katolik

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa dalam konteks pemikiran teologi feminis pergerakkan teologi feminis sama sekali tidak menghendaki agar perempuan berkuasa dan mempunyai kedudukan lebih tinggi dari laki-laki, melainkan agar kaum perempuan pun mendapatkan pengakuan dari gereja akan kontribusi perempuan dalam karya pelayanan Gereja. Teologi feminis tidak sedang membangun paradigma baru di mana kaum perempuan berkuasa, sebab jika demikian maka masalah tidak akan selesai malahan hanya menambah masalah. Untuk itu, apa yang diajarkan dan ditegaskan oleh Gereja dalam setiap dokumen yang berpihak pada kaum kecil dan mereka yang diperlakukan tidak adil, menjadi sumber pertimbangan teologi feminis dalam menyikapi masalah perempuan.

Berkaitan dengan dokumen-dokumen Gereja yang disinyalir memiliki sinyal keberpihakkan atas perempuan seperti Apostolicam Actuositatem, Gadium et Spes, Mullieris Dignitatem dan beberapa dokumen yang lain menurut para teolog feminis hal itu hanya sebatas wacana saja. Terdapat kesenjangan antara kata dan kenyataan yang cukup mencolok. Apa yang ditegaskan dalam dokumen-dokumen ini cenderung hanya untuk menghibur kaum perempuan, padahal dalam kenyataannya kurang dilaksanakan. Oleh karena itu, Elizabeth Schussler-Fiorenza menegaskan bahwa “Gereja sebagai institusi tidak melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan. Jarang perempuan duduk dalam kuria kepausan dan tak ada syarat yang menyatakan bahwa suatu keputusan yang menyangkut kehidupan Gereja perlu memperhatikan kaum perempuan.”[10] Konsekuensinya, perempuan hanya berada di luar mendengarkan dan siap melaksanakan apa yang diputuskan oleh kaum laki-laki. Selain itu, dengan adanya otoritas Gereja melalui Kitab Suci dan ajaran teologi telah ikut juga melanggengkan relasi budaya patriarkat dan struktur hirarki Gereja yang menindas perempuan[11].

Berkaitan dengan masalah keterlibatan kaum perempuan dalam hidup dan karya pelayanan Gereja maka dalam konteks pemikiran teologi feminis keterlibatan perempuan dalam hidup menggereja merupakan sesuatu yang wajar dan bukanya sesuatu yang tabu. Namun, hal ini dapat terwujud jika Gereja dapat memperhatikan kesetaraan dalam konteks bakat, kemampuan dan pilihan masing-masing sehingga perempuan pun dapat diperhitungkan dalam praksis pelayanan Gereja tanpa mengesampingkan otoritas Gereja. Dalam konteks ini, laki-laki dan perempuan saling memberikan tempat dan kesempatan untuk terlibat dalam tugas dan pelayanan Gereja. Tidak ada dominasi dari kelompok tertentu, yakni laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya. Laki-laki dan perempuan mempunyai peran yang sama pentingnya dalam hidup menggereja. Oleh sebab itu, melarang wanita untuk terlibat dan berperan dalam karya pelayanan Gereja sama dengan mengatakan bahwa perempuan tidak berharga dalam pelayanan Yesus Kristus.

Pengakuan akan adanya keterlibatan perempuan dalam hidup menggereja didukung oleh pandangan positif teologi feminis. Tuntutan perempuan untuk mendapatkan peran yang sama dengan laki-laki, janganlah dimengerti sebagai bentuk perebutan peran sosiologis yang mengarah pada perebutan kekuasaan, melainkan peran yang dimaksudkan di sini merujuk pada kontribusi perempuan sebagai mana yang telah dijelaskan di atas. Dengan demikian, keterlibatan perempuan dalam hidup menggereja tidak akan menjadi ancaman terhadap laki-laki dan bagi Gereja.

Dalam kaitan dengan keterlibatan perempuan dalam Gereja katolik maka yang perlu diupayakan adalah pemberdayaan perempuan. Perempuan perlu diberdayakan sebagai suatu visi baru di mana paradigma lama tentang dominasi laki-laki perlu diganti dengan paradigma baru, yakni adanya kesetaraan sejati antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan perlu menyumbangkan kemampuannya dalam hidup dan karya pelayanan Gereja. Namun perlu disikapi secara serius agar kesetaraan sejati ini tidak terbatas pada kata-kata saja tetapi harus dapat dibuktikan. Oleh sebab itu, atas salah satu cara dengan adanya teologi feminis Gereja dapat memberikan tanggung jawab serta peran terhadap perempuan dalam hidup dan karya pelayanan Gereja. Tidak hanya melibatkan perempuan dalam hidup dan karya pelayanan Gereja, melainkan melalui cara ini perempuan sungguh-sungguh dapat dilihat sebagai makhluk yang mulia, sebagai manusia yang perlu juga diperhatikan dan dihargai secara pantas.

B.2. Umat Allah: Sebuah Inpirasi teologi feminis

Gambaran umat Allah merupakan gagasan teologis yang mewakili sikap Gereja dalam praksis pelayanan pastoral. Dalam konteks gambaran umat Allah, titik perhatiannya bukan lagi pada unsur struktural sebagai mana yang ditentang oleh para teolog feminis melainkan pemberdayaan setiap anggota Gereja sehingga semuanya dapat ambil bagian dalam hidup dan karya pelayanan menggereja. Dengan kata lain,  gambaran umat Allah yang dimaksudkan di sini tidak lagi menekankan struktur kepemimpinan hirarkis, melainkan lebih pada suatu kepemimpinan partisipatif di mana semua anggota Gereja, entah laki-laki dan perempuan secara bersama-sama mengambil bagian di dalamnya sebagai mana yang terungkap dalam konstitusi dogmatis tentang Gereja.[12] Lebih dari pada itu, gambaran umat Allah yang dimaksudkan di sini dapat meminimalisir perbedaan antara laki-laki dan perempuan serta berbagai konsep miring yang diberikan atas perempuan.

Berbagai tuntutan yang diberikan, salah satunya seperti tahbisan imam perempuan justru dalam teologi feminis tidak terlalu dipersoalkan sebagai mana yang ditegaskan oleh Anne Thurston. Ia mengajak semua orang agar tidak memfokuskan diri pada tuntutan untuk menerima berbagai sakramen gerejawi seperti tahbisan imam, melainkan pada hak setiap anggota Gereja untuk ikut dalam perayaan-perayaan sakramental[13]. Dengan kata lain, problem mendasar yang dihadapi oleh kaum perempuan adalah pengakuan akan peran serta dan keterlibatan perempuan dalam hidup dan karya pelayanan Gereja. Untuk itu, pembaharuan Gereja merupakan jalan keluarnya.

Bagi para teolog feminis, yang perlu dilakukan dalam konteks pembaharuan ini adalah perlu adanya transformasi teologi dalam hidup menggereja dan feminisasi hidup menggereja. Transformasi teologis dalam hidup menggereja dapat dilakukan dengan cara membangun gereja yang partisipatif, membagun Gereja kaum miskin dan membagun komunitas basis gerejani berdasarkan gagasan dasar umat Allah[14].  Sebutan Gereja partisipatif yang dimaksudkan di sini adalah Gereja yang dapat memperhatikan berbagai kebutuhan umat dan mampu melibatkan seluruh anggotanya dalam hidup dan karya pelayanan Gereja[15]. Gereja kaum miskin menjadi satu cara untuk membebaskan perempuan sebagai kaum tertindas yang menjadi korban ketidakadilan dalam Gereja. Akhirnya pemberdayaan perempuan dalam kesatuan dengan kaum awam untuk diakui eksistensinya dalam Gereja sebagai mana yang terungkap dalam gagasan komunitas basis gerejani menjadi unsur pendukung dalam perjuangan perempuan.

Selain transformasi teologis, feminisasi hidup menggereja menjadi butir penting yang diberikan oleh teolog feminis. Feminisasi hidup menggereja yang dimaksudkan bukan hanya membuat Gereja untuk menyadari kehadiran perempuan dalam Gereja, melainkan agar dalam kehidupan menggereja setiap orang dapat merasa aman dan tentram tanpa pandang bulu dan jenis kelamin[16]. Proses ini secara efisien harus dilakukan dalam kehidupan internal gereja dan dalam hidup kemasyarakatan.[17] Dengan cara demikian maka persoalan perempuan secara perlahan-lahan dapat diatasi.

Penutup

Kehadiran teologi feminis sesungguhnya bukan merupakan ancaman terhadap Gereja Katolik melainkan kehadirannya dapat memberikan nuansa baru dalam khazana perkembangan teologi. Dalam berteologi kaum perempuan tetap mengakui otoritas Gereja dan institusi Gereja sambil memberikan berbagai pikiran positif dan analisa kritis atas hidup Gereja berdasarkan pengalam kaum perempuan dalam hidup menggereja. Dalam perspektif teologi feminis, kehadiran aliran ini sama sekali tidak hanya diperuntukkan bagi kaum perempuan, tetapi laki-laki pun dapat mempelajarinya. Oleh sebab itu, teologi feminis janganlah dikatakan sebagai teologi khusus perempuan tetapi lebih tepat jika dikatakan bahwa teologi oleh perempuan. Dengan demikian, maka melalui teologi ini kaum perempuan dan laki-laki dapat menggunakannya sebagai sebuah alternatif berteologi untuk menyikapi persoalan perempuan yang selama ini cukup menjadi isu besar dalam Gereja Katolik.

Daftar Pustaka

Clifford, Anne M. Memperkenalkan Teologi Feminis, Terj. Yosef M. Florisan. Maumere: Seminari Tinggi Ledalero, 2002.

Iswanti. Kodrat Yang Bergerak, Gambar, Peran dan kedudukan Perempuan Dalam Gereja Katolik. Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Hayon, Adrianus. “Gereja dan Pemberdayaan Kaum Perempuan: sebuah Tinjauan Teologis dan Terang Kitab Suci,” dalam Seri Buku VOX: Perempuan dan Pemimpin Republik Diam. Februari 1986.

“Lumen Gentium.” Dalam Dokumen Konsili Vatikan II. Terj. R. Hardawiryana. Jakarta: Obor, 1993

Madya Utama, Ignatius. “ Peran Perempuan  dalam Hidup Menggereja: perspektif Laki-laki” dalam Junal Filsafat dan Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara. Vol. 3. April 2004.

Murniarti, Nunuk P. Getar Gender: Perempuan Indonesia dalam Perspektif Agam, Budaya dan Keluarga. Magelang: Indonesiatera, 2004.

Pegu, Ansel. “Perempuan dan Teologi Pembebasan,” dalam Para Perempuan Sekitar Yesus. Ende: Nusa Indah, 2000.

Retnowati, Perempuan-Perempuan Dalam Alkitab, Peran, Partisipasi dan Perjuangannya. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.

Sumiarni, Endang. Jender dan Feminisme. Yogyakarta: Wonderful Publishing Company, 2004.


[1]Endang Sumiarni, Jender dan Feminisme (Yogyakarta: Wonderful Publishing Company, 2004),  hlm. 83.

[2]Bdk., Nunuk P. Murniarti, Getar Gender: Perempuan Indonesia dalam Perspektif Agam, Budaya dan Keluarga (Magelang: Indonesiatera, 2004),  hlm.13.

[3]Bdk., Ansel Pegu, “Perempuan dan Teologi Pembebasan,” dalam Para Perempuan Sekitar Yesus (Ende: Nusa Indah, 2000), hlm 102.

[4] Anne M, Clifford, Memperkenalkan Teologi Feminis Terj. Yosef M. Florisan (Maumere: Seminari Tinggi Ledalero, 2002), hlm. 51.

[5]Ibid.,

[6]Lihat contoh perikop Kitab Suci yang berisi teror terhadap perempuan seperti pada Kitab Hakim-Hakim 11 dan 19; Kejadian 3:16, Kekerasan psikologis-spiritual bisa ditemukan dalam kalimat berikut: “…..Perempuan akan susah pada waktu mengandung dan kesakitan pada waktu melahirkan,…. “karena dosa awal yang disandungnya. Hal itu dilanjutkan dalam Perjanjin Baru, seperti yang dituliskan dalam surat Paulus Kepada Jemaat di Efesus, bahwa istri harus tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan (Efesus 5:21-23), atau pada Korintus 11:3,8,38. Bahkan dalam Timotius 2:11-14, masih diulang cerita bahwa bukan Adam yang terjatuh dalam godaan, melainkan perempuan itu, yakni (Eva),…..”

[7]Iswanti, Kodrat Yang Bergerak, Gambar, Peran dan kedudukan Perempuan Dalam Gereja Katolik (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 120.

[8]Bdk., Nunuk P. Murniarti, Getar Gender: Perempuan Indonesia dalam Perspektif Agam, Budaya dan Keluarga (Magelang: Indonesiatera, 2004), hlm.35. Lihat juga Retnowati, Perempuan-Perempuan Dalam Alkitab, Peran, Partisipasi dan Perjuangannya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), hlm. 79.

[9] Ibid., hlm 36.

[10]Bdk., Adrianus Hayon, “Gereja dan Pemberdayaan Kaum Perempuan: sebuah Tinjauan Teologis dan Terang Kitab Suci,” dalam Seri Buku VOX: Perempuan dan Pemimpin Republik Diam (Februari 1986), hlm.39.

[11] Ibid

[12] Bdk., Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, No. 9.

[13] Bdk., Ignatius  Madya Utama, “ Peran Perempuan  dalam Hidup Menggereja: perspektif Laki-laki” dalam Junal Filsafat dan Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara. Vol. 3. April 2004, hlm. 85.

[14] Bdk., Ignatius  Madya Utama, “ Peran Perempuan  dalam Hidup Menggereja: perspektif Laki-laki,” hlm. 85-86. Bdk, Avery Dulles, Model-model Gereja (Flores NTT: Nusa Indah, 1990), hlm 50.

[15] Ibid.

[16] Ibid., hlm. 87

[17] Ibid., hlm 87-89.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: