PUASA DAN PANTANG DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN KATOLIK


PUASA DAN PANTANG  DALAM  PERSPEKTIF

ISLAM DAN KATOLIK

Oleh

Alexandrina Teniwut

PENDAHULUAN

  1. I. LATAR BELAKANG

Puasa dan pantang adalah cara memperbaharui diri dengan menekan keinginan-keinginan badani yang dilakukan pada praktek hidup sebelumnya. Dengan kata lain puasa dan pantang adalah usaha untuk mengendalikan diri menjadi manusia baru dengan meneladani kehidupan sang nabi Muhamad dan Yesus Kristus.

Dalam kehidupan umat beragama pantang dan puasa tidaklah menjadi hal yang baru, hal ini sudah lazim dilaksanakan  oleh setiap orang beriman.Hanya saja pelaksanaan Puasa dan Pantang dalam dunia dewasa ini belum mencerminkan arti yang sesungguhnya .

Dekadensi  akan arti nilai-nilai keagamaan dari puasa dan pantang disebabkan karena minimnya pemahaman. Bagi kebanyakan orang puasa dan pantang dilihat sebagai sebuah rutinitas keagamaan yang berlangsung setiap tahun. Adapula pemahaman lain yakni puasa dan pantang dilaksanakan sebagai konsekuensi seorang penganut agama terhadap aturan-aturan keagamaan (praktek hidup legalisme).

Lewat peper mini ini kelompok menyajikan arti puasa dan pantang dalam perspektif Islam dan Katolik untuk dipahami dan dilaksanakan guna meningkatkan penghayatan akan nilai-nilai relegius yang kian merosot.

BAB  I

PUASA DAN PANTANG DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN KATOLIK

I.1. PUASA DAN PANTANG MENURUT ISLAM

I.1.1. ARTI PUASA DAN PANTANG

Puasa dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Saum atau Siyăm yang artinya imsak (menahan diri) dari segala sesuatu; dalam pengertian  tidak terbatas, yakni bukan hanya makan dan minum saja tetapi mencakup kebiasaan-kebiasaan  hidup etika dalam berbicara dan berperilaku. Penjelasan dari pengertian puasa diatas maka pengertian dari pantang sudah tersirat di dalamnya yakni pantang makan dan minum selama terang hari.

I.1.2. HIKMAH PUASA  DAN PANTANG

Bagi orang beriman yang berpuasa makna dari puasa yakni :

  • Suatu bentuk korban atau persembahan
  • Memberikan kemantapan dan intensitas pada doa, karena dapat mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendakNya.
  • Mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat.
  • Menolong orang untuk mengurangi keserakahan.
  • Tanda penyesalan.
  • Membebaskan orang dari ketergantungan jasmani, ketidakseimbangan emosional dan dapat mengarahkan perhatian kepada sesama dengan memberi derma.

Selain itu ada hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa menurut beberapa tokoh:

1.  Muhammad Ali as-Sabuni (ahli tafsir), mengatakan bahwa sekurang-kurangnya ada 4 hikmah    yang terkandung dalam puasa, yakni:

  • Merupakan sarana pendidikan bagi manusia agar tetap  bertaqwa kepada Allah SWT, patuh terhadap perintahNya dan menghambakan diri kepadaNya.
  • Merupakan pendidikan bagi jiwa dan membiasakannnya untuk tetap sabar dan tahan terhadap segala penderitaan dalam menempuh dan melaksanakan perintah Allah SWT.
  • Merupakan sarana untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan rasa persaudaraan terhadap orang lain
  • Dapat menanamkan dalam diri manusia rasa taqwa kepada Allah SWT baik dalam keadaan terang-terangan maupun sembunyi-sembunnyi.

2.  Wahbah az-Zuhaili, mengatakan bahwa puasa mengandung banyak faedah yang tidak hanya  bersifat material tetapi juga bersifat spiritual.

I.1.3. MACAM-MACAM PUASA DAN PANTANG

Puasa dibagi atas beberapa macam:

  1. Dilihat dari waktu pelaksanaannya, puasa terbagi atas dua, yakni:
  • Puasa pada Bulan Ramadan. Puasa Ramadan mulai diwajibkan oleh Allah SWT atas umat Muhammad SAW pada tanggal 10 Ramadan,satu setengah Tahun sesudah *hijriah. Ketika itu Nabi Muhammad SAW baru saja diperintahkan untuk mengalihkan arah kiblat dari Baitulmakdis (Yerusalem ) ke Ka’bah (Mekah). Puasa Ramadan wajib dimulai ketika melihat atau menyaksikan bulan pada awal bulan Ramadan. Apabila langit dalam keadaan berawan yang mengakibatkan bulan tidak dapat dilihat atau disaksikan, maka bulan Ramadan disempurnakan tiga puluh hari. Hal ini didasarkan pada Al-Quran surah al-Baqarah ayat 185 yang artinya:”Barangsiapa yang menyaksikan bulan di antara kamu hendaklah berpuasa”.
  • Puasa di luar Bulan Ramadan, seperti puasa Kada dan puasa  enam hari pada Bulan Syawal.
  1. Dilihat dari segi hukumnya, puasa terbagi atas empat, yakni :
  • Puasa wajib
  • Puasa haram
  • Puasa Sunah
  • Puasa Makruh
  • Puasa Wajib; mencakup puasa Ramadan, puasa kafarat (denda, tebusan) dan puasa Nazar.
    • Puasa Ramadan atau puasa yang diwajibkan atas setiap muslim selama sebulan penuh pada bulan Ramadan.
    • Puasa Ramadan, wajib dimulai ketika melihat atau menyaksikan bulan pada awal bulan Ramadan. Apabila langit dalam keadaan berawan yang mengakibatkan bulan tidak dapat dilihat atau disaksikan.
    • Puasa Kafarat atau puasa yang dilakukan oleh seseorang karena sebab-sebab tertentu, seperti bersetubuh di siang hari bulan Ramadan.
    • Puasa Nazar ialah puasa yang diwajibkan atas seorang karena suatu nazar.
    • Puasa Haram; mancakup puasa-puasa sebagai berikut :
      • Puasa Sunah yang dilakukan oleh seorang isteri tanpa izin suaminya. Maka seorang isteri yang ingin melakukan puasa *)Sunah harus terlebih dahulu mendapat izin dari suaminya.
      • Puasa yang dilakukan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha ( Salat id).
      • Puasa pada tiga hari ( tasyrik, pada tanggal 11, 12, 13 Zulhijah).
      • Puasa yang dilakukan dalam keadaan haid atau nifas.
      • Menurut Mazhab Syafi’i, puasa yang dilaksanakan pada pertengahan akhir bulan Syakban
      • Puasa yang dilakukan oleh seseorang yang takut akan terjadi murtad bagi dirinya apabila ia melakukan puasa.
      • Puasa Sunah[1]; mancakup puasa-puasa sebagai berikut :

Puasa yang dilakukan selang satu hari (hari ini berpuasa, besok tidak) atau puasa Nabi Daud yang merupakan puasa terbaik, sehari ia berpuasa dan seharinya tidak.

  • Puasa selama tiga hari dalam setiap bulan (Hijriah)
  • Puasa pada hari senin dan kamis.
  • Puasa yang dilakukan selama enam hari pada bulan Syawal.
  • Puasa hari Arafah, yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Zulhijah bagi orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji.
  • Puasa pada hari kedelapan bulan Zulhijah (sebelum hari Arafah).
  • Puasa Tasu’a dan Asura, yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal  9 dan 10 Muharam.
  • Puasa pada al-asyhur al-hurum, yaitu puasa yang dilakukan pada bulan-bulan  Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab.
  • Puasa bulan Syakban..
  • Puasa Makruh; terbagi atas tiga macam :
    • Puasa yang dilakukan pada hari Jumat, kecuali beberapa hari sebelumnya telah berpuasa.
    • Puasa Wisal, yaitu puasa yang dilakukan secara bersambung  tanpa makan atau minum pada malam harinya.
    • Puasa dahri, yaitu puasa yang dilakukan terus-menerus.

I.1.4.   SYARAT-SYARAT PUASA DAN PANTANG

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam melaksanakan puasa. Syarat-syarat itu terdiri atas : Syarat Wajib dan syarat Sah.

  • Syarat wajib atau syarat-syarat  yang menyebabkan seseorang harus melakukan puasa.
    • Syarat sah atau syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang agar puasanya sah menurut syarat.
      • Para ulama telah menetapkan lima syarat wajib puasa :
  1. Islam, artinya puasa itu wajib bagi seorang muslim, tidak wajib bagi orang kafir.
  2. Balig. Puasa tidak wajib bagi anak kecil, orang gila, orang yang  pingsan dan orang mabuk.
  3. Berakal.
  4. Mampu
  5. Menetap (bermukim).
  • Mengenai syarat-syarat Sah puasa, terdapat perbedaan pendapat antara para ulama yaitu:
    • Mazhab Hanafi, mengatakan bahwa ada tiga syarat bagi sahnya puasa, yaitu niat,bersih dari haid dan nifas, terlepas dari hal-hal yang bertentangan dengan puasa (seperti haid dan nifas), dan terlepas dari hal-hal yang membatalkan puasa.
    • Mazhab Hanbali, juga menetapkan  3 syarat : Islam, niat dan bersih dari haid dan nifas.
    • Mazhab Maliki dan Mazhab Syafi’i, menetapkan 4 syarat : niat, bersih dari haid dan nifas,  Islam dan pada waktu yang dibolehkan untuk berpuasa.

Maka syarat Sah yang disepakati oleh para ulama ialah niat. Menurut mereka, niat berpuasa pada siang hari dilakukan pada malam hari. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi SAW yang mengatakan : “Barang siapa yang tidak melakukan niat pada malam harinya sebelum terbit fajar, maka puasanya tidak Sah” (HR. Daruqutni)

I.1.5.   WAKTU PUASA DAN PANTANG

Yang dimaksud dengan waktu puasa disini atau beberapa jam puasa itu harus dilakukan menurut hukum Islam.

  • Puasa Islam itu dilakukan pada saat fajar (subuh) dan matahari terbenam  (magrib); sedangkan malam harinya boleh makan, minum dan hubungan suami dan isteri.
  • Setelah azan subuh tidak boleh lagi melakukan kegiatan makan, minum karena itu membatalkan puasa.

I.1.6.   SUNAH PUASA

Hal-hal yang disunahkan untuk dilakukan selama berpuasa atau sebagai berikut :

  • Makan Sahur
  • Mempercepat berbuka
    • Membaca doa sebelum berbuka. Doa yang umum digunakan masyarakat Islam secara luas adalah : “Allahuma laka sumtu wabika amantu wa’ala rizqika aftartu birahmatika ya arham ar- Rahimin” (Ya Allah, karena Engkau aku berpuasa, dan dengan Engkau aku beriman dan di atas rezeki-Mu aku berbuka, dengan sebab rahmat-Mu, wahai Zat yang maha pemberi rahmat bagi orang-orang yang mendapatkan rahmat).
    • Memberikan makan untuk berbuka kepada orang-orang yang berpuasa walaupun sebuah kurma atau segelas air.
    • Memperbanyak sedekah kepada fakir miskin.
    • Aktif dengan ilmu.
    • Iktikaf di masjid, terutama sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

I.1.7.   MAKRUH PUASA DAN PANTANG

Hal-hal yang makruh dilakukan selama berpuasa antara lain :

  • Berciuman dan bercumbu rayu dengan isteri/suami
  • Mencicipi makanan dengan mengunyahnya tanpa uzur (halangan)
  • Mengumpulkan liur dalam mulut dengan sengaja dan menelannya.
  • Melakukan sesuatu yang dapat melemahkan badan, seperti membekam
  • Memakai wangi-wangian dan menciumnya secara berlebihan pada siang hari.
  • Berkumur yang berlebihan.
  • Memperbanyak tidur dalam bulan Ramadan.
  • Berbicara dan bekerja yang berlebihan
  • Bersikat gigi sesudah tergelincir matahari sampai terbenam matahari.
  • Meninggalkan sisa-sisa makanan di celah-celah gigi.

I.1.8. ORANG-ORANG YANG DIPERBOLEHKAN BERBUKA PUASA ATAU

TIDAK BERPUASA DAN PANTANG

  • Ø Orang-orang yang dibolehkan berbuka puasa adalah sebagai berikut :
  • Musafir ( orang yang sedang bepergian)
  • Orang sakit.

Sebagian ulama menentukan syarat-syarat bagi orang sakit yang dibolehkan berbuka puasa, yaitu :

-      Tidak mampu berpuasa dan jika berpuasa dikhawatirkan sakitnya akan bertambah parah.

-      Mampu berpuasa, tetapi akan menyulitkan bagi dirinya.

-      Sakit yang tidak menyulitkan dirinya dan tidak akan menambah penyakitnya (sakit yang ringan).

  • Orang hamil dan menyusui
  • Orang yang lanjut usia
  • Orang yang dipaksa
    • Orang-orang yang membatalkan puasa atau tidak dapat melaksanakan puasa pada bulan Ramadan, diwajibkan untuk mengkada, berkafarat dan berfidyah.
      • Mengkada : Mengganti puasa Ramadan yang telah ditinggalkannya pada hari-hari lain sesudah bulan Ramadan.
      • Kafarat : Hukuman yang diberikan kepada seseorang yang telah membatalkan puasanya karena dengan sengaja telah melakukan hubungan persetubuhan dengan isterinya di siang hari bulan Ramadan. Dapat ditebus dengan berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin.
      • Fidyah : Lebih ringan dari Kafar. Fidyah atau tebusan yang harus dilakukan seseorang yang tidak mampu melaksanakan puasa Ramadan, seperti orang yang lanjut usia, orang hamil dan ibu yang menyusui.

I.1.9. HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA DAN YANG MEWAJIBKAN

KADA, KAFARAT / FIDYAH.

Ada beberapa  hal yang membatalkan puasa; para ulama membagi hal-hal yang membatalkan puasa itu atas dua bagian, yaitu hal-hal yang membatalkan puasa serta mewajibkan Kada dan hal-hal yang membatalkan puasa serta mewajibkan Kada dan Kafarat sekaligus :

1.  Hal-hal yang membatalkan puasa dan mewajibkan Kada :

  • Menurut kalangan Mazhab Hanafi, yang membatalkan puasa dan mewajibkan Kada :
    • Memasukan segala sesuatu yang bukan makanan dan yang bukan dalam pengertian makanan ke dalam kerongkongan.
    • Muntah dengan sengaja.
    • Memasukkan makanan/obat-obatan ke dalam kerongkongan tanpa uzur.
    • Makan dan bersetubuh dengan sengaja sesudah makan dan bersetubuh karena lupa.
    • Makan, minum atau bersetubuh karena tidak tahu dengan pasti bahwa fajar telah tebit.
    • Menurut kalangan Mazhab Maliki, yang membatalkan puasa dan mewajibkan Kada :
      • Berbuka dengan sengaja pada puasa Ramadan yang tidak memenuhi syarat Kafarat
      • Berbuka dengan sengaja pada puasa Fardu (bukan puasa Ramadan), seperti puasa Kada, Ramadan, puasa Kafarat dan puasa Nazar.
      • Berbuka puasa dengan sengaja pada puasa Sunah.
      • Menurut kalangan Mazhab Syafi’i, yang membatalkan puasa dan mewajibkan Kada :
        • Sampainya segala yagn bersifat materi ke dalam kerongkongan .
        • Menelan dahak dan ingus.
        • Muntah dengan sengaja.
        • Menurut kalangan Mazhab Hambali, yang dapat membatalkan puasa dan mewajibkan Kada :
          • Masuknya segala sesuatu yang bersifat materi melalui lubang badan ke bagian dalam badan dengan sengaja atau atas kemauan sendiri.
          • Muntah dengan sengaja, walaupun sedikit.
          • Murtad
          • Makan pada saat adanya anggapan bahwa matahari telah terbenam, padahal belum.

2.  Hal-hal yang membatalkan puasa dan mewajibkan Kada dan Kafarat sekaligus:

  • Menurut kalangan Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki, bahwa Kafarat itu wajib apabila memenuhi beberapa syarat :
    • Berbuka puasa Ramadan
    • Sengaja berbuka
    • Atas kemauan sendiri
    • Mengetahui  bahwa berbuka itu haram.
    • Merusak kehormatan Ramadan.
    • Sampai ke dalam tubuh melalui mulut
    • Sesuatu yang masuk itu harus sampai ke perut.
    • Menurut kalangan Mazhab Syafi’i, yang mewajibkan Kada dan Kafarat, yaitu bersetubuh. Seseorang yang bersetubuh harus memenuhi syarat-syarat :
      • Pada malam harinya ia berniat puasa
      • Sengaja
      • Dengan kemauan sendiri, tidak paksa
      • Mengetahui bahwa melakukan perbuatan itu haram.
      • Terjadi dalam bulan Ramadan.
      • Bukan anak-anak, musafir atau orang sakit.
      • Tidak keliru melakukan persetubuhan
      • Tidak menjadi gila atau mati sesudah bersetubuh pada siang hari itu.
      • Menurut kalangan Mazhab Hanbali, hal yang mewajibkan Kada dan Kafarat itu hanya satu, yaitu bersetubuh pada siang hari bulan Ramadan tanpa Uzur (dengan sengaja).

I.1.10.  HAL-HAL YANG TIDAK MEMBATALKAN PUASA

  • Menurut Mazhab  Hanafi, ada 14 hal yang tidak membatalkan puasa :
  • Makan, minum dan bersetubuh karena lupa
  • Keluarnya mani karena memandang atau merenungkan sesuatu yang merangsang.
  • Bercelak
  • Berbekam
  • Bersugi
  • Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam lubang hidung, bukan untuk wuduh.
  • Mandi atau berenang
  • Mengumpat dan berniat berbuka, tetapi tidak berbuka
  • Masuknya asap atau semacamnya ke dalam kerongkongan.
  • Mencabut gigi sepanjang  tidak menelan sedikit pun  darah atau obat.
  • Memasukkan air, minyak, obat semprot ke dalam lubang Zakar dan masuknya air ke dalam telinga karena berendam.
  • Menelan dahak atau ingus.
  • Muntah karena dipaksa
  • Memakan sisa makanan yang terdapat dicelah-celah gigi.
    • Menurut Mazhab Maliki :
    • Muntah dengan tidak disengaja
    • Memasukkan sesuatu ke dalam lubang zakar
    • Meminyaki bagian dalam tubuh dengan obat
    • Menelan liur
    • Berkumur-kumur karena haus.
      • Menurut Mazhab Syafi’i :
      • Masuknya segala sesuatu ke dalam badan karena lupa, tidak tahu, dipaksa.
      • Masuknya sesuatu yang tidak dapat dikeluarkan seperti dahak, dan sesuatu yang terdapat di antara gigi.
      • Masuknya sesuatu yang tidak dapat dihindarkan, seperti debu di jalan.
      • Mengeluarkan darah, mencium, peluk-memeluk, mencoba rasa makanan, bersikat gigi dan mengunyah.

  • Menurut Mazhab Hanbali :
  • Keluar darah
  • Masuknya sesuatu ke dalam kerongkongan tanpa disengaja.
  • Muntah dengan tidak sengaja
  • Bersikat gigi setiap hari.

I.2 PUASA DAN PANTANG MENURUT KATOLIK

I.2.1.  ARTI PUASA DAN PANTANG

Puasa dalam bahasa Ibrani : “tsum”, yang artinya merendahkan diri atau menjadi diri kecil.

Dalam Ensiklopedi Gereja, dikatakan bahwa puasa adalah : tindakan sukarela berpantang sama sekali atau sebagian makanan atau minuman, baik untuk tujuan keagamaan ataupun untuk tujuan lain ( misalnya : kesehatan ).

I.2.2.  MAKNA PUASA DAN PANTANG

Umat Kristen Katolik mewarisi kebiasaan puasa dan pantang dari agama Yahudi. Bagi orang Yahudi puasa merupakan salah satu aturan demi keselamatan. Keselamatan diperoleh jika taat pada perintah Yahweh. Taat supaya selamat, maka aturan-aturan dibuat sebegitu terperinci  agar makin dekatlah seseorang meraih keselamatan.

Tradisi ini juga dilakukan oleh Yesus sesudah pembaptisan-Nya. Sebelum Yesus memulai misi keselamatanNya, Ia berpuasa selama 40 hari. Hal ini menjadi model dan ajaran tentang puasa bagi orang Kristen Katolik, Yesus menekankan bahwa puasa harus dilakukan demi kemuliaan Tuhan semata-mata dan bukan supaya dilihat dan mendapat pujian atau perhatian dari orang lain. Maka puasa keagamaan harus dilakukan secara diam-diam, supaya hanya Allah yang mengetahui dan membalasnya (Mat. 6 : 16 – 18 ).

Gerakan puasa dan pantang dalam kehidupan umat Kristiani disetiap masa Prapaskah merupakan sarana atau kesempatan untuk membangun hidup yang semakin beriman. Penghayatan puasa atau lebih-lebih bermatiraga biasa menjadi alat pengendalian diri menuju perbaikan pribadi-pribadi yang berdampak pada perbaikan mutu kehidupan bersama. Kalau puasa diartikan dengan tidak makan atau tidak minum itu hanya sebagian kecil dari arti puasa itu sendiri. Tetapi seseorang melakukan puasa atau pantang untuk mengekang kebutuhan-kebutuhan lain, bukannya untuk memperkaya diri sendiri tetapi dalam rangka bersolidaritas dengan Yesus yang menyerahkan hidup-Nya untuk orang lain. Solidaritas itu kita hayati dengan mengumpulkan dan dari puasa atau pantang dan matiraga kita.

Dengan puasa kita juga diajak untuk menderita, dengan turut merasakan penderitaan orang lain, karena itu hasil dari puasa adalah munculnya aksi yang ditujukan kepada mereka yang miskin dan menderita. Penghayatan puasa yang dilakukan akan membawa perbaikan dan perubahan, tidak hanya bagi orang yang melakukan puasa, tetapi lebih-lebih  pada keluarga-keluarga yang berada di lingkungan sekitar. Hal ini merupakan bentuk tanggapan terhadap undangan Yesus untuk bertobat, yang bagi umat Katolik dilaksanakan dalam bentuk APP (Aksi Puasa Pembangunan). Kaitan antara APP dengan pantang dan puasa yakni lewat APP kita dapat memberikan setengah dari penghasilan kita untuk orang-orang miskin  dan dengan cara itu maka kita lebih menghayati akan penderitaan Yesus.

I.2.3. ATURAN PUASA DAN PANTANG

Sebelum Konsili Vatikan II, Gereja Katolik menetapkan banyak aturan puasa yang kini sudah sangat disederhanakan. Peraturan wajib puasa atau pantang pada masa Prapaskah adalah :

  • Berpantang dan berpuasa para hari Rabu Abu dan Jumat Suci, pada hari-hari Jumat lain dalam masa Prapaskah wajib melaksanakan pantang.
  • Wajib puasa : semua orang beriman yang berumur 19 – 59 tahun, kecuali orang yang lanjut usia, anak-anak, orang sakit, ibu hamil, orang yang sedang mengadakan perjalanan jauh dan pekerja berat.
  • Puasa : satu kali makan kenyang dalam sehari.
    • Pantang dapat berarti pantang daging, rokok, minum berakohol, menonton televisi dan lain-lain. Di satu pihak pantang dinilai positif, yakni sebagai cara menaklukan nafsu berbuat dosa,namun di sisi lain pantang juga dinilai negatif yakni kebiasaan-kebisaan manusia dibatasi.

Di gereja Katolik semua orang beriman yang berumur 14 tahun ke atas wajib pantang ( KHK; Kan. 1252 : “Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orang tua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina kearah cita–rasa tobat yang sejatih” ); pada hari Rabu Abu (Pembukaan Masa Puasa) serta hari Jumat Suci dan hari-hari Jumat selama masa Prapaskah. (KHK. Kan. 1251 : “ Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan  Konferensi Para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan hari Jumat Agung, memperingati sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus”).

BAB  II  PENUTUP

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Puasa dan Pantang dalam perspektif Islam dan Katolik tidaklah jauh berbeda. Kedua Agama ini memandang Puasa dan Pantang sebagai suatu sarana atau jalan untuk memperbaharui hati dan pikiran serta memperbaiki sikap dan tingkah laku sebagai orang beriman yang taat pada Agama. Hanya saja bila arti dan makna puasa serta pantang ini dilakukan dengan niat serta sungguh-sungguh mengikuti Yesus  dan Nabi Muhamad yang berpuasa dan berpantang selama 40 hari, maka kita akan mendapat pengampunan dan beroleh keselamatan.

Pada masa sekarang ini nilai-nilai religius dalam puasa dan pantang dalam Agama Islam maupun Agama Kristen Katolik sebagian belum terpenuhi atau belum tercapai  karena pada kenyataannya sikap dan tingkah laku manusia tidak sesuai dengan norma-norma agama,misalnya pada bulan puasa ada umat yang mabuk-mabukan,main judi dan lain sebagainya. Maka dari itu kita sebagai manusia yang beriman kita harus sungguh-sungguh menghayati makna puasa dan pantang maka kita akan mendapat pengampunan dan beroleh keselamatan.

KEPUSTAKAAN

  • AGAMA – AGAMA DUNIA. Michael Keene. Kanisius. Yogyakarta, 2006
  • ENSIKLOPEDI GEREJA   Jilid VI   N – Ph  dan  Jilid VII  P – Sek. Adolf Heuken SJ. Yayasan Cipta Loka Caraka. Jakarta, 2005
  • ENSIKLOPEDI NASIONAL INDONESIA  Jilid 12  P – PEP dan  Jilid 13  PER – PY. PT. Delta Pamungkas. Jakarta, 2004
  • ENSIKLOPEDI NURCHOLISH MADJID. Budhy Munawar.Rachman. Yayasan Pesantren Indonesia Al-Zaytun. Jawa Barat, 2008
  • ENSIKLOPEDI ISLAM ,Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam Cetakan Keempat-Jakarta; Ichtiar Baru. Van Hoeve, 1997
  • KAMUS UMUM BAHASA INDONESIA. W.J.S.Poerwadarminta. Balai Pustaka. Jakarta, 2005
  • ISLAM DALAM LINTASAN SEJARAH. Sir Hamilton A.R Gibb.Bhratara Karya Aksara-Jakarta,1983


[1] Sunah adalah suatu tindakan, apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: