YESUS KRISTUS DALAM PANDANGAN ISLAM DAN KATOLIK


YESUS KRISTUS DALAM PANDANGAN  ISLAM DAN KATOLIK

Oleh: DAMIANA  R. SINGERIN

A. PENDAHULUAN

Setiap agama dengan jalannya sendiri mencari yang Ilahi atau yang Kudus. Agama Katolik mengakui Yesus sebagai penyelamat yang dinanti-nantikan oleh umat manusia. Pribadi Yesus adalah pusat dan ciri agama kristen katolik.

Agama Islam tidak mengakui Yesus sebagai putera Allah, melainkan Yesus (Isa) menurut Islam ialah putera maryam yang tidak mempunyai ayah. Dalam hal ini mereka menyangkal Keilahan Kristus.

Faham Islam tentang Nabi dan Kenabian dalam hal-hal tertentu bersama dengan faham Alkitab, sedangkan dalam hal-hal yang lain ia berbeda. Nabi dalam faham Alkitab adalah orang kritikus, seperti Muhammad ketika ia bangkit membantah kelaliman masyarakat Mekkah demi nama Allah. Namun dalam faham Alkitab pula, seorang Nabi tidak menjadi penguasa sendiri.

Kata Yesus adalah bentuk Yunani–Latin yang diterjemahkan dari kata Ibrani “Yoshua” yang berarti Yahweh adalah Keselamatan, karena Yesus diberitakan Allah melalui malaikat Agung Gabriel, waktu menyampaikan kabar gembira tentang seorang putera yang akan dikandung Perawan Maria berkat naungan Roh Kudus. Kristus ( bahasa Yunani ) “Kritos” atau “Mesias”  berarti yang diurapi.

Orang kristen percaya bahwa Yesus adalah putera Allah, Ia mempunyai hubungan yang intim dengan Allah Bapa dengan menyapa Allah sebagai “Abba”.

Agama Katolik menurut asal-usulnya dari komunitas kristiani perdana yang didirikan oleh Yesus Kristus dan pimpinan oleh Keduabelas Rasul.

I. YESUS KRISTUS MENURUT PANDANGAN KATOLIK

a. Yesus Kristus itu sungguh-sungguh manusia

Ketika para Rasul pada hari Pentekosta mewartakan: “Yesus adalah Tuhan” maka orang-orang sangat terharu. Mereka tentu sangat heran karena Yesus yang bertahu-tahun lamanya hidup dan bekerja sebagai manusia di tengah mereka sekarang disebut Tuhan. kepadaNya diberi nama yang dalam perjanjian lama hanya diberikan kepada Allah.

Penjelmaan Allah adalah suatu rahasia dan misteri yang tak perna dapat dimengerti dan ditangkap manusia sepenuh-penuhnya akan tetapi kebenaran ini adalah juga sumber kegembiraan, karena dengan penjelmaannya, Tuhan lebih mendekati kita daripada yang mungkin diharapkan atau malah yang mungkin dipikirkan seorang manusia.

Dari segala orang yang mengenal Yesus di Nasareth atau telah menjumpai, melihat atau mendengarkannya tak seorang pun ragu-ragu bahwa Yesus sungguh-sungguh manusia. Mereka mengenal ibunya yang melahirkanNya di kota Betlehem. Orang telah melihat dia bekerja di bengkel Yusup. Semua orang memanggilnya “anak tukang kayu”. Dia mengenal kegembiraan dan kesusahan, Dia lapar dan haus, lelah dan tidur seperti tiap-tiap orang. Dia dapat tertawa dan menangis seperti kita dan Dia mengalami nasib yang dialami setiap orang manusia yakni Dia telah mati/meninggal. Dengan kata lain Tuhan itu senasib dengan manusia.

b. Yesus Kristus itu sungguh-sungguh Allah

Sama sekali tidak sukar percaya bahwa Yesus itu manusia. Yang sulit ialah percaya bahwa Ia sungguh-sungguh Allah. Manusia selalu membuat gambaran tentang Allah dan menyebutNya “yang tak kelihatan,  yang mahakuasa,  yang kekal”. Kemudian manusia berpikir lebih jauh dan berkata: Yesus itu tidak kekal karena Ia dilahirkan; Ia bukan “yang tak kelihatan” karena beribu-ribu orang melihatNya; Ia tidak mahakuasa sebab pelawan-pelawanNya telah menyalibkanNya dan Ia tidak berbuat apa-apa. Akhirnya manusia condong menarik kesimpulan “ tak mungkin Yesus itu Allah”.

Tetapi cara berpikir itu keliru sama sekali karena berdasarkan sangkaan bahwa manusia itu tahu siapa dan apa Allah itu. Padahal orang mana berani berkata bahwa ia sungguh-sungguh mengenal Tuhan dan tahu siapa Tuhan itu. Irang mana berani mengatakan bahwa dia mempunyai pengertian lengkap tentang Allah? Tak seorang pun dapat berhak mengatakan: “Yesus itu bukan Allah karena dia tidak cocok dengan gambaranku mengenai Allah”, karena tak seorang pun dari dirinya sendiri mempunyai gambaran benar tentang Tuhan.

Kitab Suci mengajar kita persis yang sebaliknya, yaitu bahwa kita justru dalam Kristus baru mulai tahu siapa dan apa Allah itu, karena “Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujudnya”. Seorang Kristen percaya bahwa Kristus itu Allah, karena Kristus mengajar demikian tentang diriNya sendiri dan tingkah lakuNya dan mujizat-mujizatNya membuktikan bahwa Ia mengatakan yang benar. Begitu Allah menyebut Kristus ketika Ia dipermandikan Yohanes Pemandi: “Engkau PuteraKu yang tercinta, Engkau berkenan kepadaKu”.

Jika Kristus biicara tentang Allah biasanya Ia menyebutNya “BapaKu”. Untuk menjelaskan bahwa hubunganNya dengan Allah itu lain sekali dengan hubungan kita, maka Kristus bicara tentang “BapaKu” dan “Bapamu”. Hanya satu kali saja Kristus memakai perkataan “Bapa kami” yaitu ketika Ia mengajar orang-orang bagaimana mereka harus menyebut Allah waktu berdoa.

Kristus berkata bahwa Dia dan Allah adalah satu: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yo. 10, 30). “Barangsiapa melihat Aku melihat Bapa” (Yo. 14, 9). “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yo. 14, 11).

Inilah beberapa kutipan dari Kitab Suci untuk membuktikan bahawa Yesus mengajarr bahwa Ia sungguh-sungguh Allah. Dia menyadari kekuasaanNya ilahi: atas namaNya sendiri Ia mengerjakan mujizat-mujizat, atas namaNya sendiri Ia membangkitkan orang dari kematian dan mengampuni dosa.

Seorang Kristen percaya bahwa Kristus yang berwujud manusia itu sungguh-sungguh Allah juga tidak kurang dari Bapa dan Roh Kudus. Tetapi dia juga percaya bahwa Kristus yang berhakekat Allah itu, sungguh-sungguh manusia juga seperti orang-orang lain. Inilah suatu misteri yang tak pernah dapat kita tangkap sepenuhnya: kita menerimanya karena Allah sendiri mewahyukannya.

II. YESUS MENURUT PANDANGAN  ISLAM

a. Gambaran Al-Quran Al-Karim Tentang Al-Masih ‘Isa’ Bin Maryam

Pandangan al-Quran al-karim tentang Al-Masih ‘Isa’ bin Maryam harus dilihat dalam rangka ajaran buku suci Islam tentang para nabi dan rasul. Seringkali nama Al-Masih  disebutkan dalam rangka cerita-cerita tentang sejumlah nabi dan rasul lainnya. Secara umum dapat dikatakan bahwa maksud cerita-cerita itu ialah memberitahukan kepada para pendengar nabi bahwa sebelum kedatangannya Allah telah mengutus beberapa rasul yang pernah memanggil bangsa-bangsa mereka kepada pengakuan Allah yang Satu dan Esa sambil memperingatkan mereka akan kepercayaan mereka yang lama tentang adanya dewa-dewa yang berbeda-beda, hal mana disebut syirk atau polytheisme. Dalam cerita-cerita ini ditunjukkan kepada musibah dan kebinasaan beberapa bangsa yang menolak menerima peringatan yang disampaikan kepada mereka melalui utusan dari Allah itu. Dan kejahatan mereka tidak dilihat dalam sikap menolak rasul saja melainkan pula dalam ancaman mau membunuh dia. Sehingga musibah yang kemudian melanda mereka merupakan hukuman Allah.

Selain Musa disebut sebagai utusan Allah, dua utusan Allah yang memainkan peranan yang menonjol bila dibandingkan dengan peranan para utusan Allah yang lain, yaitu Ibrahim (Abraham) dan Isa (Yesus).

Peranan Isa dalam rangka pikiran al-Quran itu berlainan dengan peranan Ibrahim. Perselisian yang kemudian terjadi antara kaum Muslim dan Kristen bukan terutama bersifat politis seperti halnya dengan kaum Yahudi melainkan berdasarkan perbedaan dogmatis. Pokok perbedaan adalah pengertian dat (hakikat) Allah. Dalam usaha menyerang ajaran Kristen akan ketritunggalan Allah diserang. Tapi sebenarnya, apa yang diserang bukanlah dogma Kristen tentang ketritunggalan seperti yang diajarkan dalam gereja-gereja yang ada pada waktuitu melainkan suatu pengertian seolah-olah ketritunggalan itu merupakan tritheisme atau pengakuan adanya t.oiga dewa, yaitu Allah sendiri sebagai bapak, anaknya isa dan ibu anaknya, yaitu Maryam. Inilah ajaran menurut al-Quran, dikecam oleh al-Masih yang mengakui bahwa memang tidak pernah ia menyiarkan ajaran semacam itu.

Meskipun dengan demikian bukanlah ajaran Kristen yang resmi yang ditentang dalam al-Quran, namun harus dilihat bahwa memang pengertian dua golongan itu tentang dat Allahlah yang berbeda dan yang memisahkan yang satu dengan yang lain. Apabila agama Kristen pertama-tama merenungkan data atau hakikat Allah dalam rangka karya penyelamatanNya yang berpuncak dalam inkarnasi firman (menjadi manusia sendiri) dan penderitaan Yesus Kristus, maka bagi ajaran Islam yang ditekankan oleh Muhammad, pokok utama ialah membedakan secara mutlak diantara Allah dan segala ciptaanNya, termasuk manusia umumnya dan Isa atau Yesus khususnya.

b. Pemahaman Allah sebagai yang Tritunggal dan tentang hari Kiamat

Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa dalam nats al-Quran ajaran tentang ketritunggalan Allah diserang.

Kelompok Kristen waktu itu, apabila mereka berbicara tentang hakikat Allah, mereka memakai istilah usia dan bilamana mereka berbicara tentang hubungan Allah dengan dunia dan khususnya dengan manusia, mereka memahaminya sebagai penyataan melalui tiga hypostasis, yang disebut Bapak, anak (atau logos) dan Rohkudus.

Dalam buku Islam and Christian Theology menyebutkan bahwa pandangan Muhammad mengenai Kristologi dan ketritunggalan barangkali sama sekali tidak diambil dari sala satu aliran atau sekte tertentu, akan tetapi bahwa Muhammad mengemukakan pendapatnya sendiri mengenai ajaran Kristen itu.

Dapatlah untuk sementara kita menyimpan dalam ingatan kita kenyataan bahwa apa yang ditolak dan dikecam oleh Muhammad sebagai ajaran Kristologi dan ketritunggalan Allah bukanlah ajaran resmi gereja.

Pikiran Theologis Muhammad bertolak dari pengertian tentang Allah sebagai pencipta. Sebagai pencipta Allah berlainan secara mutlak dari segala ciptaan. Segala usaha dari pihak ciptaan untuk mengurangi ataupun menyeberangi jarak diantara khalik dan makhluk harus dianggap dan dinilai sebagai dosa besar yang sebenarnya sudah mengandung syirk, yaitu menempatkan sesuatu disamping Allah atau mempersekutukan sesuatu kepadaNya  supaya dapat dipuja seperti Allah.

Dalam al-Quran dikatakan, bahwa dalam percakapan dengan Allah. Yesus sendiri menolak sebutan ini. Hal itu merupakan salah satu dosa terbesar dalam Islam: memuja seseorang atau sesuatu ciptaan lain disamping Allah yang Benar dan Esa, ataupun memberikan kepadanya sifat keilahan. Perbuatan ini sama sekali tidak boleh terjadi dalam kehidupan iman orang percaya yang benar. Menurut al-Quran Kristus sendiri menolak sebutan tersebut, tentunya orang-orang Kristen yang hidup setelah Kristuslah yang “membuat” nya “Anak Allah” tanpa ada dasarnya dalam pengajaran Kristus sendiri. Dalam al-Quran adanya penolakan yang tegas terhadap kekudusan (keilahan) Kristus.  Ia dipandang sebagai manusia murni, yang diciptakan dalam rahim anak darah Maryam oleh Sabda Allah. Dengan demikian ia memang benar-benar makhluk, tidak boleh dibedakan atau ditinggikan di atas makhluk-makhluk yang lain. Ia diberi nama ‘abd Allah’, pelayan atau hamba Allah, dan inilah nama termulia pada setiap makhluk Allah. Inilah nama yang paling tepat diberikan kepada seorang manusia.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, umat islam menyangkal keilahan Kristus dengan memandang  Yesus sebagai manusia biasa. Pendapat tersebut menjurus pada pemutarbalikan fakta. Itu dilakukan hanya untuk mencari celah kotor dari umat Kristen. Termasuk dengan menyangkal keilahian Yesus.

Sama juga dengan pemahaman Islam tentang Hari Kiamat. Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al. A’raf 7:187). Jika demikian, maka hanya Allah sajalah yang mengetahui datangnya hari kiamat, tibanya hari perhitungan dan pembalasan. Hari ini datang secara tiba-tiba kepada kita. Tetapi meskipun demikian, hari itu mempunyai tanda-tanda yang akan diketahui oleh orang-orang yang hidup pada waktu dekat sebelum terjadinya hari tersebut. Dalam bahasa al-Quran, tanda-tanda itu dikenal dengan nama Asyarat al-sa’ah.

Nabi Muhammad bersabda: hari kiamat belum akan tiba sampai seseorang yang melewati kuburan berkata: “seandainya, aku yang menempati kuburan itu”. Maksudnya, karena saking banyaknya bencana sehingga orang lebih senang mati daripada hidup. Dalam hadis, nabi bersabda: hari kiamat belum akan tiba sampai datang dajal-dajal (antikris dalam pengertian Kristen) pendusta yang jumlahnya mendekati tiga puluh orang, yang masing-masing mengira bahwa itu adalah utusan Allah.

c.   Masalah Penyaliban Al-Masih dan “Nabi”

Al-Quran menyangkal bahwa Yesus disalibkan dan mati di kayu salib. Surat IV :157 kita membaca bahwa orang Yahudi tidak membunuh dan tidak menyalibkanNya, “tetapi diserupakan dengan mereka”. Salah satu pemahaman orang Islam tentang perkataan ini “tetapi diserupakan bagi mereka” (lakin syubbiha lahum) ialah bahwa seorang lain “diserupakan” dengan Yesus, sehingga orang Yahudi menjadi keliru dan menyalibkannya sebagai Yesus. “pengganti” ini yang sering ditunjuk Yudas Iskariot, yang dengan demikian menebuskan dosanya.

Orang Muslim mengatakan juga bahwa ada kalimat dalam Alkitab Kristen dimana Yesus katakan: “Eli-eli lama sabaktani yang artinya Tuhanku-Tuhanku kenapa engkau tinggalkan Aku….,” menurut mereka kalau dia Tuhan kenapa dia bersedih dan meratap ditinggalkan Tuhan. Orang muslim juga mengatakan bahwa Yesus bukan penebus dosa manusia.  Mereka menolak konsep dosa turun, dalam artian orang Islam sama sepertiorang Yahudi  tidak menerima adanya dosa asali ini. Bagi mereka, manusia menyatakan tauhid atau pengakuan akan keesaan Allah sebelum penciptaan yang sebenarnya, ketika manusia (Adam) masih ada dalam bayangan Allah. Jadi pengetahuan tentang tauhid adalah bagian tak terpisahkan dalam hakikat manusia (fitra) yang tidak boleh dikaburkan.

Pemahaman Islam tentang nabi dan kenabian dalam hal-hal tertentu bersama dengan faham Alkitab, sedangkan dalam hal-hal yang lain ia berbeda apabila orang Kristen mengatakan bahwa mereka bersedia memandang Muhammad sebagai seorang nabi, maka mereka melakukannya selaku orang Kristen, dengan pemahaman kristiani tentang kenabian, dan tanpa menerima segi-segi pemahaman Islam yang tidak dikenal dalam Alkitab. Orientasi mutlak Muhammad terhadap Allah di tengah-tengah orang yang menganut politeisme di Mekkah pada zaman jahiliyyah, serta usahanya yang terus menerus untuk meyakinkan orang-orangnya untuk menerima Allah sebagai satu-satunya penguasa dan orientasi (qibla) dalam kehidupan mereka benar-benar merupakan tugas kenabian.

Tentunya kita juga melihat perbedaan pokok antara Yesus dan Muhammad, sehingga dalam uraian ini, kami menunjuk pada perbedaan itu dan bukan pada persamaan. Al-Quran memasukan Yesus sebagai salah satu dari nabi-nabi, akan tetapi menurut Perjanjian Baru, ia lebih dari itu. Ia disebut “Sabda Allah” (atau firman Allah) dalam Perjanjian Baru.

Ada banyak persamaan antara nabi-nabi dalam Alkitab dan Muhammad pada awalnya tidak suka menerima panggilan menjadi nabi dan baru mau mengakuinya setelah bergumul dengan utusan Allah, yakni malaekat. Muhammad pun senantiasa menekankan bahwa ia tidak dating untuk membawa pengajaran baru melainkan pengajaran yang telah disampaikan oleh nabi-nabi sebelumnya: ia menekankan secara khusus, tradisi kenabian yang datang melalui Abraham, Musa, dan Yesus. Inti dari panggilan kenabian adalah proklamasi dari Hukum pertama: tiada ilah (dewa) selain Allah.

PENUTUP

Dari semua penjelasan yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa “Yesus” menurut pandangan Islam ialah ‘Isa’ putera dari Maryam, Dia adalah manusia biasa dan Dia bukan penebus dosa. Dalam hal ini Islam menyangkal Keilahian Kristus dengan memandang Yesus sebagai manusia biasa. Menurut mereka Yesus tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai Tuhan Allah. orang Muslim secara nyata telah berkali-kali menyerang kekristenan, namun semuanya gagal.

Sedangkan “Yesus” menurut Katolik adalah Sang Penyelamat yang datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Yesus memberikan diriNya dipaku di salib demi kita manusia. Ia adalah Putera Allah yang kudus.

Orang yang tidak mengerti dengan Alkitab akan menafsirkan kata: “eli..eli lama sabaktani artinya:  AllahKu..AllahKu mengapa Engkau tinggalkan Aku” sebagai sebuah kata biasa. Kepada orang yang berpendapat bahwa kata itu menunjuk pada arti kemanusiawian Yesus adalah salah besar. Sesungguhnya ada arti yang besar yang banyak orang tidak tahu. Yesus menunjukkan keilahianNya dengan cara seperti itu, karena Ia mau membuktikan bahwa Ia seorang Tuhan. Seorang Tuhan yang setia dan penuh kerendahan.

Jadi selama perjalanan menuju penyaliban dan kematian Yesus, Allah telah menjalankan rencanaNya akan penebusan manusia atas dosa dan cengkraman kuasa iblis. Tuhan Allah Mahakuasa rela melepas keagunganNya untuk datang ke dunia menebus dosa orang-orang yang dikasihiNya. Dialah Yesus Kristus Juruselamat yang adalah 100% manusia dan 100% Tuhan. Yesus disebut manusia karena Ia bisa mati dan Ia adalah Allah karena Ia bisa membuktikan bahwa Ia hidup dan bangkit dari kematian.

Sebuah Iman sudah cukup meyakinkan kami orang Katolik bahwa Yesus adalah Tuhan. Karena keimanan adalah faktor yang paling penting dalam menalari keilahian Yesus.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: