PERAN TOKOH AGAMA DALAM MENGANTISIPASI DAN PENANGANAN KONFLIK DI MALUKU

Pastor Agus

PERAN TOKOH AGAMA

DALAM MENGANTISIPASI DAN PENANGANAN KONFLIK

DI MALUKU

Sebuah sharing pengalaman

Oleh : Pastor Agus Ulahaiayan, Pr.

  1. 1. Jenis-jenis konflik :

  1. Menurut skala/tensi dan pola      :           –     perkelahian,

-          kerusuhan,

-          peperangan,

  1. Menurut jangka waktu                 :           –     pendek,

-          panjang,

  1. Menurut motif/sebab/tujuan       :           –     kenakalan biasa,

-          luapan emosi massa secara spontan,

-          “sara” (suku, agama, ras),

-          sosial ekonomi,

-          politik, dll.

  1. 2. Empat tahap dalam penanganan  konflik :
    1. Penghentian konflik;
    2. Perdamaian atau rekonsiliasi;
    3. Pemulihan atau “recovery”;
    4. Pelestarian kerukunan dan pencegahan konflik.
    5. 3. Langkah-langkah dan tindakan pencegahan dan penanganan konflik :
      1. Pengkajian, terutama oleh pelaku perdamaian (pemuka agama) dengan melibatkan pelbagai pihak terkait (pemerintah, aparat hukum dan keamanan, pencinta damai, masyarakat umum, termasuk pihak-pihak yang terlibat dalam konflik);
      2. Pendekatan :        –      personal maupun fungsional (otoritas/wibawa pimpinan dan

lembaga),

-             persuasive maupun repressive (keamanan dan hukum),

-             dialogis (komunikatif, informatif dan transparant),

-             transformative;

  1. Pertemuan untuk penyelesaian masalah secara dialogis;
  2. Penyelarasan dengan mengutamakan kesamaan;
  3. Penyatuan dengan tetap menghargai dan menjamin perbedaan/kekhasan;
  4. Pemulihan keadaan dan Pembaharuan untuk hidup bersama yang lebih baik.
  5. 4. Medium / Cara :
    1. Pendidikan secara teroritis maupun praktis       :

-     pengajaran untuk pengetahuan,

-          pelatihan untuk ketrampilan,

-          pembinaan untuk kepribadian;

  1. Perayaan, ritual dan ceremonial, keagamaan dan sosial;
  2. Pengamalan dalam hidup;
  3. d. Keteladanan.

  1. 5. Beberapa upaya pencegahan dan solusi konflik    :
    1. Pembinaan terpisah maupun terpadu secara berkelanjutan;
    2. Mengembangkan informasi dan komunikasi yang baik dan berdaya-guna secara intens dan berkelanjutan, secara personal maupun fungsional;
    3. Meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan sejati sebagai penjabaran serentak landasan dan penopang bagi nilai-nilai keagamaan dan keimanan;
    4. Mengembangkan “budaya dialog persaudaraan yang sejati”;
    5. Membangun hidup bersama yang “sehat”;
    6. Membangun keterbukaan, kejujuran dan kepercayaan yang tulus dan kokoh;
    7. Mengembangkan kerja sama yang baik (meluas dan berimbang);
    8. Mengatasi potensi konflik            :                      

-                 menyelesaikan masalah sosial / antar kelompok;

-     menggalang kesadaran dan penegakan hukum, HAM, keadilan dan kebenaran;

-     menggalang penuntasan kebodohan, kemiskinan dan pengangguran serta aneka “penyakit social”.

  1. 6. Prinsip :
    1. Ada Kesamaan hakiki        :

-     Martabat dan hak asasi manusia (unsur-unsur dan nilai-nilai kemanusiaan yang

Universal atau yang berlaku umum;

-     Kebutuhan hakiki sebagai manusia :  hidup yang layak sebagai manusia dengan

tenteram dan damai sejahtera lahir batin;

-     Inti agama: keharmonisan dan intimitas hubungan/relasi (cinta) vertikal dalam

yang horizontal, kedamaian, kesejahteraan, cinta, keselamatan dan kebahagiaan;

  1. Perlu Kesetaraan, keadilan dan kebenaran;
  2. Ada mutuality (timbal-balik) :

-          saling membutuhkan dan saling melengkapi atau ada ketergantungan satu sama lain;

-          saling terbuka, jujur, percaya, memahami, menghargai, menerima, menunjang;

  1. Hidup bersama secara harmonis, rukun dan damai serta kerjasama untuk saling menguntungkan merupakan kebutuhan hakiki manusia yang mutlak perlu;
  2. Setiap orang perlu melihat dirinya dan berperan sebagai subyek serta melihat dan memperlakukan pihak lain (individu maupun kelompok) sebagai subyek.
  1. 7. Peran Tokoh Agama : “Mediator Perdamaian” (“Peace – Maker”)
    1. Punya keprihatinan yang tulus dan mendalam atas situasi yang ada;
    2. Memiliki kesadaran dan rasa tanggungjawab yang tinggi, turut mengambil tanggungjawab, walaupun bukan merupakan penyebab/sumber konflik);
    3. Informan : mencari dan menyalurkan informasi secara cepat, tepat, jelas, “lengkap”, terpercaya, tak berpihak, dan obyektif;
    4. Komunikator : “mewartakan” dan mengupayakan kesadaran dan penegakan nilai-nlai kemanusiaan, martabat dan hak asasi manusia, tata tertib atau aturan hidup bersama (hukum) serta keutamaan-keutamaan seperti keadilan, kebenaran, kejujuran dan cinta kasih.
    5. Stabilisator / harmonisator : menjadi penyelaras, pengimbang, penyejuk, dengan tetap menjaga “netralitas”, memperjuangkan kebaikan umum untuk semua pihak;
    6. Motivator / inspirator : memberi pencerahan, jalan, semangat dan penguatan bagi semua pihak untuk tetap berjuang demi perdamaian dan kebaikan umum;
    7. Fasilitator / moderator : memfasilitasi dan mengawal pelbagai aktivitas untuk perdamaian dan kebaikan umum;
    8. Transformator : memprakarsai perubahan, pemulihan, perbaikan dan peningkatan dengan memberi koreksi atas kesalahan atau keburukan serta pengukuhan atau peneguhan atas kebaikan dan kebenaran. Terutama berusaha menjadi contoh bagi atau sebagai pembawa (“agen”) perdamaian dan pembaharuan atau perubahan serta persatuan dan kesatuan, dengan tetap berpegang pada keyakinan bahwa Allah-lah Pelaku Utama.

Ambon, 19 Desember 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: