Renungan Bulan Januari-Mei

JANUARI

Lihat juga seperlunya: Masa Natal  –  hlm. 15

  1. SANTO YOHANES BOSKO (31 Januari)

Sebelum Bacaan Dalam renungan nanti akan kami perkenalkan seorang kudus bernama Santo Yohanes Bosko.  Dia  menjadi terkenal karena karyanya untuk anak-anak ge-

landangan di kota Torino, negeri Italia. Terlebih dahulu, marilah kita mendengar suatu bagian dari Injil, di mana Yesus disoraki oleh anak-anak. Dan Yesus tahu menghargakan itu!

Bacaan Matius 21:12-17     Yesus menyucikan Bait Allah

Renungan Seperti dikatakan tadi, pembicaraan kami akan berkisar pada seorang kudus yang mungkin tidak terlalu asing bagi kita,  bila  melihat banyaknya sekolah-

sekolah yang memakai namanya, yaitu Santo Yohanes Bosko, atau – seperti biasanya ia disebut – Don Bosko.

Yohanes Bosko lahir di negeri Italia pada tahum 1815, jadi sudah kurang-lebih dua abad lalu. Ketika berusia dua tahun, ayahnya meninggal. Tinggal hanya ibunya, yang dengan bekerja keras harus menjamin nafkah untuk diri sendiri dan anak-anaknya. Adapun Yohanes itu berkembang dan menunjukkan diri sebagai seorang anak yang baik dan yang tahu bertanggung jawab.

Pada suatu malam ia bermimpi. Dalam mimpi itu ia dihadapi dengan segerombolan anak-anak yang sedang berkelahi dan baku pukul sambil berteriak-teriak dan mengeluarkan kata-kata yang kasar. Bosko mau mengamankan mereka, dan ia sudah siap untuk menampari dan memukul anak-anak yang semuanya lebih kecil daripada dia sendiri. Tetapi tiba-tiba tampak di hadapannya seorang wanita penuh keajaiban berpakaian putih kemilauan, yang berkata kepadanya: “Jika engkau bermaksud mengamankan mereka, maka haruslah engkau bersikap lemah lembut; jangan memakai kekerasan. Angkatlah tongkat gembalamu dan antarlah mereka ke padang rumput yang hijau”.

Mimpi itu diceritakannya kepada ibunya. Maka ibunya melihat di situ suatu tanda dari surga. Dan berkatalah dia kepada anaknya: “Engkau tahu siapa Nyonya dalam mimpimu itu? Berbahagialah engkau, anakku, engkau telah mendapat penampakan Bunda Maria. Mungkin Tuhan menghendaki supaya engkau menjadi seorang imam, khususnya seorang imam-gembala bagi anak-anak seperti yang kaulihat dalam mimpi itu”.

Maka Bosko mulai belajar menjadi imam. Dengan setengah mati ia sendiri bersama dengan ibunya berusaha mencari duit untuk mengongkosi setudinya. Untunglah ia membuktikan diri se-orang siswa yang cerdas, yang belajar dengan mudah.

Sebelum ditahbiskan imam, ia sudah banyak bergerak di tengah-tengah anak-anak miskin dan gelandangan. Dan setelah ditahbiskan, ia diizinkan untuk melanjutkan karyanya itu sebagai tugas purna waktu. Seorang pastor waktu itu di Italia biasa diberi gelar “Don”, berarti “tuan”. Maka namanya selanjutnya menjadi “Don Bosko”.

Kepribadian Don Bosko sangat memikat hati anak-anak muda. Apalagi ia memiliki keterampilan khusus dalam hal main komedi: ia pun seorang pelawak yang hebat. Dan dengan jalan itu ia menarik banyak anak. Prinsip hidupnya menjadi: “Buatlah lucu-lucu sekehendak hatimu, asal jangan melakukan dosa”.

Pernah pada suatu waktu ia mengantar sekelompok anak muda ke sebuah gereja di kota, di mana mau diadakan pelajaran agama. Kebetulan di luar gereja ada seorang akrobat sedang menunjukkan keahliannya. Ada banyak penonton. Dan anak-anak, yang sebetulnya harus masuk gereja, berdiri turut menonton akrobat itu, dan tidak mau masuk gereja. Tetapi Don Bosko mendapat akal. Ia mendekati si akrobat itu, dan bertaruh dengannya siapa kiranya di antara mereka berdua yang lebih lincah dan terampil dalam hal melawak. Dan ternyata, bila menilai menurut tepuk-tangan dan sorakan para penonton, Don Boskolah yang menang. Dan sambil disoraki oleh anak-anak buahnya, ia mengantar mereka masuk gereja intuk ikut pelajaran agama!

Karyanya berkembang dengan baik. Ia membuka asrama-asrama dan sekolah-sekolah bagi anak-anak gelandangan. Dengan rupa-rupa cara ia mengemis uang untuk membiayai semua kegiatan itu.

Ia pun mendirikan dua buah Tarekat, yakni Kongregasi Serikat Salesian dan Kongregasi Putri-Putri Maria Penolong Umat Kristen. Salah seorang anak didiknya adalah Dominikus Savio, yang kemudian menjadi Santo Dominikus Savio.

Semuanya itu dicapainya karena ia seorang yang lurus hati, yang prihatin akan apa yang sungguh menjadi kebutuhan dan harapan anak-anak didiknya. Tidak pernah ia berlaku kasar terhadap mereka, karena selalu teringat akan nasehat Sang Wanita dari mimpinya dulu, yang berkata kepadanya: “Haruslah engkau bersikap lemah lembut, jangan pakai kekerasan. Angkatlah tongkat gembalamu dan antarlah mereka ke padang rumput yang hijau”.

  1. YANG BUTA MELIHAT

Bacaan Kejadian 3:1-7     Manusia jatuh ke dalam dosa

Renungan Setan menawarkan kepada Hawa:

“Mari makan, dan MATAMU AKAN TERBUKA”.

Kemudian, setelah Adam dan Hawa makan buah terlarang itu, maka memang – seperti tadi kita dengar – terbukalah mata mereka berdua. Mereka melihat bahwa mereka telanjang; berarti: bahwa mereka tidak berarti apa-apa, bahwa mereka hampa dan miskin di hadapan Allah. Mereka melihat kedosaan mereka. Tetapi mereka sekaligus juga menjadi buta. Buta terhadap Allah, tidak lagi boleh mengenal, tidak lagi boleh melihat Dia, tidak lagi boleh bergaul dengan Dia seperti sebelumnya.

Kristus datang untuk menghalau kebutaan itu. Kristus datang sebagai TERANG DUNIA. Setiap manusia pada suatu saat diberi kemungkinan untuk membuka mata dan melihat Terang itu. Bilamana saatnya dan bagaimana caranya Allah akan membuka mata orang? Barangkali untuk setiap orang pada saat dan dengan cara yang berbeda. Lihat saja caranya Yesus menyembuhkan orang-orang buta: rupanya semuanya dengan cara yang berbeda. Mari kita selidiki:

  • Penginjil Markus dalam bab 10 memberitahukan tentang seorang pengemis buta bernama Bartimeus. Dia itu minta kepada Yesus: “Rabi, semoga saya melihat!” Maka Yesus menyembuhkan dia dengan hanya berkata: “Engkau boleh pergi; imanmu telah menyelamatkan engkau”. Dan langsung Bartimeus dapat melihat.
  • Dalam bab 8, Markus memberitahukan tentang seorang buta lain, yang disembuhkan dengan cara berikut. Yesus meletakkan tangan-Nya pada mata orang itu. Segera setelah mengangkat kembali tangan-Nya Yesus bertanya: “Apakah engkau sudah dapat melihat apa-apa?” Jawab orang itu: “Saya melihat orang, tetapi kelihatannya seperti pohon-pohon”. Maka satu kali lagi Yesus menudungi mata orang itu dengan tangan-Nya, baru ia dapat melihat dengan jelas.
  • Dalam Injil Yohanes bab 9 kita mendengar tentang seorang pengemis buta. Yesus menaruh sedikit lumpur pada mata orang itu, lalu menyuruh dia pergi mencuci muka. Dan setelah mencuci muka, maka dia pun dapat melihat.

Tiga orang buta yang disembuhkan, masing-masing dengan cara yang berbeda. Demikian bagi kita masing-masing Allah ada caranya sendiri untuk menyembuhkan kebutaan kita. Dan setelah Allah membuka mata kita, yaitu mata IMAN, maka kita akan melihat dengan terang, melihat Dia yang disebut TERANG DUNIA, Yesus, tumpuan harapan kita.

  1. ASAL USUL KITA

Bacaan Kejadian 12:1-9     Abram dipanggil Tuhan

Renunang Tiap anak pada suatu ketika bertanya kepada orang-tuanya: “Bapa-Mama dapat saya dari mana?”  Memang, tiap orang ingin mengetahui asal-usulnya.

Demikian pula wajarlah sebagai umat Kristen kita bertanya: “Kita, sebagai umat Kristen, dari mana asal kita?”  Baiklah kita coba menjawab pertanyaan itu.

Terjadilah kurang-lebih 1800 tahun sebelum Kristus lahir; jadi, terhitung dari sekarang, hampir 4000 tahun lalu. Bacaan Kitab Suci, dari Kitab Kejadian, bab 12, yang tadi kita dengar, menceritakan kepada kita tentang seorang yang sudah lanjut umurnya, namanya Abram. Asal usulnya dari Ur, ialah sebuah kota yang terletak di sebuah negeri yang sekarang bernama Irak. Abram mendengar suatu suara ajaib yang mengatakan kepadanya: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini, ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan Aku akan memberkati engkau dan membuat namamu masyhur… Olehmu semua orang di muka bumi akan mendapat berkat”.

Tanah itu ternyata negeri Kanaan, yang sekarang disebut Israel.

Abram – yang kemudian diubahkan namanya menjadi AbrAHam – menuruti suara yang ia dengar itu. Ia pasrah sepenuhnya kepada Allah. Ia pun dipilih Allah sebagai orang beriman yang pertama. Keturunan Abraham secara jasmani adalah bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa Arab. Tetapi keturunannya secara rohani – selain orang Yahudi – adalah semua orang Kristen, dan – melalui suatu jalur lain – semua orang Islam. Maka tidak heran kita menyebut dia “Bapa segala orang beriman”. Janji Allah diteruskan melalui anaknya bernama Ishak dan cucunya bernama Yakub. Yakub itu mendapat dua belas anak laki-laki. Satu di antara mereka bernama Yehuda. Yehuda itu menjadi moyang bagi Yesus Kristus.

Jadi ke-imanan kita mendapat asal-usulnya dari Abraham. Kitalah keturunannya bukan menurut keturunan jasmani, melainkan menurut roh dan jiwanya. Bagi kita pun iman itu menjadi tonggak kehidupan kita.

Seperti Abraham, kita pun – demi iman – harus meninggalkan ba-nyak kesenangan duniawi.

Seperti Abraham, kita pun – dengan perkataan dan teladan hidup – dapat menghasilkan keturunan besar; bersama mereka kita dipanggil untuk mewarisi Kerajaan Allah.

Seperti Abraham, hidup kita sebagai orang beriman yang sejati pun akan mendatangkan berkat Allah ke atas dunia ini.

Tetapi kita pun mengerti: tidak bergunalah bahwa moyang kita adalah Abraham jika kita tidak memupuk iman dan karya nyata dalam hidup kita seperti Abraham.

  1. JANGAN  TAKUT

Bacaan Lukas 12:22-34     Hal kekhawatiran

Renungan Betapa sering sudah saya dengar seorang ibu berkata kepada anaknya: “Awas! Nanti Tuhan Yesus marah!” Dan betapa saya tidak setuju dengan an-

caman itu! Sebab sambil membaca Injil, kita justru sebaliknya melihat usaha Yesus untuk mencabut segala ketakutan dari dalam hati manusia.

Memang manusia sering takut: takut naik sampan (kole-kole), takut naik pesawat terbang; takut menerima suatu tugas penuh tanggung jawab; takut gelap, takut hantu dan guna-guna, takut mati – dan begitu banyak hal lain yang ditakuti!

Tetapi apa yang kita dengar sejak Yesus lahir? Kita mendengar Malaikat di padang Betlehem dengan seruannya:

“Jangan takut, sebab sesungguhnya

aku memberitakan kepadamu

kesukaan besar untuk seluruh bangsa”.

Kelahiran Yesus adalah suatu KESUKAAN, dan bukan suatu peristiwa yang menakutkan!

Tadi dalam bacaan kita mendengar perkataan Yesus ini:

“Jangan khawatir akan hidupmu”.

Dan lebih lanjut:

“Jangan takut, hai kamu, kawanan kecil!”

Rasul-rasul juga perlahan-lahan baru dapat mengatasi rasa takut mereka. Misalnya reaksi pertama Petrus sesudah penangkapan ikan ajaib ialah bahwa ia menjadi takut dan berkata: “Tuhan, jauhkanlah diri-Mu daripadaku, sebab aku seorang berdosa”.

Pada suatu kesempatan Yesus berjalan di atas air menuju murid-murid yang berada di dalam perahu. Betapa takut mereka waktu itu, sebab mereka mengira itulah hantu! Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Ini Aku, jangan takut!”

Betapa sering terjadilah kita diombang-ambingkan, kita cemas, susah hati, khawatir dan takut. Yesus mengajar kita mengatasi segala kecemasan dan ketakutan itu. Misalnya sekarang, serta menghadapi suatu tahun yang baru, mari jangan kita khawatir, melainkan mempercayakan diri kita kepada Tuhan. Seperti Tuhan selalu dekat pada murid-murid-Nya, demikian pula Ia menyertai kita.

Akhirnya saya mau membaca tiga teks dari Injil, di mana Yesus mengajak kita untuk membuang jauh-jauh segala ketakutan, dan dengan penuh kepercayaan menyerahkan diri kita ke dalam ta-ngan Allah, Pemelihara kita.

  • Yang pertama dari Injil Lukas 12:6-7 di mana Yesus berkata:

“Lima ekor burung pipit dijual seharga dua duit. Meskipun begitu, tidak seekor pun dilupakan Allah. Rambut di kepalamu pun sudah dihitung semuanya. Sebab itu: janganlah takut; kalian jauh lebih berharga daripada burung-burung pipit”.

  • Teks yang kedua kita dapatkan dalam Injil Yohanes 14:27. Yesus berkata:

“Damai Kutinggalkan bagimu; damai-Ku sendirilah yang Kuberikan kepadamu. Yang Ku-berikan itu bukan seperti yang diberikan dunia kepadamu. Jangan gelisah, jangan takut”.

  • Dan akhirnya suatu teks dari Injil Matius, yaitu ketika Petrus coba berjalan di atas permukaan air, lalu menjadi takut. Waktu itu, menurut Injil Matius 14:31, Yesus berkata kepada Petrus:

“Petrus, kau ini kurang percaya. Mengapa engkau takut!”

  1. TUBUHKU

Bacaan Mazmur 139:1-14    Doa di hadapan Allah yang Mahatahu

Renungan Santo Ignasius dari Loyola pernah berkata bahwa dengan sikap  badan  mana  pun,   kita dapat  berdoa.   Namun, apa

yang mungkin berlaku untuk Santo Ignasius, belum pasti berlaku untuk kita sekalian! Sebab menjadi pengalaman, bahwa untuk berdoa dengan baik, kita sangat tertolong dengan sikap badan yang tepat. Malah sikap itu sendiri bisa merupakan suatu doa, sebab manusia selengkapnya adalah badan dan jiwa. Dan Santo Paulus berkata: “Hormatilah Tuhan dengan tubuhmu”. Jadi alangkah baiklah kita sewaktu-waktu memperhatikan sikap badan kita pada saat doa.

  • Sebaiknya kita duduk dengan punggung lurus – jangan sandar, jangan juga membuat punggung jadi serupa dengan setengah lingkaran (Berilah kesempatan kepada para hadirin untuk mencocokkan sikap).
  • Sadarilah seluruh tubuh dan setiap bagiannya, mulai dari ujung jari kaki… tumit… betis… lutut… paha… perut… punggung… leher… tangan… dan terutama paru-paru: bernafaslah de-ngan perlahan-lahan dan dengan mendalam (Buatlah!)…. Tarik nafas… dan rasailah betapa kita jadi penuh… Lalu biarkan nafas itu meninggalkan tubuh; betapa kita jadi kosong, dan langsung kita rindu menjadi penuh kembali. Mari kita bernafas beberapa kali dengan sadar dan mendalam… (Buatlah!).
  • Rasailah juga denyutan jantung – motor yang ajaib itu, yang bekerja tak henti-hentinya, terus-menerus sampai saat ajal kita…
  • Dan akhirnya kepala…, yang dapat bergerak ke kiri ke kanan, yang dapat diangkat dan ditundukkan (buatlah!). Kita pun dapat memilih antara menutup mata atau membuka mata: antara gelap dan terang, dalam sekejap mata… Dengan mata dan dengan mulut dan dengan telinga saya bisa berkontak dengan alam sekitar…

Demikianlah – sambil menyadari semuanya itu – kita bukan hanya berdoa, melainkan kita sendiri, dengan tubuh dan jiwa MENJADI suatu doa. Semoga seringkali dalam keadaan yang demikian, kita hadir sejenak di hadapan Allah, Pencipta kita.

  1. PELAKU FIRMAN

Bacaan Yakobus 1:19-25     Pendengar atau pelaku Firman

Renungan Pernah ada seorang pengering binatang menangkap seekor burung yang sa-ngat bagus.   Waktu  ia mengangkat pisaunya  hendak membunuh burung itu,

burung itu mulai berbicara. Kata burung itu: “Aku mohon, biarkan aku hidup. Aku mempunyai anak-anak kecil yang harus kupiara. Sebagai ganti, aku akan memberi kepadamu tiga nasehat, yang walaupun sederhana, akan amat berguna”.

Orang itu heran sekali mendengar burung itu berbicara dengan bahasa manusia, dan ia berjanji akan membiarkannya pergi jika nasehat yang mau diberikannya itu, memang baik. Maka beginilah nasehat yang diberikan burung itu:

  • Pertama: jangan pernah percayai hal-hal yang bodoh; tak perduli siapa pun yang mengatakannya.
  • Kedua: jangan pernah menyesali suatu hal yang baik yang telah anda lakukan.
  • Ketiga: jangan pernah mencoba meraih sesuatu yang tak dapat dicapai .

Orang itu melihat kebijaksanaan nasehat-nasehat itu, maka ia melepaskan burung dan membiarkannya pergi. Burung itu lalu terbang ke pohon yang terdekat dan dari sana ia berseru: “Anda bodoh sekali membiarkan aku pergi. Sebab terdapat sebuah batu permata yang sangat berharga di dalam perutku. Kalau tadi engkau membunuh aku dan membuka perutku, maka untuk seumur hidupmu engkau akan kaya!”

Mendengar itu, maka orang tadi sangat menyesal bahwa ia sudah melepaskan burung itu, dan langsung ia mulai memanjat pohon itu, supaya burung itu dapat ia tangkap kembali. Tetapi burung itu naik ke dahan yang lebih tinggi. Orang itu pun naik makin tinggi, sampai pada suatu saat ia kehilangan pegangan kaki, lalu jatuh dari pohon, dan patahlah kedua kakinya. Maka burung itu datang kembali mendekat dan mengatakan kepadanya: “Engkau telah mendengar tiga nasehat yang telah kuberikan, dan engkau sendiri telah mengakui bahwa itulah nasehat-nasehat yang baik. Maka aku bertanya: mengapa engkau tidak MELAKSANAKAN ketiga nasehat itu!

  • Pertama: aku telah mengatakan kepadamu: jangan mempercayai sesuatu yang bodoh, tak perduli siapa pun yang mengatakannya. Bagaimana sampai engkau percaya bahwa seekor burung membawa sebuah permata dalam perutnya!
  • Kedua: tadi aku mengatakan kepadamu: jangan menyesali suatu perbuatan yang baik yang telah kaulakukan. Mengapa engkau menyesal telah membebaskan aku!
  • Dan nasehatku yang ketiga tadi ialah: jangan coba meraih sesuatu yang tidak dapat dicapai. Mengejar aku sambil memanjat pohon tak mungkin akan berhasil!”

Demikianlah cerita tentang seorang yang mengagumi kebijaksanaan nasehat-nasehat tertentu, namun lupa mempraktekkannya juga.

Kita menerima Kitab Suci sebagai Sabda Allah. Betapa penting kita tidak hanya mendengarkannya dan mengakuinya, melainkan juga MELAKSANAKANNYA!

  1. PENGENALAN AKAN ALLAH

Bacaan Roma 11:33-36    O, alangkah dalamnya…

Renungan Bila seorang ditugaskan membawa suatu khotbah atau suatu renungan, ia menghadapi suatu tugas  yang tidak mudah.  Ia  harus  menyampaikan  sabda

Allah, ia harus mengantar para hadirin sampai pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Putra-Nya. Jika sudah sukar untuk mengenal seorang manusia, betapa lebih sukar lagi mengenal Allah! Santo Paulus mengungkapkannya dengan kata-kata ini:

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!”

Kita meraba-raba; saya pun meraba-raba. Ada orang kudus yang mendapat suatu wahyu istimewa dari Allah. Mereka seakan-akan boleh mendekati Allah sedikit-sedikit. Salah seorang yang mendapat pengalaman itu ialah Santo Paulus. Ia kemudian memberitahukan itu kepada orang-orang di Korintus. Beginilah beritanya:

“Saya mengenal seorang Kristen [yakni Paulus sendiri],

yang empat belas tahun lalu diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga

(Saya tidak tahu apakah badannya benar-benar terangkat

atau itu hanya suatu penglihatan hanya Allah yang tahu).

Saya ulangi sekali lagi: saya tahu bahwa orang ini diangkat ke Firdaus.

Di sana orang itu mendengarkan hal-hal

yang tidak dapat diungkapkan oleh manusia

dan tidak juga diizinkan kepada manusia untuk mengungkapkannya”.

Demikianlah pernyataan Santo Paulus. Apa saja yang kita katakan tentang Tuhan, adalah pincang, karena kebenaran yang sepenuhnya tentang Allah tak mungkin kita pahami dan ungkapkan. Pandangan kita terbatas. Seperti seekor sapi yang dunianya terbatas pada padang di mana ia makan rumput. Atau seekor semut yang hanya mengenal dinding tempat ia turun-naik.

Dalam buku karangan Pater A. de Mello SJ berjudul “Burung Berkicau” ditampilkan seorang Guru yang luhur, yang berkata kepada murid-muridnya:

“Tuhan adalah Yang-Tak-Dikenal,

bahkan yang tidak DAPAT dikenal.

Setiap pernyataan tentang Dia,

seperti pula setiap jawaban terhadap pertanyaanmu,

hanyalah mengacaukan Kebenaran”.

Para murid bingung. Mereka bertanya:

“Lalu mengapa Bapak masih berbicara tentang Dia?”

Jawab sang Guru:

“MENGAPA BURUNG BERKICAU!”

Demikianlah jawaban singkat dari Guru itu. Burung berkicau bukan karena ia ingin menyatakan sesuatu. Ia berkicau karena ia ingin berkicau! Kata-kata orang cendekiawan harus dapat dipahami, tetapi kata-kata sang Guru bukan untuk dipahami, melainkan untuk didengarkan seperti orang mendengarkan desir angin di pohon, gemercik air di sungai dan kicauan burung di pohon. Semua ini akan membangkitkan rasa dalam hati yang melampaui segala pemahaman.

  1. MENUJU KE TUJUAN

Bacaan Lukas 13:22-30     Siapa yang diselamatkan

Renungan Dari segala jurusan, Allah mengumpulkan orang untuk menikmati perjamuan yang disediakan-Nya.

Bayangkan pada suatu waktu saya sampai di sebuah kota besar. Baru pertama kali saya di situ. Saya berdiri di pinggir kota, dan mau ke pusat kota. Ada bis kota berhenti di tempat saya berdiri itu. Saya naik dan duduk. Tetapi sebetulnya saya tidak tahu apakah bis ini menuju ke pusat kota. Maka saya bertanya kepada seorang ibu yang duduk di samping saya. Saya berkata: “Ibu, apakah bis ini ke pusat kota?” Ibu itu menjawab: “Saya tidak tahu; saya orang baru di sini”.

Lalu saya bertanya kepada orang di muka dan di belakang. Semua tidak tahu. Akhirnya saya bertanya kepada kenek: “Mas, bis ini ke mana sebenarnya!” Dia menjawab: “Maaf, Pak, saya baru pertama kali bertugas di lin ini. Saya tidak tahu kita ke mana. Tetapi tenang saja. Nanti kita lihat”.

Mau tanya kepada sopir: tidak bisa, karena ia duduk terpisah dari kita… ANEH YA?

Apakah dengan memeluk Agama kristen-katolik, kita dalam keadaan seperti itu? Kita semua baru pertama kali naik bis kehidupan ini. Bahkan Bapak Paus sendiri (si kenek!) belum pernah tempuh jalan kehidupan sampai ke ujungnya. Sopir kita adalah Tuhan Yesus. Tetapi Dia seakan-akan terpisah dari kita…

Apakah kita berani PERCAYA? Kita mengikuti jalan yang pernah ditempuh oleh Habel, oleh Abraham dan para Nabi, oleh raja Daud, oleh Bunda Maria dan para rasul, para orang kudus sepanjang sejarah. Mereka naik bis yang sama, mendahului kita. Ya! Kita berani percaya bahwa mereka sampai ke tujuannya.

Bahkan kita pun tidak ragu-ragu, pada memperhatikan bahwa dari jurusan-jurusan lain juga ada bis-bis yang menuju ke kota: yang kristen-protestan, yang beragama islam: mereka pun ke pusat kota. Kita akan bertemu dengan mereka di dalam pemenuhan Kerajaan Allah.

Maka, jangan kita bingung; jangan kita mau lompat turun dari mobil itu. Jangan merosot dalam iman, dalam kegiatan rohani, dalam perilaku sebagai seorang kristen. Sopir kita adalah Yesus Kristus. Ia akan menghindarkan kita dari kecelakaan dan membawa kita ke Tujuan segala tujuan, sampai diterima dalam pelukan cinta kasih Allah sendiri.

  1. BERISTIRAHAT SEJENAK

Bacaan Mazmur 131    Menyerah kepada Tuhan

Renungan Pada saat doa seperti sekarang ini, sangat perlu untuk menjadi tenang dalam batin. Mungkin ada di antara kita, yang sungguh mengalami sedikit kehadir-an Allah.

Kalau kita mengatakan: “Aku percaya akan Allah”, maka kita buat tidak lain: mempercayakan diri kepada Allah. Di antara segala yang manusia kejar dan pentingkan: apa yang lebih penting daripada Allah! Allah sudah mengenal saya sebelum saya lahir. Sebelum segala abad, saya sudah hadir dalam pikiran Allah, sampai Ia memutuskan bahwa saatnya telah tiba untuk saya dilepaskan-Nya agar hidup sejenak di bumi ini.

Dan sekarang saya tengah menempuh perjalanan hidup itu. Tetapi selalu saya akan seolah-olah menoleh ke belakang, kepada Allah Penciptaku. Allah dari segi ini dapat kita bandingkan dengan seorang ayah, atau boleh kita katakan juga: seorang ibu, yang melepaskan anaknya yang masih kecil untuk membuat beberapa langkah sendirian. Ayah atau ibu itu akan dengan cepat berjalan beberapa langkah duluan, sehingga beberapa meter lebih jauh, sudah siap lagi menyambut anaknya di tangannya.

Demikian pula Allah, yang telah melepaskan saya untuk menempuh hidupku di dunia ini; Ia sudah siap pula untuk menyambut saya pada akhir perjalanan hidup itu. Malah kalau di tengah jalan saya jatuh, Ia mengulurkan tangan-Nya, membantu saya untuk berdiri kembali.

Memang Allah tidak lupa akan kita. Seluruh dunia ada di tangan-Nya, apalagi kita yang amat disayangi-Nya.

Marilah pada saat ibadat ini kita beristirahat dan hening sejenak di tempat kelahiran kita, ialah dalam Hati Tuhan Allah kita ( - hening - ).

10.  PERLENGKAPAN SENJATA

Bacaan Efesus 6:10-20      Perlengkapan Rohani

Renungan Pada tahun 58 sesudah Masehi, Paulus ditangkap. Empat tahun kemudian ia masih di dalam penjara, yaitu di kota Roma.  Waktu  itu  ia  tetap  dijaga oleh

seorang prajurit, yang bersama dengan Paulus dalam satu bilik. Tiap-tiap malam Paulus melihat tentara itu menanggalkan pakaiannya sebelum tidur:

  • ia meletakkan pedang dan perisai di sebuah sudut ruangan itu;
  • lalu ia memuka topi baja;
  • kemudian ia menanggalkan ikat pinggang dan sepatu;
  • dan akhirnya membuka baju besi yang dia pakai.

Mungkin Paulus berpikir: aduh, setengah mati orang itu! Betapa banyak dan betapa beratnya segala perlengkapan seorang anggota angkatan bersenjata! Dan karena Paulus ada banyak waktu terluang, maka setiap malam ia menonton pementasan adegan itu. Dan setiap pagi terbalik urut-annya: lebih dulu baju besi, lalu sepatu yang berat itu, kemudian ikat pinggang, topi baja, pedang dan perisai.

Surat kepada umat di kota Efesus yang tadi kita baca sebagiannya, ditulis oleh Paulus dari dalam penjara. Kita bisa bayangkan bahwa ia duduk menulis di malam hari, pada cahaya sebuah pelita kecil. Dan ia melihat dengan samar-samar segala perlengkapan tentara itu terkumpul di sebuah sudut kamar itu. Lalu ia renungkan: Ya, kita pun anggota sebuah balatentara. Yaitu anggota pa-sukan Kristus, yang harus memerangi dengan segala kejahatan. Jadi marilah kita juga menye-diakan perlengkapan yang perlu untuk menghancurkan musuh jahat itu:

  • Ikat pinggang kita adalah AJARAN YANG BENAR. Sebab itulah pusat dan inti dari segalanya.
  • Baju besi kita adalah KEADILAN DAN KEBAIKAN. Sebab itu memang kelihatan baik dan pantas di hadapan Allah dan manusia.
  • Sepatu kita adalah KERELAAN UNTUK MEMBERITAKAN INJIL. Sebab sepatu itu dimaksudkan untuk berjalan.
  • Perisai adalah IMAN KITA. Kesangsian apa pun tidak boleh melukai kita.
  • Dan akhirnya pedang kita adalah FIRMAN ALLAH, yang mau kita tusukkan sampai ke dalam hati dan pikiran orang.

Dan setelah menyiapkan diri kita demikian, mari kita mendengarkan perintah dari Panglima kita, ialah Allah sendiri.

Paulus bersurat kepada umat di Efesus. Paulus pun bersurat kepada kita, kepada SAYA. Semoga setiap pagi kita mengenakan perlengkapan senjata itu untuk dapat melawan dan menyerbu musuh kita, yaitu segala yang jahat, segala yang dari setan datangnya.

11.  BERTEMU DENGAN ALLAH

Sebelum Bacaan Kita sering berdoa. Tidak selalu kita merasa PUAS dengan doa itu. Ada kalanya pikiran-pikiran melayang ke pelbagai jurusan, kecuali kepada Tuhan.

Atau lain kali seakan-akan doa kita tidak sampai pada Allah, melainkan bagaikan menghilang percuma di udara.

Mungkin kita terlalu coba berdoa setingkat Allah. Mau mempergunakan kata-kata agung dan mulia. Padahal, Allah dengan lebih mudah dapat kita temukan dengan kata-kata sederhana. Allah pun ingin supaya kita berdoa kepada-Nya dengan suatu cara yang cocok untuk KITA. Allah tidak mengharapkan suatu kata sambutan dari kita. Allah ingin bergaul dengan kita, ingin bercakap-cakap dengan kita. Mari kita mendengarkan sebagian dari suatu percakapan Musa dengan Allah.

Bacaan Keluaran 33:15-23     Berkatalah Musa…

Renungan Tiap orang bergaul dengan Allah dengan caranya sendiri. Dalam sebuah ceri-tera dongeng rakyat Yahudi diceritakan,  bahwa pada suatu hari Musa sedang

mengembara seorang diri di padang gurun. Di situ ia bertemu dengan seorang gembala domba-domba. Gembala itu sedang memerah air susu dari domba-dombanya itu. Musa yang baik hati itu segera mulai menolong gembala yang sudah tua itu. Setelah mereka selesai, maka gembala itu mengisi sebuah piring dengan susu yang terbaik. Lalu dengan piring yang berisi susu itu ia menjauhkan diri, menaruhnya di tanah, lalu kembali lagi ke kemahnya. Musa heran ketika menyaksikan perbuatan yang aneh itu. Maka bertanyalah ia kepada gembala itu apa gerangan maksud dia meletakkan piring dengan susu itu di sana. Lalu gembala itu menjelaskan bahwa dengan cara itu ia mempersembahkan susu yang terbaik itu kepada Allah. Ayahnya dulu juga selalu berbuat demikian, dan demikian pula telah dibuat oleh kakeknya. Musa menggelengkan kepala dan bertanya terus: “Lalu, apakah Allah minum air susu itu?” Jawab gembala itu: “Memang, MINUM!”

Ketika mendengar jawaban yang amat bodoh itu, maka Musa menjelaskan kepadanya, bahwa Allah itu ROH, bahwa Allah tidak bertubuh. Sehingga tidak mungkin Allah minum susu atau minum apa saja. Dan kalau dia tidak percaya, maka baiklah ia jaga semalam untuk melihat bagaimana jadinya hingga pagi hari piring itu selalu kosong.

Gembala itu menjadi terkejut ketika mendengar kata-kata Musa itu, tetapi akhirnya ia putuskan untuk ikut nasehat Musa. Dan pada malam berikutnya ia bersembunyi tidak jauh dari tempat ia telah menaruh piring berisi susu itu. Sesudah menunggu selama kurang-lebih seperempat jam, maka dalam terang bulan terlihatlah seekor rubah kecil (yaitu sejenis anjing gurun), yang me-nengok ke kiri, menengok ke kanan, kemudian jalan cepat-cepat ke piring itu, dan menghabiskan isinya. Kemudian rubah kecil itu menghilang lagi.

Sementara itu Musa berada di dalam kemah, menunggu kembalinya gembala itu. Ketika gembala kembali, maka Musa bertanya: “Nah! Katakanlah, apa yang terjadi!” Sahut gembala dengan muka sedih: “Bapak benar, seekor rubahlah yang menjilat habis susu yang saya sediakan untuk Tuhan Allah. Percumalah usahaku, percumalah usaha nenek moyangku selama banyak keturunan. Terbuanglah ribuan liter susu yang terbaik!” Lalu ia membaringkan diri untuk tidur.

Malam berikutnya ia tidak lagi menempatkan piring dengan susu di tempat itu. Musa merasa hati ringan dan gembira, karena sudah berhasil memberikan pengarahan yang tepat kepada gembala itu. Tetapi pada malam itu juga Musa bermimpi. Dan dalam mimpi itu Allah berbicara kepada-nya, katanya: “Musa, apa yang telah kauperbuat! Di mana piring susu itu! Musa, engkau telah bersalah! Memang, Aku adalah Roh, tidak bertubuh, dan tidak minum susu. Tetapi dengan senang hati selalu telah Kuterima persembahan gembala itu. Hanya, karena Aku tidak biasa minum, maka apa salahnya Aku merelakannya kepada rubah yang kecil itu, yang amat suka akan susu!”

Dan pada saat itu pun Musa mengerti: gembala itu memang tidak mengetahui suatu cara lain untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan cinta kepada Tuhan. Tetapi dengan amat kasar Musa telah merusakkan perasaan gembala itu, sehingga dia selanjutnya tidak tahu lagi cara untuk dapat berterima kasih kepada Tuhan.

Setiap orang dipanggil Allah untuk bertemu dengan-Nya. Sering kita memakai suatu cara yang amat sederhana, yang sebenarnya tidak layak bagi Allah yang mahatinggi. Namun dengan senang hati Allah menerima kata-kata dan lagu-lagu yang kita panjatkan kepada-Nya, serta segala perhiasan, patung dan lilin yang kita pasang dan sesen dua yang kita persembahkan. Semua itu sangat berharga di mata Tuhan, jika berasal dari hati yang jujur .

12.  MEMFITNAH

Bacaan Kejadian 3:1-7     Manusia jatuh ke dalam dosa

Renungan Sejak peristiwa di Taman Firdaus itu, ular menjadi lambang dari segala kejahatan.  Dan juga pengalaman kita dengan ular berbisa, membuat kita menjadi

takut. Sebetulnya kita heran: bagaimana mungkin Tuhan mau menciptakan seekor binatang yang begitu licik dan berbahaya!

Dalam sejarah kuno Yahudi ada cerita sebagai berikut. Pernah orang bertanya kepada ular berbisa begini: “Apa gunanya kamu meracuni dan membunuh orang! Singa juga membunuh orang, demikian pula beberapa jenis binatang buas lain. Tetapi untuk singa ada gunanya, sebab ia lalu makan mangsanya, sedangkan kamu tidak makan mangsamu itu. Jadi apa maksudmu dengan membunuh orang! Hanya demi kesenanganmu saja?”

Maka jawab ular itu sebagai berikut: “Saya mau menjawab dengan suatu pertanyaan pula, yaitu: Apa untungnya yang mau ditarik oleh seorang PEMFITNAH dari segala perkataannya! Ia membusukkan nama orang lain, melukai hatinya, membasmi kegembiraannya. Sebenarnya saya ini tidak terlalu bersalah, sebab saya hanya membunuh orang yang di dekat saya, tetapi seorang yang memfitnah orang lain dengan racun lidahnya, dia membunuh orang di tempat yang jauh sekalipun. Dan selain mangsanya, ia meracuni pula para pendengarnya”.

Demikianlah cerita ular itu. Dan walaupun ular suka menipu, namun di sini mungkin ia berbicara benar. Seorang pemfitnah lebih buruk daripada seekor ular. Orang yang suka membusukkan nama baik orang lain, menimba kegembiraan dari penghancuran sesama. Betapa jelek dia di mata Tuhan. Betapa jelek juga ia di mata manusia. Hanya SETAN bisa kita bayangkan dengan lidah ular!

13.  DOA

Sebelum Bacaan Kita hendak merenung sejenak tentang hal DOA. Tetap ada saja orang yang masih sedikit keliru tentang DOA.  Mereka mengira bahwa doa itu ialah ME-

MINTA apa-apa kepada Tuhan. Namun bukan demikian halnya! Berdoa ialah: mengangkat hati kepada Tuhan, dengan ucapan syukur dan pujian. Berdoa ialah bergaul dengan Allah. Dan memang juga sewaktu-waktu meminta sesuatu.

Bacaan yang berikut sebetulnya bukan suatu Bacaan, melainkan suatu DOA. Mari, sambil mendengarkan Mazmur dari raja Daud ini, kita menutup mata, memberikan diri diresapi kata-kata yang indah ini, dan menjadikannya doa pujian kita kepada Allah.

Bacaan Mazmur 8       Manusia hina sebagai makhluk mulia

Renungan Pernah ada seorang berkata kepada seorang temannya: “Saya menyangsikan

apakah Allah ada atau tidak.   Soalnya,  saya belum pernah mengalami bahwa su-

atu doaku terkabulkan. Semua doaku percuma saja. Tak ada Allah yang mau pusing dengan kita!”

Orang itu, setelah mengatakan demikian, naik sepedanya dan pergi ke pasar untuk berbelanja. Sesampai di pasar, ia menaruh sepeda di salah satu tempat, dan berjalan keliling sambil membuat perbelanjaannya, kemudian pulang ke rumah…

Pagi berikut baru ia teringat bahwa hari sebelumnya ia tinggalkan sepedanya di pasar. Betapa terkejutlah ia. Pikirnya: “Tentu sepeda itu sudah diambil orang”. Langsung ia lari ke pasar dan – betapa mengherankan – sepedanya masih tetap di tempat di mana hari sebelumnya ditinggalkannya. Di dekat di situ ada sebuah gereja. Maka ia masuk gereja itu dan meminta maaf kepada Tuhan, karena tadinya ia sudah menaruh kesangsian kepada-Nya. Dan kini begitu nyatalah Allah telah membantu dia, sehingga sepedanya terjaga dan tidak dicuri orang. Sehabis sembahyang, ia keluar dari gereja. Tetapi aduh! Sepedanya sudah hilang!

Demikianlah cerita singkat ini, yang mengandung suatu arti yang jelas, yakni: bahwa Allah bukan pengawas sepeda! Allah bukan seperti suatu kuasa yang harus selalu melindungi saya terhadap segala kesusahan. Allah adalah Pencipta langit dan bumi. Ia mahakuasa, maha Pencipta. Dengan hati remuk-redam kita mau menghormati Dia. Dan kita hendaknya berhenti memperlakukan Allah bagaikan obat bagi segala kesusahan yang dapat menimpa kita. Sebaliknya: kita boleh meng-harapkan kekuatan dari Dia untuk menghadapi segala kesusahan. Semoga Allah memurnikan hati kita dan mengilhami kita, agar kita dapat berjumpa dengan Dia dalam Roh dan Kebenaran!

14.  DANAU GENEZARET

Bacaan Lukas 5:1-11   Penjala ikan menjadi penjala manusia

Renungan Negeri Israel di zaman Yesus, 2000 tahun lalu, dibagi atas tiga wilayah yaitu:

  • Yang paling Utara ialah wilayah Galilea;
  • Wilayah yang di tengah ialah Samaria;
  • Dan di bagian Selatan terdapatlah wilayah Yudea.

Jadi dari Utara ke Selatan berturut-turut: Galilea, Samaria, Yudea.

Yesus dibesarkan di Galilea, di desa Nazaret. Tidak jauh dari Nazaret ada sebuah DANAU, namanya DANAU GENEZARET. Disebut juga danau Tiberias atau danau Galilea. Danau itu adalah sumber KEMAKMURAN. Dari danau itu orang beroleh ikan dengan limpah. Danau itu pun menjadikan daerah itu SUBUR dan cocok ditanami dengan tumbuh-tumbuhan. Pada sore hari anak-anak suka mandi di situ dan bermain di pantai. Yesus sendiri sering tinggal di kota Kapernaum, letaknya di pinggir danau Genezaret itu. Ia pun acap kali berlayar dengan perahu di danau itu, seperti antara lain tadi kita dengar dalam bacaan Injil.

AIR untuk mengisi danau itu berasal dari sungai YORDAN, yang sumbernya jauh ke sebelah Utara, di pegunungan Hermon. Sungai Yordan bermuara di danau Genezaret itu. Dan kemudian sungai itu – sebernarnya sebuah kali kecil saja – melanjutkan lagi jalannya, melintasi wilayah Sa- maria, sampai akhirnya di bagian Selatan dari wilayah Yudea, ia bermuara di sebuah danau lain. Nama danau yang kedua itu ialah LAUT MATI. Letaknya di bagian paling Selatan. Di situ ber-akhirlah sungai Yordan. Di situ berhentilah juga kesuburan, kemakmuran dan kehidupan. Sebab Laut Mati sungguh mati ! Airnya sangat asin, penuh dengan zat-zat garam. Tiada ikan di situ. Daerah sekitarnya tandus dan kosong. Tidak ada manusia dapat hidup di situ. Tidak ada anak-anak main di pantai. Daerahnya sepi, suatu daerah MAUT. Betapa berbeda dengan danau yang di bagian Utara itu yaitu danau Genezaret! Di situ ada kesuburan dan kehidupan. Sedangkan sekitar Laut Mati ada ketandusan dan bayangan maut.

Hal ini dapat kita ibaratkan dengan kehidupan manusia. Kedua danau itu menerima airnya dari sumber yang sama, yakni sungai Yordan. Namun bedanya seperti siang berbeda dengan malam. Danau Genezaret adalah hidup dan sumber kehidupan bagi ribuan orang, sedangkan Laut Mati begitu mati! Bagaimana mungkin terjadi suatu perbedaan begitu besar, sedangkan sumbernya SAMA! Beginilah jawabannya:

  • Adapun danau Genezaret: ganti setiap tetes air yang diterimanya di sebelah Utara, danau itu serahkan pula setetes air di bagian Selatan, mengirimkannya terus ke arah Laut Mati: ia hidup karena ia memberi!
  • Sebaliknya Laut Mati itu menerima segala air itu, namun TIDAK meneruskannya. Laut Mati mengurungi air itu, menyimpannya untuk dirinya sendiri. Laut Mati tahu terima, tetapi tidak tahu memberikan. Dan karena itu ia MATI.

Marilah kita mengerti ibarat ini, serta bertindak sesuai dengan apa yang telah kita mengerti!

FEBRUARI

Lihat juga seperlunya: MASA PRAPASKAH  –  hlm. 19

15.  CINTA ALLAH

Sebelum Bacaan Ketika Rasul Yohanes sudah tua, orang mulai merasa bosan akan khotbah-khotbahnya,   sebab ia selalu berbicara mengenai satu pokok saja,   yaitu me-

ngenai CINTA KASIH. Pada suatu ketika orang memberanikan diri menyatakan hal itu kepa-danya. Dan apa reaksi Yohanes? Malah dengan lebih tegas lagi ia menguraikan pokok cinta kasih itu, sebagai satu-satunya hal yang penting. Mari kita mendengar suaranya bergema dalam salah satu tulisannya yang terdapat dalam Kitab Suci.

8acaan 1 Yohanes 4:7-21    Allah adalah Kasih

Renungan Bahwa Allah mencintai kita, tidak perlu kita hafal!  Sebab  Allah  membukti-

kan cinta-Nya itu pada setiap detik. Tetapi seperti minyak tidak dapat dicampur dengan air, begitu pula cinta Allah tidak dapat disadari oleh orang yang hatinya bersifat egois.

Cinta Yesus pun dengan percuma coba menembus hati Yudas Iskariot, ketika di Taman Getsemani Yesus bertanya kepadanya: “Sahabat-Ku, untuk apakah engkau datang!”

Bagaimanakah kita membuka hati selebar-lebarnya bagi cinta Allah? Jawaban hanya ini saja: dengan membuka mata bagi kebutuhan orang lain; dengan demikian baru kita meninggalkan benteng si “aku” ini, benteng egoisme kita; dan hati kita menjadi luas untuk menyadari cinta Allah Bapa, menimbulkan dalam hati kita pun cinta kepada Bapa surgawi. Dan kita akan mengerti juga bahwa cinta kepada Allah itu mendorong kita untuk memenuhi segala perintah-Nya, menuruti segala nasehat-Nya, karena kita tidak mau menyedihkan hati Allah, seperti kita pun tidak mau melukai hati sesama.

16.  GANDUM DAN LALANG

Bacaan Matius 13:24-30    Perumpamaan tentang lalang di antara gandum

Renungan Ada seorang pemilik kebun. Ia merasa terganggu karena banyaknya rumput di dalam kebunnya.  Dicabut  hari  ini,  esok  sudah  kelihatan  lagi!  Maka  ia

menghubungi kantor Perkebunan dan minta nasehat dari petugas di situ. Petugas itu menjelaskan beberapa cara untuk membasmi rumput itu. Dan akhirnya ia berkata: “Pak, kalau tidak tertolong dengan semua cara ini, dan ternyata rumput itu masih merajalela terus, maka tinggal hanya satu jalan ini saja, ialah: Pak, coba belajar mencintai rumput itu!”

Banyak orang hidup dengan kesan, bahwa mereka hidup di tengah-tengah rumput, dikelilingi oleh teman palsu, orang korup, pendusta, pencuri, pezinah, orang bermulut kotor, orang malas, orang sombong, orang yang tidak mengenal Allah dan seterusnya. Mau memperbaiki mereka semua? Mau membasmi mereka? Mau merasa sakit hati terus-menerus? Itu berarti, bunuh diri! Lebih baik mengikuti nasehat dari pegawai tadi: coba mencintai mereka!

Hanya kalau kita MENCINTAI mereka yang mengganggu kita, maka kita pun akan sanggup melihat dengan lebih mendalam, melihat betapa lapar dan haus mereka akan sedikit perhatian dan cinta; melihat bahwa sikap mereka yang tidak baik itu seringkali cuma sebuah perisai: di belakangnya mereka berlindung, bersembunyi.

Sebuah contoh kecil: Seseorang yang baru dimarahi oleh bosnya, mungkin sesampai di rumah, ia melepaskan kemarahannya kepada isterinya. Seorang isteri yang baik dan bijaksana akan menerima itu dengan sabar dan penuh pengertian, justru karena ia mencintai suaminya dan karena ia mengerti frustrasi yang dialaminya.

Demikian kiranya kita coba belajar untuk hidup dengan orang lain dan dengan kesalahannya serta kekurangannya. Cinta kasih mengatasi segala rintangan, cinta kasih membuat kita melihat juga segi-segi yang baik dalam sesama kita. Kita menerima setiap orang yang masuk dalam hidup kita, seperti kita pun harap diterima oleh orang lain. Sebab mereka pun harus hidup de-ngan kesalahan dan kekurangan KITA !

17.  YANG MERELAKAN NYAWANYA

Bacaan Yohanes 10:1-15       Gembala yang baik

Renungan Di Negeri Cina ada seorang kakek duduk bercerita kepada sekelompok anak muda. Dan inilah salah satu ceritanya:  Anak-anak,  dengarkantah kisah Tso-

Po-Tao, orang yang menjadi lambang kebaikan dan pengorbanan diri.

Pada suatu hari Tso-Po-Tao berkelana bersama seorang temannya bernama Yang-Chiao-Ai. Mereka mau ke kota Tsu Yuan Wang. Tetapi daerah itu amat dingin, dan salju turun terus-menerus. Mereka dingin dan lapar dan maju hanya perlahan-lahan saja. Maka Tso-Po-Tao mendesak pada temannya, katanya: “Ayo, Yang, ambillah bekal yang masih ada bagi dirimu sendiri”. Lalu ia pun membuka mantolnya yang tebal dan memberikannya kepada temannya, sambil berkata: “Dan ambillah pakaianku juga. Apa guna kita berdua mati! Lebih baik satu yang mati dan satu yang hidup. Biarlah saya yang mati”.

Yang-Chiao-Ai mau menolak tawaran itu, tetapi Tso-Po-Tao sudah mulai membuka semua pakaiannya yang berlapis-lapis itu dan melemparkannya di salju di hadapan temannya. Dan beberapa menit kemudian ia sudah membeku mati…

Maka Yang-Chiao-Ai berkemas dengan pakaian temannya yang sudah mati, mengangkat semua bekal, lalu melanjutkan perjalanannya sampai mencapai tujuannya dengan selamat. Ia selalu teringat akan perbuatan temannya dengan hati penuh rasa syukur. Sebab dia itu telah rela mati supaya dia sendiri hidup”.

Setelah cerita ini selesai, maka salah satu dari anak-anak muda yang duduk mendengarkan, bertanya: “Kakek, sungguh benarkah cerita ini? Atau kakek karang-karang saja! Bagaimana bisa terjadi adanya orang sebaik Tso-Po-Tao itu! Saya belum pernah mendengar tentang orang yang bersedia membuat barang macam itu!”

Jawab kakek itu: “Ah! Anakku! Memang orang seperti Tso-Po-Tao itu sukar ditemukan. Aku pernah mendengar tentang seorang bernama Yesus. Waktu itu saya masih kecil. Tetapi saya masih ingat dengan baik. Waktu itu ada seorang yang berbaju putih panjang yang bercerita tentang Yesus itu. Dan ia katakan bahwa Dia itu memberikan diri dipaku di sebuah palang salib supaya teman-teman-Nya hidup”.

Maka bertanyalah anak-anak itu: “Kakek, siapakah teman-teman-Nya itu! Mereka semua masih hidup?” Jawab kakek: “Teman-teman-Nya adalah orang-orang Kristen. Mereka hidup dengan berjuta-juta banyaknya di seluruh dunia. Hanya di negeri kita ini sangat kurang, karena Pemerintah tidak suka akan Yesus itu. Tetapi di lain tempat ada amat banyak. Dan setiap hari mereka bersyukur kepada Yesus yang telah merelakan nyawa-Nya supaya mereka diselamatkan dan hidup”.

Sampai di sini percakapan antara kakek tua dengan anak-anak muda itu. Semoga dalam diri kita tertanamlah kuat-kuat kesadaran akan apa yang telah Kristus perbuat bagi kita: Ia telah mengor-bankan diri supaya kita hidup dan jadi selamat.

18.  BERILAH KEPADA ORANG MISKIN

Bacaan Matius 19:16-22     Orang muda yang kaya

Renungan Pada zaman dahulu hiduplah seorang pertapa bernama Serapion. Dia hidup di Negeri Mesir.  Pada suatu hari,sambil berjalan di  kota Aleksandria,  ia mem-

perhatikan seorang miskin yang amat menderita kedinginan. Maka berkatalah ia dalam hatinya: “Aku dianggap seorang pertapa; bagaimana mungkin saya boleh merasa panas dalam pakaianku yang tebal ini, sedangkan orang itu menderita kedinginan! Kristus mengatakan bahwa kita harus memberi pakaian kepada yang tidak punya. Bagaimanakah saya bisa bertahan di Hari Pengadilan bila saya tidak membantu orang ini! Bukankah orang ini adalah Kristus bagiku?” Maka ia melepaskan semua pakaiannya dan memberikannya kepada orang miskin itu”.

Kemudian ia duduk membaca Kitab Suci. Seorang polisi lewat melihat Serapion dalam keadaan telanjang. Maka ia bertanya: “Bapak Serapion, siapa gerangan yang mengambil pakaianmu!” Ja-wab Serapion: “Yang telah mengambil pakaianku, ialah orang yang dibicarakan dalam buku ini”.

Beberapa saat kemudian ia melihat seorang polisi lain. Polisi itu sedang mengantar seorang laki-laki yang akan dibawanya ke rumah tahanan, karena tidak dapat membayar utangnya. Maka Se-rapion cepat mencari seorang yang rela membeli Kitab Sucinya, lalu uangnya diserahkannya ke-pada orang tahanan yang malang itu, sehingga ia dapat membayar hutangnya, lalu dibebaskan.

Ketika Serapion kembali ke biaranya, maka muridnya bertanya kepadanya: “Bapa! Di mana pakaianmu!” Ia menjawab: “Saya sudah kirim lebih dahulu ke tempat kelak kita membutuhkan-nya”. Lalu murid itu bertanya kembali: “Dan di mana Kitab Sucimu!” Serapion menjawab: “Yang memintanya kepadaku ialah Dia yang setiap hari mengatakan kepadaku: Juallah segala milikmu dan berikan itu kepada orang miskin. Jadi saya hanya buat apa yang Tuhan suruh saya buat!”

Demikianlah cerita kecil tentang sang pertapa bernama Serapion itu.

Tidakkah kita terlalu cepat puas dengan iman kita yang kecil itu, atau malah iman yang terombang-ambingkan, sedangkan kita mempunyai begitu banyak contoh yang indah dari orang yang beriman dengan betul-betul? Seorang penjudi mempertaruhkan segala harta miliknya pada selembar kertas. Kita pun jangan takut mengambil risiko yang Yesus tawarkan kepada kita. Kita tahu kepada siapa kita percaya, yaitu pada Allah yang kekal, Pencipta langit dan bumi. Mari kita melaksanakan apa yang Ia perintahkan, menurut apa yang sanggup kita lakukan.

19.  PENDIDIKAN AGAMA

Bacaan 2 Timotius 3:10-17      Iman bertumbuh…

Renungan Pernah terjadi di negeri Rusia, ketika negeri itu masih komunis, dan segala pelajaran agama dilarang,   seorang  pastor  Kristen-Ortodoks sedang bekerja

di dalam dusunnya. Dusun itu penuh dengan pohon-pohon apel. Pada suatu saat pastor itu melihat bahwa di belakang sebatang pohon bersembunyilah seorang anak. Ia berhasil menangkap anak itu, lalu meraba saku celananya. “Ini dia!” kata pastor, “kau sudah curi sebuah apel dari dusun saya, ya?” Anak itu gemetar ketakutan dan menangis minta ampun. Pastor meraba saku sebelah, lalu berkata: “Aduh, yang ini masih kosong!” Dan langsung ia memasukkan sebuah apel besar ke dalam saku itu. Dan akhirnya ia pun menaruh tiga buah apel yang bagus ke dalam ta-ngan anak itu. Nyong itu heran sekali: daripada dihukum, ia malah mendapat tambahan empat buah apel! Lalu pastor itu berkata kepadanya: “Nah, lain kali jangan lagi naik pagar, melainkan masuk saja melalui pintu gerbang, dan bawalah kawan-kawan sebanyak mungkin. Kamu selalu boleh mengambil apel sebanyak dapat kamu isi di saku dan di tangan”.

Hari berikutnya anak itu datang disertai tiga puluh kawan, laki-laki dan perempuan. Pastor itu menyambut mereka dengan ramah. Ia berkata: “Anak-anak, sebelum kamu memungut apel-apel, mari kita duduk dulu di bawah pohon ini, maka saya akan memberi pelajaran agama kepadamu!”

Anak-anak senang mendengarkan pastor itu. Mereka tahu juga: di negeri mereka, pemerintah melarang pelajaran agama. Karena itu pengetahuan agama mereka sedikit saja, yaitu apa yang telah diceritakan oleh orang-tua mereka atau oleh seorang kakak. Tetapi pastor itu tahu jauh lebih banyak, dan mereka senang sekali mendengar tentang Tuhan Yesus, tentang Bunda Maria, tentang kebaikan Allah dan tentang surga yang kelak boleh mereka masuk.

Demikianlah terjadi banyak kali. Pohon-pohon apel makin berkurang muatannya, tetapi hati dan budi anak-anak itu makin sarat akan pengetahuan tentang Allah dan kebenaran-kebenaran iman.

Pada suatu waktu seseorang melapor tentang hal ini kepada pemerintah. Pastor itu dituduh melakukan kegiatan subversif, dan sebagai hukuman ia dibuang ke Siberia, suatu daerah yang tandus dan amat dingin.

Di segala tempat dan di tiap masa, anak-anak amat terbuka akan pesan ilahi melalui pelajaran agama. Semoga kita mampu dan berusaha memenuhi kerinduan anak-anak itu!

20.  BAHAGIA DALAM KARYA

Bacaan Mazmur 128      Berkat atas Rumah Tangga

Renungan Manusia harus bekerja. Ada orang yang tidak suka bekerja, merasa setengah mati kalau harus bekerja.   Lebih  suka duduk-duduk  atau tidur.  Namun  bila

pada suatu waktu terjadi bahwa dalam waktu yang lama mereka tidak DAPAT bekerja, sungguh mereka merasa lebih susah lagi! Apakah Adam dan Hawa – sebelum berdosa – tidak perlu bekerja? Apakah sepanjang hari mereka berjalan-jalan sesuka hati di dalam Taman Firdaus itu? Pasti tidak! Akhirnya membosankan juga! Apalagi, kita baca dalam Kitab Kejadian bab 2, ayat 15 bahwa:           “Tuhan Allah menempatkan manusia itu dalam taman Eden

untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”.

Jadi Adam dan Hawa pun harus bekerja; dan itu merupakan suatu kebahagiaan bagi mereka, karena manusia berbahagia bila silih berganti ia dapat bekerja dan beristirahat.

Adapun pekerjaan itu ada pelbagai macamnya. Alangkah bagus jika seandainya kita masing-masing dapat bercerita sedikit tentang pekerjaan kita setiap hari: apa yang kita buat dari pagi sampai malam, dan bagaimana kita mengalami pekerjaan itu. Apakah kita merasa setengah mati atau tidak; apakah kita merasa pekerjaan itu berguna atau tidak; apakah kita puas dengan cara-nya kita bekerja; apakah dalam pekerjaan itu kita melihat suatu hubungan dengan iman kita, hubungan dengan Tuhan. Namun, mungkin sedikit sukar untuk mengungkapkan semua hal itu…

Kiranya kami boleh memberikan beberapa contoh tentang cara kita dapat menghayati pekerjaan kita sebagai sesuatu yang amat bernilai di mata Tuhan, jika dijalankan dengan baik. Misalnya:

  • Orang yang bekerja di kebun: Tanah yang dia olah, adalah hadiah dari Tuhan. Tanaman dan tumbuh-tumbuhan berkembang atas dasar suatu kekuatan yang Tuhan letakkan di dalamnya. Kalau kebunnya rapi, bersih, ditanami dengan bijaksana, dipupuki baik-baik, maka semuanya ini menjadi suatu penghormatan bagi Tuhan, dan pemilik kebun boleh bergembira bersama dengan Tuhan-Tanah Ilahi, ialah Allah sendiri.
  • Seorang pegawai: Kepentingan banyak orang tergantung daripadanya. Ia perlu memperhatikan mutu usahanya, cara kerjanya. Dalam melayani orang, ia harus terbuka, jujur, ramah dan sopan. Sungguh dengan cara itu ia memenuhi perintah Tuhan bunyinya: “Cintailah sesamamu”!
  • Seorang guru: Yesus sendiri disebut “Guru”. Istilah “guru” seakan-akan disucikan karena Yesus telah berkenan memakai gelar itu. Yesus adalah Guru-Teladan universal.
  • Lagi: ibu-ibu di rumah. Dalam diri ibu-ibu, Allah menanamkan kurnia-Nya dengan paling limpah. Sebab ibu-ibulah yang, lebih daripada orang lain, diharapkan menjadi pohon kesabaran, pantai harapan dan sumber segala kebaikan. Ibu-ibu kiranya kaya akan harta rohani, justru dalam usaha dan karyanya setiap hari. Harta itu tidak disimpan dalam lemari atau di bawah kasur, melainkan harta itu tersedia bagi setiap orang, seperti sirih pinang yang disiapkan di piring: yang mau ambil, silakan ambillah. Bagi seorang ibu yang baik dan bijaksana, berlaku apa yang tersurat dalam Kitab Amsal ialah: “Anak-anakmu bangun berdiri

dan menyebut dikau BAHAGIA”.

Entah petani, atau pegawai, entah guru atau ibu rumah tangga, entah perawat atau pelajar, entah dalam tugas dan karya apa pun: kiranya berlakulah sabda Santo Paulus bunyinya:

“Muliakanlah Tuhan dalam tubuhmu.

Dan apa saja yang kamu perbuat,

buatlah itu untuk memuliakan Tuhan”.

21.  YESUS PUTRA ALLAH

Bacaan Roma 1:1-4 Salam

Renungan Bapak Surat Timotius adalah guru agama di salah satu desa di Pulau Jawa. Orang biasanya memanggil dia saja: Pak Surat. Terbanyak penduduk desa itu

beragama Islam. Pak Surat berkontak baik dengan orang Muslimin itu. Namun sering mereka menghadapkan kepadanya pertanyaan ini: “Kamu, orang kristen, percaya akan Yesus sebagai Putra Allah. Mana mungkin Allah ber-PUTRA!”

Sudah sering Pak Surat memikir-mikirkan suatu jawaban yang tepat atau sedikitnya yang dapat memuaskan mereka yang bertanya itu, Sampai pada suatu hari ia memberikan jawaban berikut ini:

“Bapak-bapak! Kalian bertanya kepada kami, orang kristen, apa yang kami maksudkan bila kami mengatakan bahwa Yesus adalah PUTRA ALLAH atau ANAK ALLAH. Nah, akan saya terangkan. Bila pergi berburu di hutan, kita mempergunakan BUSUR, bukan? Tetapi ada juga ANAK busur atau anak panah. Dua-dua perlu. Busur itu tegang dan kuat, sehingga dapat memanah. Tetapi kalau tidak ada anak panah atau anak busur itu, maka percumalah kekuatan busur itu.

Contoh lain. Malam hari, atau juga bila kita keluar dari rumah, kita mengunci pintu, supaya barang kita aman dan tidak dicuri orang. Tetapi KUNCI itu tidak dapat dipakai kalau tidak ada ANAK kunci. Segala kemungkinan dari kunci itu tidak berarti apa-apa untuk kita, kalau tidak ada anak kunci.

Contoh lain lagi. Sebuah TANGGA sering kita perlukan untuk naik ke atap rumah. Tetapi coba bayangkan sebuah tangga tanpa ANAK tangga. Tangga itu memang menunjuk ke atas. Tetapi kita tidak bisa naik ke sana kalau tidak ada anak tangga.

Nah, lagi satu contoh. Kami suka pakai LONCENG untuk memanggil orang datang sembahyang. Tetapi kalau tidak ada ANAK lonceng, maka kita tidak dapat mendengar lonceng itu. Ada bunyi di dalamnya, tetapi tidak mau keluar kalau tidak ada anak lonceng itu. Mengerti ya?

Nah – kata Pak Surat – demikian pula dengan Yesus, Putra Allah, Tentu Allah ADA, juga kalau Yesus TIDAK ada. Namun baru kita dapat mendengar Allah dengan jelas karena Yesus itu. Karena itu kami, orang kristen, menyebutkan Yesus: Putra Allah atau Anak Allah. Yesus mewartakan Allah kepada kita, ANAK BUSUR melayani busur dan memperlihatkan kekuatan busur itu. ANAK KUNCI memperlihatkan kemampuan sebuah kunci, ANAK TANGGA memungkinkan kita untuk naik, ANAK LONCENG membuat lonceng berbunyi sehingga terdengar sampai di ujung kampung. Demikian pula Yesus memperlihatkan dan membuktikan bagi kita kekuatan, kemurahan hati dan kebijaksanaan Allah. Dan karena itu kami menyebut Dia: ANAK ALLAH”.

22.  KEBENARAN DAN KECURANGAN

Bacaan Matius 5:33-37     (Yesus berkata:) Kamu telah mendengar pula…

Renungan Pada suatu hari, sang Kebenaran mengatakan kepada si Kecurangan: “Mari kita pergi mandi di laut!”  Maka  pergilah  mereka ke pantai laut.  Namun be-

lum puas mandi juga, Kecurangan sudah lari kembali ke pantai. Di sana ia memungut pakaian milik Kebenaran, mengenakannya pada badannya sendiri, lalu pulang. Kecurangan berpakaian Kebenaran.

Kebenaran terkejut karena perbuatan jelek Kecurangan itu. Pakaian Kecurangan masih terletak di atas pasir pantai. Apakah ia akan mengenakannya? Apakah Kebenaran akan berpakaian Kecu-rangan? Jangan! Seribu kali: JANGAN! Maka ia pulang tak berpakaian. Ia pulang seperti adanya, yaitu sebagai “Kebenaran Telanjang”.

Sejak waktu itu, Kecurangan, dengan berpakaian baju Kebenaran, coba menipu orang, seperti serigala berbulu domba. Sedangkan Kebenaran tidak menudungi dirinya, tidak pun menghias diri, melainkan memperlihatkan dirinya kepada manusia seperti adanya. Dan kita harus tahu membedakan keduanya itu.

Kata Yesus:   “Jika YA, katakanlah YA! Jika TIDAK, katakanlah TIDAK!”

23.  BUMI KITA

Bacaan Kejadian 2:4b-15     Ketika Tuhan Allah….

Renungan Selama banyak abad orang telah bertanya: di mana gerangan Firdaus itu! Di mana gerangan taman tempat tinggal Adam dan Hawa pada awal mula!

Dewasa ini kita tidak lagi mencari lokasi taman itu. Karena kemajuan Ilmu Ketuhanan, kita sekarang mengerti lebih baik apa makna taman itu.

Di antara ribuan juta bintang, planit dan satelit, rupanya Allah secara khusus memilih satu planit kecil, yang kita sebut BUMI – yang kita diami ini. Allah membuat planit itu cocok sehingga manusia bisa lahir, hidup dan berkembang di situ.

Dan Ia memberi TUGAS kepada manusia, yakni untuk mengusahakan dan memelihara bumi itu –seperti dalam bacaan tadi kita dengar.

Allah menciptakan bumi ini dengan sangat indah, lalu bumi itu dipercayakan-Nya kepada kita. Dari bumi itu mungkin ada beberapa meter persegi yang boleh kita sebut: milik kita sendiri. Dan mungkin lebih luas arealnya yang kita miliki bersama dengan orang lain, yaitu orang sekeluarga atau orang sekampung. Dan kita bersama memiliki Tanah Indonesia.

Mari kita perhatikan dulu perintah Allah menyangkut bumi ini: yaitu untuk memeliharanya: baik rumah kita, maupun halaman rumah, maupun kebun dan jalan umum: supaya rapih, terpelihara dan indah. Kita pun harus memperhatikan segala tanaman; bahkan kita sendiri harus menanam pohon dan bunga. Tidak boleh kita merusakkan begitu saja tanaman yang ada. Dengan tidak lupa juga margasatwa, yaitu semua binatang: tidak pernah kita boleh memperlakukan binatang terkecil pun seperti barang tanpa harga.

Alam ciptaan ini keluar dari tangan Allah sebagai sesuatu yang indah dan sarat akan pelbagai potensi, diserahkan kepada kita, agar kita MENGUSAHAKANNYA dan MEMELIHARANYA, juga demi generasi mendatang. Kita bersyukur kepada Allah dan kita mau makin memperindahkan wajah bumi menjadi pantulan Wajah Allah sendiri.

24.  IMAN

Bacaan Mazmur 15     Tuhan, siapa yang boleh menumpang…

Renungan Dalam tradisi Yahudi tersimpanlah sebuah buku terkenal. Buku itu sudah da-ri zaman kuno, dan disebut TALMUD. Pada salah satu halaman dari buku itu terdapat perkataan dari Rabi Simla sebagai berikut:

Melalui Musa Allah berikan 613 perintah. Kemudian raja Daud mengurangi 613 perintah itu menjadi 11. Kesebelas perintah itu terdapat dalam Mazmur 15, yang tadi kita dengar dibacakan. Kita akan mengulanginya sekali lagi: Siapakah yang menurut Mazmur 15 berkenan kepada Allah! Yang menurut Mazmur 15 berkenan kepada Allah ialah orang:

  1. yang berlaku dengan tidak bercela;
  2. yang berlaku adil;
  3. yang mengatakan kebenaran dengan segenap hati;
  4. yang tidak membenarkan fitnah dengan lidahnya;
  5. yang tidak berbuat jahat terhadap temannya;
  6. yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
  7. yang tidak memandang hina orang yang tersingkir;
  8. yang memuliakan orang yang takut akan Allah;
  9. yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
  10. yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba;
  11. yang tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.

Mari kita mendengarkan lanjutan uraian Rabi Simla dalam buku Talmud itu. Datanglah Nabi Mikha. Di dalam Kitab Nabi Mikha bab 6, ayat 8, kita melihat bahwa 11 perintah tadi, dipadatkannya menjadi hanya 3, yaitu:

  1. berlaku adil;
  2. mencintai kesetiaan;
  3. hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.

Demikianlah uraian Rabi Simla dalam kitab Talmud. Tetapi Rabi Nakman masih melanjutkan lagi. Dia berkata: Ketiga perintah itu masih lagi diringkaskan dan disingkatkan menjadi hanya 1 perintah. Ini dapat kita baca dalam Kitab Nabi Habakuk bab 2, ayat 4, bunyinya:

“Orang yang benar akan hidup oleh PERCAYANYA”.

Dan memang, IMAN-KEPERCAYAAN itu adalah suatu dasar yang ulung, karena BERIMAN, baru kita cukup bermotivasi untuk menjalankan semua perintah Allah. Kata Nabi Habakuk: “Orang yang benar, hidup oleh percayanya”. Pemenuhan perintah-perintah tanpa iman kepercayaan, tanpa melihat hubungan dengan Allah, tidak menyenangkan Allah. Percayalah kepada Tuhan, maka engkau akan hidup!

25.  MARILAH KEPADAKU

Bacaan Matius 11:25-30      Ajakan Juruselamat

Renungan Ada sebuah kampung yang seluruhnya beragama katolik. Kecuali satu orang yang sudah amat tua. Dia itu mau menunggu sampai dekat mati, baru mau di-

permandikan. Dan terjadilah pada suatu hari bapak itu jatuh sakit. Pastor dipanggil, lalu bapak itu dipermandikannya. Beberapa saat kemudian ia meninggal.

Maka ada orang menanggapi peristiwa itu sebagai berikut: “Untung juga dia! Sembilan puluh tahun lamanya ia hidup dengan seenaknya, tidak pernah ke gereja, tidak pernah sembahyang atau pengakuan. Lalu beberapa menit sebelum mati dipermandikan dan langsung masuk surga!”

Yah… Demikianlah pandangan orang yang mengalami agama dan hidup beragama sebagai suatu BEBAN. Orang yang berpendapat demikian, baiklah menyadarkan diri akan perkataan Yesus yang tadi kita dengar itu. Kuk-Nya enak dan beban-Nya ringan. Tetapi yang ringan memang kadang-kadang dapat terasa berat dan yang berat sewaktu-waktu ringan juga.

Dalam buku “Burung Berkicau” karangan Pater A. de Mello, kami membaca cerita yang berikut ini:

Pernah ada seekor keledai yang dibebani dua karung kapas. Ia berjalan dengan enak, sebab kapas itu ringan. Tengah jalan ia melewati seekor keledai yang membawa dua karung garam. Keledai itu berkeluh-kesah karena beratnya beban itu. Kedua-duanya melanjutkan perjalanannya bersama-sama. Pada suatu saat mereka tiba di sebuah sungai yang harus mereka seberangi. Mereka turun ke dalam sungai itu. Sungai itu agak dalam, dan air naik sampai di leher.

Lalu apa yang terjadi? Keledai yang membawa kapas itu: bebannya yang tadi masih ringan, kini menjadi berat, karena semua kapas itu menjadi basah kuyup. Sedangkan keledai yang berbeban garam itu: sebagian garam itu melarut dalam air, sehingga sekarang bebannya sudah ringan…

Yesus berkata:             “Mari datang kepada-Ku, semua yang letih-lesu dan berbeban berat;

Aku akan memberi kelegaan kepadamu”.

Semoga jangan pernah iman akan Allah dan hidup beragama kita alami sebagai suatu beban, melainkan sebaliknya sebagai suatu pembebasan, suatu kelegaan, suatu kegembiraan yang dianugerahkan Allah kepada kita yang adalah orang-orang pilihan-Nya.

MARET dan APRIL

Lihat:   MASA PRAPASKAH – hlm. 19

atau

MASA PASKAH – hlm. 31

MEI * )

Lihat juga seperlunya: MASA PASKAH – hlm. 31

atau KENAIKAN dan PENTEKOSTA – hlm. 41

26.  MARIA

Bacaan Kejadian 3:9-15    Tetapi Tuhan Allah…

Renungan Pernah ada seorang pelukis. Walaupun ia masih muda, namun sudah harum namanya. Lukisan-lukisan-nya sangat laris, dan dari hasil pekerjaannya ia dapat hidup dengan lumayan.

Namun siallah! Pada suatu waktu ia menjadi lumpuh karena diserang penyakit polio, dan tidak jadi sembuh lagi. Selanjutnya ia tidak dapat lagi melukis gambar-gambar; masa depannya suram. Akan tetapi ia tidak mau menyerah. Berkatalah ia dalam hatinya: Pada suatu waktu saya akan melukis lagi!

Allah menciptakan manusia, memanggil dia akan hidup bahagia. Tetapi siallah! Manusia itu menggagalkan rencana Allah, karena ia berdosa. Apakah Allah menyerah saja? Tidak! Entah bagaimana pun juga rencana Allah HARUS terlaksana. Manusia itu harus diselamatkan, harus dijadikan bahagia!

Kita kembali pada si pelukis tadi. Setengah tahun setelah ia mengalami musibah jadi lumpuh itu, orang heran, karena ternyata ia sudah mulai menjual lagi lukisan-lukisan. Dan rasanya malah lebih bagus dari dulu, lebih berjiwa, seakan-akan dilukis dari dalam hati. Bagaimana caranya ia membuat itu? Apakah ia telah sembuh? Tidak juga! Kaki tangannya tetap tidak dapat bergerak… Orang masuk rumahnya untuk mencari tahu. Lalu apa yang mereka lihat? Dia sementara melukis dengan kwas di mulutnya. Ia melukis dengan mulutnya!

Allah berkata kepada si setan: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan wanita ini, antara keturunanmu dan keturunannya”. Allah memilih suatu jalan yang tak disangka-sangka: Ia memilih seorang gadis sederhana. Melalui dia, Allah melukiskan gambar-Nya yang terindah ialah Yesus Putra-Nya. Yang kuat di mata dunia, tidak diindahkan Allah. Yang besar di mata dunia, tidak dihiraukan-Nya. Melalui Maria, Allah memulihkan keadaan semula, hanya rasanya kini lebih indah, jauh lebih indah.

Mari, dalam bulan Mei ini, kita masuk pada Allah, memperhatikan cara Allah meneruskan karya-Nya melalui seorang gadis sederhana. Mari kita memberikan diri kita pun digambar oleh Allah menjadi suatu gambar yang indah – dengan perantaraan Santa Maria, Perawan yang suci.

27.  BELAJAR DARI MARIA

Bacaan Yohanes 2:1-11     Perkawinan di Kana

Renungan Dalam hidup kita, sering kita BERDOA. Dan doa itu sering berupa suatu permohonan kepada Allah. Bagaimana caranya kita memohonkan sesuatu kepada Allah! Dapatkah kita belajar itu dari Maria?

Dalam bacaan tadi kita mendengar tentang perkawinan di Kana. Nyatalah Maria turut mengurusi penerimaan tamu. Tetapi jumlah tamu jauh melebihi target. Dan tidak ada minuman cukup untuk melayani mereka semua dengan sepantasnya. Maka Maria mendekati Yesus.

Nah, ini memang selalu harus kita buat. Bila kita menghadapi suatu kesulitan ataupun suatu tantangan: kita teringat akan Yesus. Penyelesaian masalah – atau mengatasi kesulitan – tidak mungkin di luar Dia.

Langkah berikut: Maria dengan amat singkat menyampaikan kepada Yesus masalah yang  timbul, yaitu:

“Mereka kehabisan anggur”.

Betapa tepat! Hadapkanlah kepada Tuhan segala kebutuhanmu, kegembiraan dan kesusahanmu, kecemasan dan ketakutanmu. Engkau tidak akan membuat Dia bosan. Dia telah menghitung rambut di kepalamu. Dia mengenal engkau, Dia tidak bersikap acuh-tak-acuh terhadap kebutuhanmu yang terkecil pun. Seperti tertulis dalam Surat Yakobus:

“Tuhan itu sangat rahim dan berkasihan”.

Dan dalam Mazmur 147 tersiratlah:

“Tuhan menyembuhkan hati yang remuk dan membalut luka-luka orang”.

Pokoknya: saya ini penting bagi Tuhan. Tuhan tidak mempunyai kesibukan apa pun selain memelihara saya dengan cinta kasih-Nya yang amat besar.

Maria sudah meletakkan kesulitan keluarga para mempelai di hadapan Yesus. Ia tidak menambahkan apa-apa lagi. Ia tidak menguraikan kepada Yesus dengan cara apa Ia harus bantu. Ia pun tidak menyebut rupa-rupa alasan menyebabkan kekurangan anggur itu. Ia menyerahkan peng-urusannya seluruhnya kepada Yesus.

Hal demikian juga sudah dimengerti oleh Marta dan Maria dari Betania. Ketika Lazarus, saudara mereka, sakit, mereka mengirim berita kepada Yesus, bunyinya hanya ini: “Tuan, dia yang Kaukasihi, jatuh sakit”. Itu saja. Lain tidak. Pengurusannya selanjutnya diserahkan kepada Yesus. Dan dalam hati, mereka yakin bahwa dengan salah satu cara Yesus akan bertindak.

Demikian pula cukuplah kita ini mengungkapkan di hadapan Tuhan apa yang menjadi beban kita atau kesulitan kita. Dan selebihnya kita serahkan kepada Tuhan, yakin bahwa pada salah satu cara Tuhan akan tangani. Jadi tidak perlu kita memikirkan banyak-banyak alasan untuk meyakinkan Tuhan. Jangan juga seakan-akan memberi petunjuk kepada Tuhan tentang apa yang harus Ia buat dan dengan cara mana harus dibuat-Nya!

Mari kita belajar dari kalimat Maria ini dalam seribu variasi:

“Tuhan, mereka kehabisan anggur”:

“Tuhan, anakku sakit”.

“Tuhan, badanku merasa tidak enak”.

“Tuhan, kami menderita lapar”.

“Tuhan, anakku menghadapi suatu pelayaran yang jauh”.

Jangan bimbang. Tuhan akan menanganinya!

28.  SEORANG IBU

Bacaan Yoh 19:25-27      Dan dekat salib Yesus…

Renungan Dalam majalah mingguan HIDUP pernah saya baca tentang salah seorang yang pada masa remaja meninggalkan agama Katolik. Beginilah ceritanya:

“Memang, pernah saya pun menjadi pelayan Misa, tetapi ketika di ambang kedewasaan, saya sudah tidak lagi menghiraukan Gereja. Kemudian saya kawin dengan seorang gadis, yang juga hidup tanpa agama.

Terjadilah pada suatu sore hari, istri dan saya keluar dari rumah hendak pergi menonton film di bioskop. Di tengah jalan kami bertemu dengan seorang ibu yang sudah agak tua, yang rumahnya tidak jauh dari rumah kami. Ibu itu sementara pergi ke gereja untuk ikut Misa malam. Karena kebetulan bioskop itu searah dengan gereja itu, maka kami berjalan bersama-sama. Sesampai di pintu gereja, kami berjanji akan menjemput ibu itu sekembali dari bioskop, sebab nanti gelap, dan penerangan di jalan itu kurang baik.

Keluar dari bioskop, ternyata gereja pun sudah kosong, tetapi pintu masih terbuka. Istriku dan saya masuk untuk melihat apakah ibu itu mungkin masih menunggu di dalam. Ternyata ia sedang berdoa di depan arca Bunda Maria, dengan rosario di tangan. Secara spontan saya berlutut di belakangnya, sedangkan istri saya duduk di bangku, menunggu ibu itu selesaikan doanya. Sambil menunggu, pikiran saya kembali ke masa lampau. Sudah sekian banyak tahun saya tidak pernah injak lagi tempat ini! Dan saya mulai menyesal, malah sampai menangis. Dan perlahan-lahan hatiku mulai merasa tenteram, seakan-akan saya kembati ke Rumah Bapa sesudah pengembaraan yang jauh dan lama.

Hati istri saya juga tergugah. Dia datang berlutut di samping saya dan mulai bertanya-tanya me-ngenai patung itu, mengenai altar, salib, dll. Saya menjelaskan semuanya itu menurut kemampuan. Akhirnya ia berbisik kepada saya: ‘Engkau harus kembali hidup sebagai seorang Katolik, dan saya mau ikut engkau juga’. Saya bertanya kepadanya apa yang mendorong dia menjadi Katolik. Ternyata ia terkesan melihat ibu tua itu berdoa di depan patung Bunda Maria. Ia berkata: ‘Orang Katolik mempunyai seorang Ibu, IBU MARIA. Saya ingin menjadi anaknya juga’. Dan demikianlah terjadi. Sudah sejak satu tahun saya menemukan kembali Gereja, menemukan kembali Tuhan Allah atas perantaraan Santa Perawan Maria”.

29.  MARIA PENGANTARA

Bacaan Lukas 1:26-38     Pemberitahuan tentang kelahiran Yesus

Renungan Pernah ada seorang pemudi bertanya kepada seorang guru katekis begini: “Pak Guru, kami di sekolah ada bercampuran agama. Dan ada pelajar-pelajar

putri beragama Protestan mengatakan: ‘Kami orang Protestan, percaya akan Yesus; tetapi kamu orang Katolik, percaya akan Maria’. Jadi, Pak Guru, apakah itu benar? Yaitu bahwa mereka percaya akan Tuhan Yesus, sedangkan kita percaya akan Maria…?”

Menghadapi pertanyaan itu, guru itu hampir tidak mau percaya telinganya. Namun ia sabar, dan dengan tenang ia bertanya kembali kepada gadis itu: “Lalu, apa yang kamu jawab kepada teman sekolah itu?” Jawab gadis itu : “Saya tidak jawab apa-apa. Saya pikir: baiklah saya tanya dulu…”

Yah, demikianlah kadang-kadang pengetahuan agama di kalangan kaum remaja kita! Sudah jelaslah kita pun memusatkan iman kepercayaan kita pada Yesus, dan bukan pada Bunda Maria. Yesus diutamakan daripada siapa pun juga. Dari pihak lain dapat kita mengerti sedikit juga   mengapa sampai gadis Protestan tadi mengira bahwa untuk orang Katolik, Maria adalah lebih penting daripada Yesus. Ada fakta-fakta yang ia lihat, yaitu: gambar-gambar Bunda Maria di ru-mah-rumah kita; rosario dan medali Maria yang kita pakai; lagu-lagu Maria yang begitu banyak.

Mari kita merefleksikan hal itu dulu. Sudah jelas bahwa kita amat mencintai Bunda Maria. Demi Maria sendiri, tetapi mungkin lebih lagi karena hubungannya dengan Tuhan Yesus. Kita meng-hormati Maria sebagai dia yang dapat mengantarkan kita kepada Anaknya Yesus. Dan hal itu bisa menjadi suatu pengalaman yang sangat khusus. Karena dalam perkembangan kita menuju kedewasaan, perlulah adanya suatu saat atau titik, di mana dengan tiba-tiba kita sadar, bahwa Yesus bukannya seseorang yang hanya dibicarakan dalam sebuah buku yang kuno (yaitu Kitab Suci), bahwa Dia bukanlah seperti patung yang dilihat di dalam gereja atau di rumah-rumah, dan tidak juga seorang tokoh yang hanya dikaitkan dengan pelajaran agama di sekolah dan dengan acara-acara kebaktian di dalam gereja, melainkan bahwa Dia itu adalah PUTRA ALLAH YANG HIDUP. Dan siapa yang memberikan kehidupan itu kepada-Nya? Siapa yang melahirkan-Nya masuk ke dalam dunia ini? Tak lain tak bukan BUNDA MARIA. Maka suatu hubungan pribadi dengan Maria sangat tepat dan dapat sangat membantu untuk mengembangkan juga hubungan pribadi dengan Yesus. Hal itu akan terjadi dengan sendirinya bagi setiap orang yang mencintai Maria dengan segenap hati.

Kiranya hal itu pun boleh kita alami: yakni bahwa Maria akan memegang tangan kita, mengantarkan kita kepada Yesus Putranya. Mari kita memanfaatkan adanya bulan Mei ini, untuk memperdalam cinta kita kepada Santa Maria, supaya pada kita pun digenapi kata-kata yang terkenal ini: PER MARIAM AD IESUM, berarti: Dengan perantaraan Maria, kita sampai pada Yesus.

30.  MENDENGARKAN BUNDA MARIA

Bacaan Lukas 1:39-45      Maria dan Elisabet

Renungan Dewasa ini tidak jarang terjadi bahwa wanita pun mendapat tugas penting dan penuh tanggung jawab di dalam masyarakat.   Ada  yang menjadi  kepala

Negara, ada yang menjadi perdana menteri, menjadi mahaguru, dokter, dan sebagainya.

Tetapi betapa tinggi pun kedudukannya, seorang wanita toh selalu pertama-tama adalah seorang IBU bagi anak-anaknya. Anak-anaknya itu tidak menyapa dia dengan “Baginda”, atau “Dokter”; mereka mengatakan saja: “Mama”.

Demikian pula halnya dengan Maria. Bagi Maria telah dipikirkan banyak gelar mulia, namun yang pasti paling suka ia dengar ialah “Bunda”. Seorang anak mengharapkan dari Mamanya segala-galanya. Kita pun mengharapkan banyak dari Bunda Maria. Tetapi seorang anak menjadi besar. Dia pun akan makin MENGENAL ibunya. Dengan demikian bertambahlah juga CINTA-NYA kepada ibunya. Dan karena ia mencintainya, maka ia pun akan MENDENGAR KANNYA..

Demikian pula halnya bila kita berbicara tentang hubungan kita dengan Maria. Tidak lagi kita adalah anak-anak kecil. Tidak tepat kalau kita selalu hanya minta-minta saja kepada Bunda Maria. Kita adalah anak-anak yang sudah dewasa (atau hampir melewati ambang kedewasaan). Kita sanggup untuk lebih mengenal dan lebih mencintai Maria. Dan karena itu pun kita akan rela mendengarkannya.

Memang sangat bergunalah kalau kita mendengarkan Maria. Sebab Maria memberikan kepada kita nilai-nilai yang khusus, bahkan hal-hal yang agak berlawanan dengan keinginan kita yang spontan. Ia memperlihatkan dan mengajar kepada kita misalnya:

* kerendahan hati        * semangat berdoa

* kesiap-siagaan          * kerelaan akan berbuat yang baik

* kemurnian                * kesabaran

* semangat bekerja      * penyangkalan diri.

Dan dengan demikian ia pun menjadi penunjuk jalan kita menuju kebahagiaan.

Dalam Kitab Amsal terbacalah nasehat ini : “Hai anakku, jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu”.

Betapa lebih lagi hal ini berlaku untuk ajaran Maria! Mari lebih-lebih dalam bulan Mei ini, kita hidup dekat dengan Bunda Maria, meneladan hidupnya, mendengarkan nasehatnya, dan menye-rahkan diri dengan penuh kepercayaan dan pasrah kepada cinta keibuannya.


* ) Bahan Renungan untuk bulan Mei terdapat juga a.l. dalam buku “Bersua Sang Bunda – 31 Renungan tentang Bunda Maria” oleh C.J. Böhm msc , Penerbit Kanisius, Yogyakarta 2002 – no. 012572

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: