Renungan bulan Juni-Agustus

JUNI

Lihat juga seperlunya: KENAIKAN dan PENTEKOSTA – hlm. 41

1.  SANTO YUSTINUS, CONTOH KEBERANIAN (1 Juni)

Sebelum Bacaan Manusia kadang-kadang disebut “binatang kawanan”, bukannya karena ma-nusia adalah “binatang”,  melainkan karena ia mempunyai sifat  seperti bina-

tang kawanan. Dalam suatu kawanan domba atau sapi umpamanya, yang satu selalu ikut yang lain. Dan sering kali manusia juga condong akan sifat itu: ia mau berbuat sesuatu, akan tetapi lebih dahulu ia bertanya: “ Apakah orang lain juga membuat itu!”

Kita suka ikut-ikutan, kurang berani untuk bertindak atas dasar pandangan dan keyakinan kita sendiri. Kita mementingkan mata dan pikiran orang lain, kita takut akan pendapat orang tentang kita. Namun, satu-satunya yang boleh dan harus kita takuti ialah TUHAN. Tentang itu mari kita mendengarkan Bacaan yang berikut.

Bacaan Lukas 12:1-8       Pengajaran khusus bagi murid-murid

Renungan Dalam ayat terakhir tadi, Yesus berkata:

Barang siapa mengakui Aku di depan orang,

dia pun akan Kuakui di depan para malaikat Allah”.

Ucapan Yesus ini telah mendorong banyak orang untuk bertindak secara berani atas dasar keya-kinan dan kepercayaan yang ada pada mereka. Keberanian itu misalnya dapat kita saksikan dalam hidup Santo Yustinus. Banyak orang bernama “Yustinus”! Siapa sebenarnya Pelindung mereka, yaitu Santo Yustinus itu!

Santo Yustinus lahir sekitar tahun 100 Masehi, jadi sudah lebih dari 19 abad lalu. Ia anak keturunan Roma, tetapi lahir di Palestina, daerah Samaria. Pada masa remaja ia sempat ikut sekolah tinggi filsafat di kota Efesus. Ia suka akan filsafat, sebab di situ muncullah serba pertanyaan yang penting bagi manusia, seperti tentang Allah, tentang ciptaan dan tujuan ciptaan, tentang penderitaan dan seribu satu pertanyaan lagi. Sering ia berjalan di pantai laut, sambil berpikir-pikir, namun tanpa dapat memecahkan semua problem itu. Waktu itu ia masih seorang kafir.

Pada suatu hari Yustinus kaget mendengar suara seseorang; dan ia melihat seorang pria tua, pakaiannya sederhana. Dan bertanyalah orang itu kepadanya: “Hai, pemuda, apa yang sedang kaupikirkan!” Yustinus menjawab: “Saya memikirkan hal-hal yang pasti Bapak tidak dapat mengerti. Saya sedang berpikir tentang semesta alam ini, dari mana asalnya dan ke mana tujuannya”. Orang yang tua itu senyum dan berkata: “Apakah baru sekarang saudara memikirkan hal-hal itu? Padahal, para nabi sudah menjawabkan itu semua sejak banyak abad lalu. Dan begitu juga Kristus, Tuhan kami. Dia juga mengajar tentang hal itu. Baca saja Kitab-Kitab Suci!”

Semenjak hari itu Yustinus mulai berubah. Ia tidak bingung lagi; ia tahu apa yang harus ia buat, yaitu menggabungkan diri pada umat Kristen yang ada di kota Efesus itu. Hal itu menuntut keberanian, sebab waktu itu orang-orang Kristen dianiayai luarbiasa. Apalagi Yustinus itu seorang ahli ilmu filsafat: tentu ia akan ditertawakan oleh kawan-kawannya! Namun Yustinus tidak meng-hiraukan pendapat orang lain. Ia semata-mata berpegang pada keyakinannya. Dan ia mengabdikan keahliannya dalam bidang filsafat untuk Kristus. Ia membela iman kristiani dengan karangan-karangannya, tanpa takut akan ancaman-ancaman dari pihak pemerintah. Malah ia berani pindah ke Roma, pusat kekaisaran, dan di sana ia berbicara di depan umum dan membela kebenaran dengan gigih.

Akhirnya, di waktu Markus Aurelius menjadi kaisar, ia ditangkap dan ditawan. Ia didera, lalu dipenggal kepalanya dalam tahun 167.

Semoga contoh Santo Yustinus mengajak kita agar kita pun kuat dan berani, siap membela dan mempertahankan kebenaran, seturut suri teladan Santo Yustinus, martir agung itu.

2.  SANTO YOHANES PEMANDI, NABI YANG TERAKHIR (24 Juni)

Sebelum Bacaan Orang-orang besar patut dike-nangkan.  Yesus  berkata tentang

Yohanes Pemandi:“Di antara mereka yang dilahirkan oleh wanita, tidak ada orang yang lebih besar daripada Yohanes Pemandi”. Maka itu pun kita mengenangkan dan merayakan dia. Kelahirannya – menurut penanggalan liturgi Gereja – diperingati pada tanggal 24 Juni. Mari sekarang kita mendengarkan pujian Yesus terhadap Yohanes itu…

Bacaan Luk 7:24-30  Setelah pesuruh Yohanes itu…

Renungan Di masa Perjanjian Lama, muncullah banyak orang NABI. Yohanes Peman-

di sering disebut nabi yang terakhir dari Perjanjian Lama, yang sekaligus membuka tirai Perjanjian Baru.

Apa itu: seorang NABI? Seorang nabi adalah seorang UTUSAN ALLAH. Tugasnya ialah:

  • meneguhkan orang yang baik;
  • menegur orang-orang yang hidupnya tidak tertib;
  • memberi petunjuk hidup;
  • menghibur dan membangkitkan semangat;
  • kadang-kadang juga mereka bernubuat tentang hal-hal yang kelak akan terjadi.

Demikian berperanlah di tengah umat Israel nabi-nabi yang kita semua mengenal nama-namanya, misalnya: Elia, Elisa, Yesaya, Yeremia dan banyak nabi lain. Seorang nabi sungguh merupakan suatu RAHMAT dari Tuhan bagi umat manusia; kasih karunia Allah menjadi darah-daging dalam diri sang nabi itu.

Dia bagaikan busur. Sedangkan rahmat Allah adalah anak panah. Nabi itu menegangkan busurnya, melepaskan anak panah. Siapa yang dikenai, mungkin merasa sakit, yaitu sakit-hati atau kecewa dengan dirinya sendiri. Namun baiklah kita mendengarkan perkataan-perkataan para nabi. Baiklah kita memberikan diri dikenai oleh anak panah, oleh rahmat Allah itu. Jarum suntik juga terasa pedih, namun membawa kesembuhan bagi orang yang sakit itu.

Dalam diri Yohanes Pemandi, busur itu sangat tegang. Dia menuntut supaya para pendengarnya memilih dengan JELAS.

Maka bersama dengan orang-orang yang pada waktu itu mendengarkan Yohanes, kita pun mau bertanya: “Yohanes, katakanlah: apa yang harus kami perbuat!”

Barangkali Yohanes akan memberikan jawaban yang berbeda-beda untuk kita masing-masing. Mari kita coba mendugai: DI MANA anak panah itu mengenai kita!

  • Kepada yang satu, Yohanes akan menjawab: buanglah percaya sia-sia itu!
  • Kepada yang lain: lepas tangan dari milik kepunyaan orang lain!
  • Atau: cepat bangun tiap pagi, uruslah sarapan pagi bagi keluarga!
  • Atau: kamu harus bersekolah dengan sungguh-sungguh, jangan malas-malas!
  • Lagi: jangan minum dan merokok begitu banyak, jangan main judi!
  • Lagi: Atur pikiran dan tingkah lakumu dengan baik dan pantas!
  • Atau: Buanglah kebencian terhadap si Anu ini; buanglah kesombongan dan cinta diri!
  • Dan: Berdoalah dengan tekun dan teratur!

Semoga anak-panah yang dilepaskan dari busur Yohanes, menjadi obat mujarab bagi kita. Tidak ada cara yang lebih baik untuk mengenangkan dan menghormati Santo Yohanes Pemandi!

  1. PENAMPAKAN HATI KUDUS YESUS

Bacaan Hosea 11:1-4     Kasih Tuhan mengalahkan kedegilan orang Israel

Renungan              Hati Yesus adalah lambang cinta Yesus bagi kita. Hal ini sudah selama ba-nyak abad diketahui.  Namun  kesadaran  ini  baru sungguh meluas di seluruh

Gereja sejak suatu rentetan peristiwa yang terjadi lebih dari tiga abad yang lalu di sebuah kota kecil di Negeri Perancis bernama Paray-le-Monial, antara tahun 1673 dan 1675.

Pada waktu itu di kota tersebut hiduplah seorang biarawati bernama Margareta Maria Alakok. Pada waktu suster itu berumur 26 tahun, Tuhan Yesus berkenan menampakkan Hati-Nya kepadanya. Terjadilah pada tanggal 27 Desember tahun 1673, Pesta Santo Yohanes Penginjil, rasul cinta itu.

Kepada Margareta Maria ditunjukkan Hati ilahi itu pada sebuah takhta penuh nyala api, bersinar lebih terang daripada matahari. Pada Hati itu terlihatlah luka akibat tusukan tombak serdadu. Hati itu dikelilingi duri; dan ada juga salib berdiri di atas Hati itu.

Berkatalah Yesus kepada Margareta Maria:

“Hati ilahi-Ku begitu mencintai manusia, mencintai engkau khususnya,

sehingga nyala kasih yang berkobar di dalamnya tak tertahan lagi”.

Penampakan Yesus yang pertama itu diikuti oleh sejumlah penampakan lagi. Di antaranya terdapatlah Tiga Penampakan Besar. Yang terkenal di antaranya adalah Penampakan Besar yang Ketiga, dalam bulan Juni tahun 1675. Waktu itu Yesus membuka Hati-Nya bagi Margareta Maria dan berkata:

“Lihatlah Hati ini yang telah begitu mencintai manusia,

sehingga telah menghabiskan diri seluruhnya

untuk menyaksikan tentang kasih-Nya.

Tetapi dari kebanyakan orang

Aku hanya menerima balasan berupa sikap acuh-tak-acuh”.

Penampakan-penampakan ini memang bukannya awal dari devosi kepada Hati Kudus Yesus. Namun melaluinya kita disadarkan kembali betapa benarlah perkataan Nabi Hosea yang kita de-ngar dalam bacaan tadi.

“Allah berkata:

Aku menarik manusia dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih;

Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan”.

  1. DIA YANG MENCINTAI KITA

Bacaan Mazmur 27:1-6        Aman dalam perlindungan Allah

Renungan Seorang yang mencintai dengan segenap hati, dia rela berbuat apa saja bagi yang  tercinta.  Dia  rela  juga MENJADI apa saja bagi yang tercinta itu:  rela

menjadi budaknya, rela menjadi permadani untuk diinjak kakinya, rela menjadi kecil dan hina, asal saja me-nyenangkan hati sang kekasih.

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus menyatakan bahwa dia rela menjadi bagaikan sebuah bola sebagai alat main bagi Kanak-kanak Yesus: dilempar ke sana ke sini, dilupai di salah satu sudut kamar, bahkan mungkin mau ditusuk pun: tidak mengapa! Asal Yesus senang bermain dengan bola-Nya itu.

Kita mau bertanya: apakah demikian pula corak cinta ALLAH bagi kita? Apakah Allah rela menjadi apa saja asal kita ini puas dan selamat? Dalam Mazmur tadi hal ini memang disinggung. Di situ raja Daud berkata:

“Tuhan adalah Terangku…”.

Daud membutuhkan TERANG, maka Allah bersedia menjadi terang baginya. Daud pun berkata:

“Tuhan adalah benteng hidupku”.

Kalau Daud mau tinggal dengan aman dalam sebuah benteng, maka Allah bersedia menjadi sebuah benteng baginya.

Ada sebuah cerita, begini: Pada suatu waktu Allah memutuskan untuk mengunjungi bumi. Maka Ia mengutus seorang malaikat untuk menyelidiki keadaan di bumi lebih dahulu. Malaikat itu pergi, kemudian kembali dengan membawa laporan yang berikut, katanya: “Mereka kebanyakan kekurangan makanan dan kebanyakan juga menganggur”.

Tuhan berkata: “Nah, Aku ingin menjelma dalam bentuk makanan bagi mereka yang lapar, dan menjadi pekerjaan untuk mereka yang menganggur…”.

Demikian saja cerita itu. Apakah kita masih mengira bahwa Allah bertakhta tinggi di langit? Bahwa Ia bersemayam jauh di atas cakrawala? Kalau demikian halnya, dengan cara apa Ia akan membuktikan cinta kasih-Nya bagi kita! Cinta yang sejati bukanlah membuktikan diri pertama-tama oleh apa yang diberikan, melainkan oleh suatu penyerahan DIRI: cinta Allah bagi kita mendorong Dia menjadi manusia untuk kita. Cinta Allah bagi kita menjadi Santapan kita. Cinta Allah bagi kita mendorong Dia menjadi sesama kita.

Mari kita mencintai Allah yang mengelilingi kita, sebab kita boleh mengalami Dia, dan kehadiran-Nya boleh kita raba.

  1. MENASEHATI SESAMA  (Hati Kudus Yesus)

Bacaan Roma 12:9-21    Nasehat untuk hidup dalam kasih

Renungan Kita semua diberi tanggung jawab terhadap orang-orang tertentu, entah da-lam keluarga, entah dalam lingkungan kerja ataupun dalam pergaulan sehari-

hari. Di situ kadang-kadang kita menghadapi orang yang betul keras hatinya, yang hatinya seperti batu. Tidak mau mendengar, tidak berbicara sopan, terkurung dalam cinta-diri…

Tetapi tiap bola ada pentilnya, tiap pagar ada pintunya. Dalam tiap manusia mau tak mau akan kita temukan kembali sesuatu dari Penciptanya, dari Allah sendiri: setetes kasih sayang, sebutir perasaan.

Di sebuah sel dalam rumah tahanan berdirilah seorang pembunuh yang kejam. Ia memandang keluar melalui kisi-kisi terali, memperhatikan burung-burung beterbangan dengan bebas. Ia  mengambil segenggam nasi yang telah ia simpan lalu meletakkannya di depan terali. Nasi itu ditaruhnya di situ untuk burung-burung. Ia berharap supaya mereka datang dan makan nasi yang ia sediakan bagi mereka. Perbuatannya itu adarah bukti bahwa masih ada sedikit perasaan dalam dirinya. Itulah pentil, itulah pintu, melaluinya mungkin hatinya yang membatu itu dapat dilunakkan.

Mengapa banyak orang tidak mau terima nasihat yang baik! Mengapa khususnya banyak muda-mudi sukar dikendalikan! Mungkin karena kita tidak berhasil menemukan butir yang baik itu, setetes kasih sayang yang ada padanya. Kepada Santa Margareta Maria Alakok, Yesus membuat dua belas Janji. Janji yang kesepuluh bunyinya sebagai berikut:

“Mereka yang bekerja untuk keselamatan jiwa-jiwa,

akan mendapat anugerah

untuk dapat melunakkan hati yang paling keras”.

Kepada siapa disampaikah Janji itu! Kepada mereka yang menghormati Hati Yesus. Apa cara yang paling baik untuk menghormati Hati Kudus Yesus! Jawabannya tidak sukar. Yaitu meneladan segala keutamaan Hati itu; menjadi lembut dan rendah hati. Itu pun bagi kita berarti:  meng-akui kesalahan kita sendiri. Dia yang mau kita tegur, mungkin melempar rupa-rupa kata maki-makian kepada kita sebagai balasan. Coba kita petik dari situ apa yang benar. Ia akan melebih- lebihkan luarbiasa; namun – sama seperti bila berdiri dalam hujan dan membuka mulut untuk tangkap air hujan sedikit pada lidah – demikian pula saya dihujani kata-kata yang kasar dan yang tidak benar. Tetapi mungkin sedikit dari semua kata itu dapat saya tangkap dan telan sambil  mengucap terima kasih. Itulah sikap rendah hati. Dan jika saya bersikap demikian, maka Janji yang kesepuluh itu akan terpenuhi: Allah akan membantu saya untuk melunakkan hati yang keras itu. Seperti tadi kita mendengar Santo Paulus berkata:

“Dengan berbuat demikian,

kamu menumpukkan API di atas kepalanya”.

Ia tidak akan bertahan terhadap api itu; ia akan MENYERAH dan memperbaiki tingkah lakunya!

  1. HATI SUMBER PERASAAN

Bacaan Matius 11:25-30     Ajakan Juruselamat

Renungan Bulan Juni yang sedang kita jalani ini, dikenal sebagai Bulan Hati Kudus. Apa yang mau kita ungkapkan bila kita menghormati HATI KUDUS YESUS! Marilah kita selidiki terlebih dahulu apa arti istilah “hati”.

Kata “hati” di sini kita pakai dalam arti SIMBOLIS, yaitu sebagai lambang. “Hati” di sini mempu-nyai arti lebih luas daripada hanya suatu bagian tertentu dari tubuh manusia. Dengan “hati” kita mau mengungkapkan suatu perasaan. Hati adalah tempat dan pusat segala perasaan batin. Di situ kita simpan segala rahasia dan pengalaman pribadi yang sesungguhnya. Sikap manusia berpusat pada hatinya.

Kita boleh menyelidiki sejumlah ungkapan atau cara bicara dalam bahasa Indonesia sehari-hari, sehubungan dengan “hati”, misalnya:

  • Kita menyebut orang keras hati atau murah hati, iri hati atau rendah hati, tawar hati atau tinggi hati.
  • Ada orang yang mendua hati.
  • Orang bisa berbesar hati, tetapi juga sakit hati; lapang hati dan panas hati; senang hati atau patah hati.

Dalam tiap bahasa terdapat ungkapan-ungkapan semacam itu. Demikian pula, dalam Kitab Suci, kata hati dipakai untuk mengungkapkan suatu perasaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sangat pribadi dan sangat mendalam. Umpamanya:

  • Yesus berkata bahwa pikiran jahat timbul dari hati orang.
  • Santo Paulus berkata bahwa dengan hati orang percaya dan dibenarkan.
  • Yesus pun berkata: “Yang diucapkan mulut, meluap dari hati”.
  • Dua kali juga dikatakan tentang Maria, bahwa ia menyimpan semua kejadian di dalam hatinya.
  • Di Taman Getsemani Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya”.
  • Dalam bacaan tadi kita mendengar Yesus berkata: “Aku lemah lembut dan rendah hati”.

Perasaan dan sikap kehidupan Yesus tinggal di dalam Hati-Nya. Dan setiap kali Yesus menunjukkan sikap belas kasihan-Nya, maka hal itu bersumber pada Hati-Nya, entah kata itu dipakai atau tidak.

Karena itu pun kita MENGHORMATI Hati Yesus. Kita bukan menghormati suatu bagian tertentu dari tubuh-Nya, melainkan kita menghormati YESUS, yang telah membuktikan betapa Hati-Nya meluapkan cinta kepada kita, betapa Yesus dengan seluruh pribadi-Nya mengusahakan keselamatan kita. Cinta sebesar itu tak mungkin kita balas dengan hanya menghormati-Nya. Cinta itu kiranya lebih-lebih kita jawabkan dengan CINTA juga, cinta dengan segenap hati.

  1. DOA PERMOHONAN

Sebelum Bacaan Mengapa Allah tidak mendengarkan doaku! Saya sudah meminta hal ini dan itu berulang kali,  bahkan membuat novena, mendesak pada Tuhan…   Rupa-

nya Allah menutup telinga terhadap permintaan yang dengan tulus hati kupanjatkan kepada-Nya. Ini suatu keluhan yang sewaktu-waktu dapat timbul dalam hati kita. Mari kita mencari jawaban atas pertanyaan itu. Terlebih dahulu kita mau mendengar sabda Yesus menyangkut permohonan.

Bacaan Matius 7:7-11      Hal pengabulan doa

Renungan              “Mintalah, maka kamu akan diberi,

Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”.

Menurut ayat Kitab Suci ini, Allah sungguh mendengarkan doa-doa permohonan kita. Itulah ajaran dan pengalaman Yesus sendiri. Tetapi pengalaman kita agak berbeda dengan itu! Acapkali kita mendapat kesan bahwa Allah TIDAK mengabulkan permohonan kita. Dan kita rasa bahwa pernyataan Yesus tadi, tidak cocok dengan kenyataan!

TETAPI: marilah kita memperhatikan bagian kedua dari bacaan tadi. Di situ Yesus mengatakan:

“Adakah seorang di antara kamu

yang memberi BATU kepada anaknya, jika ia meminta ROTI?

Atau memberi ULAR, jika ia meminta IKAN?

Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi yang BAIK kepada anak-anakmu,

betapa lebih lagi Bapamu di surga!

Ia akan memberikan YANG BAIK kepada mereka yang meminta kepada-Nya”.

Yesus berbicara tentang Allah, yang Ia juga perkenalkan sebagai BAPA kita. Dan kita adalah ANAK dari Bapa itu. Pasti kita akan dipelihara oleh Bapa itu, pasti kita akan didengar oleh Bapa kita. Dan Ia akan memberikan apa yang baik bagi anak-anak-Nya. Tiap ayah di bumi berbuat demikian, apalagi Bapa surgawi!

Nah, apa yang sungguh BAIK bagi kita! Mana pedomannya untuk menentukan apa yang baik dan apa yang kurang baik! Pandangan manusia terbatas, sedangkan Tuhan tahu dan mengatur segala-galanya. Anak kecil main dengan pisau atau silet atau korek api: tidakkah kita segera  mengambil barang itu daripadanya? Kita berbuat demikian, karena kita, lebih dari anak itu, mengerti bahwa barang itu dapat mendatangkan musibah! Biar anak menangis, kita tidak meng-hiraukan!

Demikian pula boleh saja kita mengajukan permohonan kepada Allah, namun sekaligus kita mau serahkan kepada Tuhan untuk memutuskan apa yang lebih baik, apa yang lebih menguntungkan saya atau orang lain. Sama seperti Yesus berdoa di Taman Getsemani: Yesus minta supaya piaIa kesengsaraan lewat daripada-Nya; tetapi Ia langsung juga mengatakan:

“Ya Bapa, bukan kehendak-KU,

melainkan kehendak-MUlah yang terjadi kiranya”.

Dan ternyata Allah Bapa sudah memutuskan bahwa Yesus harus wafat, malah wafat pada suatu cara yang ngeri sekali. Toh permintaan Yesus waktu itu pun dikabulkan, karena Allah memberi kekuatan yang Yesus butuhkan untuk menempuh jalan salib-Nya sampai titik terakhir.

Yesus mengajak kita untuk memanjatkan doa permohonan kepada Allah Bapa. Mari kita membuat itu dengan segenap hati. Dalam kepastian bahwa mungkin apa yang saya minta itu, di mata Tuhan kurang bijaksana, tidak masuk akal, barangkali merugikan. Dalam hal itu Tuhan tidak akan memberikan apa yang saya minta; tetapi Ia akan memberikan apa-apa yang baik menggantikannya. Sebab hanya Dialah yang tahu apa yang baik bagi kita.

  1. SAKIT

Sebelum Bacaan Dalam hidup manusia kadang-kadang terjadi saat krisis. Ada saat krisis yang lebih menyangkut mentalnya, misalnya kedengkian besar,  atau keputus-asa-

an atau penggodaan yang berat. Tetapi ada juga saat krisis yang bertitik-tolak pada jasmaninya, antara lain: jatuh sakit, khususnya kalau jatuh sakit keras. Bila membaca Kitab Injil, kita heran melihat betapa besar perhatian Yesus justru bagi orang yang dalam keadaan sakit.

Bacaan Markus 1:29-34     Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dan orang lain

Renungan Yesus berjalan keliling bukan sebagai seorang dokter atau dukun yang ajaib, melainkan sebagai Penyelamat,  yang membawa keselamatan dan kebahagia-

an kepada orang. Tentu semua orang yang disembuhkan Yesus – seperti tadi kita dengar – merasa bahagia luarbiasa.

Yesus ingin supaya kita pun bersikap demikian terhadap orang-orang yang sakit. Dalam Injil Markus bab 6, kita membaca bahwa Yesus mengutus kedua belas rasul untuk pergi ke desa-desa; dan kita membaca juga cara mereka melaksanakan tugas mereka. Begini:

“Para rasul pergi memberitakan bahwa orang harus bertobat; dan mereka mengusir ba-nyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mere-ka”.

Pengolesan dengan minyak itu menjadi suatu kebiasaan tetap dalam Gereja, yaitu Sakramen kelima, ialah Sakramen Orang Sakit. Itulah suatu pelayanan khusus, di mana kentara bahwa Yesus sendiri sungguh-sungguh menaruh perhatian pada orang sakit itu. Sakramen itu menyertai si penderita pada saat krisisnya, bila ia dihinggapi penyakit berat, merasa kehidupannya mau dibekukan. Disebabkan penyakitnya itu, hidupnya tiba-tiba menjadi lain sekali. Mungkin ia dibawa ke rumah sakit dan di sana ia tinggal dalam suatu lingkungan dan situasi yang sama sekali asing bagi dia. Mungkin ia sudah putus harapan akan sembuh kembali. Hatinya cemas tentang suka-duka orang-orangnya di rumah. Kesepian melumpuhkan dia. Ia merasa iri hati terhadap orang lain yang sehat-sehat saja.

Tetapi pada salah satu saat ia dikunjungi oleh seorang pastor seperti tertulis oleh Santo Yakobus dalam suratnya, bab 5:

“Kalau ada seorang sakit di antara kamu, panggillah para pemimpin umat baginya, supaya mereka mendoakan dia, serta mengurapi dia dengan minyak atas nama Tuhan. Dan doa yang disertai iman akan menyelamatkan orang yang sakit itu, dan Tuhan akan membangkitkan dia. Tuhan akan mengampuni dosanya bila ia telah berbuat dosa”.

Atas nama Kristus dan atas nama semua saudara beriman, imam menumpangkan tangannya di atas kepala penderita itu, lalu mengurapinya pada dahi dan pada tangannya dengan mengucapkan kata-kata ini:

“Semoga dengan pengurapan suci ini,

Allah yang maharahim menolong saudara dengan rahmat Roh Kudus.

Semoga Ia membebaskan saudara dari dosa,

menganugerahkan keselamatan, dan berkenan menabahkan hati saudara”.

Sebelumnya pastor sudah memberikan kesempatan untuk mengaku-dosa. Dan sesudahnya si sakit itu boleh menyambut Komuni Suci.

Sungguh melalui imam, Kristus serta Gereja menyatakan kepada si sakit: Kami dekat padamu,  lebih-lebih pada saat yang sukar ini. Kehidupan yang kauterima pada pembaptisanmu, ternyata lebih kuat daripada maut!

Pemulihan kesehatan badani boleh diharapkan dan didoakan. Tetapi mungkin juga Kristus mau mempersatukan si penderita itu terus dalam sengsara-Nya sendiri, malah dalam kematian-Nya sendiri yang berat itu. Tetapi bagi orang yang sakit itu sudah menjadi suatu kepastian: kehidupan atau kesakitan atau kematian pun tiada pentingnya dibandingkan dengan persatuan dengan Kristus, entah dalam hidup entah dalam kematian.

  1. IMAN YANG SUBUR DAN NYATA

Bacaan Yakobus 2:14-17      Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati.

Renungan Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama kita membaca banyak tentang hubungan antar manusia.  Sebagai contoh kami memilih suatu teks dari  Hukum Taurat

yg Allah berikan kepada umatNya dengan pengantaraan Musa. Teks itu terdapat dalam Kitab Keluaran, Bab 22:

Allah bersabda: Seorang janda atau anak yatim jangan kamu tindas. Jika engkau memang me-nindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka jika mereka berseru-seru kepadaKu.

Jika kamu meminjamkan uang kepada salah seorang dari umatKu, yaitu orang yang miskin, maka janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. Jika engkau sampai mengambil sarung temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja penutup tubuhnya: pakai apakah ia pergi tidur! Apabila ia berseru kepadaKu, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini Pengasih.

Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong. Janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar.

Janganlah engkau turut ikut kebanyakan orang melakukan kejahatan, dan janganlah engkau membelokkan hukum.

Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kaukembalikan binatang itu.

Suap janganlah engkau terima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat, dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar”.

Masih banyak peraturan lagi seperti ini.

Hal yang menyolok dalam semua perintah itu ialah perhatian untuk orang lemah. Mereka mau dilindungi terhadap orang yang rakus dan orang penipu. Siapakah orang-orang lemah itu? Siapakah mereka yang mau dikuasai, ditindas, diperas? Yang termasuk kalangan yang kecil dan lemah ialah orang-orang miskin, terutama orang janda, anak-anak, orang yang cacat badan atau kurang waras, orang yang bersifat malu-malu atau kurang terpelajar, orang yang cepat gugup, yang cepat menangis dll. Kata Tuhan: “Haruslah kamu memperlakukan mereka dengan adil dan rasa sayang! Bahkan kamu harus menilai mereka sungguh sebagai sesamamu, kamu harus mencintai mereka seperti dirimu sendiri!”

Pantaslah kita bertanya: Mengapa Allah mencintai kita? Mengapa cinta kasih Allah kepada kita demikian besar sehingga Ia menyerahkan Putra-Nya yang tunggal bagi kita? Karena kita tampan? Kaya? Mempunyai gaya? Tidak! Allah mencintai kita karena potensi keindahan yang ada dalam hati kita. Yesus ternyata sangat mencintai orang berdosa, bukan karena keindahan yang ada pada mereka, melainkan karena kemungkinan akan bertobat. Mari kita ingat bahwa kita ini adalah orang ber-IMAN. Iman harus menjadi subur dan nyata. Itulah yang ditegaskan oleh Santo Yakobus dalam teks yang tadi kita baca itu.

10.  MELIHAT YANG TAK KELIHATAN

Bacaan Matius 13:10-17     Maka datanglah murid-murid-Nya…

Renungan Santo Yohanes Krisostomus pernah berkata:

“Karena kita hidup dalam tubuh, maka Allah memberi kita

anugerah-anugerah rohani dalam bentuk barang-barang yang kelihatan”.

Dan Santo Agustinus berkata:

“Anda tidak dapat mengumpulkan orang sebagai penganut agama,

bila Anda tidak menyatukan mereka melalui penggunaan tanda-tanda

dan sakramen-sakramen yang tampak kelihatan”.

Inilah beberapa contoh:

  • Pencurahan air dalam Sakramen Permandian: itu bukanlah sekedar “kasih mandi” seorang anak.
  • Hostia Kudus yang kita sambut dalam Ekaristi: itu bukan sekedar “makanan” untuk menghilangkan kelaparan!

Air dan roti dalam situasi ini adalah sarat akan arti dan makna khusus, yang kita semua kenal. Air, roti, anggur, dan juga garam, lilin, minyak dan seterusnya: itu semua mendapat suatu arti khusus bila dipakai dalam ibadat liturgi.

Bandingkan misalnya dengan sembarangan potongan logam bundar: logam bundar itu menjadi uang kalau mempunyai cap negara. Demikian pula sehelai kertas yang harganya hanya beberapa rupiah saja, bisa menjadi sangat penting dan berharga karena kata-kata yang ditulis pada kertas itu. Dan sebuah cincin harga murah, mendapat nilai istimewa sejak saat dipasang pada jari tangan oleh teman-mempelai. Nah, demikian pula dengan barang dan bahan yang dipergunakan dalam liturgi kudus.

Tidak lain juga dengan gerak-gerik tertentu. Umpamanya: bila pintu terlalu rendah bagi saya, saya akan tunduk kepala supaya saya dapat lewat. Tetapi bila saya tunduk kepala terhadap Sa-kramen Mahakudus, maka gerakan itu mendapat suatu arti khusus, yaitu: hormat.

Suatu contoh lain. Saya mungkin berlutut di lantai, kalau saya mau mengenakan baju pada anakku yang masih kecil; tetapi berlutut dalam Perayaan Ekaristi lain sekali arti dan maksudnya.

Yesus berbicara dalam perumpamaan-perumpamaan. Kita ini dikelilingi oleh barang, perbuatan serta kata-kata yang sarat akan arti, yang semuanya menunjuk pada hal-hal yang tak kelihatan, hal-hal surgawi, hal-hal ilahi. Berbahagialah kita bila kita dapat menanggapi itu semua dengan tepat. Berbahagialah kita bila kita tahu menghayati itu semua dengan hormat, dengan khidmat dan penuh pengertian. Sebab melaluinya kita dihantar kepada misteri kehidupan, misteri kurnia Allah bagi kita; melaluinya kita dapat MELIHAT YANG TAK KELIHATAN.

11.  WAJAH YESUS

Bacaan 2 Korintus 5:15-19      Dan Kristus telah mati…

Renungan Wajah orang yang hidup dahulu kala, kita kenal dari foto atau gambar atau patung.  Dari orang yang hidup sezaman dengan Yesus,  jadi  sudah  dua ribu

tahun yang lalu, dari beberapa di antara mereka kita mengenal wajahnya, misalnya kaisar Agustus dan kaisar Tiberius, penguasa-penguasa di Roma yang nama-namanya kita dengar juga disebut dalam Injil. Kita mengenal wajah mereka, karena sampai sekarang masih tersimpan patung-patung yang memperlihatkan mereka, dan juga mata uang logam, di mana tercetak muka kedua orang kaisar itu.

Tetapi dari YESUS tidak tersimpan sebuah patung ataupun gambar-Nya pada sebuah mata uang, sehingga kita tidak tahu bagaimana setepatnya roman muka Yesus. Mungkin seperti pada patung Hati Kudus di gerejakah? Atau seperti pada patung salib di rumah? Atau seperti pada gambar yang saya simpan dalam Kitab Suciku? Ternyata semuanya berbeda-beda, sebab para seniman tidak mempunyai contoh untuk menggambar kembali rupa Yesus yang asli.

Santo Agustinus, yang hidup kurang-lebih 1500 tahun lalu, menulis begini: “Kita tidak tahu de-ngan benar bagaimana wajah Yesus dahulu”. Lalu ia melanjutkan sebagai berikut:

“Wajah, yang dahulu menjadi wajah Yesus sebagai manusia,

kini dibentuk oleh manusia dalam aneka ragam rupa”.

Kami ulang: KINI DIBENTUK OLEH MANUSIA DALAM ANEKA RAGAM RUPA. Ini suatu pikiran yang mendalam. Yesus adalah Putra Allah. Pada saat yang telah Allah tentukan, Yesus melangkah masuk ke dalam masa, ke dalam dunia. Tetapi tidak lama; bagaikan selama sekejap mata saja: hanya selama 33 tahun.

Kita tidak boleh menghubungkan Dia dengan suatu wajah tertentu, yang seakan-akan memaku Yesus pada suatu usia tertentu, menghubungkan Dia dengan suatu bangsa, warna kulit, jender atau lingkungan hidup tertentu. Maklumlah, sesudah kebangkitan-Nya, Yesus hidup dalam diri banyak orang: ada yang adalah orang raja atau presiden, ada juga orang pengemis atau gelan-dangan. Ada yang kulit putih, hitam, merah atau kuning. Ada yang masih kanak-kanak, ada yang sudah lanjut usianya. Ada pria, ada wanita… Kita harus belajar dan mengerti, bahwa mereka semua menunjukkan WAJAH YESUS! Atau seperti Santo Paulus tadi mengungkapkannya:

“Jika pernah kami menilai Kristus menurut ukuran manusia,

sekarang kami tidak lagi menilai Dia demikian”.

12.  TANDA AJAIB DAN MUKJIZAT

Sebelum Bacaan Pada suatu kesempatan orang minta kepada Yesus: “Tuan, buatlah salah satu tanda ajaib bagi kami!” Tetapi Yesus menolak memenuhi permintaan itu.

Kemudian hari, ketika Yesus sudah ditangkap dan sedang diadili, Ia dihadapkan kepada Herodes Antipas. Dan raja Herodes itu pun membujuk Yesus untuk membuat suatu tanda ajaib. Tetapi Yesus tinggal diam saja. Sebaliknya Yesus bergembira jika ternyata orang percaya kepada-Nya walaupun tidak ada tanda-tanda ajaib, seperti misalnya orang-orang di kota Samaria, yang percaya kepada Yesus hanya karena perkataan-Nya dan bukan karena pelbagai macam mukjizat (Yoh 4:41).

Dalam bacaan berikut malah kita mendengar Yesus memperingati kita supaya jangan kita terlalu mudah menaruh kepercayaan kepada orang-orang yang membuat pelbagai tanda yang dahsyat dan bermacam-macam mukjizat. Mari kita mendengarkan.

Bacaan Mat 24:23-28       Pada waktu itu …

Renungan Dua setengah abad sesudah Yesus wafat dan bangkit, hiduplah di Negeri Mesir seorang pertapa yang sudah tua bernama Palamon.  Ia  hidup  serumah de-

ngan seorang pertapa lain, yang masih muda umurnya; namanya Pakomius.

Pada suatu malam Palamon dan Pakomius duduk dekat api unggun. Maka terjadilah mereka dikunjungi oleh seorang pertapa lain. Orang itu bersifat angkuh hati, bukan seperti Palamon dan Pakomius yang dua-duanya adalah orang yang sederhana dan rendah hati.

Pertapa yang lain itu berkata kepada mereka: “Kalau kamu sungguh PERCAYA, maka silahkan berdiri di tengah-tengah api unggun ini, dan berdoalah supaya kakimu tidak terbakar oleh panasnya api itu!” Begitu mendengar tantangan itu, maka Abas Palamon menjadi marah dan menjawab: “Terkutuklah setan yang telah memberi pikiran yang jahat itu kepadamu!”

Tetapi orang itu menjawab: “Rupanya kamu takut membuat itu, tetapi saya ini tidak takut!” Lalu, sambil mengucapkan suatu doa, ia masuk dan berdiri di tengah api itu. Dan… mengherankan! Kakinya tidak kesakitan sama sekali. Kemudian ia pergi lagi, hatinya penuh kesombongan.

Sesudah ia pergi, berkatalah Pakomius yang masih muda itu kepada Palamon: “Bapa! Ketika tadi dia berdiri di tengah-tengah api tanpa terbakar kakinya, saya merasa sangat kagum kepadanya!” Tetapi jawablah Palamon yang sudah tua itu: “Pakomius, anakku, janganlah mengagumi dia, karena perbuatannya berasal dari setan. Dan engkau pun akan menangisi dia, jika tahu akan siksaan yang akan menjadi nasibnya kelak!”

Tanda pengenal kebenaran bukannya tanda-tanda ajaib dan mukjizat. Allah tidak mau diakui hanya karena terjadinya keanehan-keanehan. Seorang yang berdiri di dalam api, sewajarnya terbakar kakinya, supaya api tetap api, dan supaya otot dan saraf dan tulang kaki tetap berfungsi dengan semestinya. Tidak pernah diajar kepada kita: Tanda pengenal orang-orang kristen ialah bahwa terjadi tanda-tanda ajaib yang dahsyat. Melainkan kita harus berpegang pada sabda Yesus:

“Inilah tanda pengenal bagi kamu sebagai murid-Ku

yaitu bahwa kamu SALING MENCINTAI”.

Itulah yang menjadi tanda dan mukjizat. Kita percaya karena Allah adalah setia, bukan karena Allah adalah tukang sihir atau tukang sulap. Kita percaya karena menerima sabda Allah dalam hati yang murni. Mesias-Mesias palsu memang sanggup membuat tanda-tanda dahsyat yang menakjubkan. Tetapi tidak ada CINTA pada mereka. Si pertapa yang sombong tadi, sanggup berdiri di tengah-tengah nyala api tanpa terbakar kakinya. Tetapi hatinya penuh keangkuhan, bukan penuh cinta kasih.

Semoga jangan kita kecewa kalau jarang menyaksikan tanda-tanda ajaib, melainkan lebih-lebih kita sendiri, dengan bantuan Allah, mengusahakan tanda yang paling ajaib, yaitu kerelaan untuk mengampuni, untuk berdamai, untuk hidup dalam persatuan mesra, dalam kesetiaan dan cinta kasih, walaupun di tengah-tengah api cinta kasih itu, memang kaki dapat terbakar!

Semoga dengan demikian juga bagi kita ditepati apa yang Yesus sabdakan kepada rasul Tomas:

“Tomas, berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya!”

JULI

13.  MARIA DARI GUNUNG KARMEL (16 Juli)

Sebelum Bacaan Pada tanggal 16 Juli diperingati Santa Perawan Maria dengan gelarnya Maria dari Gunung Karmel. Dalam renungan nanti kami akan memberi sedikit pen-

jelasan tentang devosi ini. Marilah terlebih dahulu mendengarkan peristiwa terkenal yang terjadi di pegunungan Karmel di masa Perjanjian Lama.

Bacaan 1 Raja-Raja 18:20-39       Elia di Gunung Karmel

Renungan Pegunungan Karmel terletak di sebuah tanjung di pesisir laut negeri Israel, bagian Utara.  Sejak zaman purba dalam sejarah gereja, senantiasa ada  orang

yang menarik diri dari keramaian dunia, pergi tinggal di pegunungan itu, karena terpesona oleh kesunyian di situ, terpesona juga oleh tanda ajaib, yang telah Allah kerjakan di tempat itu, ketika Ia dengan perantaraan nabi Elia membuktikan diri sebagai Allah yang benar. Orang pergi menetap di situ, hidup sebagai pertapa atau eremit.

Sejak tahun 1160, sejumlah orang pertapa mulai membentuk kelompok-kelompok yang kemudian menyebut diri “Saudara-saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel”, singkatnya “Tarekat Karmel” (O.Carm.). Mereka memilih Maria sebagai pelindung khusus dengan sebutan “Maria dari Gunung Karmel”.

Dalam pergolakan Perang Salib di Tanah Israel dalam abad ke-13, kaum Muslimin berhasil   mengusir para biarawan itu dari pegunungan Karmel, sehingga ada kelompok-kelompok orang Karmelit kembali ke tanah airnya di Eropa, dan di situ mereka meneruskan hidup biara. Hal itu terjadi dalam tahun 1238.

Lima puluh tahun kemudian, di Eropa terdapat 150 biara Karmel. Pemimpin umum mereka waktu itu bernama Simon Stock. Berdasarkan suatu penampakan Bunda Maria kepadanya, selanjutnya di atas pakaian mereka, para biarawan itu memakai sehelai kain yang disebut SKAPULIR. Skapulir itu adalah tanda persaudaraan antar anggota Tarekat Karmel itu dan bagaikan jaminan akan perlindungan Santa Perawan Maria. Skapulir itu sampai sekarang masih dipergunakan, bukan hanya oleh orang Karmelit, melainkan juga oleh orang awam biasa, dalam bentuk sebuah medali, menjadi tanda kepercayaan besar yang ditaruh pada Bunda Maria, teristimewa kepercayaan akan memperoleh kehidupan abadi di surga setelah meninggal.

Berdampingan dengan Tarekat tersebut, berkembanglah juga Tarekat Suster-Suster Karmelites, yang di Indonesia mempunyai biara-biara antara lain di Bajawa (Keuskupan Agung Ende), di Lembay (Keuskupan Bandung) dan di Kakaskasen (Keuskupan Manado). Seperti yang pria, mereka pun mempergunakan mantol putih, tanda keperawanan Bunda Maria.

Kedua Tarekat ini telah menghasilkan banyak orang kudus. Yang terkenal di antara mereka ialah tiga orang yang berikut: Santa Teresia dari Avila, Santo Yohanes dari Salib Suci dan Santa Teresia dari Kanak-Kanak Yesus.

Devosi kepada Maria dari Gunung Karmel mengajak kita untuk mencari Tuhan dalam kesunyian dan kesederhanaan; mengajak kita juga untuk memasrahkan diri kita kepada Bunda Maria, yang mendoakan kita, kini dan di saat ajal kita.

14.  MENIMBA DARI SUMUR TUHAN

Bacaan Kejadian 21:8-19     Abraham mengusir Hagar dan Ismael

Renungan Hagar diusir oleh Abraham atas desakan isterinya Sara. Sara tidak mau bah-wa anak seorang budak disamakan dengan anaknya sendiri.

Maka Hagar dengan anaknya Ismael yang masih kecil itu, mengembara jauh di padang gurun. Sesudah beberapa hari mereka amat kehausan. Kendi air yang mereka bawa, sudah kosong. Ismael menangis karena haus. Maka dengan hati sedih Hagar membaringkan dia di bawah semak yang kebetulan ada di situ, lalu ia duduk agak jauh dari anaknya itu, sebab ia tidak tahan melihat anaknya meninggal.

Tetapi ada sesuatu yang tidak diperhitungkannya, sesuatu yang mudah kita lupakan bila meng-alami kesusahan. Yaitu bahwa Tuhan tetap ada! Dan kepada Hagar, Tuhan memperlihatkan sebuah sumur, sehingga ia dapat minum dan memberi minum juga kepada anaknya. Kemudian ia mengisi kendinya, lalu melanjutkan perjalanannya.

Mungkin sewaktu-waktu Tuhan membiarkan kita mengalami rintangan atau kegagalan; namun hal itu terjadi dengan tujuan: memberikan kepada kita hal-hal yang lebih besar atau lebih agung.

Kita membawa kendi. Tuhan mempunyai sumur. Mari kita menimba dari sumur keselamatan itu.

15.  SETAN

Bacaan Kejadian 3:1-7      Manusia jatuh dalam dosa

Renungan Bagaimanakah kita harus bayangkan setan? Setan adalah ROH belaka. Sama seperti malaikat.  Malaikat dan setan berasal dari suatu alam ciptaan yang sa-

ma sekali berbeda dengan alam ciptaan kita. Namun mereka sungguh nyata, sungguh diciptakan Allah. Kita ini bersifat manusiawi. Kita berada di batas dua buah dunia: dunia materi dan dunia rohani. Dunia roh belaka itu tidak mungkin kita bayangkan. Kita coba menggambarkan malaikat dan setan dengan tubuh dan sayap. Namun kita tahu bahwa mereka sebenarnya memang tidak bertubuh dan tidak bersayap!

Dalam Kitab Wahyu karangan Yohanes, setan itu dilukiskan sebagai seekor naga yang dahsyat.

Dalam cerita Firdaus yang tadi kita dengar itu, setan dilukiskan sebagai seekor ular. Seekor ular dapat merayap masuk ke tempat mana saja. Tiba-tiba kita temukan ular itu, entah di kebun, entah di jalan, di rumah, bahkan di kantor atau di gereja! Ular itu memang bukan setan. Ia cuma salah satu di antara semua binatang ciptaan Tuhan. Tetapi ia menjadi lambang setan karena ia dianggap licik dan berbahaya.

Kita perlu waspada terhadap setan itu. Tidak perlu kita takut. Tetapi perlu waspada. Sebab dia mempunyai hanya satu tujuan ini: ia mau menarik kita keluar dari Tuhan. Ia mau memakai kita untuk memperkokoh kembali kerajaannya di dunia, menaklukkan segala manusia kepada dirinya sendiri. Kita perlu berdoa untuk semua orang yang sudah menjadi mangsanya. Kiranya rahmat Allah masih dapat merenggut mereka kembali dari kekangan kuasanya.

Adapun kita sendiri, jangan kita mengantuk, jangan kita tertidur. Sebab setiap manusia meng-alami serangannya berupa penggodaan untuk membuat hal-hal yang jahat. Orang kudus pun tak terkecuali, seperti dapat kita baca dalam riwayat hidup banyak orang kudus. Tetapi selama ia menyerang, malah boleh kita berterima kasih. Sebab ini menjadi tanda bahwa ia belum merebut kita, bahwa kita tidak termasuk kerajaannya yang busuk itu, melainkan bahwa kita tetap termasuk Kerajaan Kristus. Dialah yang telah mematahkan kuasa setan.

16.  PEMBAGI KURNIA ALLAH

Bacaan Markus 6:30-44    Yesus memberi makan lima ribu orang

Renungan Sungguh sesuatu yang luarbiasa yang Yesus kerjakan. Dengan lima buah roti dan dua ekor ikan Yesus memberi makan kepada lebih dari lima ribu orang. Dan “semuanya makan sampai kenyang”.

Coba bayangkan bahwa kita inilah rasul-rasul itu…; bahwa kita inilah yang mengalami mukjizat itu terjadi di dalam tangan kita, terus-menerus: kita memecahkan sebagian dari roti yang ada di tangan kiri, dan dengan tangan kanan kita serahkan kepada seorang bapak, seorang ibu, seorang anak. Sementara itu roti di tangan kiri sudah menjadi lengkap kembali. Sebetulnya itu roti KITA: bekal yang tersedia untuk KITA. Tidak seberapa banyak; namun kurnia Allah membuat kenyang begitu banyak orang!

Mungkin hal ini menjadi pengalaman tiap pastor, tiap katekis dan guru jemaat, yakni: “APA yang ada padaku, yang dapat saya bisa memberikan kepada orang lain! Saya sendiri begitu miskin akan bakat-bakat, bahkan merasa sangat kekurangan akan harta rohani berupa iman, kepercayaan dan cinta kasih. Tetapi sedikit yang ada itu, saya relakan kepada orang lain, saya berbagi dengan orang lain!”

Rasul-rasul itu sebetulnya merasa tidak berdaya untuk menjamin ribuan orang itu. Tetapi sedikit yang ADA pada mereka, mereka sumbangkan. Dan Tuhan memanfaatkan itu. Demikian Tuhan membuat dengan setiap pastor, setiap katekis dan guru jemaat, dan juga dengan setiap ayah dan ibu terhadap anak-anaknya.

Mari kita menyerahkan dan membagi-bagikan apa yang ada pada kita, kepada orang lain: kepada anak atau adik, kepada teman atau bawahan.

APA yang kita bagikan:

  • Mungkin sebutir pengalaman, mungkin suatu bakat untuk menghibur atau membuat orang tertawa.
  • Mungkin sedikit dari kepunyaan atau perolehan kita, atau tenaga, atau sedikit waktu, sedikit cinta dan perhatian.
  • Mungkin sepatah kata nasehat atau ajakan, entah dengan manis atau tegas.

Sedikit yang sanggup kita berikan itu, akan dimanfaatkan Allah untuk membuat orang kenyang.

17.  SEBUAH TANDA SALIB

Sebelum Bacaan Abraham dikunjungi oleh tiga orang. Siapakah mereka itu! Dari lanjutan cerita yang akan kita  dengar ini,  menjadi  jelas  bahwa  inilah  Allah  sendiri

yang datang berkunjung pada Abraham. Banyak Pujangga Gereja dari zaman dulu melihat dalam ketiga orang itu tersingkaplah misteri Allah Tritunggal. Misteri itu baru dalam Perjanjian Baru akan dinyatakan dengan lebih jelas.

Bacaan Kejadian 18:1-15     Allah mengulangi janji-Nya kepada Abraham

Renungan Seorang anak yang dibaptis, ditandai dengan tanda salib oleh imam. Imam membuat tanda salib kecil dengan jempolnya pada DAHI anak itu.

Suatu situasi lain: kalau kita berdiri hendak mendengarkan pembacaan Injil waktu Ibadat di gereja, kita membuat tanda salib kecil – dengan jempol juga – pada DAHI, pada BIBIR, dan pada DADA kita.

Dan selain itu, masih ada tanda salib biasa: dari dahi ke dada, lalu ke bahu di sebelah kiri dan bahu di sebelah kanan.

Tiga macam tanda salib! Yang tertua dari ketiga macam ini, ialah tanda salib kecil yang dibuat pada DAHI. Dan dalam renungan kecil kita ini, mari kita membatasi diri pada sedikit penjelasan tentang salib kecil pada dahi itu.

Selama abad-abad pertama, begitulah caranya orang-orang Kristen membuat tanda salib. Ada seorang penulis kuno bernama Tertulianus. Ia hidup sekitar tahun 200 Masehi, jadi kurang-lebih 150 tahun sesudah Yesus wafat dan bangkit. Dari Tertulianus itu masih tersimpan sejumlah tulis-an. Dan antara lain dapat dibaca di situ hal berikut ini. Kata Tertulianus:

“Setiap kali kita mulai melangkah, bepergian atau pulang ke rumah,

sewaktu kita berpakai dan mengenakan kasut,

waktu makan, mandi atau berbaring di tempat tidur,

bila menyalakan lampu atau duduk,

dan pada setiap pekerjaan sehari-hari,

KITA MENANDAI DAHI DENGAN TANDA SALIB”.

Demikianlah kata Tertulianus, suatu suara dari zaman Gereja purba.

Dan ada lagi suatu kebiasaan yang amat baik, yakni bahwa orang-tua membuat tanda salib itu pada anak-anaknya, yaitu semasa mereka masih kecil. Anak – sebelum tidur – ditandai oleh ibunya atau bapanya dengan tanda salib kecil yang dibuat dengan jempol tangan kanan pada dahi anak, seperti dibuat pula oleh imam sewaktu anak dibaptis. Sementara kita membuat itu, kita tidak usah mengucapkan apa-apa, namun dengan sendirinya kita berdoa dalam hati kita, dengan spontan timbul dalam hati suatu doa yang dapat berbeda-beda tiap-tiap kali, misalnya:

  • Ya Allah Bapa, lindungilah anak-Mu; ya Allah Putra, jadikanlah hati anak kami seperti Hati-Mu sendiri; ya Allah Roh Kudus, tetaplah tinggal di dalam hatinya…

atau:

  • Ya Allah kepada Abraham Engkau janjikan dan berikan seorang putra secara ajaib. Kami pun bersyukur kepada-Mu atas keajaiban anak kami ini. Sayangilah dan lindungilah dia, seperti Engkau pun menjadi pelindung bagi Ishak, anak Abraham itu…

atau:

  • Ya Yesus, dengan tanda salib ini kami mengakui, bahwa dengan salib-Mu Engkau telah menebus anak kami. Bila kelak dia ditimpa kesengsaraan dan kesusahan, maka sudilah men-dampingi dia, supaya ia kuat dalam menghadapi percobaan itu…

Semoga dengan jalan itu, kita tetap menyambut Allah Tritunggal di tengah keluarga kita, seperti sudah dibuat oleh Abraham, leluhur kita dalam iman.

18.  DIRAMPASI HABIS-HABISAN

Bacaan Matius 13:1-9      Perumpamaan tentang seorang penabur

Renungan Mari kita memperhatikan benih yang jatuh di pinggir jalan. Benih itu adalah Firman Allah kepada manusia.  Dengan “pinggir jalanitu dimaksudkan me-

reka yang memang mendengar Firman itu, namun tidak mengerti dan tidak menghiraukannya. Langsung ada burung-burung turun yang makan habis benih yang jatuh di tempat itu. Dalam hal ini burung-burung itu adalah lambang dari si setan, yang dengan amat mudah dapat menghindarkan orang-orang tertentu dari Firman Allah. Bagaimanakah hal itu dapat terjadi?

Saya teringat akan suatu berita dalam Kitab Kejadian, tentang Yosep, anak kesayangan Yakub. Dia dijual oleh saudara-saudaranya ke Negeri Mesir, kemudian dipenjarakan di situ. Di dalam penjara ia antara lain berkenalan dengan seorang tukang roti. Tukang roti itu menceritakan kepada Yosep mimpinya, yaitu bahwa ia membawa tiga buah bakul di atas kepalanya. Di dalam bakul yang paling atas terdapat pelbagai jenis makanan yang telah disediakannya untuk Firaun. raja Mesir. Lalu ada burung-burung turun, dan makan dari bakul itu. Yosep mengartikan mimpi itu sebagai berikut: bahwa tukang roti itu sesudah tiga hari akan dihukum mati. Mengapa demikian! Inilah jawabannya: Siapa gerangan yang membawa sebuah keranjang makanan di atas kepalanya, membiarkan burung-burung makan dari isi keranjang itu! Hanya orang yang sangat loyo dan bodohlah yang membiarkan hal itu terjadi, hanya orang yang tidak mempunyai daya untuk mengusir burung-burung itu!

Demikian pula dengan perumpamaan Yesus itu; orang yang loyo dan bodoh membiarkan setan merampas Firman Allah dari hatinya, orang yang tidak punya tulang belakang, orang yang tidak berdaya untuk menunjukkan giginya kepada si Jahat. Mereka dirampasi dari satu-satunya yang berharga bagi mereka: ialah Firman serta persahabatan Allah.

19.  PENGABULAN DOA

Bacaan Roma 8:26-30      Demikian juga Roh membantu kita…

Renungan Doa kita sering berupa doa PERMOHONAN. Suatu doa permohonan yang dipanjatkan  kepada  Allah dengan sungguh hati,  pasti  akan didengar dan di-

kabulkan. Kalau hal itu kita tidak percaya, maka kita tidak berdoa dengan betul! Tidak boleh kita berdoa seakan-akan “coba-coba saja”. Kita harus yakin bahwa Allah mengabulkannya; asal kita serahkan kepada Tuhan tentang caranya Ia mau mengabulkannya. Betapa sering Allah malah memberikan LEBIH daripada apa yang kita minta. Ini mungkin sudah acap kali menjadi peng-alaman kita. Hal itu pun menjadi kentara dalam cerita yang berikut ini.

Di samudera yang luas berlayarlah sebuah kapal. Tetapi datanglah angin taufan, dan kapal itu karam dan tenggelam. Hanya satu orang saja yang berhasil menyelamatkan diri, dan dia terdampar pada sebuah pulau yang tidak ada penghuninya. Ia membangun sebuah gubuk, dan di dalamnya ia menyimpan beberapa barang yang sempat ia selamatkan. Ia berdoa kepada Tuhan, mendoakan arwah mereka yang telah mati lemas. Ia pun bersyukur karena dia sendiri telah diselamatkan. Lalu tiap hari ia berdiri di pinggir laut, berharap ada kapal lewat yang memperhatikan dia dan akan membawa dia keluar dari pulau yang sepi itu.

Pada suatu hari, ketika ia kembali dari berburu dalam hutan, ia jadi panik. Sebab sementara ia di hutan, maka gubuknya itu terbakar, dan sedikit barang yang ia punya itu pun terbakar habis. Sungguh sengsara bertimbun sengsara! Rupanya Tuhan sudah sama sekali tidak menghiraukan akan dia, membiarkan dia ditimpa musibah demi musibah. Namun, apa yang mula-mula dipandang sebagai malapetaka, ternyata menghasilkan sesuatu yang tak terduga. Sebab ketika ia melayangkan pandangan ke laut maka di kejauhan ia melihat sebuah kapal yang datang menuju ke pulau itu. Dan ketika kapal sudah sampai dan ia berjumpa dengan nakhoda, maka berkatalah na-khoda itu kepadanya: “Dari jauh kami melihat asap naik; dan di mana ada asap, di situ pasti ada manusia!”

Maka mengertilah orang itu betapa doanya telah dikabulkan. Apa yang tampak sebagai suatu musibah, justru sebaliknya menghasilkan berkat.

20.  TANGGA PERKAWINAN

Bacaan Kejadian 28:10-22   Mimpi Yakub di Betel

Renungan Saya masuk di bengkel seorang tukang kayu. Dia sedang mengerjakan sebu-ah tongkat panjang.  Ia mengerjakannya dengan teliti.  Satu segi diberinya lu-

bang-lubang pada jarak-jarak yang sama, kurang-lebih tiga puluh sentimeter jaraknya satu dari yang lain. Saya bertanya: “Apa yang sedang bapak kerjakan?” Tetapi ia senyum saja dan berkata: “Nanti lihat!”

Hari berikut saya masuk lagi dan saya melihat bahwa tongkat itu sudah selesai. Ia sedang mengerjakan lagi sebuah tongkat, tepat seperti yang kemarin; tingginya atau panjangnya lima atau enam meter. Saya bertanya kembali seperti hari sebelumnya, tetapi ia memberi jawaban yang sama pula: “Nanti lihat!”

Pada hari ketiga ternyata tongkat kedua pun sudah selesai. Sekarang ia sedang mengerjakan sejumlah potongan kayu pendek. Sambil memperhatikan dia bekerja, saya merenung sebagai berikut:

Tongkat pertama kalau sendirian agaknya tiada berguna; tongkat kedua pun tidak ada guna kalau tinggal begitu saja. Tetapi, kalau melalui kayu-kayu kecil itu tongkat yang satu digabungkan de-ngan tongkat yang lain, maka hasilnya ialah… sebuah TANGGA!

Saya merenung terus. Sebetulnya sama halnya dengan RUMAH TANGGA. Si pria dan si wanita dipandang tersendiri adalah bagaikan dua tongkat itu. Allah Pencipta sudah mengerjakan masing-masing dengan saksama, menjadikan mereka cocok untuk suatu tujuan yang Ia berikan kepada manusia, yaitu untuk pada suatu waktu menggabungkan hidupnya dengan seorang teman yang sebanding dengan dia, yang akan menjadi teman hidupnya.

Tetapi, kayu-kayu kecil itu ibarat apa! Ibarat anak-anak merekakah? Belum tentu. Saya lebih cenderung untuk memandang kayu-kayu kecil itu sebagai pelbagai keutamaan yang tidak boleh tidak harus ada dalam setiap rumah tangga, antara lain: cinta kasih, saling penghargaan, kesetiaan, penyerahan diri, kerelaan melayani, keterbukaan dan semua sifat baik yang menjamin suatu hubungan yang baik dan erat antara suami dan istri. Bila salah satu dari semua anak tangga itu tidak kuat, maka ia akan patah. Tetapi yang patah harus segera diperbaiki atau diganti. Karena patahnya satu anak-tangga, seluruh tangga itu kehilangan sedikit kekuatan. Anak tangga – anak tangga lain pun dengan lebih mudah akan patah atau keluar dari sendinya. Kemudian seluruh tangga akan goyang, dan akhirnya ambruk.

Saya masih duduk merenung lagi di bengkel tukang kayu itu… Apa TUJUAN tangga itu sebetulnya! Memang jelas: supaya melaluinya orang bisa naik/turun. Sebuah tangga sebetulnya sebuah alat yang sangat sederhana. Hampir saya mau katakan: sangat rendah hati. Selalu diinjak kaki orang; membiarkan orang naik melaluinya sehingga malah bisa meraih lebih tinggi daripada tangga itu sendiri. Tetap teguh, rela memikul beban, mendukung, menaikkan.

Demikian pula halnya dengan rumah tangga. Suami-istri dalam banyak hal menjadi bapa dan mama, mendapat anak-anak. Anak-anak itu naik melalui mereka. Bisa-bisa mereka naik lebih tinggi daripada orang-tuanya. Tetapi bukan hanya anak-anak saja. Suatu pasangan suami-istri bisa juga sepakat melayani orang lain, atas anjuran dan ajakan satu terhadap yang lain; bahkan menjadi suatu tangga seperti ditunjukkan kepada Yakub dalam penglihatannya tadi, sebuah tangga yang menjulang ke langit, mengantar orang kepada kebahagiaan yang sejati, karena perkataan serta contoh hidup.

Akhirnya masih ada satu hal lagi yang saya renungkan. Tangga itu mempunyai juga keterbatas-annya, yaitu tangga harus SANDAR. Tidak bisa berdiri sendiri. Tangga itu harus bersandar pada dinding atau tembok. Tempat sandaran itu mengumpamakan TUHAN. Tembok itu kuat, dapat dipercayai. Asal kita tempatkan tangga itu baik-baik. Karena itu kita periksa setiap hari apakah rumah tangga kita sungguh bersandar pada Tuhan. Adapun Yakub menyebut tempat di mana ia mendapat penglihatannya itu: BETH-EL, berarti: RUMAH TUHAN. Semoga seisi rumah kita makin menjadi bagaikan tangga seperti kita sempat renungkan ini.

Tukang kayu tadi bertanya kepada saya: “Saudara sudah tahu apa yang sedang saya kerjakan?” Saya senyum dan berkata: “Sudah!”

21.  AMPUNILAH SESAMAMU

Sebelum Bacaan Dalam Kitab-kitab Perjanjian Lama sering kita baca tentang peperangan-peperangan antara bangsa Israel dan suku-suku bangsa sekitarnya. Demikian-

lah ada suatu negeri di sebelah Utara Israel, namanya Negeri ARAM. Negeri Aram itu bangsa kafir. Dengan bangsa itu pun acap kali Israel terlibat dalam peperangan. Di zaman nabi Elisa, ada seorang panglima tentara Aram yang bernama Naaman. Sudah beberapa kali dia memperoleh kemenangan atas Israel. Betapa terkejutlah Naaman ini, ketika pada suatu hari ia memperhatikan pada tubuhnya sendiri tanda-tanda pengenal penyakit kusta. Penyakit kusta waktu itu belum ada obatnya. Mari kita mendengarkan bacaan yang berikut tentang apa yang terjadi selanjutnya.

Bacaan 2 Raja-Raja 5:1-19a     Naaman disembuhkan

Renungan Sudah menjadi pengalaman bahwa Allah berbuat baik di dunia ini melalui orang yang setia dan tulus hati.  Kita  boleh misalnya memperhatikan GADIS

yang disebut dalam bacaan tadi. Latar belakang riwayat gadis itu dapat kita bayangkan sebagai berikut. Pada suatu waktu tentara Negeri Aram dari sebelah Utara masuk daerah Israel sambil membakar dan membunuh, merampas dan memperkosa. Dan ketika kembali ke negerinya, mereka antara lain membawa sebagai tawanan gadis muda itu. Naaman, panglima pasukan Aram, menjadikan nona itu pelayan dalam rumahnya.

Pada suatu hari nona itu memperhatikan kegelisahan Naaman, majikannya itu, dan segera juga dapat diketahuinya apa yang menyebabkan kegelisahan Naaman itu, yaitu dia berpenyakit kusta! Naaman, si panglima pemenang, berpenyakit kusta! Suatu penyakit yang pada waktu itu belum dapat disembuhkan. Gadis itu melihat dalam ingatannya terbayang kembali peristiwa Naaman masuk kampung mereka, membunuh orang yang tak bersalah, menawan orang; ibu-bapanya sendiri pun mungkin telah dibunuh di hadapan matanya sendiri, rumahnya diratakan dengan tanah. Dan ia sendiri telah ditangkap dengan kasar dan dijadikan budak di rumah Naaman. Dan sekarang Naaman itu berpenyakit kusta, penyakit yang tidak ada saingannya di antara segala pe-nyakit yang dapat menimpa manusia di bumi. Sungguh dengan jalan itu Tuhan menjalankan ke-adilan! Tuhan sendiri menyiksa Naaman atas kejahatannya! Tidakkah gadis itu mempunyai alas-an yang secukupnya untuk melompat gembira atas musibah yang menimpa Naaman? Tidakkah ia akan bersyukur kepada Tuhan, karena Dia membalas kejahatan Naaman terhadap bangsa Israel? Mari kita melihat kembali dalam teks Kitab Suci tadi kata-kata mana yang dipakai nona itu :

“Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya, istri Naaman:

Sekiranya bapak Naaman pergi ke nabi Elisa di tanah Samaria,

maka pasti nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya…”.

Mendengar kata-kata gadis itu, kita heran luarbiasa. Ternyata tidak sedikit pun ada tanda rasa dendam pada gadis itu terhadap Naaman; ia sama sekali tidak bergembira atas nasib sial Naaman itu! Sebaliknya ia turut merasa susah dan prihatin. Lalu dalam rasa sayangnya itu, ia menunjuk suatu jalan bagi majikannya untuk memperoleh kesembuhan.

Sungguh suatu contoh dari sikap dan tabiat yang amat mulia. Sungguh gadis itu dengan amat layak mewakili bangsanya, mewakili Allah sendiri di tengah-tengah bangsa kafir Aram itu: Allah yang maha belas kasih, Allah maha penyayang.

Semoga kita pun berhasil untuk menjauhkan segala kedengkian dan rasa dendam, terhadap siapa pun juga. Melainkan sebaliknya semoga kita lekas dalam hal memaafkan orang yang telah merugikan kita atau yang telah menyakiti hati kita. Sebab hanya dengan demikian kita menuruti Hati Allah yang mahabaik, yang – sebagai orang kristen – boleh kita wakili di dunia ini.

22.  SIAP UNTUK PERJAMUAN SURGAWI

Bacaan Matius 22:1-14      Perumpamaan tentang perjamuan kawin

Renungan Ada di antara para undangan yang tidak berpakaian pesta, yang tidak berusaha untuk mencocokkan diri menurut kemampuan.   Raja  itu bersikap tegas

terhadap mereka: “Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap”.

Menghadapi suatu perjamuan demikian, bukanlah hal sembarangan saja. Para undangan harus siap menurut kemampuan: harus mandi dulu, berpakaian bersih, menyisir rambut. Biar miskin, asal rapi, sebagai penghargaan bagi tuan pesta dan penghargaan satu sama lain.

Demikian pula kalau kita ingin masuk surga: kita perlu mempersiapkan diri. Kita harus belajar membiasakan diri dengan tata cara surgawi. Tata cara surgawi ialah cinta kasih sempurna. Maka perlulah kita melatih diri dalam hal cinta kasih: perhatian bagi orang lain, rela melupakan kepentingan sendiri, tahu memaafkan orang lain. Kalau tidak, maka kita dipandang tidak siap untuk masuk surga. Dan kalau namun kita mencoba masuk, maka kita akan dicampakkan keluar, ke dalam kegelapan.

Saya boleh memberikan suatu contoh sederhana. Diadakan Misa Pertama seorang Imam baru. Bukan main sikapnya dan pembicaraannya: seolah-olah ia sudah menjadi imam bertahun-tahun lamanya! Ya, dia yang belum seberapa tahun yang lalu masih anak ingusan di SD, kini sudah terlatih, sudah membuat praktek banyak sebagai persiapan akan hidupnya sebagai seorang imam.

Demikian pula kita semua harus melatih diri dalam segala keutamaan kristiani, masing-masing kita menurut kemampuan; supaya di dalam surga nanti, kita tidak merasa asing, supaya kita cocok untuk tinggal dan berbahagia di situ. Latu Raja Abadi pun merasa senang melihat betapa kita sudah melatih diri, betapa sudah kita jalankan masa praktek di bumi dengan begitu hebat, sehingga kita pantas untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Surgawi.

  1. ANUGERAH ALLAH YANG UTAMA

Sebelum Bacaan Sesudah pengalaman Pentekosta, keadaan para rasul berubah sama sekali. Yesus tidak lagi secara kelihatan bersama mereka,  namun  sejak  Pentekosta,

ROH Yesus hidup di dalam diri mereka. Dan dengan demikian, Yesus bukan hanya dekat dengan mereka, melainkan malahan hidup di dalam mereka. Seperti Santo Paulus juga mengatakan: “Bukan SAYA ini yang hidup, melainkan KRISTUSLAH yang hidup di dalam diriku”. Dalam kekuatan Roh Kudus itu para rasul mengerjakan tanda-tanda ajaib, dan mewartakan Kabar Gembira Yesus Kristus dengan penuh keberanian. Mari kita mendengarkan.

Bacaan Kisah para Rasul 3:1-26    Petrus menyembuhkan orang lumpuh

Renungan Rasanya betapa sering kita berdoa dengan percuma. Kita meminta sesuatu kepada Allah, betul-betul dengan penuh kepercayaan dan dengan tekun. Namun kita tidak memperoleh anugerah yang kita harapkan itu!

Perlu dan pentinglah kita percaya bahwa doa kita tidak pernah “hilang” begitu saja, seperti asap tertiup oleh angin. Coba lihat orang lumpuh tadi. Apa yang dimintanya? Ia minta derma, dia mengharapkan sesen-dua. Apakah ia mendapat uang? Tidak sesen pun. Tetapi apa yang diberikan kepadanya adalah sesuatu yang jauh lebih penting dan berharga bagi dia, yakni KESEMBUH-AN! Tidak lagi tubuhnya itu lumpuh! Ternyata ia memperoleh sesuatu yang berbeda dengan apa yang dimintanya. Ia memperoleh sesuatu yang tidak berani ia harapkan, sesuatu yang jauh lebih bagus daripada cuma sedikit uang.

Sering kita minta sesuatu, tetapi Allah sudah mempunyai rencana lain, suatu rencana yang jauh lebih bagus dan lebih menguntungkan. Dan karena kita minta yang kecil dan sederhana, maka yang istimewalah yang diberi kepada kita.

Suatu contoh sederhana. Seorang anak minta gula-gula kepada mamanya. Tetapi mamanya tahu gula-gula itu merusakkan gigi. Maka sebagai ganti gula-gula, mama memberikan buah-buahan kepada anaknya itu.

Demikian pula dengan pengabulan doa-doa kita. Misalnya kita minta supaya anak kita lulus da-lam ujian. Tetapi Allah pun tahu kalau dia lulus kali ini, maka ia akan merugikan masyarakat dan mempermalukan orang-tuanya, karena memang pengetahuannya belum cukup. Maka Allah memberikan apa-apa yang lain; mungkin Ia menghindarkan dia dari suatu kecelakaan atau memelihara dia dalam keadaan sehat walafiat.

Namun ada satu anugerah Allah yang amat kita butuhkan dan harus tetap kita pohonkan, ialah ROH KUDUS. Sebab Roh Kudus mengantar manusia pada jalan menuju satu-satunya tujuan yang sungguh penting, yakni persatuan dengan Tuhan dalam cinta mesra.

  1. KEBIJAKSANAAN

Sebelum Bacaan Salah satu Kitab Perjanjian Lama ialah Kitab AMSAL. Kitab itu berisikan berbagai petunjuk dan nasehat praktis untuk dilaksanakan manusia dalam hidup sehari-hari. Untuk hari ini kita pilih suatu bagian dari Kitab itu.

Bacaan Amsal 14:7-21      Jauhilah orang bebal…

Renungan Mungkin pernah dalam pelajaran agama, kita belajar suatu rangkaian empat keutamaan, yang disebut: KEEMPAT KEUTAMAAN SUSILA, yaitu:

  1. Kebijaksanaan
  2. Keadilan
  3. Kekuatan
  4. Pengendalian diri

Yang terutama di antara keempat ini ialah KEBIJAKSANAAN. Alasannya ialah: justru kebijaksanaanlah yang mengatur tiga keutamaan yang lain, bahkan mengatur seluruh hidup manusia. Kebijaksanaan bagaikan panca indera rohani untuk mengemudikan dan menjuruskan hidup ma-nusia. Sebab betapa sering kita bagaikan berdiri di sebuah persimpangan jalan. Beberapa contoh:

  • Ada orang mengucapkan kata-kata fitnah tentang saya, mereka melontarkan tuduhan yang tidak benar. Maka apa yang harus saya buat! Membantah? Atau tinggal tenang saja!
  • Contoh lain. Anak saya nakal. Saya harus marahkah? Tegur dia? Atau membiarkan saja, bahkan tertawa karena merasa lucu!
  • Ada orang mau meminjam uang dari saya. Kebetulan ada sedikit persediaan. Saya memberikannya? Atau tidak!
  • Film itu saya nonton? Buku itu saya baca? Gambar itu saya gantung di rumah?
  • Saya menerima gaji; bagaimana caranya mempergunakan uang itu dengan sebaik-baiknya!
  • Dan seterusnya…

Apabila kita membaca Injil, betapa sering kita melihat Yesus sebagai contoh kebijaksanaan yang sempurna! Dan betapa sering melalui banyak contoh dan perumpamaan Yesus mengajarkan kita kebijaksanaan! Kami menyebutkan saja beberapa contoh :

  • Yesus bercerita tentang seorang yang mendirikan rumahnya di atas pasir: bodoh dia! Seba-liknya bijaksanalah orang yang membangun rumah di atas wadas.
  • Sepuluh orang gadis harus menyongsong mempelai laki-laki pada waktu malam hari dengan lampu bernyala. Tetapi betapa bodoh lima di antara mereka. Sebab memang mereka membawa lampu, tetapi tidak membawa minyak.
  • Yesus menceritakan juga mengenai seorang yang mendirikan pos jaga di kebun anggurnya; tetapi ia tidak dapat menyelesaikannya. Lalu orang lain menertawakan dia karena kebodoh-annya.
  • Atau tentang orang yang diundang pada suatu perjamuan. Orang itu langsung pergi duduk di tempat utama. Tentu kemudian ia dapat malu, karena di hadapan umum ia diminta mengo-songkan tempat itu.
  • Lagi tentang seorang yang ladangnya menghasilkan panen luarbiasa besarnya. Lalu ia meng-ambil keputusan untuk membuat gudang besar untuk menyimpan segala hasil itu supaya dapat hidup dengan tenang-tenang selama beberapa tahun, tanpa kerja. Padahal pada malam itu juga ia mati.
  • Lagi pula tentang seorang yang diberi tanggung jawab atas uang sebanyak satu talenta. Dia menggali lubang di tanah, lalu menyimpan uang itu di situ, menjadikannya modal mati.
  • Yesus memberi juga contoh-contoh mengenai orang yang bertindak secara bijaksana. Misalnya seorang yang ladangnya dicampuri benih rumput; ia tidak mau rumput itu langsung dicabut. Dengan tinggalnya rumput itu, gandum juga aman.

Demikian, pada setiap halaman Injil, Tuhan mengantar kita ke arah kebijaksanaan dalam meng-atur hidup kita. Maksudnya supaya kita dapat mengambil keputusan dan menentukan sikap yang tepat, baik dalam hal-hal kecil maupun dalam hal besar.

Kita ingin menjadi orang bijaksana. Kebijaksanaan itu akan mengarahkan seluruh hidup kita, menjadikan kita orang tenang dan berwibawa, tempat sandaran dan pelabuhan aman bagi orang yang masih membutuhkan bimbingan. Dan kalau kita sudah berniat demikian, mari dengan tabah hati kita mengusahakannya, dalam kepercayaan bahwa Tuhan akan merestui niat kita itu.

Tentu dalam hal itu kita lebih-lebih memperhatikan teladan dan perkataan Yesus. Tetapi jangan segan-segan juga melihat teladan orang-orang tertentu di sekitar kita, yang ternyata sudah sampai suatu taraf kebijaksanaan yang mantap. Semoga Allah Roh Kudus, sumber segala kebijaksanaan, menyertai kita.

  1. PERHATIKAN SEMUT

Bacaan Amsal 6:1-11     Berbagai-bagai nasehat

Renungan Berkatalah raja Salomo dalam Kitab Amsal :

“Hai pemalas, pergilah kepada semut,

perhatikan lakunya, dan jadilah bijak!”

Memang kita belum pernah melihat seekor semut duduk santai atau berbaring tidur. Seekor semut selalu bergerak, selalu aktif. Binatang yang amat kecil itu dalam Kitab Suci diambil sebagai CONTOH bagi manusia, karena semut itu begitu rajin melaksanakan tugas-tugasnya. “Perhatikanlah semut, dan jadilah bijak!” Memang bijaksanalah rajin bekerja. Santo Paulus berkata:

“Siapa yang tidak bekerja,

dia pun tidak berhak untuk makan!”

Pernah ada seorang bapak berputra dua anak muda. Bapak itu mau berangkat untuk suatu perjalanan jauh, yang akan makan waktu satu bulan. Kepada kedua anaknya itu, sebelum ia berangkat, diberikannya sebilah parang, kepada masing-masing satu parang yang masih baru, yang kuat dan berat. Dan berkatalah ia kepada mereka: “Bila nanti saya kembali, kamu masing-masing harus menunjukkan kepadaku parang-parang itu!”

Sebulan kemudian pulanglah bapak itu dari perjalanannya. Maka anak yang tua memperlihatkan parangnya. Parang itu masih bagus seperti ketika ia menerimanya dari ayahnya. Berkatalah ia dengan bangga: “Bapa, parang yang Bapa berikan ini, telah saya balut dalam sehelai kain, dan selama ini dengan cermat saya simpan dalam peti”.

Lalu adiknya datang menghadap ayahnya, ia hampir menangis, sebab hulu dari parang itu telah pecah dan pada besi pun ada sedikit kerusakan. Berkatalah dia: “Bapa, parang ini sudah tidak lagi sebagus seperti ketika Bapa mempercayakannya kepada saya. Saya minta ribuan maaf”.

Tidak sukar kita menebak anak mana yang dipuji oleh Bapak itu: tentu anak yang kedua, yang bungsu itu, sebab ternyata dia telah BEKERJA dengan parang itu; dia mengerti bahwa sebilah parang bukannya suatu barang untuk disimpan di dalam peti melainkan untuk dimanfaatkan.

Tuhan mempercayakan bumi ini kepada kita supaya kita olah. Tuhan memberi tugas kepada kita. Pekerjaan itu adalah suatu PANGGILAN. Pekerjaan itu pun sewajarnya adalah sumber kegembiraan. Kasihan orang yang selalu mengalami pekerjaan sebagai suatu siksaan! Mungkin pada masa tuanya, bila sudah tidak kuat bekerja lagi, mungkin pada waktu itu baru orang itu akan sadar. Ia akan menyesal bahwa ia tidak menimba lebih banyak kegembiraan dari pekerjaannya yang sehari-hari itu !

Semoga Tuhan memperkuat tenaga dan daya tahan kita. Semoga Tuhan juga memberi berkat dan hasil baik atas segala karya kita.

  1. DOA PERMOHONAN

Bacaan 2 Raja-Raja 5:1-16      Naaman disembuhkan

Renungan Dalam pelbagai sengsara dan kesusahan hidup, kita menaruh harapan dan kepercayaan kita  pada  Allah.  Mungkin sering kita memakai cara yang dipa-

kai oleh Naaman si panglima itu. Ia biasa memberikan perintah-perintah, dan ia sangka bahwa ia dapat memesan caranya Allah harus menyembuhkan dia. Menurut dia, nabi Elisa perlu datang keluar dari rumahnya dan berdiri di situ sambil menyerukan nama Allah Israel. Kemudian (menurut Naaman) Elisa harus menggerak-gerakkan tangannya pada tempat penyakit kusta itu, dan dengan demikian menyembuhkan penyakitnya. Dan karena semua itu tidak terjadi, maka Naaman kecewa, seperti seorang pasien kecewa kalau hanya diberi pil, sedangkan ia berharap akan disuntik! Namun jelaslah bukan dialah yang menentukan obat atau cara pengobatan, melainkan dokter atau perawat.

Demikian pula kita harus selalu berserah saja kepada Tuhan, CARA MANA Tuhan akan mengabulkan doa permohonan kita. Dan bila kita merasa bahwa doa kita sama sekali tidak dikabulkan, maka baiklah kita perhatikan: mungkin dengan suatu cara LAIN Allah sudah mengabulkan permohonan kita!

Tidak dapat dibenarkan juga bila kita minta orang lain mendoakan maksud kita, sedangkan kita sendiri tinggal pasif saja. Yesus berkata:

“Jika kamu TINGGAL DALAM AKU,

maka mintalah apa saja dan kamu akan menerimanya”.

Kita harus tinggal dalam Tuhan. Berarti bersatu dengan Tuhan, dengan hati yang bersih, dengan cinta besar, dengan kelakuan yang baik. Jadi janganlah kita minta Misa, sedangkan hati kita kotor, ataupun kita sendiri tidak ikut sembahyang!

Akhirnya, ada sebuah cerita pendek dari zamari dahulu; di dalamnya mau dijelaskan bahwa ja-ngan kita mengharapkan saja orang LAIN mendoakan maksud kita, melainkan kita SENDIRI pun harus aktif berdoa. Begini ceritanya:

Pernah ada seorang pertapa yang hidup sendirian dengan berdoa dan berpuasa dan banyak bermati raga. Namahya Antonius. Pada suatu hari ia didatangi oleh seorang perwira tinggi bernama Martinianus. Dia mengantar anak perempuannya yang disiksa oleh setan. Lama sekali perwira itu berdiri mengetuk pintu pondok tempat kediaman Antonius. Ia berseru dan meminta agar Antonius keluar untuk berdoa kepada Allah demi kesembuhan putrinya yang sakit itu. Tetapi Antonius tidak mau membuka pintu. Akhirnya berserulah Antonius dari dalam: “Bapak! Mengapa kamu memanggil aku! Aku manusia seperti kamu. Jika kamu pun percaya kepada Kristus yang ku-abdi, maka pergilah dan berdoalah sendiri supaya terjadi apa yang kamu harapkan”. Perkataan itu diterima oleh perwira itu. Ia berdoa kepada Tuhan pada saat itu dan di tempat itu juga. Dan Tuhan berkenan mengabulkan permohonannya itu: putrinya jadi sembuh.

  1. SANTO LUKAS

Sebelum Bacaan Santo Lukas adalah salah satu dari keempat pengarang Injil. Ada dua hal yang menyolok pada Injil Lukas bila kita membandingkannya dengan ketiga Injil yang lain, yaitu:

Pertama, Lukas – lebih daripada penginjil-penginjil yang lain – memberitahukan tentang masa kanak-kanak Yesus dan mengenai Bunda Maria. Sehingga malah kita bertanya-tanya: apakah mungkin Lukas telah mengenal Maria dan telah berwawancara dengan dia tentang masa muda Yesus?

Kedua, yang menyolok juga dalam Injil Lukas – dibandingkan dengan ketiga Injil yang lain – ialah perhatiannya untuk orang-orang sederhana, orang yang tertindas, orang yang menderita.

Mari kita mendengarkan suatu bagian dari Injil Lukas, di mana ia menceritakan kembali suatu perumpamaan Yesus, menampilkan seorang janda miskin. Janda itu memperjuangkan haknya dengan perantaraan seorang hakim yang lalim.

Bacaan Lukas 18:1-8     Perumpamaan tentang hakim yang tak benar

Renungan Dalam Injil Lukas 6:13-16 disebut nama-nama para rasul yang berjumlah dua belas orang itu.  Nama  Lukas  sendiri tidak termasuk di antaranya.  Memang

Lukas bukan seorang rasul Yesus. Ia tidak termasuk kelompok khusus dua belas orang itu. Ia baru mendengar tentang Yesus dan menjadi seorang kristen atas pewartaan Paulus. Namun dalam Injilnya ia menampilkan Yesus seakan-akan ia telah mengenal Dia dari dekat.

Dalam Injilnya kita mulai mengenal Yesus sebagai seorang yang penuh kasih sayang, lebih-lebih bagi orang kecil, bagi orang yang tak berdaya, bagi orang yang diremehkan dan dianggap tidak penting, seperti janda dalam bacaan tadi.

Dari manakah Lukas mengetahui itu semua! Ia sendiri menjawab pertanyaan itu dalam kata pembukaan Injilnya, yaitu dalam bab 1, ayat 3. Beginilah:

“Aku telah menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya”.

Lukas telah berwawancara dengan banyak orang yang telah mengenal Yesus. Ia pun mempunyai satu eksemplar dari Injil Markus. Dan dengan memakai semua bahan itu, ia menyusun Injilnya yang amat indah itu.

Dan setelah selesai menulis Injil, ia masih melaporkan terus lagi dalam sebuah kitab lain. Kitab itu berjudul “Kisah Para Rasul”. Terdapat sebagai Kitab yang kelima dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Gaya bahasa pun bagus. Dan hal ini tidak mengherankan, sebab Lukas adalah seorang yang terdidik. Ia  seorang dokter.

Beberapa kali ia pun termasuk team pengantar rasul Paulus, menjelajahi daerah-daerah yang luas.

Dan pasti Lukas sendiri pun membuat apa yang ia dengar tentang Yesus: Lukas sendiri pun memperhatikan orang-orang sakit, orang terlantar dan orang miskin.

Sangat indah khususnya beritanya tentang kelahiran Yesus dan semua peristiwa sebelum dan sesudahnya. Hanya dari Injil Lukas kita mengetahui tentang kabar gembira malaikat Gabriel kepada Bunda Maria, tentang kunjungan Maria kepada saudaranya Elisabet, tentang gembala-gembala di padang Betlehem, tentang persembahan Kanak-Kanak Yesus di dalam Bait Allah di Yerusalem, ketika Simeon yang sudah tua itu meramalkan derita yang akan menimpa diri Maria. Hanya dari Injil Lukas kita mengetahui tentang kecemasan Yosep dan Maria ketika mencari Anaknya selama tiga hari, sampai menemukan-Nya kembali di dalam Bait Allah.

Kita tidak tahu cara Lukas meninggal. Rupanya pada usia tua ia tinggal di Negeri Yunani dan meninggal di sana pada umur 84 tahun.

Kita bersyukur kepada Tuhan atas hidup dan karya Santo Lukas. Dan mari kita ingat: Lukas memang menggambarkan hidup, karya dan perkataan Yesus dengan pena. Namun barangkali di hadapan Tuhan malah lebih penting, bahwa ia sendiri pun menjadi injil yang hidup. Dalam diri Lukas itu, orang dapat mengenal hidup dan karya serta pribadi Yesus. Itu pun menjadi panggilan kita semua. Mari kita juga menulis kembali Injil Yesus, dalam hidup dan karya kita setiap hari.

  1. DIUTUS OLEH YANG MAHAKUDUS

Sebelum Bacaan Musa dibesarkan oleh puteri Firaun, raja Mesir. Namun setelah menjadi dewasa,  Musa tahu  bahwa dia bukan orang Mesir,  melainkan  seorang  Ibrani,

dan bahwa orang-orang sebangsa – kaum Ibrani – sedang ditindis oleh orang-orang Mesir. Mereka sudah dijadikan budak dan harus melaksanakan pekerjaan berat tanpa upah. Imbalannya ialah bahwa mereka dipukul, disiksa, dianiaya.

Pernah terjadi Musa menyaksikan bahwa seorang mandur Mesir memukul babak-belur seorang Ibrani. Maka Musa menjadi amat marah, lalu ia membunuh orang Mesir itu. Maka meluaplah amarah Firaun terhadap Musa, sehingga terpaksa Musa melarikan diri ke padang gurun. Sesudah perjalanan jauh, ia sampai di tanah Midian, dekat gunung Sinai. Di situ ia menumpang pada se-orang gembala setempat bernama Yitro, dan kemudian kawin dengan seorang puterinya.

Pada suatu hari ia sedang menggembalakan domba-domba mertuanya sampai di kaki gunung Sinai. Mari kita mendengar apa yang terjadi di situ.

Bacaan Keluaran 3:1-12      Adapun Musa…

Renungan Musa melihat nyala api keluar dari semak duri; namun heran: sekalipun me-nyala,semak duri itu tidak terbakar. Ketika ia mendekat untuk melihat apa se-

benarnya terjadi di situ, maka Allah berseru dari dalam semak duri itu: “Musa! Jangan dekat-dekat! Tanggalkan kasut dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu, ada tanah yang kudus”. Lalu Suara itu memperkenalkan diri sebagai Allah yang disembah oleh nenek-moyang Musa ialah Abraham, Ishak dan Yakub. Allah telah memperhatikan kesengsaraan umat-Nya di tanah Mesir dan hendak melepaskan mereka dari tangan para penindis mereka. Ia menugaskan Musa untuk membawa umat-Nya keluar dari tanah Mesir.

Musa sangat ketakutan. Dia pun merasa tidak mampu untuk tugas berat yang mau dibebankan kepadanya. Katanya: “Tuhan, ambillah seorang lain untuk tugas yang teramat berat itu! Apalagi tidak kuketahui nama Tuhan. Tuhan siapakah Engkau?” Lalu Allah menjawab: “Nama-Ku ialah Yahwe. Dan engkau harus melaksanakan tugas yang Kuberi itu; kakakmu Harun akan membantu dikau”. Maka Musa akhirnya terpaksa menerima perutusan itu. Ia pun terpesona karena nama Allah itu. Yahwe berarti: “Aku adalah Aku” atau juga: “Aku ada”. Berarti: selain Aku tiada allah atau dewa lain. Maka segera juga ia merasa aman untuk melayani satu-satunya Allah itu. Yahwe itu akan mendampingi dia. Apa yang akan Musa buat, dengan demikian adalah karya Allah melalui dia.

Tidaklah lain kita ini yang percaya akan Allah, yang dibaptis dan telah menerima Sakramen Krisma, diutus untuk bertanggung jawab atas sesama, mengantar sesama keluar dari perbudakan dosa. Suatu tugas yang tak mudah bagi kita yang lemah ini. Tetapi seperti Musa percaya akan pendampingan Allah, demikian pula kita mau menerima tugas itu, dalam kesadaran bahwa itulah karya Allah – yang akan memantapkan serta mendampingi kita.

AGUSTUS
  1. SANTO YOHANES MARIA VIANNEY (4 Agustus)

Bacaan Yohanes 12:20-27     Yesus memberitakan kematian-Nya

Renungan Berkatalah Yesus:

“Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikuti Aku;

dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada”.

Salah seorang yang telah mengerti dan mempraktekkan dengan sepenuhnya tuntutan-tuntutan Yesus terhadap seseorang yang dipanggil-Nya, ialah Santo Yohanes Maria Vianney, lebih dikenal sebagai Santo Pastor dari Ars. Mari kita mendengarkan sekilas riwayat hidupnya.

Yohanes Maria Vianney dilahirkan di Negeri Perancis dalam tahun 1786. Orang-tuanya adalah petani. Pendidikan menuju imamat sangat sendat. Namun akhirnya ia ditahbiskan juga berkat kesucian dan keteguhan hatinya. Karena kurang pandai, ia mula-mula tidak diperkenankan mende-ngarkan pengakuan dosa. Akhirnya ia diangkat menjadi pastor paroki di desa Ars di Negeri Pe-rancis Selatan. Ia menetap di sana selama 40 tahun, hingga akhir hidupnya, dan ia mengabdikan seluruh jiwa raganya demi kepentingan umat. Ia menjadi terkenal sebagai seorang bapak peng-akuan yang luarbiasa. Puluhan ribu orang dari seluruh Negeri Perancis dan juga dari luar negeri, mengunjungi desa Ars untuk mengakukan dosa-dosa mereka kepada pastor itu. Dan memang, pastor Vianney menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mendengarkan pengakuan, kadang-kadang sampai 18 jam sehari! Di mimbar, kata-katanya selalu kena, dan sebagai pengkhotbah ia sangat tegas. Tetapi di tempat pengakuan ia membuktikan diri penuh pengertian dan mempunyai daya yang luarbiasa untuk mengantar orang kepada pertobatan yang sejati. Bahkan sering kali ternyata ia mengetahui hal-hal yang tidak diakui orang atau bahkan hal-hal yang kemudian baru terjadi.

Tentu setan tidak senang dengan seorang yang sesuci ini. Maka sering kali di waktu malam hari dia datang mengganggu pastor itu, sehingga ia tidak dapat tidur oleh karena keributan besar yang disebabkan oleh setan itu. Tetapi pastor Vianney sudah tahu: selalu sesudah suatu malam penuh keributan, akan datanglah pada siang hari seorang pendosa berat yang ingin bertobat.

Sebagai manusia lemah, pastor Vianney sewaktu-waktu merasa tugasnya terlalu berat. Tiga kali ia meninggalkan Ars dengan maksud untuk hidup tersembunyi di sebuah biara. Tetapi tiap kali ia dibujuk kembali oleh umatnya, dan akhirnya ia meneruskan karyanya sampai meninggal pada umur 73 tahun.

Demikian dengan singkat riwayat hidup dari Santo Yohanes Maria Vianney, Pastor dari Ars yang terkenal itu. Mari kita mendoakan khususnya para pastor paroki, yang ia menjadi pelindungnya, agar mereka pun dijiwai oleh semangat Yesus sehingga dapat melayani para umatnya dengan pengabdian total seperti dibuat oleh Santo Yohanes Maria Vianney.

  1. ALLAH MENYATAKAN DIRI KEPADA YANG RENDAH HATI

(Tanggal 6 Agustus: Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya)

Bacaan Markus 9:2-8    Yesus dimuliakan di atas Gunung

Renungan Pernah hiduplah seorang raja bernama Ibrahim. Dia selalu dengan sungguh hati mencari Tuhan, namun tidak berhasil menemukan-Nya. Ia sangat men-derita karenanya.

Pada suatu malam ia mendengar seorang sedang berjalan di atas atap istananya. Ia bangun dari tempat tidurnya untuk menyelidiki siapa gerangan pada tengah malam berjalan di atas atap rumahnya. Ternyata seorang kawan karib. Bertanyalah raja Ibrahim kepada kawannya itu: “Apa yang kaucari di atas atap rumahku!” Jawab orang itu: “Aku mencari unta-unta!” Maka berserulah raja: “Betapa bodoh mencari unta di atas atap sebuah rumah!” Maka jawab kawannya: “Dan betapa bodoh mencari Tuhan sambil duduk di singgasana!”

Kepada siapa Allah menyatakan diri? Kepada yang kaya? Kepada yang angkuh hati? Kepada yang penting di mata dunia? Tidak! Allah menyatakan diri kepada para gembala di Betlehem, kepada rakyat kecil di Galilea dan Yudea, kepada orang hina di Samaria.

Yang boleh memandang Yesus dalam kemuliaan-Nya di gunung Tabor bukanlah orang-orang besar seperti Pilatus, Herodes Antipas, Hanas atau Kayafas, melainkan tiga orang sederhana yang tidak terpelajar, tiga orang yang biasa.

Maria sudah mengetahui hal itu ketika ia menyanyikan lagu pujiannya di rumah Zakaria dan Elisabet. Ia berkata:

“Allah mencerai-beraikan orang yang congkak hati,

Ia menurunkan yang berkuasa dari takhtanya.

Orang yang kaya Ia suruh pergi dengan tangan kosong”.

Pada tanggal 6 Agustus dalam Liturgi Gereja dirayakan peristiwa di gunung Tabor itu. Kita pun rindu memandang Yesus dalam kemuliaan-Nya, biar bukan di dunia ini, asal di akhirat kelak. Tetapi jangan kita mencari unta di atas sotoh rumah, jangan kita mencari Tuhan sambil duduk di atas singgasana kita berupa kebanggaan diri, melainkan kita harus mengakui diri kecil dan tak berarti. Maka, seturut perkataan Maria juga: Allah akan melakukan kepada kita perbuatan-perbuatan agung.

  1. BESAR KARENA KECIL

(Tanggal 6 Agustus: Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya)

Bacaan Matius 17:1-13     Yesus dimuliakan di atas Gunung

Renungan Gunung Tabor letaknya tidak seberapa jauh di sebelah Selatan desa Nazaret. Nazaret adalah kampung tempat Yesus dibesarkan.

Rupanya saat itu, di gunung Tabor, Yesus baru sungguh BESAR. Hanya satu kali itu Yesus ber-kenan memperlihatkan kemuliaan-Nya kepada orang-orang pilihan-Nya. Tetapi segera sesudahnya, Yesus menjadi biasa kembali. Tentu saja iman-kepercayaan Petrus, Yohanes dan Yakobus sangat diperkuat oleh peristiwa ajaib itu. Apakah dengan jalan ini mereka pun mulai mengerti di mana sebenarnya letaknya kebesaran Yesus? Yaitu bahwa kebesaran-Nya bukan terletak pada sinar cahaya yang keluar daripada-Nya, melainkan terletak pada kesederhanaannya.

Pengarang Injil Santo Lukas melaporkan bahwa pada suatu waktu terjadi pertengkaran antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang dapat dianggap yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Yang terbesar di antara kamu, hendaklah menjadi seperti yang paling muda, dan pemimpin harus menjadi seperti pelayan”.

Dan dalam Injil Yohanes kita membaca bahwa Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Kemudian Yesus menjelaskan maksud perbuatan-Nya itu. Kata Yesus: “Jika Aku membasuh kaki-mu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu”. Berarti: rela untuk melayani, rela untuk menjadi kecil dan sederhana.

Kalau Yesus bersifat kecil, sederhana dan rendah hati, bagaimana mungkin kita – orang berdosa – berani menganggap diri orang besar dan penting! Kata Yesus: “Seorang hamba tidak lebih tinggi daripada majikannya”.

Kembali ke peristiwa di gunung Tabor. Mungkin ketiga murid terpilih itu membandingkan kedua penampilan Yesus itu. Yaitu dari satu segi: Yesus orang yang biasa dan sederhana, asal-Nya dari sebuah kampung yang hina, yaitu Nazaret. Dan dari segi lain: Yesus yang mulia, yang disinari cahaya ilahi di puncak gunung Tabor. Lalu mereka bertanya diri: inikah orang kecil, yang sanggup membikin diri besar? Ataukah ini sebetulnya seorang besar yang membikin diri kecil!

Pada saat itu mereka belum sadar bahwa kedua dugaan itu salah. Mari kita ini mengerti dengan setepatnya: yang besar di mata manusia, tiada arti di mata Allah. Yang kecil dan hina sebaliknya, dipandang Allah BESAR dalam dirinya sendiri.

  1. MARIA DIANGKAT KE SURGA (15 Agustus)

Bacaan Lukas 1:39-56      Maria dan Elisabet

Renungan Sungguh besarlah karya Tuhan dalam diri Maria. Karena itu pun ia laksana fajar zaman baru.  Kerinduan  bangsa  Israel akan Penebus mencapai puncak-

nya dalam gadis Nazaret itu. Sungguh Allah memperhatikan kerendahan hamba-Nya itu. Ia   mengutamakan Maria daripada Abraham, Ishak dan Yakub, daripada Musa, Daud dan semua raja dan nabi. Mereka semua merindukan kedatangan Allah melalui utusan-Nya. Tetapi Marialah yang diperkenankan untuk menjadi mempelai Allah Roh Kudus, untuk mengandung Putra Allah dan melahirkan-Nya, membesarkan Dia dan mendampingi Dia pada saat Ia menebus bangsa manusia.

Dan kalau kita membandingkan Maria dengan tokoh-tokoh Perjanjian Baru, maka memang ia bukanlah seorang pewarta pertobatan seperti Yohanes Pemandi; ia pun tidak menjelajahi banyak daerah seperti rasul-rasul, tidak juga menulis Berita Gembira seperti para Pengarang Injil… Tetapi di mana saja Yesus diwartakan, Ia pun dikenal sebagai orang yang lahir dari seorang ibu bernama MARIA, yang disebut “bahagia” oleh segala keturunan bangsa manusia.

Konsili Yatikan II minta kepada Umat Katolik agar memandang Maria begini: bahwa bagi sekalian pengikut Kristus, Maria menjadi contoh iman dan cinta kasih, contoh persatuan sempurna dengan Kristus. Demikianlah kita masing-masing dan kita bersama sebagai Gereja Allah, harus menjadi penuh akan iman, cinta kasih dan persatuan dengan Kristus.

Beberapa abad yang lalu dikatakan oleh seorang pertapa bernama Ruusbroec, seorang pujangga mistik:

“Maria adalah kehangatan, kelembutan dan kewanitaan

dari inti satu-satunya agama yang tidak telah dibuat oleh manusia”.

Dalam diri Maria, gadis Nazaret yang sederhana itu, Allah memperlihatkan kuasa-Nya dan ke-baikan-Nya. Maria telah mengimani semuanya itu, ia telah menyetujui dan menuruti segala rencana Allah dengan sempurna. Karena itu kita menghormati dia, dan bersama dengan dia kita memuliakan Allah, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan kita, umat-Nya yang terpilih.

  1. HARI INI ADALAH KUDUS BAGI TUHAN

(Tanggal 17 Agustus: Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia)

Bacaan Nehemia 8:10-13     Lalu Nehemia, yakni kepala…

Renungan Kembali dari pembuangan di Babel, orang-orang Yahudi memulai suatu kehidupan baru.  Mereka mendengar undang-undang dibacakan,  yang tujuh ra-

tus tahun lebih dahulu telah ditetapkan oleh Musa, hamba Allah. Mereka terharu, sebab mereka kini sudah hidup kembali dalam negerinya sendiri di bawah undang-undangnya sendiri.

Tadi dalam bacaan kita mendengar mereka diberi ajakan oleh Ezra dan Nehemia, para pemimpinnya, dengan kata-kata ini:

“Hari ini adalah KUDUS bagi Tuhan, Allahmu.

Jangan kamu berdukacita;

Pulanglah ke rumahmu,

makanlah makanan yang enak

dan minumlah minuman yang manis”,

Hal sejenis kita alami pada tanggal 17 Agustus: suatu hari untuk bersyukur dan bergembira, suatu hari yang kudus, karena kita yakin bahwa dalam memperjuangkan kemerdekaan, Tuhan ada di pihak kita. Dan kalau kita setia kepada-Nya, maka Ia senantiasa akan mendampingi kita, menjadikan negara kita aman sentosa dan nyaman untuk didiami.

Perebutan kemerdekaan itu dan juga usaha untuk mempertahankannya, tidak terjadi tanpa penumpahan darah. Dan di mana darah tertumpah, di situ pun dicucurkan air mata. Tetapi kita tidak tetap dalam dukacita. itu. Karena dari gugurnya para pahlawan berkembanglah suatu negeri yang merdeka dan berdaulat, dengan undang-undang yang adil, dengan suatu bangsa yang de-ngan penuh percaya diri mengarahkan diri ke masa depan, dan dalam pada itu mengimani dengan teguh Allah, Pembebasnya.

Sungguh kita mempunyai alasan untuk bersyukur kepada Tuhan. Bahkan boleh kita tingkatkan rasa syukur dan gembira kita. Sebab kalau kemerdekaan nasional sudah begitu berharga bagi kita, maka betapa LEBIH akan kita hargakan suatu kemerdekaan lain, suatu kemerdekaan yang menjadi suatu kekayaan kita untuk selamanya. Hidup di dunia ini adalah hanya pengantar untuk hidup abadi. Bumi ini cuma pendopo untuk Rumah Abadi, yaitu surga. Pengorbanan para pahlawan negara menyadarkan kita akan pengorbanan Sang Pahlawan yang tidak mengenal suatu kelemahan sedikit pun, yaitu Yesus Kristus.

Karena itu, mari kita bersyukur dan bergembira dalam Tuhan, sebab sungguh kita boleh menerapkan kata-kata Maria pada kita:

“Jiwaku memuliakan Tuhan…

karena yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku”.

  1. MENGABDI KEPADA NEGARA

(Tanggal 17 Agustus: Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia)

Sebelum Bacaan Pada tanggal 17 Agustus kita rayakan Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia.  Apakah sebetulnya suatu  “negara”?  Suatu negara adalah suatu per-

satuan manusia berdasarkan kesamaan teritorium, yang bersama-sama mengusahakan kesejah-teraan bagi sekalian. Kesejahteraan itu menjadi tanggung jawab baik dari pimpinan negara maupun dari rakyat.

Rakyat berhak atas pelayanan yang tepat, jujur dan bijaksana dari pimpin-annya. Pimpinan pada gilirannya berhak atas pengertian baik, loyalitas dan kerja sama yang erat antara para warga negara sekalian. Kepemimpinan yang tepat, pengertian yang baik, persetujuan atas UUD dan Garis Besar Haluan Negara, hanya dapat terwujudlah dalam semangat saling menerima, saling melayani, bahu-membahu dalam menghadapi masalah-masalah dan hal-hal yang tidak enak justru demi kesejahteraan bahkan kemakmuran bersama. Tentu saja ini merupakan sesuatu yang ber-kenan di hati Allah, seperti menjadi jelas juga dari bacaan yang berikut.

Bacaan 1 Petrus 2:13-17     Tunduklah, karena Allah…

Renungan Kesejahteraan rakyat sangat tergantung dari pribadinya dan tingkah laku ke-pala negara dan para kepala pemerintahan di tiap-tiap tempat.  Memang  –  di

negara apa pun juga –  jarang terdapatlah orang pahlawan di antara para pimpinan itu. Mereka pun sering manusia yang lemah seperti kita sekalian. Dan kita harus mendoakan mereka, supaya dalam memangku jabatannya itu, mereka selalu bertujuan kepentingan negara.

Yesus pun kita akui dan hormati sebagai RAJA. Dia itu menyerahkan nyawa-Nya untuk menyelamatkan para warga Kerajaan-Nya. Dan dalam sejarah dapat juga ditunjuk pemimpin-pemimpin jasmani yang amat berkorban demi keselamatan rakyat.

Ada suatu cerita yang berasal dari Negeri Tiongkok yang kuno, tentang seorang pejabat tinggi bernama GAW HONG. Gaw Hong dikirim oleh Kaisar ke Pulau Taiwan untuk memerintah di sana. Pulau Taiwan waktu itu didiami oleh suatu suku bangsa yang ganas. Mereka biasa mempersembahkan manusia kepada dewa-dewa mereka yang kejam. Adapun Gaw Hong memerintah mereka dengan adil dan baik. Rakyat amat senang dan menganggap dia sebagai seorang sahabat. Tetapi suatu kekejian di mata Gaw Hong ialah kebiasaan masyarakat itu untuk mempersembahkan korban manusia, maka ia coba meyakinkan mereka untuk berhenti dengan kebiasaan yang amat buruk itu.

Akan tetapi mereka takut akan dewa-dewa mereka. Namun akhirnya permintaan Gaw Hong disetujui. Tetapi pada tahun itu juga panen mereka gagal. Mereka mengira bahwa dewa-dewa menyiksa mereka karena tidak telah mempersembahkan korban manusia. Maka para kepala suku meminta izin kepada Gaw Hong untuk satu kali lagi mempersembahkan darah manusia. Jawab Gaw Hong: “Dengarlah! Seandainya kamu diizinkan sekali lagi mempersembahkan manusia, be-ranikah kamu bersumpah bahwa ini sungguh terakhir kalinya kamu berbuat demikian?” Jawab mereka: “Ya, kami bersumpah!” Kata Gaw Hong dengan sedih: “Baiklah! Saya sendiri akan mengurus korbannya, yang akan menunggui kamu dalam hutan. Ia akan berdiri terikat pada pohon cemara yang keramat”.

Malam harinya para kepala suku, para tukang sihir serta sekelompok prajurit masuk hutan, menuju ke pohon cemara yang keramat itu. Di situ mereka menemukan korban terikat pada pohon tersebut, seluruhnya dibungkus dalam kain merah. Para prajurit mengambil jarak, menarik tali busurnya, kemudian dengan serentak melepaskan anak-panahnya. Tubuh korban itu ditembusi dengan anak-panah. Segera tipa dipukul dan rakyat berkumpul untuk mempersembahkan kor- ban. Ketika semua terkumpul, maka kain merah ditarik keluar dari si korban. Begitu dilihat wajah manusia yang sudah mati itu, maka kegemparan dan tangisan memecah udara. Berteriaklah mere-ka: “Apa yang telah kita perbuat! Gaw Hong telah kita bunuh!”

Seorang ketua adat angkat bicara kepada rakyat yang berdiri di situ sambil menangis. Berkatalah ia: “Saksikanlah apa yang telah dibuat oleh pemimpin kita Gaw Hong! Dia itu yakin bahwa mempersembahkan manusia itu adalah perbuatan jahat. Maka ia memberikan dirinya sendiri, ia mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkan kita dari kejahatan itu!”

  1. SANTA MONIKA, PAHLAWAN RUMAH TANGGA (27 Agustus)

Sebelum Bacaan Pada tanggal 27 Agustus Gereja merayakan pesta Santa Monika. Santa Mo-nika menjadi terkenal sebagai ibu dari Santo Agustinus. Rasanya, Monika su-

dah kehilangan putranya Agustinus itu, sebab dia itu masuk salah jalan, menjauhkan diri dari Gereja, menjauhkan diri dari Tuhan. Ketika akhirnya Agustinus bertobat, maka bagi Monika terasalah seakan-akan anaknya itu bangkit kembali dari kematian. Rasanya seperti seorang ibu – menurut kita baca dalam Injil – yang anaknya dihidupkan kembali oleh Yesus.

Bacaan Lukas 7:11-17       Yesus membangkitkan anak muda di Naim

Renungan Santa Monika hidup di benua Afrika, yakni Afrika Utara. Ia hidup di zaman kuno, tiga abad sesudah Yesus. Bila terhitung dari sekarang, ia hidup kurang-

lebih enam belas abad lalu. Namun apa yang dialaminya, tidak terlalu asing bagi kita. Seakan-akan bisa terjadi saja di dalam abad kita ini.

Dengan sepatutnya Santa Monika kita gelari pahlawan rumah tangga, sebab ia mempunyai pe-ranan yang kuat dalam lingkup keluarganya. Ia tetap peka terhadap hal-hal yang menyangkut kesejahteraan keluarga, baik dari segi jasmani maupun dari segi rohani.

Namun banyak kesulitan haruslah ia hadapi! Suaminya tidak menghiraukan agama; ia pun tidak setia kepada istrinya. Di samping itu ibu mertuanya sering datang mencaci maki dia. Dan yang paling berat baginya ialah kelakuan buruk anaknya yang ketiga bernama Agustinus. Sewaktu Agustinus mengikuti kuliah di Perguruan Tinggi, maka ia di bawah pengaruh kawan-kawan yang tidak baik, lalu melepaskan imannya dan menjalankan suatu kehidupan yang diabdikan kepada dosa. Sambil mencucurkan air mata, Monika menghadapkan segala deritanya kepada Tuhan. Dan ia tetap melaksanakan tugas kewajibannya setiap hari dengan sabar dan teguh.

Syukurlah akhirnya suaminya menjadi sadar akan kesalahan-kesalahannya. Atas doa Monika, Tuhan meneguhkan hatinya, sehingga ia menertibkan hidupnya. Maka dengan makin mendesak Monika mendoakan bertobatnya putranya Agustinus itu. Dan dalam hal itu pun akhirnya ia berhasil. Jiwa Agustinus bagaikan meleleh; ia menjadi takluk kepada Tuhan. Malah dalam hatinya mulai berkembanglah suatu cinta akan Tuhan seperti hanya terdapatlah pada orang-orang kudus. Dan memang, Agustinus menjadi seorang kudus. Ia berjanji akan mengabdikan diri kepada Gereja. Ia ditahbiskan imam, dan kemudian hari menjadi uskup. Dan sampai saat ini di seluruh dunia ia dihormati sebagai seorang yang sangat kudus. Tulisan-tulisannya serta khotbah-khotbahnya disimpan dan dipelajari sampai pada hari ini, yaitu enam belas abad sesudah hidupnya.

Adapun ibunya, Santa Monika, sudah jelas ia dapat menjadi suatu contoh bagi banyak ibu rumah tangga. Monika tidak lari dari kesulitan-kesulitan, ia tidak putus asa, tidak marah-marah dan tidak membiarkan diri dipukul mundur oleh angin sakal dan pelbagai pencobaan.

Semoga dengan pengantaraannya ia mendatangkan kurnia Allah kepada keluarga kita masing-masing, dan khususnya menguatkan hati ibu-ibu rumah tangga dalam segala peristiwa hidup.

  1. TANPA KEKERASAN

(Tanggal 29 Agustus: Peringatan wafatnya Santo Yohanes Pembaptis)

Sebelum Bacaan Pada tanggal 29 Agustus dalam Liturgi Gereja diperingati wafat Santo Yohanes Pembaptis. Mari kita mendengarkan berita tentang kematiannya itu.

Bacaan Markus 6:17-29     Sebab memang Herodeslah…

Renungan Acapkali terjadi ada orang ingin memaksakan kemauannya terhadap orang lain dengan memakai KEKERASAN, misalnya dengan memukul dia atau de-ngan menggunakan senjata.

Yesus sebaliknya mengajar kita bahwa kita tidak boleh memakai kekerasan fisik. Ia sendiri pun dikenal sebagai seorang yang lemah-lembut.

Tetapi ada juga kekerasan LIDAH. Dan kekerasan lidah memang sering dipergunakan Yesus. Misalnya ketika Ia mengecam orang-orang Farisi dan para ahli Taurat: Ia menyebut mereka pe-mimpin buta, orang munafik; Ia membandingkan mereka dengan kubur-kubur yang dilabur putih.

Hal yang sama pula kita lihat pada Yohanes Pembaptis. Dia mengecam raja Herodes dengan keras, karena dia telah mengambil isteri saudaranya menjadi isterinya sendiri. Apa yang selanjutnya terjadi dengan Yohanes, kita dengar dalam bacaan tadi. Dari kata-kata keras yang telah dia ucapkan kepada Herodes, dia tidak tarik kembali satu kata pun, biar disiksa, biar dibunuh.

Demikian pula sampai sekarang di seluruh dunia ada orang yang dengan gigih memperjuangkan hak-hak tertentu, namun tanpa memakai senjata. Dengan cara ini antara lain, dalam tahun 1946, India, negara yang raksasa itu, menjadi merdeka dari Inggris atas usaha Mahatma Gandhi.

Sikap ini dapat diumpamakan dengan cerita yang berikut ini. Pernah di sebuah desa ada seekor ular besar yang sudah memagut banyak orang, sehingga orang harus waspada terus-menerus. Dan tidak ada orang yang berhasil membunuh ular itu. Tetapi ada seorang karismatis di desa itu. Dan ketika pada suatu waktu ia melihat ular itu, ia berhasil berbicara dengan binatang melata itu sedemikian rupa, sehingga ular itu menjadi jinak. Maka selanjutnya para penduduk desa itu ramai-ramai mempermainkan binatang itu: mereka melempari dia dengan batu, menarik ekornya dan menendang dia dengan seenaknya. Maka akhirnya ular yang sudah terluka itu merayap masuk rumah orang karismatis tadi untuk mengeluh tentang cara orang memperlakukan dia.

Jawab orang itu: “Saudara ular! Engkau salah sendiri, sebab engkau tidak lagi menakut-nakuti orang. Dan itu salah!” Jawab ular: “Astaga! Bapak sendiri menyuruh saya berhenti memagut orang!”  Kata orang itu: “Betul, saya telah melarang engkau untuk memagut orang, tetapi saya tidak melarang engkau untuk mendesis! Kalau orang mau mengganggu engkau, cukuplah mendesis saja. Pasti orang menjadi takut dan tidak akan berani mengganggu engkau!”

Demikian pula di segala bidang boleh kita unjuk gigi, boleh kita menegur, boleh kita memperjuangkan juga hak kita, dan tidak perlu kita membiarkan diri dipermainkan atau dirampasi hak-hak kita. Asal saja perjuangan itu terjadi TANPA KEKERASAN.

  1. PERANG NUKLIR

Sebelum Bacaan Baru saja umat Israel lepas dari kekangan Mesir dan masuk padang gurun, maka mereka menghadapi suatu pertempuran melawan suku Amalek. Mari kita mendengarkan.

Bacaan Keluaran 17 :8-13     Kemenangan orang Israel melawan orang Amalek

Renungan Sambil berdoa, kita tidak menutup mata terhadap realitas dunia yang kita diami ini.  Baik  hal-hal  yang menggembirakan maupun hal-hal yang menye-

dihkan. Suatu hal yang paling menyedihkan ialah bila manusia yang satu dengan tahu dan mau mendatangkan malapetaka pada manusia yang lain; atau bila bangsa yang satu membuat hal itu terhadap bangsa yang lain.

Pada pertengahan tahun 1945, Negeri Jepang masih bertahan melawan Amerika Serikat dan para sekutunya. Untuk menundukkan Jepang dan memaksanya untuk menyerah, maka Amrika bersama para sekutunya memutuskan untuk mempergunakan senjata yang terbaru, yakni bom atom.

Maka pada tanggal 6 Agustus tahun 1945, pada suatu pagi yang cerah, pesawat pembom B-52 berada di atas kota besar Jepang Hirosyima. Jam 08.15 kolonel Paul W. Tibbets menekan tombol maut yang mengakibatkan tergulingnya bom atom pertama keluar dari pesawat terbang itu, melayang sebentar di udara, kemudian jatuh pada aspal di salah satu jalan raya di kota Hirosyima itu, dengan akibat yang amat dahsyat dan mengerikan. Belum pernah dalam satu detik waktu terjadi suatu pembantaian manusia yang demikian besar.

Dalam waktu tidak sampai satu menit, kota Hirosyima, yang tadinya masih aman dan tenang, berubah menjadi lautan api. Bangunan-bangunan yang kuat terjungkir balik. Ribuan orang mati seketika. Ada yang dapat selamat, tetapi menjadi cacat untuk seumur hidupnya dan sampai keturunannya yang kesekian.

Seorang wartawan saksi mata mencatat antara lain: “Dalam waktu beberapa detik saja ribuan orang yang tengah bekerja atau tengah berbelanja, dikepung gelombang panas. Sebagian mati seketika, sebagian lagi terbaring mengerang-erang kesakitan di tanah. Apa saja yang tegak berdiri: tembok, rumah, gedung apa pun, terbongkar dari tempatnya. Benda-benda besar melayang di udara. Menjelang malam, api mulai padam dan lenyap. Kota Hirosyima telah berubah menjadi puing-puing belaka”. Demikian berita dari wartawan itu.

Tujuh puluh lima jam kemudian bom atom yang kedua dijatuhkan. Beratnya hampir dua kali lipat dibandingkan bom yang pertama. Kali ini sasarannya ialah kota besar Nagasaki. Dengan akibat yang lebih ngeri lagi. Tidak heran Jepang menyerah. Dan berakhirlah Perang Dunia yang Kedua, yaitu perang yang paling kejam dalam sejarah bangsa manusia.

Sejak saat itu, bangsa-bangsa berlomba-lomba mengusahakan senjata-senjata nuklir. Persediaan senjata nuklir di seluruh dunia puluhan ribu buah banyaknya; dan semuanya jauh lebih kuat daripada bom yang dijatuhkan di atas kota Hirosyima dan kota Nagasaki. Satu bom yang dijatuhkan misalnya atas kota Jakarta, akan melenyapkan seluruh kota dengan jutaan pendu-duknya itu dari muka bumi, termasuk Tanjung Priok, Bogor dan kota serta desa lain sekitarnya.

Demikianlah manusia siap untuk perang yang berikut. Dan bila dalam perang itu dipergunakan senjata nuklir, maka dalam waktu satu hari saja, perang itu akan selesai, sebab tidak akan ada lagi manusia untuk melanjutkan perang itu, karena mati semua, dan tamatlah riwayat bumi ini, karena tiada lagi makhluk hidup. Dan akan berlaku kembali apa yang ditulis dalam Kitab Kejadian bab 1 ayat 2:

“Bumi itu kosong; dan gelap-gulita menutupi samudera raya”.

Dalam keadaan yang demikian manusia akan mengembalikan kepada Penciptanya bumi ini, yang telah diciptakan dengan begitu indah.

Apa yang dapat kita buat!

  • Pertama: BERDOA, selama masih ada nafas untuk berdoa.
  • Kedua: Coba MEMPERBAIKI dunia ini. Dan awal usaha itu ialah: memperbaiki DIRI SENDIRI.

Tiada hal lain yang dapat kita buat.

  1. ALLAH ADALAH KASIH

Bacaan 1 Yohanes 4:7-12      Allah adalah Kasih

Renungan Dalam sejarah Israel kita mendengar tentang seorang putra raja bernama Absalom.  Dia melakukan suatu kejahatan besar,  yakni  ia  membunuh  adiknya

bernama Amnon. Karena itu ayahnya, raja Daud, mengutuk Absalom dan tidak mau mengenal dia lagi.

Jauh sebelumnya, manusia pertama, bernama Adam, amat mengecewakan Allah, Penciptanya. Seluruh keturunan Adam pun turut mengecewakan Allah, sehingga Allah mengatakan: “Kamu bukan lagi anak-anak-Ku” – sama seperti dikatakan oleh Daud kepada anaknya Absalom.

Apakah Daud untuk selamanya membuang anaknya Absalom itu? – Tidak! Beberapa tahun kemudian ia berdamai kembali dengan Absalom, ia memeluk dan mencium dia, memaafkan kesa-lahannya. Apakah Allah untuk selamanya membuang Adam dan seluruh keturunannya? – Tidak! Allah berdamai kembali dengan manusia dalam diri Yesus Kristus.

Tetapi mari kita memperhatikan apa yang selanjutnya dibuat oleh si Absalom. Dia mulai membentuk komplotan melawan ayahnya. Bahkan akhirnya ia berhasil mengusir ayahnya dari takhta kerajaannya, dan ia sendiri menduduki takhta itu.

Nah, sekarang mari kita memperhatikan sikap Daud. Tentu kita mengira bahwa Daud akan sangat marah, mengutuk anaknya seribu kali. Namun…tidak! Ia tidak lagi mengutuk anaknya itu, melainkan tetap mencintai dia. Dan ketika mereka yang setia kepada Daud, mengangkat senjata melawan Absalom serta orang-orangnya, maka Daud pesan kepada mereka: “Sayangilah anakku Absalom! Sayangilah dia dan jangan membunuh dia! Sebab dialah anakku!” Para tentara Daud tidak menghiraukan akan perintah Daud itu: mereka membunuh Absalom, pemberontak itu. Lalu Daud menangis dengan suara nyaring: “Absalom, anakku! Absalom, anakku!… Mengapa bukan sayalah yang mati ganti engkau!”

Demikian juga halnya cinta Allah kepada manusia. Tidak lagi Allah akan membuang kita. Walaupun kita bersalah, Ia tetap mencintai kita. Malah sungguh, di dalam diri Putra-Nya Yesus Kristus, Ia mati menggantikan kita. Sebab Allah mencintai kita, dan, walaupun kita berdosa, walaupun kita menusuk hati-Nya, Ia tidak pernah akan berhenti mengasihi kita.

  1. HARTA KEKAYAAN

Bacaan Markus 8:31-38   Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus

Renungan Di suatu negeri dingin pernah hidup seorang yang amat kaya. Di dalam rumahnya ia menyimpan uangnya sebanyak 50 milyar rupiah. Tetapi ia selalu

cemas: jangan-jangan ada orang datang mencuri uangnya yang banyak itu. Ia juga tidak percaya Bank, sehingga ia pun tidak mau menyimpan uangnya di situ.

Akhirnya ia memutuskan untuk pergi menyembunyikan uang itu di dalam hutan. Dan pada suatu malam gelap, di tengah musim dingin, ia melangkah ke luar dari rumahnya menuju ke hutan. Pada malam itu juga salju turun, dan ia menggigil kedinginan. Namun berkeringat juga, karena ia memikul suatu beban berat, yaitu sebuah karung raksasa berisikan uang kertas sebanyak 50 milyar rupiah.

Sesudah setengah jam ia sampai di hutan dan selama satu jam ia berjalan terus di tengah-tengah pohon-pohon, dengan lampu senter di tangan. Tetapi batu senter makin lemah, dan akhirnya ia tidak dapat melihat apa-apa lagi. Di sekelilingnya turunlah salju dengan semakin lebat. Ia merasa dingin sampai di sumsum tulang-tulangnya. Ia tinggal berdiri. Ke mana ia harus pergi? Di mana ada tempat untuk berlindung? Ia menurunkan karungnya berisikan 50 milyar rupiah itu dan ia berpikir: “Kalau saya mati kedinginan, maka apa guna semua uang ini? Mungkin esok ada orang menemukan mayatku, di samping karung besar ini. Bukan main betapa beruntunglah orang itu!” Lalu ia mengambil satu-satunya keputusan yang tepat: ia membuka karung itu dan mengambil keluar segenggam lembaran seratus ribu rupiah; lalu dengan korek api yang kebetulan dibawanya, ia menyalakan berkas uang itu. Kemudian ia tambah setengah milyar rupiah. Dan demikian terus: ia membuat api unggun dengan segala uangnya itu. Panasnya api itu menghangatkan badannya. Dan ketika akhirnya fajar menyingsing, ia berjalan pulang dengan hati ringan dan penuh rasa syukur: karena ia HIDUP!

Berkatalah Yesus: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia,

tetapi ia kehilangan nyawanya!”

Semoga kita mengerti sampai di mana peranan barang dan harta benda, hormat dan kedudukan di dunia ini. Jangan pernah itu semua menjadi TUJUAN hidup kita. Sebab tujuan kita lebih tinggi, lebih mulia. Tujuan hidup kita ialah TUHAN. Dan segala-galanya yang kita miliki atau manfaatkan di dunia, hanya bernilai sejauh itu membantu kita akan merebut harta Surgawi.

  1. MENASEHATI SESAMA

Bacaan Matius 18:15-20     Tentang menasehati sesama saudara

Renungan Dalam tradisi Gereja tersimpanlah berita tentang seorang pertapa bernama Abba Serapion. Dia itu pada suatu waktu memutuskan untuk pergi menegur dan menyelamatkan seorang wanita tuna susila. Begini ceritanya:

Pada suatu hari Abba Serapion berjalan melalui sebuah desa di Negeri Mesir. Dilihatnya di situ seorang wanita jalang di pondoknya. Maka berkatalah Abba kepadanya: “Tunggulah aku nanti malam; aku ingin melewatkan malam bersamamu”. Jawab wanita itu: “Baik sekali, Abba!” Dan ia menyiapkan diri; disiapkannya juga tempat tidurnya.

Pada senja hari datanglah pertapa yang sudah tua itu masuk ke dalam pondok wanita pelacur itu. Ia bertanya: “Sudah siap semua?” Jawab wanita itu: “Sudah, Abba!” Serapion menutup pintu, lalu berkata: “Maaf ya, kami orang biarawan mempunyai peraturan menyangkut doa. Saya harus menyelesaikan itu dulu!” Maka ia mulai berdoa. Ia mengucapkan Mazmur-Mazmur, diselingi dengan doa-doa untuk wanita itu agar ia bertobat dan jadi selamat. Wanita itu tidak mengejek dia, melainkan ia mulai gemetar, dan akhirnya ia turut berdoa bersama pertapa itu. Sesudah Abba Serapion selesai mengucapkan semua Mazmur yang sebanyak 150 itu, maka wanita itu terjatuh di lantai. Tetapi Serapion belum berhenti juga; ia meneruskan dengan membaca bagian-bagian dari Surat-Surat rasul Paulus. Selesainya itu, si wanita merebahkan diri pada kaki Abba Serapion sambil berkata: “Abba, minta bawalah saya ke tempat di mana saya dapat bermati-raga dan me-nyenangkan hati Allah. Bawalah saya ke sebuah biara yang sangat keras peraturannya”.

Demikianlah dibuat oleh Abba Serapion, dan wanita itu selanjutnya hidup sebagai seorang biarawati yang suci, dan membaktikan hidupnya kepada Tuhan.

Ini bukan suatu peristiwa yang terjadi pada setiap hari. Namun, siapa dapat mengetahui jumlah orang berdosa yang diselamatkan oleh teguran, nasehat atau tindakan seorang saudara! Sering kita merasa enggan dan malu untuk menegur orang lain, bahkan terhadap anak-anak kita sendiri pun tidak selalu kita mengambil ketegasan yang perlu demi keselamatan mereka.

Jelaslah teguran itu harus dibuat demi kepentingan orang yang bersalah itu, harus berdasarkan keprihatinan terhadap keselamatannya. Tidak boleh kita menjadi takut atau segan dalam hal memberi teguran.

Suatu contoh yang terkenal dari seorang yang tidak berani memberi teguran, bahkan kepada anak-anaknya sendiri, ialah seorang Imam dari Perjanjian Lama bernama Eli. Eli tidak berani meng-ambil ketegasan terhadap kedua putranya yang durhaka bernama Hofni dan Pinehas. Allah meng-hukum Eli karena kelalaiannya itu.

Semoga kepada kita masing-masing diberi kebijaksanaan dan rasa tanggung jawab untuk menegur dan menasehati di mana perlu, demi keselamatan kita sendiri, dan lebih-lebih demi kesela-matan mereka yang kita tegur itu.

  1. ALLAH DI MANA?

Sebelum Bacaan Dalam bacaan Kitab Suci kita akan mendengar suatu pengalaman yang sa-ngat mendalam dari nabi Elia. Elia, sesudah suatu perjalanan yang jauh, sam-

pai di gunung Horeb (atau Sinai). Di sana ia masuk sebuah gua dan bermalam di situ. Esok harinya ia berdiri di pintu gua itu. Mari kita mendengarkan apa yang terjadi selanjutnya.

Bacaan 1 Raja-Raja 19:11b-14     Maka Tuhan lalu…

Renungan Kalau ditanyakan: “Tuhan itu di mana?” – Maka kita menjawab: “Tuhan ada di mana-mana; Tuhan ada di segala tempat”.

Namun kita pun mempunyai kesan bahwa ada tempat-tempat tertentu, di mana Tuhan hadir de-ngan suatu cara yang lebih khusus. Hal ini agaknya merupakan pendirian di masa Perjanjian Lama. Misalnya pernah Allah menyatakan diri kepada Musa dalam semak duri dan mengatakan kepada Musa: “Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat ini adalah tanah yang kudus”.

Demikian pula Nabi Elia bergegas ke tempat itu, yaitu ke daerah pegunungan Sinai, untuk bertemu dengan Allah di gunung Horeb. Elia mengerti bahwa Allah bukannya Allah yang dahsyat, bahwa kekuatan-kekuatan alam bukanlah kekuatan-kekuatan ilahi. Elia menemukan Allah dalam bunyi angin halus, berarti dalam keheningan batin. Dan sebenarnya tidak perlu juga ia pergi ke tempat sejauh itu; angin halus dapat terjadi di mana-mana, keheningan batin dapat terwujud di setiap tempat yang tenang.

Sampai saat ini masih ada orang yang berpendapat bahwa Allah dapat kita temukan di tempat-tempat tertentu, yang disebut “tempat keramat”: entah suatu gunung, suatu batu karang, sebuah tanjung atau pohon. Sebenarnya bukan Allah yang dicari-cari di situ, melainkan kekuatan ilahi melalui roh-roh halus atau dewa, atau arwah nenek moyang. Tempat-tempat itu dari satu segi disegani dan ditakuti, namun dari segi lain didatangi untuk minta restu atas suatu usaha, atau untuk minta jalan keluar dari suatu kesulitan; pokoknya minta bantuan.

Kita semua tahu dan sadar, bahwa praktek-praktek itu salah. Mengapa salah! Karena kita seakan-akan mau menguasai Allah. Kita mengira bahwa kita dapat membatasi kehadiran Allah sampai di tempat-tempat itu.

Dan memang, sudah dalam Perjanjian Lama para nabi menentang kebiasaan-kebiasaan macam itu. Mereka mengecam orang-orang Israel yang tiap kali mau lari meminta bantuan dari dewa dan dewi dari orang kafir, mau sujud menyembah kepada berhala-berhala, menganggap benda mati itu sebagai Allah, menganggap makhluk-makhluk ciptaan Tuhan sebagai Tuhan.

Tetapi Allah yang kita imani, adalah Allah yang mengatasi segala lokasi keramat itu. Ia tidak terbatas pada gunung, batu karang, tanjung atau pohon. Allah adalah bebas dari semua itu, dan tidak sedikit pun dapat dibatasi atau dikuasai dan diatur oleh manusia.

Dari Perjanjian Baru kita tahu, bahwa Allah mendekati kita dengan cara-cara yang lain sekali, dengan cara-cara yang tak tersangka-sangka:

  • Bukan dalam angin ribut, melainkan dalam keheningan jiwa manusia.
  • Bukan dalam gunung, melainkan dalam alam sebagai keseluruhan.
  • Bukan dalam batu, melainkan dalam manusia yang hidup, lebih-lebih yang miskin dan tak terpandang.

Semoga kita juga makin mengusir dari hidup kita segala percaya sia-sia. Semoga sebaliknya kita berpaling kepada Allah yang hidup, Allah dari Abraham, Ishak dan Yakub, Allah dari Yesus Kristus.

  1. MEMPERBAIKI DUNIA

Bacaan Filipi 3:17 – 4:1    Nasehat-nasehat kepada Jemaat

Renungan Kerajaan Allah berawal kecil, seperti biji sesawi. Bila biji sesawi itu bermu-tu,  maka pasti akan berkembang menjadi pohon.  Sebetulnya setiap pengikut

Kristus adalah bagaikan biji sesawi, dipanggil untuk berkembang dan mengembangkan lingkung-annya, meresapkannya dengan cita-cita Kerajaan Allah. Salah satu biji berbobot ialah Santo Paulus. Dia berani mengatakan tentang dirinya: “Ikutilah teladanku!” Tetapi ia pun berkata: “Perhatikanlah mereka yang hidup sama seperti kami dan yang dengan demikian pun menjadi teladan bagimu”. Paulus mengerti bahwa, untuk memperbaiki dunia dan mengantarkannya kepada Tuhan, manusia harus mulai pada dirinya sendiri. Lalu ia akan mempengaruhi orang lain. Mereka itu pun pada gilirannya akan menjadi contoh bagi orang pula, dan seterusnya.

Kami membaca kesaksian seseorang sebagai berikut:

“Ketika saya masih muda, saya mau mengubahkan dan memperbaiki dunia. Tetapi sudah cepat saya sadar bahwa terlalu sukar untuk dengan sepintas lalu mengubahkan seluruh dunia. Maka saya memutuskan untuk mengubahkan bangsaku.

Ketika tidak berhasil, maka saya berusaha mengubahkan kampungku.

Sementara itu saya sudah makin tua, dan karena belum juga berhasil, saya memutuskan untuk membatasi diri pada usaha untuk mengubahkan orang-orang sekeluargaku.

Sekarang saya sudah tua. Dan baru sekarang saya sadar bahwa satu-satunya yang dapat saya ubahkan ialah diriku sendiri.

Jika tadinya, sejak awal, saya sudah mengerti itu, maka mungkin saya telah berhasil mempengaruhi keluargaku. Keluargaku dan saya bersama-sama mungkin telah dapat mempengaruhi semua orang di kampung. Dan kampung itu dapat mengubahkan bangsa, dan dampaknya mungkin telah sampai ke dunia yang luas. Memang jika sejak awal saya telah mulai pada diriku sendiri, mungkin saya telah berhasil mengubahkan dan memperbaiki dunia…”

Demikian cerita yang sedikit tragis ini. Kita ditugaskan untuk makin menyempurnakan dunia ini, tetapi terlebih dahulu harus memperbaiki sikap dan tingkah laku kita sendiri.

  1. PERSELISIHAN

Bacaan 1 Korintus 3:1-9       Perselisihan

Renungan Ada seorang bernama Soshi berjalan dengan temannya di tepi sungai.

Berkatalah Soshi kepada temannya:  “Alangkah senang ikan-ikan yang hidup

dalam sungai yang jernih ini!” Jawab kawannya: “Engkau bukan ikan. Bagaimana engkau tahu bahwa ikan itu merasa senang di dalam sungai ini? Pandangan kita dan penilaian kita barangkali tidak sama dengan pandangan dan penilaian ikan…!”

Memang benar. Dan hal itu berlaku juga bila kita mau menilai senang dan susah, tingkah laku serta perkataan orang lain. Masing-masing mempunyai pengalamannya sendiri, penilaiannya sendiri dan pandangannya sendiri. Kadang-kadang orang bertengkar justru karena tidak memperhatikan perbedaan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Ini pun dapat dijelaskan dengan cerita yang berikut.

Ada dua orang sahabat. Yang satu adalah seorang petani, yang lain seorang gembala sapi. Pada suatu malam mereka duduk bersama sambil mengobrol.

Kata yang pertama: “Aku ingin mempunyai sebuah ladang seluas langit di atas kepala kita ini”. Yang lain berkata: “Aku menginginkan sapi-sapi sebanyak bintang yang kita lihat itu”.

Maka bertanyalah yang pertama: “Ah! Di mana akan kaugembalakan sapimu yang sebanyak itu!” Jawab temannya: “Gampang saja! Mereka akan mencari makan di ladangmu yang luas itu!” Maka yang pertama menjadi marah dan berkata: “Coba engkau berani menggembalakan sapi-sapimu di ladangku…!”

Mari kita perhatikan: yang satu tidak mempunyai ladang seluas langit, yang lain tidak mempunyai sapi sebanyak bintang di langit. Mereka bertengkar tentang apa yang tidak mereka miliki, tentang hasil khayalan saja.

Demikianlah banyak perselisihan dapat dihindarkan jika kita berpikir logis dan wajar. Hal kecil sewaktu-waktu menimbulkan perselisihan besar. Alangkah lebih baik kita coba mengerti dulu orang lain itu, supaya kita hidup dalam damai satu sama lain.

  1. SERUPA DENGAN ALLAH

Bacaan 1 Tesalonika 5:12-28      Nasehat-nasehat

Renungan Acapkali terjadi, bila melihat muka seorang anak, sudah dapat diketahui si-apa orang-tuanya,karena adanya suatu kesamaan. Roman  muka orang-tua itu

terlihat kembali pada wajah anaknya. Demikian pula seluruh perawakan tubuhnya. Dan tidak jarang juga hal ini berlaku untuk watak dan tabiatnya: ada sifat-sifat yang seakan-akan diwariskan orang-tua kepada anaknya, menjadi nyata pada tingkah laku anak itu.

Kalau demikian halnya antara orang-tua dan anak-anaknya, maka wajarlah kita bertanya: apakah hal ini berlaku juga untuk mereka yang orang-tuanya adalah Allah sendiri? Untuk manusia yang menjadi anak ALLAH? Bukan roman muka, bukan perawakan badannya. Tetapi: apakah ada sifat-sifat yang Allah wariskan kepada anak-anak-Nya? Sebetulnya mengherankan kalau tidak!

Dalam Injil Yohanes bab 3, kita mendengar Yesus berkata kepada Nikodemus: “Jika seorang tidak dilahirkan dari AIR dan ROH KUDUS, ia tidak dapat masuk dalam Kerajaan Allah”. Dan Yesus menjelaskan seterusnya:

“Apa yang dilahirkan dari manusia, adalah manusia yang lemah,

dan apa yang dilahirkan dari ROH, adalah ROH”.

Kita sekalian telah lahir kembali dari air pembaptisan, kita telah menerima pengurapan Roh Kudus dalam Sakramen Krisma: berarti bahwa kita telah lahir dari ROH ALLAH! Mau tak mau hal ini akan menjadi kentara. Ada suatu kesamaan suatu keserupaan, yaitu serupa dengan Allah sendiri! Segi badani tetap sama. Tetapi dalam roh manusia itu telah terwujud suatu perubahan total. Manusia itu selanjutnya adalah putra atau putri Allah, berasal dari Allah sendiri; ia mem- bawa dalam dirinya hidup ilahi.

Santo Petrus dalam suratnya yang pertama. berkata:

“Kamulah bangsa terpilih, imamat rajawi,

bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri!”

Bagaimana pendapat kita tentang seorang anak yang mau menyangkal orang-tuanya sendiri! Entah karena alasan apa pun juga. Dia tidak akan berhasil menghapus dari wajahnya kesamaannya dengan mereka.

Tetapi ada orang yang dalam tingkah lakunya rupanya mau menyangkal warisan ilahinya, mau menyangkal bahwa mereka dilahirkan kembali dalam Sakramen Pembaptisan dan Krisma. Kita pernah belajar, bahwa kedua Sakramen ini memberi suatu meterai yang tetap. Dan memang benarlah demikian. Namun ada orang Kristen yang coba menyangkal itu. Dengan cara apa? De-ngan coba menjauhkan Allah dari hidup mereka. Misalnya:

  • Mereka tidak sembahyang lagi.
  • Mereka menyesuaikan hidupnya dengan cara-cara dunia.
  • Mereka minum mabuk, main judi, pakai narkoba.
  • Mereka memeras dan mempermainkan orang lain dengan KKN-nya.
  • Mereka mencari hidup bersenang-senang.
  • Mereka mencari nama dan kedudukan.
  • Mereka berdosa dengan seenaknya.

Tetapi keserupaan dengan Allah itu sudah dimeteraikan dalam hati, sampai mati, bahkan sampai lewat kematian. Kurnia Allah mungkin untuk sementara waktu dapat disembunyikan, tetapi tidak untuk selamanya. Sebab pada suatu saat segala-galanya akan dibawa ke dalam terang.

Kalau api dipadamkan, maka semuanya jadi dingin dan gelap. Kata Santo Paulus dalam bacaan tadi:            “Jangan padamkan Roh”.

Kalau api Roh Kudus itu kita padamkan, maka kedinginan dan kegelapan akan meliputi kita. Api itu sebaliknya akan menyala tinggi, bila kita mengikuti nasehat Santo Paulus yang tadi kita de-ngar juga, yaitu:

“Bersukacitalah senantiasa, tetaplah berdoa,

Ucapkanlah syukur dalam segala hal, jauhkahlah dirimu dari segala jenis kejahatan”.

Bila kita melaksanakan semua itu, maka sungguh kita akan membuktikan diri anak Allah. Dan orang yang mengalami kita, akan melihat terpantul pada kita sifat-sifat Allah, akan mengetahui dan mengenal: Siapakah Orang-tua kita yang Ilahi itu!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: