Renungan bulan September-November

SEPTEMBER

  1. KITAB SUCI

Bacaan 2 Timotius 3:10-17    Iman Bertumbuh dalam Penganiayaan dan dalam Pem-

bacaan Kitab Suci

Renungan Konsili Vatikan II telah meminta perhatian umat Katolik akan pentingnya KITAB SUCI. Antara lain diberi ajakan yang berikut:

“Konsili Suci mendesak dengan amat sangat dan secara istimewa, agar semua orang beriman acap kali membaca Kitab-Kitab Ilahi, dan dengan jalan itu memperoleh keunggulan pengetahuan Yesus Kristus”.

Mari kita mengarahkan perhatian kita sejenak kepada buku yang kita sebutkan KITAB SUCI itu. Kitab itu memang SUCI, namun bukan KERAMAT. Barang-barang “keramat” bahkan kadang-kadang tidak berani kita sentuh. Barang “keramat” tidak mungkin kita pergunakan setiap hari. Kalau “keramat”, maka Kitab Suci itu bagaikan jenazah orang mati: diperlakukan dengan hormat, dikelilingi dengan batang-batang lilin, diperciki dengan air suci, didupai dan hanya disentuh-sentuh. Tetapi tidak dimanfaatkan. Kitab Suci dalam hal itu dikuburkan dalam lemari atau dalam peti bersama dengan pakaian, dan – sama seperti pakaian adat – hanya pada waktu-waktu tertentu dikeluarkan dan dipakai, misalnya untuk acara angkat sumpah.

Tetapi tidak dibuka, tidak dibaca. Sedangkan yang penting: bukanlah kulitnya, kertasnya, bentuknya, melainkan isinya. Isinyalah yang menjelaskan kepada kita tentang Allah itu siapa, tentang kita ini siapa. Dari lembaran-lembaran kertas itu, sabda Allah harus berpindah ke dalam pengertian kita, ke dalam ingatan kita, ke dalam HATI kita.

Bagaimana CARA membacanya! Bukan seperti sembarangan buku atau majalah. Tidak seban-ding dengan majalah Tempo atau Femina, bahkan tidak sebanding dengan majalah Hidup, Utusan atau majalah Berita Keuskupan. Adapun Kitab Suci itu harus kita baca dalam kesadaran bahwa inilah sabda ALLAH, walaupun disampaikan melalui manusia dan dengan cara manusia; ditulis oleh pelbagai manusia, masing-masing menurut caranya dan gayanya serta kemampuannya. Tetapi diilhamkan Allah. Dan karena itu sungguh SABDA ALLAH.

Untuk dapat menyelami firman Allah itu, haruslah kita sediakan waktu yang tenang dan mencari tempat yang cocok. Sebab Kitab Suci kita baca bukan pertama-tama untuk sekedar mengetahui isinya, melainkan kita mau DIRESAPI oleh sabda itu. Misalnya kita harus melibatkan diri dengan orang yang main peranan dalam teks yang kita baca itu. Umpamanya kalau kita baca tentang seseorang yang datang pada Yesus dengan permohonan: “Tuhan, sembuhkanlah daku”, maka saya ini adalah orang itu, saya ini yang meminta: “Tuhan, sembuhkanlah daku”. Kalau kita membaca bahwa Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Ikutlah Aku”, maka sayalah Petrus itu, dan kepada saya Yesus sampaikan ajakan: “Ikutlah Aku”. Dan perlu jawaban dari saya!

Maka dalam banyak hal, pembacaan Kitab Suci sekaligus menjadi suatu DOA. Silakan coba dan alami itu! Demikian pula ditegaskan oleh Konsili Vatikan II dengan kata-kata berikut:

“Hendaklah orang ingat bahwa DOA harus menyertai pembacaan Kitab Suci, supaya terjadi wawancara antara Allah dan manusia. Sebab kita berbicara dengan Allah bila berdoa, dan kita mendengarkan-Nya bila membaca Firman Ilahi itu”.

  1. IMAN MENJADI NYATA DALAM PERBUATAN

(Kitab Suci)

Bacaan Yakobus 2:14-17    Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati

Renungan Soshi duduk di rumah sambil membaca Kitab Suci. Kebetulan ia membaca teks dari Surat rasul Yakobus,  yang tadi kita dengar itu.  Tiba-tiba  ada orang

mengetuk pintu. Ternyata seorang pemabuk yang minta penginapan. Dorongan pertama Soshi adalah: mengusir orang itu, supaya ia bisa melanjutkan bacaannya dari Surat Yakobus itu. Tetapi timbullah pikiran ini padanya: ketika Yesus menceritakan perumpaan tentang penabur, maka benih penabur itu jatuh di empat tempat yang berbeda-beda: di pinggir jalan, di atas tanah yang berbatu-batu, di tengah duri dan di tanah yang subur. Apakah firman Allah mendapat tanah subur dalam dirinya? Apa arti: SUBUR! Tentu subur akan KARYA. Huruf-huruf dari Kitab Suci harus menjadi suatu kenyataan dalam hidup orang yang membacanya.

Maka kata Soshi kepada pemabuk itu: “Coba kamu duduk dulu, dan saya membaca kembali teks tadi, sebab rasanya saya tepat sedang membaca apa-apa dalam Surat Yakobus yang ada kaitan dengan situasi ini!” Maka ia cepat membaca kembali kata-kata ini:

“Jika iman tidak disertai perbuatan, maka iman itu mati saja”.

Maka apa yang Soshi buat? Waktu yang sebetulnya sudah dia sediakan untuk membaca Kitab Suci, ia pergunakan untuk mempraktekkan bacaan dari Kitab Suci itu.

Perlulah kita memiliki satu eksemplar Kitab Suci. Perlulah kita membaca dan mempelajari isi Kitab Suci. Tetapi yang paling penting ialah bahwa sabda Tuhan yang tercantum di dalamnya kita LAKSANAKAN.

  1. KEKAYAAN KITAB 5UCI

Bacaan Mazmur 119:97-106    Betapa kucintai…

Renungan Paman Hadi itu kaya. Ketika ia mampir di rumah kemenakannya bernama Sepi,  ia memperhatikan kemeja Sepi tergantung  pada  kursi.  Dengan  diam-

diam ia memasukkan sepuluh lembar seratus ribu rupiah ke dalam kantong baju itu, lalu ia pergi.

Beberapa jam kemudian Sepi berjalan-jalan di kota. Ia memakai kemeja yang tadinya tergantung pada kursi itu. Dengan perlahan-lahan ia berjalan lewat toko-toko, melihat rupa-rupa barang bagus, yang sebenarnya mau ia miliki, namun ia tidak mampu membelinya karena ia miskin papa. Ia melihat topi, kemeja, celana, sepatu; ia melihat bermacam-macam alat dan perkakas… dan dengan sedih ia menggelengkan kepala. Lalu secara kebetulan dengan tangannya ia meraba ke dalam kantong bajunya, sebab ia teringat bahwa di situ masih tersimpan sepuntung rokok. Maka ia merasa kertas yang agak tebal dan licin itu dan mengeluarkannya: Astaga! Satu juta rupiah! Sepanjang pengembaraannya di kota ia selalu berpikir bahwa dia miskin. Padahal sepanjang perjalanan itu pula betapa kaya dia! Maka langsung ia mulai memikirkan apa yang akan ia beli de-ngan semua uang itu.

Banyak di antara kita mungkin juga mempunyai suatu kekayaan di rumah yang barangkali belum disadari. Yakni sebuah Kitab Suci atau Alkitab. Dengan bantuan Pemerintah, Kitab Suci sudah demikian tersebar, sehingga dengan mudah dan dengan harga murah dapat dibeli atau acapkali dapat diperoleh tanpa membayar sesen pun.

Dalam perjalanan hidup kita, kita mencari kebahagiaan, kita seakan-akan berjalan lewat bermacam-macam toko dan kios yang menawarkan kebahagiaan, misalnya: seks dan cinta bebas, kedudukan dan nama tersohor, gelar ini dan gelar itu, makan dan minum enak-enak, nonton film dan TV, pelbagai cara untuk memperoleh kekayaan dan tawaran hidup mewah… Kita merasa tidak mampu untuk merebut segala macam kebahagiaan itu.

Tetapi mungkin pada suatu waktu kita menemukan kembali Kitab Suci kita yang sudah penuh debu, lalu membukanya di sembarang tempat dan mulai membaca. Dan hati kita menjadi ringan. Sebab tiba-tiba kita menjadi sadar: dalam Sabda Tuhan terdapat satu-satunya kebahagiaan. Ter-nyata kita telah lama memiliki suatu kekayaan yang tidak kita sadari.

Marilah kita memohon terang dari Tuhan, agar dengan segenap hati boleh menemukan kebaha-giaan yang sejati itu. Yesus berkata:

“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu”.

  1. CINTA KEPADA YANG TERSALIB

(Tanggal 14 September: Pesta Salib Suci)

Bacaan Matius 27:45-61     Yesus mati dan dikuburkan

Renungan Pada tanggal 14 September, menurut Liturgi Gereja, dirayakan Pesta Salib Suci. Dalam bacaan tadi kita mendengar peristiwa kematian Yesus. Mari kita memperhatikan ayat terakhir yang tadi kita dengar:

“Maria, Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ, duduk di depan kubur itu”.

Mengapa mereka tinggal duduk di situ! Apa yang masih boleh mereka harapkan?

Ada seorang ibu masuk kantor polisi. Berkatalah ia: “Pak, coba cari suamiku. Ia menghilang. Aku tak dapat hidup tanpa dia!” Kata petugas polisi kepadanya: “Mari, ibu silakan duduk, dan ceritakan dulu: sejak kapan suamimu hilang!” Jawab ibu itu: “Sudah lebih dari dua minggu!” Maka petugas itu heran sekali, dan berkata: “Sudah dua minggu? Mengapa ibu tunggu sampai hari ini, baru datang melaporkan hal ini!” Ibu itu menjawab: “Begini, Pak, hari ini ia harus terima gaji!”

Betapa banyak di antara kita mencari Tuhan. Tuhan hilang dari hidupnya. Kita rindu menemukan-Nya kembali. Tetapi mungkin bukan karena mencintai Dia, melainkan karena membutuhkan sesuatu. Sehingga sebetulnya tidak mencari Tuhan, melainkan mencari kurnia-Nya!

Lain halnya dengan Maria Magdalena. Yesus sudah dinyatakan seorang penjahat dan telah disa-libkan. Tetapi Maria Magdalena berdiri di kaki salib itu. Yesus mengatakan bahwa Ia sendiri sudah ditinggalkan Allah, namun Maria Magdalena bertahan di bawah salib. Yesus sudah dikuburkan, tetapi Maria Magdalena masih lagi bertahan di dekat kuburnya. Dan segera ia akan kembali ke kota untuk membeli bahan untuk merawat jenazah Yesus pada hari berikutnya.

Maria Magdalena sungguh mencintai Tuhan DEMI TUHAN, dan bukan demi anugerah-anuge-rah-Nya. Suatu contoh yang patut diteladani.

  1. TIGA FIRMAN ALLAH

Sebelum Bacaan Dalam Kitab Tobit kita membaca tentang anak dari Tobit, bernama Tobia. Dia itu diantar oleh seorang  malaikat  pada  suatu  perjalanan  yang  jauh dan

berbahaya. Tobia tidak tahu bahwa teman seperjalanan itu adalah seorang malaikat.

Perjalanan Tobia itu adalah lambang perjalanan hidup tiap manusia, di mana ia diantar oleh Allah sendiri. Kita hendak mendengarkan sebagian dari Kitab Tobit, yaitu saatnya malaikat itu pada akhir perjalanan itu membuka rahasianya.

Bacaan Tobit 12:6-18    Tetapi Rafael memanggil…

Renungan Karya Tuhan di dalam tiap manusia dapat diilustrasikan dengan cerita yang berikut dari seorang pengarang Rusia terkenal bernama Tolstoi.

Pada suatu waktu Allah mengutus seorang malaikat ke dunia untuk menjemput jiwa seorang wanita muda yang baru saja melahirkan dua anak kembar. Ibu itu berkata kepada malaikat: “Baru saja suamiku mati di hutan, ditindis sebatang pohon. Biarlah saya hidup demi kedua anak malang ini”. Ketika mendengar keluhan ibu itu, maka malaikat itu kembali ke surga dan mengatakan kepada Tuhan Allah: “Tidak mungkin aku jemput jiwa ibu itu”.

Lalu Allah mengutus seorang malaikat lain untuk melaksanakan tugas itu. Tetapi kepada malaikat yang pertama itu Allah berkata: “Kembalilah ke dunia dan menetaplah di sana sampai engkau mengerti akan ketiga Firman Allah yang berikut ini:

  • Firman yang pertama ialah: Cobalah mengerti hal yang terdapat dalam diri manusia.
  • Firman yang kedua ialah: Cobalah mengerti hal yang tidak diberikan kepada manusia.
  • Dan Firman yang ketiga ialah: Cobalah mengerti hal yang menjadi dasar hidup manusia.

Bila engkau sudah mengerti akan arti ketiga Firman itu, baru engkau boleh kembali ke surga”.

Maka malaikat itu pergi lagi ke dunia, dan di sana diubahkan perawakannya demikian rupa sehingga ia kelihatan seperti manusia. Ia duduk di pinggir sebuah jalan. Di daerah itu sangat dingin; musim dingin tepat pada puncaknya. Ia duduk telanjang, bahkan tidak ada lagi kedua sayapnya untuk melindungi dia terhadap hawa yang amat dingin itu, sehingga ia merasa dingin seperti es. Tiba-tiba ia mendengar derap kaki seseorang yang mendekat melewati jalan itu. Dia itu ternyata seorang miskin, karena pakaiannya kelihatan sobek-sobek. Namun ketika melihat orang telanjang duduk kedinginan di pinggir jalan itu, maka dia jatuh sayang, dan memberikan mantolnya kepadanya, lalu mengantar dia ke rumahnya sendiri. Sementara diantar ke situ, teringatlah malaikat itu akan Firman Allah yang pertama, bunyinya: “Cobalah mengerti apa yang terdapat dalam manusia”. Dan ia mengerti: yang terdapat dalam manusia ialah CINTA KASIH.

Orang itu ternyata seorang tukang sepatu. Malaikat itu tinggal menumpang pada dia, dan ia belajar bagaimana caranya membuat sepatu dan sandal, dan caranya memperbaiki kasut yang sudah rusak. Setahun kemudian masuklah di bengkel itu seorang laki-laki yang ingin membeli sepatu yang akan bertahan selama tiga tahun, biar dipakai tiap hari dari pagi sampai malam. Tetapi pada senja hari istri orang itu masuk dan memberitahukan: sepatu itu tidak perlu dikerjakan, karena suaminya telah meninggal. Maka teringatlah malaikat itu akan Firman Allah yang kedua, bunyi-nya: “Cobalah mengerti apa yang tidak diberikan kepada manusia”. Apa yang tidak diberikan kepada manusia ialah mengetahui SAAT KEMATIANNYA.

Tinggal saja Firman yang ketiga untuk dimengerti, yaitu: “Apa yang menjadi dasar hidup manusia”. Kini sudah selama enam tahun ia tinggal di rumah tukang sepatu itu. Pada suatu hari masuklah di bengkel itu seorang wanita disertai dua gadis kecil. Ketika melihat mereka masuk, malaikat itu merasa bahwa mereka itu ada sangkut paut dengan peristiwa enam tahun lalu ketika ia tidak mau menjemput jiwa seorang wanita yang baru melahirkan dua anak kembar. Dan ia tahu juga bahwa sekarang pengertian akan Firman yang ketiga akan dijelaskan kepadanya.

Ibu yang baru masuk bengkel itu bersama dengan kedua nona kecil itu, menceritakan bahwa kedua anak itu enam tahun lalu menjadi yatim piatu dalam waktu satu pekan: ayah mereka ditindis sebatang pohon dan dikuburkan pada suatu hari Selasa, sedangkan ibu mereka meninggal pada hari Jumat berikutnya. Dan ibu itu melanjutkan: “Kami berdua, yaitu suamiku dan saya, adalah tetangga mereka. Ketika ibu itu meninggal, kami mengerjakan keranda baginya dan me- nguburkan dia. Dan kedua anaknya kami terima sebagai anak kami sendiri. Saya mencintai mereka bagaikan biji mataku. Sungguh benarlah pepatah ini: manusia bisa hidup tanpa ayah dan tanpa mama, tetapi tanpa Allah tidak mungkin manusia itu hidup”. Maka mengertilah malaikat itu akan maksud Firman Allah yang ketiga bunyinya: “Cobalah mengerti apa yang menjadi dasar hidup manusia”. Dasar hidup manusia ialah ALLAH.

  1. APA INI MALANG, APA INI UNTUNG ?

Bacaan Lukas 12:22-31    Hal kekuatiran

Renungan Tiap hari membawa pengalamannya. Kita menggolongkan itu menjadi peng-alaman BAIK dan pengalaman BURUK.  Kita   sudah  biasa  menerima yang

baik dan yang buruk dari tangan Tuhan, sesuai dengan ajakan Yesus dalam Injil tadi.

Kenapa kita dengan rela juga menerima yang buruk! Karena kita yakin bahwa tiada keburukan mutlak… Bahwa hal-hal yang jahat, yang buruk dan jelek – bahwa derita dan kemalangan pun akhirnya turut membawa kebaikan yang tak terduga.

Itu pun dimengerti oleh seorang petani yang dahulu kala hidup di Negeri Cina. Petani itu mempunyai seekor kuda yang sudah tua, untuk mengerjakan ladangnya. Tetapi aduh, pada suatu hari kuda itu lari ke pegunungan. Maka tetangga-tetangga petani itu berkata kepadanya: “Aduh kasih-an, malang benar kamu!” Tetapi petani itu menjawab: “Apa ini malang? Apa ini untung? Siapa yang tahu!”

Seminggu kemudian kuda itu kembali dari pegunungan dan membawa serta sembilan ekor kuda liar, yang ternyata dengan mudah jadi ditangkap, sehingga petani itu tiba-tiba mempunyai sepuluh ekor kuda, daripada dulu seekor saja. Para tetangganya mengucapkan profisiat kepadanya atas keuntungannya itu. Tetapi petani itu mengatakan lagi: “Apa ini untung? Apa ini malang? Siapa yang tahu!”

Kemudian putra petani itu coba menjinakkan salah satu dari kuda-kuda liar itu. Tetapi aduh, ia dilempar ke tanah oleh kuda itu dan patah kakinya. Dan semua tetangga menganggap itu nasib malang. Tetapi petani tua itu berkata lagi: “Apa ini malang? Apa ini untung? Siapa yang tahu!”

Seminggu kemudian tentara dari kaisar masuk desa itu dan menahan semua orang muda yang berbadan sehat untuk masuk tentara kaisar. Tetapi serta melihat anak petani dengan kaki patah itu, mereka membiarkan dia dan berkata kepadanya: “Kamu untung benar!” Tetapi anak itu sudah menjadi bijaksana juga seperti ayahnya, dan ia menjawab: “Apa ini untung? Apa ini malang? Siapa yang tahu!”

Setiap peristiwa yang tampaknya buruk, dapat mengandung suatu keuntungan. Dan hal-hal yang tampaknya baik, dapat berakibat buruk, seperti terbukti dalam cerita tadi. Yaitu:

  • Kuda menghilang: rupanya suatu musibah, tetapi ternyata mengakibatkan penambahan sembilan ekor lain.
  • Penambahan sembilan ekor kuda: rupanya untung, tetapi akibatnya pemuda itu kakinya patah.
  • Kaki patah: rupanya nasib malang, namun membawa untung, karena dengan demikian luput dari wajib militer.

Alangkah baiknya kita menyerahkan nasib baik dan buruk itu kepada Tuhan, dalam keyakinan bahwa untuk semua orang yang mencintai Allah, segalanya akan terbukti BAIK. Seperti dikatakan oleh seorang wanita mistik bernama Yuliana dari Norwich dalam suatu kalimat yang bagus dan mesra:      “Dan semua akan menjadi baik

dan semua akan menjadi baik,

dan segala macam hal akan menjadi baik”.

  1. KAYA DAN MISKIN

Bacaan Amsal 6:6-11    Hai pemalas…

Renungan Ada suatu cerita berasal dari Jawa sebagai berikut:

Pada suatu waktu ada seorang wanita yang sudah agak tua, yang belum pernah mendengar tentang Allah yang mahakuasa. Ibu itu amat miskin. Sehari-hari ia hidup saja dari sesuap nasi. Rumahnya berupa beberapa batang gaba-gaba dan lembaran atap yang dipasang bersandar pada dinding rumah milik seorang bapak yang lumayan kehidupannya. Tetangganya itu hanya terpaksa membiarkan itu; sebetulnya ia tidak suka kepada ibu itu.

Pada suatu hari ibu itu sampai di sebuah kolam yang hampir kering. Tinggal hanya sedikit air saja di dalamnya; dan di tempat itu juga berdesak-desakan semua ikan dari kolam itu. Betapa heranlah ibu itu ketika mendengar ikan-ikan itu sedang berdoa. Dengan tak berhenti-henti mereka mendaraskan doa ini: “Allah, ya Allah, berikanlah hujan, berikanlah air!” Demikian terus-menerus mereka berdoa. Ibu itu mengamat-amati ikan-ikan itu berjam-jam lamanya. Dan terus-menerus mereka berdoa seperti tadi. Sementara itu mulai terkumpullah gumpulan-gumpulan awan hitam di langit, dan tiba-tiba turunlah hujan lebat, sehingga ibu itu sendiri pun basah kuyup.

Maka ibu itu mulai berpikir begini: “Kalau ikan-ikan itu berdoa kepada suatu Kuasa yang mereka sebutkan Allah, mengapa saya pun tidak coba berbuat demikian pula!” Maka ia pulang dan de-ngan segera juga ia mulai berdoa dengan suara lantang: “Ya Allah, berilah aku uang, turunkanlah bagiku duit banyak! Ya Allah, berikanlah aku uang, turunkanlah bagiku duit banyak-banyak!” Jam demi jam, hari demi hari, dengan tak berhenti-henti ia mengulangi doa itu, dengan tidak mengenal lelah, seturut contoh ikan-ikan itu. Tetangganya di sebelah dinding itu makin bosan mendengar ibu itu berseru terus-menerus, siang dan malam. Lalu akhirnya ia menjadi demikian jengkel, sehingga ia mengumpulkan rupa-rupa batu dan pecahan-pecahan dan memasukkan itu semua ke dalam sebuah karung besar. Dan ketika pada suatu malam ibu itu sedang tidur, maka ia naik ke dinding dan menjatuhkan karung yang berat itu. melalui atap, di atas kepala ibu yang sedang tidur itu. Ibu yang malang itu pingsan karenanya, sedangkan karung itu jatuh terus ke tanah. Ketika sesudah beberapa jam ia terbangun dan sadar kembali, ia memperhatikan karung yang besar itu. Lalu berlututlah ia dan berkata: “Terima kasih, ya Allah!” Dan ketika membuka karung itu, ia mendapatkan emas dan perak amat banyak, ratusan mata uang yang berkilap-kilap. Dengan demikian dalam sekejap mata ia menjadi seorang nyonya yang kaya. Ia pindah ke sebuah rumah indah di sebuah kampung lain. Di situ ia mulai dikenal dan dihargai sebagai seorang nyonya yang amat baik hati, yang suka membantu orang miskin.

Pada suatu hari, bapak yang tadinya menjadi tetangganya, datang mengunjungi dia. Dia mengaku dengan terus-terang apa yang telah ia buat terhadap ibu itu hingga ia menjadi begitu kaya. Maka sekarang ia pun meminta suatu anugerah kepada ibu itu. Beginilah permintaannya: “Ibu, coba bantu saya sedikit. Saya akan menyiapkan sebuah karung besar dengan batu-batu dan barang pecahan di dalamnya. Kemudian saya akan sembahyang selama beberapa hari. Lalu saya mohon Ibu naik loteng rumahku, dan jatuhkanlah karung itu di atas diriku, persis seperti yang pernah saya buat terhadap ibu”.

Ibu itu suka menolong orang yang meminta bantuannya, dan dalam hal ini pun ia tidak menolak. Maka pada malam yang telah ditentukan, ia pergi ke rumah orang itu, dan ia naik tangga ke loteng, di mana karung itu sudah siap. Lalu karung yang berat itu dijatuhkannya di atas bapak itu sementara dia berbaring pada tempat tidurnya. Karung itu kena badannya, sehingga beberapa rusuk patah. Tetapi kasihan, isi karung itu tidak berubah menjadi barang emas dan perak, melainkan tetap batu dan pecahan-pecahan saja.

Mari dengan singkat kita tarik dua kesimpulan dari cerita ini:

1/   Wanita yang sudah tua itu, dalam kemiskinannya, menaruh harapannya pada Tuhan. Setelah menjadi kaya, ia tidak memboroskan uang itu, melainkan memanfaatkannya dengan teratur dan bijaksana.

2/   Bapak tetangga itu mau menjadi kaya dengan mudah. Maksudnya supaya bisa bermalas-malasan dan hidup enak. Dan memang ada orang yang sebetulnya sanggup mencari pekerjaan, namun lebih suka menganggur, dan berharap piringnya diisi oleh orang lain. Tentang orang macam ini raja Salomo berkata: “Hai, pemalas, pergilah kepada semut,

perhatikanlah kelakuannya, dan jadilah bijaksana!”

  1. SINGLE-FIGHTER

Bacaan Lukas 13:6-9   Perumpamaan tenang pohon ara yang tidak berbuah

Renungan Syukurlah, Tuhan itu sabar, Ia memberi kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki diri, seperti diungkapkan dalam perumpamaan Yesus tadi.

Dalam Kitab Hakim-Hakim kita membaca tentang tokoh bernama Simson. Dia seorang gagah perkasa. Dialah bagaikan hadiah daripada Allah kepada bangsa Israel untuk membebaskan umatNya dari penindasan kaum Filistin. Tetapi Simson gagal. Kenapa ia gagal? Antara lain karena ia seorang “single-fighter”: ia mengira bahwa dia harus membuat itu sendirian, tidak mau meng-ikutsertakan orang lain, anggap semua orang lain bodoh dan lemah. Mungkin juga takut bahwa orang lain mendapat kehormatan yang dia mau dapat bagi dirinya saja. Pernah ia menangkap 300 ekor anjing hutan, lalu mengikat anjing-anjing itu berpasangan ekor pada ekor dan pasang obor-obor yang menyala pada setiap pasangan anjing itu, lalu dilepaskannya masuk ke ladang-ladang orang Filistin, sehingga seluruh tuaian mereka terbakar. Pada lain kesempatan – katanya – ia membunuh 1000 orang Filistin dengan hanya sebuah tulang rahang keledai sebagai senjata.

Pernah ia masuk kota Gaza, ialah sebuah kota orang Filistin. Segera orang menutup pintu gerbang kota, supaya ia terkurung dalam kota dan bisa ditangkap. Namun ia menuju ke pintu yang amat berat dan besar itu, mencabut kedua daun pintu itu bersama palangnya dan memikulnya sampai ke puncak gunung yang berdekatan. Orang heran: dari mana gerangan ia mendapatkan kekuatan fisik sehebat itu!

Akhirnya ia membuka kepada isterinya, bernama Delila, rahasia kekuatannya yang luarbiasa itu, ialah pembaktiannya kepada Tuhan, yang tandanya ialah bahwa rambutnya tidak boleh dipotong. tetapi ia tidak mengetahui, bahwaDelila itu sudah bersekongkol dengan orang Filistin, ialah para musuh Simson. Dan ketika pada suatu waktu Simson sedang tidur, Delila memangkas semua rambutnya. Lalu dengan mudah Simson ditangkap oleh orang Filistin; mereka itu lalu mencungkil kedua matanya dan menjadikan dia seorang budak.

Semuanya itu tidak kita harapkan dari seorang utusan Allah. Simson menyalah-gunakan kurnia Allah untuk menjadikan dirinya hebat di mata manusia, mau membuat gemparan yang tidak berguna, dan tidak menuruti kehendak Allah.

Kita terima semua cerita ini – dan lebih banyak lagi – seperti adanya, sebagai cerita rakyat yang masuk dalam Kitab Suci, dan dengan demikian mau mengajak kita untuk tarik suatu pelajaran dari situ. Maklumlah bukan hanya contoh baik dapat mengarahkan kita, tetapi juga contoh yang tidak baik bisa bermanfaat untuk menyadarkan kita akan apa yang menjadi kehendak Allah. Lebih-lebih bila kita sendiri sudah menderita karena perkataan atau sikap orang lain; maka jangan kita memperlakukan orang lain pada cara demikian, karena kita sudah mengalami betapa menimbulkan rasa sakit hati atau kecewa.

  1. ALLAH  ITU  DI  MANA?

Sebelum Bacaan Nabi Elia disuruh Allah untuk pergi ke gunung Horeb (atau: Sinai) untuk berjumpa dengan-Nya di situ.  Sesampai  di gunung itu,  maka Elia masuk ke

dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Mari kita mendengar apa yang terjadi selanjutnya:

Bacaan 1 Raja-Raja 19:9-13     Allah menyatakan diri di gunung Horeb

Renungan Allah mendatangi Elia. Mendahului kedatangan-Nya timbullah angin taufan,  tetapi Tuhan tidak berada dalam angin itu. Lalu terjadilah gempa bumi, tetapi

Tuhan tidak hadir dalam gempa itu. Menyusullah kobaran api, tetapi Tuhan tidak hadir dalam api itu. Akhirnya ada bunyi angin sepoi-sepoi basa. Maka Elia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, sebab ia tahu: Tuhan hadir dalam desiran angin itu!

Elia mengerti bahwa Allah bukannya Allah yang dahsyat, bahwa kekuatan-kekuatan alam bukanlah kekuatan-kekuatan ilahi. Elia menemukan Allah di situ dalam desiran angin halus, berarti: dalam keheningan batin.

Walau pun kita mengetahui bahwa dari satu segi Allah hadir di segala tempat, namun dari segi lain ada pula tempat-tempat yang secara khusus mengundang untuk berjumpa dengan Tuhan, misalnya setiap gedung gereja. Kita memandang gereja sebagai tempat sakral, dan kita memelihara tempat itu secara khusus. Demikian pula gua Hati Kudus atau gua Lourdes. Orang yang mempunyai duit secukupnya, bisa pergi mengunjungi tempat-tempat suci di tanah Israel dan gereja-gereja bersejarah di Roma / Vatikan atau tempat-tempat ziarah terkenal, misalnya Lourdes, Fatima dan Compostella. Di Indonesia, sebuah pusat ziarah terkenal ialah Sendangsono di P. Jawa. Di keuskupan kita sendiri pun ada tempat-tempat untuk kita mengarahkan langkah kita ke situ untuk secara khusus berjumpa dengan Tuhan atau Santa Perawan Maria. Perjalanan kita ke situ menjadi lambang jalan-hidup kita. Tempat keramat itu sendiri bagaikan panjar atas surga yang menjadi tujuan terakhir hidup kita. Kunjungan ke tempat-tempat suci itu mengarahkan kita akan satu-satunya hal yang penting dalam hidup ini, ialah relasi kita dengan Tuhan.

Namun baiklah kita sadar bahwa tempat ziarah terpenting bagi kita ialah hati kita sendiri. Di situ pada asasnya kita berjumpa dengan Tuhan, karena percumalah kunjungan ke tempat ziarah apa pun kalau Tuhan tak hadir dalam hati! Namun untuk berjumpa dengan Tuhan di situ, hati kita harus tenang, dan kita harus menciptakan suasana hening. Santo Agustinus berkata: “Allah tidak hadir dalam keributan”.

  1. MENYENTUH YANG MAHASUCI

Bacaan Matius 14:34-36   Yesus menyembuhkan orang sakit di Genesaret

Renungan Di masa Perjanjian Lama, harta yang terbesar di tengah-tengah umat Israel adalah Tabut Perjanjian,  ialah sebuah peti indah,  di dalamnya  disimpan ke-

dua loh batu yang pernah Musa terima di atas puncak gunung Sinai. Pada kedua loh batu itu terpahatlah ke-10 Firman Allah (ke-10 Perintah Allah).

Pada suatu saat Daud memutuskan bahwa Tabut Perjanjian, yang masih tinggal di sebuah desa, akan dipindahkan ke ibu-kota Yerusalem. Maka disertai rakyat banyak, Tabut Perjanjian dijemput, diletakkan di atas sebuah kereta yang ditarik oleh beberapa ekor lembu, lalu rombongan mulai berarak. Tetapi pada suatu saat, lembu-lembu yang menarik kereta itu, tergelincir dan kereta mau terbalik. Seorang yang berjalan di samping kereta, bernama Uza, segera memegang Tabut itu, supaya jangan jatuh. Lalu apa yang terjadi? Kita baca dalam Kitab Suci: “Maka bangkitlah murka Tuhan terhadap Uza, dan Allah membunuh dia karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu”.

Betapa terkejut dan sedihlah Daud dan semua rakyat yang hadir itu. Kenapa Uza harus mati? Maksudnya baik toh? Namun, apa yang kudus di mata Tuhan, jangan dipandang enteng oleh manusia! Uza berani menyentuh lambang kehadiran Allah, sepertinya mau menyentuh Allah sendiri. Bangsa Israel harus disadarkan bahwa Allah itu bukan seperti dewa-dewa buatan tangan manusia. Allah, Yahwe itu, adalah mahakudus, unik, tak terhampiri, tidak termasuk alam ciptaan! Cinta kepada Allah harus disertai keseganan dan hormat, bukan seperti cinta antar manusia, bukan cinta di mana manusia boleh menyentuh Allah.

Seribu tahun sesudah peristiwa tragis itu, datanglah Yesus tinggal di tengah-tengah umat manusia. Dalam diri-Nya, Allah datang tinggal di antara kita. Kalau dalam Perjanjian Lama kehadiran Allah dinyatakan melalui dua loh batu, kini, di masa Perjanjian Baru, kehadiran Allah terjadi dalam diri manusia Yesus Kristus. Apakah Dia boleh didekati? Disentuh? Oleh sembarangan orang? Dalam Bacaan Injil tadi kita dengar bahwa memang orang menyentuh pakaian Yesus, lalu memperoleh kesembuhan dan bukan hukuman seperti Uza. Sebab Yesus menjelaskan bagi kita bahwa cinta yang sejati menghalaukan segala ketakutan.

Tetapi kita ini – di mana gerangan kita temukan Yesus untuk menyentuh pakaianNya: untuk disembuhkan, atau untuk menyatakan cinta kita kepada-Nya? Mari kita mengerti bahwa sentuhan badani kalah dengan sentuhan hati. Apa gerangan nilainya cinta antara dua kekasih yang terbatas pada segi badani? Mari kita menghampiri Yesus dan menjamah Dia pada Hati-Nya, dan: memberikan diri DI-jamah olehNya dalam cinta kasih timbal-balik yang sejati.

  1. TEMPAT PERSEMBUNYIAN

Bacaan Yesaya 29:13-16     Dan Tuhan telah berfirman…

Renungan Seorang Pengajar Yahudi bernama Rabi Levi, menceritakan perumpamaan berikut:

Pernah ada seorang arsitek yang membangun sebuah kota. Di dalam banyak gedung kota itu, ia membuat bilik-bilik rahasia dan tempat-tempat persembunyian.

Setelah selesai, kota itu mulai didiami orang, dan arsitek itu sendiri diangkat menjadi wali kota. Tetapi ternyata ada banyak orang pencuri di kota itu. Mereka dikejar, lalu mereka coba berlindung di tempat-tempat persembunyian yang sudah tersedia. Tetapi mereka semua ditangkap dan dihadapkan kepada wali kota itu. Berkatalah dia kepada mereka: “Betapa bodoh kamu! Masa kamu mau coba bersembunyi terhadap saya; padahal sayalah arsitek seluruh kota ini; saya me-ngetahui semua tempat persembunyian dengan lebih baik daripada siapa saja di antara kamu!”

Demikian pula Allah berkata kepada orang-orang jahat: “Betapa bodoh kamu! Maukah kamu menyembunylkan pikiran-pikiran jahatmu di tempat-tempat persembunyian di dalam hatimu? Padahal, Aku yang telah menciptakan hati manusia, dan Aku mengenal segala rahasianya”.

Setiap kali, pada awal Ibadat atau Misa, kita merendahkan diri di hadapan Allah, minta maaf atas kesalahan-kesalahan dengan pikiran dan perkataan, perbuatan dan kelalaian. Ya! Juga dengan PIKIRAN! Yesus berkata:

“Berbahagialah orang yang SUCI HATINYA”.

Tidakkah kita rindu agar bebas dari segala pikiran jahat? Mari janganlah lagi kita menipu diri; jangan lagi kita memandang enteng kejahatan yang tersimpan dalam hati. Seperti dalam bacaan tadi kita mendengar nabi Yesaya berkata:

“Celakalah orang yang pekerjaan-pekerjaannya terjadi dalam gelap”.

  1. TUBUH KITA

Bacaan 1 Tesalonika 5:12-28      Nasehat-nasehat

Renungan Berkatalah Santo Paulus:

“Semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna

dengan tak bercacat”.

Mari kita renungkan kalimat itu sejenak: kita harus memelihara roh, jiwa dan tubuh kita. Ya sungguh, TUBUH pun termasuk! Kita hidup dalam tubuh. Santo Paulus dalam surat-suratnya se-ring menyebutkan tubuh itu. Tubuh itu memang fana, namun untuk kita penting dan perlu. Allah telah menciptakan kita menurut jiwa dan tubuh, dan Ia pun telah menyucikan kita menurut jiwa dan raga. Kata Santo Paulus:

“Tidak tahukah kamu,

bahwa tubuhmu itu adalah KENIZAH ROH KUDUS?

Bahwa Roh Allah mendiami tubuhmu?”

Dan ia lanjutkan:

“Tubuhmu bukanlah milikmu sendiri,

sebab kamu telah DIBELI dengan harga yang mahal

(yakni dengan Darah Putra Allah, Yesus Kristus).

Maka MULIAKANLAH ALLAH DALAM TUBUHMU!”

Apa kesimpulannya!

  1. Kita menerima tubuh kita bagaikan suatu MODAL yang harus kita perhatikan baik-baik dan harus kita pertanggung jawabkan. Tidak boleh kita merugikannya dengan (misalnya) makan dan minum terlampau banyak, dengan mengisap rokok lewat batas. Kita harus juga menjaga kesehatan, kebersihan, bahkan kerapian pakaian. Kita harus makan sehat dan teratur, harus menjaga lingkungan dan rumah, supaya bersih dan memberi perlindungan secukupnya. Sebab dengan demikian kita menghargakan Allah, yang telah memberikan kita tubuh kita itu.
  2. Tubuh itu menjadi sarana untuk berbuat baik terhadap sesama. Dengan mata dan telinga kita memperhatikan kebutuhan orang lain. Dengan perkataan dan karya kita mendampingi mereka, membantu mereka. Dan untuk itu kita tidak menyayangi tubuh kita; kita memeras keringat dan banting tulang demi melayani sesama.
  3. Kita tetap sadar, bahwa tubuh ini kita diami hanya untuk sementara waktu saja. Tubuh kita ini cocok untuk hidup di dunia INI. Tetapi kita merindukan suatu dunia LAIN, suatu dunia baru, yaitu Surga. Pada akhir hidup kita, kita harus mengembalikan tubuh ini, dan akan dikenai tubuh baru, yang cocok untuk hidup surgawi. Suatu tubuh seperti tubuh Kristus setelah Ia bangkit.

Mungkin pada waktu itu tubuh jasmani ini sudah usang, sudah terpakai habis segala tenaganya. Seorang yang pergi bekerja di kebun, lalu kembali dengan pakaian putih bersih: kita akan heran! Apa kerjanya di kebun hingga pakaiannya masih bersih begini! Sebilah parang yang dipakai, akan menjadi tumpul karena dipakai. Dan kuali di atas api menjadi hitam.

Demikian pula dengan tubuh kita. Orang menjadi tua. Dan mungkin dengan sedih meneliti wajahnya dalam cermin sambil berpikir: “Aduh! Tidak lagi ada keindahan padaku”. Tetapi pantas kita bertanya: Apa itu: keindahan! Ada suatu keindahan jiwa yang akan bersinar menembus tubuh. Jiwa itu akan menjadikan tubuh itu lebih indah daripada tubuh segar seorang yang masih muda. Seperti dari tanah dan pupuk yang tak terpandang itu berkembanglah bunga yang indah; seperti dari awan yang hitam turunlah hujan yang jernih!

Tubuh kita adalah suatu modal yang amat berharga. Jangan kita memanjanya. Marilah kita memanfaatkannya dengan tepat. Berarti kita harus memeliharanya sehingga makin dapat berfungsi sebagai alat di tangan Tuhan. Dan semoga tetap dijiwai oleh roh yang kuat, yang tahu mengendalikannya sampai napas terakhir, bila kita akan dikenai tubuh baru yang sempurna, mulia dan tak berkesudahan.

  1. KARISMA

Bacaan 1 Korintus 12:1-11     Rupa-rupa karunia tetapi Satu Roh

Renungan Dalam bacaan tadi kita mendengar tentang karunia-karunia Roh. Itu kita sebut KARISMA.   Sebuah karisma ialah suatu   bakat  atau   kemampuan yang

berasal dari Allah dan diberikan kepada pribadi-pribadi tertentu. Maksud karisma itu bukan untuk memperkaya yang bersangkutan, dan pasti bukan untuk membuat dia merasa bangga atau malah-an sombong, melainkan orang itu menerima kemampuan itu demi kepentingan orang lain. Jadi karisma ialah suatu bakat atau kemampuan tertentu untuk membantu orang lain.

Orang yang mempunyai karisma, disebut orang karismatis. Dapat dikatakan juga bahwa Allah memberikan sebuah karisma kepada orang, supaya di dunia ini Allah sendiri menjadi lebih nampak melalui orang karismatis itu.

Karisma itu langsung diberi oleh Roh Kudus kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karisma itu tidak bisa dituntut, tidak bisa direbut, misalnya melalui sakramen-sakramen, bahkan melalui pentahbisan pun tidak.

Kepada siapa karisma diberi! Apakah ada banyak orang yang menerima suatu karisma? Pertanya-an-pertanyaan itu dalam waktu sesingkat ini tidak dapat dijawab. Cukuplah mengatakan, bahwa dalam tiap manusia ada suatu Sentuhan Roh Kudus, bagaikan bibit karisma. Sebab tiap manusia adalah suatu pribadi tersendiri, dengan kemungkinan-kemungkinannya sendiri dan tugas-tugas- nya sendiri. Jelasnya tidak cukup manusia itu hidup dengan saleh dan tak berdosa dan menuruti segala peraturan Gereja. Kita mempunyai suatu panggilan pribadi yang sangat khusus dan unik, sebagai suatu tantangan bagi kita.

Mungkin Roh Kudus mau menjelaskan kepada kita tepatnya inti panggilan itu:

  • entah di bidang perawatan dan pelayanan orang;
  • atau sebagai pehasihat atau penghibur orang;
  • atau sebagai sumber kegembiraan di tengah orang;
  • atau dalam suatu tugas atau jabatan;
  • atau melalui suatu karya di tengah masyarakat;
  • atau via suatu kemampuan khusus untuk menyembuhkan orang;
  • atau menjadi orang-tua atau pengasuh anak-anak. Dlsbg.

Jelaslah bahwa manusia yang sempurna di antara kita tidak ada. Kita semua harus menemukan cara kita dapat berfungsi di tengah umat dan masyarakat. Kalau atas karunia Roh Kudus kita boleh menemukan karisma kita, lalu melaksanakannya dengan tekun demi kepentingan orang lain, maka dengan cara itu kita menjadi suatu berkat bagi mereka, kita menjadi suatu hadiah dari Allah bagi teman-teman kita, seperti sudah diungkapkan tadi:

“Allah memberikan karisma kepada orang,

supaya Allah sendiri di dunia ini menjadi lebih nampak”.

  1. HARI-HARI HIDUPMU

Bacaan Yohanes 2:1-11       Perkawinan di Kana

Renungan Bukanlah sedikit yang Yesus minta dari para pelayan. Enam tempayan besar harus mereka isi dengan air; berarti kurang lebih enam ratus liter. Dan untuk apa! Apalagi, dengan hak apa Yesus menyuruh mereka membuat itu?

Namun mereka membuatnya, mengisi enam tempayan sampai penuh. Mengapa? Karena Maria mendekati mereka. Maria mereka kenal. Nasehat Maria pasti akan mereka turuti. APA yang Maria katakan kepada mereka:

“Buatlah apa yang Yesus katakan kepadamu!”

Enam tempayan itu dapat kita pandang sebagai hari-hari hidup kita. Hari-hari itu tidak boleh kita biarkan kosong, melainkan harus kita ISI. Mungkin sewaktu masih kecil, impian kita ialah kelak menjadi seorang besar, seorang penting. Sekarang kita menghadapi hidup kita setiap hari… Kadang-kadang membosankan, dan pada umumnya merasa tidak begitu penting, tidak menggoncang dunia. Pikiran dan perhatian kita terbatas pada tugas dan pekerjaan kita setiap hari. Dan justru karena dipandang tidak begitu penting, maka kita pun sewaktu-waktu cenderung melalaikannya: entah lalai belajar, lalai mengurusi anak-anak, terlambat ke tempat tugas, dll.

Kepada kita Yesus berkata: “Isilah hari-harimu dengan air yang sehari-hari itu, dengan air yang sederhana itu”. Dan kalau kita masih ragu-ragu, maka kita mendengar kembali ajakan Maria ini: “BUATLAH apa yang Dia katakan kepadamu!”

Ya! Kita buat! Dan bukan cuma sedikit-sedikit, tetapi kita mau membuatnya seperti pelayan-pelayan dalam Injil tadi: mengisinya sampai penuh.

Lalu akan terjadi hal-hal yang tak disangka-sangka: air itu akan menjadi ANGGUR. Pekerjaan kita, yang sepintas lalu kelihatan tidak begitu penting, akan dijadikan sangat bernilai. Seperti dua keping uang tembaga yang dipersembahkan oleh janda miskin, menjadi amat penting di mata Allah, dan telah disebut-sebut selama hampir dua ribu tahun di seluruh dunia. Atau seperti anak kecil yang Yesus tarik ke tengah-tengah para rasul sambil berkata: “Coba jadilah seperti seorang anak”, jadilah kecil dan sederhana, baru kamu menjadi penting di mata Allah, baru kamu menjadi air murni, yang dapat diubahkan menjadi anggur yang amat bernilai.

OKTOBER

  1. SANTA TERESIA DARI KANAK-KANAK YESUS (1 Oktober)

Sebelum Bacaan Pada tanggal 1 Oktober dirayakan Pesta Santa Teresia dari Kanak-Kanak Yesus.  Santa Teresia hidup dari tahun 1873 sampai tahun 1897,  jadi menca-

pai umur hanya 24 tahun. Ia hidup di dalam biara Karmel di desa Lisieu, Negeri Perancis. Namanya harum, antara lain karena ia menemukan dan memperkenalkan suatu cara hidup yang disebutnya JALAN KECIL atau JALAN SEDERHANA. Orang dapat menjadi kudus dengan melakukan hal-hal kecil dengan tekun dan setia. Suatu teks Kitab Suci yang sangat disukai oleh Santa Teresia, hendak kita dengar sekarang ini.

Bacaan 1 Korintus 13:1-13      Kasih

Renungan Yang berikut ini adalah kata-kata dari Santa Teresia sendiri seperti telah dituliskannya. Mari kita mendengarkan:

“Aku masih terus dihantui oleh soal, bahwa keinginanku untuk menjadi martir, tidak terkabulkan. Dan ada pikiran melantur di dalam doaku, ketika aku memutuskan untuk mencari-cari di dalam Surat-Surat Paulus dengan harapan akan mendapat jawaban.

Bab 12 dan 13 dari Surat Pertama kepada orang Korintus menarik perhatianku. Di situ dijelaskan bahwa kita tidak dapat semuanya menjadi rasul, atau semuanya nabi, semuanya pengajar dan seterusnya. Gereja terdiri dari anggota-anggota yang berbeda-beda kegunaannya; mata itu satu hal; dan tangan itu lain lagi.

Itu jawaban cukup jelas, tetapi tidak memenuhi keinginanku, tidak membuat hatiku tenang. Membaca terus, sampai akhir bab itu, aku menemukan kalimat yang menguatkan hati. Kata Paulus:

“Berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama.

Dalam pada itu aku akan menunjukkan jalan yang lebih utama lagi”.

Apakah itu! Rasul Paulus melanjutkan dengan menjelaskan bahwa semua kurnia dari surga, bila tanpa cinta kasih, tidak berarti apa-apa. Cinta kasih adalah jalan yang paling utama, karena langsung menuju Tuhan.

Sekarang aku merasa tenang. Ketika Paulus berbicara mengenai berbagai macam anggota dalam Tubuh Mistik, aku tidak dapat mengenal diriku dalam salah satu dari antara mereka. Atau lebih tepat: aku dapat mengenal diriku dalam mereka semua. Tetapi cinta kasih itu merupakan KUNCI PANGGILANKU. Kalau Gereja itu sebuah Tubuh, tersusun dengan berbagai macam anggota, tentu Tubuh itu tidak akan dapat berada tanpa bagian yang paling mulia: yaitu harus mempunyai jantung hati, hati yang bernyala dengan cinta. Dan aku menyadari bahwa cinta ini adalah kekuat-an penggerak yang sebenarnya, yang memungkinkan anggota-anggota lainnya di dalam Gereja bergerak. Kalau jantung tidak bekerja, maka para rasul akan lupa mewartakan Injil, dan para martir akan menolak menumpahkan darahnya. Cinta kasih itu ternyata panggilan yang mencakup semua yang lain; ini dengan sendirinya merupakan bagaikan suatu alam semesta, meliputi semua ruang dan waktu. Cinta kasih itu abadi. Maka sambil meluap penuh kegembiraan aku berseru: ‘Yesus, Cintaku!’”

  1. SAYA MEMILIH SEMUANYA !

(Tanggal 1 Oktober: Pesta Santa Teresia dari Kanak-Kanak Yesus)

Bacaan Roma 13:8-14     Kasih adalah kegenapan Hukum Taurat

Renungan Salah seorang kudus yang harum namanya di kalangan kita, ialah Santa Te-resia dari Kanak-Kanak Yesus. Ia disebut juga Santa Teresia dari Lisieu atau

Santa Teresia Kecil (yakni untuk membedakannya dari Santa Teresia Besar, ialah Santa Teresia dari Avila).

Sewaktu ia masih seorang anak kecil, pernah diperlihatkan kepadanya beberapa alat main, lalu dikatakan kepadanya, bahwa ia boleh memilih satu alat main yang paling ia suka. Tetapi ia suka semua, maka ia berkata: “Saya memilih SEMUANYA!”

Ketika ia berumur 15 tahun, ia masuk biara Karmel. Di sana Suster yang menjadi pembimbing-nya, menjelaskan kepadanya bahwa di antara semua keutamaan Kristen, ia harus memilih salah satu yang secara khusus akan ia usahakan. Tetapi waktu itu pun ia berkata: “Saya memilih semuanya!”

Ada banyak perintah dan nasehat dari Tuhan bagi kita. Amat sukarlah untuk melakukan itu semua serentak. Tetapi kalau mau memilih, maka apa yang mau kita pilih! Pilih hal ketaatan? Ke-rendahan hati? Kelembutan hati? Kemurnian? Tekun berdoa? Kemiskinan? Ada bahaya bahwa kita pilih apa yang kita suka, dan bukan apa yang disukai Tuhan; bahwa kita pilih apa yang kita rasa mudah, dan bukan apa yang harus kita rebut dengan susah payah. Maka itu pun Teresia berkata: “Saya memilih semuanya! Saya tidak mau mengecewakan Tuhan di bidang apa pun. Saya mau mencintai Tuhan, itu saja!”

Sikap itu dalam bahasa Latin diungkapkan dengan kata-kata ini: “Ama et fac quod vis”, berarti: “Cintailah, lalu berbuatlah menurut kehendakmu!” Atau seperti Maria berkata kepada para pelayan pada pesta nikah di Kana: “Apa yang Yesus katakan kepadamu, buatlah itu!”

Ataupun seperti tadi kita dengar Santo Paulus berkata:

“Cinta kasih adalah kegenapan Hukum Taurat”.

Mari kita pun memilih semuanya, dan dalam segala hal melakukan kehendak Allah, karena kita sangat mengasihi Dia.

  1. PARA MALAIKAT PELINDUNG (2 Oktober)

Sebelum Bacaan Mari kita merenungkan sejenak tentang para Malaikat Pelindung; pestanya dirayakan pada tanggal 2 Oktober.   Kita mau  menyadarkan diri atas peranan

para Malaikat dalam hidup kita sebagai pelindung dan pengawal kita. Dalam Mazmur yang akan kita dengar, terbaca sebagai berikut:

“Malaikat-Malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu

untuk menjaga engkau, supaya kakimu jangan terantuk pada batu”.

Mari kita mendengarkan seluruh Mazmur 91 itu dan turut berdoa bersama sang Pemazmur itu…

Bacaan Mazmur 91      Dalam lindungan Allah

Renungan Judul Mazmur yang baru saja kita dengar ini ialah: “Dalam lindungan Allah”.

Seekor induk ayam menjelang gelap mengumpulkan anak-anaknya untuk melindungi mereka terhadap kedinginan. Gambaran ini dipakai dalam Kitab Suci untuk meng-ungkapkan kepercayaan kita akan Allah sebagai PELINDUNG kita. Sering Allah melindungi kita melalui makhluk yang kita sebut MALAIKAT. Mereka menghadirkan Allah yang mau mengurus manusia dalam perjalanannya menuju kepada-Nya. Dalam Kitab Keluaran kita mendengar Allah berkata kepada kaum Israel pada awal perjalanannya melalui padang gurun sebagai berikut:

“Aku mengutus seorang Malaikat berjalan di depanmu

untuk melindungi engkau di jalan, dan untuk membawa engkau

ke tempat yang telah Kusediakan.

Jagalah dirimu di hadapannya, dan dengarkanlah perkataannya.

Jangan engkau durhaka kepadanya,

sebab NAMAKU ADA DI DALAM DIA”.

Tuhan mengutus kepada kita masing-masing Malaikat-Nya untuk membawa kita ke tempat yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Pokok iman inilah yang kita renungkan pada jam ini. Kita diajak untuk menghormati kehadiran Malaikat yang kudus itu; kita diajak untuk berterima kasih kepadanya atas kebaikannya dalam menjaga kita, sehingga kaki kita tidak terantuk pada batu, yaitu batu-batu tajam pada perjalanan hidup kita menuju tanah air kita yang sebenarnya. Kita perlu sadar akan kebenaran ini: di dalam diri Malaikat itu hadirlah Allah sendiri dengan sabda ajakan-Nya. Kitab Suci berkata: “Jagalah dirimu di hadapan Malaikatmu dan dengarlah perkataannya, sebab Tuhan hadir di dalam dia”.

Gereja percaya akan adanya Malaikat-Malaikat dan akan tugas mereka terhadap kita. Keyakinan itu pun diungkapkan dalam suatu doa yang sudah sejak kecil kita kenal. Begini bunyinya:

“Malaikat Allah, engkau yang diserahi oleh kemurahan Tuhan

untuk melindungi aku,

terangilah, lindungilah, bimbinglah dan hantarlah aku. Amin”.

  1. TEMAN SEPERJALANAN

(2 Oktober: Pesta Malaikat Pelindung)

Bacaan Matius 6:25-34    Hal kekuatiran (Yesus berkata…)

Renungan Yesus menjelaskan kepada kita tentang pemeliharaan Allah terhadap kita. Tentang pemeliharaan Allah terhadap manusia,  berulang  kali dapat kita juga

baca dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, antara lain dalam salah satu Kitab Deuterokanonika yakni Kitab Tobit. Tobit adalah seorang yang saleh yang hidup di tempat pembuangan ialah kota Ninive. Pada suatu hari musibah mendatangi dia yaitu ada tai burung kena matanya, menjadikan dia buta. Tobit mempunyai seorang putra bernama Tobia. Untuk menjamin masa depan anaknya itu, Tobit menyuruh Tobia untuk pergi menagih kembali uang yang pernah Tobit pinjamkan kepada seorang kerabat bernama Gabael. Perjalanan itu jauh dan penuh bahaya, tetapi syukurlah, Tobia menemukan seorang teman seperjalanan bernama Azarya. Dan setelah pamit dengan ayah-ibunya, Tobia berangkat bersama Azarya. Azarya itu sebetulnya seorang malaikat, namanya Rafael, namun ia menyamar sebagai manusia.

Ketika pada malam pertama mereka beristirahat di tepi sungai Tigris, tiba-tiba seekor ikan besar meloncat keluar dari air sungai mau menggigit kaki Tobia, sehingga ia menjerit ketakutan. Tetapi kata malaikat Rafael kepadanya: “Tangkap saja ikan itu, bukalah, lalu ambillah kantung empedunya! Sebab dengan empedu itu nanti engkau dapat menyembuhkan mata ayahmu.” Maka demikian dibuatnya. Beberapa hari kemudian mereka melintasi kota Ekbatana. Di situ tinggallah seorang kerabat Tobit bernama Raguel. Dan tentu saja mereka mampir di situ. Tetapi aduh! Tobia langsung jatuh cinta pada puteri Raguel bernama Sara, dan diputuskan bahwa mereka akan kawin. Sementara hal itu diurus, Rafael sendirian melanjutkan perjalanan untuk bertemu dengan Gabael dan memungut uang yang harus dikembalikan Gabael kepada Tobit. Akhirnya Rafael, Tobia dan Sara bersama-sama kembali ke Ninive. Atas petunjuk Rafael, Tobia mengobati mata ayahnya dengan empedu ikan itu, sehingga mata Tobit kembali terang. Tobit, isterinya serta Tobia tidak tahu bagaimana caranya mereka akan berterima kasih kepada Azarya, teman seperjalanan Tobia itu. Baru waktu itu Azarya menyatakan siapa dia sebenarnya, yakni malaikat Rafael.

Rasanya berita Kitab Suci ini mengandung suatu petunjuk penting bagi kita. Tobia dalam perjalanannya didampingi oleh kekuatan Tuhan terus-menerus, tetapi baru kemudian ia dapat mengetahui hal itu. Mungkin – sambil menoleh pada jalan hidup kita – kita pun mempunyai suatu peng-alaman sebanding itu. Tetapi entah kita menyadarinya ataupun tidak, Allah memberikan kepada kita  masing-masing perlindungannya melalui seorang malaikat pelindung. Pasti kelak – sesudah hidup ini – mata kita akan terbuka untuk kenyataan itu, yakni bahwa sepanjang hidup kita, Allah beserta kita!

  1. SANTO FRANSISKUS DARI ASSISI (4 Oktober) – I

Bacaan Markus 10:17-27  Orang kaya sukar masuk Kerajaan Allah

Renungan Pada tanggal 4 Oktober kita merayakan salah seorang kudus terkenal, yakni Santo Fransiskus dari Assisi.

Dalam renungan ini, kami boleh menyebutkan beberapa pokok penting menyangkut kehidupan orang kudus yang begitu simpatik ini. Fransiskus ini jangan kita campuri dengan seorang kudus lain bernama Fransiskus, yakni Fransiskus Xaverius!

Fransiskus yang kami maksudkan dalam renungan ini, lahir kurang-lebih 800 tahun lalu di kota Assisi di Negeri Italia, dan sejak waktu itu pun dikenal sebagai “Fransiskus dari Assisi”. Ayahnya seorang yang kaya; dia seorang pedagang kain. Dan jelaslah Fransiskus kelak harus menggantikan ayahnya dalam perdagangannya itu.

Hidupnya sebagai seorang pemuda tidak terlalu buruk, dan juga tidak terlalu baik. Ia sering alpa sembahyang, sewaktu-waktu ia pun mabuk-mabukan bersama kawan-kawannya. Tetapi kadang-kadang ia pun menyadari kekosongan hidupnya, dan ia minta kepada Tuhan petunjuk untuk memperbaiki hidupnya. Demikianlah terjadi bahwa pada suatu kesempatan ia berlutut berdoa di gereja kecil San Damiano. Dengan tiba-tiba ia mendengar suatu suara mengatakan kepadanya:

“Fransiskus, perbaikilah rumah-Ku yang mau roboh!”

Ia keheran-heranan dari mana gerangan suara itu dan siapa itu yang berbicara. Tetapi segera juga ia sadar: “Ini suara Kristus yang mau supaya saya memperbaiki gereja San Damiano ini!” Tepat juga, sebab memang gereja kecil itu hampir roboh.

Waktu itu ia berumur 24 tahun. Ia pamit dengan orang-tuanya dan mulai merehab gereja San Damiano itu. Ayahnya, bernama Pietro Bernadone, marah sekali, lebih-lebih karena mulai saat itu orang sering melihat Fransiskus berjalan di kota dari rumah ke rumah dengan berpakaian compang-camping, sambil mengemis sisa-sisa makanan.

Dua tahun lamanya ia bekerja di San Damiano. Berganti-gantian ia berdoa dan bekerja. Selama waktu itu ia berubah menjadi seorang pendoa, seorang mistikus, seorang NABI. Dan ia mulai mengerti, bahwa bukan gereja San Damiano itu yang mau roboh, melainkan Gereja Katolik. Gereja Yesus Kristus mau roboh, karena iman tidak lagi dihayati dengan betul, dan sebagian para uskup dan imam pun hidupnya tidak baik.

Fransiskus pun telah mendengar sabda Yesus bunyinya:

“Juallah segala milikmu dan dermakanlah kepada orang miskin, lalu ikutilah Aku”.

Maka ia mengikuti Yesus dengan segenap hati, dalam kemiskinan total. Ada yang tertarik oleh contoh Fransiskus, dan dalam waktu singkat ada dua belas pengikut yang ingin hidup seperti dia; mereka semua dari kalangan orang bangsawan dan pedagang-pedagang kaya. Perkumpulan mereka mula-mula tidak mempunyai anggaran dasar selain Injil Yesus Kristus.

Waktu itu yang menjadi Paus di Roma ialah Inosensius III, seorang yang sungguh agung dan mulia. Dia pun memperjuangkan pembaharuan Gereja yang mau roboh itu. Dengan segenap hati ia merestui cara hidup Fransiskus serta kawan-kawannya. Tetapi ketika ia menawarkan kepada Fransiskus untuk ditahbiskan imam, maka Fransiskus menolak.

Kemudian Fransiskus dan kawan-kawannya berjalan keliling sambil mewartakan Kerajaan Allah, sambil berbuat baik, sambil berdoa dan memuji Tuhan, tidak lain seperti dibuat oleh Yesus dulu bersama dengan kedua belas murid-Nya. Fransiskus memperkenalkan Kristus kepada umat dalam corak baru: bukan sebagai Sang Raja Agung, bukan sebagai Sang Hakim yang keras, melainkan sebagai Putra Allah:

  • yang lahir miskin di sebuah kandang hewan di Betlehem;
  • yang hidup miskin sebagai seorang tukang kayu di Nazaret;
  • yang kemudian berlelah berjalan keliling tanpa mempunyai suatu tempat untuk membaringkan kepala-Nya;
  • yang mati di salib, tak dapat dikenal lagi sebagai seorang manusia, melainkan kelihatan seperti cacing.

Betapa besarlah pengaruh Fransiskus! Lima puluh tahun sesudah ia memulai gerakannya, jumlah pengikutnya dari 12 orang sudah berkembang menjadi 35.000 orang. Wanita pun tidak ketinggalan. Tokoh utama para wanita ialah Santa KLARA. Dengan bantuan Fransiskus ia melarikan diri dari rumah pada umur 18 tahun. Santa Klara menjadi yang pertama dari ratusan ribu Suster Fransiskanes dan Klaris di seluruh dunia.

Bukan main besar juga pengaruh gerakan ini untuk berjuta-juta orang kristen; mereka mengubah hidupnya atas pewartaan dan teladan Fransiskus dan Klara serta para pengikut mereka.

Fransiskus mencapai puncak kehidupannya ketika, pada umur 40 tahun, ia menerima luka-luka Yesus pada kaki-tangannya (disebut: “stigmata”). Akhirnya pada tanggal 4 Oktober tahun 1226 ia meninggal di San Damiano pada umur  44 tahun. Dua tahun kemudian ia dinyatakan kudus oleh Paus Gregorius IX.

Santo Fransiskus dari Assisi bagi kita kiranya bukan sekedar salah seorang kudus begitu saja. Dialah yang dapat dipandang sebagai yang terbesar sesudah Santa Perawan Maria dan Santo Yohanes Pembaptis. Ia telah mengantar nenek-moyang kita dan juga kita sendiri sampai pada suatu pertemuan yang akrab dengan Kristus, karena membuka mata kita akan realitas Injil, realitas Putra Allah yang hidup, yang menjadi manusia, seperti kita dan bersama dengan kita.

  1. SANTO FRANSISKUS DARI ASSISI (4 Oktober) - II

Sebelum Bacaan Santo Fransiskus dari Assisi, yang pestanya jatuh pada tanggal 4 Oktober, termasuk salah seorang kudus  yang umum dikenal dan  dicintai  di  kalangan

kita. Salah satu ciri semangat Santo Fransiskus dari Assisi itu ialah: cintanya kepada Allah sebagai Bapa yang mahabaik. Ia selalu memuji Tuhan dan kebesaran-Nya dalam segala ciptaan-Nya. Ia merasakan Tuhan sungguh HADIR dalam ciptaan-Nya: dalam matahari, bulan, bintang, air, api, binatang, tanaman. Dan karena itu semua ciptaan itu ia anggap sebagai “saudara”. Ia menyusun sebuah madah yang sangat indah berjudul “Gita Sang Surya”; di dalamnya ia menyanyi tentang semua saudaranya itu. Di situ Fransiskus melanjutkan puji-pujian yang kita kenal dari Kitab Mazmur.

Bacaan Mazmur 104:24-35    Betapa banyak perbuatan-Mu…

Renungan Siapakah Santo Fransiskus dari Assisi! Tadinya dialah seorang pemuda kaya yang kemudian dipanggil secara istimewa untuk mengabdi kepada Tuhan. Ia hidup di Italia dari tahun 1181 sampai tahun 1226.

Mula-mula ia mau menjadi seorang perwira dalam bala tentara seorang raja besar. Tetapi tiba-tiba ia menjadi sadar bahwa Tuhanlah Raja yang terbesar. Pada suatu waktu ia bertemu dengan seorang yang berpenyakit kusta. Terdorong oleh rasa sayang, ia mendekatinya, memeluknya dan mencium dia. Sejak saat itu Fransiskus menganggap dirinya seorang kecil yang harus melayani semua orang lain.

Di gereja kecil San Damiano, Fransiskus mendengar suara Kristus yang berkata:

“Fransiskus, perbaikilah rumah-Ku yang hampir roboh!”

Maka segera ia mulai bekerja, memperbaiki gereja San Damiano itu, sampai akhirnya ia mengerti apa sebenarnya arti perkataan Kristus itu, yaitu bahwa UMATLAH yang sudah merosot sema-ngatnya, bahwa Gereja Katolik sedunia dalam keadaan goyang. Maka ia mulai mewartakan Injil di seluruh Italia dengan perkataan dan lebih lagi dengan perbuatan, dengan hidup menurut Injil Yesus Kristus. Ia pun mengumpulkan orang-orang yang mau hidup bersama dengan dia dan mau hidup seperti dia. Sampai hari ini, lebih dari tujuh setengah abad sesudah kematiannya, gerakan Santo Fransiskus itu sangat besar pengaruhnya bagi Gereja dan dunia. Kunci hidup dan karya Santo Fransiskus dari Assisi adalah cintanya akan Yesus. Dalam diri Yesus, kebaikan Allah menjadi tampak bagi Fransiskus. Kebaikan Allah itu mau diteruskannya kepada orang lain.

Hal itu pun merupakan tugas Gereja dewasa ini, dan tugas KITA.

  1. DOA ROSARIO (7 Oktober)

Bacaan Lukas 2:41-52   Yesus pada umur dua belas tahun dalam Bait Allah.

Renungan Bulan Oktober adalah BULAN ROSARIO. Dengan sembahyang Rosario, kita menghormati Bunda Maria;  dengan  sembahyang Rosario,  bersama  de-

ngan Maria kita menghadap Takhta Allah untuk memuji Tuhan dan memohon belas kasih-Nya.

Doa Rosario itu demikian sederhana, sehingga selalu siap pakai, entah Bapak Paus mendoa-kannya di gereja besar Santo Petrus di Roma, ataupun kita mendoakannya di kebun atau di tempat tidur: doa itu selalu kena. Asal saja kita mengucapkannya dengan tenang dan khidmat. Doa itu diucapkan dengan bibir, tetapi gerakan HATI yang dipentingkan.

Di dalam buku-buku doa, kita biasanya dapat menemukan KEDUA PULUH PERISTIWA ROSARIO. Peristiwa-peristiwa itu berkisar pada kejadian-kejadian dalam kehidupan Yesus dan Maria.

Seperti kita tahu, ada empat jenisnya:

  1. Lima peristiwa gembira;
  2. Lima peristiwa sedih;
  3. Lima peristiwa mulia;
  4. Lima peristiwa cahaya.

Untuk setiap seperlima bagian Rosario disediakan satu Peristiwa untuk direnungkan.

Seorang Pastor Yesuit, almarhum Pater A. Busch, tinggalkan catatan ini menyangkut Doa Rosario. Ia berkata: Dengan berdoa Rosario, kita melihat YESUS melalui mata MARIA. Dan kita memandang Maria sebagai hamba Tuhan, sebagai Bunda yang berdukacita dan sebagai Permaisuri Surga. Dan ia lanjutkan:

  • Dalam peristiwa-peristiwa GEMBIRA, kita melihat nilai dari hidup sederhana, hidup tersem-bunyi yang berlawanan dengan segala kesombongan, yang mengajarkan kita kerendahan hati.
  • Dalam peristiwa-peristiwa SEDIH, kita melihat ketaatan dalam kesukaran, dan kita akan tahu caranya kita menghalaukan ketakutan dan bagaimana caranya kita harus melawan kepenting-an diri sendiri yang hanya mau mencari kesenangan.
  • Dan dalam Peristiwa-Peristiwa MULIA, kita menginsyafi bahwa hidup sejati di ambang pintu, dan bahwa kita tidak boleh tenggelam dalam urusan dunia ini.

Beliau waktu itu belum mengenal Peristiwa-Peristiwa Cahaya, yang baru diberikan kepada Gereja oleh Paus Yohanes Paulus II dalam tahun 2002. Melalui Peristiwa-Peristiwa Cahaya itu kita di-ajak untuk merenung beberapa peristiwa pokok dalam hidup Tuhan Yesus, melaluinya Ia menyelamatkan kita.

Karena kelompok Peristiwa Cahaya mungkin belum dihafal, kami menyebutnya di sini sbb.:

PERISTIWA-PERISTIWA CAHAYA

(1)   Yesus dibaptis di sungai Yordan

(2)   Yesus menyatakan diri-Nya dalam pesta perkawinan di Kana

(3)   Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan

(4)   Yesus menampakkan kemuliaanNya

(5)   Yesus menetapkan Ekaristi

Semoga permenungan Peristiwa-Peristiwa Rosario selama bulan Oktober ini menyuburkan hidup sehari-hari kita.

  1. HIDUP DALAM TERANG (Hari Minggu Misi)

Bacaan Efesus 5:8-14    Memang dahulu…

Renungan Seribu tiga ratus tahun lalu Injil untuk pertama kali diwartakan di Negeri Inggris. Negeri Inggris waktu itu masih agak primitif. Salah seorang misiona-

ris pertama di negeri itu adalah Santo Paulinus. Ia menghadap Raja Inggris dan mewartakan kepadanya Berita Gembira Yesus Kristus, yang karena wafat dan kebangkitan-Nya telah membukakan kita jalan kepada Allah. Raja mendengar dengan penuh perhatian. Kemudian ia membicarakan itu dengan Dewan Penasehatnya. Ia bertanya: “Apakah kita akan memeluk iman-kepercayaan Bapak Paulinus itu? Apakah kita akan percaya akan Allah yang Esa dan akan Putra-Nya Yesus Kristus? Apakah kita akan percaya akan keselamatan kekal di surga bagi semua orang yang percaya dan yang hidup menurut Injil Tuhan Yesus itu?”

Ada yang tidak setuju… Mau saja tetap berpegang pada dewa-dewi nenek-moyang. Mereka takut bahwa dewa-dewi dan arwah-arwah para nenek-moyang akan membalas dendam, akan mendatangkan penyakit dan pelbagai macam bencana.

Sementara itu di luar sudah menjadi gelap; tetapi di dalam ada terang, karena telah dipasang pelita-pelita. Pada suatu saat terjadilah suatu peristiwa kecil yang sebetu1nya tidak berarti: ada se-ekor burung terbang masuk jendela sebelah, ia terbang melintasi ruangan rapat itu, lalu keluar lewat jendela sebelah. Itu saja. Namun peristiwa kecil itu rupanya menjadi amat penting untuk bangsa Inggris. Sebab pada saat itu pun salah seorang peserta rapat berdiri dan angkat bicara sebagai berikut: “Hai Raja nan mulia serta bapak-bapak sekalian! Mungkin bapak-bapak memperhatikan burung yang tadi melintasi ruangan ini. Ia datang dari kegelapan, berada dalam terang selama sedetik waktu, kemudian menghilang lagi ke dalam kegelapan. Kita ini seperti burung itu: kita lahir datang entah dari mana, lalu hidup sejenak waktu di dunia ini, kemudian kita mati, pergi entah ke mana…? Kita tidak tahu. Jika di sini ada seseorang, yaitu Bapak Paulinus itu, yang mempunyai jawaban atas kedua pertanyaan itu, yakni: dari mana kita datang dan ke mana nanti kita pergi, maka jangan kita ragu-ragu menerima ajarannya dan marilah kita menjadi orang kristen”. Kata-kata yang bijaksana itu menggugah hati seluruh sidang itu. Dan Negeri Inggris menerima Injil Yesus Kristus.

Kitalah anak-anak terang, berasal dari Terang dan menuju ke Terang. Seperti tadi kita mendengar Santo Paulus berkata:             “Bangkitlah dari antara orang mati,

dan Kristus akan bercahaya atas kamu”.

  1. KEADILAN

Bacaan Yesaya 26:1-10     Nyanyian puji-pujian

Renungan Orang yang bersalah, patut diberi hukuman. Orang yang berbuat baik, patut diberi pujian atau imbalan.   Dua-duanya setimpal dengan perbuatan yang di-

lakukan. Kita yakin akan hal itu. Itu pun kita harapkan dari Allah, bahkan menjadi satu dari keempat kebenaran pokok iman kita, bunyinya:

“Tuhan membalas yang baik dan menghukum yang jahat”.

Tadi kita mendengar nabi Yesaya dengan setulus hati berkata:

“Ya Tuhan, kami menanti-nantikan saatnya

Engkau menjalankan penghakiman…

Apabila Engkau datang menghakimi bumi,

maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar”.

Bahkan Yesaya berpendapat bahwa tidak perlulah orang yang curang disayangi. Sebab ia berkata:

“Seandainya orang jahat dikasihani,

maka ia tidak akan belajar apa yang benar;

ia akan berbuat curang di negeri di mana hukum berlaku…”.

Memang, selalu ada jalan untuk PENGAMPUNAN. Kita pun senantiasa berdoa: “Ampunilah kesalahan kami”. Tetapi sekaligus juga kita. menyadari perlunya suatu hukuman yang pantas bagi mereka yang berbuat jahat. Itulah adil.

Dosa yang terbesar melawan keadilan, ialah mencabut hak sesamanya untuk HIDUP. Atau de-ngan kata lain MEMBUNUH sesama. Dalam Kitab Kejadian kita membaca tentang Kain yang membunuh adiknya Habel. Dan sesudah perbuatan yang ngeri itu, Tuhan berfirman kepada Kain: “Di manakah Habel, adikmu! Apa yang telah kauperbuat ini! Darah adikmu berteriak kepada-Ku dari tanah”.

Allah sangat tegas terhadap mereka yang berlaku dengan tidak adil. Teristimewa kalau yang menjadi korban ialah orang-orang miskin dan kecil. Dalam Kitab Ulangan bab 24 kita baca:

  • “Jangan engkau memeras pekerja harian yang miskin dan menderita. Engkau harus membayar upahnya sebelum matahari terbenam, supaya jangan ia berseru kepada Tuhan me-ngenai engkau…”
  • “Jangan memperkosa hak orang asing dan anak yatim”.
  • “Jangan engkau mengambil pakaian seorang janda miskin menjadi gadai”.
  • Dalam bab 25 kita baca: “Jangan ada di dalam pundi-pundimu dua macam batu timbangan: yang besar dan yang kecil. Sebab setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi Tuhan Allahmu”.

Kita pun kiranya menjalankan keadilan dan mengakui hak-hak sesama kita:

  • hak atas hidup;
  • hak atas nama baik;
  • hak atas mendengar kebenaran;
  • hak atas barang miliknya.

Hanya orang-orang yang adil dapat sungguh mengharapkan berkat dari Tuhan, sesuai dengan sabda Yesaya yang tadi kita dengar:

“Jejak orang benar adalah LURUS, sebab Allah merintis jalan lurus baginya”.

  1. TEGURAN ALLAH

Bacaan Wahyu 3:14-22    Kepada jemaat di Laodikia

Renungan Nasehat Allah kepada kita disampaikan melalui pelbagai jalan. Kita dinasehati oleh Allah teristimewa melalui Yesus. Teguran itu dapat kita terima atau-

pun dapat kita tolak. Pernah ditolak di Nazaret, ketika orang di Rumah Ibadat menolak Yesus, karena katanya: “Dia seorang tukang kayu saja!”

Nasehat Allah disampaikan pula melalui para nabi di masa Perjanjian Lama. Nasehat itu pun se-ring ditolak, karena orang tidak mau dinasehati oleh orang yang tidak dengan resmi telah diangkat menjadi atasannya.

Dan bagaimana dengan KITA INI! Tidakkah kita boleh berharap dan percaya, bahwa Allah senantiasa menasehati kita? Kita adalah anak-anak-Nya yang tercinta! Tetapi Allah akan menentukan jalannya sendiri untuk menegur kita. Allah berkata:

“Barangsiapa Kukasihi, dia Kutegur dan Kuhajar”.

Untuk menyampaikan nasehat itu kepada kita, Allah menegur kita baik melalui peristiwa-peristiwa, maupun melalui perkataan orang lain. Orang-orang itu belum tentu hanya atasan-atasan kita atau Pastor atau Pemimpin Ibadat dalam khotbahnya, atau Bapak Pengakuan dalam Sakramen Pengampunan Dosa. Allah menasehati kita juga melalui suami atau isteri, melalui kakak atau kawan.

Allah malah sewaktu-waktu memilih jalan dan cara yang agak aneh, yaitu kadang-kadang Ia berbicara kepada kita melalui kata-kata pedis seorang pelawan atau melalui keluhan adik, bahkan melalui kata spontan dari anak kita sendiri. Mungkin dalam tuduhan-tuduhannya terhadap kita, orang berbicara berlebih-lebihan, dan secara spontan timbullah rasa jengkel dalam diri kita. Tetapi alangkah baik kita menapis nasehat, yang sebenarnya mau diberikan kepada kita, lalu kita telan… betapa pun pahit rasanya.

Allah berkata:

“Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Semoga setiap teguran kita terima sebagai anugerah Allah… dari mulut siapa pun asalnya.

  1. EMANSIPASI WANITA

Bacaan Lukas 1:39-56     Maria dan Elisabet

Renungan Dewasa ini kita sering mendengar pembicaraan tentang EMANSIPASI WA-NITA. Istilah “emansipasi” berasal dari bahasa Latin, dan sebenarnya berarti:

“merenggut dari tangan”. Mungkin dimaksudkan bahwa wanita tidak lagi mau dipegang oleh ta-ngan laki-laki atau mengikut saja laki-laki ke mana diantarkannya, membuat apa saja yang disuruh laki-laki, diam bila laki-laki berbicara, bersifat takluk, tunduk, tunggu perintah.

Di negara Indonesia wanita diakui statusnya SEMARTABAT dengan pria. Seorang wanita bisa menjadi Presiden, Walikota, Ketua Pengadilan atau jabatan tinggi apa pun.

Maria, Bunda Yesus, sering dilukiskan sebagai wanita yang belum mengenal emansipasi, yang ikut perintah saja, yang diam dan tunggu disuruh; yang dipuji karena kesederhanaannya dan kesetiaannya akan tugas-tugas hariannya.

Namun kalau kita membaca beberapa teks Injil baik-baik, kita mendapat kesan bahwa Maria pun seorang pejuang emansipasi itu. Bahwa dia pun mempunyai suatu pesan penting demi perombakan struktur-struktur yang tidak adil dalam masyarakat. Lihat saja beberapa ayat dari lagu pujiannya yang tadi kita dengar. Beginilah kata-kata Maria:

“Allah mencerai-beraikan orang yang congkak hatinya.

Ia menurunkan orang yang berkuasa dari takhtanya

dan meninggikan orang yang rendah.

Allah menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan kosong”.

Bukanlah tujuannya emansipasi wanita, agar wanita menjadi jago yang perkasa dan berkuasa, melainkan emansipasi wanita yang benar ialah keinginan kaum wanita untuk dalam hidup ma-syarakat dan juga dalam Gereja, berkesempatan untuk main peranan lebih aktif dalam hal membangun masyarakat dan Gereja. Maria mengajak kita sekalian untuk lebih membuka mata akan sumbangan khas yang dapat diberikan oleh wanita untuk menciptakan suatu masyarakat yang adil dan makmur dan yang bergairah untuk berbakti kepada Tuhan. Semoga makin berhasil!

  1. SAKIT

Bacaan Yesaya 53:3-5     Ia dihina…

Renungan Menjadi pengalaman kita semua, bahwa ada kalanya kita jatuh sakit. Mari kita mendengar berita dari seorang pemudi bernama Trisye seperti pernah da-pat dibaca dalam Mingguan HIDUP. Beginilah cerita Trisye:

“Saya baru saja pulang dari sekolah. Badanku tidak seperti biasa. Saya merasa mual, dan jantungku seakan-akan mau berhenti berdenyut. Mataku berkunang-kunang, dan begitu sampai di pintu rumah, saya sudah tidak sadarkan diri lagi.

Ketika saya sadar kembali, ternyata saya dikelilingi oleh seorang dokter, seorang perawat, lagi ibuku dan kakakku. Rupanya saya ada di bangsal sebuah Rumah Sakit. Aduh! Seluruh badanku terasa gatal. Dan saya melihat bahwa seluruh badanku penuh bekas-bekas biru, seakan-akan baru saja saya mendapat pukulan yang hebat! Ini sakit APA!

Selama empat hari saya diberi suntikan dan banyak obat. Dan pada malam hari saya diberi oksigen. Penyakitku yang aneh itu terasa makin parah. Kukira ajalku sudah dekat. Saya berdoa memohon ampun kepada Tuhan.

Tiba-tiba, pada malam yang kelima, tampaklah suatu sinar yang menyilaukan mata, dan bersamaan dengan itu saya melihat bayangan seorang yang berjubah putih dan yang memanggul sebuah salib. Saya menggigil ketakutan. Orang itu kelihatan seperti Tuhan Yesus pada gambar-gambar. Ia berbicara kepada saya, katanya: “Trisye, Akulah Putra Allah yang diutus untuk me-nyembuhkan engkau. Percayakah engkau pada-Ku? Pandanglah salib ini, Trisye, maka engkau akan sembuh”. Saya memandang salib itu dan saya berdoa: “Ya Yesus, Engkau telah datang kepadaku yang hina ini. Kalau Kaukehendaki, maka saya akan sembuh”. Dan lebih banyak lagi kata-kata yang saya ucapkan. Setelah saya selesai berdoa, maka bayangan itu hilang, tetapi salib itu tinggal di sisiku. Saya mendekap salib itu. Selanjutnya pada malam itu saya tidur sono.

Esok harinya dokter amat heran ketika melihat saya dalam keadaan segar-bugar. Bekas-bekas yang biru pun telah hilang. Dan yang paling mengherankan ialah salib yang saya dekap itu. Saya menceritakan kepada dokter segala yang telah terjadi pada malam hari. Hari berikutnya saya keluar dari Rumah Sakit karena sudah sembuh. Sore hari saya menghadiri Perayaan Ekaristi.

Demikianlah cerita Trisye mengenai kesembuhannya. Kita dapat membayangkan sedikit bagaimana doa Trisye pada saat Ibadat Ekaristi itu! Mungkin bukan hanya sekedar berterima kasih. Mungkin ia menjadi sadar juga tentang apa yang di dalam Kitab Nabi Yesaya sudah dinubuatkan tentang Yesus, Sang Mesias:

“Ia seorang yang penuh kesengsaraan…

menderita kesakitan… sangat dihina…

Tetapi sesungguhnya:

penyakit KITALAH yang ditanggung-Nya

dan kesengsaraan KITA yang dipikul-Nya”.

Ya… sengsara kita menjadi sengsara Kristus. Demi kebahagiaan dan keselamatan kita, Ia telah bersengsara. Bukan hanya demi Trisye tadi, melainkan demi kita sekalian. Tetapi Ia juga menye-rahkan salib-Nya kepada kita, supaya kita memanggulnya bersama dengan Dia, dalam bentuk apa pun juga.

  1. SEJARAH DOA “SALAM MARIA”

Bacaan Lukas 1:39-45    Maria dan Elisabet

Renungan Di kalangan kita ada suatu doa yang amat laku, suatu doa yang kita ajarkan kepada anak-anak kita malah sebelum kita ajarkan doa “Bapa kami”.  Doa itu

ialah doa SALAM MARIA. Dari mana asalnya, dari mana datangnya doa itu? Mungkin kita heran mendengarkannya: tetapi doa yang pendek dan sederhana ini membutuhkan waktu hampir lima belas abad, baru mendapat bentuknya seperti sekarang ini.

  1. Yang pertama mengucapkan sebagian doa itu ialah malaikat Gabriel. Ada bukti-bukti bahwa sekurang-kurangnya sejak abad keenam umat kristen mulai mengucapkan dan mengulangi kata-kata malaikat itu, sebagai suatu penghormatan bagi Ibu Yesus. Kata-kata yang kami maksudkan ialah: SALAM MARIA, PENUH RAHMAT, TUHAN SERTAMU. Terjemahan terbaru bunyinya: “Salam, hai engkau yang dikaruniai; Tuhan menyertai engkau”. Jelaslah artinya sama saja. Jadi waktu itu orang suka berdoa:

“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Amin”.

  1. Dalam abad kedua belas – jadi enam abad kemudian – ada penambahan. Yang ditambahkan ialah kata-kata dari Elisabet kepada Maria, yang tadi dalam bacaan kita dengar: TERPUJILAH ENGKAU DI ANTARA WANITA, DAN TERPUJILAH BUAH TUBUHMU. Tadi kita mendengar terjemahan yang baru, namun yang sama artinya, yaitu: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan, dan diberkatilah buah rahimmu”. Maka sejak waktu itu – kurang-lebih 800 tahun lalu – orang biasa berdoa begini :

Salam Maria, penuh rahmat; Tuhan sertamu.

Terpujilah engkau di antara wanita

dan terpujilah buah tubuhmu. Amin”.

Kemudian ditambahkan lagi kata YESUS, menjadi “…Buah tubuhmu Yesus”. Dan selesailah sesudah kurang-lebih dua belas abad, bagian pertama dari doa “Salam Maria”.

  1. Untuk bagian kedua dari doa “Salam Maria” tidak dibutuhkan waktu yang begitu lama. Bagian kedua itu mendapat bentuknya dalam waktu tiga atau empat abad. Yaitu mulai dari abad ketiga belas ada penambahan-penambahan pendek. Misalnya di suatu daerah orang berdoa: “…Santa Maria, doakanlah kami. Amin”. Di lain tempat orang berdoa: “…Doakanlah kami yang berdosa ini. Amin”. Dan beberapa variasi lain lagi.
  2. Doa selengkapnya, dalam bentuk yang sekarang ini, baru diresmikan untuk seluruh Gereja oleh Paus Pius V dalam tahun 1568, jadi 4½ abad yang lalu.

Demikianlah sejarah singkat doa SALAM MARIA yang terkenal itu. Ternyata sarat akan tradisi yang suci, diucapkan ribuan kali oleh jutaan orang beriman yang telah mendahului kita, yang mengungkapkan cinta mereka akan Bunda Maria dan yang melalui doa ini menaruh harapannya kepada Bunda Allah.

Marilah dengan cinta yang sama, sekarang ini pun, dengan perlahan-lahan dan penuh perhatian, kita mengucapkannya bersama-sama:

“Salam Maria….”

  1. CUKUP BELUM CUKUP

Bacaan Yakobus 5:1-6    Peringatan kepada orang kaya

Renungan Betapa tegas Rasul Yakobus terhadap orang yang kaya! Syukurlah tiada di antara kita yang kaya-raya.  Namun jangan-jangan ada yang amat ingin untuk

mengumpulkan harta, yang merasa jengkel dan kecewa karena harus hidup begitu-begitu saja. Merasa iri hati kepada orang yang punya harta benda berlimpah-limpah. Corak harta itu bisa berbeda-beda. Kerakusan kadang-kadang bukan hanya tertuju kepada harta benda, melainkan mau bagaikan memiliki manusia, dan dalam hal raja Daud: mau merampas isteri seorang bawahannya yang baik dan setia.

Dalam Kitab Suci, raja Daud amat dipuji, namun tidak dirahasiakan juga bahwa satu kali Daud amat berdosa. Waktu itu Yoab, panglima pasukan Israel, sementara berperang melawan bangsa Amon, sedangkan Daud tinggal saja dalam istananya di Yerusalem. Salah seorang perwira dalam pasukan Yoab bernama Uria. Rumahnya di Yerusalem di samping istana raja Daud. Karena Uria berada di medan perang, isterinya, bernama Batsyeba, sendirian di rumah. Dia seorang wanita yang cantik, dan Daud menggodai dia untuk berkumpul bersama dengannya. Untuk dapat menjadikan dia isterinya, ia menulis surat kepada Yoab yang isinya ialah perintah untuk mengatur supaya Uria tewas dalam pertempuran. Dan terjadi demikian. Lalu Daud mengambil Batsyeba menjadi isterinya. Daud merasa aman, sebab tiada orang yang tahu, dan pasti Yoab akan tutup mulut.

Tak lama kemudian Daud didatangi oleh seorang nabi bernama Natan. Berkatalah Natan kepada Daud: “Hai raja yang mulia. Ada suatu masalah menyangkut seorang miskin yang adalah budak seorang yang kaya raya. Si kaya itu memiliki banyak sapi dan domba. Si miskin itu tidak memiliki apa-apa selain seekor anak domba yang masih kecil. Dia sangat menyayangi anak domba itu. Ia memberinya makan dari piringnya sendiri dan membiarkan dia tidur di pangkuannya. Tetapi baru-baru si kaya itu mendapat kunjungan seorang tamu, maka dia mengambil anak domba si miskin itu, menyembelihnya, memasak dagingnya dan menghidangkannya kepada tamunya itu.” Pada mendengar hal itu, Daud menjadi amat marah. Tetapi segera juga amarahnya reda ketika nabi Natan berkata: “Hai raja Daud, engkaulah si kaya itu, dan Uria si miskin. Engkau yang mempunyai harta milik berlimpah-limpah. Namun rupanya belum cukup, sehingga engkau membunuh Uria untuk merebut bagimu isterinya yang amat dikasihinya. Maka dengarkanlah firman Tuhan: “Aku akan mendatangkan malapetaka atas dirimu; engkau akan dianiayai oleh orang sekeluargamu sendiri. Engkau telah melakukan ini secara tersembunyi, tetapi Aku akan menghukum engkau di hadapan seluruh Israel secara terang-terangan”. Maka tersungkurlah Daud dan berkata: “Aku telah berdosa di hadapan Tuhan, semoga aku memperoleh belas kasihan dan peng-ampunan daripadaNya”..

Betapa menguntungkan bagi kita bahwa kita boleh mendengar juga tentang kelemahan dan dosa para pilihan Allah: menjadi peringatan bagi kita. Dengan betapa mudah keinginan akan harta duniawi dapat menyesatkan kita, membuat kita lupa akan harta abadi yang Tuhan sediakan bagi kita. Kita akan kehilangan harta abadi itu jika tentang harta duniawi tidak pernah dapat kita katakan: Cukuplah!

NOVEMBER.

  1. PARA MARTIR NAGASAKI

(Tanggal 1 November: Hari Raya Semua Orang Kudus)

Bacaan Daniel 14:23-42     Daniel membunuh Naga Babel

Renungan Pada tanggal 27 Desember tahun 1637 diterima di kota Manila, Negeri Fili-pina, berita tentang kemartiran enam belas  orang  kristen  di  kota  Nagasaki,

Negeri Jepang. Dengan spontan orang-orang Manila berkerumun di gereja besar Santo Do-minggo; bukan untuk meratap dan berkabung, melainkan untuk menyanyi lagu “Te Deum”, ialah lagu syukur pujian kepada Allah. Sebab Allah telah menyayangi Negeri Jepang; Allah telah ber-kenan memanggil orang-orang MARTIR dari negeri itu. Kepahlawanan para martir itu ialah iman mereka, kesetiaan mereka dan cinta kasih mereka. Cinta kepada Allah. Cinta juga kepada tanah airnya. Sebab kematian mereka menjadi suatu berkat bagi negerinya.

Di antara para martir Jepang itu terdapat seorang kepala rumah-tangga bernama Laurent Ruiz. Dia mengatakan di hadapan hakim: “Kalau saya bisa hidup sampai seribu kali, maka saya pun akan merelakan seribu kehidupan itu demi Kristus”.

Dalam tahun 1982 Paus Yohanes Paulus II mengunjungi kota Nagasaki itu. Di situ pun ia meng-ucapkan pernyataan “beato” atau “berbahagia” bagi keenam belas orang martir itu. Pada kesempatan itu berkatalah Bapak Paus Yohanes Paulus II: “Suri teladan Laurent Ruiz mengingatkan kita, bahwa hidup kita masing-masing menjadi milik Kristus. Beragama kristen berarti merelakan dirinya pada setiap hari. Dengan demikian kita menjawab pemberian-diri dari Kristus. Kristus lahir di dunia ini agar kita mempunyai kehidupan, bahkan mempunyai kehidupan dengan selimpahnya”.

Berkatalah Sri Paus selanjutnya dalam suatu kalimat yang sangat tepat: “Hanya kepada beberapa orang saja diberi anugerah untuk MATI demi imannya; tetapi HIDUP dari iman itu menjadi panggilan bagi semua orang”.

Merenungkan hal itu, dapat kita katakan: iman itu bukannya sekedar suatu perhiasan hidup, bukan suatu penambahan pada hidup kita. Iman itu sebaliknya mengenai inti kehidupan. Entah kita harus menghadapi naga dan singa seperti nabi Daniel, entah kita harus mati seperti keenam belas martir Jepang itu, entah kita harus menjalankan tugas kita setiap hari dengan tekun dan setia… Semuanya bertitik-tolak pada Tuhan dan bertujuan pada Tuhan. Semoga Dia menguatkan kita.

  1. PARA ORANG KUDUS (1 November)

Sebelum Bacaan Kebangkitan Yesus bukan hanya penting bagi Yesus sendiri, melainkan pen-ting juga bagi kita semua.   Sebab   Yesus telah bangkit sebagai YANG PER-

TAMA. Berarti: ada yang kedua, ketiga dan seterusnya, yaitu segala manusia dipanggil untuk turut bangkit bersama Kristus. Berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya :

“Di Rumah Bapa-Ku ada banyak tempat tinggal.

Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu”.

Marilah kita mendengarkan hal itu dari rasul Paulus.

Bacaan 1 Tesalonika 4:13-18      Kedatangan Tuhan

Renungan Dalam Syahadat Para Rasul kita menyatakan kepercayaan kita akan apa yang kita sebut  PERSEKUTUAN ORANG KUDUS.   Dengan  “orang kudus” da-

lam hal ini dimaksudkan: semua orang yang dikuduskan oleh rahmat Allah, baik yang masih hidup di dunia ini, maupun yang berada di surga.

Jam ini secara khusus kita mau memberi perhatian kepada mereka yang sudah dipanggil keluar dari dunia ini dan kini berada bersama Tuhan di surga. Ada sejumlah di antara mereka yang kita kenal pada namanya, yaitu yang dengan resmi telah diakui oleh Pimpinan Gereja sebagai Orang Kudus. Misalnya Santa Maria, para Rasul, Santa Agnes, Santo Fransiskus Xaverius, Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Santo Pius X, lagi masing-masing Pelindung kita…dan banyak lain lagi.

Selain mereka yang melalui proses “kanonisasi” dengan resmi telah dinyatakan “kudus”, kita yakin juga bahwa ada banyak-banyak ribuan orang kudus lain, termasuk pula orang yang kita kenal pada namanya ketika mereka masih hidup bersama kita di atas muka bumi ini. Mereka itu semua semasa hidupnya telah melihat matahari yang kita lihat, tanah dan laut seperti kita melihatnya. Mereka semua telah mempergunakan benda-benda dunia ini, telah tidur, makan dan bekerja seperti kita. Mereka telah bergembira dan bersedih hati, tertawa dan menangis, sama seperti kita.

Pernah ada seorang berkata: “Kalau mereka itu melalui jalan itu menjadi kudus, maka mengapa SAYA tidak juga!” Lalu ia berusaha, dan atas rahmat Tuhan ia berhasil. Sekarang kita menghormati dia sebagai Santo Aloisius!

Betapa kita beruntung dengan begitu banyak om-om dan tanta-tanta di surga! Tetapi lebih-lebih baiklah kita coba mengikuti contoh hidup mereka. Santo Paulus malah berani mengatakan dan mengajak kita dengan kata-kata ini:

“Ikutilah teladan yang kuberikan kepadamu!”

Memang, kita adalah pengikut-pengikut KRISTUS. Kita pertama-tama mencoba meneladan KRISTUS. Tetapi dalam setiap orang kudus kita dapat menemukan sesuatu yang mungkin secara khusus menarik bagi kita. Dalam setiap Santo atau Santa kita melihat suatu segi dari kekudusan sempurna dari Yesus. Tetapi semua sepakat dalam beberapa sifat yang sama, yaitu kesetiaan, kerelaan berkorban dan harapan serta kepercayaan akan Tuhan yang menyelamatkan mereka.

Semoga kita menghayati persekutuan orang kudus teristimewa dengan meneladan contoh mereka yang telah mendahului kita, supaya kita pun kelak terbilang dalam kalangan mereka.

  1. PARA MARTIR KOREA

(Tanggal 1 November: Hari Raya Semua Orang Kudus)

Bacaan Matius 2:13-18      Penyingkiran ke Mesir

Renungan Kunjungan para Majus kepada Kanak-Kanak Yesus di Betlehem, secara tidak langsung menyebabkan pembunuhan massal  terhadap anak-anak kecil di

kota itu. Mereka itu adalah martir-matir pertama yang menumpahkan darahnya demi Kristus.

Kami telah sempat membaca tentang sebuah peristiwa yang terjadi di negeri Korea dalam tahun 1839 dan 1840, di mana sebanyak 103 orang Katolik menjadi martir. Di antara mereka ada juga beberapa orang muda, yang dengan gigih mempertahankan imannya akan Allah dan akan Yesus, Putra-Nya, antara lain seorang gadis umur 15 tahun bernama Barbara Yi, dari kota Seoul. Juga Peter Yu, 13 tahun dan Agatha Yi, 17 tahun. Mereka itu oleh Pemerintah Korea dianiayai dengan cara amat ngeri. Kita mau membatasi diri pada Agata Yi, gadis muda berumur 17 tahun itu.

Bersama ayahnya bernama Augustin Yi dan ibunya, Barbara Kwon, ia ditangkap dan dipenjarakan pada tanggal 8 April tahun 1839. Kepala polisi dengan segala daya upaya mencoba membujuk Agata untuk membuang agamanya.

Karena tidak berhasil, maka ia menyiksa Agata dengan kejam pada pelbagai cara, namun tanpa hasil. Orang-orang yang menyaksikan ketabahannya itu, dengan sendirinya mulai sadar akan adanya suatu kekuatan dari Surga dalam diri Agata itu.

Orang juga mencoba mendustai dia. Mereka berkata kepadanya bahwa ibu-bapanya sudah sadar dan sudah menyangkal imannya, sehingga telah dibebaskan dari tahanan. Tetapi Agata menja-wab: “Entah mereka menyangkal imannya atau tidak, terserahlah kepada mereka. Tetapi saya ini tidak mungkin menyangkal Tuhanku!”

Pada tanggal 24 Mei ayahnya dipenggal kepalanya. Tanggal 3 September berikutnya ibunya pun mati sebagai martir. Agata sendiri selama sembilan bulan meringkuk dalam penjara, dipukul, disiksa dan dianiaya. Ia menderita lapar dan haus, menderita sakit tak habis-habisnya. Akhirnya ia mati digantung di kota Seoul pada tanggal 9 Januari tahun 1840.

Pada tanggal 6 Mei tahun 1984, umat Katolik di Korea merayakan berdirinya Gereja Katolik di negerinya itu selama dua ratus tahun. Pada kesempatan itu Paus Yohanes Paulus II mengunjungi negeri itu, dan 103 martir Korea itu dinyatakannya KUDUS. Dalam bilangan mereka termasuklah Agata Yi serta ibu-bapanya. Mereka itu merupakan benih untuk perkembangan subur Gereja Katolik di Korea Selatan dewasa ini. Dewasa ini memang tidak lagi umat dianiayai. Sebaliknya pemerintah sadar dan mengakui peranan penting Gereja untuk perkembangan dan kemajuan negara itu.

Kita ini pun boleh bersyukur karena boleh hidup dalam suatu negara di mana banyak orang menghargakan Gereja Katolik. Untuk pembangunan dan untuk kesejahteraan rakyat kita pun memberikan sumbangan penting. Semoga teladan para martir Korea itu menguatkan kita agar dalam praktek hidup, kita setia dalam penghayatan cita-cita kristiani dan dalam iman kita akan Kristus.

  1. SANTA ELISABET DARI HUNGARIA (17 November)

Bacaan Yesaya 35:1-4      Keselamatan bagi Umat Allah

Renungan Berkatalah Tuhan: “Kuatkanlah hatimu, janganlah takut!”

Jangan takut berbuat baik; jangan berkecil hati bila engkau dibenci karena berbuat baik. Suatu waktu Allah akan menyingkapkan semuanya!

Marilah kita mendengar hal ini terbukti dalam kehidupan salah seorang kudus yang hidup sudah lebih dari 750 tahun yang lalu. Namanya ELISABET. Selengkapnya: Elisabet dari Hungaria. Dia anak dari raja Hungaria. Sesuai dengan kebiasaan setempat waktu itu, maka pada umur empat tahun ia dipertunangankan dengan seorang pangeran dari daerah Turingen, Negeri Jerman. Nama pangeran itu ialah Lodewik; umurnya sebelas tahun.

Pada umur dua belas tahun, Elisabet mulai memperhatikan derita orang-orang miskin dan sakit, dan ia pergi berkeliling ke rumah-rumah mereka. Ia membantu mereka dengan obat dan sedekah. Tetapi ada orang-orang bangsawan di istana raja, yang tidak menyetujui hal ini. Sebab harta kekayaan yang tadinya diberikan kepada mereka, kini sebagiannya jatuh di tangan orang sakit dan miskin. Maka mereka menjadi sangat kesal hati terhadap Elisabet yang masih muda itu.

Pada suatu hari ada sekelompok orang bangsawan itu sedang duduk bersantai di taman di belakang istana. Tiba-tiba mereka melihat Elisabet dengan sembunyi-sembunyi menyelinap keluar dari dapur. Ia berjalan cepat-cepat. Bajunya bagian depan diangkatnya ke atas, dan nyatalah ada barang tersembunyi di dalamnya. Maka berpikirlah para bangsawan itu: barang apa lagi yang mau dibawanya kepada orang-orang miskin itu! Mereka mendekati Elisabet dan bertanya dengan kasar: “Kau bawa apa itu!” Maka jawab Elisabet: “Cuma bunga-bunga mawar saja, tuan-tuanku!” Sebetulnya ia membawa makanan, tetapi terdorong oleh suatu ilham dari Tuhan, berkatalah ia: “Cuma bunga-bunga mawar saja!” Langsung mereka menarik ujung baju Elisabet, dan ternyata bunga mawar segar dan harum terserak ke tanah. Dan terbungkamlah mulut para bangsawan itu.

Beberapa tahun kemudian Elisabet kawin dengan tunangannya bernama Lodewik. Selama beberapa tahun mereka hidup dengan amat bahagia dan mendapat tiga orang anak. Tetapi kemudian Lodewik mati terkena wabah pes dalam perjalanan ke medan perang di Tanah Suci. Elisabet diusir dari istana oleh adik iparnya. Tetapi atas desakan masyarakat ia lalu boleh kembali lagi. Namun ia tidak lagi berpakaian rajawi, melainkan menggantikan pakaian yang indah itu dengan jubah biarawati ordo ketiga Santo Fransiskus. Ia menjadi miskin bersama orang miskin dan mengabdikan diri sampai hari-hari terakhir hidupnya demi orang miskin dan penderita.

Akhirnya ia meninggal dalam usia 24 tahun. Dalam hidupnya yang singkat itu ia telah membenarkan ajakan Tuhan melalui nabi Yesaya, yaitu: “Kuatkanlah hatimu, janganlah takut!”

  1. SANTA SESILIA (22 November)

Sebelum Bacaan Menurut penanggalan liturgi Gereja, pada tanggal 22 November dirayakan Pesta Santa Sesilia.  Sesilia adalah seorang gadis  yang telah memutuskan un-

tuk membaktikan jiwa-raganya kepada Kristus sebagai seorang perawan. Dalam pada itu ia   mengikuti suatu nasehat dari rasul Paulus yang hendak kita dengar dalam bacaan berikut ini.

Bacaan 1 Korintus 7:25-35       Sekarang tentang para gadis…

Renungan Dalam riwayat hidup Santa Sesilia agak sukarlah membedakan apa yang benar-benar telah terjadi, dan apa yang bersifat dongeng atau legenda. Riwa-yat hidupnya pada umumnya diberitakan sebagai berikut:

Sesilia hidup di kota Roma pada zaman dahulu kala. Waktu itu sering terjadi penganiayaan terhadap orang kristen oleh kaisar dan pihak pemerintahan. Sesilia adalah seorang kristen. Oleh orang-tuanya ia dipertunangankan dengan seorang pemuda kafir bernama Valerianus. Tetapi dengan tenang Sesilia menjelaskan kepada Valerianus. bahwa ia tidak berniat kawin dengan dia, karena ia telah menyerahkan jiwa badannya kepada Tuhan. Valerianus memang kecewa. namun ia tidak marah. Malah sebaliknya ia terpesona oleh itikad hati Sesilia. Dan ia sendiri pun masuk kristen. Ia pun meyakinkan adiknya bernama Tiburtius untuk menjadi beriman juga.

Valerianus dan Tiburtius, bersama seorang kristen lagi bernama Maximus, ditangkap dan diadukan ke pengadilan. Isi tuduhan ialah: mereka bertiga kedapatan menguburkan jenazah orang-orang kristen yang telah dibunuh oleh pemerintah. Maka mereka dijatuhi hukuman mati. Hukuman itu segera dilaksanakan, dan mereka menjadi martir demi imannya akan Kristus.

Tinggallah Sesilia. Ia pun ditangkap dan dihadapkan kepada hakim. Hakim mendesak agar ia meninggalkan imannya dan menyembah berhala. Percumalah. Sesilia menolak dengan tegas. Oleh karena itu ia disekap dalam semacam kamar mandi yang tertutup rapat-rapat, sehingga tidak ada angin dapat masuk-keluar. Lalu uap air panas dipompa masuk, dengan maksud supaya Sesilia mati tersesak napas. Namun, ketika pintu dibuka, ternyata sang gadis segar-bugar. Maka seorang tentara disuruh memenggal kepalanya. Tiga kali pedang menyambar tengkuk Sesilia yang jenjang dan mulus itu. Dan tersungkurlah ia. Dengan gemetar prajurit itu meninggalkan korbannya itu, tanpa memeriksa apakah ia sungguh mati atau tidak. Selama tiga hari Sesilia tergeletak dalam keadaan sadar dan tidak sadar, sampai akhirnya – menurut berita kronik kuno – jiwanya disambut dengan ALUNAN KIDUNG para malaikat, mengantarkannya ke Firdaus Abadi.

Karena adanya kidung itu, maka Santa Sesilia umum dikenal sebagai Pelindung paduan suara dan penyanyi. Gambarnya sering memperlihatkan dia sambil main orgel. Patungnya sebaliknya memperlihatkan dia sambil terbaring di tanah.

Demikianlah dengan singkat berita tentang salah seorang gadis yang mempercayakan hidupnya kepada Kristus, dan tidak dikecewakan, karena ia disambut oleh Mempelai Ilahi melalui kemartir-an yang mulia.

  1. BERPISAH

Bacaan Ayub 1:6-22    Pada suatu hari…

Renungan Dalam hidup kita, kita harus berpisah dengan orang lain, terus-menerus. Bukan hanya karena orang bepergian ke tempat jauh, dan bukan juga hanya karena orang meninggal.

Inilah kisah seorang ibu yang sedang menjaga buaian anaknya yang masih kecil, masih bayi. Tiba-tiba berdirilah di hadapannya seorang malaikat. Tentu saja terkejutlah ibu itu, dan langsung ia mengangkat anaknya dalam tangannya untuk melindungi dia. Ia tahu bahwa malaikat itu datang menjemput anaknya itu. Dan ia tidak mau melepaskan anaknya yang tersayang itu, kepada malaikat pun tidak. Berkatalah ia: “Hai Maut, aku tidak akan menyerahkan anakku kepadamu!”

Malaikat itu tersenyum dan berkata: “Namaku bukan Maut, melainkan Kehidupan. Mari aku boleh tawarkan kepada Ibu seorang anak lain, yang sudah besar, yang sudah berumur sekolah; ia sehat dan tampan… Tetapi ibu itu menolak.

Kemudian malaikat itu memperlihatkan kepadanya seorang pria dewasa, tampan dan gagah. Tetapi sekali lagi ibu itu menolak; ia berkata: “Aku tidak mau tukar anakku dengan seorang anak sekolah, dengan seorang anak remaja ataupun dengan seorang dewasa… Aku tidak mau melepaskan anakku ini!” Jawab malaikat itu: “Baiklah!” Lalu ia pergi.

Bayi itu berkembang, dan enam tahun kemudian ia masuk SD. Sepuluh tahun sesudahnya ia menjadi seorang pemuda, dan lima tahun kemudian ia sudah dewasa… Ibu itu ternyata toh kehilangan bayinya! Dan memang harus demikian. Kita berpisah dengan anak bayi, berpisah dengan anak remaja. Kita kehilangan anak-anak kita terus-menerus. Sampai pada suatu saat mereka meninggalkan orang-tuanya, mengikat diri pada istrinya atau suaminya. Perubahan itu pun setiap kali sekaligus merupakan suatu perpisahan.

  • Tunas tidak ada lagi, sebab sudah menjadi sekuntum bunga.
  • Ulat tidak ada lagi, sebab sudah menjadi seekor kupu-kupu.

Matahari terbenam bagi kita supaya dapat bersinar di tempat lain.

  1. JANGAN TAKUT

Bacaan Matius 10:26-33     Jadi janganlah kamu takut…

Renungan Kita semua sewaktu-waktu TAKUT. Ada orang yang takut air, atau takut melihat darah, takut akan tikus atau kaki seribu,  takut  akan kilat dan guntur,

takut gelap, takut melewati sebuah kuburan di malam hari, takut berdiri di tempat yang tinggi. Ada juga orang yang takut berbicara atau takut berada di tengah-tengah banyak orang, takut akan masa depan, takut menjadi bahan tertawaan orang, takut akan guna-guna. Dan akhirnya takut MATI.

Dalam bacaan tadi Yesus rupanya mau menghapus segala ketakutan itu. Mungkin puncak dan rangkuman dari segala ketakutan ialah takut MATI. Nah, kata Yesus:

“Jangan takut terhadap orang yang dapat membunuh tubuh”.

Kalau terjadi seorang anak kecil takut, maka ketakutannya lenyap bila ia dekat bapa atau mamanya. Demikian pula Yesus mengajak kita untuk tetap meletakkan nasib hidup kita ke dalam ta-ngan Bapa Surgawi. Tentu kita akan tetap menjaga diri terhadap hal-hal yang sungguh membahayakan kita, namun kita tidak boleh takut akan hal-hal yang tidak layak ditakuti! Misalnya ketakut-an yang mungkin menimpa kita sesudah kematian seseorang: ketakutan itu tidak wajar, bahkan merupakan suatu penghinaan terhadap Allah yang adalah Tuhan atas hidup dan mati, dan yang tidak membiarkan mereka yang mati mengganggu mereka yang hidup.

Kita harus yakin bahwa Allah tetap beserta kita, bahwa Roh Kudus tinggal di dalam diri kita. Pada orang yang sungguh menghayati itu, segala ketakutan akan segera lenyap.

Katanya bahwa pernah ditanyakan kepada Santo Alfonsus de Liguori begini: “Bapak, kalau seandainya Bapak tahu bahwa tinggal hanya seperempat jam lagi Bapak akan mati, lalu Bapak akan buat apa!” Kebetulan pada saat itu Santo Alfonsus sedang main bilyar bersama seorang teman. Ia menjawab: “Saya bermain terus saja, dong, daripada saya menghentikan permainan dan dengan demikian mengecewakan temanku ini!” Ya, Alfonsus hidup demikian akrab dengan Tuhan, sehingga dia sama sekali tidak mengenal rasa takut. Bagi dia berlakulah apa yang Santo Paulus katakan dalam suratnya kepada umat di Filipi:

“Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan!”

Semoga demikian pula rasa takut akan apa saja, kita atasi dalam iman kepercayaan yang sejati akan Allah, Bapa kita.

  1. HIDUP ABADI

Sebelum Bacaan Kita akan mendengar sebuah bacaan dari Kitab Wahyu, ialah Kitab ter-akhir dari Kitab Suci Perjanjian Baru.  Pengarangnya  ialah  Rasul Yoha-

nes.Yohanes diperkenankan Allah untuk melihat ke masa depan, melihat hal-hal yang bakal terjadi. Keindahan hidup abadi yang ia lihat itu, tak mungkin dilukiskan dengan kata-kata manusia, namun Yohanes coba menulis bagi kita apa yang telah ia lihat tentang hal-hal yang akan terjadi kelak.

Bacaan Wahyu 21:9-27    Yerusalem yang Baru

Renungan Orang-orang Kristen selalu berani berdiri dengan wajah terarah ke masa depan.  Orang yang paling tua umurnya pun  berbuat  demikian.  Seperti

bila kita mengadakan suatu perjalanan ke sebuah kampung lain: kita tidak melihat ke belakang. Mungkin sewaktu-waktu kita memandang ke kiri dan ke kanan, tetapi pasti selalu melihat ke depan. Apa yang kita lihat pada ujung perjalanan kita? Perjalanan hidup kita berakhir dengan kematian. Orang Kristen yang tulen tidak memandang kematian sebagai titik akhir segala-galanya, melainkan sebagai AWAL. Sebab tujuan perjalanan hidup kita ialah Yerusalem yang baru, yang tadi kita dengar Santo Yohanes lukiskan itu.

Pengalaman selama hidup ini memang ada pelbagai macamnya. Suka dan duka, derita dan baha-gia, semuanya perlu untuk mempersiapkan kita akan hidup abadi itu.

Bagaimana CORAKNYA hidup abadi itu!!

Santo Paulus pernah diperkenankan mengintipnya, sejauh mata insani dapat tahan. Ia menceritakannya sebagai berikut:

“Saya mengenal seorang kristen (Paulus maksudkan dirinya sendiri) yang empat belas tahun yang lalu diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga. Saya tidak tahu apakah badannya benar-benar terangkat atau itu hanya suatu penglihatan – Allah saja yang tahu. Saya ulang sekali lagi (kata Paulus): Saya tahu bahwa orang ini diangkat ke Firdaus. Di sana dia mendengarkan hal-hal yang tidak dapat diungkapkan oleh manusia dan tidak juga diizinkan kepada manusia untuk mengucapkannya”.

Dan Santo Yohanes tadi kita dengar berkata:

“Kota Yerusalem yang baru itu

tidak memerlukan matahari dan bulan untuk meneranginya,

sebab kemuliaan Allah meneranginya

dan Anak Domba itu adalah lampunya.

Dan bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya

dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya”.

Sungguh wajarlah tempat itu kita rindukan. Sungguh layaklah saat itu kita nanti-nantikan, yaitu saat kita beralih ke hidup abadi, di mana untuk selamanya kita akan berada dengan Allah yang mencintai kita dengan kasih abadi, tempat kita berjumpa dengan Yesus, yang telah membuka bagi kita jalan ke situ.

Marilah kita saling membantu supaya kita bersama menuju ke tujuan itu juga, di mana kita akan mengalami pemenuhan dari segala yang kita cita-citakan.

  1. DOA UNTUK ORANG MATI

Sebelum Bacaan Pada tanggal 1 November kita rayakan semua Orang Kudus, dan pada tanggal 2 November kita memperingati arwah mereka yang telah meninggal.

Mereka semua telah mendahului kita, berangkat dari dunia ini, namun tetap bersatu dengan kita dalam persekutuan orang kudus, entah mereka dalam kemuliaan surgawi, entah mereka masih di tempat penyucian.

Dalam bacaan berikut kita mendengar tentang suatu pertempuran sengit dari pasukan Israel di bawah pimpinan Yudas Makabe, melawan pasukan Siria di bawah pimpinan seorang panglima bernama Gorgias. Dan perhatikanlah apa yang dibuat oleh orang Israel sesudah pertempuran berakhir.

Bacaan 2 Makabé 12:32-45     Yudas mengalahkan Gorgias

Renungan Yudas Makabé dan para prajuritnya percaya akan kehidupan sesudah hidup di dunia ini. Mereka percaya akan hidup yang kekal.  Kawan-kawannya yang

gugur dalam pertempuran, telah memberikan nyawanya demi pembelaan Hukum Tuhan. Pasti Tuhan akan mengganjari mereka dengan pahala hidup abadi. Akan tetapi ada kesulitan: pada waktu mau menguburkan para prajurit yang gugur, Yudas dan orang-orangnya menemukan di bawah pakaian mayat-mayat itu jimat-jimat dari berhala-berhala… Astaga! Ternyata kawan-kawan mereka meninggal dalam keadaan berdosa: mereka telah percaya sia-sia. Dengan demi-kian sekaligus menjadi jelas mengapa sampai mereka gugur! Demikian tanggapan Yudas Makabé. Namun di pihak lain: mereka gugur demi imannya, sehingga menjadi MARTIR juga. Yudas mengusulkan supaya seluruh pasukan memanjatkan doa dan memberi derma untuk per-sembahan kurban demi penghapusan dosa kawan-kawannya.

Apa yang orang-orang Yahudi itu buat pada saat itu, dilaksanakan pula oleh Gereja sejak awal-mula. Begitu pun kita mendoakan mereka yang telah meninggal. Doa dan kurban itu dihubungkan dengan Perayaan Ekaristi. Malah di zaman purba, Kurban Misa itu sering dipersembahkan di atas kubur para martir.

Mari, khususnya selama bulan November ini, kita melakukan kewajiban kita terhadap mereka yang telah mendahului kita: mendoakan arwah mereka, supaya mereka diperkenankan masuk ke dalam kemuliaan Allah dan berbahagia selamanya.

  1. SEHELAI  DAUN  ZAITUN

Bacaan Lukas 17:20-27     Kedatangan Kerajaan Allah

Renungan Di kalangan orang Israel diwariskan cerita tentang air bah. Waktu itu Tuhan melihat bahwa kejahatan manusia sudah keterlaluan,lalu Tuhan memutuskan

untuk menumpas manusia dari muka bumi. Tetapi seorang bernama Nuh berkenan di hati Tuhan, sehingga dia bersama keluarganya hendak diselamatkan. Berfirmanlah Tuhan kepada Nuh: “Kerjakanlah sebuah kapal dengan sebuah tingkap di atasnya dan sebuah pintu di sebelah. Sebab Aku akan mendatangkan air bah ke atas bumi. Engkau harus masuk ke dalam bahtera itu bersama isterimu dan ketiga putramu bersama isterinya masing-masing. Masukkan juga ke dalam bahtera itu dari segala binatang satu pasang. Dan bawa serta makanan yang secukupnya.” Ketika semuanya itu sudah siap, maka masuklah Nuh bersama keluarganya ke dalam bahtera. Dan Tuhan menutup pintu di belakangnya.

Pada hari yang ketujuh segala mata air di atas bumi dan segala pancuran langit dibuka: hujan lebat turun ke atas bumi, 40 hari 40 malam lamanya. Bahtera itu terhanyut tinggi di atas muka bumi. Dan segala manusia dan margasatwa di bumi dibinasakan. Demikianlah bumi tertutup de-ngan air 150 hari lamanya. Akhirnya bahtera itu kandas pada gunung Ararat di Armenia.

Setelah menunggu selama 40 hari, Nuh ingin mengetahui apakah bumi sudah kering. Maka ia membuka tingkap di atas bahtera itu dan dilepaskannya seekor burung merpati; tetapi burung itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya, dan pulanglah ia mendapatkan Nuh di dalam bahtera itu, karena seluruh bumi masih digenangi air. Maka Nuh menunggu tujuh hari lagi, lalu dilepaskannya pula burung merpati itu. Menjelang waktu senja burung itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. Dari situ diketahui Nuh, bahwa air itu telah berkurang dari atas bumi. Ia lalu menunggu lagi tujuh hari; kemudian dilepaskannya sekali lagi burung merpati itu, tetapi burung itu kali ini tidak kembali lagi kepadanya. Maka Nuh mengerti bahwa bumi sudah kering.

Burung merpati yang membawa sehelai daun zaitun segar pada paruhnya, hingga kini di seluruh dunia menjadi lambang perdamaian. Mengapa demikian? Jawabannya ialah: karena dengan demikian terbuktilah bahwa Allah dan manusia didamaikan kembali. Allah menjadikan bumi ke-ring, memberikan kembali kesempatan kepada umat manusia untuk berkembang. Dan tak sulit dimengerti: di mana segala manusia berdamai dengan Allah, di situ tidak mungkin bahwa masih terjadilah konflik antar manusia, dan terwujudlah Kerajaan Allah di dunia.

  1. MENUJU KEHIDUPAN

Bacaan Yohanes 11:17-27      Maka ketika Yesus tiba…

Renungan Dua kenyataan dasar ialah: 1. Kita hidup.  2. Kita akan mati.

Dua fakta yang begitu jelas… namun begitu sukar juga untuk dipahami. Sehingga kita berbicara tentang MISTERI kehidupan dan MISTERI kematian. Manusia itu pintar, dan banyak misteri alam raya sudah ia tahu jawabannya. Tetapi tentang hidup dan mati, yaitu tentang SAYA hidup dan SAYA akan mati, tidak pernah akan ada jawaban, selain bila kita berani menyerahkan diri kepada Allah yang hidup, yang membuat kita hidup, dan yang pada suatu saat akan mencabut lagi hidup duniawi ini.

Allah menciptakan laut, Allah menciptakan sungai-sungai. Semua sungai akhirnya bermuara di laut; tiada sungai yang tidak bermuara di laut. Demikian pula hidup manusia adalah suatu gerak-an tanpa berhenti menuju ke hari dan titik terakhir: yaitu lautan kematian yang penuh rahasia itu.

Bagaimana reaksi kita bila menghadapi saat terakhir itu! Apakah kita akan berkesempatan berpisah dengan sanak-saudara kita secara sadar, berpisah dengan hidup ini dengan tenang dan pasrah kepada Tuhan? Seperti Simeon yang sudah tua itu, yang berkata:

“Ya Tuhan, sekarang biarkanlah hamba-Mu pergi,

sebab mataku telah melihat keselamatan-Mu….”.

Ataukah sebaliknya pada saat itu kita akan memberontak! Apakah kita akan diberi waktu untuk mempersiapkan diri? Ataukah kematian itu akan menimpa kita secara mendadak! Baiklah kita sering ingat akan nasehat Yesus ini:

“Hendaklah kamu selalu bersiap-siaga,

karena Putra Manusia datang pada suatu saat

yang tidak kamu sangka-sangka”.

Kehidupan itu kita alami dari hari ke hari. Adapun kematian telah dialami oleh mereka-mereka yang tadinya hidup bersama dengan kita, yang serumah, sekampung, teman sekolah, teman sekerja. Yesus berkata:

“Yang satu diangkat, yang lain dibiarkan….”.

Mengapa demikian! Kita tidak tahu. Tetapi jelaslah: kita yang boleh menjalani hidup kita dari hari ke hari, kita harus siap-siaga. Mari kita menyerahkan misteri hidup dan mati kepada Tuhan. Ja-ngan kita hidup dalam takutan. Kematian itu perlu kita pandang sebagai suatu PINTU, yang akan dibuka bagi kita. Lewat pintu itu hidup kita akan diteruskan, sekalipun akan bercorak lain sekali: kita akan bergabung dengan Kristus yang dalam bacaan tadi kita dengar perkataan-Nya kepada Marta:

“Akulah kebangkitan dan kehidupan.

Barangsiapa percaya kepada-Ku,

ia akan HIDUP, walaupun ia sudah mati.

Dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku,

tidak akan mati untuk selama-lamanya”.

  1. JANGAN MENOLEH KE BELAKANG

Sebelum Bacaan Dalam Kitab Kejadian diwariskan kepada kita berita tentang penghancuran total dua kota kecil dekat Laut Mati, di sebelah selatan negeri Kanaan.  Nama

kedua kota ialah Sodom dan Gomora. Apapun juga menyebabkan hancurnya kedua kota itu, menurut berita dalam Kitab Suci dosa para penghunilah yang mendatangkan murka Allah atas diri mereka, sehingga Allah memutuskan untuk membinasakan kedua kota itu bersama dengan semua penduduknya. Dan walaupun Abraham coba tawar-menawar dengan Allah – karena mungkin ada juga beberapa orang yang baik tinggal di situ – ternyata tidak terdapatlah sampai sepuluh orang yang saleh di situ. Namun ada satu keluarga di kota Sodom, yang tidak akan turut mati bersama para penduduk lain, ialah Lot bersama isterinya beserta kedua anak perempuan mereka yang sudah hampir dewasa. Untuk menyelamatkan mereka, Allah mengutus dua orang malaikat ke Sodom, dan mereka masuk ke rumah Lot

Bacaan Kejadian 19:15-26     Ketika fajar telah menyingsing…

Renungan Kedua malaikat itu mengantarkan Lot bersama keluarganya ke luar kota, dan mereka berpesan: “Larilah, selamatkanlah nyawamu. Jangan menoleh ke be-

lakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, tetapi larilah ke pegunung-an, supaya jangan kamu mati lenyap”. Kemudian terjadilah musibah yang amat besar. Sebab turunlah hujan belerang dan api di atas Sodom dan Gomora, sehingga kedua kota itu hancur total. Lot dan keluarganya telah luput dari pembinasaan itu. Tetapi isteri Lot tidak mengindahkan perintah malaikat, dan ia menoleh ke belakang untuk melihat apa yang terjadi. Seketika itu juga ia berubah menjadi tiang garam…

Seperti halnya dengan banyak cerita dalam Perjanjian Lama, di sini pun mungkin tersembunyilah suatu arti lebih mendalam di dalamnya. Yesus pernah menyebutkan peristiwa tadi ketika berbicara tentang hal-hal yang bakal terjadi pada akhir zaman. Di zaman Lot – kata Yesus – orang hidup hanya untuk hal-hal duniawi saja: mereka hanya memikirkan makan dan minum, membeli dan menjual. Setelah musibah menimpa orang-orang itu, belum juga isteri Lot sadar bahwa semua kesenangan itu harus ditinggalkannya. Kata Yesus: “Ingatlah akan isteri Lot!”

Kalau, atas kurnia Allah, kita sudah bertobat, haruslah kita berpegang pada arah baru dalam hidup kita: jangan rindu kembali akan hidup yang terarah kepada hal-hal duniawi belaka. Yesus berkata:

“Setiap orang yang siap untuk membajak

tetapi menoleh ke belakang,

dia tidak layak untuk Kerajaan Allah”.

  1. SIAPA YANG TERPlLIH

Bacaan Matius 25:1-13    Gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh

Renungan Berkatalah Tuhan:

“Sungguh Aku tidak mengenal kamu!”

Betapa dahsyat kedengarannya! Ada kalanya orang-tua membuang atau menyangkal anaknya, misalnya karena mereka tidak menyetujui perkawinannya. Anak pergi kepada orang-tuanya, mau minta maaf, tetapi hati orang-tua tetap membatu dan mereka tidak mau mengenal darah-dagingnya sendiri lagi. Tidakkah anak itu merasa putus asa bila mengalami hal demikian?

Kelak Yesus akan berkata kepada mereka yang telah ditempatkan-Nya di sebelah kiri-Nya:

“Enyahlah dari hadapan-Ku,

hai kamu, orang-orang yang terkutuk,

enyahlah ke dalam api yang kekal.

Sebab ketika Aku lapar, ketika Aku haus, telanjang,

ketika Aku tanpa rumah, dalam penjara…

maka kamu tidak perduli akan Daku.

Kamu hanya ingat akan kepentinganmu sendiri!”

Dalam Injil Lukas bab 13, kita membaca tentang seseorang yang mendatangi Yesus dengan pertanyaan ini: “Tuan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Atau dengan kata lain: orang yang masuk Surga, kira-kira berapa banyak? Berapa persen? Hanya satu-dua orang sajakah? atau ba-nyak!

Menurut para Saksi Yehowa (sebuah sekte kristen), hanya 144.000 orang di antara ribuan jutaan orang manusia itu, akan masuk surga! Benarkah itu? Ataukah mungkin kira-kira seperdua dari segala manusia yang masuk surga dan seperdua yang lain masuk neraka? Memang kita dapat mengerti bahkan sangat mendukung pertanyaan orang itu, yaitu: “Apakah sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”

Maka, bagaimanakah jawaban Yesus! Banyak? Sedikit? Kita pun rindu tahu! Beginilah jawaban Yesus:

“BERJUANGLAH untuk masuk melalui PINTU YANG SESAK ITU!

Tetapi sungguh,

orang akan datang dari Timur dan Barat, dan Utara dan Selatan,

dan mereka akan duduk makan dalam Kerajaan Allah”.

BERJUANGLAH! Baiklah! Kita berjuang! Dan kita percaya bahwa – entah bagaimana pun juga – pada akhir hidup kita, kita sudah siap untuk masuk ke dalam cinta kasih Allah, untuk menetap bersama dengan Dia tanpa kesudahan.

  1. NERAKA

Sebelum Bacaan Pengetahuan kita tentang neraka sangat kurang dan pincang. Ini disebabkan  karena baik surga maupun api penyucian maupun neraka  adalah  sama sekali

di luar bayangan dan daya tangkap pikiran manusia. Dalam Kitab Suci dipergunakan berbagai lambang untuk memberikan sedikit kesan dan dugaan tentang situasi itu. Misalnya neraka dilukiskan sebagai suatu tempat. Di tempat itu manusia akan mengalami siksaan yang tak berkesu-dahan. Siksaan itu dilukiskan sebagai api, untuk menekankan betapa parahlah siksaan itu.

Mari sekarang kita mendengar Yesus berbicara tentang penghakiman pada akhir dunia. Orang yang baik akan ditempatkan-Nya di sebelah kanan-Nya, sedangkan orang yang hidupnya tidak baik, di sebelah kiri-Nya. Kita sekarang akan mendengar tentang nasib orang yang jahat itu.

Bacaan Matius 25:41-46    Dan Yesus akan berkata…

Renungan Orang bisa keliru hingga masuk salah rumah, masuk salah jalan, tebang salah pohon.  Tetapi mustahil orang masuk neraka karena keliru.  Orang masuk ne-

raka dengan tahu dan mau. Sampai saat terakhir hidupnya, orang itu tetap membuang rahmat Allah, tetap menaruh dendam, tetap tidak mau mencintai Allah dan sesamanya.

Maklumlah, sesudah kehidupan di dunia ini berakhir, tiada kerinduan dalam diri manusia selain kerinduan akan Allah. Kalau kerinduan itu tidak terpenuhi atau belum terpenuhi, maka betapa besarlah sengsara manusia itu. Dikutuk oleh Allah, diserahkan kembali kepada kebenciannya sendiri. Itulah siksaan neraka. Dalam hal itu Allah tidak akan keliru, seperti kita sendiri pun tidak keliru membedakan buah yang baik dari buah yang busuk.

Ada suatu cerita dongeng sebagai berikut: Seorang ibu yang sudah tua telah masuk neraka karena ia telah hidup dengan amat jahat. Tentu saja malaikat pelindungnya malu dan sedih karena telah gagal dalam segala usahanya. Dan ia masih lagi mau coba menyelamatkan wanita itu berdasarkan suatu perbuatan baik yang pernah dilakukannya. Maka malaikat itu berkata kepada Tuhan Allah: “Ya Allah yang maharahim dan mahaadil! Adapun ibu yang sekarang sedang dibakar di dalam neraka, saya teringat bahwa semasa hidupnya pernah ia memberikan sebiji BAWANG kecil kepada seorang miskin… Apakah perbuatan yang baik itu barangkali boleh ada imbalannya?”

Maka Tuhan menjawab: “Mari kita lihat apakah masih ada tersimpan padanya sedikit kebaikan yang ditunjukkannya pada saat itu! Silakan pergilah kepada dia, lalu ulurkanlah sebiji bawang kepadanya dan suruhlah dia memegang kuat-kuat bawang itu. Dengan memegang bawang itu, ia dapat ditarik keluar dari tempat siksaan itu!”

Malaikat itu bergembira ketika mendengar sabda Tuhan Allah itu, dan dengan cepat ia pergi ke neraka dengan membawa sebiji bawang. Ia menjelaskan kepada ibu itu tentang kemungkinan yang diberikan kepadanya untuk lolos dari neraka. Maka bergembiralah pula ibu itu. Dan langsung ia memegang kuat-kuat bawang itu pada ujungnya. Dengan hati-hati malaikat itu mulai mengangkat bawang itu, dan rupanya mau berhasil, sebab memang ibu itu pun turut terangkat. Dengan perlahan-lahan ia mulai naik keluar dari nyala api itu. Tetapi ada orang-orang lain di dekatnya. Begitu mereka memperhatikan bahwa ibu itu mau ditarik ke atas, maka mereka pegang pada kaki ibu itu, dalam harapan bahwa akan turut ditarik keluar. Tetapi ibu itu mulai menjadi marah. Ia menyepak dan menendang ke kiri dan ke kanan dan ia berteriak: “Kembali kamu! Lepaskan saya! Hanya saya yang akan selamat! Kamu ini: bakar saja!” Dan dengan hati lega ia melihat orang-orang itu jatuh kembali ke dalam api. Tetapi pada saat itu pun jari tangannya tidak lagi dapat memegang bawang itu, dan ia sendiri pun jatuh kembali ke dalam liang sengsara abadi.

Allah dalam belas kasihan-Nya telah rela membuat suatu kecualian bagi ibu itu berdasarkan satu-satunya perbuatan baik yang pernah dilakukannya. Namun ibu itu ternyata tetap tidak rela memperhatikan keselamatan orang lain; malah sebaliknya ia bergembira atas celakanya orang-orang itu. Jelaslah: bagi dia neraka itu adalah tempat yang cocok, dan Allah tidak keliru!

Demikianlah cerita dongeng itu. Salah satu hal yang menjadi jelas dari cerita ini ialah: hubungan erat antara dari satu segi: cara kita hidup di dunia ini dan dari segi lain: nasib kita dalam hidup abadi.

  1. API PENYUCIAN

Bacaan Lukas 23:33-43      Yesus disalibkan

Renungan Mari kita memandang sejenak kedua orang yang disalibkan bersama dengan Yesus.  Kematian  mereka  ngeri.  Dibunuh  seperti  binatang.  Kehidupannya

percuma, gagal. Tidak ada yang menangisi kematiannya. Sebaliknya, sejak mereka mati, banyak orang merasa lega, sebab tidak perlu takut lagi akan dirampoki atau mungkin malah dibunuh oleh kedua orang jahat itu.

Namun… mungkin mereka toh mempunyai apa-apa yang BAIK dalam dirinya.

Seperti di tengah sampah, mungkin sewaktu-waktu terdapatlah sesuatu yang berharga. Mungkin IBU mereka masih hidup. Dan DIA menangis, sebab dia tahu tentang hal yang baik yang tersembunyi dalam lubuk hati anaknya, yang kini dibuang oleh masyarakat. Dan TUHAN pun melihat apa-apa yang baik. Tuhan tidak membuang seorang manusia pun. Tuhan melihat dalam orang-orang jahat pun suatu titik kebaikan di tengah-tengah kegagalan hidupnya. Sampah dibakar; tinggallah cincin emas, yang tidak boleh dibuang.

Gereja mengajar kita tentang API PENYUCIAN. Di situ Tuhan menuntut suatu kesengsaraan besar, tetapi melaluinya orang akan selamat untuk hidup abadi. Api itu menghanguskan segala rerumputan, segala dosa, segala kejelekan. Bagaimana caranya, kita tidak tahu. Hanya kita tahu: kita ini tidak akan dibuang begitu saja karena dosa-dosa kita. Melainkan di mana ada sesuatu yang baik, maka akan ada ganjarannya. Tiada dosa yang tidak diampuni, tiada domba sesat tanpa dicari. Maka kita mendoakan mereka yang telah meninggal.

Mari kita pun dengan penuh kepercayaan menyerahkan diri kita ke dalam tangan Tuhan, yang mengundang masuk ke dalam Firdaus setiap orang yang membawa dalam dirinya suatu titik kebaikan.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: