Renungan Masa Adven dan Natal

MASA ADVEN

  1. TERANG KRISTUS BERCAHAYA DI INDONESIA

(Tanggal 3 Desember: Pesta Santo Fransiskus Xaverius)

Sebelum Bacaan Istilah ADVEN berarti KEDATANGAN. Dalam Masa Adven kita menantikan kedatangan Tuhan. Suatu kedatangan sangat khusus ialah: bila untuk per-

tama kali orang mendengar berita tentang Yesus Kristus. Tadinya mereka orang kafir. Tetapi datanglah seorang utusan dari Allah, seorang misionaris. Tuhan menggerakkan hati masyarakat setempat. Bagi mereka telah tiba saatnya kegelapan dihalaukan oleh Terang Kristus.

Salah seorang misionaris yang amat luhur adalah Santo Fransiskus Xaverius, yang hari peringat-annya dirayakan tiap tahun pada tanggal 3 Desember. Dalam renungan nanti, dengan singkat akan kami ceritakan kisah hidupnya.

Tetapi marilah kita terlebih dahulu mendengar berita dari seorang misionaris lain, yang hidup 15 abad mendahului Fransiskus: Paulus namanya. Dalam beritanya ia sebut segala pengalamannya pada perantauan-perantauannya untuk mewartakan Injil. Pengalaman-pengalaman Fransiskus Xaverius pun tidak berbeda jauh dengan itu.

Bacaan 2 Korintus 11:21b-33    Tetapi jika orang…

Renungan Fransiskus Xaverius lahir di kota Navarra, negeri Spanyol, dalam tahun 1506,  jadi lebih dari lima abad lalu. Pada umur 28 tahun, ia menjadi anggota

sebuah Tarekat yang baru saja didirikan oleh Santo Ignasius dari Loyola, yakni Tarekat Yesuit atau singkatnya “S.J.”. Setelah ditahbiskan imam, ia diutus sebagai misionaris ke kota Goa di negeri India. Waktu itu ia berumur 36 tahun. Tiga tahun kemudian ia memindahkan wilayah kerjanya ke Malaka, sekarang Malaysia. Tahun berikutnya ia berangkat ke Ambon. Syukurlah, di situ banyak orang tahu bahasa Melayu. Fransiskus sepanjang hari bergaul dengan masyarakat. Kebenaran-kebenaran iman diajarkannya kepada mereka dalam bentuk lagu-lagu. Maklumlah orang Maluku suka menyanyi. Ia mengunjungi orang dari rumah ke rumah, biasanya didahului oleh seorang pembawa salib, bernama Manuel.

Dari Ambon ia menyeberang ke Seram, ialah pulau besar di sebelah Utara dari Ambon. Tak lama kemudian dikunjunginya pula pulau-pulau di Maluku Utara, antara lain Ternate dan juga Halmahera, di mana 12 tahun lebih dahulu untuk pertama kali Injil di Indonesia telah diwartakan.

Setelah kembali ke Malaka, ia mendengar berita, bahwa ia telah diangkat sebagai Duta Besar dari Sri Paus. Gelar itu diharapkannya, bukan untuk menyombongkan diri, melainkan dengan gelar itu ia dapat masuk ke negeri Jepang. Lalu selama beberapa tahun lamanya ia berkarya di negeri itu. Semangatnya yang luarbiasa mendorong dia untuk pergi ke negeri Tiongkok juga. Tetapi sayanglah, kesehatannya makin merosot. Di tengah pelayaran antara Jepang dan Cina, ia meninggal dunia dalam kesepian di pulau Sansian pada tanggal 3 Desember tahun 1552. Umurnya waktu itu 46 tahun. Hidupnya sebagai seorang misionaris hanya berlangsung selama sepuluh tahun. Tetapi betapa besar hasil panenannya!

Demikianlah dengan singkat berita tentang hidup dan karya Santo Fransiskus Xaverius. Semoga khusus dalam Masa Adven ini, kita bersyukur kepada Tuhan yang telah berkenan membuat Te-rang Kristus bercahaya di Indonesia berkat usaha dan pengorbanan Santo Fransiskus dan teman-temannya.

  1. MENANTI

Sebelum Bacaan Dalam sejarah kuno bangsa Israel, ada cerita tentang suatu bencana alam yang  amat  besar,  yaitu  seluruh  muka bumi pernah digenangi air.  Kita me-

ngenal peristiwa itu sebagai AIR BAH. Menurut berita itu hanya delapan orang yang selamat waktu itu, yakni Nuh beserta isterinya dan ketiga putranya dengan isteri mereka masing-masing. Dalam bacaan berikut kita dengar apa yang terjadi pada hari yang ke-empat puluh.

Bacaan Kejadian 8:6-14     Sesudah lewat empat puluh hari…

Renungan Sudah selama empat puluh siang-malam, Nuh serta keluarganya bersama semua binatang yang telah dikumpulkannya,  tinggal  menunggu dalam bah-

tera yang tak berjendela itu. Gelap di dalam bahtera! Mereka rindu akan terang!

Nuh melepaskan seekor burung merpati. Burung itu kembali karena tidak menemukan tempat tumpuan kakinya. Tujuh hari kemudian burung itu dilepaskannya lagi. Menjelang waktu senja pulanglah burung itu dengan membawa di paruhnya sehelai daun zaitun yang segar. Betapa jelaslah tanda itu! Bumi tidak hancur total, dan ada suatu masa depan bagi Nuh sekeluarga. Setelah menerima tanda ini, dengan makin rindu ia menantikan saat ia boleh lagi menginjak kakinya di bumi dan menikmati hasil bumi.

Nuh menanti, berdasarkan tanda yang ia terima. Kemudian ABRAHAM menanti, berdasarkan janji yang telah Allah ucapkan kepadanya. Lagi pula MARIA menanti, sampai saat ia melahirkan Sang Penebus. Kemudian YOHANES PEMANDI menanti, sampai datanglah ke sungai Yordan Dia yang disebutnya Anak Domba Allah. Selama 2000 tahun umat Gereja yang berjuta-juta orang ba-nyaknya, menanti. Dan mereka tidak dipermalukan.

Mari kita membuka mata untuk melihat tanda-tanda zaman. Mari kita memperhatikan tanda-tanda kecil dan sederhana yang menyatakan bahwa Tuhan sedang datang… seperti Nuh dikuatkan oleh sehelai daun zaitun di paruh seekor burung merpati.

  1. PENGAMPUNAN DOSA

Bacaan Lukas 7:36-50     Yesus diurapi oleh perempuan berdosa

Renungan Masa Adven adalah masa tobat. Kita mengharapkan pengampunan atas dosa-dosa kita. Apakah pengampunan yang kita harapkan itu, akan kita peroleh?

Seorang muda telah melakukan suatu kejahatan besar, lalu ia ditangkap oleh polisi. Hakim menjatuhkan hukuman yaitu dikurung dalam rumah tahanan selama dua tahun. Gedung penjara itu ada di sebuah kota besar, sedangkan orang-tua dari si pemuda itu tinggal di sebuah desa kecil, beberapa puluhan kilometer jauhnya dari kota itu. Pemuda itu, selama meringkuk di dalam sel, beberapa kali kirim surat kepada orang-tuanya, meminta ampun kepada mereka atas kejahatannya. Tetapi tidak pernah ia mendapat balasan. Ia minta mereka datang mengunjungi dia, tetapi itu pun mereka tidak buat. Walaupun kecewa, namun ia coba menghiburkan dirinya dengan pikiran ini: mereka kan tidak biasa menulis surat. Dan mereka miskin, sehingga tidak dapat membayar pasasi kendaraan.

Menjelang masa tahanan mau selesai, ia bersurat lagi kepada orang-tuanya. Antara lain ia memberitahukan dalam suratnya, bahwa ia akan tiba di kampung dengan bis (mobil angkut) pada tanggal sekian, jam sekian. Lalu begini tulisnya: “Kalau Bapa-Mama masih sayang dengan saya dan rela memaafkan saya, maka saya minta: ikatlah sepotong KAIN WARNA PUTIH pada pohon mangga besar di pinggir kampung”.

Akhirnya tibalah hari masa tahanannya selesai. Ia diberi uang sedikit, sehingga dapat naik bis untuk pulang. Di dalam bis itu, ia duduk pada jendela, dari situ nanti ia dapat melihat pohon mangga yang disebutnya dalam surat tadi.

Bis itu berjalan laju, dan makin dekat kampung halamannya. Ia pun merasa makin gelisah, sehingga seluruh badannya gemetar. Seorang ibu yang duduk di sampingnya, bertanya apakah barangkali ia sakit demam… Maka kepada ibu itu ia percayakan alasan kegelisahannya. Dan ia mengakhiri ceritanya dengan kata-kata ini: “Ibu, kalau tidak ada kain putih terikat pada pohon itu, saya tidak akan turun dari mobil. Saya akan ikut sampai ke ujung perjalanan, lalu menjadi se- orang pengembara saja… Ibu, saya tidak berani melihat keluar dari jendela; saya tidak berani memandang ke pohon mangga itu…”

Ibu itu sangat sayang dengan pemuda itu. Maka berkatalah ia: “Mari kita tukar tempat; saya akan duduk dekat jendela, dan saya akan memperhatikan pohon itu!”

Seperempat jam kemudian ibu itu meletakkan tangannya pada bahu orang yang malang itu. Dan beginilah bisiknya: “Mari lekas, lihat di luar!”

Lalu nyong itu angkat mata. Dan apa yang ia lihat?

Pohon mangga itu dari atas ke bawah penuh dengan helai-helai kain putih!

Demikian pula Allah memberi ampun. Bukan sedikit-sedikit, bukan sekedar… Allah mengampuni dengan segenap hati segala kesalahan dari setiap orang yang minta dimaafkan. Ia adalah MAHARAHIM!

  1. ANAK DARA

(Tanggal 8 Desember: Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung tanpa dosa)

Bacaan Matius 1:18-25       Kelahiran Yesus Kristus

Renungan Nubuat yang tadi kita dengar, yaitu tentang anak dara yang akan mengan-dung dan melahirkan seorang anak yang akan dinamai “Emanuel”, diucapkan

tujuh abad lebih dahulu oleh nabi Yesaya. Dan selama tujuh abad, semua wanita muda di Israel memperhitungkan kemungkinan menjadi anak dara itu: dipilih oleh Allah untuk melahirkan sang Emanuel.

Bagi gadis-gadis yang miskin, seperti misalnya seorang gadis di kampung Nazaret bernama Maria, kemungkinan itu amat tipis. Sebab tentu saja Emanuel itu hendak dilahirkan dalam suatu keluarga bangsawan dan kaya, demi menjamin nama mulia dan sarana pendidikan yang sesuai. Sehingga dapatlah kita mengerti betapa terkejutnya Yosep ketika mendengar kata-kata Malaikat yaitu bahwa anak yang dalam kandungan Maria itu, adalah dari Roh Kudus, dan bahwa dalam diri MARIA dipenuhilah nubuat nabi Yesaya tentang anak dara yang akan melahirkan Emanuel.

Betapa dekatlah Maria dengan Allah! Bukan hanya selama sembilan bulan itu, tetapi juga sebelumnya. Maria sudah dipilih Allah sebelum ia sendiri dikandung oleh ibunya Santa Anna. Dan karena itu pun Allah mencegah dia dari segala noda dosa, termasuk dosa asal. Kurnia Allah itu kita rayakan pada tanggal 8 Desember, Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung tanpa noda dosa.

Seorang yang hidup demikian dekat pada Allah, mau tak mau akan kita cintai. Ada orang masuk agama Katolik hanya karena pada kita Maria dihormati dan dicintai. Ada orang Katolik yang tergoda meninggalkan agamanya demi misalnya perkawinannya, namun enggan membuat itu, sebab merasa seolah-olah meninggalkan Maria juga!

  • Dari Maria kita ingin belajar cara kita harus mencintai Yesus.
  • Dengan Maria kita merasa lebih akrab dalam persaudaraan dengan Yesus.
  • Dalam Maria kita merasa diri dekat pada Allah; kita mengerti dan menyadari dengan lebih mendalam kebapaan-Nya terhadap kita.

Dan ini semua berarti bahwa dalam dan dengan Maria kita akan BERBAHAGIA. Seperti Elisabet pun mengalami suatu kegembiraan yang luarbiasa ketika dikunjungi oleh Maria, membuat anak yang di dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan. Sehingga ia pun memuji Maria dengan berkata: “BERBAHAGIALAH engkau yang telah percaya”. Dan Maria mengakui hal itu pula dalam jawabannya kepada Elisabet katanya:

“Sesungguhnya mulai dari sekarang

segala keturunan akan menyebut aku BERBAHAGIA,

karena Allah yang mahakuasa

telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku”.

Tentang Maria, Gereja bernyanyi :       “Tota pulchra es, Maria”.

Berarti :                                                “Serba indah engkau, hai Maria”.

Serba indah, murni, suci. Bertemu dengan seorang yang serba indah dan suci, sungguh membahagiakan. Jarang kita mengalami itu dalam hidup kita, yaitu bertemu dengan seorang yang benar-benar SUCI.

Namun, apa yang menjadi pengalaman Elisabet ketika bertemu dengan Maria, itu pun harus menjadi pengalaman orang yang bertemu dengan kita! Sebab kita sekalian dipanggil Allah untuk di dunia ini hidup dengan suci. Kalau hubungan kita dengan Allah seerat hubungan Maria dengan Allah, maka untuk kita pun akan berlaku hal ini: siapa saja yang bertemu dengan kita, akan merasa bahagia. Kesucian sejati berasal dari Allah. Mari kita memohon kurnia itu selama Masa Adven ini, supaya Tuhan datang menyucikan dan menguduskan umat-Nya di dunia, agar kita dapat mengalami bahwa Tuhan dalam diri kita pun telah menjadi EMANUEL, berarti: Allah beserta kita.

  1. YANG DIKANDUNG TANPA DOSA

(Tanggal 8 Desember: Hari Raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa dosa)

Sebelum Bacaan Pada tanggal 8 Desember kita merayakan Pesta Maria dikandung tanpa noda dosa.  Dalam bacaan berikut,  kita mendengar tentang  hukuman  yang  Allah

berikan kepada manusia pertama. Tetapi kita akan mendengar juga tentang wanita, yang keturunannya akan meremukkan kepala ular.

Bacaan Kejadian 3:8-19    Ketika mereka (Adam dan Hawa) mendengar bunyi…

Renungan Santo Paulus berkata dalam suratnya yang pertama kepada umat di Korintus:

“Semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam.

Tetapi semua orang akan dihidupkan kembali

dalam persekutuan dengan Kristus”.

Menjadi keyakinan Gereja sejak purba kala, bahwa dalam diri Adam itu kita semua telah berdosa. Kita semua lahir di dunia ini dalam keadaan bernoda, terpisah dari Allah. Hanya dalam persatuan dengan Kristus, noda itu dihapus, dan tidak lagi kita terpisah dari Allah. Tentu Yesus sendiri tidak dikenai dosa asal itu. Tetapi suatu pokok ajaran kita menyatakan bahwa MARIA pun terkecuali dari hukuman umum itu; bahwa Maria sejak dikandung oleh ibunya, tidak pernah bernoda dosa. Maka dengan demikian Maria, di samping Kristus sendiri, satu-satunya manusia yang sungguh utuh, tidak pernah berada dalam keadaan terpisah dari Allah.

Bayangkan sebuah hutan pohon cemara yang luas. Tiba-tiba ada angin taufan yang dahsyat me-nyambar pohon-pohon itu. Semua pohon tumbang, kecuali satu. Satu pohon yang selamat itu tetap berdiri menjulang ke langit di tengah hutan yang berantakan. Demikian pula, di tengah-tengah umat manusia yang seluruhnya bernoda dosa, Maria tetap mulus lurus. Dialah satu-satunya manusia yang tidak pernah mengecewakan Allah.

Apakah dengan demikian Maria pun tidak telah ditebus? Apakah Yesus tidak wafat bagi Maria? Memang, Yesus wafat bagi Maria juga, namun bukan untuk menyucikannya dari cemaran dosa, melainkan untuk menghindarkannya dari dosa. Maria pun diselamatkan oleh Wafat dan Kebangkitan Yesus; Maria pun mengalami belas kasih Allah, namun bukan melalui pengampunan dosa, melainkan dengan menjaga dia terhadap dosa.

Marilah kita memandang Maria. Kita ini termasuk pohon-pohon yang telah tumbang, namun tidak untuk selamanya. Dan kita berdoa kepada Maria:

“Ya Permaisuri, Bunda penuh pengasihan,

Pohon harapan, sukacita kami.

Kami memohon, anak Eva yang melarat,

dengarkanlah tangisan serta pengaduhan pada tempat duka ini”.

  1. PENGLIHATAN YESAYA

Bacaan Yesaya 11:1-10    Raja Damai yang akan datang.

Renungan              Menjelang kelahiran Yesus di Betlehem, amat besarlah kerinduan masyarakat Yahudi akan seorang Penebus, akan Mesias yang dijanjikan Allah.

Mereka mengeluh di bawah tindisan seorang raja asing yang kejam, namanya Herodes. Dalam kerinduannya, orang-orang Yahudi suka berdoa dengan kata-kata yang kuno, yakni firman Allah melalui nabi Yesaya, bunyinya begini:

“Ya surga, bukalah pintumu, turunkanlah yang Adil.

Pandanglah, ya Tuhan, akan derita rakyat-Mu ini;

suruhlah Utusan-Mu, suruhlah Anak Domba jadi Raja Damai”.

Betapa mereka membutuhkan seseorang yang akan memimpin mereka dengan lembut dan perkasa, dengan hikmat dan adil. Memang tidak ada keadilan lagi di negeri itu. Ada sembarangan hakim menduduki kursi pengadilan, yang menghakimi orang yang lemah dengan sekilas pandang saja, menjatuhkan keputusan menurut kata orang atau menurut besarnya sogokan.

Betapa orang mendambakan Dia yang disebut TUNAS DARI TUNGGUL ISAI, yang disebut PUTRA DAUD. Sebab, menurut nubuat nabi Yesaya:

“Dia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja,

atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.

Tetapi Ia akan menghakimi orang lemah dengan adil,

Ia akan menjatuhkan keputusan

terhadap orang yang tertindas, dengan jujur.

Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan”.

Lalu keadaan akan pulih kembali seperti di zaman manusia pertama di dalam Taman Firdaus.  Orang tidak lagi akan bertengkar dan berkelahi, tidak lagi akan mengangkat senjata satu terhadap yang lain. Melainkan akan ada DAMAI.

Bahkan dunia binatang akan turut serta dalam kedamaian umum itu. Sebab beginilah dikatakan oleh Sang Nabi:

“Serigala akan tinggal bersama domba,

dan macan tutul akan berbaring di samping kambing;

singa akan makan jerami seperti lembu”.

Dan – menurut Yesaya – bahkan ular, si penipu sejak dahulu kala, akan diterima dalam perdamaian umum itu. Kata Yesaya:

“Seorang anak akan bermain dekat liang ular tedung,

ia akan memasukkan tangannya ke dalam sarang ular beludak”.

Dengan jalan itu datanglah keselamatan atas bangsa manusia, sehingga seluruh dunia bersorak gembira dan bersyukur kepada Allah, dengan kata-kata nabi Yesaya juga, yaitu:

“Bersukalah, umat kesayangan-Ku, telah tiba Penebusmu.

Mengapa bersedih hati? Lagi hancur, dirundung duka?

Akulah Tuhan, jangan takut.

Sebab Aku Allah dan Junjunganmu, Raja Israel dan Pembebasmu”.

  1. DAMAI

Bacaan Yeremia 31:27-34     Sesungguhnya, waktunya akan datang…

Renungan Ada sebuah pepatah dalam bahasa Latin bunyinya: “Homo homini lupus”. Berarti: “Manusia seperti serigala untuk sesamanya”.

Kita teringat akan segala peperangan di dunia akhir-akhir ini. Kita mendengar tentang perbuatan-perbuatan kaum teroris, tentang pembajakan pesawat terbang, penculikan orang, peledakan bom di kota-kota… tak terbilang banyaknya. Demikian pula persengketaan-persengketaan antar suku, antar kampung, antar keluarga, bahkan antara saudara dalam satu keluarga.

Rupanya pertikaian dan persengketaan selalu ada saja. Sebabnya adalah kelemahan manusia. Dengan memakai kekerasan, manusia mau membuktikan bahwa ideologinya benar, bahwa ia lebih kuat. Atau ia mau balas dendam, mau memperoleh harta-benda atau hak-hak tertentu. Tetapi betapa sering juga pertengkaran timbul disebabkan oleh salah paham akan perkataan atau perbuatan orang, kekeliruan, dan lain-lain.

Namun kita cinta akan kedamaian, kita rindu akan perdamaian. Lebih-lebih karena kita pun sadar bahwa konflik dengan sesama, berarti konflik dengan TUHAN. Apakah orang-tua suka melihat anak-anak mereka berkelahi satu sama lain? Tentu tidak! Betapa lebih lagi Tuhan sendiri, yang seakan-akan dikenai oleh setiap pukulan yang kita arahkan kepada seorang saudara. Demikian pula Tuhan seakan-akan harus menelan tiap kata pedas yang kita ucapkan kepada sesama. Sebab Allah telah melibatkan diri dengan kita, telah menjadi manusia, dan sejak saat itu Ia hidup terus dalam diri setiap manusia. Kita membenci seorang manusia, berarti kita membenci Tuhan. Santo Yohanes memperingatkan kita dalam suratnya yang pertama:

“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah’,

padahal ia membenci saudaranya,

maka orang itu adalah seorang PENDUSTA!”

Dan Santo Paulus berkata:

“Ketika nyatalah kemurahan Allah, Juru Selamat kita,

dan cinta kasih-Nya kepada kita,

maka pada waktu itu Ia telah MENYELAMATKAN kita”.

Benar! Kita mencapai keselamatan kalau cinta kita lebih kuat daripada kebencian. Kita selamat kalau kita mau lekas berdamai kembali dengan saudara kita, kalau kita rela minta maaf, rela pula memaafkan. Tadi kita mendengar nubuat nabi Yeremia. Berkatalah Allah:

“Aku akan menaruh hukum-Ku dalam BATIN mereka

dan menuliskannya dalam HATI mereka.

Aku akan MENGAMPUNI kesalahan mereka”.

Yesus yang lahir di tengah-tengah kita, membawa rahasia pengampunan dan perdamaian ke    tengah-tengah kita. Zakaria, ayah dari Yohanes Pemandi, berkata dalam madah pujiannya:

“Rahmat dan belas kasihan Allah

mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera”.

Bagi kita sekalian Perayaan Natal nanti harus menjadi perayaan DAMAI. Kita bersedia nanti menjabat tangan juga dengan orang yang kita benci, dengan orang yang sebenarnya membuat kita naik darah, dengan orang yang telah menipu kita… sekalipun hati terasa hancur. Sebab Yesus pun mencintai mereka itu. Dan saya tidak boleh membenci orang yang dicintai Yesus!

  1. MEMBANGUN RUMAH ALLAH

Bacaan 2 Samuel 7:1-17     Janji Tuhan mengenai Keluarga dan Kerajaan Daud

Renungan Dapat kita tanyakan: apa yang lebih penting, membangun sebuah rumah yang permanen dan indah, atau membangun suatu keluarga yang sehat sejahtera?

Dalam hal pertama, segala pendapatan kita pertama-tama kita pergunakan untuk membeli semen, kayu dan lain-lain. Sedangkan dalam hal kedua kita mempergunakan uang itu untuk membeli makanan yang bergizi untuk anak-anak, membeli pakaian bagi mereka, membayar uang sekolah dan lain-lain.

Nabi Natan tadi menjawab kepada Daud: “Sabar dulu dengan pembangunan gedung ibadat; lebih baik perhatikan terlebih dahulu segi rohani. Putramulah yang kelak akan membangun Rumah bagi Allah”. Dan memang, Salomo, anaknya yang kemudian menjadi raja Israel, membangun kenisah yang dirindukan Daud.

Tetapi melalui sabda nabi Natan, kita mendengar tentang Dia yang juga disebut PUTRA DAUD, yaitu Yesus dari Nazaret, yang lahir 900 tahun kemudian. Putra itu yang akan membangun kenisah yang sebenarnya. Apa pembangunan yang dikerjakan Yesus? Berapa banyak gedung gereja telah Ia kerjakan? Kita tahu: Yesus tidak datang untuk membangun gedung-gedung. Gereja yang Yesus bangunkan, tidak dibuat dari kayu dan batu. Melainkan bahan bangunannya ialah cinta kasih dan keadilan. Gereja itu tidak dikerjakan dengan trofol, gergaji dan tukul, melainkan de-ngan iman, pengharapan dan kerendahan hati. Bahan bangunannya ialah KITA. Santo Petrus berkata dalam suratnya yang pertama:

“Biarlah kamu dipergunakan sebagai batu yang hidup,

untuk pembangunan suatu rumah rohani”.

Tukang ilahi itu, Yesus Kristus, Dia sendiri menjadi batu penjuru, batu utama dari bangunan rohani itu. Marilah kita memberikan diri sebagai bahan bangunan yang mantap untuk bersama de-ngan Kristus dibangun menjadi Rumah Allah, tempat kediaman Allah di dunia.

MASA NATAL

  1. KATA SAMBUTAN KEPADA KANAK-KANAK YESUS

Yesus yang terkasih!

Kesempatan kelahiran-Mu mengajak kami, umat beriman, untuk meng-ucapkan sepatah kata-dua berupa ucapan selamat datang ke tengah-tengah dunia ini. Dan saya merasa beruntung, bahwa, walaupun tidak layak, bahwa sayalah yang boleh mengatas-namakan semua hadirin pada menyambut kedatangan-Mu yang dinanti-nantikan itu.

Izinkanlah kami pertama-tama bersujud kepada Allah yang maha-tinggi, yang demikian besarlah cinta-Nya akan dunia ini, sehingga Ia telah merelakan Putra-Nya yang tunggal – yaitu Engkau sendiri – supaya setiap orang yang percaya akan Putra-Nya itu, tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal.

Kami juga mengucapkan selamat bertemu disertai ucapan banyak terima kasih kepada Ibunda Maria dari Nazaret, yang tidak enggan menerima beban dan tanggung jawab yang begitu besar. Hanya iman serta penyerahan diri kepada kehendak Allah menyanggupkan Ibunda untuk menye-tujui dan turut berperanan dalam rencana Allah untuk menyelamatkan bangsa manusia. Ini hanya dimungkinkan karena Allah telah menjadikan hati Ibunda senada dengan Hati dari Dia yang Ibunda lahirkan ini.

Tak lupa kepada Yosep dari Betlehem selaku suami Ibunda Maria, lagi kepada para gembala, para majus dari Timur serta semua hadirin pun kami ucapkan selamat bertemu, disertai penghargaan kami yang sebesar-besarnya.

Yesus, Anak Allah yang terkasih!

Kelahiran-Mu di dunia ini mendorong kami untuk dengan segenap hati berterima kasih kepada-Mu, karena Engkau telah bersedia untuk datang tinggal di tengah-tengah kami. Selamat datang di dunia. Dunia ini telah Kaujadikan, dan tanpa Dikau tiada sesuatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

Engkau datang kepada milik kepunyaan-Mu. Engkau pun segera akan tahu apa yang telah kami buat dengan karya ciptaan-Mu ini. Maklumlah ada banyak keburukan dan banyak sengsara di bawah kolong langit ini, tetapi ada juga hal-hal yang bagus: bintang di langit tak terbilang ba-nyaknya, dan bunga di ladang: raja Salomo dalam kemegahannya tidak berpakaian seindah salah satu bunga itu. Dan ada burung, baik rajawali maupun merpati; ada domba, siap untuk disembelih. Matahari terbit dan hujan turun bagi orang yang baik dan bagi mereka yang jahat. Dan ada anak-anak, yang adalah calon utama untuk Kerajaan-Mu.

Namun kami pun diliputi suatu kegelapan; kami rindu akan terang, kami rindu akan kedatangan-Mu sebagai Cahaya dalam kegelapan. Berabad-abad lamanya kami merindukan kedatangan-Mu. Dan sekarang mata kami menyaksikan keselamatan yang datang dari Allah. Engkaulah yang adalah Cahaya yang menerangi bangsa-bangsa. Engkau datang kepada milik kepunyaan-Mu, dan kepada semua orang yang menerima Engkau, Engkau memberi kuasa, supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Mu, yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging atau dari keinginan seorang pria, melainkan yang diperanakkan dari Allah.

Kini sudah tiba saatnya Engkau menjadi manusia dan mau tinggal di antara kami. Dan kami telah melihat kemuliaan-Mu, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Mu sebagai Putra Tunggal Allah Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Akhirnya, sudilah menerima bingkisan sederhana dan tak berarti, yang ingin kami serahkan kepada-Mu, yakni: diri kami sendiri. Terimalah kami seadanya. Entah apa pun mau Kauperbuat dengan kami: ke dalam tangan-Mu kami letakkan nasib hidup kami.

Lalu bertumbuh dan berkembanglah, jadilah agung dan mulia dalam diri kami. Dan bersengsaralah dalam diri kami, supaya dalam diri kami pun Engkau membenarkan nama-Mu ialah “YESUS” – “ALLAH MENYELAMATKAN”. Sekian.

10.  IA LAHIR UNTUK ORANG BERDOSA

Bacaan Lukas 2:6-20    Ketika mereka di situ…

Renungan Kelahiran Putra Allah, Yesus Kristus, adalah peristiwa pusat sejarah bangsa manusia.  Hal itu kita akui antara lain dengan mengambil tahun kelahiran Ye-

sus sebagai titik-tolak perhitungan tahun, sehingga kini kita hidup dalam tahun…, berarti: kita hidup sebanyak… tahun sesudah saat Yesus lahir.

Pada malam itu, … tahun yang lalu, tentu ada ribuan bayi lahir di seluruh dunia. Yesus adalah salah satu dari ribuan bayi itu, yang karena kelahirannya pun menggembirakan orang-tuanya.

Namun bayi ini lain juga. Sebab asal-usul kelahiran-Nya bukannya dari seorang pria, melainkan dari Allah Roh Kudus. Dan dalam rencana Allah, Dia akan menjadi Penebus dunia.

Tidak disangka-sangka cinta Allah kepada manusia begitu besar! Mengejutkan! Kita merasa bahwa memang dunia ini tidak layak menerima Putra Allah itu, karena dunia ini penuh dosa dan kejahatan, penuh egoisme dan perkelahian. Siapa akan jaga, supaya Putra Allah yang mahasuci itu terlindung terhadap semua kejahatan dan keonaran itu! Siapa akan jaga supaya kiranya Ia tidak akan tahu dan tidak akan melihat segala kejahatan itu!

Namun kita tahu juga: Yesus datang justru untuk memerangi dosa dan kejahatan. Ia datang untuk merenggut orang dari liang dosa, untuk membebaskan orang dari kurungan kejahatan. Ia akan MENCARI orang-orang berdosa, semenjak saat pertama Ia lahir! Sebab gembala-gembala itu bukannya orang suci. Mereka dikenal sebagai orang yang cukup kasar, suka berkelahi, malas sembahyang.

Kita pun bukan orang kudus. Hal itu kita akui dengan terus-terang. Namun mari bersama dengan para gembala kita memberanikan diri saja, pergi ke kandang itu, masuk di situ, lalu: merasa heran dan kagum. Dan dengan penuh semangat kita akan pulang, sambil membawa suatu kepastian di atas segala kepastian di dalam hati kita, yang kita ungkapkan dengan kata.kata ini:

“Ya Tuhan, untuk aku pun Engkau telah datang. Aku pun penting bagi-Mu. Dan adikku dan anakku penting bagi-Mu. Aku ini bukan seorang besar di mata masyarakat, tetapi aku yakin akan cinta kasih-Mu bagiku. Semoga cinta kasih itu terpantul pada diriku, meluap dari dalam hatiku, sehingga mengena-i orang lain juga. Semoga, seperti Engkau, aku pun menjadi cahaya bagi orang lain, membawa cinta kasih Allah kepada setiap orang di sekelilingku, semoga aku pun menjadi seorang pembawa DAMAI”.

11.  PEMBEKALAN  HIDUP

Sebelum Bacaan Kurang-lebih 1250 tahun sebelum Yesus lahir, bangsa Israel diperbudak di tanah Mesir.  Waktu itu mereka disebut “orang Ibrani”.  Mereka  harus  kerja

paksa dan amat menderita. Namun jumlah mereka makin bertambah. Dan ketika banyaknya sudah mencapai 70.000-an, maka Firaun, raja Mesir, menjadi takut dan memerintahkan bahwa semua anak laki-laki yang lahir di kalangan orang Ibrani, harus ditenggelamkan di sungai Nil, ialah sungai besar di Mesir itu. Betapa terkejutlah orang, sebab memang perintah itu melawan segala peri kemanusiaan.

Bacaan Keluaran 2:1-10    Musa lahir dan diselamatkan

Renungan Ada suatu keluarga suku Lewi, yang sudah mempunyai beberapa anak, an-tara lain Miryam dan Harun. Lalu lahirlah lagi seorang bayi. Orang-tuanya ti-

dak sampai hati melemparkannya ke dalam sungai Nil. Tetapi sesudah 3 bulan mereka tidak dapat menyembunyikan dia lagi. Maka ayahnya mengerjakan sebuah peti pandan yang dipakalnya dengan gala-gala dan ter. Kemudian si kecil itu diletakkan ke dalamnya. Lalu peti dengan anak di dalamnya itu ditaruh di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil. Tempat itu dipilih karena di situ biasanya puteri Firaun datang mandi. Kakak Miryam bersembunyi di dekat untuk melihat apa yang akan terjadi. Maka datanglah puteri Firaun bersama dayang-dayangnya. Segera juga diperhatikannya peti itu. Dan setelah dibuka, ditemukannya seorang bayi manis yang menangis tersedu-sedu. Begitu melihat bayi itu, puteri Firaun itu jatuh sayang kepadanya. Ia mengerti bahwa anak itu dari bangsa Ibrani. Ia memutuskan untuk mengangkat anak itu menjadi anaknya sendiri.

Anak kecil itu – seperti kita tahu – adalah Musa, yang kemudian hari menjadi pemimpin dan pembina besar umat Israel.

Tak ada salahnya bila dalam peti kecil, yang menyelamatkan Musa itu, kita melihat pralambang dari palungan Betlehem, di dalamnya bayi Yesus itu dibaringkan. Begitu sederhana, sebetulnya tidak layak untuk manusia, untuk seorang tokoh seperti Musa, apalagi untuk Yesus, Putra Allah.

Sebagai orang-tua, kita ingin memberikan yang terbaik kepada anak kita. Harta tidak ada pada kita. Tetapi seorang anak yang sejak kecil harus mencukupkan diri dengan serba keterbatasan, pasti berkembang lebih baik daripada anak manjaan. Dan baiklah kita ingat bahwa harta yang terbaik yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita ialah cinta yang sejati, cinta yang tahu berkorban seperlunya, keterpaduan dan keserasian antara orang-tua, kepedulian akan orang lain dan akan lingkungan hidup dll.: itulah pembekalan utama yang barangkali puteri Firaun berikan kepada Musa. Itu pun pasti pembekalan sempurna yang Maria dan Yosep berikan kepada Yesus.

12.  SEBUAH BINTANG TERBIT (Epifani)

Sebelum Bacaan Yesus, walaupun lahir di tengah-tengah bangsa Yahudi, sudah sejak awal mula dimaklumkan kepada BANGSA-BANGSA LAIN,  yang  diwakili  oleh para

MAJUS, atau lebih dikenal sebagai TIGA RAJA. Mereka dituntun secara ajaib oleh sebuah bintang ke Betlehem, dari tempat yang jauh di pedalaman benua Asia. Mereka datang bersembah sujud kepada Putra Allah yang telah lahir untuk menyelamatkan semua manusia.

Bacaan Matius 2:1-12     Orang Majus dari Timur

Renungan Sekelompok orang bangsawan datang dari sebelah Timur, datang dari jauh, untuk  mencari  seorang  putra  raja. Setibanya di  Yerusalem,  ternyata Raja

yang mereka cari itu, tidak ada di kota itu, walaupun Yerusalem adalah ibu kota Negeri Israel. Tetapi mereka dihantar terus oleh sabda Kitab Suci yang mereka dengar di Yerusalem dan yang menunjukkan kota, yaitu Betlehem; dihantar pula oleh bintang, yang menunjukkan rumah.

Laporan penginjil Matius yang tadi kita dengar, sederhana sekali, yaitu :

“Mereka masuk ke dalam rumah itu

dan melihat Anak itu bersama dengan Maria, ibu-Nya;

lalu mereka sujud menyembah Dia”.

Itu saja. Tidak ada sepatah kata pun bahwa mungkin mereka kecewa dengan menemukan suatu tempat yang begitu sederhana, tanpa adanya pelayan-pelayan. Tidak pasti juga bahwa Maria dan Yosep mampu menyajikan hidangan alakadar bagi mereka… Mereka tidak kecewa, mereka juga tidak sangsi apakah akhirnya mereka toh keliru. Sebaliknya, bintang yang telah menghantar mereka sampai di tempat ini, kini menjadi suatu cahaya di dalam HATI mereka, menjadikan mereka orang ber-IMAN. Seperti halnya juga dengan para gembala dan dengan Simeon yang sudah tua itu, yang, sambil menerima Anak Yesus di tangannya, mengenal Sang Penebus, yang dinanti-nantikan sejak banyak abad lalu. Seperti kemudian halnya juga dengan murid-murid Yesus, yang – atas panggilan Yesus – meninggalkan segala-galanya lalu mengikuti Dia. Seperti teristimewa halnya dengan MARIA yang telah melahirkan Dia.

Mereka semua dipanggil oleh Allah, karena suatu CAHAYA yang Allah nyalakan dalam hati mereka, sebuah BINTANG yang Allah terbitkan dalam diri pribadi mereka masing-masing.

Kita ini, mengapa kita ber-IMAN? Apakah dengan banyak studi dan dengan penyelidikan yang mendalam telah kita periksa semuanya dan akhirnya mengakui bahwa semuanya itu benar? Bukan demikian! Kita beriman atas pilihan Allah. Kita beriman karena bagi kita pun Allah menerbitkan bintang-Nya, membuat kita mengenal dan mengakui bahwa Yesus itu sungguh Putra Allah dan bahwa dalam kepercayaan akan Dia, kita boleh memperoleh keselamatan dan kebahagiaan, kini dan kelak di akhirat.

13.  TERANG BERSINAR (Epifani)

Bacaan Matius 2:1-15     Orang-orang Majus dari Timur

Renungan Sekitar waktu ini kita rayakan Pesta Tiga Raja. Atau, dengan nama lebih tepat: Hari Raya Penampakan Tuhan.   Yesus  menjadi  tampak  bagi  beberapa

orang wakil dari dunia yang luas. Tampak sebagai suatu Cahaya, diibaratkan oleh sebuah bintang. Kegelapan terpaksa mundur, namun seakan-akan menyiapkan diri untuk MENYERANG! Raja Herodes yang berjiwa jahat itu: dia mau memadamkan Cahaya yang baru saja terbit di Betlehem itu. Tetapi Cahaya itu menyingkir. Rupanya masih terlalu halus daripada dapat menghadapi angin ribut dari Herodes. Namun kemudian kembali untuk menyinarkan terangnya dengan seluas-luasnya.

Membaca sejarah pewartaan Injil di pelbagai daerah dan negara, maka tiap kali dapat kita me-nyaksikan usaha dari pihak kegelapan untuk menghindarkan Terang itu bercahaya. Sebagai contoh kami mengambil negeri Jepang. Sekitar tahun 1600 – jadi lebih dari empat abad yang lalu – di negeri Jepang itu banyak orang sudah menjadi kristen, atas usaha antara lain dari Santo Fransiskus Xaverius. Tetapi dalam tahun 1637 Pemerintah Jepang memutuskan bahwa semua orang asing harus meninggalkan negeri itu. Dan agama Kristen selanjutnya dilarang. Ada orang-orang misionaris yang masih tinggal bekerja dengan sembunyi-sembunyi, tetapi satu demi satu ditangkap, disiksa dan dibunuh. Dan kemudian, selama 230 tahun, tidak ada seorang imam pun di seluruh negeri Jepang.

Baru dalam tahun 1865 Pemerintah Jepang membuka kembali batas Negaranya untuk orang-orang asing. Maka segera juga diutus ke sana orang-orang Imam untuk mulai kembali karya pewartaan Injil.

Dan inilah pengalaman dari salah seorang dari mereka (namanya Pastor Petit-Jean). Di sebuah kota ia membangun sebuah gedung gereja kecil. Ketika pada tanggal 17 Maret tahun 1865 ia keluar dari rumahnya dan tiba pada gerejanya yang kecil itu, maka berdirilah di depan pintu sekelompok 15 orang. Pastor itu mengucapkan selamat pagi kepada mereka, lalu masuk gereja untuk sembahyang. Segera juga orang-orang itu ikut dia masuk gereja. Seorang ibu datang berlutut di sampingnya. Ia memegang tangannya dan meletakkannya pada dadanya dan berkata kepada Pastor itu: “Tuan, hati kami semua seperti hati Bapak”. Seorang ibu lain mendekat dan berkata: “Kami dari Urakami. Orang-orang Urakami semuanya punya hati seperti kami”. Bertanyalah se-orang lain: “Di mana patung Bunda Maria?” Dan ketika dilihatnya patung itu, maka dia beserta orang-orang yang lain berlutut di hadapan patung itu sambil berseru: “Sungguh, dialah Santa Maria. Coba lihat! Ia menggendong Putranya Yesus yang amat mulia!” Baru Pastor itu sadar bahwa telah terjadi sesuatu yang ajaib: orang-orang ini selama lebih dari 200 tahun tidak pernah melihat seorang imam pun. Namun mereka telah mewariskan dari turun-temurun iman itu. Mereka telah mempermandikan anak-anaknya, mereka telah menghafal ke-10 Perintah Allah dan doa-doa yang terpenting. Mereka masih menyimpan patung, medali dan rosario. Dengan penuh kepercayaan, lebih dari 200 tahun lamanya, telah mereka nantikan saatnya imam-imam kembali. Jumlah mereka saat itu sebanyak dua ribu orang.

Lebih dari tiga setengah abad yang lalu Pemerintah negeri Jepang mengangkat senjata terhadap Terang Dunia, seperti telah dibuat oleh Raja Herodes. Terang itu untuk sementara menyingkir, namun menyala terus. Dan dewasa ini berkobar dengan nyata di negeri Jepang itu….

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: