Reconciling Indonesia Grassroots agency for peace

reconciling Indonesia

reconciling Indonesia

Berikut ini adalah sebuah promosi buku dari: Birgit Bräuchler

Birgit Bräuchler seorang yang cukup berperan dalam penulisan buku tentang pelbagai situasi kerusuhan dibeberapa tempat di Indonesia termasuk Kerusuhan Maluku.

Beliau adalah seorang teman dekat Pastor C. BÖhm, MSC

Reconciling Indonesia

Grassroots agency for peace

Edited by Birgit Bräuchler

Indonesia has been torn by massive internal conflicts over the last decade. The absence of functioning national tools of reconciliation and the often limited success of an internationally established ‘reconciliation toolkit’ of truth commissions and law enforcement, justice and human rights, forgiveness and amnesty, requires us to interrogate commonly held notions of reconciliation and transitional justice. Reconciling Indonesia fills two major gaps in the literature on Indonesia and peace and conflict studies more generally: the neglect of grassroots agency for peace and the often overlooked collective and cultural dimension of reconciliation.

Bringing together scholars from all over the world, this volume draws upon multi-disciplinary theoretical perspectives, extensive fieldwork and activists’ experience, and explores the ways in which reconciliation connects with issues like civil society, gender, religion, tradition, culture, education, history, displacement and performance. It covers different areas of Indonesia, from Aceh in the West to the Moluccas in the East, and deals with a broad variety of conflicts and violence, such as communal violence, terrorist attacks, secessionist conflicts, localized small-scale conflicts, and the mass violence of 1965-66. Reconciling Indonesia offers new understandings of grassroots or bottom-up reconciliation approaches and thus goes beyond prevalent political and legal approaches to reconciliation.

Reconciling Indonesia is important reading for scholars, activists and anyone interested in current developments in Indonesia and the broader region and in new approaches to peace and conflict research.

Table of Contents

Part I. Problematizing ‘Reconciliation’ 1. Introduction: Reconciling Indonesia Birgit Bräuchler 2. Global Conflict in Cosmocentric Perspective: A Balinese Approach to Reconciliation Annette Hornbacher Part II. Restorative Performances: ‘Traditional Justice’, Rituals, and Symbols 3. Swearing Innocence: Performing Justice and ‘Reconciliation’ in Post-New Order Lombok Kari Telle 4. Social Reconciliation and Community Integration through Theater Barbara Hatley 5. Mobilizing Culture and Tradition for Peace: Reconciliation in the Moluccas Birgit Bräuchler Part III. ‘Traditional Justice’ under Scrutiny: Human Rights, Power, and Gender 6. Reconciliation and Human Rights in Post-Conflict Aceh Leena Avonius 7. The Problem of Going Home: Land Management, Displacement, and Reconciliation in Ambon Jeroen Adam 8. Women’s Agencies for Peace Building and Reconciliation: Voices from Poso, Sulawesi Y. Tri Subagya IV. Victim-Perpetrator Conceptualizations: History Education, Civil Society, and Religion 9. Reconciliation through History Education: Reconstructing the Social Memory of the 1965–66 Violence in Indonesia Grace Leksana 10. Civil Society and Grassroots Reconciliation in Central Java Priyambudi Sulistiyanto and Rumekso Setyadi 11. A Bridge and a Barrier: Islam, Reconciliation, and the 1965 Killings in Indonesia Katharine E. McGregor

Author Biography

Birgit Bräuchler is assistant professor of social and cultural anthropology at the University of Frankfurt.

Indonesia has been torn by massive internal conflicts over the last decade. The absence of functioning national tools of reconciliation and the often limited success of an internationally established ‘reconciliation toolkit’ of truth commissions and law enforcement, justice and human rights, forgiveness and amnesty, requires us to interrogate commonly held notions of reconciliation and transitional justice. Reconciling Indonesia fills two major gaps in the literature on Indonesia and peace and conflict studies more generally: the neglect of grassroots agency for peace and the often overlooked collective and cultural dimension of reconciliation.

Bringing together scholars from all over the world, this volume draws upon multi-disciplinary theoretical perspectives, extensive fieldwork and activists’ experience, and explores the ways in which reconciliation connects with issues like civil society, gender, religion, tradition, culture, education, history, displacement and performance. It covers different areas of Indonesia, from Aceh in the West to the Moluccas in the East, and deals with a broad variety of conflicts and violence, such as communal violence, terrorist attacks, secessionist conflicts, localized small-scale conflicts, and the mass violence of 1965-66. Reconciling Indonesia offers new understandings of grassroots or bottom-up reconciliation approaches and thus goes beyond prevalent political and legal approaches to reconciliation.

Reconciling Indonesia is important reading for scholars, activists and anyone interested in current developments in Indonesia and the broader region and in new approaches to peace and conflict research.

Table of Contents

Part I. Problematizing ‘Reconciliation’ 1. Introduction: Reconciling Indonesia Birgit Bräuchler 2. Global Conflict in Cosmocentric Perspective: A Balinese Approach to Reconciliation Annette Hornbacher Part II. Restorative Performances: ‘Traditional Justice’, Rituals, and Symbols 3. Swearing Innocence: Performing Justice and ‘Reconciliation’ in Post-New Order Lombok Kari Telle 4. Social Reconciliation and Community Integration through Theater Barbara Hatley 5. Mobilizing Culture and Tradition for Peace: Reconciliation in the Moluccas Birgit Bräuchler Part III. ‘Traditional Justice’ under Scrutiny: Human Rights, Power, and Gender 6. Reconciliation and Human Rights in Post-Conflict Aceh Leena Avonius 7. The Problem of Going Home: Land Management, Displacement, and Reconciliation in Ambon Jeroen Adam 8. Women’s Agencies for Peace Building and Reconciliation: Voices from Poso, Sulawesi Y. Tri Subagya IV. Victim-Perpetrator Conceptualizations: History Education, Civil Society, and Religion 9. Reconciliation through History Education: Reconstructing the Social Memory of the 1965–66 Violence in Indonesia Grace Leksana 10. Civil Society and Grassroots Reconciliation in Central Java Priyambudi Sulistiyanto and Rumekso Setyadi 11. A Bridge and a Barrier: Islam, Reconciliation, and the 1965 Killings in Indonesia Katharine E. McGregor

Author Biography

Birgit Bräuchler is assistant professor of social and cultural anthropology at the University of Frankfurt.

Iklan

PUASA DAN PANTANG DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN KATOLIK

PUASA DAN PANTANG  DALAM  PERSPEKTIF

ISLAM DAN KATOLIK

Oleh

Alexandrina Teniwut

PENDAHULUAN

  1. I. LATAR BELAKANG

Puasa dan pantang adalah cara memperbaharui diri dengan menekan keinginan-keinginan badani yang dilakukan pada praktek hidup sebelumnya. Dengan kata lain puasa dan pantang adalah usaha untuk mengendalikan diri menjadi manusia baru dengan meneladani kehidupan sang nabi Muhamad dan Yesus Kristus.

Dalam kehidupan umat beragama pantang dan puasa tidaklah menjadi hal yang baru, hal ini sudah lazim dilaksanakan  oleh setiap orang beriman.Hanya saja pelaksanaan Puasa dan Pantang dalam dunia dewasa ini belum mencerminkan arti yang sesungguhnya .

Dekadensi  akan arti nilai-nilai keagamaan dari puasa dan pantang disebabkan karena minimnya pemahaman. Bagi kebanyakan orang puasa dan pantang dilihat sebagai sebuah rutinitas keagamaan yang berlangsung setiap tahun. Adapula pemahaman lain yakni puasa dan pantang dilaksanakan sebagai konsekuensi seorang penganut agama terhadap aturan-aturan keagamaan (praktek hidup legalisme).

Lewat peper mini ini kelompok menyajikan arti puasa dan pantang dalam perspektif Islam dan Katolik untuk dipahami dan dilaksanakan guna meningkatkan penghayatan akan nilai-nilai relegius yang kian merosot.

BAB  I

PUASA DAN PANTANG DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN KATOLIK

I.1. PUASA DAN PANTANG MENURUT ISLAM

I.1.1. ARTI PUASA DAN PANTANG

Puasa dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Saum atau Siyăm yang artinya imsak (menahan diri) dari segala sesuatu; dalam pengertian  tidak terbatas, yakni bukan hanya makan dan minum saja tetapi mencakup kebiasaan-kebiasaan  hidup etika dalam berbicara dan berperilaku. Penjelasan dari pengertian puasa diatas maka pengertian dari pantang sudah tersirat di dalamnya yakni pantang makan dan minum selama terang hari.

I.1.2. HIKMAH PUASA  DAN PANTANG

Bagi orang beriman yang berpuasa makna dari puasa yakni :

  • Suatu bentuk korban atau persembahan
  • Memberikan kemantapan dan intensitas pada doa, karena dapat mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendakNya.
  • Mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat.
  • Menolong orang untuk mengurangi keserakahan.
  • Tanda penyesalan.
  • Membebaskan orang dari ketergantungan jasmani, ketidakseimbangan emosional dan dapat mengarahkan perhatian kepada sesama dengan memberi derma.

Selain itu ada hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa menurut beberapa tokoh:

1.  Muhammad Ali as-Sabuni (ahli tafsir), mengatakan bahwa sekurang-kurangnya ada 4 hikmah    yang terkandung dalam puasa, yakni:

  • Merupakan sarana pendidikan bagi manusia agar tetap  bertaqwa kepada Allah SWT, patuh terhadap perintahNya dan menghambakan diri kepadaNya.
  • Merupakan pendidikan bagi jiwa dan membiasakannnya untuk tetap sabar dan tahan terhadap segala penderitaan dalam menempuh dan melaksanakan perintah Allah SWT.
  • Merupakan sarana untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan rasa persaudaraan terhadap orang lain
  • Dapat menanamkan dalam diri manusia rasa taqwa kepada Allah SWT baik dalam keadaan terang-terangan maupun sembunyi-sembunnyi.

2.  Wahbah az-Zuhaili, mengatakan bahwa puasa mengandung banyak faedah yang tidak hanya  bersifat material tetapi juga bersifat spiritual.

I.1.3. MACAM-MACAM PUASA DAN PANTANG

Puasa dibagi atas beberapa macam:

  1. Dilihat dari waktu pelaksanaannya, puasa terbagi atas dua, yakni:
  • Puasa pada Bulan Ramadan. Puasa Ramadan mulai diwajibkan oleh Allah SWT atas umat Muhammad SAW pada tanggal 10 Ramadan,satu setengah Tahun sesudah *hijriah. Ketika itu Nabi Muhammad SAW baru saja diperintahkan untuk mengalihkan arah kiblat dari Baitulmakdis (Yerusalem ) ke Ka’bah (Mekah). Puasa Ramadan wajib dimulai ketika melihat atau menyaksikan bulan pada awal bulan Ramadan. Apabila langit dalam keadaan berawan yang mengakibatkan bulan tidak dapat dilihat atau disaksikan, maka bulan Ramadan disempurnakan tiga puluh hari. Hal ini didasarkan pada Al-Quran surah al-Baqarah ayat 185 yang artinya:”Barangsiapa yang menyaksikan bulan di antara kamu hendaklah berpuasa”.
  • Puasa di luar Bulan Ramadan, seperti puasa Kada dan puasa  enam hari pada Bulan Syawal.
  1. Dilihat dari segi hukumnya, puasa terbagi atas empat, yakni :
  • Puasa wajib
  • Puasa haram
  • Puasa Sunah
  • Puasa Makruh
  • Puasa Wajib; mencakup puasa Ramadan, puasa kafarat (denda, tebusan) dan puasa Nazar.
    • Puasa Ramadan atau puasa yang diwajibkan atas setiap muslim selama sebulan penuh pada bulan Ramadan.
    • Puasa Ramadan, wajib dimulai ketika melihat atau menyaksikan bulan pada awal bulan Ramadan. Apabila langit dalam keadaan berawan yang mengakibatkan bulan tidak dapat dilihat atau disaksikan.
    • Puasa Kafarat atau puasa yang dilakukan oleh seseorang karena sebab-sebab tertentu, seperti bersetubuh di siang hari bulan Ramadan.
    • Puasa Nazar ialah puasa yang diwajibkan atas seorang karena suatu nazar.
    • Puasa Haram; mancakup puasa-puasa sebagai berikut :
      • Puasa Sunah yang dilakukan oleh seorang isteri tanpa izin suaminya. Maka seorang isteri yang ingin melakukan puasa *)Sunah harus terlebih dahulu mendapat izin dari suaminya.
      • Puasa yang dilakukan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha ( Salat id).
      • Puasa pada tiga hari ( tasyrik, pada tanggal 11, 12, 13 Zulhijah).
      • Puasa yang dilakukan dalam keadaan haid atau nifas.
      • Menurut Mazhab Syafi’i, puasa yang dilaksanakan pada pertengahan akhir bulan Syakban
      • Puasa yang dilakukan oleh seseorang yang takut akan terjadi murtad bagi dirinya apabila ia melakukan puasa.
      • Puasa Sunah[1]; mancakup puasa-puasa sebagai berikut :

Puasa yang dilakukan selang satu hari (hari ini berpuasa, besok tidak) atau puasa Nabi Daud yang merupakan puasa terbaik, sehari ia berpuasa dan seharinya tidak.

  • Puasa selama tiga hari dalam setiap bulan (Hijriah)
  • Puasa pada hari senin dan kamis.
  • Puasa yang dilakukan selama enam hari pada bulan Syawal.
  • Puasa hari Arafah, yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Zulhijah bagi orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji.
  • Puasa pada hari kedelapan bulan Zulhijah (sebelum hari Arafah).
  • Puasa Tasu’a dan Asura, yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal  9 dan 10 Muharam.
  • Puasa pada al-asyhur al-hurum, yaitu puasa yang dilakukan pada bulan-bulan  Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab.
  • Puasa bulan Syakban..
  • Puasa Makruh; terbagi atas tiga macam :
    • Puasa yang dilakukan pada hari Jumat, kecuali beberapa hari sebelumnya telah berpuasa.
    • Puasa Wisal, yaitu puasa yang dilakukan secara bersambung  tanpa makan atau minum pada malam harinya.
    • Puasa dahri, yaitu puasa yang dilakukan terus-menerus.

I.1.4.   SYARAT-SYARAT PUASA DAN PANTANG

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam melaksanakan puasa. Syarat-syarat itu terdiri atas : Syarat Wajib dan syarat Sah.

  • Syarat wajib atau syarat-syarat  yang menyebabkan seseorang harus melakukan puasa.
    • Syarat sah atau syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang agar puasanya sah menurut syarat.
      • Para ulama telah menetapkan lima syarat wajib puasa :
  1. Islam, artinya puasa itu wajib bagi seorang muslim, tidak wajib bagi orang kafir.
  2. Balig. Puasa tidak wajib bagi anak kecil, orang gila, orang yang  pingsan dan orang mabuk.
  3. Berakal.
  4. Mampu
  5. Menetap (bermukim).
  • Mengenai syarat-syarat Sah puasa, terdapat perbedaan pendapat antara para ulama yaitu:
    • Mazhab Hanafi, mengatakan bahwa ada tiga syarat bagi sahnya puasa, yaitu niat,bersih dari haid dan nifas, terlepas dari hal-hal yang bertentangan dengan puasa (seperti haid dan nifas), dan terlepas dari hal-hal yang membatalkan puasa.
    • Mazhab Hanbali, juga menetapkan  3 syarat : Islam, niat dan bersih dari haid dan nifas.
    • Mazhab Maliki dan Mazhab Syafi’i, menetapkan 4 syarat : niat, bersih dari haid dan nifas,  Islam dan pada waktu yang dibolehkan untuk berpuasa.

Maka syarat Sah yang disepakati oleh para ulama ialah niat. Menurut mereka, niat berpuasa pada siang hari dilakukan pada malam hari. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi SAW yang mengatakan : “Barang siapa yang tidak melakukan niat pada malam harinya sebelum terbit fajar, maka puasanya tidak Sah” (HR. Daruqutni)

I.1.5.   WAKTU PUASA DAN PANTANG

Yang dimaksud dengan waktu puasa disini atau beberapa jam puasa itu harus dilakukan menurut hukum Islam.

  • Puasa Islam itu dilakukan pada saat fajar (subuh) dan matahari terbenam  (magrib); sedangkan malam harinya boleh makan, minum dan hubungan suami dan isteri.
  • Setelah azan subuh tidak boleh lagi melakukan kegiatan makan, minum karena itu membatalkan puasa.

I.1.6.   SUNAH PUASA

Hal-hal yang disunahkan untuk dilakukan selama berpuasa atau sebagai berikut :

  • Makan Sahur
  • Mempercepat berbuka
    • Membaca doa sebelum berbuka. Doa yang umum digunakan masyarakat Islam secara luas adalah : “Allahuma laka sumtu wabika amantu wa’ala rizqika aftartu birahmatika ya arham ar- Rahimin” (Ya Allah, karena Engkau aku berpuasa, dan dengan Engkau aku beriman dan di atas rezeki-Mu aku berbuka, dengan sebab rahmat-Mu, wahai Zat yang maha pemberi rahmat bagi orang-orang yang mendapatkan rahmat).
    • Memberikan makan untuk berbuka kepada orang-orang yang berpuasa walaupun sebuah kurma atau segelas air.
    • Memperbanyak sedekah kepada fakir miskin.
    • Aktif dengan ilmu.
    • Iktikaf di masjid, terutama sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

I.1.7.   MAKRUH PUASA DAN PANTANG

Hal-hal yang makruh dilakukan selama berpuasa antara lain :

  • Berciuman dan bercumbu rayu dengan isteri/suami
  • Mencicipi makanan dengan mengunyahnya tanpa uzur (halangan)
  • Mengumpulkan liur dalam mulut dengan sengaja dan menelannya.
  • Melakukan sesuatu yang dapat melemahkan badan, seperti membekam
  • Memakai wangi-wangian dan menciumnya secara berlebihan pada siang hari.
  • Berkumur yang berlebihan.
  • Memperbanyak tidur dalam bulan Ramadan.
  • Berbicara dan bekerja yang berlebihan
  • Bersikat gigi sesudah tergelincir matahari sampai terbenam matahari.
  • Meninggalkan sisa-sisa makanan di celah-celah gigi.

I.1.8. ORANG-ORANG YANG DIPERBOLEHKAN BERBUKA PUASA ATAU

TIDAK BERPUASA DAN PANTANG

  • Ø Orang-orang yang dibolehkan berbuka puasa adalah sebagai berikut :
  • Musafir ( orang yang sedang bepergian)
  • Orang sakit.

Sebagian ulama menentukan syarat-syarat bagi orang sakit yang dibolehkan berbuka puasa, yaitu :

–      Tidak mampu berpuasa dan jika berpuasa dikhawatirkan sakitnya akan bertambah parah.

–      Mampu berpuasa, tetapi akan menyulitkan bagi dirinya.

–      Sakit yang tidak menyulitkan dirinya dan tidak akan menambah penyakitnya (sakit yang ringan).

  • Orang hamil dan menyusui
  • Orang yang lanjut usia
  • Orang yang dipaksa
    • Orang-orang yang membatalkan puasa atau tidak dapat melaksanakan puasa pada bulan Ramadan, diwajibkan untuk mengkada, berkafarat dan berfidyah.
      • Mengkada : Mengganti puasa Ramadan yang telah ditinggalkannya pada hari-hari lain sesudah bulan Ramadan.
      • Kafarat : Hukuman yang diberikan kepada seseorang yang telah membatalkan puasanya karena dengan sengaja telah melakukan hubungan persetubuhan dengan isterinya di siang hari bulan Ramadan. Dapat ditebus dengan berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin.
      • Fidyah : Lebih ringan dari Kafar. Fidyah atau tebusan yang harus dilakukan seseorang yang tidak mampu melaksanakan puasa Ramadan, seperti orang yang lanjut usia, orang hamil dan ibu yang menyusui.

I.1.9. HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA DAN YANG MEWAJIBKAN

KADA, KAFARAT / FIDYAH.

Ada beberapa  hal yang membatalkan puasa; para ulama membagi hal-hal yang membatalkan puasa itu atas dua bagian, yaitu hal-hal yang membatalkan puasa serta mewajibkan Kada dan hal-hal yang membatalkan puasa serta mewajibkan Kada dan Kafarat sekaligus :

1.  Hal-hal yang membatalkan puasa dan mewajibkan Kada :

  • Menurut kalangan Mazhab Hanafi, yang membatalkan puasa dan mewajibkan Kada :
    • Memasukan segala sesuatu yang bukan makanan dan yang bukan dalam pengertian makanan ke dalam kerongkongan.
    • Muntah dengan sengaja.
    • Memasukkan makanan/obat-obatan ke dalam kerongkongan tanpa uzur.
    • Makan dan bersetubuh dengan sengaja sesudah makan dan bersetubuh karena lupa.
    • Makan, minum atau bersetubuh karena tidak tahu dengan pasti bahwa fajar telah tebit.
    • Menurut kalangan Mazhab Maliki, yang membatalkan puasa dan mewajibkan Kada :
      • Berbuka dengan sengaja pada puasa Ramadan yang tidak memenuhi syarat Kafarat
      • Berbuka dengan sengaja pada puasa Fardu (bukan puasa Ramadan), seperti puasa Kada, Ramadan, puasa Kafarat dan puasa Nazar.
      • Berbuka puasa dengan sengaja pada puasa Sunah.
      • Menurut kalangan Mazhab Syafi’i, yang membatalkan puasa dan mewajibkan Kada :
        • Sampainya segala yagn bersifat materi ke dalam kerongkongan .
        • Menelan dahak dan ingus.
        • Muntah dengan sengaja.
        • Menurut kalangan Mazhab Hambali, yang dapat membatalkan puasa dan mewajibkan Kada :
          • Masuknya segala sesuatu yang bersifat materi melalui lubang badan ke bagian dalam badan dengan sengaja atau atas kemauan sendiri.
          • Muntah dengan sengaja, walaupun sedikit.
          • Murtad
          • Makan pada saat adanya anggapan bahwa matahari telah terbenam, padahal belum.

2.  Hal-hal yang membatalkan puasa dan mewajibkan Kada dan Kafarat sekaligus:

  • Menurut kalangan Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki, bahwa Kafarat itu wajib apabila memenuhi beberapa syarat :
    • Berbuka puasa Ramadan
    • Sengaja berbuka
    • Atas kemauan sendiri
    • Mengetahui  bahwa berbuka itu haram.
    • Merusak kehormatan Ramadan.
    • Sampai ke dalam tubuh melalui mulut
    • Sesuatu yang masuk itu harus sampai ke perut.
    • Menurut kalangan Mazhab Syafi’i, yang mewajibkan Kada dan Kafarat, yaitu bersetubuh. Seseorang yang bersetubuh harus memenuhi syarat-syarat :
      • Pada malam harinya ia berniat puasa
      • Sengaja
      • Dengan kemauan sendiri, tidak paksa
      • Mengetahui bahwa melakukan perbuatan itu haram.
      • Terjadi dalam bulan Ramadan.
      • Bukan anak-anak, musafir atau orang sakit.
      • Tidak keliru melakukan persetubuhan
      • Tidak menjadi gila atau mati sesudah bersetubuh pada siang hari itu.
      • Menurut kalangan Mazhab Hanbali, hal yang mewajibkan Kada dan Kafarat itu hanya satu, yaitu bersetubuh pada siang hari bulan Ramadan tanpa Uzur (dengan sengaja).

I.1.10.  HAL-HAL YANG TIDAK MEMBATALKAN PUASA

  • Menurut Mazhab  Hanafi, ada 14 hal yang tidak membatalkan puasa :
  • Makan, minum dan bersetubuh karena lupa
  • Keluarnya mani karena memandang atau merenungkan sesuatu yang merangsang.
  • Bercelak
  • Berbekam
  • Bersugi
  • Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam lubang hidung, bukan untuk wuduh.
  • Mandi atau berenang
  • Mengumpat dan berniat berbuka, tetapi tidak berbuka
  • Masuknya asap atau semacamnya ke dalam kerongkongan.
  • Mencabut gigi sepanjang  tidak menelan sedikit pun  darah atau obat.
  • Memasukkan air, minyak, obat semprot ke dalam lubang Zakar dan masuknya air ke dalam telinga karena berendam.
  • Menelan dahak atau ingus.
  • Muntah karena dipaksa
  • Memakan sisa makanan yang terdapat dicelah-celah gigi.
    • Menurut Mazhab Maliki :
    • Muntah dengan tidak disengaja
    • Memasukkan sesuatu ke dalam lubang zakar
    • Meminyaki bagian dalam tubuh dengan obat
    • Menelan liur
    • Berkumur-kumur karena haus.
      • Menurut Mazhab Syafi’i :
      • Masuknya segala sesuatu ke dalam badan karena lupa, tidak tahu, dipaksa.
      • Masuknya sesuatu yang tidak dapat dikeluarkan seperti dahak, dan sesuatu yang terdapat di antara gigi.
      • Masuknya sesuatu yang tidak dapat dihindarkan, seperti debu di jalan.
      • Mengeluarkan darah, mencium, peluk-memeluk, mencoba rasa makanan, bersikat gigi dan mengunyah.

  • Menurut Mazhab Hanbali :
  • Keluar darah
  • Masuknya sesuatu ke dalam kerongkongan tanpa disengaja.
  • Muntah dengan tidak sengaja
  • Bersikat gigi setiap hari.

I.2 PUASA DAN PANTANG MENURUT KATOLIK

I.2.1.  ARTI PUASA DAN PANTANG

Puasa dalam bahasa Ibrani : “tsum”, yang artinya merendahkan diri atau menjadi diri kecil.

Dalam Ensiklopedi Gereja, dikatakan bahwa puasa adalah : tindakan sukarela berpantang sama sekali atau sebagian makanan atau minuman, baik untuk tujuan keagamaan ataupun untuk tujuan lain ( misalnya : kesehatan ).

I.2.2.  MAKNA PUASA DAN PANTANG

Umat Kristen Katolik mewarisi kebiasaan puasa dan pantang dari agama Yahudi. Bagi orang Yahudi puasa merupakan salah satu aturan demi keselamatan. Keselamatan diperoleh jika taat pada perintah Yahweh. Taat supaya selamat, maka aturan-aturan dibuat sebegitu terperinci  agar makin dekatlah seseorang meraih keselamatan.

Tradisi ini juga dilakukan oleh Yesus sesudah pembaptisan-Nya. Sebelum Yesus memulai misi keselamatanNya, Ia berpuasa selama 40 hari. Hal ini menjadi model dan ajaran tentang puasa bagi orang Kristen Katolik, Yesus menekankan bahwa puasa harus dilakukan demi kemuliaan Tuhan semata-mata dan bukan supaya dilihat dan mendapat pujian atau perhatian dari orang lain. Maka puasa keagamaan harus dilakukan secara diam-diam, supaya hanya Allah yang mengetahui dan membalasnya (Mat. 6 : 16 – 18 ).

Gerakan puasa dan pantang dalam kehidupan umat Kristiani disetiap masa Prapaskah merupakan sarana atau kesempatan untuk membangun hidup yang semakin beriman. Penghayatan puasa atau lebih-lebih bermatiraga biasa menjadi alat pengendalian diri menuju perbaikan pribadi-pribadi yang berdampak pada perbaikan mutu kehidupan bersama. Kalau puasa diartikan dengan tidak makan atau tidak minum itu hanya sebagian kecil dari arti puasa itu sendiri. Tetapi seseorang melakukan puasa atau pantang untuk mengekang kebutuhan-kebutuhan lain, bukannya untuk memperkaya diri sendiri tetapi dalam rangka bersolidaritas dengan Yesus yang menyerahkan hidup-Nya untuk orang lain. Solidaritas itu kita hayati dengan mengumpulkan dan dari puasa atau pantang dan matiraga kita.

Dengan puasa kita juga diajak untuk menderita, dengan turut merasakan penderitaan orang lain, karena itu hasil dari puasa adalah munculnya aksi yang ditujukan kepada mereka yang miskin dan menderita. Penghayatan puasa yang dilakukan akan membawa perbaikan dan perubahan, tidak hanya bagi orang yang melakukan puasa, tetapi lebih-lebih  pada keluarga-keluarga yang berada di lingkungan sekitar. Hal ini merupakan bentuk tanggapan terhadap undangan Yesus untuk bertobat, yang bagi umat Katolik dilaksanakan dalam bentuk APP (Aksi Puasa Pembangunan). Kaitan antara APP dengan pantang dan puasa yakni lewat APP kita dapat memberikan setengah dari penghasilan kita untuk orang-orang miskin  dan dengan cara itu maka kita lebih menghayati akan penderitaan Yesus.

I.2.3. ATURAN PUASA DAN PANTANG

Sebelum Konsili Vatikan II, Gereja Katolik menetapkan banyak aturan puasa yang kini sudah sangat disederhanakan. Peraturan wajib puasa atau pantang pada masa Prapaskah adalah :

  • Berpantang dan berpuasa para hari Rabu Abu dan Jumat Suci, pada hari-hari Jumat lain dalam masa Prapaskah wajib melaksanakan pantang.
  • Wajib puasa : semua orang beriman yang berumur 19 – 59 tahun, kecuali orang yang lanjut usia, anak-anak, orang sakit, ibu hamil, orang yang sedang mengadakan perjalanan jauh dan pekerja berat.
  • Puasa : satu kali makan kenyang dalam sehari.
    • Pantang dapat berarti pantang daging, rokok, minum berakohol, menonton televisi dan lain-lain. Di satu pihak pantang dinilai positif, yakni sebagai cara menaklukan nafsu berbuat dosa,namun di sisi lain pantang juga dinilai negatif yakni kebiasaan-kebisaan manusia dibatasi.

Di gereja Katolik semua orang beriman yang berumur 14 tahun ke atas wajib pantang ( KHK; Kan. 1252 : “Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orang tua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina kearah cita–rasa tobat yang sejatih” ); pada hari Rabu Abu (Pembukaan Masa Puasa) serta hari Jumat Suci dan hari-hari Jumat selama masa Prapaskah. (KHK. Kan. 1251 : “ Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan  Konferensi Para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan hari Jumat Agung, memperingati sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus”).

BAB  II  PENUTUP

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Puasa dan Pantang dalam perspektif Islam dan Katolik tidaklah jauh berbeda. Kedua Agama ini memandang Puasa dan Pantang sebagai suatu sarana atau jalan untuk memperbaharui hati dan pikiran serta memperbaiki sikap dan tingkah laku sebagai orang beriman yang taat pada Agama. Hanya saja bila arti dan makna puasa serta pantang ini dilakukan dengan niat serta sungguh-sungguh mengikuti Yesus  dan Nabi Muhamad yang berpuasa dan berpantang selama 40 hari, maka kita akan mendapat pengampunan dan beroleh keselamatan.

Pada masa sekarang ini nilai-nilai religius dalam puasa dan pantang dalam Agama Islam maupun Agama Kristen Katolik sebagian belum terpenuhi atau belum tercapai  karena pada kenyataannya sikap dan tingkah laku manusia tidak sesuai dengan norma-norma agama,misalnya pada bulan puasa ada umat yang mabuk-mabukan,main judi dan lain sebagainya. Maka dari itu kita sebagai manusia yang beriman kita harus sungguh-sungguh menghayati makna puasa dan pantang maka kita akan mendapat pengampunan dan beroleh keselamatan.

KEPUSTAKAAN

  • AGAMA – AGAMA DUNIA. Michael Keene. Kanisius. Yogyakarta, 2006
  • ENSIKLOPEDI GEREJA   Jilid VI   N – Ph  dan  Jilid VII  P – Sek. Adolf Heuken SJ. Yayasan Cipta Loka Caraka. Jakarta, 2005
  • ENSIKLOPEDI NASIONAL INDONESIA  Jilid 12  P – PEP dan  Jilid 13  PER – PY. PT. Delta Pamungkas. Jakarta, 2004
  • ENSIKLOPEDI NURCHOLISH MADJID. Budhy Munawar.Rachman. Yayasan Pesantren Indonesia Al-Zaytun. Jawa Barat, 2008
  • ENSIKLOPEDI ISLAM ,Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam Cetakan Keempat-Jakarta; Ichtiar Baru. Van Hoeve, 1997
  • KAMUS UMUM BAHASA INDONESIA. W.J.S.Poerwadarminta. Balai Pustaka. Jakarta, 2005
  • ISLAM DALAM LINTASAN SEJARAH. Sir Hamilton A.R Gibb.Bhratara Karya Aksara-Jakarta,1983


[1] Sunah adalah suatu tindakan, apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa

Galeri Foto

staff dosen

staff dosen

staff dosen

staff dosen

KLARA SAKLIRESSY (PEGAWAI)

KLARA SAKLIRESSY (PEGAWAI)
HELENA RAHANDITY (PEGAWAI)

HELENA RAHANDITY (PEGAWAI)

WILHELMUS BATLAYERI (Staff Dosen)

ELIZABETH HATEYONG (BENDAHARA)

ELIZABETH HATEYONG (BENDAHARA)

FELIX WEE (PEGAWAI)LEONARD ANZIZ (ADM.&DIRJEVO SETITIT (ADMINISTRATOR & MANAGER WEBSITE STPAK)MARSIANUS RERESI, S (Staff Dosen)PIUS JANWARIN, SS (Staff Dosen)pastor Yan Alubwaman (Staff Dosen)pastor Bohm (Staff Dosen)KETUA STPAK ( PASTOR JOHN LUTURMAS PR)HOME SWEET HOME

MEMAHAMI KETERLIBATAN PEREMPUAN DALAM GEREJA KATOLIK

MEMAHAMI KETERLIBATAN PEREMPUAN DALAM

GEREJA KATOLIK

(Suatu Tinjaun Kritis dalam Perspektif Teologi Feminis)

(Oleh: Willem Batlayeri)

Pendahuluan

Kebangkitan perempuan pada tataran agama, secara khusus dalam Gereja Katolik selain disebabkan oleh kondisi budaya, keterpurukan ini terjadi pula karena teologi yang dibangun kebanyakan dititik beratkan dari sudut pandang laki-laki saja. Laki-laki dijadikan sebagai acuan dan dasar dari setiap kebijakan sehingga fakta diskriminatif atas keterlibatan perempuan dalam Gereja katolik menjadi masalah yang tak terelakkan. Untuk itu, kaum perempuan bangkit dengan membuat suatu refleksi kritis atas realitas diskriminatif yang menimpah mereka dan refleksi ini coba ditempatkan dalam tataran teologi yang disebut dengan Teologi Feminis. Dalam refleksi teologi ini, disadari bahwa kajian teologis menjadi sangat penting sebab refleksi teologi yang dibangun tidak hanya menjadi salah satu alat bagi perempuan untuk mengkaji agama dan realitas keterpurukan perempuan, tetapi dapat dipakai juga untuk menyikapi persoalan keterlibatan perempuan dalam Gereja katolik. Untuk itu, pertanyaan dasar yang dapat dikemukakan pada kesempatan ini adalah apakah kaum perempuan dapat terlibat dalam karya pelayanan Gereja? Apa tanggapan teologi feminis sehubungan dengan persoalan keterlibatan kaum perempuan dalam Gereja katolik?

A. Teologi Feminis dan Realitas Perempuan

A.1. Apa dan mengapa Teologi Feminis?

Sebelum menelusi lebih jauh tentang persoalan keterlibatan perempuan dalam Gereja katolik, maka baiklah jika secara singkat mendalami aliran teologi feminis itu sendiri yang dapat dipakai sebagai instrumen untuk menyikapi persoalan kaum perempuan pada tataran keagamaan. Pada dasarnya, teologi feminis merupakan suatu aliran baru yang dikembangkan oleh kaum perempuan di Amerika Serikat pada tahun 1950-an[1] untuk memperjuangkan keadilan atas diri dan hidup kaum perempuan dalam lembaga keagamaan dan secara khusus dalam Gereja katolik dengan mengubah paradigma lama yang mendiskreditkan perempuan sebagai kelas dua dan membangun paradigma baru yang berbasis pada keadilan dan keutuhan ciptaan Allah. Titik tolaknya adalah menghayati iman dari sudut pandang perempuan dan bukan dari sudut pandang laki-laki saja sehingga kaum perempuan dapat diajak untuk menyadari keperempuanannya dan mengajak laki-laki agar menyadari bahwa selama ini segala keputusan, baik yang menyangkut hubungan dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia seluruhnya hanya diambil dari sudut pandang laki-laki saja[2].

Selain pengaruh kondisi sosial masyarakat dan budaya setempat yang membangkitkan kesadaran kaum perempuan Amerika Serikat atas kenyataan hidup yang dialaminya, perkembangan teologi feminis ini dikondisikan pula oleh teologi pembebasan. Teologi pembebasan sebagai sebuah metode baru dalam berteologi dengan cara menentang interpretasi tradisional tentang ajaran kristiani serta berusaha menemukan arti baru terhadap ajaran iman yang berbasis pada injil dalam menegakkan kebenaran, senantiasa berusaha menjawab situasi dan kondisi sosial yang di hadapi oleh kaum miskin telah menginspirasikan kaum perempuan dalam refleksinya[3]. Inspirasi teologi pembebasan ini memberikan arti positif bagi kaum perempuan dalam perjuangannya sehingga konsep teologi pembebasan ini akhirnya diterapkan pada persoalan perempuan dengan harapan agar kaum perempuan dapat dibebaskan dari sistem budaya yang seringkali menafsirkan perempuan berdasarkan ideologi patriarki serta paling sedikit berusaha menemukan jati diri tanpa bermaksud menyamakan diri dengan laki-laki.

Tidak hanya itu, upaya demi upaya dilakukan untuk mendukung perjuangan mereka. Kaum perempuan sadar bahwa selain dibebaskan dari sistem budaya yang menindas, kaum perempuan perlu juga dibebaskan dari gerakan pembodohan yang telah berjalan lama. Oleh karena itu, diperkirakan pada gelombang kedua, teologi feminis yang diprakarsai oleh kaum perempuan Amerika mulai melakukan sesuatu yang terbilang baru dengan menempuh jalur pendidikan formal, yakni mulai belajar teologi dan mengejar gelar teologi dengan mengikuti studi teologi[4]. Pendidikan teologi di Seminari-seminari yang pada awalnya hanya diikuti oleh laki-laki kini telah mendapat warna baru lewat kehadiran perempuan. Jadi, bertolak dari kondisi dan situasi demikian maka perkembangan teologi feminis mendapatkan tempatnya. Memang pada awalnya aliran teologi feminis ini mendapatkan perlawanan dari berbagai pihak, namun dalam perjalanannya akhirnya teologi feminis ini pun diterima oleh berbagai kalangan.

A.2. Perempuan di Mata Gereja Katolik

Berbicara tentang realitas perempuan di dalam Gereja tidak mengajak kita untuk saling menyalahkan. Teologi feminis ketika membicarakan keterlibatan dan kontribusi perempuan dalam Gereja katolik sama sekali tidak bermaksud untuk menyaingi laki-laki atau pun membangun tembok pemisah antara mereka dan Gereja. Sambil tetap mengakui dan menghormati otoritas Gereja, teologi feminis membuat sebuah refleksi kritis atas citra perempuan dalam Gereja katolik sambil mengharapkan akan adanya perubahan. Untuk itu, tidak mengherankan jika dalam berteologi Kitab Suci yang dikritisi oleh aliran ini tetap ditempatkan sebagai dasar dalam berteologi.

Dalam mengadakan refleksi, teolog feminis menemukan rupa-rupa hal yang menyebabkan terpuruknya perempuan bahkan mendiskreditkan perempuan dalam hidup menggereja. Berkaitan dengan budaya, maka para teolog feminis menyadari bahwa budaya patriarki yang sangat kental mendorong kaum perempuan untuk dapat melihat realitas diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Budaya patriarki ini dalam prakteknya sangat mempengaruhi tata kehidupan masyarakat bahkan telah merembes ke dalam lingkungan Gereja sehubungan dengan karya-karya pelayanan Gereja, khususnya dalam kaitannya dengan kontribusi  perempuan dalam Gereja katolik.

Dalam Kitab Suci terjadi penolakkan terhadap beberapa teks Kitab Suci seperti yang dilakukan oleh Mary Baker dan Elizabeth Stanton karena dianggap bercorak diskriminatif dan terkesan dipaksakan ke atas perempuan[5].  Menurut mereka, Kitab Suci tidak hanya menjadi landasan biblis untuk melindungi dominasi kekuasaan laki-laki atas perempuan tetapi mengandung pula ancaman dan teror terhadap kaum perempuan[6].  Teks-teks ini, menjadi sangat problematis bagi kaum perempuan karena dengan jelas menyatakan kelemahan perempuan dan batasan-batasan tertentu bagi perempuan dan laki-laki. Namun dalam konteks ini, kita tidak melakukan penafsiran kitab suci melainkan dimaksudkan untuk menunjukkan sisi kitab suci yang dirasakan sangat bercorak diskriminatif.

Keterpurukan kaum perempuan semakin memuncak dalam Gereja katolik ketika mendalami konsep teologi para bapa Gereja, seperti Tertulianus, Agustinus dan Aquinas terhadap perempuan yang terkesan sangat merendahkan martabat perempuan. Citra perempuan digambarkan secara negatif, yakni sebagai penyebab dari datangnya kejahatan di dunia dan kehidupan manusia (pandangan Tertulianus)[7]. Agustinus dengan etika seks menempatkan perbedaan jasmani antara laki-laki dan perempuan pada simbol fisik yang menunjukkan fungsi lebih tinggi dan lebih rendah dari kedua individu ini sehingga perempuan dipandang tak berdaya tanpa kehadiran laki-laki[8]. Akhirnya,  perempuan pun dipandang sebagai makhluk yang tidak sempurna karena sifat dasar yang dimilikinya sebagai mana yang diungkapkan oleh Aquinas. Menurutnya, ketidaksempurnaan itu terletak dalam jiwa yang kemudian disejajarkan dengan ketidaksempurnaan akal budi[9]. Oleh kerena itu, untuk mencapai kesempurnaan maka perempuan membutuhkan laki-laki.

Bertolak dari semua penjelasan di atas, nampak dengan jelas bagaimana citra buruk perempuan. Citra buruk semacam ini tentu saja mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap perempuan sekaligus mempengaruhi praksis hidup perempuan terutama yang berhubungan dengan keterlibatan mereka dalam maryarakat secara khusus dalam hidup mengereja. Jika demikian, maka muncul pertanyaan sekarang apakah kaum perempuan masih dapat terlibat dalam hidup dan karya pelayanan gereja? Dengan predikat semacam ini, apakah kaum perempuan masih diperbolehkan untuk terlibat dalam Gereja? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menuntun kita dalam ulasan berikutnya.

B.  Tanggapan Teologi Feminis dan Inpirasinya bagi Gereja Katolik

B.1. Pentingnya Kontribusi Perempuan dalam Gereja Katolik

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa dalam konteks pemikiran teologi feminis pergerakkan teologi feminis sama sekali tidak menghendaki agar perempuan berkuasa dan mempunyai kedudukan lebih tinggi dari laki-laki, melainkan agar kaum perempuan pun mendapatkan pengakuan dari gereja akan kontribusi perempuan dalam karya pelayanan Gereja. Teologi feminis tidak sedang membangun paradigma baru di mana kaum perempuan berkuasa, sebab jika demikian maka masalah tidak akan selesai malahan hanya menambah masalah. Untuk itu, apa yang diajarkan dan ditegaskan oleh Gereja dalam setiap dokumen yang berpihak pada kaum kecil dan mereka yang diperlakukan tidak adil, menjadi sumber pertimbangan teologi feminis dalam menyikapi masalah perempuan.

Berkaitan dengan dokumen-dokumen Gereja yang disinyalir memiliki sinyal keberpihakkan atas perempuan seperti Apostolicam Actuositatem, Gadium et Spes, Mullieris Dignitatem dan beberapa dokumen yang lain menurut para teolog feminis hal itu hanya sebatas wacana saja. Terdapat kesenjangan antara kata dan kenyataan yang cukup mencolok. Apa yang ditegaskan dalam dokumen-dokumen ini cenderung hanya untuk menghibur kaum perempuan, padahal dalam kenyataannya kurang dilaksanakan. Oleh karena itu, Elizabeth Schussler-Fiorenza menegaskan bahwa “Gereja sebagai institusi tidak melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan. Jarang perempuan duduk dalam kuria kepausan dan tak ada syarat yang menyatakan bahwa suatu keputusan yang menyangkut kehidupan Gereja perlu memperhatikan kaum perempuan.”[10] Konsekuensinya, perempuan hanya berada di luar mendengarkan dan siap melaksanakan apa yang diputuskan oleh kaum laki-laki. Selain itu, dengan adanya otoritas Gereja melalui Kitab Suci dan ajaran teologi telah ikut juga melanggengkan relasi budaya patriarkat dan struktur hirarki Gereja yang menindas perempuan[11].

Berkaitan dengan masalah keterlibatan kaum perempuan dalam hidup dan karya pelayanan Gereja maka dalam konteks pemikiran teologi feminis keterlibatan perempuan dalam hidup menggereja merupakan sesuatu yang wajar dan bukanya sesuatu yang tabu. Namun, hal ini dapat terwujud jika Gereja dapat memperhatikan kesetaraan dalam konteks bakat, kemampuan dan pilihan masing-masing sehingga perempuan pun dapat diperhitungkan dalam praksis pelayanan Gereja tanpa mengesampingkan otoritas Gereja. Dalam konteks ini, laki-laki dan perempuan saling memberikan tempat dan kesempatan untuk terlibat dalam tugas dan pelayanan Gereja. Tidak ada dominasi dari kelompok tertentu, yakni laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya. Laki-laki dan perempuan mempunyai peran yang sama pentingnya dalam hidup menggereja. Oleh sebab itu, melarang wanita untuk terlibat dan berperan dalam karya pelayanan Gereja sama dengan mengatakan bahwa perempuan tidak berharga dalam pelayanan Yesus Kristus.

Pengakuan akan adanya keterlibatan perempuan dalam hidup menggereja didukung oleh pandangan positif teologi feminis. Tuntutan perempuan untuk mendapatkan peran yang sama dengan laki-laki, janganlah dimengerti sebagai bentuk perebutan peran sosiologis yang mengarah pada perebutan kekuasaan, melainkan peran yang dimaksudkan di sini merujuk pada kontribusi perempuan sebagai mana yang telah dijelaskan di atas. Dengan demikian, keterlibatan perempuan dalam hidup menggereja tidak akan menjadi ancaman terhadap laki-laki dan bagi Gereja.

Dalam kaitan dengan keterlibatan perempuan dalam Gereja katolik maka yang perlu diupayakan adalah pemberdayaan perempuan. Perempuan perlu diberdayakan sebagai suatu visi baru di mana paradigma lama tentang dominasi laki-laki perlu diganti dengan paradigma baru, yakni adanya kesetaraan sejati antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan perlu menyumbangkan kemampuannya dalam hidup dan karya pelayanan Gereja. Namun perlu disikapi secara serius agar kesetaraan sejati ini tidak terbatas pada kata-kata saja tetapi harus dapat dibuktikan. Oleh sebab itu, atas salah satu cara dengan adanya teologi feminis Gereja dapat memberikan tanggung jawab serta peran terhadap perempuan dalam hidup dan karya pelayanan Gereja. Tidak hanya melibatkan perempuan dalam hidup dan karya pelayanan Gereja, melainkan melalui cara ini perempuan sungguh-sungguh dapat dilihat sebagai makhluk yang mulia, sebagai manusia yang perlu juga diperhatikan dan dihargai secara pantas.

B.2. Umat Allah: Sebuah Inpirasi teologi feminis

Gambaran umat Allah merupakan gagasan teologis yang mewakili sikap Gereja dalam praksis pelayanan pastoral. Dalam konteks gambaran umat Allah, titik perhatiannya bukan lagi pada unsur struktural sebagai mana yang ditentang oleh para teolog feminis melainkan pemberdayaan setiap anggota Gereja sehingga semuanya dapat ambil bagian dalam hidup dan karya pelayanan menggereja. Dengan kata lain,  gambaran umat Allah yang dimaksudkan di sini tidak lagi menekankan struktur kepemimpinan hirarkis, melainkan lebih pada suatu kepemimpinan partisipatif di mana semua anggota Gereja, entah laki-laki dan perempuan secara bersama-sama mengambil bagian di dalamnya sebagai mana yang terungkap dalam konstitusi dogmatis tentang Gereja.[12] Lebih dari pada itu, gambaran umat Allah yang dimaksudkan di sini dapat meminimalisir perbedaan antara laki-laki dan perempuan serta berbagai konsep miring yang diberikan atas perempuan.

Berbagai tuntutan yang diberikan, salah satunya seperti tahbisan imam perempuan justru dalam teologi feminis tidak terlalu dipersoalkan sebagai mana yang ditegaskan oleh Anne Thurston. Ia mengajak semua orang agar tidak memfokuskan diri pada tuntutan untuk menerima berbagai sakramen gerejawi seperti tahbisan imam, melainkan pada hak setiap anggota Gereja untuk ikut dalam perayaan-perayaan sakramental[13]. Dengan kata lain, problem mendasar yang dihadapi oleh kaum perempuan adalah pengakuan akan peran serta dan keterlibatan perempuan dalam hidup dan karya pelayanan Gereja. Untuk itu, pembaharuan Gereja merupakan jalan keluarnya.

Bagi para teolog feminis, yang perlu dilakukan dalam konteks pembaharuan ini adalah perlu adanya transformasi teologi dalam hidup menggereja dan feminisasi hidup menggereja. Transformasi teologis dalam hidup menggereja dapat dilakukan dengan cara membangun gereja yang partisipatif, membagun Gereja kaum miskin dan membagun komunitas basis gerejani berdasarkan gagasan dasar umat Allah[14].  Sebutan Gereja partisipatif yang dimaksudkan di sini adalah Gereja yang dapat memperhatikan berbagai kebutuhan umat dan mampu melibatkan seluruh anggotanya dalam hidup dan karya pelayanan Gereja[15]. Gereja kaum miskin menjadi satu cara untuk membebaskan perempuan sebagai kaum tertindas yang menjadi korban ketidakadilan dalam Gereja. Akhirnya pemberdayaan perempuan dalam kesatuan dengan kaum awam untuk diakui eksistensinya dalam Gereja sebagai mana yang terungkap dalam gagasan komunitas basis gerejani menjadi unsur pendukung dalam perjuangan perempuan.

Selain transformasi teologis, feminisasi hidup menggereja menjadi butir penting yang diberikan oleh teolog feminis. Feminisasi hidup menggereja yang dimaksudkan bukan hanya membuat Gereja untuk menyadari kehadiran perempuan dalam Gereja, melainkan agar dalam kehidupan menggereja setiap orang dapat merasa aman dan tentram tanpa pandang bulu dan jenis kelamin[16]. Proses ini secara efisien harus dilakukan dalam kehidupan internal gereja dan dalam hidup kemasyarakatan.[17] Dengan cara demikian maka persoalan perempuan secara perlahan-lahan dapat diatasi.

Penutup

Kehadiran teologi feminis sesungguhnya bukan merupakan ancaman terhadap Gereja Katolik melainkan kehadirannya dapat memberikan nuansa baru dalam khazana perkembangan teologi. Dalam berteologi kaum perempuan tetap mengakui otoritas Gereja dan institusi Gereja sambil memberikan berbagai pikiran positif dan analisa kritis atas hidup Gereja berdasarkan pengalam kaum perempuan dalam hidup menggereja. Dalam perspektif teologi feminis, kehadiran aliran ini sama sekali tidak hanya diperuntukkan bagi kaum perempuan, tetapi laki-laki pun dapat mempelajarinya. Oleh sebab itu, teologi feminis janganlah dikatakan sebagai teologi khusus perempuan tetapi lebih tepat jika dikatakan bahwa teologi oleh perempuan. Dengan demikian, maka melalui teologi ini kaum perempuan dan laki-laki dapat menggunakannya sebagai sebuah alternatif berteologi untuk menyikapi persoalan perempuan yang selama ini cukup menjadi isu besar dalam Gereja Katolik.

Daftar Pustaka

Clifford, Anne M. Memperkenalkan Teologi Feminis, Terj. Yosef M. Florisan. Maumere: Seminari Tinggi Ledalero, 2002.

Iswanti. Kodrat Yang Bergerak, Gambar, Peran dan kedudukan Perempuan Dalam Gereja Katolik. Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Hayon, Adrianus. “Gereja dan Pemberdayaan Kaum Perempuan: sebuah Tinjauan Teologis dan Terang Kitab Suci,” dalam Seri Buku VOX: Perempuan dan Pemimpin Republik Diam. Februari 1986.

“Lumen Gentium.” Dalam Dokumen Konsili Vatikan II. Terj. R. Hardawiryana. Jakarta: Obor, 1993

Madya Utama, Ignatius. “ Peran Perempuan  dalam Hidup Menggereja: perspektif Laki-laki” dalam Junal Filsafat dan Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara. Vol. 3. April 2004.

Murniarti, Nunuk P. Getar Gender: Perempuan Indonesia dalam Perspektif Agam, Budaya dan Keluarga. Magelang: Indonesiatera, 2004.

Pegu, Ansel. “Perempuan dan Teologi Pembebasan,” dalam Para Perempuan Sekitar Yesus. Ende: Nusa Indah, 2000.

Retnowati, Perempuan-Perempuan Dalam Alkitab, Peran, Partisipasi dan Perjuangannya. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.

Sumiarni, Endang. Jender dan Feminisme. Yogyakarta: Wonderful Publishing Company, 2004.


[1]Endang Sumiarni, Jender dan Feminisme (Yogyakarta: Wonderful Publishing Company, 2004),  hlm. 83.

[2]Bdk., Nunuk P. Murniarti, Getar Gender: Perempuan Indonesia dalam Perspektif Agam, Budaya dan Keluarga (Magelang: Indonesiatera, 2004),  hlm.13.

[3]Bdk., Ansel Pegu, “Perempuan dan Teologi Pembebasan,” dalam Para Perempuan Sekitar Yesus (Ende: Nusa Indah, 2000), hlm 102.

[4] Anne M, Clifford, Memperkenalkan Teologi Feminis Terj. Yosef M. Florisan (Maumere: Seminari Tinggi Ledalero, 2002), hlm. 51.

[5]Ibid.,

[6]Lihat contoh perikop Kitab Suci yang berisi teror terhadap perempuan seperti pada Kitab Hakim-Hakim 11 dan 19; Kejadian 3:16, Kekerasan psikologis-spiritual bisa ditemukan dalam kalimat berikut: “…..Perempuan akan susah pada waktu mengandung dan kesakitan pada waktu melahirkan,…. “karena dosa awal yang disandungnya. Hal itu dilanjutkan dalam Perjanjin Baru, seperti yang dituliskan dalam surat Paulus Kepada Jemaat di Efesus, bahwa istri harus tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan (Efesus 5:21-23), atau pada Korintus 11:3,8,38. Bahkan dalam Timotius 2:11-14, masih diulang cerita bahwa bukan Adam yang terjatuh dalam godaan, melainkan perempuan itu, yakni (Eva),…..”

[7]Iswanti, Kodrat Yang Bergerak, Gambar, Peran dan kedudukan Perempuan Dalam Gereja Katolik (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 120.

[8]Bdk., Nunuk P. Murniarti, Getar Gender: Perempuan Indonesia dalam Perspektif Agam, Budaya dan Keluarga (Magelang: Indonesiatera, 2004), hlm.35. Lihat juga Retnowati, Perempuan-Perempuan Dalam Alkitab, Peran, Partisipasi dan Perjuangannya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), hlm. 79.

[9] Ibid., hlm 36.

[10]Bdk., Adrianus Hayon, “Gereja dan Pemberdayaan Kaum Perempuan: sebuah Tinjauan Teologis dan Terang Kitab Suci,” dalam Seri Buku VOX: Perempuan dan Pemimpin Republik Diam (Februari 1986), hlm.39.

[11] Ibid

[12] Bdk., Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, No. 9.

[13] Bdk., Ignatius  Madya Utama, “ Peran Perempuan  dalam Hidup Menggereja: perspektif Laki-laki” dalam Junal Filsafat dan Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara. Vol. 3. April 2004, hlm. 85.

[14] Bdk., Ignatius  Madya Utama, “ Peran Perempuan  dalam Hidup Menggereja: perspektif Laki-laki,” hlm. 85-86. Bdk, Avery Dulles, Model-model Gereja (Flores NTT: Nusa Indah, 1990), hlm 50.

[15] Ibid.

[16] Ibid., hlm. 87

[17] Ibid., hlm 87-89.

Kontak Kami

E-mail:   – stpakambon@gmail.com

–  cornelisbohm@yahoo.co.id

website: http://www.stpakambon.wordpress.com

contac person: Pastor Jhon Luturmas, Pr (081343033033)

Kontak Kami

E-mail: stpakambon@gmail.com
Contac person: Pastor Jhon Luturmas, Pr, (08134303303)
website: http://www.stpakambon.wordpress.com

KONDISI PEKERJAAN GEREJA (Rerum Novarum, Ensiklik Paus Leo VIII, 1892)

KONDISI PEKERJAAN GEREJA

(Rerum Novarum, Ensiklik Paus Leo VIII, 1892)

(Oleh: P. P. Janwarin, SS)

Dalam Ensiklik Rerum Novarum, Paus Leo VIII mengkaji situasi rakyat dan para buruh miskin di negera-negara industri. Beliau menyatakakan beberapa prinsip penting yang harus membimbing jawaban terhadap kebutuhan-kebutuhan orang itu. Kemudian Leo VIII memaparkan peranan Gereja, para buruh dan para majikan; pernanan hukum dan pemerintah dalam kerja sama membangun masyarakat yang adil. Para majikan diberi peranan utama sebagai pelaku perubahan.

Pemerasan hebat dan kemiskinan yang luar biasa dialami para buruh di Eropa dan di Amerika Utara pada akhir abad ke-19 mendesak Paus Leo VIII menulis Ensiklik Rerum Novarum. Dokumen ini diilhami oleh kegiatan yang dilakukan Serikat Fribourg (Fribourg Union), sebuah gerakan AKSI sosial Katolik di Jerman dan atas permintaan-permintaan dari hirarki di Inggris, Irlandia dan Amerika Serikat.

A. Situasi Rakyat Miskin dan Para Buruh

  1. Kemiskinan yang begitu meluas dan kekayaan yang terpusat pada beberapa orang saja
  2. Kemerosotan moralitas umum.
  3. Para buruh diperas oleh majikan-majikan yang tamak.
  4. Pemerintah tidak melindungi hak-hak orang miskin.

B. Prinsip-Prinsip Penuntun

  1. Segalanya telah diciptakan oleh Allah, mengarah maju pada Allah dan ditebus oleh Allah. Rahmat Ilahi dan kekayaan alam menjadi milik semua secara merata.
  2. Memang masing-masing orang tidak memiliki bakat yang sama, tetapi Allah menganugerahkan martabat yang sama kepada semua orang.
  3. Kemampuan untuk berpikir merupakan bagian dari kodrat manusia; manusia mengatur dirinya dengan akal budi.
  4. Kesejahteraan umum merupakan tujuan negara; semua warga memiliki hak berpartisipasi dalam kehidupan negara.
  5. Martabat manusia yang sejati terletak pada hidup moral yang baik masyarakat yang berkeutamaan akan memperoleh kebahagiaan kekal.
  6. Hukum hanya ditaati sejauh hukum itu sesuai dengan penalaran yang benar dan hukum Allah yang kekal (Part. 72)
  7. Kekayaan nasional berasal dari kerja keras para buruh.
  8. Semua orang mempunyai hak untuk memiliki kekayaan pribadi (Paus Leo VIII mengkritik sosialisme bahwa inti ajarannya sendiri sudah tidak benar karena memperkosa hak itu); milik pribadi harus melayani kesejahteraan umum.
  9. Manusia memiliki hak atas hasil pekerjaan mereka, tetapi hasil itu harus dipergunakan demi semua.
  10. Kerja merupakan keharusan dan akan ada kesulitan dan penderitaan dalam hidup.
  11. Kekayaan merupakan halangan untuk kehidupan kekal.
  12. Hak milik yang benar berbeda dengan penggunaan kekayaan secara benar.

C. Peranan Gereja.

  1. Gereja mempunyai hak untuk menyatakan pendapatnya karena masalah-masalah ini mempengaruhi agama dan moralitas.
  2. Dengan menggunakan prinsip-prinsip injili, Gereja dapat membantu memperdamaikan dan menyatukan pertentangan antar kelas.
  3. Tujuan yang mau dicapai Gereja adalah memperdamaikan dan menyatukan kelas-kelas yang saling bertentangan.
  4. Gereja dapat mendidik masyarakat untuk bertindak secara adil.

D. Hak dan Kewajiban Para Buruh (rakyat miskin), dan majikan (orang kaya) dalam Masyarakat.

  1. Para buruh/rakyat miskin. Hak-hak : mempunyai hak milik, pribadi orang miskin harus dijamin kehidupannya, mendapat hasil dari pekerjaan yang mereka lakukan, mempunyai hak atas jaminan kesejahteraan keluarga, kebebasan bertindak, hak mendapat pekerjaan, upah yang adil (yang cukup untuk menghidupi keluarga), hak untuk bergabung dalam serikat buruh (yang menjaga nilai-nilai religius). Kewajiban-kewajiban : bekerja dengan baik, tidak membahayakan kekayaan majikan, menghindarkan kekerasan dan kekacauan, berhemat.
  2. Majikan-majikan/orang kaya. Hak-hak : milik pribadi, pajak yang tidak menekan, membentuk perkumpulan-perkumpulan swasta. Kewajiban-kewajiban: tidak memperlakukan para buruh sebagai budak, menjaga martabat para buruh, memberi kesempatan kepada para buruh untuk memenuhi kewajiban-kewajiban keagamaan dan keluarganya, tidak memaksa para buruh bekerja melebihi kekuatan mereka, membayar dengan gaji yang adil, tidak merusak tabungan para buruh, memenuhi kebutuhan orang miskin sesudah kebutuhannya sendiri terpenuhi.

E. Peranan Pemerintah dan Hukum dalam Masyarakat.

  1. Membela dan mengembangkan hak-hak keluarga.
    1. mengusahakan terwujudnya kesejahteraan umum.
    2. melindungi kehidupan dan hak-hak para buruh yang tidak memiliki (perusahaan).
    3. bila perlu ikut campur tangan untuk mencegah kerugian-kerugian yang mengancam keselamatan pribadi dan kesejahteraan umum.
    4. memberikan pertimbangan khusus terhadap hak-hak kaum miskin.
    5. menjaga hak-hak atas milik pribadi dan memungkinkan semua warganya memiliki milik pribadi.
    6. menjaga hak untuk berserikat dan kebebasan beragama.

II. PEMBANGUNAN KEMBALI TATANAN SOSIAL

(Quadragesimo Anno, Ensiklik Paus Pius XI, 1931)

Dalam Ensiklik Quardragesimo Anno, Paus Pius XI mengemukakan tiga permasalahan utama. Pertama, beliau menyebutkan pengaruh dari Ensiklik Rerum Novarum pada Gereja, para penguasa sipil dan pihak-pihak yang berkepentingan. Kedua, Paus Pius XI memperjelas dan mengembangkan ajaran sosial dan ekonomi yang sudah tercantum dalam Ensiklik Rerum Novarum. Beliau jelas-jelas mengatakan peranan positif Gereja dalam masalah sosial dan ekonomi dan menegaskan adanya tanggung jawab sosial dari hak milik. Ia menganjurkan kesatuan antara modal dan tenaga kerja, mendesak kepentingannya peningkatan taraf hidup kaum miskin dan perbaikan tatanan sosial yang didasarkan pada pembentukan kembali kelompok-kelompok kerja dan keahlian. Akhirnya Paus Pius XI menunjukan penyalahgunaan kapitalisme dan sosialisme dan menganjurkan pembaharuan moral masyarakat yang dibarengi dengan tindakan penegakan keadilan yang didasarkan pada cinta kasih.

Catatan sejarah: Ensiklik ini dikeluarkan dalam rangka peringatan 40 tahun Ensiklik Rerum Novarum. Paus Pius XI menulis dan menerbitkan Ensiklik ini pada masa depresi hebat yang menggoncangkan dasar ekonomi dan sosial masyarakat. Dengan tajam dia mengkritik penyalahgunaan baik kapitalisme maupun komunisme, dan berusaha menyesuaikan ajaran sosial Katolik dengan keadaan yang sudah berubah itu. Ia mempertajam keprihatinan Gereja terhadap para buruh yang melarat, sampai mencakup sturktur-struktur yang menekan mereka.

BAGIAN I. PENGARUH ENSIKLIK RERUM NOVARUM

  1. I. Pada Gereja
    1. A. Ajaran
    2. Mendorong Gereja menyesuaikan diri dengan keadaan yang terus menerus berubah.
    3. Memberikan inspirasi pada ilmu sosial kristiani.
    4. Diajarkan di seminari-seminari dan universitas-universitas.
    5. Banyak imam dan orang Katolik awam menjadi terlibat dalam Ajaran Sosial Gereja
    6. Ajaran sosial telah mempengaruhi masyarakat luas di luar Gereja.
    7. B. Penerapan Praktis
    8. Usaha membantu kelas-kelas bawah.
    9. Karya-karya karitatif dilipatgandakan.
    10. Mempengaruhi pendidikan dan kebudayaan.
    11. Menginspirasi lembaga-lembaga untuk saling mendukung satu sama lain.
    12. C. Modal dan Tenaga Kerja
    13. Negara hanya akan menjadi kaya melalui pekerjaan yang dilakukan warga negaranya.
    14. Modal dan tenaga kerja saling membutuhkan.
    15. Dalam sejarah, modal menguasai seluruh produksi dan keuntungan yang diperoleh,  dan menyisahkan balas jasa yang amat minim kepada tenaga kerja.
    16. Tuntutan tenaga buruh yang tidak adil: semua produksi dan keuntungan jadi milik kaum buruh.
    17. Menganjurkan pembagian kekayaan secara adil demi kesejahteraan umum.
    18. D. Menigkatkan Kehidupan Buruh
    19. Meningkatkan kehidupan para buruh merupakan tujuan utama Ensiklik Paus Pius XI.
    20. Keadaan para buruh di Negara-Negara Barat sudah bertambah baik.
    21. Tetapi di belahan dunia lain situasinya semakin buruk.
    22. Kondisi para buruh di pedesaan sangat terbelakang.
    23. Kaum buruh harus dapat mencukupi kebutuhan mereka dari hasil-hasil kerja mereka.
    24. Upah yang adil harus diberikan agar kaum buruh memiliki pemilikan secara wajar.
    25. Pengupahan dengan sistim perjanjian upah tidak dengan sendirinya adil.
    26. Perjanjian upah harus disesuaikan dengan sistim kontrak kerja sama.
    27. Keadilan sosial menuntut adanya upah yang bisa mencukupi kebutuhan keluarga para buruh.
    28. Wanita dan anak-anak agar jangan disalahgunakan dalam dunia kerja.
    29. Pemerintah dapat membantu terjaminnya pengupahan yang adil.
    30. Kesempatan kerja harus disediakan bagi mereka yang bersedia bekerja.
    31. E. Memperbaiki Tatanan Sosial.
    32. Hal ini terutama menjadi tanggung jawab negara.
    33. Prinsip subsidiaritas negara: aktifitas yang dapat dilaksanakan instansi lebih bawah tetap dilaksanakan oleh instansi-instansi itu.
    34. Tugas utama negara adalah mencegah adanya konflik dan mengusahakan keselarasan hubungan antara kelas dalam masyarakat.
    35. Pentingnya kelompok-kelompok kerja dan profesi : usaha bersama menciptakan kesejahteraan umum.
    36. Pengaturan masalah-masalah ekonomi tidak bisa diserahkan kepada usaha-usaha bebas.
    37. Keunggulan ekonomi telah menggantikan persaingan bebas.
    38. Lembaga-lembaga perekonomian harus diresapi semangat keadilan.
    39. Perlu diadakan kerjasama ekonomi internasional.
    40. Mendukung adanya intervensi pemerintah dalam perselisihan buruh dan majikan.

II. Pada Penguasa Sipil.

  1. Merumuskan peranannya yang positif : menegakan hukum dan tatanan sosial, mengusahakan kesejahteraan umum.
  2. Pemerintah harus memperhatikan secara khusus mereka yang lemah dan terlantar.
  3. Para pemimpin menjadi lebih sadar akan kewajiban mereka dalam mengembangkan kebijakan sosial.
  4. Disusun hukum-hukum dan program-program bagi kaum miskin.
  5. III. Pada Kelompok-Kelompok yang Berkepentingan
  6. A. Serikat Buruh
  7. Meneguhkan tugas mereka.
  8. Para religius dan kaum awam bekerja bersama untuk mendirikan serikat-serikat buruh.
  9. Serikat-serikat buruh semakin banyak bermunculan.
  10. Nasehat-nasehar paus leo xiii harus disesuaikan dengan situasi yang berbeda-beda.
  11. B. Lain-Lain
  12. Perserikatan-perserikatan para majikan tidak banyak sukses.
  13. Paus Leo XIII mengambil inspirasi untuk ensikliknya dari injil.

BAGIAN II. AJARAN SOSIAL DAN EKONOMI

  1. A. Peranan Gereja
  2. Gereja memiliki hak dan kewajiban untuk terlibat dalam masalah-masalah itu.
  3. Hak dan kewajiban itu adalah tugas yang diarahkan oleh allah pada gereja.
  4. Gereja harus memberikan penilaian-penilaian terhadap masalah-masalah sosial dan ekonomi karena mempengaruhi masalah-masalah moral.
  5. B. Hak Milik
  6. Dua aspek hak milik: individual dan sosial (menyangkut kesejahteraan umum)
  7. Dua bahaya: individualisme dan kolektifisme.
  8. Hak milik atas kekayaan harus dibedakan dengan penggunaannya.
  9. Menghancurkan sikap pribadi hak milik merupakan kesalahan yang besar.
  10. Hak milik tidak bersifat mutlak.
  11. Fungsi pemerintah: merumuskan secara mendetail kewajiban dan pemilikan.
  12. Dua penggunaan kelebihan pendapatan:                 a. Untuk karya cinta kasih.

b. Untuk menciptakan kerja

BAGIAN III. SOSIALISME

  1. A. Perubahan-perubahan dalam kapitalisme
  2. Pemusatan perekonomian mengakibatkan perjuangan untuk mencapai dominasi.
  3. Persaingan bebas sudah berakhir.
  4. Negara menjadi budak yang melayani kaum rakus.
  5. Imperialisme ekonomi berkembang dengan pesat.
  6. B. Perubahan-perubahan sosialisme
  7. Aliran ini terpecah dalam dua kubu
  8. Kubu komunisme mendukung adanya kekerasan dan penghapusan hak milik pribadi.
  9. Sosialisme mengecam pemecahan dengan kekuatan fisik dan memperlunak larangan hak milik pribadi.
  10. C. Pemecahan
  11. Tidak mungkin ada kompromi antara kristianitas dan sosialisme.
  12. Sosialisme mempunyai pandangan tentang manusia yang asing bagi kebenaran kristiani.
  13. Pengaturan kembali kehidupan sosial perlu kembali ke semangat kristiani dan prinsip-prinsip injili.
  14. Cinta kasih dan amal harus memperkuat keadilan

III. PERDAMAIAN DI DUNIA

(Pacem in Terris, ensiklik Paus Yohanes XXIII tahun 1963)

Dalam Pacem in Terris, Paus Yohanes XXIII berpendapat bahwa perdamaian dapat ditegakan hanya jika tatatertib yang ditentukan Allah dipatuhi sepenuh-penuhnya. Dengan berpegang seluas-luasnya pada akal budi dan tradisi hukum kodrat, Paus Yohanes XIII memperinci daftar hak0hak dan tugas-tugas yang harus dipenuhi oleh orang perorangan, pejabat, pemerintahan negara dan masyarakat dunia. Perdamaian perlu didasarkan atas suatu aturan yang “ditegakan di atas kebenaran, dibangun sesuai dengan keadilan, dihidupkan dan diintegrasikan oleh cinta kasih dan dilaksanakan dalam praktek dalam kebebasan”.

Catatan sejarah : Pacem in Terris yang ditulis pada awal Konsili Vatikan II merupakan ensiklik pertama yang dialamatkan kepada “semua orang yang bekehendak baik”. Dokumen yang dikeluarkan tidak lama setelah setelah krisis Kuba tahun 1962 dan pembangunan tembok Berlin ini berbicara kepada dunia yang sadar akan bahaya-bahaya perang nuklir. Nada-nada optimistiknya dan perkembangan filsafat tentang hak-hak memberi kesan yang berarti baik pada orang-orang Katolik maupun orang-orang non Katolik.

Bagian I. Tertib antara Manusia

Setiap manusia adalah seorang pribadi yang dianugerahi kecerdasan dan kehendak bebas, yang memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban universal yang tak dapat diganggu gugat.

A. Hak-hak

  1. Hak hidup dan standar hidup yang layak (termasuk hak-hak bagi perkembangan hidup yang layak dan hak akan keamanan yang mendasar).
  2. Hak-hak atas nilai-nilai budaya dan nilai-nilai moral (termasuk kebebasan untuk mencari dan mengungkapkan pendapat-pendapat, kebebasan menerima dan memberi informasi dan hak-hak untuk pendidikan).
  3. Hak-hak atas agama dan suara hati.
  4. Hak untuk memilih status hidup (termasuk hak-hak untuk membentuk keluarga dan mengajar panggilan religius).
  5. Hak-hak di bidang ekonomi (termasuk hak untuk bekerja, hak untuk memperoleh keadilan dan upah yang adil dan cukup dan hak untuk memegang milik pribadi).
  6. Hak untuk bertemu dan berkumpul.
  7. Hak untuk beremigrasi dan berimigrasi.
  8. Hak-hak politis (termasuk untuk berpartisipasi dalam masalah-masalah masyarakat dan perlindungan hukum atas hak-hak).
  9. B. Tugas-tugas
  10. Mengakui dan menghormati hak-hak orang lain.
  11. Saling bekerja sama.
  12. Bertindak bagi orang lain secara bertanggung jawab.
  13. Memelihara dan menghayati kehidupan secara pantas.

C. Tanda-tanda zaman

  1. Kelas-kelas bekerja sedikit demi sedikit telah memperoleh tumpuan dalam urusan-urusan sosial dan ekonomi.
  2. Kaum wanita terlibat dalam hidup kemasyarakatan.
  3. Semua bangsa menjadi merdeka.

Bagian II. Hubungan-hubungan antar Individu dan para pejabat dalam negara

A. Hakekat Otoritas

  1. Otoritas penting untuk berfungsinya masyarakat secara baik.
  2. Otoritas mendapatkan kekuatannya dari tatanan moral dimana Allah menjadi tujuannya.
  3. Negara yang hanya menghukum atau mengganjar tak dapat menegakan kesejahteraan umum secara efektif.
  4. Negara tak dapat mewajibkan hal-hal yang menyangkut masalah-masalah hati nurani.
  5. Perintah yang berlawanan dengan kehendak Allah tidak mengikat.
  6. B. Kesejahteraan Umum-Ciri-cirinya.
  7. Pribadi manusia harus dihargai.
  8. Semua warga negara harus ambil bagian dalam kesejahteraan umum.
  9. Perhatian yang lebih harus diberikan kepada warga masyarakat yang kurang beruntung.
  10. Negara harus memperkembangkan kesejahteraan jasmani dan rohani para warga negaranya.

C. Pejabat Negara

  1. Perhatian utama hendaknya tertuju untuk menjamin kesejahteraan umum.
  2. Fungsi-untuk mengkoordinasikan hubungan-hubungan sosial dengan cara yang memungkinkan rakyat untuk melaksanakan hak-hak dan tugas-tugas mereka dengan damai.
  3. Pembagian kekuasaan menjadi 3 – legislatif, eksekutif dan yudikatif dianjurkan bagi pemerintah-pemerintah.
  4. Sering struktur yuridis yang bijaksanan dan dipikirkan dalam-dalam tidak memadai bagi kebutuhan masyarakat.
  5. Tiga persyaratan bagi pemerintah yang baik :
  6. Piagam hak-hak asasi manusia
  7. Perundang-undangan tertulis.
  8. Hubungan-hubungan antara yang diperintah dan yang memerintah dalam rangka hak-hak dan kewajiban.

Bagian III. Hubungan-hubungan di antara negara-negara

A. Dalam Kebenaran

  1. Menghapuskan rasisme
  2. Hak untuk perkembangan pribadi
  3. Kewajiban untuk tolong-menolong
  4. Mempergunakan media secara obyaktif.

B. Dalam Keadilan

  1. Pengakuan atas hak-hak adan kewajiban bersama.
  2. Memperbaiki situasi minoritas etnik

C. Solidaritas Aktif

  1. Memperkembangkan perkembangan hubungan-hubungan persahabatan di segala bidang.
  2. Pejabat negara ada yang memajukan kesejahteraan umum seluruh keluarga umat manusia.
  3. Mengurangi ketidak seimbangan dan modal di dunia.
  4. hak bagi pengungsi politis untuk migrasi
  5. Perlombaan senjata :
  6. Mencipatakan hambatan-hambatan negara-negara yang belum berkembang untuk maju secara sosio ekonomis,
  7. Menciptakan iklim ketakutan,
  8. “jadi keadilan, akal sehat dan kehidupan menuntut perlombaan senjata dihentikan”
  9. Damai terdiri dari saling percaya

Dalam Kemerdekaan

  1. Hubungan-hubungan didasarkan atas kebebasan : tanggung jawab dan usaha didorong.
  2. negara-negara maju perlu menghormati nilai-nilai moral dalam memberi bantuan tanpa usaha untuk mendominasi.

BAGIAN IV. HUBUNGAN-HUBUNGAN RAKYAT DAN MASYARAKAT POLITIS DENGAN MASYARAKAT DUNIA.

  1. Setiap negara tidak dapat mencari kepentingan mereka sendiri-sendiri dan berkembang dalam isolasi karena fakta kondisi-kondisi saling tergantung dewasa ini.
  2. dalam keadaan-keadaan dewasa ini struktur-struktur dan bentuk-bentuk pemerintahan nasional tidaklah memadai untuk menegakan kesejahteraan umum yang universal.
  3. pemerintah harus memiliki sarana-saran untuk kesejahteraan umum.
  4. penerintah negara dibutuhkan untuk bekerja dengan cara efektif pada tingkat yang meliputi seluruh dunia.
  5. Perserikatan Bangsa Bangsa harus didukung dan dikembangkan.

BAGIAN V. NASIHAT-NASIHAT PASTORAL

  1. Rakyat harus memainkan peranan aktif di dalam hidup kemasyarakatan dan organisasi-organisasi dan mempengaruhinya dari dalam.
  2. Umat manusia hendaknya melaksanakan kegiatan-kegiatan duniawi sebagai tindakan dalam tatanan-tatanan moral.
  3. Persatuan antara iman dan perbuatan diperlukan. Demikian juga diperlukan pendidikan kristiani dalam urusan sosial dan ekonomi.
  4. Orang-orang kristiani perlu kebijaksanaan dalam menentukan kerja sama dengan orang-orang bukan kristiani dalam urusan sosial dan ekonomi.
  5. Ada perbedaan antara ide-ide filosofis yang sesat dan gerakan-gerakan yang didasarkan atasnya.
  6. “Damai hanya akan merupakan omong kosong jika tidak didasarkan atas tatanan yang digariskan oleh dokumen ini dengan harapan yang penuh percaya: tatanan yang didasarkan atas kebenaran, dibangun sesuai keadilan dan diintegrasikan oleh cinta kasih dan dilaksanakan dalam praktek dalam kebebasan”.

IV

PERKEMBANGAN BANGSA-BANGSA

(Populorium Progressio, Ensiklik Paus Paulus VI, 1967)

Dalam Populorium Progressio, Paus Paulus VI menanggapi masalah perkembangan. Beliau menggali hakekat kemiskinan dan konflik-konflik yang dihasilkannya. Paus Paulus VI menerangkan peran Gereja dalam proses perkembangan dan membuat sketsa pandangan kristiani tentang perkembangan. Paus menyerukan tindakan segera yang menghargai tujuan universal makhluk ciptaan. Ia menganjurkan perencanaan ekonomi dan bantuan yang mendukung perencanaan. Paus VI mendesak keadilan dalam hubungan-hubungan dagang dan cinta kasih universal. Dia menyimpulkan dengan menyebut “ perkembangan” sebagai nama baru untuk perdamaian dan mendesak semua orang kristiani untuk memperjuangkan keadilan.

Catatan Sejarah

Dalam Ensiklik Populorium Progressio, Paus Paulus VI memperluas lingkup uraian Paus Leo XIII tentang perjuangan antara kelas kaya dan kelas miskin dengan mencakup konflik antara bangsa-bangsan kaya dan miskin. Populorium Progressio merupakan ensiklik pertama yang seluruhnya ditujukan kepada soal-soal perkembangan. Paus menekankan sumber-sumber ekonomi dari peperangan dan menyoroti keadilan ekonomi sebagai dasar perdamaian. Lebih dari para pendahulunya, Paus Paulus VI secara eksplisit mengkritik ajaran-ajaran dasar kapitalisme, termasuk motif keuntungan dan hak milik pribadi yang tak terbatas.

Bagian I : Demi perkembangan manusia seutuhnya

A. Data Masalah

  1. Aspirasi-aspirasi manusia termasuk :

–       Bebas dari kesengsaraan

–       Kepastian mendapatkan nafka hidup.

–       Tanggung jawab tanpa tekanan

–       Pendidikan yang lebih baik

  1. Sasaran-sasaran yang diwariskan dari masa lampau tidaklah kurang, akan tetapi mencukupi bagi situasi sekarang ini.
  2. Konflik-konflik sosial sekarang memiliki matra yang meliputi seluruh dunia.
  3. Struktur-struktur belum menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi baru.

B. Gereja dan Perkembangan

  1. Menanggapi ajaran Yesus, Gereja harus mendukung kemajuan manusia.
  2. Dunia menuntut tindakan yang didasarkan visi tentang aspek-aspek ekonomis, sosial, kultural dan spiritual dari masa kini.
  3. Gereja “didirikan untuk membangun kerajaan Allah di dunia ini”.
  4. Perkembangan tidak dapat dibatasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi mengarah pada seluruh potensi manusia.
  5. Manusia mempunyai hak dan kewajiban untuk mengembangkan diri; sebagai makhluk dengan matra spiritual, orang harus mengorientasikan hidupnya kepada Allah, suatu humanisme yang transenden.
  6. Tiap-tiap orang adalah anggota masyarakat.
  7. Kerja itu sesuatu yang penting tetapi kerakusan harus dihindari.
  8. Ketamakan adalah bentuk yang paling menyolok dari ketidakmajuan moral.
  9. Humanisme baru yang mencakup nilai-nilai yang tinggi dari cinta, persahabatan, doa dan kontemplasi diperlukan untuk perkembangan yang otentik dan penuh.

C. Tindakan Yang Harus Dikerjakan

  1. Tujuan universal dari segala makhluk :

–       Allah memaksudkan bumi dan kekayaan agar dipergunakan oleh setiap orang. Semua hak lain harus diletakkan di bawahnya.

–       Hak milik pribadi tidaklah mutlak dan bukanlah hak yang tanpa syarat. Hak ini harus dilaksanakan demi kepentingan umum. Pemerintah harus menjamin hak ini. Kesejahteraan umum acap kali menuntut pengambilalihan kepentingan pribadi.

  1. Industrialisasi:

–       Industri itu perlu bagi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan.

–       Struktur kapitalisme, persaingan, keuntungan dan hak milik pribadi yang absolut tidaklah menguntungkan.

–       Industrialisasi dapat dipisahkan dari sistim kapitalisme.

  1. Mendesaknya tugas itu :

–       Terlalu banyak orang menderita; kesenjangan antara si kaya dan si miskin bertambah.

–       Dengan situasi ketidakadilan, jalan ke arah kekekarasan merupakan godaan besar.

–       Situasi sekarang ini harus dilawan dan diatasi.

–       Sikap hati-hati terhadap revolusi-revolusi; mungkin dihasilkan kesengsaraan yang lebih besar.

  1. Program dan Perencanaan:

–       Inisiatif orang perorangan dan persaingan bebas tidaklah cukup; program itu perlu.

–       Pemerintah harus memilih tujuan-tujuan atau sasaran dan merangsang kegiatan.

–       Pertumbuhan ekonomi tergantung pada kemajuan sosial; pendidikan yang lebih baik sangat diperlukan.

–       Orang-orang kristiani jangan menganut ajaran-ajaran yang didasarkan atas filsafat materialistis dan ateitis.

–       Bangsa-bangsa yang sedang berkembang hendaknya menghormati kebudayaannya sendiri.

–       Humanisme yang sempurna merupakan tujuan perkembangan.

Bagian II. Perkembangan dan Solidaritas

A. Bantuan Bagi Si Miskin

  1. Masalahnya: kelaparan, kekurangan gisi, terhalangnya pertumbuhan fisik dan mental.
  2. tanggapan menuntut kemurahan hati, pengorbanan dan usaha oleh si kaya: solidaritas yang menuntut biaya.
  3. Negara-negara maju hendaknya memberikan bantuan pendidikan dan dana.
  4. “Kemakmuran yang berkelimpahan dari engara-negara kaya hendaknya dipergunakan untuk membantu negara-negara miskin” (Par. 49).
  5. Rekomendasi-rekomendasi: dukungan dari organisasi pangan dan pertanian, (FAO) mendirikan dana dunia (uang dari lomba persenjataan untuk menolong kemelaratan). Kerjasama dan dialog yang meluas.
  6. Penghamburan negara dan pribadi merupakan suatu skandal yang tak dapat ditoleransi.

B. Keadilan dalam Hubungan Perdagangan.

  1. Masalahnya : negara-negara industri mengekspor terutama barang-barang pabrik, negara-negara berkembang mengekspor bahan-bahan mentah. Harga bahan-bahan pabrik melonjak; bahan-bahan baku tunduk pada naik turunya harga yang besar. Negara-negara berkembang mengalami kesulitan besar dalam menyeimbangkan ekonomi mereka.
  2. Perdagangan bebas tidak lagi mungkin untuk mengatur hubungan-hubungan internasional.
  3. Prinsip-prinsip dasariah dari liberalisme dipersoalkan.
  4. Mengutik Rerum Novarum untuk melihat bahwa jika posisi partai-partai yang mengadakan kontrak tidak sama, persetujuan tidak ada.
  5. Perdagangan bebas baik hanya jika diabdikan pada tuntutan-tuntutan keadilan sosial.
  6. Diskusi dan perundingan penting untuk mencapai kesamaan kesepakatan.
  7. Nasionalisme dan rasisme merupakan halangan utama bagi keadilan.

C. Cinta kasih Universal

  1. “Dunia sedang sakit” – kurang perhatian pada orang lain.
  2. Tugas manusia untuk menyambut kedatangan sesamanya, terutama orang muda dan para pekerja pendatang.
  3. Para usahawan di dalam negara-negara sedang berkembang hendaknya menjadi pelopor-pelopor kemjuan sosial dan kemajuan manusia.
  4. Dialog yang tulus dan efektif diperlukan.

Perkembangan merupakan nama baru bagi perdamaian

  1. Perdamaian dibangun setiap hari dalam menjaga ketertiban yang ditentukan oleh Allah.
  2. Kerjasama internasional dalam skala dunia bagi keadilan sangat dibutuhkan.
  3. Bangsa itu sendiri mempunyai tanggungjawab atas perkembangannya sendiri.
  4. Saat untuk bertindak adalah sekarang.
  5. Peran awam: “Menanamkan semangat Kristiani ke dalam mentalitas, adat istiadat, hukum dan struktur-stuktur” masyarakat dan bangsa mereka.
  6. Orang-orang Katolik harus mendukung usaha-usaha perkembangan dengan murah hati.
  7. Perdamaian tidak hanya soal tidak adanya peperangan.
  8. Berjuang melawan ketidakadilan adalah menegakkan kesejahteraan umum.