PROFIL STPAK

PROFIL

SEKOLAH TINGGI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

“ST. YOHANES PENGINJIL” AMBON

SK Dirjen Bimas Katolik Dep. Agama RI No : DJ.IV / HK.00.5 / 98 / 2006

Jln. Pakatora Pohon Mangga, Kole-Kole Pante, RT 001 / RW 06 Telp (0911) 3301622 – Poka Rumah Tiga

1.  Sejarah Awal dan Pendiri:

STPAK St. Yohanes Penginjil Ambon didirikan secara resmi pada tanggal 17 April 2006. Pendiri dan penyelenggara Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik St. Yohanes Penginjil Ambon adalah Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Amboina, yang menerima delegasi hak milik dan wewenang dari Gereja Katolik Keuskupan Amboina. Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Amboina didirikan oleh Gereja Katolik Keuskupan Amboina pada tanggal 29 Juni 2002 berdasarkan Akta Notaris No. 50.

2.  Dasar dan Ciri Khas:

STPAK St. Yohanes Penginjil Ambon yang dijiwai oleh nilai-nilai Iman Katolik, nilai-nilai Cinta Kasih, menjunjung tinggi falsafah Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Indonesia sebagai dasar dan azas untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, serta Tri Darma Perguruan Tinggi, terpanggil oleh keinginan luhur untuk ikut berperan lewat pendidikan, dalam mencapai cita-cita pembangunan nusa dan bangsa Indonesia, membentuk manusia Indonesia menjadi “anak-anak Allah” dan sebagai warga bangsa Indonesia menjadi satu “Keluarga Allah”.

3.  Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

VISI:

TERBENTUKNYA TENAGA PENDIDIK DAN PENGAJAR AGAMA KATOLIK YANG PROFESIONAL, BERIMAN TEGUH, PANCASILAIS, TANGGAP DAN TANGGUH SERTA MANDIRI MELALUI KINERJA LEMBAGA YANG SEHAT.

MISI:

  1. Melaksanakan dan Mengembangkan Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik yang otentik  dan Kontekstual
  2. Melaksanakan pelatihan ketrampilan kateketik pastoral  yang terprogram secara sistematis dan terpadu
  3. Melaksanakan Penelitian untuk pengembangan karya pendidikan  dan pengajaran agama katolik
  4. Melaksanakan Pengabdian Masyarakat dengan semangat pelayanan
  5. Melaksanakan  dan Mengembangkan Pendidikan yang Berorientasi pada Kemandirian
  6. Melaksanakan pembinaan civitas akademika yang berwawasan kebangsaan

TUJUAN:

Program studi pendidikan dan pengajaran agama katolik  Jurusan Kateketik Pastoral pada PTAK  bertujuan menghasilkan tenaga pendidik dan pengajar agama Katolik yang:

  1. Memiliki pengetahuan, keterampilan  dan sikap seorang cendekiawan yang beriman Katolik
  2. Menguasai secara utuh ilmu pendidikan dan pengajaran agama katolik dan terampil menetrapkannya dalam karya katekese dan pastoral .
  3. Memiliki wawasan kependidikan dan pemahaman yang mendalam tentang warga Gereja dan masyarakat yang dilayani
  4. Memiliki sikap kemandirian dalam hidup dan karya
  5. Memiliki spiritualitas katekis yang menyemangati seluruh hidup  dan karya
  6. Memiliki wawasan kebangsaan  dan terbuka untuk berdialog serta bekerjasama

SASARAN:

Setelah menyelesaikan  Program Studi Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik pada PTAK dihasilkan pendidik dan pengajar agama Katolik yang:

  1. Mampu melaksanakan profesinya sebagai pendidik dan pengajar agama Katolik yang profesional.
  2. Mampu menjelaskan secara benar ajaran iman dan moral Katolik.
  3. Mampu berkomunikasi dengan warga Gereja dan masyarakat yang dilayani.
  4. Mampu mengatasi masalah dan tantangan yang dihadapi, baik dalam hidup maupun karya.
  5. Mampu mewujudkan semangat katekis dalam hidup dan karya.
  6. Mampu melakukan penelitian yang terkait dengan bidang keahlian.
  7. Mampu hidup berdampingan dengan sesama dalam persekutuan Gereja dan masyarakat.

4.  Motto/Semboyan:-

5. Status:

    Status STPAK St. Yohanes Penginjil Ambon adalah status Akreditasi Terdaftar. Status Terdaftar ini berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Departemen Agama RI nomor DJ.IV/HK.005/131/2008 tentang Pemberian Status Akreditasi “Terdaftar” Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik (STPAK) Santo Yohanes Penginjil Keuskupan Amboina-Provinsi Maluku.

    6. Fasilitas Pendidikan:

      6.1.      Satu (1) ruangan Laboratorium Komputer (20 unit komputer)

      6.2.      Satu (1) ruangan audiotorium

      6.3.      Satu (1) ruangan perpustakaan

      6.4.      Satu (1) ruangan baca

      6.5.      Empat (4) ruang kuliah

      6.6.      Satu (1) kapela (tempat ibadah)

      6.7.      Lima (5) ruangan dosen

      6.8.      Satu (1) ruangan sekretariat

      6.9.      Satu (1) ruangan foto kopy

      6.10.  Satu (1) ruangan rapat dosen

      6.11.  Sembilan (9) WC/kamar mandi

      7.  Staf Pengajar :

        7.1.      Dosen: 27 orang

        1. Status tetap: 22 orang
        2. Status tidak tetap: 5 orang

        7.2.      Pegawai: 7 orang (status: tidak tetap)

        8. Mahasiswa:

          8.1.             Jumlah mahasiswa: 130 orang

          8.2.             Alumni: –

          9. Organigram (Struktur Organisasi):

          1. Yayasan
          2. Badan Pelaksanaan Harian (BPH)
          3. Ketua dan Pembantu Ketua
          4. Dewan Penyantun
          5. Senat Sekolah Tinggi
          6. Dosen
          7. Lembaga-lembaga

          7.1. Lembaga Penelitian, Pengembangan dan pengabdian Masyarakat

          7.2. Lembaga-lembaga lainnya

          8. Biro-biro:

            8.1. Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan

            8.2. Biro Administrasi Umum dan Keuangan

            8.3. Biro Administrasi Perencanaan, Sistem Informasi dan Kerjasama

            8.4. Biro-biro lainnya

            9. Unit Pelaksana Teknis:

              9.1. Perpustakaan

              9.2. Pusat Komputer

              9.3. Pusat Praktek Pastoral

              9.4. Pusat Praktek Mengajar

              9.5. Unit-unit Pelaksana Teknis lainnya

              Iklan

              YESUS BERANI MENUNTUT

              Pastor C. Y. Bhom, MSC

              Pastor C. Y. Bhom, MSC

              YESUS BERANI MENUNTUT SESUATU

              (Oleh: P. C.Y. Bhom, MSC)


              1.1. YESUS MEMBEBASKAN dari:

              –          Kuasa orang munafik

              –          Ketidak-pengetahuan

              –          Ketidak-sempurnaan Taurat

              –          dosa dan pelbagai perbudakan →  sungguh membahagiakan

              1. YESUS MENYELAMATKAN

              Sering dalam pertemuan-pertemuan singkat saja

              –          Yang sakit jadi sembuh

              –          Yang “jatuh ke luar perahu”: Yesus ulurkan tangannya: “Untuk kamu juga Allah adalah Bapa” / “Pergilah dan jangan berdosa lagi…” / Iman telah menyelamatkan kamu”. Padahal, oleh orang Farisi dibiarkan saja.

              –          Di mana orang datang pada Yoh.Pembaptis, di situ Yesus pergi kepada orang, mencari domba yang hilang, pemungut bea, wanita sundal, orang-orang biasa.

              –          Yesus tidak ada administrasi, buku kas, rumah ibadat, planning, agenda… “Ia berjalan keliling sambil berbuat baik” (Petrus kpd. Cornelius). Hanya itu saja?

              1. PENGHARGAAN YESUS TERHADAP ORANG / YESUS MENEGUHKAN ORANG / MEMBERIKAN PERCAYA DIRI. Diselidiki menurut:

              Injil & Bab

              ayat

              Injil & Bab

              ayat

              Luk 5 10 Yoh 4 7b (cf. 27!)
              Luk 7 9. 24. 50 Yoh 12 7
              Luk 8

              Luk 10

              48

              18 dst., 28. 42

              Luk 11 13. 28
              Luk 12

              Yoh 11

              24

              5

              Yoh 1 39. 43. 47
              Mrk 12 17. 34. 43

              Membaca Yoh 9 dengan membagi rol:

              1. Pencerita                                 g.  si buta
              2. Yesus                                      h.  farisi 1 (ay 16a. 19. 28-29)
              3. murid-murid                            i.   farisi 2 (ay 16b. 24. 34)
              4. tetangga 1 (ay.8)                     j.   farisi 3  (ay 17. 26. 40)
              5. tetangga 2 (ay 9a)                   k.  orang tua si buta
              6. tetangga 3 (ay 9b)

              Dapat dibahas:

              1. Salah-faham apa yang diungkapkan dalam ay 2 ?
              2. Apa arti jawaban Yesus dalam ay 3 ?
              3. Dalam ay 5 kita teringat akan…? (Yoh 1)
              4. Si buta ada percaya atau tidak?
              5. Apa soalnya bahwa itu H.Sabat?
              6. Pada dua cara mana orang Farisi coba menyangkal mukjizat itu?
              7. Apa relevansi bagi kita? Kita hadir di mana dalam berita ini?

              Tulisan Para Dosen

              Pastor Bhom bersama mahasiswa

              Pastor Bhom bersama mahasiswa

              KITAB SUCI SUMBER KEHIDUPAN

              (Oleh: P. CORNELIS JOHANNES BöHM, MSC)

              1.1. KITAB SUCI SEBAGAI INKARNASI SABDA ILAHI

              Apa yang membedakan KS dari buku-buku lain? Untuk orang beriman yang membacakannya, ada dimensi atau arti lebih mendalam daripada sembarangan buku atau teks.

              Dalam teks yang kita baca itu, selalu dapat dicari suatu realita yang tersembunyi di dalamnya, yang seakan-akan tunggu ditemukan oleh yang membacakannya dan mau merenungkannya.

              Apa yang menjadi kekayaan suatu teks selain apa yang langsung dapat kita tangkap bila membacanya? Selain apa yang secara langsung kita mengerti, apa lagi yang dapat kita simak pada suatu teks? Kitab Suci memang bukan sembarangan bacaan. Kitab Suci adalah pembahasan tentang hal-hal yang sebenarnya terlalu besar dan agung untuk dapat diungkapkan dengan kata-kata insani. Dapatkah kata-kata harian itu menyingkapkan suatu misteri yang begitu agung? Dengan cara mana kata-kata manusia itu sekaligus dapat baik menyembunyikan maupun menyingkapkan misteri keselamat-an itu?

              Kitab Suci adalah inkarnasi (penjelmaan) Sabda Allah (yaitu Allah Putera) dalam kata-kata manusia. Sabda Abadi dari Allah Bapa menjadi perkataan manusia, agar supaya manusia sanggup mengerti Sabda Allah itu. Sabda mengubahkan diri menjadi kata-kata. Sang Kebenaran menyetujui untuk dipantulkan dan dipecah-pecahkan menjadi banyak kebenaran.

              Jadi menurut Kebijaksanaan Ilahi, Sabda itu “merendahkan diri”: bersembunyi dalam sebuah kitab. Sebetulnya tidak berbeda jauh dari pengosongan diri dari Sang Sabda ketika menjadi manusia (kenosis). Yesus berkata: “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25).

              Kata-kata insani dari Kitab Suci dipergunakan untuk memuat realitas ilahi, tetapi membeku untuk selama-lamanya dalam suatu bentuk konkrit, seperti halnya dengan segala-galanya di bumi ini. Yaitu dipaku pada suatu situasi berupa tempat dan masa, dalam suatu kebudayaan tertentu, diungkapkan dalam bahasa dan bentuk sastra tertentu. Perkataan-perkataan itu ditulis oleh manusia, kemudian diterjemahkan, dan disebarluaskan melalui jalur-jalur komunikasi tertentu. Allah meng-izinkan itu semua dengan senang hati tetapi tanpa membiarkan diri dikurungi olehnya: Allah berke-nan bersembunyi dalam sebuah buku!

              Nah, isi melebihi pembungkusannya. Pembungkusannya dalam hal ini adalah kata-kata yang tercetak di situ. Misteri yang tersembunyi di dalam cetakan itu, lebih agung daripada buku itu sendiri. Dengan demikian jelaslah bahwa Kitab Suci itu tidak sama dengan Sabda Allah! Pesan Allah akan timbul dalam hati orang yang mendalami dan merenungkan kata-kata yang tertulis di situ. Karena itu pun kita selalu katakan – berbeda dengan Al Quran – bahwa Kitab Suci itu sendiri bukanlah wahyu, melainkan suatu kesaksian (yang tentu sangat berharga) tentang wahyu itu.

              Kitab Suci itu bagaikan “tabernakel dari Sabda Allah”. Melaluinya Allah-yang-jauh itu menjadi Allah-yang-dekat. Allah sendiri, melalui Musa, bersabda dalam Kitab Ulangan kepada umatNya: “Perintah yang Kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: ‘Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?’ Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: ‘Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?’ Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:11-14).

              1.2. CIRI-CIRI SAKRAMENTAL

              St. Yohanes berkata dalam Injilnya: “Sabda telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita”. Misteri itu kita sebut penjelmaan (inkarnasi) Allah Putera menjadi manusia.

              –          Dalam inkarnasi itu, Yesus diselubungi dalam rupa daging (kemanusiaanNya)

              –          Dalam Ekaristi Ia diselubungi dalam rupa roti dan anggur

              –          Demikian pula dalam Kitab Suci Ia diselubungi dalam rupa kata-kata.

              Konsili Vatikan II secara khusus menekankan paralel (kesejajaran) antara Sabda Allah dan Ekaristi, dan menggarisbawahi ciri sakramental Kitab Suci dengan kata-kata ini: “Gereja telah senantiasa menghormati Tulisan Ilahi, sama seperti ia menghormati Tubuh Tuhan, karena, terutama dalam Liturgi, dengan tak henti-hentinya Gereja menerima dan menawarkan kepada kaum beriman roti kehidupan berupa baik Sabda Allah maupun Tubuh Kristus” (Dei Verbum no. 21). St.Hieronimus (347 – 420) menulis: “Sabda Allah itu adalah sungguh makanan dan sungguh minuman”.

              Kitab Suci dan Sakramen Ekaristi adalah bagaikan dua bejana, yang masing-masing menjamin kenangan akan Yesus. Karya keselamatan Allah disebarluaskan melalui sabda Kitab Suci, dan di-terapkan melalui perayaan Sakramen-Sakramen. Perintah “Pergilah dan wartakanlah” (Mat 28:19) tak terpisahkan dari perintah “Buatlah ini untuk mengenangkan Daku” (Luk 22:19).

              Ciri sakramental Kitab Suci juga menjadi nyata dalam dayanya untuk menghasilkan buah yang melampaui daya tangkap atau kemampuan dari orang yang membacanya. “Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun” (Ibr 4:12). Sabda Allah seperti hujan dan salju, yang tidak kembali ke langit sebelum mengairi bumi dan membuatnya berbuah (lih. Yes 55:10-11). Konstitusi Dei Verbum dari Konsili Vatikan II menyatakan: “Dalam Kitab-Kitab Suci, daya dan kuasa Sabda Allah demikian besar, sehingga berdiri tegak sebagai penopang bagi Gereja dan kekuatan iman bagi putera-puteranya…” (DV no. 21).

              Pada Sakramen-Sakramen, tanda-tanda nyata ini tidak menghasilkan keselamatan secara otomatis, melainkan harus disadari dan dihayati. Demikian pula Sabda Allah yang tercantum dalam Kitab Suci tidak berkarya secara magis, melainkan hanya sejauh disambut dalam hati yang mau mende-ngar, terutama melalui pendengaran suatu komunitas, ialah sejumlah orang beriman yang berkumpul dalam ibadat/liturgi. Kitab Suci selama terletak dalam lemari, beristirahat di situ bagaikan di sebuah kubur, menunggui dibangkitkan melalui seorang yang mengangkatnya, membukanya dan membacakannya, tepatnya seorang yang beriman. Perjumpaan iman dengan Kitab Suci membuka Sabda yang hidup bagi pembacanya dan serentak menghidupkan teks suci itu. Kelahiran-kembali itu ter-utama terwujudlah dalam perayaan liturgi. Di situ berlakulah sabda Kristus ini: “Hari ini sabda Kitab Suci ditepati” (Luk 4:21). Karena itu tanggung jawab seorang Lektor sangat besar: ia harus sungguh menyelami dan merenungkan teks itu sebelum berani mengantarkannya kepada jemaat yang terkumpul itu!

              Bagaimana dapatlah kita mengerti ciri sakramental Kitab Suci itu?… St.Fransiskus dari Asisi pernah mendengar kata-kata Kristus yang berikut ini dibacakan: “Yesus mengutus kedua belas muridNya berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan kecuali tongkat; roti pun jangan, bekal pun ja-ngan, uang dalam ikat pinggang pun jangan” (Mrk 6:7-8). Fransiskus merasa terpesona luarbiasa pada mendengar kata-kata itu. Kemudian ia pun melaksanakan itu secara harafiah, menjadi miskin total. Pater Jules Chevalier, pendiri Tarekat MSC dan PBHK, merasa terpesona sampai pada lubuk hatinya pada membaca kata-kata dari Surat pertama Yohanes ini: “Kita telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (1 Yoh 4:16). Mungkin kita semua mempunyai teks-teks kesayangan yang menjadi tonggak kekuatan bagi kita. Kalau satu kata atau satu kalimat sudah bisa berpengaruh begini, betapa banyak boleh diharapkan dari seluruh isi KS itu! Bagi banyak orang pembacaan Kitab Suci dialami sebagai suatu sentuhan oleh Allah, seperti Nabi Elia merasa diri disentuh oleh ‘angin sepoi-sepoi basa’ (1 Raj 19:12-13).

              Bagaimana kita akan mengerti pesan Kitab Suci? Bagaimana menggapai sabda Allah kepada kita? Apakah Kitab Suci mau menyampaikan kepada kita sejumlah pokok kebenaran, sejumlah perintah,  sejumlah laporan dan berita begitu saja, termasuk riwayat hidup dari Yesus dan orang tertentu lain? Bandingkan: kata-kata yang saya baca dalam surat Mama saya, apakah itu sama saja dengan kata-kata dari suatu buku pelajaran atau sebuah novel? Tidakkah Mama sendiri sepertinya hadir dalam kata-kata yang dia tulis itu? Tidakkah hanya sayalah yang tersentuh hati pada membaca apa yang ditulisnya?

              Demikian pula Sabda Allah ini hanya bermakna bagi orang yang mengenal Allah. Saya rela mengaku bahwa dalam “Berita” dari Allah itu mau disampaikan kepadaku hal-hal yang ajaib, yang melebihi daya tangkapku. St.Paulus beritahukan bahwa pernah ia diangkat ke tingkat ketiga dari surga; di situ ia mendengar “kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia” (2Kor 12:2-4). Pengalaman seperti itu bisa terjadi bila orang mendalami Kitab Suci sebagai orang beriman, berarti sebagai orang yang hidup dekat dengan Tuhan. Ia akan mengerti bahwa Allah membuka diri bagi si pembaca itu melalui gambaran dan simbol. Misalnya orang yang menafsirkan Kisah Penciptaan secara harafiah, tidak menangkap pesan Tuhan. Demikian pula orang yang me-ngira bahwa setan menempatkan Yesus secara betul-betul di atas puncak sebuah gunung (Mat  4:8). Jelaslah dalam banyak hal Kitab Suci berbicara secara simbolis, yaitu melalui gambaran-gambaran, yang bukan dimaksudkan untuk diartikan secara harafiah: sebab bila diartikan secara harafiah, kita tidak menemukan pesan yang sebenarnya, tidak “menyelam” ke dalam teks.

              1.3. KITAB SUCI HARUS DIMINUM DAN DISANTAP

              Konstitusi Dei Verbum menyatakan bahwa “Kitab Suci adalah mata air kehidupan yang tak pernah habis” (DV no. 25). Kitab Suci – baik dalam Kitab Suci sendiri maupun dalam tulisan-tulisan para Bapak Gereja di zaman dulu-dulu – sering disebut sebuah mata air, dari dalamnya timbul air murni dan segar. Nabi Yesaya, misalnya, menyatakan: “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air…; sendengkanlah telingamu dan datanglah kepadaKu; dengarkanlah, maka kamu akan hidup” (Yes 55:1-3). Dalam Perjanjian Baru, mata air itu adalah Yesus serta anugerah keselamatan yang dibawa sertaNya, secara khusus anugerah berupa sabdaNya yang termuat dalam Kitab Suci. Kata St.Ambrosius (334 – 397): “Minumlah dari mata air Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, karena pada masing-masing kamu minum Kristus”. Yesus berkata: “Barangsiapa haus, mari ia datang kepadaKu dan minum!” (Yoh 7:37). Bdk. IM no. 272: “Hati Yesus, Hati Tuhan kami, mata air jiwa yang lemah…” dst.

              Kitab Suci pun adalah “santapan jiwa” (DV no. 21). Suatu teks terkenal dari kitab Ulangan adalah kata-kata Musa kepada umat Israel ini: “Tuhan merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna… untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan” (Ul 8:3). Yesus sendiri pun mengutip ayat ini ketika mau digodai setan (Mat 4:4). Bdk. IM no. 47.

              Kitab Suci menyesuaikan diri dengan dia yang menyantapnya (manusia yang membacanya), tetapi dari segi lain Kitab Suci pun sanggup mengubahkan dan membentuk orang sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Jadi, seperti halnya dengan roti Ekaristi, Kitab Suci meresapi orang yang menyantapnya. Hal ini kentara sekali dalam kisah panggilan beberapa orang nabi, secara sangat khusus pada nabi Yehezkiel. Allah menyuruh dia makan gulungan kitab dengan berkata: “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan kepadamu ini dan isilah perutmu dengan itu” (Yeh 3:3). Hanya dengan jalan itu, setelah diresapi Sabda Allah, sang nabi dapat berbicara dalam nama Tuhan. Dan nabi Yeremia berseru dengan penuh gembira: “Aku bertemu dengan perkataan-perkataanMu dan aku memakannya; firmanMu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku.” (Yer 15:16).

              Kitab Suci sering dibandingkan dengan api. Yesus berkata: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi, dan betapa Aku harapkan, api itu menyala!” (Luk 12:49). Ini menjadi suatu pengalaman antara lain dari Kleopas dan temannya di jalan ke Emaus: “Hati mereka berkobar” ketika Yesus menjelaskan Kitab Suci bagi mereka (lih. Luk 24:32).==

              PENYEMBUHAN SEORANG BUTA

              Injil menurut St.Markus 8:22-26

              22 Pernah Yesus dan murid-muridNya datang di desa Betsaida.

              Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta.

              Mereka memohon kepadaNya, supaya Ia menjamah dia.

              23 Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia keluar kampung.

              Lalu dengan ludah Ia membasahi mata orang itu

              dan meletakkan tanganNya atas dia, dan bertanya:

              “Sudahkah bisa engkau melihat sesuatu?”

              24 Orang itu memandang ke depan, lalu  berkata:

              “Aku melihat orang, sebab aku melihat mereka berjalan-jalan,

              tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.”

              25 Yesus meletakkan lagi tanganNya pada mata orang itu,

              lalu dia itu sungguh-sungguh dapat melihat dan telah sembuh,

              sehingga ia melihat segala sesuatu dengan jelas.

              26 Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata:

              “Jangan masuk ke kampung!”

              MAZMUR 139

              1       Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku:

              2 Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri,

              Engkau mengerti pikiranku dari jauh.

              3  Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring,

              segala jalanku Kaumaklumi

              4  Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan.

              5  Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku,

              dan Engkau menaruh tanganMu ke atasku.

              6  Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu,

              terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

              7  Ke mana aku dapat pergi menjauhi RohMu,

              ke mana aku dapat lari dari hadapanMu?

              8  Jika aku mendaki ke langit, Engkau ada di sana;

              jika aku menaruh tempat tidurku di dunia

              orang mati, di situ pun Engkau berada.

              9  Jika aku terbang dengan sayap fajar,

              dan membuat kediaman di ujung laut,

              10juga di sana tanganMu akan menuntun aku,

              dan tangan kananMu memegang aku.

              11Jika aku berkata: “Biar kegelapan saja me- lingkupi aku,

              dan terang sekelilingku menjadi malam”,

              12    maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagiMu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.

              13    Sebab Engkau yang membentuk buah pinggangku,

              menenun aku dalam kandungan ibuku.

              14    Aku bersyukur kepadaMu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib;

              ajaib apa yang Kaubuat,

              dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

              15    Tulang-tulangku tidak terlindung bagiMu,

              ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;

              16    mataMu melihat selagi aku bakal anak,

              dan dalam kitabMu semuanya tertulis:

              hari-hari yang akan dibentuk,

              sebelum ada satu pun dari padanya.

              17    Dan bagiku, betapa sulitnya pikiranMu, ya Allah!

              Betapa besar jumlahnya!

              18    Jika aku mau menghitungnya, itu lebih ba-nyak daripada pasir.

              Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.

              23     Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku,

              ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;

              24     lihatlah apakah jalanku serong,

              dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!