MEMAHAMI KETERLIBATAN PEREMPUAN DALAM GEREJA KATOLIK

MEMAHAMI KETERLIBATAN PEREMPUAN DALAM

GEREJA KATOLIK

(Suatu Tinjaun Kritis dalam Perspektif Teologi Feminis)

(Oleh: Willem Batlayeri)

Pendahuluan

Kebangkitan perempuan pada tataran agama, secara khusus dalam Gereja Katolik selain disebabkan oleh kondisi budaya, keterpurukan ini terjadi pula karena teologi yang dibangun kebanyakan dititik beratkan dari sudut pandang laki-laki saja. Laki-laki dijadikan sebagai acuan dan dasar dari setiap kebijakan sehingga fakta diskriminatif atas keterlibatan perempuan dalam Gereja katolik menjadi masalah yang tak terelakkan. Untuk itu, kaum perempuan bangkit dengan membuat suatu refleksi kritis atas realitas diskriminatif yang menimpah mereka dan refleksi ini coba ditempatkan dalam tataran teologi yang disebut dengan Teologi Feminis. Dalam refleksi teologi ini, disadari bahwa kajian teologis menjadi sangat penting sebab refleksi teologi yang dibangun tidak hanya menjadi salah satu alat bagi perempuan untuk mengkaji agama dan realitas keterpurukan perempuan, tetapi dapat dipakai juga untuk menyikapi persoalan keterlibatan perempuan dalam Gereja katolik. Untuk itu, pertanyaan dasar yang dapat dikemukakan pada kesempatan ini adalah apakah kaum perempuan dapat terlibat dalam karya pelayanan Gereja? Apa tanggapan teologi feminis sehubungan dengan persoalan keterlibatan kaum perempuan dalam Gereja katolik?

A. Teologi Feminis dan Realitas Perempuan

A.1. Apa dan mengapa Teologi Feminis?

Sebelum menelusi lebih jauh tentang persoalan keterlibatan perempuan dalam Gereja katolik, maka baiklah jika secara singkat mendalami aliran teologi feminis itu sendiri yang dapat dipakai sebagai instrumen untuk menyikapi persoalan kaum perempuan pada tataran keagamaan. Pada dasarnya, teologi feminis merupakan suatu aliran baru yang dikembangkan oleh kaum perempuan di Amerika Serikat pada tahun 1950-an[1] untuk memperjuangkan keadilan atas diri dan hidup kaum perempuan dalam lembaga keagamaan dan secara khusus dalam Gereja katolik dengan mengubah paradigma lama yang mendiskreditkan perempuan sebagai kelas dua dan membangun paradigma baru yang berbasis pada keadilan dan keutuhan ciptaan Allah. Titik tolaknya adalah menghayati iman dari sudut pandang perempuan dan bukan dari sudut pandang laki-laki saja sehingga kaum perempuan dapat diajak untuk menyadari keperempuanannya dan mengajak laki-laki agar menyadari bahwa selama ini segala keputusan, baik yang menyangkut hubungan dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia seluruhnya hanya diambil dari sudut pandang laki-laki saja[2].

Selain pengaruh kondisi sosial masyarakat dan budaya setempat yang membangkitkan kesadaran kaum perempuan Amerika Serikat atas kenyataan hidup yang dialaminya, perkembangan teologi feminis ini dikondisikan pula oleh teologi pembebasan. Teologi pembebasan sebagai sebuah metode baru dalam berteologi dengan cara menentang interpretasi tradisional tentang ajaran kristiani serta berusaha menemukan arti baru terhadap ajaran iman yang berbasis pada injil dalam menegakkan kebenaran, senantiasa berusaha menjawab situasi dan kondisi sosial yang di hadapi oleh kaum miskin telah menginspirasikan kaum perempuan dalam refleksinya[3]. Inspirasi teologi pembebasan ini memberikan arti positif bagi kaum perempuan dalam perjuangannya sehingga konsep teologi pembebasan ini akhirnya diterapkan pada persoalan perempuan dengan harapan agar kaum perempuan dapat dibebaskan dari sistem budaya yang seringkali menafsirkan perempuan berdasarkan ideologi patriarki serta paling sedikit berusaha menemukan jati diri tanpa bermaksud menyamakan diri dengan laki-laki.

Tidak hanya itu, upaya demi upaya dilakukan untuk mendukung perjuangan mereka. Kaum perempuan sadar bahwa selain dibebaskan dari sistem budaya yang menindas, kaum perempuan perlu juga dibebaskan dari gerakan pembodohan yang telah berjalan lama. Oleh karena itu, diperkirakan pada gelombang kedua, teologi feminis yang diprakarsai oleh kaum perempuan Amerika mulai melakukan sesuatu yang terbilang baru dengan menempuh jalur pendidikan formal, yakni mulai belajar teologi dan mengejar gelar teologi dengan mengikuti studi teologi[4]. Pendidikan teologi di Seminari-seminari yang pada awalnya hanya diikuti oleh laki-laki kini telah mendapat warna baru lewat kehadiran perempuan. Jadi, bertolak dari kondisi dan situasi demikian maka perkembangan teologi feminis mendapatkan tempatnya. Memang pada awalnya aliran teologi feminis ini mendapatkan perlawanan dari berbagai pihak, namun dalam perjalanannya akhirnya teologi feminis ini pun diterima oleh berbagai kalangan.

A.2. Perempuan di Mata Gereja Katolik

Berbicara tentang realitas perempuan di dalam Gereja tidak mengajak kita untuk saling menyalahkan. Teologi feminis ketika membicarakan keterlibatan dan kontribusi perempuan dalam Gereja katolik sama sekali tidak bermaksud untuk menyaingi laki-laki atau pun membangun tembok pemisah antara mereka dan Gereja. Sambil tetap mengakui dan menghormati otoritas Gereja, teologi feminis membuat sebuah refleksi kritis atas citra perempuan dalam Gereja katolik sambil mengharapkan akan adanya perubahan. Untuk itu, tidak mengherankan jika dalam berteologi Kitab Suci yang dikritisi oleh aliran ini tetap ditempatkan sebagai dasar dalam berteologi.

Dalam mengadakan refleksi, teolog feminis menemukan rupa-rupa hal yang menyebabkan terpuruknya perempuan bahkan mendiskreditkan perempuan dalam hidup menggereja. Berkaitan dengan budaya, maka para teolog feminis menyadari bahwa budaya patriarki yang sangat kental mendorong kaum perempuan untuk dapat melihat realitas diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Budaya patriarki ini dalam prakteknya sangat mempengaruhi tata kehidupan masyarakat bahkan telah merembes ke dalam lingkungan Gereja sehubungan dengan karya-karya pelayanan Gereja, khususnya dalam kaitannya dengan kontribusi  perempuan dalam Gereja katolik.

Dalam Kitab Suci terjadi penolakkan terhadap beberapa teks Kitab Suci seperti yang dilakukan oleh Mary Baker dan Elizabeth Stanton karena dianggap bercorak diskriminatif dan terkesan dipaksakan ke atas perempuan[5].  Menurut mereka, Kitab Suci tidak hanya menjadi landasan biblis untuk melindungi dominasi kekuasaan laki-laki atas perempuan tetapi mengandung pula ancaman dan teror terhadap kaum perempuan[6].  Teks-teks ini, menjadi sangat problematis bagi kaum perempuan karena dengan jelas menyatakan kelemahan perempuan dan batasan-batasan tertentu bagi perempuan dan laki-laki. Namun dalam konteks ini, kita tidak melakukan penafsiran kitab suci melainkan dimaksudkan untuk menunjukkan sisi kitab suci yang dirasakan sangat bercorak diskriminatif.

Keterpurukan kaum perempuan semakin memuncak dalam Gereja katolik ketika mendalami konsep teologi para bapa Gereja, seperti Tertulianus, Agustinus dan Aquinas terhadap perempuan yang terkesan sangat merendahkan martabat perempuan. Citra perempuan digambarkan secara negatif, yakni sebagai penyebab dari datangnya kejahatan di dunia dan kehidupan manusia (pandangan Tertulianus)[7]. Agustinus dengan etika seks menempatkan perbedaan jasmani antara laki-laki dan perempuan pada simbol fisik yang menunjukkan fungsi lebih tinggi dan lebih rendah dari kedua individu ini sehingga perempuan dipandang tak berdaya tanpa kehadiran laki-laki[8]. Akhirnya,  perempuan pun dipandang sebagai makhluk yang tidak sempurna karena sifat dasar yang dimilikinya sebagai mana yang diungkapkan oleh Aquinas. Menurutnya, ketidaksempurnaan itu terletak dalam jiwa yang kemudian disejajarkan dengan ketidaksempurnaan akal budi[9]. Oleh kerena itu, untuk mencapai kesempurnaan maka perempuan membutuhkan laki-laki.

Bertolak dari semua penjelasan di atas, nampak dengan jelas bagaimana citra buruk perempuan. Citra buruk semacam ini tentu saja mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap perempuan sekaligus mempengaruhi praksis hidup perempuan terutama yang berhubungan dengan keterlibatan mereka dalam maryarakat secara khusus dalam hidup mengereja. Jika demikian, maka muncul pertanyaan sekarang apakah kaum perempuan masih dapat terlibat dalam hidup dan karya pelayanan gereja? Dengan predikat semacam ini, apakah kaum perempuan masih diperbolehkan untuk terlibat dalam Gereja? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menuntun kita dalam ulasan berikutnya.

B.  Tanggapan Teologi Feminis dan Inpirasinya bagi Gereja Katolik

B.1. Pentingnya Kontribusi Perempuan dalam Gereja Katolik

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa dalam konteks pemikiran teologi feminis pergerakkan teologi feminis sama sekali tidak menghendaki agar perempuan berkuasa dan mempunyai kedudukan lebih tinggi dari laki-laki, melainkan agar kaum perempuan pun mendapatkan pengakuan dari gereja akan kontribusi perempuan dalam karya pelayanan Gereja. Teologi feminis tidak sedang membangun paradigma baru di mana kaum perempuan berkuasa, sebab jika demikian maka masalah tidak akan selesai malahan hanya menambah masalah. Untuk itu, apa yang diajarkan dan ditegaskan oleh Gereja dalam setiap dokumen yang berpihak pada kaum kecil dan mereka yang diperlakukan tidak adil, menjadi sumber pertimbangan teologi feminis dalam menyikapi masalah perempuan.

Berkaitan dengan dokumen-dokumen Gereja yang disinyalir memiliki sinyal keberpihakkan atas perempuan seperti Apostolicam Actuositatem, Gadium et Spes, Mullieris Dignitatem dan beberapa dokumen yang lain menurut para teolog feminis hal itu hanya sebatas wacana saja. Terdapat kesenjangan antara kata dan kenyataan yang cukup mencolok. Apa yang ditegaskan dalam dokumen-dokumen ini cenderung hanya untuk menghibur kaum perempuan, padahal dalam kenyataannya kurang dilaksanakan. Oleh karena itu, Elizabeth Schussler-Fiorenza menegaskan bahwa “Gereja sebagai institusi tidak melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan. Jarang perempuan duduk dalam kuria kepausan dan tak ada syarat yang menyatakan bahwa suatu keputusan yang menyangkut kehidupan Gereja perlu memperhatikan kaum perempuan.”[10] Konsekuensinya, perempuan hanya berada di luar mendengarkan dan siap melaksanakan apa yang diputuskan oleh kaum laki-laki. Selain itu, dengan adanya otoritas Gereja melalui Kitab Suci dan ajaran teologi telah ikut juga melanggengkan relasi budaya patriarkat dan struktur hirarki Gereja yang menindas perempuan[11].

Berkaitan dengan masalah keterlibatan kaum perempuan dalam hidup dan karya pelayanan Gereja maka dalam konteks pemikiran teologi feminis keterlibatan perempuan dalam hidup menggereja merupakan sesuatu yang wajar dan bukanya sesuatu yang tabu. Namun, hal ini dapat terwujud jika Gereja dapat memperhatikan kesetaraan dalam konteks bakat, kemampuan dan pilihan masing-masing sehingga perempuan pun dapat diperhitungkan dalam praksis pelayanan Gereja tanpa mengesampingkan otoritas Gereja. Dalam konteks ini, laki-laki dan perempuan saling memberikan tempat dan kesempatan untuk terlibat dalam tugas dan pelayanan Gereja. Tidak ada dominasi dari kelompok tertentu, yakni laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya. Laki-laki dan perempuan mempunyai peran yang sama pentingnya dalam hidup menggereja. Oleh sebab itu, melarang wanita untuk terlibat dan berperan dalam karya pelayanan Gereja sama dengan mengatakan bahwa perempuan tidak berharga dalam pelayanan Yesus Kristus.

Pengakuan akan adanya keterlibatan perempuan dalam hidup menggereja didukung oleh pandangan positif teologi feminis. Tuntutan perempuan untuk mendapatkan peran yang sama dengan laki-laki, janganlah dimengerti sebagai bentuk perebutan peran sosiologis yang mengarah pada perebutan kekuasaan, melainkan peran yang dimaksudkan di sini merujuk pada kontribusi perempuan sebagai mana yang telah dijelaskan di atas. Dengan demikian, keterlibatan perempuan dalam hidup menggereja tidak akan menjadi ancaman terhadap laki-laki dan bagi Gereja.

Dalam kaitan dengan keterlibatan perempuan dalam Gereja katolik maka yang perlu diupayakan adalah pemberdayaan perempuan. Perempuan perlu diberdayakan sebagai suatu visi baru di mana paradigma lama tentang dominasi laki-laki perlu diganti dengan paradigma baru, yakni adanya kesetaraan sejati antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan perlu menyumbangkan kemampuannya dalam hidup dan karya pelayanan Gereja. Namun perlu disikapi secara serius agar kesetaraan sejati ini tidak terbatas pada kata-kata saja tetapi harus dapat dibuktikan. Oleh sebab itu, atas salah satu cara dengan adanya teologi feminis Gereja dapat memberikan tanggung jawab serta peran terhadap perempuan dalam hidup dan karya pelayanan Gereja. Tidak hanya melibatkan perempuan dalam hidup dan karya pelayanan Gereja, melainkan melalui cara ini perempuan sungguh-sungguh dapat dilihat sebagai makhluk yang mulia, sebagai manusia yang perlu juga diperhatikan dan dihargai secara pantas.

B.2. Umat Allah: Sebuah Inpirasi teologi feminis

Gambaran umat Allah merupakan gagasan teologis yang mewakili sikap Gereja dalam praksis pelayanan pastoral. Dalam konteks gambaran umat Allah, titik perhatiannya bukan lagi pada unsur struktural sebagai mana yang ditentang oleh para teolog feminis melainkan pemberdayaan setiap anggota Gereja sehingga semuanya dapat ambil bagian dalam hidup dan karya pelayanan menggereja. Dengan kata lain,  gambaran umat Allah yang dimaksudkan di sini tidak lagi menekankan struktur kepemimpinan hirarkis, melainkan lebih pada suatu kepemimpinan partisipatif di mana semua anggota Gereja, entah laki-laki dan perempuan secara bersama-sama mengambil bagian di dalamnya sebagai mana yang terungkap dalam konstitusi dogmatis tentang Gereja.[12] Lebih dari pada itu, gambaran umat Allah yang dimaksudkan di sini dapat meminimalisir perbedaan antara laki-laki dan perempuan serta berbagai konsep miring yang diberikan atas perempuan.

Berbagai tuntutan yang diberikan, salah satunya seperti tahbisan imam perempuan justru dalam teologi feminis tidak terlalu dipersoalkan sebagai mana yang ditegaskan oleh Anne Thurston. Ia mengajak semua orang agar tidak memfokuskan diri pada tuntutan untuk menerima berbagai sakramen gerejawi seperti tahbisan imam, melainkan pada hak setiap anggota Gereja untuk ikut dalam perayaan-perayaan sakramental[13]. Dengan kata lain, problem mendasar yang dihadapi oleh kaum perempuan adalah pengakuan akan peran serta dan keterlibatan perempuan dalam hidup dan karya pelayanan Gereja. Untuk itu, pembaharuan Gereja merupakan jalan keluarnya.

Bagi para teolog feminis, yang perlu dilakukan dalam konteks pembaharuan ini adalah perlu adanya transformasi teologi dalam hidup menggereja dan feminisasi hidup menggereja. Transformasi teologis dalam hidup menggereja dapat dilakukan dengan cara membangun gereja yang partisipatif, membagun Gereja kaum miskin dan membagun komunitas basis gerejani berdasarkan gagasan dasar umat Allah[14].  Sebutan Gereja partisipatif yang dimaksudkan di sini adalah Gereja yang dapat memperhatikan berbagai kebutuhan umat dan mampu melibatkan seluruh anggotanya dalam hidup dan karya pelayanan Gereja[15]. Gereja kaum miskin menjadi satu cara untuk membebaskan perempuan sebagai kaum tertindas yang menjadi korban ketidakadilan dalam Gereja. Akhirnya pemberdayaan perempuan dalam kesatuan dengan kaum awam untuk diakui eksistensinya dalam Gereja sebagai mana yang terungkap dalam gagasan komunitas basis gerejani menjadi unsur pendukung dalam perjuangan perempuan.

Selain transformasi teologis, feminisasi hidup menggereja menjadi butir penting yang diberikan oleh teolog feminis. Feminisasi hidup menggereja yang dimaksudkan bukan hanya membuat Gereja untuk menyadari kehadiran perempuan dalam Gereja, melainkan agar dalam kehidupan menggereja setiap orang dapat merasa aman dan tentram tanpa pandang bulu dan jenis kelamin[16]. Proses ini secara efisien harus dilakukan dalam kehidupan internal gereja dan dalam hidup kemasyarakatan.[17] Dengan cara demikian maka persoalan perempuan secara perlahan-lahan dapat diatasi.

Penutup

Kehadiran teologi feminis sesungguhnya bukan merupakan ancaman terhadap Gereja Katolik melainkan kehadirannya dapat memberikan nuansa baru dalam khazana perkembangan teologi. Dalam berteologi kaum perempuan tetap mengakui otoritas Gereja dan institusi Gereja sambil memberikan berbagai pikiran positif dan analisa kritis atas hidup Gereja berdasarkan pengalam kaum perempuan dalam hidup menggereja. Dalam perspektif teologi feminis, kehadiran aliran ini sama sekali tidak hanya diperuntukkan bagi kaum perempuan, tetapi laki-laki pun dapat mempelajarinya. Oleh sebab itu, teologi feminis janganlah dikatakan sebagai teologi khusus perempuan tetapi lebih tepat jika dikatakan bahwa teologi oleh perempuan. Dengan demikian, maka melalui teologi ini kaum perempuan dan laki-laki dapat menggunakannya sebagai sebuah alternatif berteologi untuk menyikapi persoalan perempuan yang selama ini cukup menjadi isu besar dalam Gereja Katolik.

Daftar Pustaka

Clifford, Anne M. Memperkenalkan Teologi Feminis, Terj. Yosef M. Florisan. Maumere: Seminari Tinggi Ledalero, 2002.

Iswanti. Kodrat Yang Bergerak, Gambar, Peran dan kedudukan Perempuan Dalam Gereja Katolik. Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Hayon, Adrianus. “Gereja dan Pemberdayaan Kaum Perempuan: sebuah Tinjauan Teologis dan Terang Kitab Suci,” dalam Seri Buku VOX: Perempuan dan Pemimpin Republik Diam. Februari 1986.

“Lumen Gentium.” Dalam Dokumen Konsili Vatikan II. Terj. R. Hardawiryana. Jakarta: Obor, 1993

Madya Utama, Ignatius. “ Peran Perempuan  dalam Hidup Menggereja: perspektif Laki-laki” dalam Junal Filsafat dan Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara. Vol. 3. April 2004.

Murniarti, Nunuk P. Getar Gender: Perempuan Indonesia dalam Perspektif Agam, Budaya dan Keluarga. Magelang: Indonesiatera, 2004.

Pegu, Ansel. “Perempuan dan Teologi Pembebasan,” dalam Para Perempuan Sekitar Yesus. Ende: Nusa Indah, 2000.

Retnowati, Perempuan-Perempuan Dalam Alkitab, Peran, Partisipasi dan Perjuangannya. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.

Sumiarni, Endang. Jender dan Feminisme. Yogyakarta: Wonderful Publishing Company, 2004.


[1]Endang Sumiarni, Jender dan Feminisme (Yogyakarta: Wonderful Publishing Company, 2004),  hlm. 83.

[2]Bdk., Nunuk P. Murniarti, Getar Gender: Perempuan Indonesia dalam Perspektif Agam, Budaya dan Keluarga (Magelang: Indonesiatera, 2004),  hlm.13.

[3]Bdk., Ansel Pegu, “Perempuan dan Teologi Pembebasan,” dalam Para Perempuan Sekitar Yesus (Ende: Nusa Indah, 2000), hlm 102.

[4] Anne M, Clifford, Memperkenalkan Teologi Feminis Terj. Yosef M. Florisan (Maumere: Seminari Tinggi Ledalero, 2002), hlm. 51.

[5]Ibid.,

[6]Lihat contoh perikop Kitab Suci yang berisi teror terhadap perempuan seperti pada Kitab Hakim-Hakim 11 dan 19; Kejadian 3:16, Kekerasan psikologis-spiritual bisa ditemukan dalam kalimat berikut: “…..Perempuan akan susah pada waktu mengandung dan kesakitan pada waktu melahirkan,…. “karena dosa awal yang disandungnya. Hal itu dilanjutkan dalam Perjanjin Baru, seperti yang dituliskan dalam surat Paulus Kepada Jemaat di Efesus, bahwa istri harus tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan (Efesus 5:21-23), atau pada Korintus 11:3,8,38. Bahkan dalam Timotius 2:11-14, masih diulang cerita bahwa bukan Adam yang terjatuh dalam godaan, melainkan perempuan itu, yakni (Eva),…..”

[7]Iswanti, Kodrat Yang Bergerak, Gambar, Peran dan kedudukan Perempuan Dalam Gereja Katolik (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 120.

[8]Bdk., Nunuk P. Murniarti, Getar Gender: Perempuan Indonesia dalam Perspektif Agam, Budaya dan Keluarga (Magelang: Indonesiatera, 2004), hlm.35. Lihat juga Retnowati, Perempuan-Perempuan Dalam Alkitab, Peran, Partisipasi dan Perjuangannya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), hlm. 79.

[9] Ibid., hlm 36.

[10]Bdk., Adrianus Hayon, “Gereja dan Pemberdayaan Kaum Perempuan: sebuah Tinjauan Teologis dan Terang Kitab Suci,” dalam Seri Buku VOX: Perempuan dan Pemimpin Republik Diam (Februari 1986), hlm.39.

[11] Ibid

[12] Bdk., Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, No. 9.

[13] Bdk., Ignatius  Madya Utama, “ Peran Perempuan  dalam Hidup Menggereja: perspektif Laki-laki” dalam Junal Filsafat dan Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara. Vol. 3. April 2004, hlm. 85.

[14] Bdk., Ignatius  Madya Utama, “ Peran Perempuan  dalam Hidup Menggereja: perspektif Laki-laki,” hlm. 85-86. Bdk, Avery Dulles, Model-model Gereja (Flores NTT: Nusa Indah, 1990), hlm 50.

[15] Ibid.

[16] Ibid., hlm. 87

[17] Ibid., hlm 87-89.

Iklan

KONDISI PEKERJAAN GEREJA (Rerum Novarum, Ensiklik Paus Leo VIII, 1892)

KONDISI PEKERJAAN GEREJA

(Rerum Novarum, Ensiklik Paus Leo VIII, 1892)

(Oleh: P. P. Janwarin, SS)

Dalam Ensiklik Rerum Novarum, Paus Leo VIII mengkaji situasi rakyat dan para buruh miskin di negera-negara industri. Beliau menyatakakan beberapa prinsip penting yang harus membimbing jawaban terhadap kebutuhan-kebutuhan orang itu. Kemudian Leo VIII memaparkan peranan Gereja, para buruh dan para majikan; pernanan hukum dan pemerintah dalam kerja sama membangun masyarakat yang adil. Para majikan diberi peranan utama sebagai pelaku perubahan.

Pemerasan hebat dan kemiskinan yang luar biasa dialami para buruh di Eropa dan di Amerika Utara pada akhir abad ke-19 mendesak Paus Leo VIII menulis Ensiklik Rerum Novarum. Dokumen ini diilhami oleh kegiatan yang dilakukan Serikat Fribourg (Fribourg Union), sebuah gerakan AKSI sosial Katolik di Jerman dan atas permintaan-permintaan dari hirarki di Inggris, Irlandia dan Amerika Serikat.

A. Situasi Rakyat Miskin dan Para Buruh

  1. Kemiskinan yang begitu meluas dan kekayaan yang terpusat pada beberapa orang saja
  2. Kemerosotan moralitas umum.
  3. Para buruh diperas oleh majikan-majikan yang tamak.
  4. Pemerintah tidak melindungi hak-hak orang miskin.

B. Prinsip-Prinsip Penuntun

  1. Segalanya telah diciptakan oleh Allah, mengarah maju pada Allah dan ditebus oleh Allah. Rahmat Ilahi dan kekayaan alam menjadi milik semua secara merata.
  2. Memang masing-masing orang tidak memiliki bakat yang sama, tetapi Allah menganugerahkan martabat yang sama kepada semua orang.
  3. Kemampuan untuk berpikir merupakan bagian dari kodrat manusia; manusia mengatur dirinya dengan akal budi.
  4. Kesejahteraan umum merupakan tujuan negara; semua warga memiliki hak berpartisipasi dalam kehidupan negara.
  5. Martabat manusia yang sejati terletak pada hidup moral yang baik masyarakat yang berkeutamaan akan memperoleh kebahagiaan kekal.
  6. Hukum hanya ditaati sejauh hukum itu sesuai dengan penalaran yang benar dan hukum Allah yang kekal (Part. 72)
  7. Kekayaan nasional berasal dari kerja keras para buruh.
  8. Semua orang mempunyai hak untuk memiliki kekayaan pribadi (Paus Leo VIII mengkritik sosialisme bahwa inti ajarannya sendiri sudah tidak benar karena memperkosa hak itu); milik pribadi harus melayani kesejahteraan umum.
  9. Manusia memiliki hak atas hasil pekerjaan mereka, tetapi hasil itu harus dipergunakan demi semua.
  10. Kerja merupakan keharusan dan akan ada kesulitan dan penderitaan dalam hidup.
  11. Kekayaan merupakan halangan untuk kehidupan kekal.
  12. Hak milik yang benar berbeda dengan penggunaan kekayaan secara benar.

C. Peranan Gereja.

  1. Gereja mempunyai hak untuk menyatakan pendapatnya karena masalah-masalah ini mempengaruhi agama dan moralitas.
  2. Dengan menggunakan prinsip-prinsip injili, Gereja dapat membantu memperdamaikan dan menyatukan pertentangan antar kelas.
  3. Tujuan yang mau dicapai Gereja adalah memperdamaikan dan menyatukan kelas-kelas yang saling bertentangan.
  4. Gereja dapat mendidik masyarakat untuk bertindak secara adil.

D. Hak dan Kewajiban Para Buruh (rakyat miskin), dan majikan (orang kaya) dalam Masyarakat.

  1. Para buruh/rakyat miskin. Hak-hak : mempunyai hak milik, pribadi orang miskin harus dijamin kehidupannya, mendapat hasil dari pekerjaan yang mereka lakukan, mempunyai hak atas jaminan kesejahteraan keluarga, kebebasan bertindak, hak mendapat pekerjaan, upah yang adil (yang cukup untuk menghidupi keluarga), hak untuk bergabung dalam serikat buruh (yang menjaga nilai-nilai religius). Kewajiban-kewajiban : bekerja dengan baik, tidak membahayakan kekayaan majikan, menghindarkan kekerasan dan kekacauan, berhemat.
  2. Majikan-majikan/orang kaya. Hak-hak : milik pribadi, pajak yang tidak menekan, membentuk perkumpulan-perkumpulan swasta. Kewajiban-kewajiban: tidak memperlakukan para buruh sebagai budak, menjaga martabat para buruh, memberi kesempatan kepada para buruh untuk memenuhi kewajiban-kewajiban keagamaan dan keluarganya, tidak memaksa para buruh bekerja melebihi kekuatan mereka, membayar dengan gaji yang adil, tidak merusak tabungan para buruh, memenuhi kebutuhan orang miskin sesudah kebutuhannya sendiri terpenuhi.

E. Peranan Pemerintah dan Hukum dalam Masyarakat.

  1. Membela dan mengembangkan hak-hak keluarga.
    1. mengusahakan terwujudnya kesejahteraan umum.
    2. melindungi kehidupan dan hak-hak para buruh yang tidak memiliki (perusahaan).
    3. bila perlu ikut campur tangan untuk mencegah kerugian-kerugian yang mengancam keselamatan pribadi dan kesejahteraan umum.
    4. memberikan pertimbangan khusus terhadap hak-hak kaum miskin.
    5. menjaga hak-hak atas milik pribadi dan memungkinkan semua warganya memiliki milik pribadi.
    6. menjaga hak untuk berserikat dan kebebasan beragama.

II. PEMBANGUNAN KEMBALI TATANAN SOSIAL

(Quadragesimo Anno, Ensiklik Paus Pius XI, 1931)

Dalam Ensiklik Quardragesimo Anno, Paus Pius XI mengemukakan tiga permasalahan utama. Pertama, beliau menyebutkan pengaruh dari Ensiklik Rerum Novarum pada Gereja, para penguasa sipil dan pihak-pihak yang berkepentingan. Kedua, Paus Pius XI memperjelas dan mengembangkan ajaran sosial dan ekonomi yang sudah tercantum dalam Ensiklik Rerum Novarum. Beliau jelas-jelas mengatakan peranan positif Gereja dalam masalah sosial dan ekonomi dan menegaskan adanya tanggung jawab sosial dari hak milik. Ia menganjurkan kesatuan antara modal dan tenaga kerja, mendesak kepentingannya peningkatan taraf hidup kaum miskin dan perbaikan tatanan sosial yang didasarkan pada pembentukan kembali kelompok-kelompok kerja dan keahlian. Akhirnya Paus Pius XI menunjukan penyalahgunaan kapitalisme dan sosialisme dan menganjurkan pembaharuan moral masyarakat yang dibarengi dengan tindakan penegakan keadilan yang didasarkan pada cinta kasih.

Catatan sejarah: Ensiklik ini dikeluarkan dalam rangka peringatan 40 tahun Ensiklik Rerum Novarum. Paus Pius XI menulis dan menerbitkan Ensiklik ini pada masa depresi hebat yang menggoncangkan dasar ekonomi dan sosial masyarakat. Dengan tajam dia mengkritik penyalahgunaan baik kapitalisme maupun komunisme, dan berusaha menyesuaikan ajaran sosial Katolik dengan keadaan yang sudah berubah itu. Ia mempertajam keprihatinan Gereja terhadap para buruh yang melarat, sampai mencakup sturktur-struktur yang menekan mereka.

BAGIAN I. PENGARUH ENSIKLIK RERUM NOVARUM

  1. I. Pada Gereja
    1. A. Ajaran
    2. Mendorong Gereja menyesuaikan diri dengan keadaan yang terus menerus berubah.
    3. Memberikan inspirasi pada ilmu sosial kristiani.
    4. Diajarkan di seminari-seminari dan universitas-universitas.
    5. Banyak imam dan orang Katolik awam menjadi terlibat dalam Ajaran Sosial Gereja
    6. Ajaran sosial telah mempengaruhi masyarakat luas di luar Gereja.
    7. B. Penerapan Praktis
    8. Usaha membantu kelas-kelas bawah.
    9. Karya-karya karitatif dilipatgandakan.
    10. Mempengaruhi pendidikan dan kebudayaan.
    11. Menginspirasi lembaga-lembaga untuk saling mendukung satu sama lain.
    12. C. Modal dan Tenaga Kerja
    13. Negara hanya akan menjadi kaya melalui pekerjaan yang dilakukan warga negaranya.
    14. Modal dan tenaga kerja saling membutuhkan.
    15. Dalam sejarah, modal menguasai seluruh produksi dan keuntungan yang diperoleh,  dan menyisahkan balas jasa yang amat minim kepada tenaga kerja.
    16. Tuntutan tenaga buruh yang tidak adil: semua produksi dan keuntungan jadi milik kaum buruh.
    17. Menganjurkan pembagian kekayaan secara adil demi kesejahteraan umum.
    18. D. Menigkatkan Kehidupan Buruh
    19. Meningkatkan kehidupan para buruh merupakan tujuan utama Ensiklik Paus Pius XI.
    20. Keadaan para buruh di Negara-Negara Barat sudah bertambah baik.
    21. Tetapi di belahan dunia lain situasinya semakin buruk.
    22. Kondisi para buruh di pedesaan sangat terbelakang.
    23. Kaum buruh harus dapat mencukupi kebutuhan mereka dari hasil-hasil kerja mereka.
    24. Upah yang adil harus diberikan agar kaum buruh memiliki pemilikan secara wajar.
    25. Pengupahan dengan sistim perjanjian upah tidak dengan sendirinya adil.
    26. Perjanjian upah harus disesuaikan dengan sistim kontrak kerja sama.
    27. Keadilan sosial menuntut adanya upah yang bisa mencukupi kebutuhan keluarga para buruh.
    28. Wanita dan anak-anak agar jangan disalahgunakan dalam dunia kerja.
    29. Pemerintah dapat membantu terjaminnya pengupahan yang adil.
    30. Kesempatan kerja harus disediakan bagi mereka yang bersedia bekerja.
    31. E. Memperbaiki Tatanan Sosial.
    32. Hal ini terutama menjadi tanggung jawab negara.
    33. Prinsip subsidiaritas negara: aktifitas yang dapat dilaksanakan instansi lebih bawah tetap dilaksanakan oleh instansi-instansi itu.
    34. Tugas utama negara adalah mencegah adanya konflik dan mengusahakan keselarasan hubungan antara kelas dalam masyarakat.
    35. Pentingnya kelompok-kelompok kerja dan profesi : usaha bersama menciptakan kesejahteraan umum.
    36. Pengaturan masalah-masalah ekonomi tidak bisa diserahkan kepada usaha-usaha bebas.
    37. Keunggulan ekonomi telah menggantikan persaingan bebas.
    38. Lembaga-lembaga perekonomian harus diresapi semangat keadilan.
    39. Perlu diadakan kerjasama ekonomi internasional.
    40. Mendukung adanya intervensi pemerintah dalam perselisihan buruh dan majikan.

II. Pada Penguasa Sipil.

  1. Merumuskan peranannya yang positif : menegakan hukum dan tatanan sosial, mengusahakan kesejahteraan umum.
  2. Pemerintah harus memperhatikan secara khusus mereka yang lemah dan terlantar.
  3. Para pemimpin menjadi lebih sadar akan kewajiban mereka dalam mengembangkan kebijakan sosial.
  4. Disusun hukum-hukum dan program-program bagi kaum miskin.
  5. III. Pada Kelompok-Kelompok yang Berkepentingan
  6. A. Serikat Buruh
  7. Meneguhkan tugas mereka.
  8. Para religius dan kaum awam bekerja bersama untuk mendirikan serikat-serikat buruh.
  9. Serikat-serikat buruh semakin banyak bermunculan.
  10. Nasehat-nasehar paus leo xiii harus disesuaikan dengan situasi yang berbeda-beda.
  11. B. Lain-Lain
  12. Perserikatan-perserikatan para majikan tidak banyak sukses.
  13. Paus Leo XIII mengambil inspirasi untuk ensikliknya dari injil.

BAGIAN II. AJARAN SOSIAL DAN EKONOMI

  1. A. Peranan Gereja
  2. Gereja memiliki hak dan kewajiban untuk terlibat dalam masalah-masalah itu.
  3. Hak dan kewajiban itu adalah tugas yang diarahkan oleh allah pada gereja.
  4. Gereja harus memberikan penilaian-penilaian terhadap masalah-masalah sosial dan ekonomi karena mempengaruhi masalah-masalah moral.
  5. B. Hak Milik
  6. Dua aspek hak milik: individual dan sosial (menyangkut kesejahteraan umum)
  7. Dua bahaya: individualisme dan kolektifisme.
  8. Hak milik atas kekayaan harus dibedakan dengan penggunaannya.
  9. Menghancurkan sikap pribadi hak milik merupakan kesalahan yang besar.
  10. Hak milik tidak bersifat mutlak.
  11. Fungsi pemerintah: merumuskan secara mendetail kewajiban dan pemilikan.
  12. Dua penggunaan kelebihan pendapatan:                 a. Untuk karya cinta kasih.

b. Untuk menciptakan kerja

BAGIAN III. SOSIALISME

  1. A. Perubahan-perubahan dalam kapitalisme
  2. Pemusatan perekonomian mengakibatkan perjuangan untuk mencapai dominasi.
  3. Persaingan bebas sudah berakhir.
  4. Negara menjadi budak yang melayani kaum rakus.
  5. Imperialisme ekonomi berkembang dengan pesat.
  6. B. Perubahan-perubahan sosialisme
  7. Aliran ini terpecah dalam dua kubu
  8. Kubu komunisme mendukung adanya kekerasan dan penghapusan hak milik pribadi.
  9. Sosialisme mengecam pemecahan dengan kekuatan fisik dan memperlunak larangan hak milik pribadi.
  10. C. Pemecahan
  11. Tidak mungkin ada kompromi antara kristianitas dan sosialisme.
  12. Sosialisme mempunyai pandangan tentang manusia yang asing bagi kebenaran kristiani.
  13. Pengaturan kembali kehidupan sosial perlu kembali ke semangat kristiani dan prinsip-prinsip injili.
  14. Cinta kasih dan amal harus memperkuat keadilan

III. PERDAMAIAN DI DUNIA

(Pacem in Terris, ensiklik Paus Yohanes XXIII tahun 1963)

Dalam Pacem in Terris, Paus Yohanes XXIII berpendapat bahwa perdamaian dapat ditegakan hanya jika tatatertib yang ditentukan Allah dipatuhi sepenuh-penuhnya. Dengan berpegang seluas-luasnya pada akal budi dan tradisi hukum kodrat, Paus Yohanes XIII memperinci daftar hak0hak dan tugas-tugas yang harus dipenuhi oleh orang perorangan, pejabat, pemerintahan negara dan masyarakat dunia. Perdamaian perlu didasarkan atas suatu aturan yang “ditegakan di atas kebenaran, dibangun sesuai dengan keadilan, dihidupkan dan diintegrasikan oleh cinta kasih dan dilaksanakan dalam praktek dalam kebebasan”.

Catatan sejarah : Pacem in Terris yang ditulis pada awal Konsili Vatikan II merupakan ensiklik pertama yang dialamatkan kepada “semua orang yang bekehendak baik”. Dokumen yang dikeluarkan tidak lama setelah setelah krisis Kuba tahun 1962 dan pembangunan tembok Berlin ini berbicara kepada dunia yang sadar akan bahaya-bahaya perang nuklir. Nada-nada optimistiknya dan perkembangan filsafat tentang hak-hak memberi kesan yang berarti baik pada orang-orang Katolik maupun orang-orang non Katolik.

Bagian I. Tertib antara Manusia

Setiap manusia adalah seorang pribadi yang dianugerahi kecerdasan dan kehendak bebas, yang memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban universal yang tak dapat diganggu gugat.

A. Hak-hak

  1. Hak hidup dan standar hidup yang layak (termasuk hak-hak bagi perkembangan hidup yang layak dan hak akan keamanan yang mendasar).
  2. Hak-hak atas nilai-nilai budaya dan nilai-nilai moral (termasuk kebebasan untuk mencari dan mengungkapkan pendapat-pendapat, kebebasan menerima dan memberi informasi dan hak-hak untuk pendidikan).
  3. Hak-hak atas agama dan suara hati.
  4. Hak untuk memilih status hidup (termasuk hak-hak untuk membentuk keluarga dan mengajar panggilan religius).
  5. Hak-hak di bidang ekonomi (termasuk hak untuk bekerja, hak untuk memperoleh keadilan dan upah yang adil dan cukup dan hak untuk memegang milik pribadi).
  6. Hak untuk bertemu dan berkumpul.
  7. Hak untuk beremigrasi dan berimigrasi.
  8. Hak-hak politis (termasuk untuk berpartisipasi dalam masalah-masalah masyarakat dan perlindungan hukum atas hak-hak).
  9. B. Tugas-tugas
  10. Mengakui dan menghormati hak-hak orang lain.
  11. Saling bekerja sama.
  12. Bertindak bagi orang lain secara bertanggung jawab.
  13. Memelihara dan menghayati kehidupan secara pantas.

C. Tanda-tanda zaman

  1. Kelas-kelas bekerja sedikit demi sedikit telah memperoleh tumpuan dalam urusan-urusan sosial dan ekonomi.
  2. Kaum wanita terlibat dalam hidup kemasyarakatan.
  3. Semua bangsa menjadi merdeka.

Bagian II. Hubungan-hubungan antar Individu dan para pejabat dalam negara

A. Hakekat Otoritas

  1. Otoritas penting untuk berfungsinya masyarakat secara baik.
  2. Otoritas mendapatkan kekuatannya dari tatanan moral dimana Allah menjadi tujuannya.
  3. Negara yang hanya menghukum atau mengganjar tak dapat menegakan kesejahteraan umum secara efektif.
  4. Negara tak dapat mewajibkan hal-hal yang menyangkut masalah-masalah hati nurani.
  5. Perintah yang berlawanan dengan kehendak Allah tidak mengikat.
  6. B. Kesejahteraan Umum-Ciri-cirinya.
  7. Pribadi manusia harus dihargai.
  8. Semua warga negara harus ambil bagian dalam kesejahteraan umum.
  9. Perhatian yang lebih harus diberikan kepada warga masyarakat yang kurang beruntung.
  10. Negara harus memperkembangkan kesejahteraan jasmani dan rohani para warga negaranya.

C. Pejabat Negara

  1. Perhatian utama hendaknya tertuju untuk menjamin kesejahteraan umum.
  2. Fungsi-untuk mengkoordinasikan hubungan-hubungan sosial dengan cara yang memungkinkan rakyat untuk melaksanakan hak-hak dan tugas-tugas mereka dengan damai.
  3. Pembagian kekuasaan menjadi 3 – legislatif, eksekutif dan yudikatif dianjurkan bagi pemerintah-pemerintah.
  4. Sering struktur yuridis yang bijaksanan dan dipikirkan dalam-dalam tidak memadai bagi kebutuhan masyarakat.
  5. Tiga persyaratan bagi pemerintah yang baik :
  6. Piagam hak-hak asasi manusia
  7. Perundang-undangan tertulis.
  8. Hubungan-hubungan antara yang diperintah dan yang memerintah dalam rangka hak-hak dan kewajiban.

Bagian III. Hubungan-hubungan di antara negara-negara

A. Dalam Kebenaran

  1. Menghapuskan rasisme
  2. Hak untuk perkembangan pribadi
  3. Kewajiban untuk tolong-menolong
  4. Mempergunakan media secara obyaktif.

B. Dalam Keadilan

  1. Pengakuan atas hak-hak adan kewajiban bersama.
  2. Memperbaiki situasi minoritas etnik

C. Solidaritas Aktif

  1. Memperkembangkan perkembangan hubungan-hubungan persahabatan di segala bidang.
  2. Pejabat negara ada yang memajukan kesejahteraan umum seluruh keluarga umat manusia.
  3. Mengurangi ketidak seimbangan dan modal di dunia.
  4. hak bagi pengungsi politis untuk migrasi
  5. Perlombaan senjata :
  6. Mencipatakan hambatan-hambatan negara-negara yang belum berkembang untuk maju secara sosio ekonomis,
  7. Menciptakan iklim ketakutan,
  8. “jadi keadilan, akal sehat dan kehidupan menuntut perlombaan senjata dihentikan”
  9. Damai terdiri dari saling percaya

Dalam Kemerdekaan

  1. Hubungan-hubungan didasarkan atas kebebasan : tanggung jawab dan usaha didorong.
  2. negara-negara maju perlu menghormati nilai-nilai moral dalam memberi bantuan tanpa usaha untuk mendominasi.

BAGIAN IV. HUBUNGAN-HUBUNGAN RAKYAT DAN MASYARAKAT POLITIS DENGAN MASYARAKAT DUNIA.

  1. Setiap negara tidak dapat mencari kepentingan mereka sendiri-sendiri dan berkembang dalam isolasi karena fakta kondisi-kondisi saling tergantung dewasa ini.
  2. dalam keadaan-keadaan dewasa ini struktur-struktur dan bentuk-bentuk pemerintahan nasional tidaklah memadai untuk menegakan kesejahteraan umum yang universal.
  3. pemerintah harus memiliki sarana-saran untuk kesejahteraan umum.
  4. penerintah negara dibutuhkan untuk bekerja dengan cara efektif pada tingkat yang meliputi seluruh dunia.
  5. Perserikatan Bangsa Bangsa harus didukung dan dikembangkan.

BAGIAN V. NASIHAT-NASIHAT PASTORAL

  1. Rakyat harus memainkan peranan aktif di dalam hidup kemasyarakatan dan organisasi-organisasi dan mempengaruhinya dari dalam.
  2. Umat manusia hendaknya melaksanakan kegiatan-kegiatan duniawi sebagai tindakan dalam tatanan-tatanan moral.
  3. Persatuan antara iman dan perbuatan diperlukan. Demikian juga diperlukan pendidikan kristiani dalam urusan sosial dan ekonomi.
  4. Orang-orang kristiani perlu kebijaksanaan dalam menentukan kerja sama dengan orang-orang bukan kristiani dalam urusan sosial dan ekonomi.
  5. Ada perbedaan antara ide-ide filosofis yang sesat dan gerakan-gerakan yang didasarkan atasnya.
  6. “Damai hanya akan merupakan omong kosong jika tidak didasarkan atas tatanan yang digariskan oleh dokumen ini dengan harapan yang penuh percaya: tatanan yang didasarkan atas kebenaran, dibangun sesuai keadilan dan diintegrasikan oleh cinta kasih dan dilaksanakan dalam praktek dalam kebebasan”.

IV

PERKEMBANGAN BANGSA-BANGSA

(Populorium Progressio, Ensiklik Paus Paulus VI, 1967)

Dalam Populorium Progressio, Paus Paulus VI menanggapi masalah perkembangan. Beliau menggali hakekat kemiskinan dan konflik-konflik yang dihasilkannya. Paus Paulus VI menerangkan peran Gereja dalam proses perkembangan dan membuat sketsa pandangan kristiani tentang perkembangan. Paus menyerukan tindakan segera yang menghargai tujuan universal makhluk ciptaan. Ia menganjurkan perencanaan ekonomi dan bantuan yang mendukung perencanaan. Paus VI mendesak keadilan dalam hubungan-hubungan dagang dan cinta kasih universal. Dia menyimpulkan dengan menyebut “ perkembangan” sebagai nama baru untuk perdamaian dan mendesak semua orang kristiani untuk memperjuangkan keadilan.

Catatan Sejarah

Dalam Ensiklik Populorium Progressio, Paus Paulus VI memperluas lingkup uraian Paus Leo XIII tentang perjuangan antara kelas kaya dan kelas miskin dengan mencakup konflik antara bangsa-bangsan kaya dan miskin. Populorium Progressio merupakan ensiklik pertama yang seluruhnya ditujukan kepada soal-soal perkembangan. Paus menekankan sumber-sumber ekonomi dari peperangan dan menyoroti keadilan ekonomi sebagai dasar perdamaian. Lebih dari para pendahulunya, Paus Paulus VI secara eksplisit mengkritik ajaran-ajaran dasar kapitalisme, termasuk motif keuntungan dan hak milik pribadi yang tak terbatas.

Bagian I : Demi perkembangan manusia seutuhnya

A. Data Masalah

  1. Aspirasi-aspirasi manusia termasuk :

–       Bebas dari kesengsaraan

–       Kepastian mendapatkan nafka hidup.

–       Tanggung jawab tanpa tekanan

–       Pendidikan yang lebih baik

  1. Sasaran-sasaran yang diwariskan dari masa lampau tidaklah kurang, akan tetapi mencukupi bagi situasi sekarang ini.
  2. Konflik-konflik sosial sekarang memiliki matra yang meliputi seluruh dunia.
  3. Struktur-struktur belum menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi baru.

B. Gereja dan Perkembangan

  1. Menanggapi ajaran Yesus, Gereja harus mendukung kemajuan manusia.
  2. Dunia menuntut tindakan yang didasarkan visi tentang aspek-aspek ekonomis, sosial, kultural dan spiritual dari masa kini.
  3. Gereja “didirikan untuk membangun kerajaan Allah di dunia ini”.
  4. Perkembangan tidak dapat dibatasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi mengarah pada seluruh potensi manusia.
  5. Manusia mempunyai hak dan kewajiban untuk mengembangkan diri; sebagai makhluk dengan matra spiritual, orang harus mengorientasikan hidupnya kepada Allah, suatu humanisme yang transenden.
  6. Tiap-tiap orang adalah anggota masyarakat.
  7. Kerja itu sesuatu yang penting tetapi kerakusan harus dihindari.
  8. Ketamakan adalah bentuk yang paling menyolok dari ketidakmajuan moral.
  9. Humanisme baru yang mencakup nilai-nilai yang tinggi dari cinta, persahabatan, doa dan kontemplasi diperlukan untuk perkembangan yang otentik dan penuh.

C. Tindakan Yang Harus Dikerjakan

  1. Tujuan universal dari segala makhluk :

–       Allah memaksudkan bumi dan kekayaan agar dipergunakan oleh setiap orang. Semua hak lain harus diletakkan di bawahnya.

–       Hak milik pribadi tidaklah mutlak dan bukanlah hak yang tanpa syarat. Hak ini harus dilaksanakan demi kepentingan umum. Pemerintah harus menjamin hak ini. Kesejahteraan umum acap kali menuntut pengambilalihan kepentingan pribadi.

  1. Industrialisasi:

–       Industri itu perlu bagi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan.

–       Struktur kapitalisme, persaingan, keuntungan dan hak milik pribadi yang absolut tidaklah menguntungkan.

–       Industrialisasi dapat dipisahkan dari sistim kapitalisme.

  1. Mendesaknya tugas itu :

–       Terlalu banyak orang menderita; kesenjangan antara si kaya dan si miskin bertambah.

–       Dengan situasi ketidakadilan, jalan ke arah kekekarasan merupakan godaan besar.

–       Situasi sekarang ini harus dilawan dan diatasi.

–       Sikap hati-hati terhadap revolusi-revolusi; mungkin dihasilkan kesengsaraan yang lebih besar.

  1. Program dan Perencanaan:

–       Inisiatif orang perorangan dan persaingan bebas tidaklah cukup; program itu perlu.

–       Pemerintah harus memilih tujuan-tujuan atau sasaran dan merangsang kegiatan.

–       Pertumbuhan ekonomi tergantung pada kemajuan sosial; pendidikan yang lebih baik sangat diperlukan.

–       Orang-orang kristiani jangan menganut ajaran-ajaran yang didasarkan atas filsafat materialistis dan ateitis.

–       Bangsa-bangsa yang sedang berkembang hendaknya menghormati kebudayaannya sendiri.

–       Humanisme yang sempurna merupakan tujuan perkembangan.

Bagian II. Perkembangan dan Solidaritas

A. Bantuan Bagi Si Miskin

  1. Masalahnya: kelaparan, kekurangan gisi, terhalangnya pertumbuhan fisik dan mental.
  2. tanggapan menuntut kemurahan hati, pengorbanan dan usaha oleh si kaya: solidaritas yang menuntut biaya.
  3. Negara-negara maju hendaknya memberikan bantuan pendidikan dan dana.
  4. “Kemakmuran yang berkelimpahan dari engara-negara kaya hendaknya dipergunakan untuk membantu negara-negara miskin” (Par. 49).
  5. Rekomendasi-rekomendasi: dukungan dari organisasi pangan dan pertanian, (FAO) mendirikan dana dunia (uang dari lomba persenjataan untuk menolong kemelaratan). Kerjasama dan dialog yang meluas.
  6. Penghamburan negara dan pribadi merupakan suatu skandal yang tak dapat ditoleransi.

B. Keadilan dalam Hubungan Perdagangan.

  1. Masalahnya : negara-negara industri mengekspor terutama barang-barang pabrik, negara-negara berkembang mengekspor bahan-bahan mentah. Harga bahan-bahan pabrik melonjak; bahan-bahan baku tunduk pada naik turunya harga yang besar. Negara-negara berkembang mengalami kesulitan besar dalam menyeimbangkan ekonomi mereka.
  2. Perdagangan bebas tidak lagi mungkin untuk mengatur hubungan-hubungan internasional.
  3. Prinsip-prinsip dasariah dari liberalisme dipersoalkan.
  4. Mengutik Rerum Novarum untuk melihat bahwa jika posisi partai-partai yang mengadakan kontrak tidak sama, persetujuan tidak ada.
  5. Perdagangan bebas baik hanya jika diabdikan pada tuntutan-tuntutan keadilan sosial.
  6. Diskusi dan perundingan penting untuk mencapai kesamaan kesepakatan.
  7. Nasionalisme dan rasisme merupakan halangan utama bagi keadilan.

C. Cinta kasih Universal

  1. “Dunia sedang sakit” – kurang perhatian pada orang lain.
  2. Tugas manusia untuk menyambut kedatangan sesamanya, terutama orang muda dan para pekerja pendatang.
  3. Para usahawan di dalam negara-negara sedang berkembang hendaknya menjadi pelopor-pelopor kemjuan sosial dan kemajuan manusia.
  4. Dialog yang tulus dan efektif diperlukan.

Perkembangan merupakan nama baru bagi perdamaian

  1. Perdamaian dibangun setiap hari dalam menjaga ketertiban yang ditentukan oleh Allah.
  2. Kerjasama internasional dalam skala dunia bagi keadilan sangat dibutuhkan.
  3. Bangsa itu sendiri mempunyai tanggungjawab atas perkembangannya sendiri.
  4. Saat untuk bertindak adalah sekarang.
  5. Peran awam: “Menanamkan semangat Kristiani ke dalam mentalitas, adat istiadat, hukum dan struktur-stuktur” masyarakat dan bangsa mereka.
  6. Orang-orang Katolik harus mendukung usaha-usaha perkembangan dengan murah hati.
  7. Perdamaian tidak hanya soal tidak adanya peperangan.
  8. Berjuang melawan ketidakadilan adalah menegakkan kesejahteraan umum.

BELAJAR DARI SIKAP IMAN UMAT MUSLIM DALAM MENCIPTAKAN SUASANA SHYADU SHOLAT BERJEMAAH

BELAJAR DARI SIKAP IMAN UMAT MUSLIM

DALAM MENCIPTAKAN SUASANA SHYADU SHOLAT BERJEMAAH

Bagaimana dengan Sikap Iman Umat Katolik dalam merayakan Ekaristi?

Meski tidak begitu paham tentang ajaran Islam tentang jenis busana yang digunakan dan sikap iman jemaah dalam mengikuti sholat, tetapi setiap kali memperhatikan umat Islam dalam mengikuti sholat Jumat di Masjid dan di Mushola, saya merasa kagum terhadap sikap iman yang mereka tampilkan. Dari jenis busana dan sikap iman yang mereka tampilkan sungguh mempertahankan ciri khas keislaman yang nota bene sangat menunjang setiap jemaah masuk dalam suasana khusuk dan kosentrasi penuh dalam melakukan sholat.

Jenis busana yang dikenakan menghindari peluang “penampakan-penampakan tubuh” yang merusak kosentrasi jemaah dalam sholat. Sikap-sikap tubuh jemaah dalam sholat menyatakan keterlibatan aktif dari seluruh jemaah, suasana khusuk dan shyadu sangat terasa, dan tidak  pernah ada jemaah yang lebih dahulu pulang sebelum sholat berjemaah selesai.

Melihat suasana syaduh sholat berjemaah yang dibangun oleh umat Muslim melalui sikap iman yang baik dan benar menurut ajaran iman mereka, muncul rasa bangga terhadap umat muslim dan sekaligus terbersit sebuah pengandaian kecil di benakku, seandainya umat katolik di zaman sekarang  dalam merayakan Ekaristi menjunjung tinggi sikap-sikap iman yang baik dan benar menurut ajaran kekatolikan maka, suasana Ekrasiti menjadi suasana yang sangat menunjang seluruh umat untuk menghayati makna perayaan Ekaristi. Munculnya pengandaianku ini karena kenyataan membuktikan bahwa sikap-sikap iman umat dalam merayakan Ekaristi tampak semakin “semrawut”. Lihat saja, banyak umat yang datang terlambat tat kala Misa sudah dimulai dan sebaliknya banyak umat yang lebih dahulu meninggalkan Misa  meski Misa belum usai. Fakta “kesemrawutan” lainnya yaitu, kebanyakan umat menggunakan jenis busana yang menonjolkan kemolekan bagian-bagian tubuh tertentu, sehingga membuyarkan kosentrasi sesama umat yang tak sengaja melihatnya; Umat tidak terlibat aktif dalam menanggapi sapaan Imam, tidak membuka suaranya dalam menyanyikan lagu, tidak menampilkan sikap tubuh yang baik dan benar; Suasana gaduh pun sering terjadi karena bunyi Handphone yang lupa dimatikan, umat bercerita dan bersenda-gurau di saat Misa sedang berlangsung.

Bila fakta-fakta “kesemrawutan” tersebut tidak segera ditanggulangi secara serius maka secara perlahan-lahan umat tidak mampu lagi menimba kekayaan makna Ekaristi dan sebaliknya umat memandang Ekaristi sebagai perayaan biasa tanpa makna. Memang tampak sudah ada upaya untuk menyadarkan umat tentang sikap-sikap iman yang baik dan benar dalam merayakan Ekaristi tetapi, upaya penyadaran sering kali kurang ditanggapi dengan serius dan bahkan banyak umat yang merasa tersinggung terhadap upaya penyadaran. Seringkali upaya penyadaran tentang sikap iman yang baik dan benar dalam merayakan Ekaristi terbentur dengan konsep kebebasan umat. Akhirnya suasana “kesemrawutan” semakin tinggi frekuensinya. Dalam konteks ini dapat dikemukakan bahwa secara perlahan-lahan ancaman kepunahan dan kehampaan menggerogoti makna Ekaristi. Oleh karena itu, perlu adanya katekese yang tepat dengan metode-metode yang menarik untuk menyadarkan umat tentang sikap-sikap iman yang baik dan benar dalam merayakan Ekaristi.

Maka, pantas dikemukakan bahwa umat katolik perlu belajar dari umat Muslim tentang sikap iman yang baik dan benar dalam membangun suasana syahdu sholat berjemaah. Dengan kata lain, realita sikap iman umat muslim dalam membangun suasana syahdu sholat berjemaah dapat menjadi bahan rujukan bagi umat katolik tentang sikap iman yang baik dan benar dalam merayakan Ekaristi, sehingga semakin tercipta suasana syaduh perayaan Ekaristi yang membantu umat menghayati makna perayaan Ekaristi.

Resi.

YESUS BERANI MENUNTUT

Pastor C. Y. Bhom, MSC

Pastor C. Y. Bhom, MSC

YESUS BERANI MENUNTUT SESUATU

(Oleh: P. C.Y. Bhom, MSC)


1.1. YESUS MEMBEBASKAN dari:

–          Kuasa orang munafik

–          Ketidak-pengetahuan

–          Ketidak-sempurnaan Taurat

–          dosa dan pelbagai perbudakan →  sungguh membahagiakan

1. YESUS MENYELAMATKAN

Sering dalam pertemuan-pertemuan singkat saja

–          Yang sakit jadi sembuh

–          Yang “jatuh ke luar perahu”: Yesus ulurkan tangannya: “Untuk kamu juga Allah adalah Bapa” / “Pergilah dan jangan berdosa lagi…” / Iman telah menyelamatkan kamu”. Padahal, oleh orang Farisi dibiarkan saja.

–          Di mana orang datang pada Yoh.Pembaptis, di situ Yesus pergi kepada orang, mencari domba yang hilang, pemungut bea, wanita sundal, orang-orang biasa.

–          Yesus tidak ada administrasi, buku kas, rumah ibadat, planning, agenda… “Ia berjalan keliling sambil berbuat baik” (Petrus kpd. Cornelius). Hanya itu saja?

1. PENGHARGAAN YESUS TERHADAP ORANG / YESUS MENEGUHKAN ORANG / MEMBERIKAN PERCAYA DIRI. Diselidiki menurut:

Injil & Bab

ayat

Injil & Bab

ayat

Luk 5 10 Yoh 4 7b (cf. 27!)
Luk 7 9. 24. 50 Yoh 12 7
Luk 8

Luk 10

48

18 dst., 28. 42

Luk 11 13. 28
Luk 12

Yoh 11

24

5

Yoh 1 39. 43. 47
Mrk 12 17. 34. 43

Membaca Yoh 9 dengan membagi rol:

  1. Pencerita                                 g.  si buta
  2. Yesus                                      h.  farisi 1 (ay 16a. 19. 28-29)
  3. murid-murid                            i.   farisi 2 (ay 16b. 24. 34)
  4. tetangga 1 (ay.8)                     j.   farisi 3  (ay 17. 26. 40)
  5. tetangga 2 (ay 9a)                   k.  orang tua si buta
  6. tetangga 3 (ay 9b)

Dapat dibahas:

  1. Salah-faham apa yang diungkapkan dalam ay 2 ?
  2. Apa arti jawaban Yesus dalam ay 3 ?
  3. Dalam ay 5 kita teringat akan…? (Yoh 1)
  4. Si buta ada percaya atau tidak?
  5. Apa soalnya bahwa itu H.Sabat?
  6. Pada dua cara mana orang Farisi coba menyangkal mukjizat itu?
  7. Apa relevansi bagi kita? Kita hadir di mana dalam berita ini?

Tulisan Para Dosen

Pastor Bhom bersama mahasiswa

Pastor Bhom bersama mahasiswa

KITAB SUCI SUMBER KEHIDUPAN

(Oleh: P. CORNELIS JOHANNES BöHM, MSC)

1.1. KITAB SUCI SEBAGAI INKARNASI SABDA ILAHI

Apa yang membedakan KS dari buku-buku lain? Untuk orang beriman yang membacakannya, ada dimensi atau arti lebih mendalam daripada sembarangan buku atau teks.

Dalam teks yang kita baca itu, selalu dapat dicari suatu realita yang tersembunyi di dalamnya, yang seakan-akan tunggu ditemukan oleh yang membacakannya dan mau merenungkannya.

Apa yang menjadi kekayaan suatu teks selain apa yang langsung dapat kita tangkap bila membacanya? Selain apa yang secara langsung kita mengerti, apa lagi yang dapat kita simak pada suatu teks? Kitab Suci memang bukan sembarangan bacaan. Kitab Suci adalah pembahasan tentang hal-hal yang sebenarnya terlalu besar dan agung untuk dapat diungkapkan dengan kata-kata insani. Dapatkah kata-kata harian itu menyingkapkan suatu misteri yang begitu agung? Dengan cara mana kata-kata manusia itu sekaligus dapat baik menyembunyikan maupun menyingkapkan misteri keselamat-an itu?

Kitab Suci adalah inkarnasi (penjelmaan) Sabda Allah (yaitu Allah Putera) dalam kata-kata manusia. Sabda Abadi dari Allah Bapa menjadi perkataan manusia, agar supaya manusia sanggup mengerti Sabda Allah itu. Sabda mengubahkan diri menjadi kata-kata. Sang Kebenaran menyetujui untuk dipantulkan dan dipecah-pecahkan menjadi banyak kebenaran.

Jadi menurut Kebijaksanaan Ilahi, Sabda itu “merendahkan diri”: bersembunyi dalam sebuah kitab. Sebetulnya tidak berbeda jauh dari pengosongan diri dari Sang Sabda ketika menjadi manusia (kenosis). Yesus berkata: “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25).

Kata-kata insani dari Kitab Suci dipergunakan untuk memuat realitas ilahi, tetapi membeku untuk selama-lamanya dalam suatu bentuk konkrit, seperti halnya dengan segala-galanya di bumi ini. Yaitu dipaku pada suatu situasi berupa tempat dan masa, dalam suatu kebudayaan tertentu, diungkapkan dalam bahasa dan bentuk sastra tertentu. Perkataan-perkataan itu ditulis oleh manusia, kemudian diterjemahkan, dan disebarluaskan melalui jalur-jalur komunikasi tertentu. Allah meng-izinkan itu semua dengan senang hati tetapi tanpa membiarkan diri dikurungi olehnya: Allah berke-nan bersembunyi dalam sebuah buku!

Nah, isi melebihi pembungkusannya. Pembungkusannya dalam hal ini adalah kata-kata yang tercetak di situ. Misteri yang tersembunyi di dalam cetakan itu, lebih agung daripada buku itu sendiri. Dengan demikian jelaslah bahwa Kitab Suci itu tidak sama dengan Sabda Allah! Pesan Allah akan timbul dalam hati orang yang mendalami dan merenungkan kata-kata yang tertulis di situ. Karena itu pun kita selalu katakan – berbeda dengan Al Quran – bahwa Kitab Suci itu sendiri bukanlah wahyu, melainkan suatu kesaksian (yang tentu sangat berharga) tentang wahyu itu.

Kitab Suci itu bagaikan “tabernakel dari Sabda Allah”. Melaluinya Allah-yang-jauh itu menjadi Allah-yang-dekat. Allah sendiri, melalui Musa, bersabda dalam Kitab Ulangan kepada umatNya: “Perintah yang Kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: ‘Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?’ Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: ‘Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?’ Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:11-14).

1.2. CIRI-CIRI SAKRAMENTAL

St. Yohanes berkata dalam Injilnya: “Sabda telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita”. Misteri itu kita sebut penjelmaan (inkarnasi) Allah Putera menjadi manusia.

–          Dalam inkarnasi itu, Yesus diselubungi dalam rupa daging (kemanusiaanNya)

–          Dalam Ekaristi Ia diselubungi dalam rupa roti dan anggur

–          Demikian pula dalam Kitab Suci Ia diselubungi dalam rupa kata-kata.

Konsili Vatikan II secara khusus menekankan paralel (kesejajaran) antara Sabda Allah dan Ekaristi, dan menggarisbawahi ciri sakramental Kitab Suci dengan kata-kata ini: “Gereja telah senantiasa menghormati Tulisan Ilahi, sama seperti ia menghormati Tubuh Tuhan, karena, terutama dalam Liturgi, dengan tak henti-hentinya Gereja menerima dan menawarkan kepada kaum beriman roti kehidupan berupa baik Sabda Allah maupun Tubuh Kristus” (Dei Verbum no. 21). St.Hieronimus (347 – 420) menulis: “Sabda Allah itu adalah sungguh makanan dan sungguh minuman”.

Kitab Suci dan Sakramen Ekaristi adalah bagaikan dua bejana, yang masing-masing menjamin kenangan akan Yesus. Karya keselamatan Allah disebarluaskan melalui sabda Kitab Suci, dan di-terapkan melalui perayaan Sakramen-Sakramen. Perintah “Pergilah dan wartakanlah” (Mat 28:19) tak terpisahkan dari perintah “Buatlah ini untuk mengenangkan Daku” (Luk 22:19).

Ciri sakramental Kitab Suci juga menjadi nyata dalam dayanya untuk menghasilkan buah yang melampaui daya tangkap atau kemampuan dari orang yang membacanya. “Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun” (Ibr 4:12). Sabda Allah seperti hujan dan salju, yang tidak kembali ke langit sebelum mengairi bumi dan membuatnya berbuah (lih. Yes 55:10-11). Konstitusi Dei Verbum dari Konsili Vatikan II menyatakan: “Dalam Kitab-Kitab Suci, daya dan kuasa Sabda Allah demikian besar, sehingga berdiri tegak sebagai penopang bagi Gereja dan kekuatan iman bagi putera-puteranya…” (DV no. 21).

Pada Sakramen-Sakramen, tanda-tanda nyata ini tidak menghasilkan keselamatan secara otomatis, melainkan harus disadari dan dihayati. Demikian pula Sabda Allah yang tercantum dalam Kitab Suci tidak berkarya secara magis, melainkan hanya sejauh disambut dalam hati yang mau mende-ngar, terutama melalui pendengaran suatu komunitas, ialah sejumlah orang beriman yang berkumpul dalam ibadat/liturgi. Kitab Suci selama terletak dalam lemari, beristirahat di situ bagaikan di sebuah kubur, menunggui dibangkitkan melalui seorang yang mengangkatnya, membukanya dan membacakannya, tepatnya seorang yang beriman. Perjumpaan iman dengan Kitab Suci membuka Sabda yang hidup bagi pembacanya dan serentak menghidupkan teks suci itu. Kelahiran-kembali itu ter-utama terwujudlah dalam perayaan liturgi. Di situ berlakulah sabda Kristus ini: “Hari ini sabda Kitab Suci ditepati” (Luk 4:21). Karena itu tanggung jawab seorang Lektor sangat besar: ia harus sungguh menyelami dan merenungkan teks itu sebelum berani mengantarkannya kepada jemaat yang terkumpul itu!

Bagaimana dapatlah kita mengerti ciri sakramental Kitab Suci itu?… St.Fransiskus dari Asisi pernah mendengar kata-kata Kristus yang berikut ini dibacakan: “Yesus mengutus kedua belas muridNya berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan kecuali tongkat; roti pun jangan, bekal pun ja-ngan, uang dalam ikat pinggang pun jangan” (Mrk 6:7-8). Fransiskus merasa terpesona luarbiasa pada mendengar kata-kata itu. Kemudian ia pun melaksanakan itu secara harafiah, menjadi miskin total. Pater Jules Chevalier, pendiri Tarekat MSC dan PBHK, merasa terpesona sampai pada lubuk hatinya pada membaca kata-kata dari Surat pertama Yohanes ini: “Kita telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (1 Yoh 4:16). Mungkin kita semua mempunyai teks-teks kesayangan yang menjadi tonggak kekuatan bagi kita. Kalau satu kata atau satu kalimat sudah bisa berpengaruh begini, betapa banyak boleh diharapkan dari seluruh isi KS itu! Bagi banyak orang pembacaan Kitab Suci dialami sebagai suatu sentuhan oleh Allah, seperti Nabi Elia merasa diri disentuh oleh ‘angin sepoi-sepoi basa’ (1 Raj 19:12-13).

Bagaimana kita akan mengerti pesan Kitab Suci? Bagaimana menggapai sabda Allah kepada kita? Apakah Kitab Suci mau menyampaikan kepada kita sejumlah pokok kebenaran, sejumlah perintah,  sejumlah laporan dan berita begitu saja, termasuk riwayat hidup dari Yesus dan orang tertentu lain? Bandingkan: kata-kata yang saya baca dalam surat Mama saya, apakah itu sama saja dengan kata-kata dari suatu buku pelajaran atau sebuah novel? Tidakkah Mama sendiri sepertinya hadir dalam kata-kata yang dia tulis itu? Tidakkah hanya sayalah yang tersentuh hati pada membaca apa yang ditulisnya?

Demikian pula Sabda Allah ini hanya bermakna bagi orang yang mengenal Allah. Saya rela mengaku bahwa dalam “Berita” dari Allah itu mau disampaikan kepadaku hal-hal yang ajaib, yang melebihi daya tangkapku. St.Paulus beritahukan bahwa pernah ia diangkat ke tingkat ketiga dari surga; di situ ia mendengar “kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia” (2Kor 12:2-4). Pengalaman seperti itu bisa terjadi bila orang mendalami Kitab Suci sebagai orang beriman, berarti sebagai orang yang hidup dekat dengan Tuhan. Ia akan mengerti bahwa Allah membuka diri bagi si pembaca itu melalui gambaran dan simbol. Misalnya orang yang menafsirkan Kisah Penciptaan secara harafiah, tidak menangkap pesan Tuhan. Demikian pula orang yang me-ngira bahwa setan menempatkan Yesus secara betul-betul di atas puncak sebuah gunung (Mat  4:8). Jelaslah dalam banyak hal Kitab Suci berbicara secara simbolis, yaitu melalui gambaran-gambaran, yang bukan dimaksudkan untuk diartikan secara harafiah: sebab bila diartikan secara harafiah, kita tidak menemukan pesan yang sebenarnya, tidak “menyelam” ke dalam teks.

1.3. KITAB SUCI HARUS DIMINUM DAN DISANTAP

Konstitusi Dei Verbum menyatakan bahwa “Kitab Suci adalah mata air kehidupan yang tak pernah habis” (DV no. 25). Kitab Suci – baik dalam Kitab Suci sendiri maupun dalam tulisan-tulisan para Bapak Gereja di zaman dulu-dulu – sering disebut sebuah mata air, dari dalamnya timbul air murni dan segar. Nabi Yesaya, misalnya, menyatakan: “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air…; sendengkanlah telingamu dan datanglah kepadaKu; dengarkanlah, maka kamu akan hidup” (Yes 55:1-3). Dalam Perjanjian Baru, mata air itu adalah Yesus serta anugerah keselamatan yang dibawa sertaNya, secara khusus anugerah berupa sabdaNya yang termuat dalam Kitab Suci. Kata St.Ambrosius (334 – 397): “Minumlah dari mata air Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, karena pada masing-masing kamu minum Kristus”. Yesus berkata: “Barangsiapa haus, mari ia datang kepadaKu dan minum!” (Yoh 7:37). Bdk. IM no. 272: “Hati Yesus, Hati Tuhan kami, mata air jiwa yang lemah…” dst.

Kitab Suci pun adalah “santapan jiwa” (DV no. 21). Suatu teks terkenal dari kitab Ulangan adalah kata-kata Musa kepada umat Israel ini: “Tuhan merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna… untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan” (Ul 8:3). Yesus sendiri pun mengutip ayat ini ketika mau digodai setan (Mat 4:4). Bdk. IM no. 47.

Kitab Suci menyesuaikan diri dengan dia yang menyantapnya (manusia yang membacanya), tetapi dari segi lain Kitab Suci pun sanggup mengubahkan dan membentuk orang sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Jadi, seperti halnya dengan roti Ekaristi, Kitab Suci meresapi orang yang menyantapnya. Hal ini kentara sekali dalam kisah panggilan beberapa orang nabi, secara sangat khusus pada nabi Yehezkiel. Allah menyuruh dia makan gulungan kitab dengan berkata: “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan kepadamu ini dan isilah perutmu dengan itu” (Yeh 3:3). Hanya dengan jalan itu, setelah diresapi Sabda Allah, sang nabi dapat berbicara dalam nama Tuhan. Dan nabi Yeremia berseru dengan penuh gembira: “Aku bertemu dengan perkataan-perkataanMu dan aku memakannya; firmanMu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku.” (Yer 15:16).

Kitab Suci sering dibandingkan dengan api. Yesus berkata: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi, dan betapa Aku harapkan, api itu menyala!” (Luk 12:49). Ini menjadi suatu pengalaman antara lain dari Kleopas dan temannya di jalan ke Emaus: “Hati mereka berkobar” ketika Yesus menjelaskan Kitab Suci bagi mereka (lih. Luk 24:32).==

PENYEMBUHAN SEORANG BUTA

Injil menurut St.Markus 8:22-26

22 Pernah Yesus dan murid-muridNya datang di desa Betsaida.

Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta.

Mereka memohon kepadaNya, supaya Ia menjamah dia.

23 Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia keluar kampung.

Lalu dengan ludah Ia membasahi mata orang itu

dan meletakkan tanganNya atas dia, dan bertanya:

“Sudahkah bisa engkau melihat sesuatu?”

24 Orang itu memandang ke depan, lalu  berkata:

“Aku melihat orang, sebab aku melihat mereka berjalan-jalan,

tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.”

25 Yesus meletakkan lagi tanganNya pada mata orang itu,

lalu dia itu sungguh-sungguh dapat melihat dan telah sembuh,

sehingga ia melihat segala sesuatu dengan jelas.

26 Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata:

“Jangan masuk ke kampung!”

MAZMUR 139

1       Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku:

2 Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri,

Engkau mengerti pikiranku dari jauh.

3  Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring,

segala jalanku Kaumaklumi

4  Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan.

5  Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku,

dan Engkau menaruh tanganMu ke atasku.

6  Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu,

terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

7  Ke mana aku dapat pergi menjauhi RohMu,

ke mana aku dapat lari dari hadapanMu?

8  Jika aku mendaki ke langit, Engkau ada di sana;

jika aku menaruh tempat tidurku di dunia

orang mati, di situ pun Engkau berada.

9  Jika aku terbang dengan sayap fajar,

dan membuat kediaman di ujung laut,

10juga di sana tanganMu akan menuntun aku,

dan tangan kananMu memegang aku.

11Jika aku berkata: “Biar kegelapan saja me- lingkupi aku,

dan terang sekelilingku menjadi malam”,

12    maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagiMu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.

13    Sebab Engkau yang membentuk buah pinggangku,

menenun aku dalam kandungan ibuku.

14    Aku bersyukur kepadaMu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib;

ajaib apa yang Kaubuat,

dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

15    Tulang-tulangku tidak terlindung bagiMu,

ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;

16    mataMu melihat selagi aku bakal anak,

dan dalam kitabMu semuanya tertulis:

hari-hari yang akan dibentuk,

sebelum ada satu pun dari padanya.

17    Dan bagiku, betapa sulitnya pikiranMu, ya Allah!

Betapa besar jumlahnya!

18    Jika aku mau menghitungnya, itu lebih ba-nyak daripada pasir.

Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.

23     Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku,

ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;

24     lihatlah apakah jalanku serong,

dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!