P L U R A L I S M E

Pastor Agus

P L U R A L I S M E

  1. PENGERTIAN PLURALISME

Pluralisme adalah suatu paham atau pandangan hidup yang mengakui dan menerima adanya “KEMAJEMUKAN” atau “KEANEKARAGAMAN” dalam suatu kelompok masyarakat. Kemajemukan dimaksud misalnya dilihat dari segi agama, suku, ras, adat-istiadat, dll. Segi-segi inilah yang biasanya menjadi dasar pembentukan aneka macam kelompok lebih kecil, terbatas dan khas, serta yang mencirikhaskan dan membedakan kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, dalam suatu kelompok masyarakat yang majemuk dan yang lebih besar atau lebih luas. Misalnya masyarakat Indonesia yang majemuk, yang terdiri dari pelbagai kelompok umat beragama, suku, dan ras, yang memiliki aneka macam budaya atau adat-istiadat. Begitu pula masyarakat Maluku yang majemuk, ataupun masyarakat Aru yang majemuk.

Menerima kemajemukan berarti menerima adanya perbedaan. Menerima perbedaan bukan berarti menyamaratakan, tetapi justeru mengakui bahwa ada hal atau ada hal-hal yang tidak sama. Menerima kemajemukan (misalnya dalam bidang agama) bukanlah berarti bahwa membuat “penggabungan gado-gado”, dimana kekhasan masing-masing terlebur atau hilang. Kemajemukan juga bukan berarti “tercampur baur” dalam satu “frame” atau “adonan”. Justeru di dalam pluralisme atau kemajemukan, kekhasan yang membedakan hal (agama) yang satu dengan yang lain tetap ada dan tetap dipertahankan.

Jadi pluralism berbeda dengan sinkritisme (penggabungan) dan assimilasi atau akulturasi (penyingkiran). Juga pluralisme tidak persis sama dengan inkulturasi, kendati di dalam pluralisme atau kemajemukan bisa terjadi inkulturasi dimana keaslian tetap dipertahankan.

2. DASAR PLURALISME (PENERIMAAN KEMAJEMUKAN)

2.1. DASAR FILOSOFIS : KEMANUSIAAN

Penerimaan kemajemukan dalam paham pluralisme adalah sesuatu yang MUTLAK, tidak dapat ditawar-tawar. Hal ini merupakan konsekwensi dari kemanusiaan. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang mempunyai harkat dan martabat yang sama, mempunyai unsur-unsur essensial (inti sari) serta tujuan atau cita-cita hidup terdalam yang sama, yakni damai sejahtera lahir dan batin. Namun dari lain sisi, manusia berbeda satu sama lain, baik secara individual atau perorangan maupun komunal atau kelompok, dari segi eksistensi atau perwujudan/pengungkapan diri, tata hidup dan tujuan hidup.

Sedangkan secara faktual dan historis, manusia yang sama secara essensial dan berbeda secara eksistensial itu pada hakekatnya adalah makhluk sosial yang hidup bersama, saling membutuhkan, dan saling tergantung satu sama lain, baik secara perorangan/individual maupun secara kelompok/komunal. Oleh sebab itu suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kemajemukan harus diterima karena dan demi kemanusiaan. Pluralisme atau adanya dan penerimaan akan kemajemukan merupakan konsekwensi dari kemanusiaan.

Adanya kemajemukan merupakan suatu fakta sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang tidak dapat ditolak dalam sejarah hidup manusia, baik secara lokal maupun nasional dan internasional.

2.2.  DASAR SOSIAL KEMASYARAKATAN DAN BUDAYA

Pengakuan akan adanya dan penerimaan akan kemajemukan merupakan KONSEKWENSI DAN KONSISTENSI KOMITMEN sosial maupun konstitusional sebagai suatu masyarakat (suku, bangsa, bahkan dunia), yang berbudaya.

Karena kemajemukan merupakan konsekwensi dari hakekat manusia sebagai makhluk sosial, yang dari satu segi memiliki kesamaan essensial tetapi dari lain segi ada perbedaan eksistensial, maka pada hakekatnya adanya dan kekhasan atau identitas suatu kelompok masyarakat (entah lokal, nasional, dan internasional) akan hilang bila tidak ada atau ditiadakan atau ditolak kemajemukan. Jadi kemajemukan merupakan unsur penentu bagi adanya dan kekhasan dari suatu masyarakat. Oleh sebab itu dalam sejarah pembentukan dan kehidupan setiap kelompok masyarakat senantiasa ada kesadaran dan pengakuan akan adanya kemajemukan, serta ada komitmen untuk menerima dan tetap mempertahankan kemajemukan secara konsekwen dan konsisten.

Misalnya sejarah perjuangan kehidupan masyarakat Indoensia, baik secara lokal maupun nasional, telah dicirikhaskan dengan kesadaran akan adanya serta komitmen akan penerimaan kemajemukan secara konsekwen dan konsisten. Sumpah Pemuda serta pelbagai macam perjuangan untuk mendirikan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari masa ke masa merupakan fakta sejarah nasional bangsa Indonesia akan adanya serta komitmen untuk menerima dan mempertahankan kemajemukan masyarakat Indonesia. Begitu pula Pancasila dan UUD 45 mencerminkan kesadaran, komitmen, pandangan hidup serta sikap hidup yang sama. Pancasila dan UUD 45 merupakan bukti konstitusional nasional tentang pluralisme di Indonesia.

2.3.  DASAR TEOLOGIS

Dalam suatu masyarakat agamawi – seperti masyarakat Indonesia –, kendati ada pelbagai macam agama yang berbeda dalam pelbagai aspek atau unsur-unsurnya, namun kemajemukan seyogyanya harus diterima, sebagai konsekwensi dari nilai-nilai luhur dan gambaran “Sang Ilahi” (Allah) yang maha baik serta cita-cita atau tujuan mulia dari setiap agama dan para penganutnya.

Dari hasil kajian, misalnya oleh ilmu perbandingan perbandingan agama-agama, dapat kita ketahui bahwa:

–       Dari satu segi ada kesamaan. Misalnya dalam setiap agama ada gambaran dan ajaran tentang “Sang Ilahi” (“Allah” atau sebutan lainnya) sebagai yang maha baik, maha sempurna, maha kuasa, asal dan tujuan hidup akhir dari manusia dan segala sesuatu yang baik. Juga ada gambaran tentang “surga”, kebahagiaan, ketenteraman, damai sejahtera, dll yang merupakan cita-cita dan tujuan akhir hidup setiap orang.

–       Dari segi lain ada rupa-rupa perbedaan karena adanya perbedaan persepsi serta keterbatasan manusia dalam upaya “mendalami” dan memahami serta menjalin hubungan dengan “Sang Ilahi” yang tidak terbatas dan tidak terjangkau daya tangkap insani manusia.

Oleh sebab itu timbullah aneka macam iman kepercayaan dan agama. Maka sudah seyogyanya kemajemukan agama harus diterima, sebagai konsekwensi dari adanya iman dan agama.

3. KONSEKWENSI DAN MANFAAT DARI PLURALISME (Adanya dan Penerimaan Kemajemukan)

Dengan adanya dan penerimaan akan kemajemukan, maka dengan sendirinya harus :

  1. Ditolak pelbagai paham, sikap dan praktek hidup yang mengandung unsur-unsur diskriminasi, fanatisme, premordialisme dan kekerasan atau terorisme.
  2. Dijamin penuh kebebasan dan keadilan.
  3. Setiap kelompok (maupun oknum anggota kelompok) yang berbeda SALING :

–       Memberi ruang atau kesempatan untuk mewujudkan dan mengembangkan “diri”nya dan cita-cita atau tujuan hidupnya masing-masing sebagaimana adanya dan mestinya.

–       Menghargai / menghormati.

–       Belajar untuk memahami dengan lebih baik.

–       Menunjang dan memperkaya.

  1. Perbedaan tidak perlu dan tidak boleh dilihat dan dijadikan sebagai “sumber” pertentangan dan perpecahan, tetapi sebagai kekayaan dan pendorong untuk kerukunan dan perdamaian serta kesatuan dan kerjasama.
  2. BEBERAPA KEBUTUHAN / CARA UNTUK MEMELIHARA KEMAJEMUKAN
  3. Secara Internal :
  4. Penguatan internal melalui :

–       Pendalaman dan pemahaman identitas sendiri dengan lebih tepat, mendalam dan lengkap;

Misalnya: apabila seseorang atau sekelompok umat beragama mempunyai pemahaman yang salah, atau keliru dan tidak lengkap tentang agama dan iman yang diwarisi, akan menimbulkan penyimpangan dan ekstrimisme atau fanatisme yang salah, baik pada tataran konsep atau pemahaman dan keyakinan (batiniah) maupun pada tataran praksis atau sikap dan tindakan dalam hidup (lahiriah). Hal ini tentu akan sangat mengganggu keharmonisan, kerukunan, toleransi, ketenteraman, kedamaian, persekutuan dan kerjasama dalam antar maupun inter umat umat beragama. Kemajemukan akan terganggu dan sulit diterima oleh orang-orang sedemikian. Oleh sebab itu pendalaman agama dan iman secara tepat dan lengkap.

–       Pendewasaan dan peningkatan kwalitas diri (sebagai manusia pada umumnya maupun secara khusus sebagai orang beragama dan beriman, beradat dan berbudaya, berakhlak dan bermoral, berbangsa dan bernegara) melalui pengajaran, pelatihan dan pembinaan untuk meningkatan penetahuan, ketrampilan dan kepribadian, dengan penekanan pada pengakaran nilai-nilai hidup (kemanusiaan, keagamaan/keimanan, kebudayaan, dan kemasyarakatan/ kenegaraan) serta penerapannya dalam parktek hidup sehari-hari.

Bila orang sungguh-sungguh memiliki nilai-nilai hidup (misalnya kemanusiaan dan keagamaan serta keimanan) secara benar, utuh, mendalam, konsekwen dan konsisten, dalam arti memahami, menghayati dan mengamalkan atau mewujudkan nilai-nilai tersebut secara memadai, matang dan baik kepribadiannya dari pelbagai aspek, maka keharmonisan, kerukunan, kedamaian, persatuan dan kerjasama dalam kemajemukan akan terjamin selalu.

– Revitalisasi (pemantapan “diri”, posisi, peran/fungsi/makna) melalui: introspeksi, koreksi atau pembaharuan, pelestarian dan pengembangan internal secara kontekstual dan berkelanjutan.

Sistem-sistem nilai dan praktek hidup seperti agama, adat-istiadat dll pada dasarnya bersifat fungsional dan kontekstual dalam sejarah hidup manusia yang berubah dari masa ke masa. Oleh sebab itu hal-hal tersebut yang membuat adanya kemajemukan dalam suatu masyarakat senantiasa perlu diteropongi secara kritis dari dalam, dikoreksi dan diperbaharui, dilestarikan dan dikembangkan secara kontekstual dan berkelanjutan seiring sejalan dengan perubahan zaman. Hal ini mutlak perlu agar sistim-sistim yang ada mempunyai tempat dan makna serta berdaya-guna dalam kehidupan manusia secara memadai.

  1. Secara Eksternal :
  2. Pengenalan/pendalaman dan pemahaman satu sama lain melalui dialog (komunikasi), keterbukaan dan proses belajar timbal balik, secara proporsional.
  3. Membangun hidup bersama yang rukun dan toleran dalam suasana persaudaraan lintas kelompok yang berbeda secara berkelanjutan.
  4. Menanamkan dan mengembangkan kejujuran, ketulusan dan kepercayaan satu sama lain.
  5. Mencari dan mengembangkan bersama “simpul” kerukunan dan kesatuan dalam kemajemukan.
  6. Mengembangkan solidaritas soslal dan persaudaraan sejati lintas kelompok yang berbeda (agama, suku, ras, dll) dalam tindakan konkrit atau praktek hidup yang nyata dan aktual.
  7. Membangun kerjasama lintas kelompok yang berbeda dalam bidang pendidikan (pengajaran, pelatihan dan pembinaan formal maupun non-fromal), ekonomi, sosial karitatif, sosial budaya dan politik.
Iklan

5 Tanggapan

  1. Pluralisme seperti inilah yang saya maksud.

  2. pas mantap saya jd semakin mengerti apa itu pluralisme

  3. Faham2 Metafisika, disini lebih jelasnya bos http://elang-majalengka.blogspot.com/

  4. Thanks for ur article

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: