Renungan Hari Kenaikan dan Pantekosta

KENAIKAN DAN PENTEKOSTA

  1. KENAIKAN YESUS

Sebelum Bacaan Pada kesempatan Kenaikan-Nya ke surga, berakhirlah kehidupan Yesus yang unik di tengah-tengah umat manusia.   Para pengikut-Nya  akan  meneruskan

hidup-Nya sebagai “Tubuh Mistik”. Yesus sendiri tetap Kepala Tubuh Mistik itu. Ia akan me-nyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman.

Bacaan Kisah para Rasul 1:1-14    Roh Kudus dijanjikan

Renungan Dengan mulia Yesus kembali ke surga. Bagi kita suatu saat untuk melihat kembali seluruh kehidupan Yesus.  Sebab kitalah yang harus melanjutkan hi-

dup dan karya Yesus; maka perlulah kita memperhatikan pokok-pokok penting karya, sabda dan kehidupan Yesus. Pasti para rasul bersama Maria telah membuat hal yang sama pula, seperti kita dengar dalam bagian terakhir bacaan tadi, yaitu :

“Mereka bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama,

dengan beberapa wanita dan Maria, ibu Yesus,

dan dengan saudara-saudara Yesus”.

Pasti banyak peristiwa yang terjadi sejak dahulu, diceritakan kembali pada kesempatan itu, baik oleh para rasul, maupun oleh Maria dan hadirin yang lain.

Beginilah dapat kita ringkaskan hidup Yesus:

  • Ia lahir di sebuah kampung, bernama Betlehem, dalam sebuah kandang hewan. Ibu-bapanya adalah orang biasa-biasa saja.
  • Ia dibesarkan di sebuah kampung lain, Nazaret namanya.
  • Ia bekerja di bengkel kayu ayahnya sampai umur tiga puluh tahun.
  • Kemudian selama tiga tahun Ia menjadi seorang Rabi, yang berjalan keliling dari kampung ke kampung.
  • Ia tidak pernah mengarang sebuah buku.
  • Ia tidak berumah tangga, dan tidak mempunyai rumah.
  • Ia tidak pernah ikut kuliah.
  • Ia tidak pernah pergi sejauh tiga ratus kilometer dari tempat kelahiran-Nya.
  • Ia tidak pernah dianggap termasuk kalangan orang besar.
  • Tentang perutusan-Nya tidak ada SK selain kesaksian Yohanes Pemandi.
  • Sesudah tiga tahun, pendapat umum ternyata makin anti Dia.
  • Beberapa teman yang tadinya setia, pada suatu ketika meninggalkan Dia sendirian menghadapi orang-orang yang mau membinasakan-Nya.
  • Ia diadili berlawanan dengan segala keadilan.
  • Ia dipaku pada sebatang kayu di tengah dua orang perampok.
  • Sementara Ia dalam sakrat maut, para algoju memperundikan pakaian-Nya, ialah satu-satunya kepunyaan-Nya di dunia ini.
  • Setelah meninggal, Ia dikuburkan di sebuah makam yang diberi pinjam oleh seorang kawan yang berbelas kasih.
  • Sejak terjadinya semua peristiwa itu sudah berlangsung lebih dari 19½ abad.

Dan pada saat ini Ia merupakan tokoh yang terpenting bagi bangsa manusia, penuntun kemajuan jasmani dan rohani umat manusia.

Semua bala tentara dan semua armada kapal laut yang telah dikerahkan sejak waktu itu; semua sidang Perwakilan Rakyat yang diadakan sejak waktu itu; semua raja dan presiden yang berkuasa sejak waktu itu, dijumlahkan bersama: TIDAK TELAH MEMPENGARUHI HIDUP MANUSIA DI DUNIA DALAM UKURAN SEPERTI PENGARUH HIDUP MANUSIA YANG UNIK INI: YESUS DARI NAZARET.

  1. SURGA ITU DI MANA?

Bacaan 2 Korintus 12:1-6  Paulus menerima penglihatan dan penyataan (St.Paulus berkata:…)

Renungan Santo Paulus memberitakan tentang suatu pengalaman ajaib yakni bahwa pernah ia diperkenankan mengintip ke surga …

Surga itu penuh misteri. Dalam Perjanjian Lama, Kitab Kedua Raja-Raja, kita membaca tentang  seorang nabi terbesar yakni nabi Elia. Namanya “Elia” berarti “Yahwe adalah Tuhan”. Dan memang itulah perjuangannya yaitu: mengantar kembali bangsa Israel kepada Allah yang benar; mereka harus membuang segala sembah-sujud kepada berhala-berhala, membuang juga segala percaya sia-sia. Banyak tanda ajaib yang Elia kerjakan. Ketika ia sudah tua, ia memilih seorang untuk melanjutkan karyanya, ialah seorang petani bernama Elisa.

Pada suatu saat ia mengajak Elisa untuk bersama menuju ke sungai Yordan. Sesampai di situ, Elia menggulung bajunya, lalu dipukulkannya ke atas air itu. Maka air dari atas berhenti meng-alir, sehingga mereka berdua dapat berjalan ke seberang, lewat tanah yang kering. Sesampai di seberang, terjadilah suatu peristiwa luarbiasa, yaitu: tiba-tiba datanglah sebuah kereta berapi yang ditarik oleh kuda-kuda ber-api. Elia naik kereta itu lalu dibawa ke surga dalam angin badai.

Peristiwa itu sungguh mengagetkan. Ke mana Elia itu? Hal yang sama dapat kita bertanya tentang Tuhan Yesus ketika naik ke surga: Ke manakah Yesus waktu itu? Atau dengan kata lain: apakah surga itu suatu tempat di angkasa? Astronaut Rusia Joeri Gagarin, yang dalam tahun 1961 sebagai pertama naik ke angkasa, melapor bahwa di angkasa itu ia tidak menemukan Tuhan Allah! Memang Gagarin seorang ateis!

Tentang surga itu kita hanya meraba-raba. Surga itu bukanlah suatu tempat. Jelaslah surga itu adalah suatu keadaan yang agung, yang jauh melampaui pengertian manusia. Karena itu Elia, dan juga kemudian Tuhan Yesus, meninggalkan tanda itu bagi kita. Surga itu ada di mana Tuhan berada. Pada saat kematiannya, para pilihan Allah diterima dalam pelukan cinta Allah. Mereka melanjutkan hidupnya dalam dunia yang tidak diciptakan, mereka dipeluk dalam kasih Allah.

  1. LAHIR DARI AIR DAN ROH

Bacaan Yohanes 3:1-13       Percakapan dengan Nikodemus

Renungan AIR mempunyai dua sifat yang saling bertentangan, yaitu:

  • Dari satu segi air dapat MEMBINASAKAN.
  • Tetapi dari segi lain air dapat juga MENGHIDUPKAN.

Ombak di laut membahayakan orang-orang yang berada di kapal. Banjir dapat mendatangkan malapetaka kepada manusia. Waktu air bah, musnahlah semua manusia dan segala hewan.

Sebaliknya bila turunlah hujan pertama sesudah musim kemarau, maka ladang dan kebun yang kering dan tandus, mulai SUBUR kembali dan dapat menjamin kembali kehidupan manusia. Bila sesudah bekerja dan berkeringat, akhirnya kita sempat untuk MANDI, maka kita merasa seakan-akan hidup kembali. Demikian pula bila air itu kita manfaatkan untuk menghilangkan rasa HAUS. Maka tidak mengherankan bahwa air sungguh menjadi tanda dan lambang KEHIDUP-AN.

Sedikit sama halnya dengan ANGIN:

  • Angin dapat BERBAHAYA: rumah dapat roboh karena kekuatan taufan, perahu pun dapat tenggelam karenanya.
  • Namun dari segi lain, angin juga MENGUNTUNGKAN. Pada hari panas, tiupan angin membuat kita merasa lega. Angin itu pun membawa perahu layar ke tempat tujuannya. Angin membuat api menyala dan membuat bendera berkibar.

AIR dan ANGIN: dua unsur alam yang sangat dibutuhkan. Dan seperti Allah melibatkan diri dengan situasi dunia, demikian pula alam ini diangkat-Nya menjadi lambang dan unsur untuk hal-hal surgawi.

Pernah Yesus menenteramkan ombak dan angin yang mengancam para rasul yang berada di    tengah-tengah Danau Galilea. Yesus berdiri dan mengamankan angin dan air, dan dengan demi-kian membuktikan bahwa Ia BERKUASA atas air dan angin. Ia pun akan mempergunakan kedua kekuatan alam itu dalam rangka karya penebusan umat manusia.

AIR, yang menghidupkan, dipergunakan dalam Sakramen Permandian. Calon baru itu dibaptis, supaya ia menjadi baru, supaya ia hidup, supaya ia jangan seperti padang gurun yang tandus; supaya ia berkembang, penuh dengan buah-buah Roh, penuh akan Roh Kudus sendiri.

Tentang ANGIN. Yesus berkata kepada Nikodemus:

“Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya,

tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi”.

Memang Roh Kudus bagaikan ANGIN. Angin itu sendiri tidak dapat kita lihat; tetapi apa yang dibuat oleh angin memang dapat kita lihat. Demikian pula, Roh Allah tidak kelihatan, namun karya-karya-Nya amat nyata.

Pada Hari Pentekosta pertama itu turunlah dari langit suatu bunyi bagaikan deru BADAI yang hebat, yang memenuhi seluruh rumah tempat para rasul berada itu. Semoga kita pun mengalami dalam diri kita kehadiran Roh Kudus. Semoga dalam diri kita terwujudlah sabda Yesus kepada Nikodemus yaitu bahwa melalui AIR dan ROH KUDUS kita masuk ke dalam Kerajaan Allah, menjadi warga Kerajaan itu, baik sekarang ini, maupun di akhirat kelak.

  1. API

Bacaan Daniel 3:19-30    Maka meluaplah kegeraman…

Renungan Apa itu API? Sukar dijawab, sukar diduga. Api bukannya suatu benda, juga bukan uap.  Namun jelaslah:  ADA, sebab kelihatan dan terasa. Di zaman ku-

no, orang mengira bahwa alam semesta tersusun atas empat unsur dasar ini: tanah, air, udara dan api. Tetapi sejak dahulu kala, di bidang keagamaan, api itu sering dikaitkan dengan Allah atau dengan dewa-dewa. Malah pernah ada agama-agama primitif di mana matahari dipandang sebagai dewa tertinggi.

Dalam Agama Hindu, Allah dilukiskan bagaikan Api Ilahi. Allah adalah api, cinta, energi. Dari Api inilah dunia lahir.

Kita orang Kristen pun tidak merasa asing dengan kata API ILAHI. Kita pun berbicara tentang misalnya Hati Yesus yang MEMBARA cinta kasih. Dan lebih-lebih: dalam Kisah Para Rasul kita membaca tentang turunnya Roh Kudus atas para rasul dalam lambang lidah-lidah BER-API.

Mari kita pun memperhatikan peristiwa dari Kitab Nabi Daniel yang dibacakan tadi. Tiga orang muda yang dilempar ke dalam tanur api. Maksudnya: menjadi suatu siksaan bagi mereka. Akan tetapi terjadilah kebalikannya: mereka berjalan-jalan bebas di tengah-tengah api itu sambil memuji Allah. Api itu tidak menyentuh badan mereka; tetapi api itu sebaliknya mengobarkan hati dan semangat mereka.

Pada kesempatan Perayaan Pentekosta, mari kita dalam hati mengulangi kata-kata dari kidung Veni Creator, bunyinya:

“Lidah Api angin taufan,

Lambang Roh Kudus yang datang.

Muka bumi dibaharui

Oleh Pembaharu yang suci”.

  1. FIRMAN ALLAH MEMPERSATUKAN

Sebelum Bacaan Kalau Allah berbicara, maka tidak mungkin kita akan bersikap acuh-tak-acuh. Kita pasang telinga. Pasti pentinglah apa yang hendak Allah sampaikan

kepada kita. Dan bila Allah menyuruh atau mengundang kita untuk BERBUAT sesuatu, maka baiklah kita MEMBUAT itu juga. Demikian pun pendirian yang tepat dari tiga ribu orang yang telah mendengarkan pewartaan rasul Petrus pada Hari Pentekosta. Mereka mengenal suara ALLAH dalam perkataan-perkataan Petrus itu. Dan hidup mereka berubah. Mari kita mendengar tentang perubahan yang terjadi dalam hidup orang-orang itu berdasarkan sabda Petrus.

Bacaan Kisah para Rasul 2:41-47     Cara hidup Jemaat yang pertama

Renungan Bacaan yang baru saja kita dengar ini, adalah suatu gambaran singkat tentang cara hidup kelompok orang-orang Kristen yang pertama.

Saya dapat membayangkan bahwa ada seorang di antara kita, yang pada suatu waktu ingin menulis suatu gambaran tentang kelompok (kring/kumpulan/organisasi) KITA ini! Lalu APA yang akan ia tulis! Apakah ada sesuatu yang menyolok pada kita sebagai kelompok orang Kristen? Sesuatu yang tidak ada sebelum terbentuknya kelompok (kring/kumpulan/organisasi) kita ini? Tidak begitu mudah untuk menyebut sejauh mana hidup kita telah berubah sejak kita mulai berkumpul!

Mari dari segi itu kita meninjau kembali teks Kisah para Rasul yang dibacakan tadi:

  • Pertama: ternyata orang-orang itu berkumpul berdasarkan sabda Petrus. Sabda itu mereka tanggapi serius. Mereka mengakui perkataan Petrus sebagai sabda ALLAH.
  • Kedua: mereka rajin untuk menambahkan pengetahuannya melalui pengajaran agama para rasul.
  • Ketiga: mereka hidup bersatu; mereka sering berkumpul untuk berdoa dan juga untuk makan bersama.
  • Keempat: mereka dengan segala kerelaan menolong dalam kebutuhan material masing-masing teman anggota.
  • Dan akhirnya ada suatu pengaruh dari kelompok orang Kristen yang pertama itu terhadap orang-orang lain, terhadap orang luaran, orang yang tidak termasuk anggota.

Apakah itu semua dapat diterapkan pada kelompok kita? Yaitu:

  • Perhatian untuk sabda Allah…
  • Kerinduan untuk menambah pengetahuan agama…
  • Persatuan dan kesetiaan dalam doa bersama…
  • Kerelaan untuk tolong-menolong menurut kebutuhan dan menurut kemampuan…
  • Dan akhirnya, apa pengaruh kita bagi orang luaran…!

Mungkin itu semua – dalam ukuran tertentu – terwujud pada kita… Syukurlah! Tetapi kalau tidak, bagaimana kesimpulannya!? Memang tidak perlu dan tidak mungkin juga untuk meniru umat yang pertama itu secara harafiah, persis seperti mereka perbuat. Tetapi kita – seperti mereka itu – harus tetap bertitik tolak pada sabda Tuhan. Sabda itu membangkitkan, menghidupkan kita. Sabda itu menjadi dasar persatuan kita, memberi arah kepada cara hidup kita.

Mungkin kisah kelompok kita tidak pernah akan ditulis dengan pena dan tinta di atas kertas. Tetapi semoga tertulislah dengan tinta emas dalam Kitab Tuhan di surga, yakni: bahwa berdasarkan Firman Allah telah berkumpul suatu kelompok orang beriman, yang menanggapi segala perkataan Allah itu dengan serius, dan yang bersama-sama mencoba mewujudkannya dalam hidup dan karya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: