Renungan Masa Prapaskah dan Paskah

MASA PRAPASAKH

  1. DOSA DAN TAPA

Sebelum Bacaan Di desa Betania, dekat kota Yerusalem, tinggallah seorang sahabat Yesus bernama Lazarus  bersama  dengan  kedua  saudara  perempuannya  bernama

Marta dan Maria. Pada suatu hari Lazarus jatuh sakit, lalu meninggal. Ketika Yesus sampai di Betania, Lazarus sudah mati sejak empat hari mendahuluinya, dan telah dikuburkan dalam sebuah gua yang dipahat di lereng sebuah bukit. Maka Yesus minta dihantar ke tempat di mana sahabat-Nya dikuburkan itu. Lanjutan berita kita dengar langsung dari Injil.

Bacaan Yohanes 11:33-44    Ketika Yesus melihat Maria

Renungan Ada seorang pengarang roman terkenal bernama Dostoyefski. Dia seorang sastrawan dari negeri Rusia, yang hidup dalam abad ke-19.  Buku-buku karya

tangannya sampai sekarang tetap digemari di seluruh dunia. Salah satu di antara roman-romannya berjudul Dosa Dan Tapa. Isi buku tersebut, secara singkat, adalah sebagai berikut:

Ada seorang laki-laki muda bernama Raskolnikov. Dia melakukan pembunuhan terhadap dua ibu beradik-kakak yang sudah tua, untuk mendapatkan uang mereka, yang sebetulnya tidak seberapa banyak juga.

Raskolnikov kemudian merasa sangat tertekan oleh perbuatannya yang keji itu. Dosa itu tidak bisa ia simpan dalam batinnya. Ia mau mengungkapkannya, ia mau memberitahukan perbuatannya itu entah kepada siapa pun. Maka ia pergi ke polisi dan melaporkan pembunuhannya yang ganda itu tepat seperti telah dilakukannya, dengan menceritakan segala seluk-beluknya. Namun ia tidak mengatakan bahwa dia sendirilah pelaku dari pembunuhan itu. Polisi tidak menanggapi laporannya dengan serius, lebih-lebih karena bernada suatu tuduhan terhadap polisi. Sebab berkatalah dia kepada mereka: “Mengapa kamu tidak berusaha menemukan si pembunuh itu! Kamu semua orang bodoh-bodoh saja!”

Pernyataannya kepada polisi itu jelaslah bukannya suatu pengakuan, melainkan lebih-lebih suatu ungkapan kesombongan. Maka batinnya belum juga tenang, dan masih menuduh dia.

Kemudian Raskolnikov mendapat kontak dengan seorang gadis muda bernama Sonya. Dia itu seorang pelacur, dipaksa akan hidup demikian oleh ibunya untuk dapat menjamin hidup adik-adiknya di rumah.

Pada suatu kesempatan Sonya membacakan bagi Raskolnikov teks Injil tentang kebangkitan Lazarus, yang tadi juga kita dengar dibacakan. Berkatalah Sonya: “Coba lihat, seorang yang sudah mati selama empat hari, bisa dibangkitkan kembali oleh Yesus.  Sebuah jenazah yang sudah mulai membusuk, menerima kembali kulit yang utuh seperti kulit seorang anak, dan kembali hidup sebagai manusia!”

Maka bertanyalah Raskolnikov: “Andaikan seorang tinggal dalam kubur jauh lebih lama dari hanya empat hari, apakah dia pun masih dapat dibangkitkan?” Jawab Sonya: “Tentu saja!”

Lalu berkatalah Raskolnikov: “Saya inilah orang itu. Sayalah seorang yang berada dalam kubur sudah berbulan-bulan lamanya. Pembunuhan terhadap dua ibu, yang menjadi pokok pembicaraan seluruh warga kota, saya inilah yang telah melakukannya!”

Ini baru suatu pengakuan yang tulus ikhlas, dan bukanlah suatu pengakuan seperti tadinya ia buat terhadap polisi. Namun menurut Sonya belum cukuplah demikian. Ia harus bersedia untuk BERTAPA pula. Orang lain pun berhak mengetahui ini. Kata Sonya: “Engkau harus mengaku dosamu itu kepada semua orang dan kepada Allah sendiri. Pergilah ke lapangan kota, berlututlah di situ dan serukanlah dosamu ke ke-empat mata angin!”

Maka demikian dibuatnya. Dengan segera ia ditangkap oleh polisi, ia diadili, dan sebagai hukum-an ia dibuang ke suatu daerah yang sunyi dan amat dingin, yaitu daerah Siberia, untuk selanjutnya tinggal di situ seumur hidup. Ia pergi, dan Sonya menyertai dia.

Memang pengakuan tidak cukup. Perlu juga tapa atau semacam pelunasan. Sebab dosa adalah bagaikan utang.

Kalau kita berdosa, mari kita pun mencari seorang untuk mengungkapkan dosa itu kepadanya, supaya kita bebas dari tekanan batin. Mari kita pergi ke tempat Pengakuan, mempercayakan itu kepada Imam, dan – melalui dia – kepada Allah sendiri. Namun UTANG itu tetap ada. Mungkin bapak pengakuan memberikan hanya suatu penitensi yang ringan. Mari kita dengan sukarela mencari suatu cara untuk BERTAPA dan untuk MELUNAS, lebih-lebih terhadap orang yang mungkin – karena dosa kita – telah kita rugikan.

  1. BERTOBATLAH

Bacaan Yunus 3:1-10     Pertobatan Ninive

Renungan Para penduduk kota Ninive hidupnya tidak betul. Apa setepatnya kesalahan-nya,  kita tidak tahu.  Kitab Suci hanya mengatakan  bahwa  Allah  bersabda:

“Kejahatan para penduduk Ninive sampai kepada-Ku”. Apakah Allah akan bertindak? Allah berkata menjelang akhir Kitab Yunus sebagai berikut: “Aku sayang kepada kota Ninive, lebih-lebih akan 120 ribu anak kecil, yang belum tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri… yang belum tahu berbuat jahat”. Allah mau berusaha supaya orang-orang dewasa menjadi sadar, menghentikan kejahatannya, memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya, supaya mereka kelak tidak akan melakukan kejahatan-kejahatan yang sama.

Dalam belas kasihan-Nya, Allah akan mengirim seorang NABI dari Israel kepada mereka. Nabi itu namanya Yunus atau Yonas. Yunus terpaksa pergi. Ia tidak suka pergi. Ia lebih suka agar kota Ninive hancur, sebab orang-orang Ninive adalah musuh bangsa Israel. Yunus berdiri di tengah-tengah kota Ninive. Khotbahnya sama sekali tidak baik, seperti tadi dapat kita dengar. Ia hanya berkata: “Lagi empat puluh hari, maka Ninive akan dihancurkan!”

Namun mengherankan bahwa sabdanya manjur. Orang Ninive menjadi SADAR. Mereka percaya kepada Allah, berpuasa dan berdoa. Mereka BERTOBAT. Nabi Yunuslah yang membawa kesadaran itu kepada mereka. Yunus itu adalah bagi mereka suatu kurnia daripada Allah.

Kita ini tidak mempunyai di tengah-tengah kita seorang nabi Yunus. Tidak perlukah? Siapa bera-ni memastikan itu! Memang agaknya perlu juga kita BERTOBAT. Dan apa atau siapa adalah kurnia Allah bagi kita? Siapa akan membawa kesadaran dan pertobatan yang sungguh-sungguh kepada kita? Kurnia Allah bagi kita ialah: MASA PUASA yang kini sedang kita jalani.

Kurnia Allah bagi kita ialah bukan sekedar seorang nabi seperti Yunus, melainkan Putra Allah sendiri, Yesus Kristus.

Yunus – sehabis berkhotbah – dengan cepat keluar meninggalkan kota Ninive. Pikirnya begini: “Jangan-jangan Allah toh akan menghancurkan kota ini; maka dalam hal itu saya sendiri pun akan berada dalam bahaya”. Apalagi ia suka menonton penghancuran kota Ninive itu!

Sebaliknya Yesus tidak lari. Malah Ia membiarkan Diri sendiri dihancurkan sebagai pengganti kita semua. Ia mati supaya kita hidup.

Dan kematian Yesus pun menjadi bukti betapa beratlah dosa-dosa kita. Jangan kita anggap enteng! Jangan terlalu cepat kita anggap bahwa kita hidup cukup baik!

Mari kita memanfaatkan Masa Puasa ini dengan baik. Sebab inilah suatu Masa Rahmat Allah! Kita harus menyelidiki hidup kita; kita harus meningkatkan iman-kepercayaan; harus lebih tekun berdoa; jangan kita memanjakan diri, melainkan sebaliknya kita hendaknya memperhatikan kepentingan orang-orang serumah dan semua sesama kita. Kalau para penduduk Ninive bertobat atas pewartaan Nabi Yunus, betapa lebih lagi kita, yang diajar oleh sabda dan karya Yesus, Putra Allah sendiri!

  1. CINTA KASIH MENUTUP BANYAK DOSA

Bacaan 1 Korintus 13:1-7       Kasih

Renungan Di zaman kuno, di suatu tempat, pernah ada suatu jemaat yang dipimpin oleh uskup Ammona.   Pada   suatu  waktu  sekelompok pemuka jemaat dapat me-

ngetahui bahwa salah seorang anggota jemaat acapkali dengan sembunyi melakukan perzi-nahan. Hal ini mereka laporkan kepada uskup Ammona, dan mereka minta beliau segera ikut bersama mereka ke rumah orang yang bersangkutan, agar langsung mendapatkan kedua orang yang bersalah itu.

Ketika mereka sampai di rumah tersebut, si wanita masih sempat bersembunyi di dalam sebuah tong besar yang ada di dalam ruangan itu. Begitu Uskup dan rombongan masuk, maka Uskup merasa: “Pasti wanita itu bersembunyi di dalam tong itu!” Lalu disuruhnya orang-orangnya untuk mencari wanita itu, sedangkan ia sendiri duduk di atas tong tadi.

Mereka mencari di seluruh rumah, tetapi percuma. Hanya tong besar itu belum diselidikinya, tetapi mereka malu hati meminta Uskup berdiri agar mereka sempat memeriksa isi tong itu. Lalu terpaksa mereka mengaku bahwa tentang tuduhan mereka tidak ada bahan bukti. Maka Uskup Ammona menegur mereka, katanya: “Mudah-mudahan Tuhan memaafkan kamu atas kecurigaanmu dan tingkah lakumu yang tidak pantas ini!”

Setelah mereka pergi, Uskup berdiri dan berkata kepada tuan rumah dan kepada wanita dalam tong itu: “Kamu berdua, minta ampun kepada Tuhan, dan jangan berdosa lagi!” Lalu ia pun pergi.

Mengapa sikap uskup Ammona demikian? Karena ia cinta akan umatnya dan akan setiap dombanya. Kesalahan orang tidak perlu dinafirikan ke segala mata angin. Cukuplah orang disadarkan secara pribadi akan kesalahannya, supaya ia lebih bersemangat untuk memperbaiki diri daripada namanya sudah cemar di hadapan umum. Cinta kasih menutup banyak dosa, juga dosa orang lain.

  1. YESUS SEKARANG

Bacaan Matius 25:31-46    Penghakiman Terakhir

Renungan Masa Puasa adalah suatu masa reorientasi. Kita meninjau hidup kita di ba-wah terang Allah. Antara lain meninjau hubungan kita dengan Kristus Yesus.

SIAPA Yesus itu! DI MANA Dia! Rasanya jawaban atas kedua pertanyaan ini tidak begitu sukar.

  • Pertama: Siapa Yesus! Jawabannya kita ungkapkan dalam syahadat Para Rasul: Ia Putra Allah yang Tunggal, dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria. Ia disalibkan dan wafat, lalu bangkit pada hari ketiga.
  • Pertanyaan kedua: Di mana Yesus! Kita menjawab, juga dengan kata-kata syahadat Para Rasul: Ia naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang mahakuasa.

Namun kedua jawaban itu belum memuaskan, sebab itulah beberapa pernyataan tentang Yesus yang kita tahu dari pelajaran agama, dari membaca Kitab Suci. Saya belum melihat suatu hubung-an dengan SAYA !

Kristus dari Injil, Kristus dari gambar-gambar, Kristus dari Jalan Salib, Kristus dari upacara-upacara Gereja, ya bahkan Kristus dari Hostia Kudus: itu semua bagi saya belum cukup! Seakan-akan saya mendengar Yesus berkata kepada saya apa yang Ia katakan kepada si pemuda kaya itu, yakni: “Masih ada satu hal kurang padamu. Pergilah, juallah segala harta milikmu, lalu kembali ikuti Saya”.

Misalnya Kristus dari Jalan Salib. Mari kita bandingkan:

  • Pertama: saya sembahyang Jalan Salib. Merasa terharu, tergugah. Merasa sayang dengan Yesus, hampir tidak bisa tahan air mata.
  • Kedua: saya membuat apa yang Yesus minta. Yaitu saya angkat suatu salib, entah bagaimana pun coraknya, lalu saya pikul itu, mengikuti Yesus. Saya tidak akan merasa terharu. Sebalik-nya saya merasa setengah mati!

Sekarang kita bandingkan:

  • Sembahyang Jalan Salib pasti sesuatu yang baik. Dengan sembahyang Jalan Salib, saya ikut suatu tradisi Gereja sejak tujuh setengah abad.
  • Namun jelaslah bahwa mengikuti Yesus dengan memanggul salib kita yang konkrit setiap hari – jelaslah bahwa itu lebih baik, dan bahwa dengan demikian saya mengikuti suatu tradisi Gereja sejak hampir dua puluh abad!

Tetapi bagaimanakah kita bisa angkat salib itu! Di manakah salib itu! Di mana Yesus! Bagaimanakah kita bisa ikut Yesus!

Ada Yesus dulu, dan ada Yesus sekarang. Yesus dulu mau kita kenal dari Injil, supaya menemukan YESUS-SEKARANG. Itulah tujuan dari membaca dan merenungkan Injil. Yesus-sekarang adalah saudaraku, sesamaku. Dia itu tidak duduk tinggi di surga di sebelah kanan Allah, Bapa Yang Mahakuasa. Sesamaku itu tidak dihormati dengan upacara Gerejani. Namun dia itu KRISTUS. Dan dalam dia itu Kristus adalah lapar, haus dan tanpa pakaian. Kristus adalah sakit dan dalam penjara, mencari penginapan, cari kerja, cari perhatian, cari dihibur. Hidup rohani saya kosong dan kering jika saya tidak berhasil menemukan KRISTUS-SEKARANG itu.

  1. TUJUH ORANG MARTIR DARI PERJANJIAN LAMA

Renungan Hari ini kita balik urutannya: kita mulai dengan renungan, baru sesudahnya dibawakan Bacaan dari Kitab Suci.

Sepanjang sejarah Gereja ada orang merelakan nyawanya demi Kristus atau demi kesetiaan kepada agama kristiani. Mereka itu kita sebut orang MARTIR. Seorang martir adalah seorang yang dengan darahnya, dengan nyawanya, memberi kesaksian tentang imannya; seorang yang berdiri tegak dalam kepercayaan, juga waktu hidupnya terancam. Pada daftar orang kudus yang dirayakan oleh Gereja sepanjang tahun, terdapatlah banyak orang martir.

Tetapi juga SEBELUM Kristus lahir, yaitu di masa Perjanjian Lama, sudah tercatatlah nama-nama orang saleh sebagai martir: orang yang kokoh dalam imannya akan Allah yang benar, Allah Israel, orang yang rela mati bagi Tuhan, biar dengan cara dahsyat dan ngeri.

Salah satu Kitab dari Perjanjian Lama, yang baru ditulis kurang lebih 100 tahun sebelum Kristus lahir, ialah Kitab Kedua Makabe. Dalam Kitab itu kita membaca tentang seorang raja kafir penjajah dari negeri Siria bernama Antiokhus Epifanes. Oleh raja itu Bait Suci di Yerusalem dicemarkan dengan ditempatkannya di situ sebuah patung besar dari dewa kafir Yunani bernama Zeus. Dan dia memaksa orang Yahudi untuk bersembah sujud kepada berhala itu. Apakah orang Yahudi menuruti perintah itu? Memang, ada orang lemah, yang rela menaati perintah dari raja Antiokhus itu, yang lebih suka menyangkal Allah yang mahatinggi daripada kehilangan nyawanya. Tetapi ada juga orang yang sama sekali tidak mau menuruti perintah itu.

Amat berkesanlah kesaksian yang indah dari seorang ibu dengan ketujuh anaknya laki-laki. Mari sekarang kita mendengar kisah tentang kemartiran mereka.

Bacaan 2 Makabe 7:1-42    Tujuh orang bersaudara serta ibunya disengsarakan

  1. KELIMPAHAN DAN PEMBOROSAN

Sebelum Bacaan Bila ada orang mendapat luka, baiklah luka itu dibalut atau diberi plester. Kalau kita mengukur besarnya  atau  luasnya  luka  dan  membandingkannya

dengan besarnya verban atau plester itu, maka pasti luka itu kecil dibandingkan dengan luasnya verban atau plester itu.

Demikian pula bila ada pelanggaran, maka pemulihan atau hukuman atas pelanggaran itu lebih berat daripada pelanggaran itu sendiri.

Maka itu pun Santo Paulus berkata: “Karunia Allah tidak sama dengan pelanggaran Adam; kasih karunia Allah dalam diri Yesus Kristus jauh lebih besar daripada pelanggaran Adam itu!” Pemulih-an terhadap dosa memang jauh lebih besar daripada dosa itu sendiri! Mari kita mendengarkan:

Bacaan Roma 5:12-21     Adam dan Kristus

Renungan Orang menanam sebuah anakan mangga. Mangga itu berkembang menjadi pohon.  Pohon itu kemudian  menjulang tinggi ke langit.  Tahun  demi  tahun

menghasilkan ratusan buah mangga. Heran, itu semua mendapat awalnya pada hanya SATU biji mangga!

Seribu-satu contoh lain lagi dapat disebut di mana Allah dalam alam semesta menyediakan suatu kelimpahan yang tak dapat dimengerti. Misalnya banyaknya air di laut, cahaya matahari yang begitu menyilaukan, hujan deras, banyaknya bunga dan pohon, semut dan kumbang… bagaikan suatu pemborosan secara besar-besaran! Semuanya lebih daripada apa yang dibutuhkan. Rupanya Tuhan tidak suka mengukur, tidak suka menghitung.

Manusia lain. Manusia menghitung, manusia mengukur. Saya membeli rokok sebungkus: jangan harap terdapat di dalamnya sebatang lebih daripada yang tertulis di luar. Sebantal gula satu kilo: tidak ada beberapa gram pun lebih dari satu kilo tepat. Memang kita suka menghitung dan   mengukur. Jangan-jangan sampai kita memberikan terlalu banyak…

Namun tidak selalu juga! Ada kekecualian! Ada kalanya kita pun suka memboros. Yaitu karena cinta atau karena penghargaan. Misalnya anak kita minta ini / minta itu: dengan betapa mudah kita berikan apa yang dimintanya, juga kalau sebenarnya anak tidak begitu membutuhkannya. Dan kalau ada seorang tamu datang makan di rumah, kita pun tidak sediakan makanan pas-pas cukup, melainkan jauh lebih dari cukup: empat orang tamu pun tidak dapat menghabiskannya.

Allah adalah Pemboros Ilahi, justru karena Ia MENCINTAI kita. Kita bagaikan dihujani dengan anugerah-anugerah-Nya. Allah berharap supaya sedikit-sedikit dari segala anugerah-Nya itu dapat kita tangkap. Dan yang kini kumaksudkan bukanlah pertama-tama sinar matahari, hujan dan lain-lain, melainkan suatu anugerah yang jauh lebih besar. Dalam luapan cinta kasih-Nya kepada kita, Allah memberikan kepada kita PUTRANYA yang tersayang, Yesus Kristus. Berkatalah Santo Paulus tadi:

“Di mana dosa bertambah banyak,

di situ kasih karunia Allah menjadi BERLIMPAH-LIMPAH

oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”.

Apakah ini sungguh suatu PEMBOROSAN? Hujan yang jatuh di gunung yang gundul, memang terboros, jatuh percuma. Sebab di situ tidak ada tanah untuk menyambut hujan itu. Kalau hati kita gundul dan berbatu, maka karunia Allah mendatangi kita dengan percuma: suatu pemborosan saja. Tetapi bila sebaliknya hati kita siap untuk menerimanya, maka betapa karunia Allah itu akan berakar dan berkembang dalam diri kita. Karunia Allah itu adalah Yesus. Kalau Roh dari Yesus sudah berdiam dan berkembang dengan limpah dalam diri kita, maka kita pun akan menjadi teman sekerja dengan Allah. Seperti Yesus sendiri berkata:

“Barang siapa percaya kepada-Ku,

maka dari dalam hatinya akan mengalir AIR HIDUP”.

Berarti kita pun menjadi alat di tangan Tuhan untuk menyampaikan kasih karunia-Nya kepada manusia dengan berlimpah-limpah, sehingga mungkin kelihatan sebagai suatu pemborosan jua.

  1. JANGAN MENGUKUR

Bacaan Matius 5:38-48     Kamu telah mendengar Firman…

Renungan Apa beda antara seorang beriman dan seorang kafir? Jawaban ialah: seorang beriman percaya akan Allah, sedangkan seorang kafir tidak.

Cukupkah jawaban itu? Nah, boleh tambah begini: seorang beriman pada Hari Minggu pergi ke gereja, sedangkan seorang kafir tidak.

Beda itu saja? Tidakkah perlu suatu beda nyata dalam sikap, dalam tingkah laku, dalam tutur kata? Yesus berkata bahwa kalau orang mencintai keluarganya dan sahabat-sahabatnya, maka hal itu bukanlah suatu hal yang luarbiasa, karena, kata Yesus: “Orang berdosa pun berbuat demikian”. Yesus berkata:

“Orang yang memberi salam hanya kepada saudara-saudaranya…

Ya memang, orang kafir pun berbuat demikian”.

Orang kafir pun pada umumnya bukanlah perampok dan penjahat. Mereka biasanya hidup baik dan pantas, mencintai keluarganya, sahabat dan kenalan. Untuk itu tidak perlu menjadi seorang pengikut Kristus! Seorang yang ingin menjadi seorang KRISTEN: dari dia dituntut sesuatu yang lain; sesuatu yang aneh, yang tidak dapat dimengerti oleh kaum kafir. Orang kafir itu berkata: Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Itu memang pegangan untuk para hakim di Israel kuno. Sebab hal itu masuk akal: orang hantam saya – saya balas. Orang memfitnah saya – saya memfitnah mereka lebih lagi !

Yesus berkata: “KAMU harus bersikap LAIN: jangan membalas kejahatan dengan kejahatan”. Yesus memberikan beberapa contoh. Antara lain Ia berkata:

“Jika ada orang mengadukan kamu kepada hakim dan menuntut bajumu, berikan kepadanya mantolmu juga. Dan kalau ada seorang penguasa memaksa kamu memikul barangnya sejauh SATU  kilometer, pikullah barang itu sejauh DUA kilometer”.

Dan lagi kita mendengar perkataan Yesus tadi:

“Kasihilah musuhmu

dan berdoalah bagi mereka yang menganiayai kamu”.

Amat sukar melaksanakan segala petunjuk Yesus itu! Namun harus tetap kita akui: sungguh, di situ letaknya perbedaan besar antara orang beriman dan orang yang tidak beriman, antara orang Kristen dan orang kafir.

Kalau tergantung dari kesanggupan manusia saja, memang cara hidup itu tidak mungkin dipertahankan. Tetapi orang yang hatinya tidak membatu lagi, orang itu akan berhasil.

Mari kita sering berdoa: “Yesus yang lembut dan rendah hati, jadikanlah hati kami seperti Hati-Mu!”

  1. PERJAMUAN  TUHAN

Bacaan 1 Korintus 11:23-29     Sebab apa yang…

Renungan Di tanah Mesir orang Israel amat menderita karena diperbudak oleh Firaun, raja Mesir.  Allah menugaskan  Musa  untuk  mengantar bangsa Israel keluar

dari situ dan membawa mereka ke tanah terjanji, ialah negeri Kanaan. Untuk memaksa Firaun agar mengizinkan orang Israel meninggalkan Mesir, Allah mendatangkan berbagai musibah ke atas orang Mesir, yang kita kenal sebagai ke-10 tulah Mesir. Tiap kali, pada puncak musibah, Fi-raun memanggil Musa, memohon supaya dia berdoa kepada Yahwe untuk menghentikan tulah itu. Namun sesudahnya Firaun kembali berkeras hati dan tidak mau membiarkan mereka pergi..

Tulah yang kesepuluh akhirnya mematahkan perlawanan Firaun. Sebab tulah itu adalah kematian semua anak sulung orang Mesir, termasuk anak Firaun sendiri.

Pada malam yang menentukan itu, orang-orang Israel mengadakan Perjamuan yang disebut “Perjamuan Paskah”. Kata paskah berarti “melewati”. Yaitu malaikat pembinasaan yang diutus Allah, “melewati” rumah-rumah orang Israel, tetapi memasuki setiap rumah orang Mesir untuk membunuh anak sulung di situ.

Sementara itu orang-orang Israel mengadakan Perjamuan Paskah. Hidangan utama Perjamuan itu adalah seekor anak domba jantan yang berumur 1 tahun yang utuh, tak bercela, sebab harus layak untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Maklumlah domba itu bukan saja sekedar makanan, melainkan terlebih dahulu dimaksudkan sebagai kurban bagi Allah. Lalu Allah mengundang orang-orang Israel untuk makan, sehingga sungguh itu perjamuan Tuhan. Hidangan-hidangan lain berupa sayur yang pahit untuk mengenangkan kepahitan perbudakan di Mesir. Dan ada juga roti dan anggur di meja. Dari darah anak domba itu diambil sedikit lalu dibubuhkan pada ambang pintu rumah mereka sebagai tanda bagi malaikat bahwa di situ tinggallah orang Israel. Perjamuan Paskah itu selanjutnya diadakan oleh orang Israel setiap tahun sebagai kenangan syukur atas pembebasan mereka dari perbudakan di tanah Mesir.

1250 tahun kemudian Yesus pun mengadakan Perjamuan Paskah bersama murid-murid-Nya. Namun tidak lagi anak domba itu menjadi hidangan utama, melainkan roti dan anggur yang tersedia itu. Roti dan anggur itu dijadikan Yesus Tubuh dan Darah-Nya sendiri. Dia sendiri menjadi Anak Domba Allah, kurban yang menggantikan semua kurban Perjanjian Lama. Karena itu pun Yesus berkata tentang piala berisi anggur: “Inilah Darah-Ku, Darah Perjanjian BARU dan kekal”.

Allah mengundang kita untuk ikut makan dan minum dalam Perjamuan Tuhan, Perjamuan Ekaristi, berarti: Perjamuan Syukur. Mari kita pun memberikan diri dibebaskan dari perbudakan dosa!

  1. SENGSARA KRISTUS MENGUATKAN KITA

Bacaan Lukas 23:33-49     Yesus disalibkan

Renungan Santo Lukas dan para Penginjil lain melukiskan apa yang dapat dilihat manusia: penyaliban Yesus secara kejam,  dan sikap  Yesus  yang mulia dan tabah

terhadap sengsara itu. Tapi apakah manusia dapat mengukur dan mengerti INTI sengsara Yesus?

Bila kita berada di laut, ada kalanya kita melihat gerakan permukaan air, disebabkan oleh seekor ikan besar yang dari atas tidak kelihatan. Demikian pula derita jasmani Yesus membuka hanya sedikit saja dari sengsara Yesus sebenarnya, yang tak dapat dilihat mata manusia, yang hanya dapat kita dugai: yaitu sengsara JIWANYA. Pernah satu kali Yesus berkata:

“Mari datanglah kepada-Ku,

semua yang letih lesu dan berbeban berat,

Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”.

Dengan cara mana Yesus memberikan kelegaan itu! Dengan mengambil alih beban yang terlalu berat bagi kita. Sehingga untuk kita tinggal saja yang enak dipikul, beban yang ringan.

Tiap penyakit yang Yesus sembuhkan, menjadi suatu beban bagi Yesus sendiri. Tiap dosa yang diampuni-Nya, Dia sendiri pikul akibatnya. Betapa benar nubuat Nabi Yesaya bunyinya begini:

“Sesungguhnya penyakit KITALAH yang ditanggung-Nya

dan kesengsaraan KITA yang dipikul-Nya.

Ia tertikam oleh  karena pemberontakan kita,

Ia diremukkan oleh karena kejahatan kita,

oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh.

Kita sekalian sesat seperti domba,

masing-masing kita mengambil jalannya sendiri.

Tetapi Tuhan telah menimpakan kepada-Nya

kejahatan kita sekalian”.

Rahasia sengsara Yesus tidak pernah akan kita dalami dengan sepenuhnya. Hanya ada satu hal pasti: di dunia ini Yesus mempunyai orang-orang pilihan yang diperkenankan-Nya untuk turut serta dalam penderitaan-Nya; yang kepadanya Ia bertanya: “Maukah engkau menemani Aku? Di jalan sengsara? Di jalan ketidak-adilan, penindasan, pencobaan? Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”. Mari dalam kelemahan kita, kita berdoa:    “Sengsara Kristus, kuatkanlah aku!

Dalam luka-Mu sembunyikanlah aku!

Jangan biarkan aku diceraikan daripada-Mu. – Amin”.

10.  APAKAH KEADILAN AKAN MENANG?

Sebelum Bacaan Yesus dihadapkan ke Mahkamah Agung Yahudi. Sidang Pengadilan ini akan menyelidiki, apakah Yesus dari Nazaret ini sungguh seorang jahat ataupun ti-

dak. Apakah mereka akan menjatuhkan suatu vonis yang ADIL? Mari kita mendengarkan.

Bacaan Markus 14:55-65      Imam-Imam Kepala…

Renungan Sebelum Sang Terdakwa dihadapkan kepada Mahkamah Agung, sudah dite-tapkan hukuman-Nya, yaitu Ia harus MATI. Kayafas sudah mengungkapkan-

nya dengan kata-kata ini: “Lebih baik SATU orang mati daripada SELURUH BANGSA binasa!”. Yesus dikorbankan demi kepentingan umum.

Mengapa sampai ketidak-adilan harus menang? Apa gunanya ada manusia bertindak dengan adil, jika toh ia harus kalah terhadap orang yang mempermainkan keadilan? Yesus adalah Sang Adil, dan Ia mengajak semua pengikut-Nya agar mereka pun bertindak dengan adil. Yesus menuntut supaya kita membersihkan jiwa kita dari ketamakan dan segala macam egoisme. Apakah ganjaran kita akan sama seperti nasib yang dialami Yesus?

Memang rupanya demikian. Sejak dahulu sampai pada saat dan detik ini, di banyak tempat di dunia, orang kecil dan tak berdaya ditindas, disengsarai, dibunuh, yakni oleh penguasa-penguasa yang simpang-siur dan gila kuasa.

Sama halnya pula dalam lingkungan kita sendiri. Orang yang tahu berteriak, orang yang berani memakai kata-kata kasar, mereka itu yang menang atas orang yang halus dan lembut hati. Tetapi Yesus berkata: “Jangan takut, kawanan-Ku yang kecil…”.

Jelaslah Allah ada di pihak orang yang lemah, Ia memihak orang yang kecil. Malah Yesus me-nyebutkan bahagia orang yang dianiaya oleh karena kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

Kayafas mewakili kuasa gelap. Yesus, karena kematian-Nya, mengalahkan Kayafas!

11.  HIDUP MENUJU KEMATIAN

Bacaan Filipi 1:12-26      Kesaksian Paulus dalam penjara

Renungan Di pinggir jalan antara dua desa berdirilah sebuah salib sederhana, hampir ti-dak kelihatan karena dikelilingi rumput. Kalau bertanya kepada orang setem-

pat: “Apa maksud salib itu?” Maka orang menjawab: “Beberapa tahun lalu di tempat ini jatuhlah seorang dari sebuah truk. Ia mati di tempat”. Ya… Salib adalah tanda kematian. Salib itu kita pun tanam pada kubur kaum kerabat yang telah meninggal.

Orang-orang Yerusalem dan orang di kota-kota lain dalam kekaisaran Romawi – 2000 tahun lalu – kalau melihat seorang lewat di jalan sambil memanggul sebuah salib, maka mereka tahu: Inilah seorang yang menuju kematiannya. Ngeri! Coba lihat: kini ia masih dapat melihat ke kiri dan ke kanan, seakan-akan minta bantuan atau mencari jalan keluar. Kini kakinya masih bergerak, perlahan-lahan, langkah demi langkah, seakan-akan mau menunda saat yang amat ditakuti itu. Ia gelisah. Kita yang melihat dia lewat, kita pun merasa keringat dingin ke luar dari badan. Coba lihat: ia bergerak, ia hidup! Tetapi tinggal hanya beberapa jam, lalu mata itu akan pecah, kaki membeku, karena ia telah menjadi mayat. Dan: alat siksaannya dipikulnya sendiri.

Empat abad yang lalu ada seorang ratu Inggeris bernama Mary Tudor. Ia diusir dari takhtanya, dan sesudah banyak tahun di dalam penjara, ia akhirnya dihukum mati. Ia akan dipenggal kepala-nya. Ketika saatnya tiba, maka dengan tenang ia mengistirahatkan kepalanya pada tempat yang disediakan buat itu, menyisihkan rambutnya, supaya algojo dengan lebih mudah dapat melihat tengkuknya dan dengan lebih gampang dapat menjatuhkan kapaknya. Sebab kasihan, Mary Tudor memperhatikan bahwa si algojo itu gugup, karena harus memenggal kepala sang ratu sendiri. Tidak terjadi mukjizat. Mary Tudor mati.

Yesus pun termasuk salah seorang yang dilihat memikul salib-Nya – alat siksaan-Nya sendiri – di jalan-jalan kota Yerusalem. Tanpa adanya kesalahan apa pun. Ada orang lain yang telah bersalah. Tetapi Dialah yang memikul beban mereka. Dan tidak terjadi suatu mukjizat. Ia mati.

Bagaimana dengan KITA? Pernah kami membaca kata-kata ini: Kita mulai mati sejak saat kita lahir. Entah bagi kita disediakan sebuah kapak atau sebuah salib atau entah kita mati dengan cara apa pun: itu semua sama saja. Pokoknya hidup di dunia ini adalah fana dan sementara. Pada suatu ketika kita semua akan meninggal dunia. Ngeri? Menakutkan? TIDAK! Sebab: ini sama saja seperti bila kita mengatakan: sebelum matahari terbenam, kita semua sudah kembali ke RUMAH, kembali dari kebun atau dari tempat kerja kita, kembali dari toko atau dari sekolah. Sudah PULANG. Bagaimana mengartikannya?

Jawabannya ialah: khususnya dengan Salib itu telah terjadi sesuatu yang istimewa. Sejak Yesus memanggul salib itu dan wafat di salib, tidak ada lagi salib atau kapak atau apa pun yang dapat membawa maut. Karena kematian Yesus, maka salib itu berubah menjadi POHON KEHIDUPAN. Sebab Yesus bangkit. Dan Ia hanya dapat bangkit karena mati terlebih dahulu. Kematian kita selanjutnya dialami bersama Kristus. Jadi, yang sebetulnya lebih patut ditakuti ialah: kehidupan! Karena dari cari kita hidup, tergantunglah bagaimana keadaan kita nanti: apakah betul-betul kita akan mati bersama Kristus! Dalam hal itu pasti kita akan hidup. Tetapi kalau kita mati sebagai musuh Kristus, maka maut itu akan mencaplok kita dan tidak mengembalikan kita lagi.

Mari kita memberanikan diri berkata bersama Santo Paulus:

“Hidup bagiku adalah Kristus, dan mati adalah suatu KEUNTUNGAN”.

12.  CINTA AKAN SESAMA

Sebelum Bacaan Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama kita membaca banyak tentang hubungan antar manusia. Sebagai contoh akan kita mendengar suatu bagian dari Hukum Taurat yang Allah berikan dengan pengantaraan Musa.

Bacaan Keluaran 22:21-27    Peraturan tentang orang-orang yang tidak mampu

Renungan Dalam bacaan tadi kita dengar tentang orang-orang janda dan anak yatim dan tentang orang miskin.  Mereka itu termasuk kalangan yang lemah,  yang  mu-

dah dikuasai, ditindas, diperas. Sebenarnya daftar ini dapat diperpanjang, misalnya dengan me-nyebut orang yang cacat-badan, orang yang sakit jiwa atau sinting, yang bersifat malu-malu, yang bodoh-bodoh, orang yang cepat gugup, yang membosankan dst.

Kata Tuhan: haruslah kamu memperlakukan mereka itu dengan ADIL dan SAYANG. Bahkan kamu harus menilai mereka sungguh sebagai sesamamu dan MENCINTAI mereka seperti kamu mencintai dirimu sendiri.

Mengenai cinta kasih acap kali kita keliru. Kita terpesona oleh keelokan seseorang, lalu menyebut itu “cinta”. Padahal: itu seringkali hanya nafsu dan egoisme saja.

Ada sebuah cerita dongeng sebagai berikut. Pernah hiduplah seorang gadis yang amat cantik, dan banyak pemuda coba meminang dia, karena tertarik oleh kecantikannya. Tetapi semua tawaran itu ditolak oleh gadis itu, sebab ia tahu bahwa mereka semua hanya tertarik oleh kecantikannya; tiada seorang pun di antara mereka yang mencintai dia demi pribadinya.

Dan terjadilah bahwa setan sendiri pun tertarik oleh kecantikan gadis itu, lalu ia menyamar sebagai seorang pemuda gagah yang amat tampan. Tetapi ketika ia datang meminang, maka berkatalah gadis itu: “Engkau yang paling durhaka di antara semuanya; saya tidak heran jika kebetulan engkau adalah setan sendiri!” Maka setan itu menjadi marah dan ia berkata: “Baiklah! Saya yang paling durhaka, dan saya akan membuktikannya pula! Saya mencuri kecantikanmu dan membakarnya dalam neraka”. Dan langsung ia menghilang dengan membawa kecantikan nona itu. Sejak saat itu tidak ada lagi pemuda yang datang meminang dia.

Beberapa tahun kemudian setan teringat akan gadis itu, dan ia ingin melihat keadaannya seka-rang. Maka ia pergi menengok ke tempat itu. Lalu apa yang dilihatnya? Di rumah yang sama ia melihat, selain nona itu, seorang laki-laki muda, dan ia melihat tergendong di tangannya seorang bayi yang amat manis. Laki-laki itu telah berhasil merebut hati gadis itu, telah berhasil membaha-giakannya. Sebab ia mencintai gadis itu karena pribadinya dan bukan karena keelokan parasnya.

Mengapa Allah mencintai KITA? Mengapa cinta kasih Allah kepada kita demikian besar, sehingga Ia menyerahkan Putra-Nya yang Tunggal bagi kita? Karena kita tampan? Kaya? Mempunyai gaya yang mempesonakan?… Tidak! Allah mencintai kita karena suatu keindahan yang ada di dalam HATI kita.

Di tengah-tengah banyak kelemahan, dan walaupun berdosa, kita percaya bahwa kita pun dapat belajar cinta yang benar, bahwa Allah memberi kepada kita kesanggupan untuk membedakan cinta yang benar dari cinta yang palsu. Dan kita percaya bahwa tiap manusia mempunyai suatu keindahan yang lebih penting daripada keindahan lahiriah.

13.  PENDERITAAN

Bacaan 1 Petrus 4:12-19    Menderita sebagai orang Kristen

Renungan Mengapa di dunia ini ada penderitaan, tangisan, duka? Mengapa ada kesakit-an, sengsara, kesusahan?

Kadang-kadang saya berpikir begini: kalau seandainya saya ini adalah Tuhan Allah, maka pasti saya akan atur lain. Saya akan berusaha supaya tidak ada orang menderita, sakit, cacat…, supaya tidak ada orang bersengsara, ditimpa musibah. Saya akan masuk tiap rumah sakit, berjalan dari ruangan ke ruangan, membuat semua orang berdiri sehat-sehat. Saya akan masuk ladang orang, membuat tanaman-tanaman bertumbuh dengan subur, dengan tidak diganggu hama. Saya akan membasmi nyamuk, kaki seribu, tikus dan ular…  Sayang saya bukan Allah!

Terus terang, saya sedikit kecewa dengan Allah. ATAUKAH: mungkin justru sebaliknya Allah sedikit kecewa dengan SAYA? Karena rupanya sifat Adam masih hidup dalam diri saya. Ya! Saya sedikit seperti Adam itu: mau tahu lebih baik daripada Allah sendiri. Saya, yang tidak bisa menciptakan sebutir pasir pun, saya anggap diri lebih bijak daripada Tuhan Allah!

Betapa lebih baiklah saya coba ikut sedikit pikiran Allah. Kesengsaraan di dunia itu seperti laut: surut dan pasang silih berganti. Dan harus begitu. Tanpa air surut tidak ada air pasang. Tanpa kerja, tidak ada istirahat. Tanpa pelajaran di sekolah, tidak ada liburan. Tanpa lapar, tidak ada kekenyangan. Tanpa sakit beranak, tidak ada bayi lahir .

Demikian pula agaknya tanpa derita, tidak ada kegembiraan. Tanpa kesakitan, tidak ada kesembuhan. Tanpa kematian, tidak ada kebangkitan.

Memang kita perlu melalui terowongan kesengsaraan menuju ke kemuliaan. Melalui perjuangan, kita menuju ke kemenangan. Habis gelap, terbitlah terang. Tuhan sudah atur demikian. Dan keputusan Tuhan adalah bijaksana. Tuhan membuat sengsara itu subur. Yesus sendiri pun ingin luput dari penderitaan. Apa yang dikatakan-Nya di Taman Getsemani? Beginilah doa-Nya:

“Ya Bapa, jika mungkin, biarlah piala ini lewat dari Saya,

supaya tidak usah saya minum piala kesengsaraan ini”.

Apakah doa Yesus itu dikabulkan? Tidak! Sebab menurut rencana Allah, sengsara Yesus ini mendatangkan rahmat dan keselamatan untuk seluruh umat manusia.

Sengsara kita hendak kita gabungkan dengan sengsara Yesus. Jangan kita menderita begitu saja. Jangan seakan-akan menyerah saja kepada nasib sial. Melainkan kita mempersembahkan derita kita itu kepada Tuhan. Bahkan kita boleh memandang diri kita sebagai orang TERPILIH, karena Allah menganggap kita cukup KUAT untuk memanggul salib, seperti kita sendiri pun memilih kayu yang terkuat untuk mengemban fungsi yang terberat. Maka kita pun berani berdoa:

“Ya Tuhan, deritaku ini: bagi saya belum jelas apa maksud dan tujuannya. Namun saya percaya bahwa dengan salah satu cara, derita ini pun termasuk rencana-Mu. Saya merasa terpilih karena diperkenankan memanggul salib ini. Perkuatkanlah saya, supaya saya dapat memikulnya dengan rela, karena cinta akan Dikau, dan untuk memenuhi rencana pe-nyelamatan-Mu. Amin”.

14.  MENCARI ALLAH

Bacaan Lukas 4: 1-13   Pencobaan di padang gurun

Renungan Pencobaan iblis terhadap Yesus terjadi dalam pikiran dan hati Yesus. Yesus digodai untuk  – singkatnya –  mempergunakan kuasa-Nya demi kepentingan

Diri sendiri. Tetapi Yesus langsung menolak pikiran itu. Ia membuat itu dengan tenang namun tegas.

Dari segi jasmani, suatu masa empat puluh hari lamanya di padang gurun itu sungguh berat! Teristimewa karena berpantang dari segala makanan. Tetapi jiwa Yesus tetap bersatu dengan Allah Bapa-Nya. Roh Allah mengilhamkan kepada Yesus tentang inti tugas-Nya. Segala pesanan dan nasehat yang kemudian Yesus berikan, mungkin berpangkal pada pergaulan-Nya dengan Allah Bapa selama empat puluh hari itu.

Sejak awal mula terdapatlah dalam Gereja orang-orang yang (seperti Yesus) mencari kesunyian, bahkan untuk seumur hidup. Orang macam itu disebut orang “pertapa” atau “eremit”. Biasanya mereka hidup jauh dari dunia yang ramai, entah di padang gurun, entah di pegunungan atau di dalam hutan rimba. Saat ini pun di seluruh dunia ada ratusan eremit: orang yang telah mendengar suatu panggilan khusus di dalam hatinya, suara Tuhan yang memanggil mereka untuk meninggalkan segala-galanya dan hidup dalam pergaulan erat dengan Tuhan. Sungguh tiada sesuatu yang penting bagi mereka selain TUHAN.

Suatu cerita dongeng dapat menjelaskan panggilan sejenis ini. Pernah ada seorang raja yang sa-ngat baik hati. Ia tinggal di sebuah istana yang besar, dengan banyak pintu: melaluinya orang dapat memasuki istana itu. Raja itu ingin supaya orang datang bertemu dengannya untuk bercerita tentang kesulitan-kesulitannya, meminta nasehat dll. Untuk membujuk orang agar datang kepada-nya, maka ia menyuruh agar ditimbun di depan tiap-tiap pintu banyak harta kekayaan. Tiap orang yang datang ke istana untuk mengunjungi raja, boleh mengambil dari semua benda yang bagus dan berharga itu sesuka hati. Maka tidak mengherankan, bahwa orang datang berbondong-bondong; mereka angkat harta itu sebanyak dapat mereka pikul. Lalu mereka pulang lagi. Tetapi apa yang mengherankan dan mengecewakan hati raja ialah: jarang sekali ada orang MASUK melalui salah satu pintu itu… Padahal, di belakang pintu itu tunggulah raja itu, siap untuk menerima tamu-tamu dengan ramah. Ia berharap agar ada orang yang bukan pertama-tama datang mencari harta raja, melainkan datang mencari raja sendiri. Tetapi betapa sedikitlah mereka!

Seorang pertapa atau eremit adalah bagaikan seorang yang masuk pintu itu…, yang tidak mementingkan harta dari Raja, melainkan mementingkan Raja itu sendiri, yaitu ALLAH. Yang tidak mencari kebahagiaan duniawi; bahkan tidak pertama-tama mencari berkat Tuhan atau hibur-an dalam doa dan ibadat, melainkan hanya mencari TUHAN.

Jalannya menuju Tuhan terjadilah melalui penggodaan.penggodaan, melalui sengsara, salib, mati-raga, penyangkalan diri. Si pertapa itu membongkar akar hidupnya, mengosongkan diri dari sega-la keinginan duniawi. Ia membiarkan rahmat permandiannya bertumbuh tanpa menemui rintang-an. Santo Paulus berkata kepada umat di Roma:

“Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati.

Tetapi jika, oleh Roh Kudus, kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu,

kamu akan hidup”.

Para pertapa bukannya menggantikan kita, seakan-akan kita boleh hidup menikmati dunia dengan seenaknya. Sebaliknya bagi kita, mereka adalah suatu TANDA, suatu kesaksian tentang apa yang sungguh penting dalam kehidupan. Dalam Masa Puasa ini selayaknya kita renungkan hal itu sejenak. Semoga bersama dengan para pertapa, kita pun mencari Tuhan, mencintai Tuhan di atas dan di dalam segala-galanya, dan berani membongkar segala sesuatu yang menjadi rintangan untuk itu.

15.  BAGAIMANA HAL ITU MUNGKIN TERJADI ?

(Tanggal 25 Maret: Hari Raya Kabar Sukacita kepada Maria)

Sebelum Bacaan Di tengah Masa Prapaskah ini, dalam Liturgi Gereja, kita diajak untuk meng-ingat sejenak akan Santa Perawan Maria, khususnya mengenangkan Kabar Sukacita Malaikat Gabriel kepadanya.

Hari Raya ini – dipandang sepintas lalu – adalah suatu perayaan MARIA. Tetapi pada asasnya yang kita rayakan ialah CINTA ALLAH. Sebab Roh Kudus memenuhi Maria, dan karena penaungan itu, Putra Allah menjelma menjadi manusia. Dalam bacaan terkenal yang berikut ini kita mendengar kembali berita peristiwa itu.

Bacaan Lukas 1:26-38    Pemberitahuan tentang Kelahiran Yesus

Renungan Berkatalah Maria kepada Malaikat Gabriel: “Bagaimanakah hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami!”

Maria realistis. Ia melihat suatu kesulitan. Dan dengan terus-terang ia mengungkapkan kesulitan itu kepada malaikat, tetapi dalam bentuk suatu pertanyaan. Maria rindu melaksanakan kehendak Allah, namun sekaligus juga melihat suatu kesulitan, suatu rintangan. Yakni: menjadi ibu seorang anak, sedangkan ia tidak bersuami.

Mari kita perhatikan: Maria tidak mengatakan: “Maaf, tidak mungkin”. Melainkan ia berkata: “Bagaimana mungkin bisa terjadi hal itu!” Dengan cara itu ia meminta bantuan sang malaikat untuk menunjukkan jalan.

Kita ini lain. Kita cepat mengatakan: Maaf, tidak mungkin dalam hal ini saya melaksanakan kehendak Tuhan, tidak mungkin saya melaksanakan kewajibanku ini; maklumlah ada halangan.

  • Tak mungkin hari ini saya ke gereja, karena saya sibuk.
  • Tak mungkin saya turun tangan di situ, karena saya belum diminta.
  • Tak mungkin saya melibatkan diri dengan masalah itu, karena harus jaga nama baik keluarga.
  • Tak mungkin saya membantu orang sakit itu, karena saya harus menjaga kesehatanku sendiri.
  • Tak mungkin saya menyumbangkan uang atau bahan untuk maksud itu, karena kami sendiri serba kekurangan… Dan seterusnya.

Tetapi setelah melihat contoh Maria, jangan lagi dengan begitu cepat kita pakai kata “tak mungkin”. Mari kita belajar dari Bunda Maria untuk dalam situasi yang demikian, menghadapkan masalah itu kepada Tuhan dalam suatu doa yang tulus ikhlas, dengan bertanya kepada-Nya: “Tuhan, apa kehendak-Mu? Dan dengan cara mana dapatkah saya melakukannya!”

MASA PASKAH

16.  TERANG KRISTUS

16.

Bacaan Yesaya 42:5-9   Beginilah firman Allah, Tuhan…

Renungan Malam Paskah, baru-baru ini, dimulai dalam kegelapan. Lalu kita melihat su-atu nyala kecil perlahan-lahan maju ke depan,  yaitu Lilin Paskah.  Kita men-

dengar apa yang dinyanyikan waktu itu: TERANG KRISTUS! Dan dengan segenap hati kita menjawab: SYUKUR KEPADA ALLAH! Dan kita teringat akan apa yang ditulis oleh penginjil Santo Yohanes, yaitu: “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, datang ke da-lam dunia”.

Atau seperti sudah diungkapkan Allah melalui nubuat Nabi Yesaya, banyak abad sebelum Yesus lahir:

“Aku, Allah, telah membentuk Engkau,

dan menjadikan Engkau TERANG

untuk bangsa-bangsa,

untuk membuka mata orang yang buta,

dan untuk mengeluarkan orang-orang

yang duduk dalam gelap, dari rumah tahanan”.

Teks itu tadi kita dengar dibacakan. Yesus sendiri pun mengatakannya. Kata Yesus:

“Akulah Terang dunia.

Siapa yang mengikut Aku,

tidak berjalan di dalam gelap”.

Adapun Lilin Paskah itu kemudian ditempatkan di halaman Altar dan lampu-lampu dinyalakan, sehingga kita semua dapat melihat baik-baik Lilin yang besar itu. Dan menjadi kentaralah adanya sebuah GAMBAR pada Lilin itu:

  • Pusat gambar itu ialah sebuah salib. Sebab Paskah adalah Pesta kemenangan Kristus. Kemenangan itu telah Kristus rebut karena dengan rela wafat di kayu salib.
  • Pada bagian atas salib itu, terlukislah huruf Alfa, ialah huruf pertama abjad bahasa Yunani. Dan pada bagian bawah terlukislah huruf Omega, ialah huruf terakhir abjad Yunani. Dengan menyebut huruf pertama dan huruf terakhir itu, mau diungkapkan bahwa segala-galanya mendapat awalnya dan penyelesaiannya dalam Kristus. Pada Dia itu berpangkallah segala harapan kita.
  • Keliling salib itu ditulis angka tahun ini: tahun …  Tandanya bahwa segala masa menjadi milik Kristus, dan bahwa penebusan-Nya menyangkut juga kita ini. Tahun yang kita jalani ini pun adalah suatu ANNO DOMINI, berarti: Tahun Tuhan.
  • Mungkin masih tergambar pula di bawah salib itu seekor Anak Domba: lambang dari Yesus sendiri, Anak Domba Paskah kita yang telah disembelih. Darah-Nya yang tertumpah di kayu salib, menyucikan dan menyelamatkan kita.

Dan mari akhirnya kita menatap seluruh batang Lilin itu. Tujuan sebuah lilin ialah: untuk dibakar, untuk berubah menjadi terang bagi manusia. Seluruh batang lilin itu seakan-akan rindu menuju ke bunga api yang sedang menyala di ujung atas lilin itu. Demikian pula halnya dengan Kristus: Ia menghabiskan diri-Nya bagi kita. Seperti terdengar dalam bacaan Kitab nabi Yesaya tadi:

“Allah mengatakan:

Aku telah memanggil Engkau untuk menyelamatkan”.

Marilah kita memberikan diri diselamatkan oleh Juruselamat Yesus Kristus itu. Mari kita membiarkan Dia menghalaukan segala kegelapan dari diri kita oleh sinar Cahaya-Nya. Dan marilah kita pun menjadi bagaikan lilin kecil, yang mendekati Lilin besar, yaitu Yesus Kristus; lilin kecil, yang ingin dinyalakan pada Cahaya itu, ingin menjadi cahaya juga untuk turut menghalaukan kegelapan dosa dari muka bumi ini.

17.  YESUS BANGKIT

Bacaan Kolose 3:1-11     Karena itu, kalau kamu…

Renungan Kita bergembira atas kebangkitan Yesus. Kegembiraan itu disertai TIGA KESADARAN, yaitu:

  • Kesadaran bahwa kita harus banyak-banyak berterima kasih kepada Allah atas segala karunia yang Allah berikan kepada kita dalam Putra-Nya Yesus Kristus.
  • Kesadaran bahwa kita telah diselamatkan kayena suatu perjuangan yang sengit dari Yesus melawan setan dan segala yang jahat.
  • Dan akhirnya kesadaran bahwa kita pun harus memilih dengan jelas siapa yang selanjutnya mau kita ikut, mengingat sabda Yesus: “Siapa yang tidak memihak Aku, dia menentang Aku”. Atau dengan kata lain: tidak ada jalan tengah, tidak mungkin bersikap netral.

Memang jelas juga. Siapa yang anti-Yesus, atau yang bersikap acuh tak acuh terhadap Dia, tidak mungkin dia itu sungguh BERGEMBIRA atas kebangkitan Yesus. Dia pun tidak percaya akan kebangkitannya sendiri, dan tidak tahu membedakan kematiannya sendiri dengan kematian seekor kambing.

Bagi orang yang percaya akan kebangkitan Yesus, ada nasehat khusus dari Santo Paulus yang tadi kita dengar: “Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus,

carilah hal-hal yang di atas…

Matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi…”.

Kita bangkit sejak kita menerima Sakramen Permandian. Kita bangkit kembali pada setiap Pera-yaan Paskah, pada setiap Perayaan Ekaristi, bahkan pada setiap saat bila kita menyadarkan diri sebagai orang KRISTEN, berarti sebagai pengikut Kristus. Kita harus menanggalkan keadaan dosa. Mungkin kita merasa hal itu berat; mungkin kita sudah kompromi dengan diri kita sendiri tentang beberapa kelemahan yang mau kita biarkan terus dalam hidup kita. Namun kita perlu be-rani mematikan itu! Jangan kita mencari kompromi dengan hal dosa. Karena sikap itu memi-sahkan kita dari Yesus yang bangkit; dan tidak mungkin kita mengambil bagian dalam kegembiraan sejati. Dalam hal itu pun kita memang tidak bangkit bersama Kristus, dan kelak kita akan mendengar perkataan Yesus ini: “Maaf, kamu tidak Kukenal…”.

Panggilan kita sebagai pengikut Kristus terlalu mulia daripada mau dipermainkan. Kristus bukan memanggil pahlawan-pahlawan; Ia memanggil orang yang lemah. Namun kepada mereka Ia sampaikan suatu panggilan yang agung. Panggilan itu dapat terwujud dalam iman dan keperca-yaan yang kuat akan Dia yang memperkuat kita, Dia yang telah menang atas dosa dan maut, Dia itu pun memanggil kita untuk hidup pada setiap hari sebagai orang pilihan, sebagai orang yang telah bangkit bersama dengan Yesus, Putra Allah, Tuhan dan Raja kita.

18.  BANGKIT BERSAMA KRISTUS

Bacaan Roma 6:3-13     Atau tidak tahukah kamu…

Renungan Sejak kedatangan Yesus, semuanya menjadi lain. Lebih-lebih sejak kebang-kitan Yesus, terjadilah perubahan yang besar. Maklumlah kebangkitan Yesus

bukan hanya mengenai pribadi Yesus sendiri. Kebangkitan Yesus melibatkan kita sekalian. Tadi kita mendengar Santo Paulus berkata:

“Kamu telah mati dan dikuburkan bersama Kristus”.

Yang telah dibunuh dan telah dikuburkan ialah kita ini sebagai “manusia lama”, manusia yang suka berdosa. Tetapi segera juga bangkitlah manusia baru, yang tidak lagi berhamba pada dosa, melainkan yang sebaliknya menginjak dosa, karena sudah diperlengkapi dengan segala keuta-maan yang terlihat pada Yesus.

Orang-orang Kristen yang pertama mendapat suatu pengalaman sangat khusus. Mereka merasa diri telah menjadi orang lain, menjadi lebih baik, lebih bergairah hidupnya. Santo Paulus meng-ungkapkan hal ini dengan kata.kata ini:

“Bukan lagi AKU yang hidup,

melainkan KRISTUSLAH yang hidup dalam diriku”.

Dan hal itu menjadi dasar suatu kegembiraan dan kebahagiaan yang tak terkatakan besarnya. Sejak waktu itu baru kita mengerti betapa tepatlah perkataan-perkataan Yesus misalnya dalam Injil Lukas bab 6. Berkatalah Yesus:

“Berbahagialah kamu yang miskin; celakalah kamu yang kaya.

Berbahagialah kamu yang lapar; celakalah kamu yang kenyang.

Berbahagialah kamu yang menangis; celakalah kamu yang hanya tahu tertawa.

Berbahagialah kamu bila kamu dibenci dan dianiaya;

celakalah kamu bila kamu dipuji-puji”.

Sebab semuanya telah menjadi LAIN. Sumber kebahagiaan tidak lagi kekayaan, rasa kenyang, kesenangan dan puji-pujian. Memang dahulu dikatakan: Jikalau kamu kaya raya, baru kamu bahagia; bila semua orang tunduk kepadamu, dan bila engkau selalu dapat makan enak-enak: baru kamu bahagia. Tetapi sejak Yesus datang, sejak Ia wafat dan bangkit, siapakah yang berbahagia? Maksudnya SUNGGUH BERBAHAGIA? Yang berbahagia ialah:

  • mereka yang tidak melekat pada miliknya;
  • mereka yang sedih karena dosa-dosa dunia;
  • mereka yang tidak berhasrat membalas dendam;
  • mereka yang reIa menderita dalam memperjuangkan keadilan;
  • mereka yang berdiri kokoh bila mau terseret oleh kejahatan.

Orang semacam itu hidup dekat dengan Tuhan. Mereka mengalami HIDUP BARU itu dalam diri-nya, merasa DAMAI dalam hati sanubarinya. Mereka itulah yang mati bagi dosa dan sudah bangkit bersama Kristus. Bagi mereka itulah hidup baru telah mulai; mereka mengalami PASKAH  itu dalam hidupnya.

Kalau kita sekalian benar-benar menghayati hidup baru itu, maka sungguh kita akan membaharui muka bumi, membaharui wajah daerah kita dan tempat tinggal kita. Yesus memberikan kepada kita hidup-Nya sendiri. Anugerah yang sebesar itu jangan kita sia-siakan, melainkan merasakan-nya sampai ke dalam tulang-tulang kita, sehingga menghayatinya dengan sepenuh-penuhnya.

19.  DI TENGAH

Bacaan Yohanes 20:19-23     Yesus menampakkan Diri kepada murid-murid-Nya

Renungan Peristiwa yang tadi kita dengar, terjadi pada hari Paskah: pagi-pagi buta Yesus bangkit dari antara orang mati,  dan  malam  hari tiba-tiba Ia berdiri di te-

ngah para rasul. Dan hal ini memang menjadi suatu kejutan bagi mereka! Kita pun akan heran dan terkejut kalau misalnya seorang saudara yang baru saja meninggal dan dikuburkan – kalau tiga hari kemudian ia berdiri lagi hidup-hidup di tengah-tengah kita! Terkejut… tetapi bergembira juga!

Jadi Yesus datang. Lalu di manakah tempat Ia berdiri? Di dekat pintu? Di kepala meja? Tidak! Ia memilih tempat di tengah mereka. Sering kali kita membaca dalam Injil bahwa Yesus berdiri di tengah. Yohanes Pemandi sudah sejak awal memberitahukan kepada orang-orang:

“Di tengah-tengah kamu berdirilah Dia yang tidak kamu kenal”.

Yesus sendiri berkata:

“Jika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku,

Aku berada di tengah mereka”.

Bahkan di gunung Kalvari pun Yesus tergantung di tengah. Di situlah tempat Yesus: Ia datang tinggal di tengah hidup kita. Betapa pentinglah kita menyadari hal itu. Sebab ada orang yang merasa cukuplah Yesus berdiri di pinggir; hanya waktu jam sembahyang baru Yesus boleh berdiri di tengah; di luar jam sembahyang Yesus digeserkan ke samping. Memang sikap itu tidak dapat dibenarkan, dan Yesus tidak mau begitu. Ia selalu mau berdiri di tengah, entah kita berdoa atau bekerja, tidur atau makan, atau apa pun yang kita buat: Yesus di tengah hidup kita.

Kita mau menyiapkan tempat-tengah itu agar Yesus datang berdiri di situ, supaya seluruh hidup dan karya kita, suka dan duka kita, mendapat awalnya dan penyelesaiannya pada Dia.

20.  AKULAH KEBANGKITAN DAN KEHIDUPAN

Bacaan Yohanes 11:17-27    Maka ketika Yesus tiba…

Renungan Di desa Betania, dekat Yerusalem, hiduplah tiga orang bersaudara: Lazarus, Marta dan Maria.  Pada suatu saat Lazarus jatuh sakit,  lalu meninggal.  Pada

hari keempat sesudah kematiannya, Yesus tiba di Betania. Ia dijemput oleh Marta. Dan kepada Marta Yesus ucapkan kata-kata yang amat bagus dan penuh hiburan ini:

“Akulah Kebangkitan dan Kehidupan”.

Acap kali dalam Injil Yohanes, kita mendengar Yesus memakai ungkapan-ungkapan singkat yang mulai dengan “Akulah…”, misalnya:

“Akulah Terang dunia”

“Akulah Gembala yang baik”,

“Akulah Pintu”

“Akulah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan”

“Akulah Pokok Anggur yang benar”

“Akulah Roti Kehidupan”.

Tadi kita mendengar Yesus berkata:

“Akulah Kebangkitan dan Kehidupan”.

Dalam semua ungkapan itu, Yesus bukannya mau sekedar memperkenalkan diri seperti salah se-orang dapat memperkenalkan diri dengan mengatakan misalnya: “Akulah Yohanes Subandi”. Melainkan Yesus menyatakan dari segi mana Ia dapat mendampingi kita. Kami memberikan beberapa contoh untuk menjelaskan apa yang mau kami katakan:

  • Ada seseorang kena celaka lalu-lintas. Ia terbanting, tinggal berluka di tengah jalan raya. Datanglah seseorang berlutut di sampingnya; dan dia itu berkata kepada si berluka itu: “Mari tenang, saudara, aku seorang dokter”. Entah dia nama apa: tak perduli. Pokoknya, dia seorang DOKTER bagi saya yang berluka ini.
  • Contoh lain. Tengah malam saya terbangun karena mendengar derap kaki keliling rumah. Saya teriak ketakutan. Tetapi suatu suara dari luar berkata: “Jangan takut, aku POLISI yang membuat ronde malam!” Maka langsung saya merasa lega dan aman.

Dua contoh ini memperlihatkan suatu cara memperkenalkan diri yang menguntungkan saya. Bukanlah sekedar: “Aku Yohanes Subandi”, melainkan: “Aku seorang dokter”, “Aku seorang poli-si”. Atau: seorang montir, seorang guru, seorang tukang kayu, seorang pastor… Yaitu tepat orang yang pada saat-saat tertentu saya butuhkan karena fungsinya atau keahliannya di salah satu bidang.

Nah, demikian pula Yesus memperkenalkan diri. Bukannya dengan mengatakan: “Aku Yesus dari Nazaret”, melainkan kepada Lazarus dan kepada semua orang mati, dan kepada Marta dan kepada semua orang yang bakal mati, Yesus memperkenalkan diri sebagai KEBANGKITAN DAN KEHIDUPAN. “Akulah seorang ahli yang sangat khusus. Siapa yang bergabung dengan Daku, siapa yang mempercayakan diri kepada-Ku, dia akan HIDUP walaupun ia sudah mati. Yesus yang telah bangkit, adalah Ahli Kebangkitan. Dia telah mengalahkan maut dan menghilangkan kematian bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.

Kematian badani mungkin tetap akan kita takuti, karena tidak tahu caranya kita akan meninggalkan hidup ini. Tetapi ketakutan itu akan kita atasi berdasarkan keyakinan bahwa kita akan hidup abadi bersama Dia yang adalah Kehidupan dan Kebangkitan.

21.  PERANAN  TANGAN  MANUSIA

Bacaan Yohanes 20:24-29      Yesus menampakkan diri kepada Tomas

Renungan Kata Yesus kepada Tomas: “Lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku”.  Mata melihat,  telinga mendengar, namun

dua-duanya bisa keliru. Tetapi tak mungkin keliru bila meraba dengan tangan.

Kami hendak membaca sebuah teks singkat dari Perjanjian Lama, Kitab Amsal. Coba perhatikan-lah betapa sering kata tangan disebut dalam teks itu! Inilah teksnya:

“Isteri yang cakap, siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada permata. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang hidupnya. Bila masih malam, ia sudah bangun, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya. Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal. Ia membuka tangannya bagi yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin. Anak-anaknya bangun dan menyebut dia berbahagia; suaminya pun memuji dia.” (Lih. Amsal 31:10-28).

Kepada manusia memang diberi dua tangan. Sehingga manusia bisa “menangani” banyak hal dan memperjuangkan hidupnya dan kehidupan orang lain.

Selain untuk memperjuangkan hidup, tangan itu penting juga untuk mengungkapkan suatu relasi antar manusia: kita sering “berjabat tangan” dengan orang lain. Apa itu: “jabat tangan”? Kata “jabat” sebetulnya kurang relevan untuk menjelaskan apa yang mau diungkapkan dengan saling berjabatan tangan. Ada kata lain, yakni: “Pegang tangan”. Kata itu pun kurang mengungkapkan maknanya. Namun ada lagi satu kata, satu kata yang dengan sangat tepat mengungkapkan apa yang dimaksudkan dengan “berjabatan tangan”. Yaitu, bila Mama mengajak anaknya yang masih kecil untuk berjabatan tangan dengan seseorang, maka Mama akan mengatakan kepada si kecil: “Ayo, kasih tangan sama bapak itu!”… Kasih – tangan Berarti: “Berikanlah tanganmu”. Ta-ngan itu adalah bagian dari tubuh seluruhnya, maka dengan “memberikan tangan”, kita memberikan diri kepada yang lain itu! Tangan Tuhan membentuk manusia, tangan manusia membangun persahabatan dan persekutuan. Wajarlah kita membuat itu dengan sadar. Wajarlah pada waktu itu pun kita memandang orang itu, dan tidak mengamat-amati lantai; jangan juga saat itu kita melihat-lihat pada seorang lain

Sayanglah, tangan juga dapat berbuat banyak kejahatan. Tangan dapat menyiksa orang, dapat memegang senjata dan bom. Pilatus, si pengecut, cuci tangan dari darah Kristus yang akan tertumpah. Tetapi Kristus sendiri merentangkan tangan-Nya di kayu salib untuk mendatangkan bagi seluruh bangsa manusia luapan cinta kasih Ilahi.

Rasul Tomas diundang oleh Yesus untuk meletakkan tangannya ke dalam tangan Yesus. Mari kita pun dalam roh, meletakkan tangan kita ke dalam tangan Yesus. Melalui Dia Allah menciptakan kembali manusia. Kita memandang Dia dan mengulangi kata-kata Tomas itu:

“Ya Tuhanku dan Allahku!”

22.  KITA PENTING BAGI ALLAH

Bacaan Yohanes 21:1-19    Yesus menampakkan Diri kpd murid-murid-Nya di pantai

Renungan Dari bacaan tadi kita dapat merasa sedikit corak hubungan antara Yesus dan rasul PETRUS. Yaitu suatu hubungan persahabatan.

Bertanyalah Yesus:

“Simon, apakah engkau mengasihi Aku?”

Jawaban Petrus kita tahu. Tetapi sebenarnya kita heran. Bagaimana mungkin persahabatan antara Yesus, Putra Allah yang telah bangkit, dengan Petrus yang adalah seorang manusia yang hina dan berdosa!

Tetapi YOHANES pun dicintai Yesus. Dan Lazarus serta kedua saudaranya Marta dan Maria. Dan pemuda yang kaya. Dan orang-orang miskin, buta, tuli, bisu, lumpuh…

Kata Yesus:

“Bersukacitalah dan bergembiralah,

sebab sungguh besarlah upahmu di surga”.

Apa itu upah di surga! Tak lain tak bukan, dipeluk oleh Allah sendiri dalam cinta kasih abadi. Ya, demikian PENTING kita ini bagi Allah: kitalah anak-anak-Nya! Untuk menyelamatkan kita, Allah mengutus Putra-Nya sendiri serta mengorbankan-Nya. Alasannya? Karena kita lahir bukan hanya dari debu tanah, melainkan lebih-lebih kita lahir dari Cinta Allah. Kita berada dan hidup justru karena Allah mencintai kita. Dan karena dicintai, maka kita pun PENTING bagi Allah. Tidak mungkin Allah berhenti mencintai kita.

Suatu kesimpulan penting bagi kita ialah: Kalau Allah demikian mencintai dan menghargakan kita, maka bagaimana mungkin kita mau membenci seorang manusia! Orang yang menjadi anak-anak kesayangan Allah, tentu saja akan kita cintai pula. Bahkan jika kita sewaktu-waktu kecewa dengan orang, atau bila orang bersalah terhadap kita: tidak pernah akan kita lupa bahwa mereka pun anak-anak kecintaan Allah. Dan karena itu dengan rela hati mereka akan kita maafkan, seperlunya – menurut ajakan Yesus – sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Dan marilah dengan tak henti-hentinya kita berkata bersama dengan Simon Petrus:

“Ya Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu.

Engkau tahu bahwa aku mengasihi Dikau!”

23.   DI SEBERANG KEMATIAN

Bacaan 1 Korintus 15:50-58      Saudara-saudara, inilah…

Renungan Ada seorang muda di negeri India, namanya Nikhiketas. Menurut suatu ceri-ta dongeng, pada suatu hari ia didatangi oleh Sang Maut.  Dan Sang Maut itu

berkata kepada Nikhiketas: “Silakan minta isteri cantik, putra dan putri serta anak cucu yang akan berumur panjang semuanya; minta hewan, gajah-gajah dan emas; minta suatu kerajaan yang luas serta kendaraan-kendaraan yang mewah; minta kesenangan yang melampaui segala dugaan manusia. Naik tinggi di atas segala impianmu dan nikmatilah. Tetapi jangan minta hal-hal yang di seberang kematianl”.

Maka Nikhiketas menjawab: “Adapun kekayaan tidak dapat memuaskan orang. Manusia siapa, di tengah kefanaannya, yang sempat merebut hidup abadi, masa ia akan puas dengan hidup lama yang penuh kesenangan!”

Maka ujar Sang Maut: “Hai sahabatku, matamu dengan penuh rindu menantikan satu-satunya hal yang benar dan berharga. Maunya saya selalu mendapat murid-murid yang demikian!”

Beberapa minggu lalu kita merayakan Kebangkitan Yesus. Kita pada salah satu detik di masa mendatang, akan mengakhiri hidup ini, sama seperti Yesus, tetapi kita juga dipanggil untuk bangkit bersama Yesus. Santo Paulus berkata:

“Orang mati akan dibangkitkan

dalam keadaan yang tidak dapat binasa,

dan kita semua akan diubah”.

Bagaimana CARANYA kebangkitan itu, dan apa yang menjadi pengalaman dan hidup kita selanjutnya, tak mungkin kita dugai atau bayangkan. Tetapi segala harta-kekayaan dan segala kesenangan duniawi tiada arti dibandingkan dengan kebahagiaan di seberang kematian.

Dengan teguh kita percaya, bahwa Allah akan menerima kita dalam pelukan cinta kasih abadi yang akan membahagiakan kita dengan cara yang tak terkatakan.

24.  UPAH CINTA

Bacaan Yohanes 21:15-19      Gembalakanlah domba-domba-Ku

Renungan Pasti Rasul Petrus seorang yang baik; yang memenuhi kewajiban-kewajiban seperti tertulis dalam Taurat Musa; yang jujur dan tahu beribadat. Seperti ki-

ta pun pada umumnya menjauhkan diri dari pelbagai perbuatan jahat. Kita ini juga pada umumnya setia pada tugas-tugas yang Tuhan percayakan kepada kita.

Tetapi rupanya Kristus mau menggali lebih DALAM sedikit. Ia bertanya kepada Petrus, bahkan sampai tiga kali:

“Simon, apakah engkau mengasihi Aku?”

Dan Petrus menjawab dengan begitu bagus dan sederhana:

“Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu,

Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau!”

Kalau ditanyakan kepada kita ini… Ya, kiranya kita pun boleh dengan penuh keyakinan memberi jawaban yang sama:

“Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau mengenal daku sejak dari rahim ibuku; Engkau tahu bahwa Engkau selalu penting bagiku; bahwa untuk hidup sekarang dan kelak, aku menaruh harapanku pada-Mu; bahwa aku sungguh mencintai Dikau”.

Lalu apakah saya rela menerima akibat dari cinta itu? Cinta orang-tua kepada anak-anaknya se-ring menuntut banyak pengorbanan, bahkan penderitaan. Demikian pula hubungan cinta kita de-ngan Kristus belum tentu merupakan suatu jaminan akan pelbagai macam keuntungan dan kesenangan di dunia ini. Malah sebaliknya: boleh jadi Tuhan akan menguji cinta itu. Yesus berkata kepada Petrus:

“Ketika engkau masih muda, engkau mengikat pinggangmu sendiri;

tetapi bila engkau sudah menjadi tua,

engkau akan mengulurkan tanganmu,

dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau

ke suatu tempat yang tidak kaukehendaki”.

Yesus memang tidak memanja sahabat-sahabat-Nya. Orang-orang Kristen yang sejati tidak luput dari pukulan dan sengsara – malah sebaliknya. Seperti besi diuji dalam api, demikian pula cinta sejati diuji dalam derita. Semoga saat-saat derita itu kita hadapi sebagai kesempatan untuk membuktikan kesejatian cinta kita.

25.  BURUNG ELANG

Bacaan 1 Petrus 2:1-10       Yesus Kristus Batu Penjuru

Renungan Ada seorang menemukan sebutir telur burung elang, lalu meletakkannya di sangkar induk ayam yang sedang mengeram.  Anak elang itu menetas  bersa-

ma anak-anak ayam dan menjadi besar bersama mereka pula. Selama hidupnya, elang itu berbuat sama seperti seekor ayam. Ia memang mengira bahwa ia sendirilah seekor ayam. Tahun-tahun berlalu, dan burung elang itu pun menjadi tua. Pada suatu hari ia melihat seekor burung perkasa terbang tinggi di angkasa yang biru. Burung itu melayang-layang dengan indah, dan lincah melawan tiupan angin, hampir tanpa mengepakkan sayapnya yang kuat dan berwarna emas-emasan.

Elang yang sudah tua itu melihat ke atas dengan kagum, dan ia bertanya kepada seekor teman ayam: “Burung apa itu!” Temannya menjawab: “Itulah seekor burung elang, raja segala burung. Tetapi jangan terlalu memikir-mikirkan itu. Engkau dan saya memang amat berbeda dengan dia”. Maka burung elang tua itu tidak pernah memikirkan hal itu lagi. Akhirnya ia mati, dengan tetap mengira bahwa dirinya hanyalah seekor ayam saja.

Apakah masih perlu kita terapkan cerita ini? Apa yang dikatakan Petrus dalam kutipan suratnya tadi:

“Kamulah bangsa yang terpilih, imamat rajawi,

bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri…

Seakan-akan ia mengatakan: “Kamulah burung elang dan bukan ayam saja! Sadarlah! Kalian, sebagai orang pilihan Allah, dipanggil untuk terbang tinggi. Kamu diberi suatu kekuatan luarbiasa, yaitu Roh Kudus yang tinggal di dalam dirimu. Kamu dipanggil akan hidup adikodrati. Ja-ngan melihat dengan kagum pada orang-orang kudus, sebab kamu pun dipanggil kepada kekudus-an”.

Semoga kata-kata Petrus itu meresap dalam hati, dan semoga kita semua yang telah dibaptis, menyadarkan diri akan keadaan kita yang sebenarnya, yakni sebagai bangsa terpilih, imamat rajawi, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri!

26.  HIDUP MEMBIARA

(Hari Minggu Paskah IV: Hari Panggilan)

Bacaan Lukas 10:38-42     Maria dan Marta

Renungan Pernah hiduplah seorang pedagang yang selalu sibuk. Dia mempunyai se-orang putra yang membuat dia putus asa.  Karena  anak  itu rupanya sama se-

kali tidak berminat akan suatu hidup aktif penuh kesibukan. Anak itu suka menyendiri dan suka berpikir-pikir banyak. Ia pun sering ke gereja, ataupun ia pergi memancing sendirian. Maka ayahnya berkata kepadanya: “Engkau gila. Kasihan tidak cukup gila untuk dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Saya tidak tahu engkau jadi apa kelak!”

Lalu anaknya itu menjawab: “Maaf, Bapa. saya mengerti bahwa Bapa kecewa. Bapa mengharapkan saya untuk meneruskan usaha dagang Bapa. Tetapi rupanya saya lain. Maafkan saya kalau saya boleh menjelaskannya dengan suatu cerita:

Sekali peristiwa sebutir telur bebek dierami oleh seekor ayam. Setelah telur itu menetas, anak bebek itu berjalan mengikuti induk ayam, sampai mereka tiba pada sebuah kolam. Anak bebek itu langsung terjun ke dalam air. Induk ayam tertinggal di pinggir kolam sambil berkotek-kotek kebingungan.

Nah, Bapa yang tercinta, saya sudah terjun ke dalam samudera raya dan merasa kerasan di sana. Bapa jangan kecewa dengan saya kalau saya pilih terjun ke dalam air, sedangkan Bapa lebih suka tinggal di darat”.

Kadang-kadang ada orang yang mengatakan: apa gunanya hidup membiara! Lebih-lebih hidup membiara yang disebut KONTEMPLATIF, di mana para biarawan atau biarawati tiap hari sembah-yang berjam-jam lamanya! Mengapa mereka tidak bekerja! Ini masa pembangunan! Dan   mengapa tidak kawin! Mengapa tidak sewaktu-waktu menikmati kesenangan-kesenangan yang wajar…! Itu semua dikatakan oleh orang yang di darat, yang tidak mempunyai pengalaman terjun ke dalam lautan.

Marta, dalam bacaan tadi, menegur Maria karena Maria kelihatan kurang aktif: dia duduk-duduk saja sambil mendengarkan Yesus. Namun Yesus akui bahwa Maria sudah memilih bagian yang terbaik. Dia itu telah memilih terjun ke dalam air yang menyegarkan.

Orang yang bercita-cita akan hidup membiara (kalau memang panggilannya sungguh-sungguh dan timbul dari dalam hati sendiri), mereka itu membawa suatu misteri dalam dirinya. Keaktif-annya pertama-tama mau mereka arahkan kepada Tuhan.

Kita mau mengindahkan cita-cita itu dan bersyukur kepada Tuhan, karena Ia tetap membangkitkan dan memilih dari antara kita orang yang ingin terjun ke dalam lautan cinta Allah.

27.   MENGABDI

(Hari Minggu Paskah IV: Hari Panggilan)

Sebelum Bacaan Ishak, putra Abraham, sudah menjadi dewasa, dan Abraham hendak mencari seorang isteri bagi putranya itu.  Ia   menugaskan hambanya bernama Eliezer

untuk pergi ke kota Nahor mencari seorang gadis yang pantas untuk menjadi isteri Ishak. Setibanya di kota Nahor, diiringi suatu rombongan yang menunggangi unta-unta, Eliezer berdoa agar ia diberikan suatu tanda agar ia memilih gadis yang sesuai dengan kehendak Allah. Tempat Eliezer berdiri tepat pada sumur di pinggir kota, dan banyak gadis muda datang menimba air.

Bacaan Kejadian 24:12-21     Lalu berkatalah ia ( = Eliezer )…

Renungan Ribka (atau Rebeka) dipilih, karena sifatnya yang sederhana dan karena kerelaannya  untuk  MELAYANI.  Menimba  air  untuk  memberi minum kepada

unta-unta: itu suatu usaha bukan main, sebab seekor unta minum air sebanyak puluhan liter sekaligus! Tetapi Ribka tidak berkeberatan. Ia suka melayani, seperti kemudian hari nyata juga misalnya pada Bunda Maria dan pada semua wanita kudus.

Dalam Mingguan HIDUP pernah kami baca tentang seorang pemudi yang memikir-mikirkan masa depannya. Bagaimanakah memanfaatkan hidupnya, bagaimana ia dapat melayani sesamanya dengan sebaik mungkin. Menjadi seorang perawat? Guru? Pekerja sosial? Polwan?

Tetapi semuanya itu kalah dengan suatu bayangan di mana ia melihat seorang biarawati yang dengan khidmat berlutut, berdoa di depan altar. Lebih-lebih di situ ia melihat perwujudan cita-citanya yang terdalam; menjadi seorang yang dengan segenap hati dan budi mengabdikan diri dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan demi kepentingan sesamanya, demi kepen-tingan Gereja dan dunia. Ia mau menjadi seperti santa Klara dari Assisi, seperti santa Teresia dari Kanak-Kanak Yesus.

Maka sesudah pertimbangan yang matang, akhirnya ia mengetuk pintu sebuah biara Suster-Suster Klaris. Sunyi-sepinya biara itu dialaminya sebagai suasana hening dan menenteramkan, membuat hatinya lapang dan aman. Ia masuk biara itu dan menjadi seorang biarawati. Dan kemudian hari ia memberi kesaksian ini:

“Hatiku merasa senang dengan mengerjakan hal-hal yang sederhana, seperti: merajut, mencuci piring, bekerja di kebun, piara ternak dll. Senang juga karena kesempatan seluas-luasnya untuk berdoa. Aku yakin bahwa doa dari kami, para Suster, berkenan di hati  Tuhan. Dan bahwa doa itu adalah suatu bentuk pengabdian yang tidak kalah guna dan pentingnya bagi sesama. Bahwa itu pun merupakan lanjutan hidup doa dari Yesus sendiri.” Dan ia melanjutkan begini: “Aku teringat akan doa Musa, yang berdoa di atas bukit dengan kedua belah tangannya terentang. Selama tangannya itu terentang, maka rakyat Israel lebih kuat dalam pertempuran daripada kaum Amalek yang sedang mereka perangi. Tetapi apabila ia menurunkan tangannya, mereka dipukul mundur. Aku teringat pula akan doa Abraham, yang tawar-menawar dengan Tuhan, agar kota Sodom diselamatkan.

Aku yakin bahwa doa amat berguna bagi sesama. Bagi siapa dan bagaimana caranya: hal itu kupercayakan saja kepada Tuhan. Asal tangan kami tetap terentang. Berarti asalkan kami melihat dan memandang doa itu sebagai tugas pokok kami Semoga terdapatlah banyak teman yang be-rani menempuh jalan ini dan yang memilih cara pengabdian ini. Tuhanlah yang menyertai dan membimbing kita”.

28.  PENGIKUT YESUS

(Hari Minggu Paskah IV: Hari Panggilan)

Bacaan Markus 10:35-40    Permintaan Yakobus dan Yohanes

Renungan Kita heran akan kesabaran Yesus dalam menanggapi permintaan Yakobus dan Yohanes.  Dengan permintaannya itu mereka membuktikan bahwa mere-

ka sama sekali belum mengerti akan perutusan Yesus, akan apa yang Ia harapkan dari setiap orang yang dipilih-Nya untuk diutus. Dari orang-orang pilihan itu Yesus mengharapkan antara lain: kerendahan hati, kesediaan untuk melayani, kerelaan untuk menjadi kecil dan tak terpandang. Padahal Yakobus dan Yohanes meminta sesuatu yang sama sekali berbeda dengan cita-cita itu. Mereka mengharapkan suatu kedudukan yang khusus dalam Kerajaan Yesus, bila – menurut perkiraan mereka – Kerajaan itu esok-lusa diresmikan. Mereka mau menjadi Wakil Presiden dan Perdana Menteri…

Yesus menasehati mereka dengan sabar. Kata Yesus: “Sanggupkah kamu untuk menderita seperti Saya harus menderita?” Jawab mereka: “Kami sanggup”. Suatu jawaban yang penuh keberanian, penuh percaya diri!

Jawaban itu pun mengingatkan saya akan profesi atau ucapan kaul oleh seorang calon biarawan atau biarawati. Di hadapan umum, superior bertanya kepadanya antara lain: “Bertekadlah saudara (atau Suster) hendak mengikuti Tuhan dari dekat dan menyerahkan diri bagi Tuhan dan sesama?” Lalu jawablah si calon: “Ya, saya bertekad!”

Tanya kembali superior: “Bersediakah saudara (atau: Suster) melaksanakan nasehat-nasehat Injil, yaitu: kemurnian, kemiskinan dan ketaatan, dalam doa, dalam karya dan tingkah laku yang suci-murni?” Dan kembali terdengarlah jawaban si calon: “Ya, saya bersedia!”

Tidak lain juga bunyinya jawaban kedua murid Yesus tadi:  “Ya, kami sanggup!”

Nah, bayangkan Yesus lalu menjawab: “Baiklah! Kamu mengatakan kamu sanggup! Kamu minta ditempatkan yang seorang di sebelah kanan-Ku dan yang seorang di sebelah kiri-Ku… Akan Kukabulkan!” Lalu… kita membayangkan Yesus tergantung di kayu salib di atas gunung Golgota, diapit di sebelah kiri-kanan-Nya bukan oleh dua orang penjahat, melainkan oleh Yakobus dan Yohanes, tersalib bersama Yesus…

Namun, bukanlah demikian! Yesus kan tahu bahwa pada saat ini mereka belum sanggup, walaupun menurut perkataan mereka, memang mereka anggap diri sanggup. Perkataan tidak sama de-ngan perbuatan. Apa yang diucapkan dengan begitu berani oleh kedua bersaudara itu, mereka belum sanggup melaksanakannya.

Demikian pula apa yang dengan berani dijanjikan oleh seorang calon biarawan atau biarawati pada saat masih muda: belum pasti bahwa ia pun sudah sanggup melaksanakannya dengan sempurna. Namun tidak mengapa: bila tiba saatnya, Allah akan memberikan kekuatan: sebab Allah suka akan orang yang dengan berani dan tulus hati menyerahkan nasib hidupnya ke dalam tangan Tuhan.

Satu Tanggapan

  1. Terimakasih ata renungannya romo….

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: