TULISAN-TULISAN PASTOR AGUS ULAHAIYANAN PR

Pastor Agus

(Pastor Agus Ulahayanan, Pr adalah salah seorang staff dosen STPAK Ambon sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Keuskupan Amboina)

Lampiran Ceramah ttg

Kerukunan Dan Toleransi

Umat Beragama Di Maluku

BEBERAPA CATATAN TENTANG  KOMUNIKASI

DALAM DIALOG

  1. 1. Komunikasi dialogis adalah komunikasi verbal yang terjadi antara dua pihak (pembicara dan pendengar) secara timbal balik.

Bisa terjadi bahwa orang-orang yang berdialog lebih dari dua orang atau lebih dari dua kelompok. Namun komunikasi dialogis senantiasa terjadi antara satu pihak sebagai pembicara dengan pihak lain sebagai pendengar. Pihak pembicara bisa hanya satu orang, tetapi juga bisa terdiri dari beberapa, dan satu orang yang berbicara atas nama kelompoknya. Dalam dialog, biasanya perserta yang lain semuanya menjadi pendengar, baik orang-orang yang satu kelompok dengan orang yang sedang berbicara maupun terutama orang atau orang-orang lain.

  1. 2. Komunikasi adalah suatu interaksi aktif antara pembicara dan pendengar.

Dalam komunikasi dialogis, pembicara menyampaikan sesuatu untuk dipahami oleh pendengar sebagaimana dimaksudkan oleh pembicara.

  1. Mendengarkan secara aktif efektif mutlak perlu dalam komunikasi dialogis.

Mendengar (hearing) tidak sama dengan mendengarkan (listening). Yang dimaksud dengan mendengar adalah semata-mata menangkap getaran suara atau bunyi. Sedangkan yang dimaksud dengan mendengarkan adalah menangkap bunyi dan memaknai atau memahami bunyi yang ditangkap atau didengar. Dalam aktivitas mendengarkan, pendengar harus memberi perhatian, berusaha untuk memahami, serta mengingat apa yang didengarkannya.

Dalam dialog, pendengar harus mendengarkan secara aktif efektif, artinya:

  1. Berusaha “masuk ke dalam kepala pembicara” agar dapat memahami apa yang disampaikan (dikomunikasikan) sebagaimana dimaksudkan pembicara atau dari sudut pandang pembicara.
  2. Harus berusaha untuk lebih memahami apa yang pembicara mau mengkomunikasikan dari pada apa yang ingin dimengerti oleh pendengar.
  3. Juga menunjukkan penerimaan atas apa yang sedang dikatakan. Mendengarkan secara obyektif tanpa menilai.
  4. Berusaha sedapat mungkin untuk mendapatkan makna yang sepenuhnya dari apa yang mau dikomunikasikan, dengan tanggungjawab penuh.

Dalam dialog, ada kurang lebih 8 perilaku yang berkaitan dengan ketrampilan mendengarkan secara aktif efektif, yaitu:

  1. Mengadakan kontak mata atau memberi perhatian melalui tatapan mata.
  2. Menunjukkan gerak kepala atau ekspresi wajah yang sesuai, sebagai tanda memahami apa yang dikomunikasikan.
  3. Menghindari tindakan atau perilaku yang merusak suasana atau yang menunjukkan bahwa pikiran dan perhatian “ada di tempat lain”.
  4. Menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan apa yang disampaikan.
  5. Mengungkapkan kembali apa yang disampaikan pembicara dengan kata-kata sendiri.
  6. Menghindari menginterupsi pembicara.
  7. Tidak berbicara ketika orang lain sedang berbicara.
  8. Memperlancar pengalihan peran antara pembicara dan pendengar.
  9. 4. Pililah saluran komunikasi yang tepat efektif.

Secanggih apapun pelbagai alat dan cara komunikasi modern, komunikasi dari muka ke muka masih lebih unggul dalam hal informasi, apalagi dalam rangka dialog. Dalam komunikasi dari muka ke muka, aneka informasi dapat disampaikan serta diterima dan dipahami melalui: kata-kata, gerak-gerik atau perilaku, sikap tubuh (bahasa tubuh), ekspresi wajah atau raut muka, tatapan mata, intonasi, dll.

  1. 5. Dengarkanlah pokok pembicaraan (issu) yang santer secara publik.

Mendengarkan dan mempelajari rumors serta hal-hal aktual, apalagi yang merupakan tren publik, adalah berguna untuk membantu memahami pembicara ataupun pendengar, sehingga mudah mengkomunikasikan apa yang mau disampaikan dengan bahasa dan cara yang tepat, ataupun bisa dengan mudah memahami makna bahasa dan cara yang dipakai pembicara yang ada dalam konteks rumors atau hal-hal tersebut.

  1. 6. Ingatlah selalu bahwa pria dan wanita berbeda dalam melakukan komunikasi.

Dalam komunikasi (dialog), lelaki biasanya cenderung menekankan status, kekuasaan, kemerdekaan, pemisahan, dan perbedaan. Sedangkan wanita biasanya cenderung menekankan pertalian atau koneksitas dan intimitas. Jadi wanita biasanya menggunakan percakapan sebagai sarana negosiasi untuk kedekatan dimana orang berusaha mencari dan memberi pengukuhan dan dukungan. Sedangkan kaum lelaki biasanya menggunakan percakapan sebagai kesempatan atau sarana untuk menunjukkan independensinya serta mempertahankan kekuasaannya dalam tatanan sosial.

  1. 7. Perbuatan senantiasa lebih penting atau lebih bermakna (mengatasi) perkataan.

Bila terjadi kontradiksi antara perkataan dan perbuatan, maka biasanya orang tidak menghiraukan/mendengarkan apa yang disampaikan, sehinggga komunikasi/dialog sulit untuk terlaksana sebagaimana mestinya. Sebaliknya bila konsekwen, perkataan selaras dengan perbuatan, maka akan didengarkan, sehingga komunikasi/dialog akan terlaksana dengan mudah dan bisa sukses sebagaimana diharapkan.

Ambon, 10 Agustus 2009

Pastor Agus Ulahaiyanan, Pr.

Sumber:        Stephen P.Robbins, The Truth About MANAGING PEOPLE,

Prentice Hall, United State, 2002, p.106-119.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: